Category Archives: Rumah Tangga

Menikahi Wanita Hamil dan Nasab Anaknya

Wanita hamil ada dua kemungkinan: 1) hamil dalam pernikahan atau 2) hamil diluar pernikahan.

Hamil dalam Pernikahan

Jika wanita tersebut hamil dalam pernikahan, misalnya dicerai saat hamil atau suaminya meninggal saat wanita tsb hamil, maka tidak ada perbedaan pendapat para fuqoha bahwa tidak sah menikahinya sebelum wanita tersebut melahirkan.[1]

Alasannya adalah firman Allah SWT :

وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. (Qs Ath-Tholaq : 4).

Read the rest of this entry

Jatuhkah Talak Dalam Kondisi Dipaksa?

 imageMenceraikan istri dalam kondisi dipaksa, jika terpenuhi syarat-syaratnya maka tidaklah jatuh talak tersebut. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sungguh Allah tidak menghukum umatku karena tersalah, lupa dan dipaksa orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Fath al-Qorîb, hal 244, dijelaskan bahwa tidak jatuh talak itu jika paksaan tersebut terjadi tanpa hak. Sebaliknya jika paksaan itu dengan hak, seperti paksaan hakim kepada orang yang telah meng-‘ila[1] istrinya, dan berakhir masa ‘ila yang dibenarkan Islam, lalu hakim memaksa untuk mentalaknya, maka jatuhlah talaknya.

Begitu juga tidak setiap paksaan menjadikan tidak jatuhnya talak. Syarat paksaan yang jika terpenuhi menjadikan tidaklah jatuh talak adalah[2]:

Read the rest of this entry

Menghadapi Pasangan Pemarah

Sebelum menghukumi bahwa pasangan (suami/istri) kita pemarah, perlu dianalisis lebih dahulu persoalan apa yang banyak memicu terjadinya kemarahan tersebut. Jika persoalannya memang secara syar’i menuntut munculnya kemarahan maka sudah selayaknya suami/istri kita marah, ini adalah marah yang terpuji. Misalnya istri yang keluar rumah tanpa menutup aurat, menggampangkan urusan shalat, bermuamalah yang tidak syar’i, atau menggunjing memang layak dimarahi, ini juga berlaku untuk suami.

Kemarahan yang hanya dipicu oleh hal-hal sepele dan tidak syar’i, inilah yang bisa dijadikan acuan untuk mendefinisikan bahwa suami/istri kita pemarah. Misalnya istri marah gara-gara suami telat pulang sebentar saja, atau suami naik pitam gara-gara istri tidak pandai masak sehingga seringkali makanan gosong , dll.

Memilih Sejak Awal

Adakalanya seseorang memang bersifat pemarah. Ingin semua serba perfect, sedikit saja melihat hal yang tidak sesuai kehendaknya, amarahnya segera tersulut. Oleh sebab itu, karakter ini perlu dikenali sejak seseorang memilih calon istri/suami.

Read the rest of this entry

Mahram Terkait Hadits Larangan Khalwat

Rasulullah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahram sang wanita tersebut.’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Khalwat yang haram dalam hadits ini terkait berduaannya seorang lelaki dan seorang wanita di tempat sepi dan tertutup dari pandangan manusia, dimana orang lain tidak bisa masuk tanpa izin dari mereka. Dalam Syarh Shahih Muslim (9/109), Imam al-Nawawi menyatakan bahwa khalwat tetap diharamkan walaupun yang dilakukan adalah salat berjama’ah.

Read the rest of this entry

Cara Mengurus Jenazah Bayi Keguguran

Bayi lahir keguguran yang tidak ada tanda-tanda kehidupan saat lahir seperti bergerak dan sejenisnya, dan kegugurannya belum sampai pada batas tertiupnya ruh yakni dalam kandungan usia kurang dari 4 bulan menurut madzhab Syafi’i, maka ulama sepakat bahwa ia tidak dishalati, dan tidak dimandikan, cukup dikuburkan begitu saja.

Adapun jika kandungan telah berusia 4 bulan keatas maka ada dua pendapat, menurut pendapat yang lebih azhhar ia tidak dishalatkan, tetapi dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab, namun bila ia bergerak (ada tanda kehidupan setelah empat bulan) maka dishalatkan menurut pendapat yang lebih azhhar dan dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab.

Read the rest of this entry

Jilbab, Kerudung, Hijab dan Niqab

Jilbâb, jamaknya jalâbîb menurut umumnya orang Arab adalah baju kurung panjang, sejenis jubah[1], bukan sekedar kerudung.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS. Al Ahzab: 59).

Memang ada berbagai penafsiran terkait makna jilbâb ini, ada yang memaknainya sebagai ridâ yang dipakai di atas kerudung, ada yang memaknainya sebagai al milhafah (sejenis jubah/mantel), namun Imam al Qurthubi setelah menjelaskan berbagai pendapat tersebut, beliau menyatakan

وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ الثَّوْبُ الَّذِي يَسْتُرُ جَمِيعَ الْبَدَنِ

“Yang tepat, bahwasanya jilbab itu adalah pakaian yang menutupi seluruh badan.”[2]

Read the rest of this entry

Kewajiban Menafkahi Kerabat

Menafkahi para kerabat (orang tua, saudara dan lainnya) menjadi wajib jika terpenuhi syarat- syaratnya, diantaranya:

Pertama, jika kerabat tersebut dalam keadaan faqir/miskin sehingga tidak mampu menafkahi diri mereka sendiri, dan tidak ada orang lain yang menafkahi mereka. Tetapi jika mereka mampu, atau ada orang lain yang menafkahi mereka dengan cukup, maka gugurlah kewajiban ini.

Read the rest of this entry

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Cinta

Tak selamanya suatu rumah tangga selalu dihiasi ‘bunga-bunga cinta’, tidak sedikit cinta yang awalnya membara, seiring berjalannya waktu akan semakin redup, lalu mati, bahkan menyisakan rasa tidak suka, baik disebabkan fisik yang tidak lagi sedap dipandang mata, atau perangai yang tidak lagi mempesona. Apakah ketika itu terjadi, perceraian menjadi jalan keluarnya? Ada baiknya kita renungi bagaimana sikap orang shaleh ketika menghadapi hal tersebut.

Minta Cerai Karena Dimadu (Poligami)

Poligami hukum asalnya boleh, walau bisa berubah jadi sunnah, makruh ataupun haram, namun demikian seorang wanita juga boleh menolak dipoligami, asalkan penolakannya atas dasar perasaan saja, bukan karena menolak hukum/syariat yang membolehkan seorang suami melakukan poligami, atau menganggap bahwa hukum dibolehkannya berpoligami merupakan bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Walaupun istri menolak, jika suami tetap saja berpoligami—karena poligami memang tidak disyaratkan harus ada izin istri—maka istri tidaklah boleh begitu saja minta cerai dengan alasan dipoligami. Rasulullah bersabda:

أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ، فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ

wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Read the rest of this entry

Halal Haram Poligami

Menikah hukum asalnya adalah sunnah, namun jika sudah punya istri, menambah istri lagi (poligami) hukum asalnya adalah mubah/boleh, bukan sunnah. Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’ : 3)

Meskipun pada dasanya mubah, poligami hukumnya bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram, tergantung keadaan lelaki yang akan melakukan poligami.

Read the rest of this entry

Khulu’ (Talak Tebus)

Disamping istri bisa menggugat cerai suaminya (menuntut fasakh), dan hakim bisa memutuskan ikatan pernikahan jika terpenuhi syarat-syarat nya walaupun suami bersikeras tidak mau menceraikan, seorang istri juga bisa melepaskan ikatan pernikahan dari suaminya dengan melakukan khulu’ (talak tebus).

Khulu’ sebenarnya adalah salah satu jenis perceraian, namun memiliki hukum-hukum khusus yang membedakannya dengan perceraian biasa.

Khulu’ adalah berpisahnya suami istri, permintaan berpisah dari sang istri, dengan adanya kompensasi/pengganti dari pihak istri. Hukumnya adalah boleh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. AL-Baqarah: 229).

Maknanya “khiftum” (khawatir) adalah “dzann” (dugaan), makna “allaa yuqiima huduudallaah” (keduanya tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah) maknanya adalah adanya ketidak sukaan salah satu pasangan dengan pasangannya, atau istri menduga bakalan tidak sanggup mentaatinya, atau suami menduga tidak bakal sanggup menunaikan hak-hak istrinya, maka tidak mengapa suami mengambil tebusan dari sang istri.

Read the rest of this entry

Kedudukan Wali Dan Saksi Dalam Pernikahan

Bagaimana status ‘nikah bathin’ yang dilakukan tanpa wali dan saksi, hanya Allah saja sebagai saksi mereka?

***

Wali Nikah

Madzhab Syafi’i dan Maliki memandang bahwa adanya wali adalah rukun dalam akad nikah, sehingga tidak sah nikah tanpa adanya wali[1].

Alasannya antara lain adalah hadits dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rsulullah saw:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta beliau menshahihkannya)

Dalam madzhab Hanafi, wali bukanlah rukun nikah, namun menjadi syarat jawaz dan syarat nafâdz, sehingga akad nikah tanpa wali dianggap tetap sah, namun tidak mustahab (tidak disenangi).

Read the rest of this entry

Kewajiban Isteri Kepada Suaminya

Diceritakan oleh Hushain bin Mihshan r.a bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ ؟

“Apakah kamu mempunyai suami?”

ia menjawab, : نَعَمْ “Ya.”

Beliau bertanya lagi:

فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟

“Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab,

مَا آلُوهُ إِلاَّ مَا أَعْجَزُ عَنْهُ

“Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad)

Read the rest of this entry

Isteri Berzina (Selingkuh), Wajibkah Diceraikan?

Zina, apalagi bagi yang telah menikah adalah dosa besar, pelakunya wajib dikenakan hukum jilid (cambuk) 100 kali jika belum pernah nikah, dan wajib dirajam jika telah pernah menikah, tidak ada perbedaan pendapat ‘ulama dalam hal ini.[1]

Hanya saja, jika karena suatu hal (misalnya tidak cukup saksi dan tidak mengaku di pengadilan, atau pengadilannya tidak memakai hukum Islam), sehingga hukuman rajam tidak ditegakkan, apakah istri tersebut otomatis terceraikan?

Read the rest of this entry

Hak Nafkah Istri dari Suaminya

Nafkah adalah harta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik itu berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.

Syarat Istri Berhak atas Nafkah dari Suami

Diantara konsekuensi dari pernikahan yang sah adalah diwajibkannya seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya jika memenuhi beberapa syarat berikut:

Read the rest of this entry