Seputar Hadits Kembali Berdirinya Khilafah ‘Ala Minhaaj Al-Nubuwwah

Oleh : M. Taufik N. T

Di beberapa situs internet ada yang meragukan hadits Imam Ahmad tentang akan kembali berdirinya khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwwah, dengan hanya mengandalkan dugaan semisal: “Saya (penulis blog tsb[1]) menduga kuat bhw Habib (bin Salim, perowi hadits) mencari muka di depan khalifah”. Disisi lain ia justru memakai perkataan Habib Bin salim yang dia pandang “bermasalah” untuk menyatakan: “Kalau khilafah ‘ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka Umar Bin Abdul Azis termasuk golongan para raja yang ngawur :-)”. Anehnya kalau hadits ini diragukan, namun tidak terungkap adanya keraguan saat menulis kelamnya sejarah semisal : “Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah … mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya”

Tulisan ini tidak akan menanggapi semua yg ada di tulisan blog tersebut, juga tidak bermaksud menyerang pribadi penulis blog tersebut, namun hanya akan membahas seputar hadits kembali berdirinya khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwwah, adapun hal-lain di tulisan pada blog tersebut pembaca bisa menilai sendiri betapa “ajaib”nya tulisan pada blog tersebut.

Takhrij Hadits Kembali Berdirinya Khilafah ‘Ala Minhaaj Al-Nubuwwah

Sebetulnya bukan hanya hadits ini yang membahas khilafah yang akan datang, namun tulisan ini hanya mengulas takhrij hadits ini dan yg berkaitan dg hadits ini.

Imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy; di mana ia berkata, "Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, "Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, "Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, "Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, "Saya hafal khuthbah Nabi saw." Hudzaifah berkata, "Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam".[HR. Imam Ahmad]

Takhrij Hadits

Hadits ini bersumber dari Musnad Imam Ahmad, hadits no.17680, juga musnad al Bazzar (no. 2796). Riwayat ini termasuk hadits marfu’ (bersambung hingga sampai Rasulullah saw).

Sanad Hadits:

image

Tentang Perowi Hadits:

1. Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy.

  • Nama Lengkap : Sulaiman bin Daud bin Al Jarud
  • Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kecil (shugra min al-atbaa’)
  • Nasab : al-Thayaalisiy.
  •  Kunyah: Abu Dawud.
  • Negeri semasa hidup : Bashrah
  • Wafat : 204 H di Bashrah
  • Guru-gurunya: Aban bin Yazid, Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar bin ‘Isyasy bin Salim, Ishaq bin Sa’id bin ‘Aman bin Sa’id bin al-‘Ash, Israil bin Yunus bin Abi Ishaq, Ismail bin Ja’far bin Abi Katsir, Asy’ats bin Said, Bustham bin Muslim bin Numair, Tsabit bin Yazid, Jarir, bin Hazm bin Zaid, Habib bin Abu Habib Yazid, Harb bin Syaddad, Huraisy bin Salim, Al-Hasan bin Abi Ja’far ‘Ijlaan, al-Hakam bin ‘Athiyyah, Himad bin Salamah bin Dinar, Humaid bin Abi Humaid Mahran, Kharijah bin Mush’ab bin Kharijah, Khalid bin Dinar, Dawud bin Abi al-Farat ‘Amru bin al-Farat, Dawud bin Qais, Rubbah bin ‘Ubadah bin al-‘Ilaa`, Zaidah bin Qudamah, Zum’ah bin Shalih, Dawud bin Ibrahim, Zuhair bin Mohammad, dan lain-lain.
  • Murid-murid yang meriwayatkan hadits darinya adalah, Ahmad bin Ibrahim bin Katsir, Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Ali bin Suwaid bin Manjuf, Ahmad bin ‘Ubadah bin Musa, Ahmad bin Mohammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad, Ishaq bin Manshur bin Bahram, Hujjaj bin Yusuf bin al-Hujjaj, Al-Hasan bin ‘Ali bin Mohammad, Khalifah bin Khiyaath bin Khalifah bin Khiyaath, dan lain sebagainya.
  • Komentar ‘Ulama:

ULAMA

KOMENTAR

Ahmad bin Hambal

Tsiqqah Shaduuq (Dia tsiqqah dan terpercaya)

Yahya bin Ma’in

Shaduuq (orang yang paling terpercaya)

Ali al-Madaniy

"Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling kuat hafalannya dibandingkan dirinya"

Al-‘Ajalaniy

Tsiqah banyak hafalannya

Ibnu Mahdi

manusia paling terpercaya (ashdaaq al-naas)

Adz Dzahabi

Alhafidz

Amru bin Fallas

"Aku tidak pernah melihat ahli hadits yang lebih hafal dibandingkan dirinya".

2. Dawud bin Ibrahim al-Waasithiy.

  • Nama Lengkap : Daud bin Ibrahim
  • Kalangan : Tabi’in kecil
  • Nasab: al-Wasithiy
  • Negeri semasa hidup : Bashrah
  • Murid beliau adalah Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy, dan ia berguru kepada Habib bin Salim. Para ahli hadits menyatakan bahwa ia adalah tsiqqah (kepercayaan).

3. Habib bin Salim

  • Nama Lengkap : Habib bin Salim
  • Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
  • Nasab: al-Anshoriy.
  • Murid : antara lain Ibrahim Bin Muhâjir Bin Jâbir (Abu Ishaq), Bisyr Bin Tsâbit (Abu Muhammad), Basyîr Bin Tsâbit, Ja’far Bin ‘Iyâs, Khalid Bin Mihran, Muhammad Bin Al Muntasyir, dll
  • Komentar Ulama:

ULAMA

KOMENTAR

Abu Hatim Ar Rozy

Tsiqah

Abu Daud al-Sajastaniy

Tsiqah

Ibnu Hibban

mentsiqqahkannya

Al Bukhari

Fiihi Nadzor (haditsnya perlu diteliti)

4. An Nu’man bin Basyir

  • Nama Lengkap : An Nu’man bin Basyir binb Sa’ad
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Abu ‘Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Kufah
  • Wafat : 65 h
  • Murid : antara lain Azhar bin ‘Abdullah bin Jami’, Habib bin Salim, al-Hasan bin Ali al-Hasan Yasar, al-Husain bin al-Harits, Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Haitsamah bin ‘Abdurrahman bin Abi Sabrah, Rabi’ah bin Yazid, Sammaak bin Harb bin Aus, Al-Dlahhak bin Qais bin Khalid al-Akbar bin Wahab, dan lain-lain

5. Hudzaifah

  • Nama Lengkap : Hudzaifah bin Al Yaman
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Abu ‘Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Kufah
  • Wafat : 36 H
  • Murid : antara lain Abul Azhar, Abu ’Aisyah, Abu ’Ubaidah Bin Hudzaifah, Al Aswad Bin Yazid Bin Qais, Jundub Bin Abdillah, dll

Status Hadits

Al-Hafidzh Al-Iraqi (wafat 806 H), guru dari Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy (wafat 852 H), di dalam kitabnya Mahajjatul-Qarb ila Mahabbatil-Arab (II/17), mengatakan :"Status hadits ini shahih”, Syu’aib Arna’uth menyatakan : sanadnya baik (isnâduhu hasan), Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id (5/341) menyatakan perowi-perowinya terpercaya, Al Albani menshahihkan dalam Silsilah As Shahihah (1/34).

Adapun komentar Imam Bukhory tentang Habib bin Salim, tidak otomatis menjadikan hadits ini lemah, namun perlu diteliti, dan hasil penelitian para ahli hadits mereka tidak melemahkan hadits ini. Imam Muslim sendiri juga meriwayatkan hadits dari Habib Bin Salim semisal hadits: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu."[2]

Selain Imam Muslim, Habib Bin Salim juga merupakan perowi Abu Dawud (4 hadits), At Tirmidzi (3 hadits), an Nasa’i (8 hadits), Ibnu Majah (2 hadits), Imam Ahmad (16 hadits) juga ad Darimi ( 4 hadits). Seandainya mengikuti logika penulis blog tersebut, niscaya para ahli hadits tidak akan memuat Habib Bin Salim sebagai perowi hadits mereka.

Perkataan Habib Bin Salim di akhir Hadits ini

قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ

Habib berkata; “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi khalifah dimana Yazid bin an-Nu’man bin Basyir mendampinginya, aku menulis hadits ini untuknya dan aku mengisahkan hadits ini kepadanya dan aku katakan; “Aku berharap dia, maksudnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi amirul mu’minin setelah kekuasaan kerajaan yang bengis dan pemerintahan diktator” Lalu suratku itu diberikan kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, maka dia senang dan mengaguminya”.

Dalam tulisan di blog tersebut dan blog lain yg satu selera, mereka menjadikan hal ini sebagai alasan bahwa kalau khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ‘ala minhâjin nubuwwah yang kedua, maka masa khilafah telah berakhir, lalu dengan sembrono ditulis: “Kalau khilafah ‘ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka umar bin abdul azis termasuk golongan para raja yang ngawur :-)”. Sungguh ajaib ungkapan seperti ini, yg para ahli hadits pun tidak berlogika seperti ini, tepat apa yg dikatakan al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bâry (5/446):

وَإِذَا تَكَلَّمَ الْمَرْء فِي غَيْر فَنّه أَتَى بِهَذِهِ الْعَجَائِب

“jika seseorang berbicara (dengan logikanya sendiri) dalam hal yang bukan bidangnya, maka akan mendatangkan keajaiban seperti ini”[3]

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus ini, yakni:

  • Perkataan Habib bin Salim bukanlah hadits, sehingga tidak menjadi dalil syara’. Anehnya perkataan Nabi SAW yg diriwayatkan Habib bin Salim dia tolak karena menurut dugaannya Habib bin Salim cukup “bermasalah” dan cari muka, namun perkataan pribadi Habib bin Salim dia lontarkan untuk menjustifikasi logika ajaibnya.
  • Habib bin Salim dalam perkataannya tidak menyatakan Umar bin Abdul Aziz sebagai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yg dimaksud hadits ini, beliau hanya mengharap, perhatikan kalimat beliau:

إِنِّي أَرْجُو الخ

Aku berharap

  • Hadits-hadits yang bicara tentang akhir zaman, akan adanya Khalifah al Mahdi sebagai khalifah pengganti dari khalifah sebelumnya yang wafat. Imam as Syaukani (wafat 1250 H) menyatakan bahwa terdapat lima puluh hadits yang terdiri atas hadits shahih, hasan, dan dha’if yang berbicara tentang al Mahdi, salah satu hadits shahih diriwayatkan Ibnu Majah dalam kitab sunan Ibnu Majah bab Khurûju Al Mahdi & Al Hakim dalam Kitâbu Al Fitan wa Al Malâhim, dari Tsauban r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka memerangi kamu dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. " Kemudian beliau Saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal , lalu bersabda: "Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi" (Al Hakim berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain (Bukhari – Muslim)" Perkataan Al Hakim ini juga disetujui oleh adz-Dzahabi).

Jadi dari hadits ini, jelaslah bahwa Khilafah akan tegak sebelum turunnya al Mahdi, dan al Mahdi adalah khalifah pengganti dari khalifah sebelumnya (tidak diceritakan ada berapa khalifah sebelum al Mahdi).

Oleh karena itu tidak kita jumpai ahli hadits maupun ahli sejarah yang mu’tabar yang mempunyai pemikiran seperti tertulis dalam blog tersebut, bahkan sangat masyhur bahwa setelah khalifah Umar Bin Abdul Aziz masih ada para khalifah setelahnya. Allahu Ta’ala A’lam

Baca Juga:


[1] Semisal di blog : http://aslamattusi.wordpress.com/2010/07/27/khilafah-wajib-atau-tidak/

[2] حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ جَمِيعًا عَنْ جَرِيرٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَبِيبِ بْنِ سَالِمٍ مَوْلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ و حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

[3] Akan lebih aman kita melihat bagaimana pemahaman para ahli dibidangnya dari pada menduga-duga, sementara kemampuan kita sangat jauh dibanding mereka.

Posted on 14 November 2010, in Kritik Pemikiran, Mutiara Hadits, Politik. Bookmark the permalink. 21 Komentar.

  1. Assalaamu’alaikum,

    Subhanalloh! Janji Alloh dan RosulNya itu PASTI!
    Dan tegaknya khilafah islamiyah ala min haj nubuwwah itu juga PASTI adanya! Untuk itu mari, umat Islam di seluruh penjuru bumi Alloh untuk bersatu dan mengucap, “Khilafah! Khilafah! Khilafah!” agar nasrulloh segera tiba!
    Allohuakbar!!

    Syukron jazakumulloh sharenya. Insya Alloh bermanfaat.
    Wassalaamu’alaikum.

    Suka

  2. Muhammad Yusuf Al-Fatih

    Assalamu’alaikum..
    Kita muslim wajib percaya dengan bisyaroh Rosul. dan sudah terbukti bisyaroh Rosul terbukti kebenarannya.. Tapi afwan ana mau sedikit bertanya..Hadits ini seperti yg tertulis hanya disampaikan oleh 2 orang penulis hadits (Ahmad dan Bazzar)dan diterangkan dalam tulisan diatas jalur periwatannyahanya satu jalur..berarti hadits ini ahad dong?..padahal kita tidak boleh mengambil hadits ahad dlm perkara aqidah..(percaya bisyaroh bagian dari aqidah khan?)..Mohon pencerahannya..
    Syukron

    Suka

  3. assalamu’alaykum..
    iyas tuh, ustadz.. saya pun pernah baca tentang artikel yang menyebut hadits itu lemah, karena penafsiran yang seenak udel..
    Tapi, alhamdulillah ustdz memberikan klarfikasi, mudah-mudahan blog ini banyak yang baca juga..

    salam ukhuwah!

    Suka

  4. muhammadasrullahghaffar

    assalamu’alaikum…
    syukron atas infonya, InsyaAlloh pada tgl 12 juni nanti untuk pertma kalinya Sulawesi Tenggara (di Eks MTQ Kendari) akan diadkan even akbar dengan tema HIDUP SEJAHTERA DIBAWAH NAUNGAN KHILAFAH ISLAMIYAH. sekitar 15ribu org akan menyatiukan perspektif dan bersma2 berkomotmen tuk mendukung berdirinya daulah khilafah. mari akhi wa akhwat bersma2 berdoa tuk kelancarannya KONFERENSI RAJAB ini karena ini juga akan deadakan diseluruh kota2 besar di Indonesia. mari satukan opinini satukan komitmen dukung berdirinya daulah khilafah. Allohu Akbar

    Suka

    • sudah berdiri belum khilafahnya?
      baca al-quran An-Nuur:56.bahwa Allah berjanji pasti akan memberikan/menegakan khilafah dengan syarat manusia beriman dan beramal saleh. bukan kampanye khilafah dimana-mana tapi jauh dari syarat yang Allah tetapkan. mana bisa janji-Nya terpenuhi.

      Suka

      • aneh sampiyan itu mas…. lha kalau sudah berdiri kan tidak perlu ‘kampanye’ lagi… ya tho?

        Sebagian ulama mengatakan, tauhid itu mengharuskan adanya iman. Siapa saja yang tidak punya iman maka ia tidak bertauhid. Dan iman menuntut penerapan syariat Islam, siapa saja yang tidak menerapkan syariat islam maka tidak ada iman dan tauhid padanya. Syariat Islam menuntut adanya adab, siapa yang tdk memiliki adab maka tdk ada syariat, tidak iman, dan tidak ada tauhid padanya. (Syekh Hasyim Asy’ari: Adabul ‘Alim Wal Muta’allim, hal. 13)
        ==
        bagaimana mau ngaku iman dan mentauhidkan Allah, kalau justru mencela orang yang berupaya menegakkan syari’ahnya, mencela orang yang mengajarkan dan menyampaikan pentingnya taat kepada-Nya?

        Suka

  5. Assalamualaikum….
    ana ijin copy haditsnya ya..

    Suka

  6. Assalamualaykum…Akhi Fillah… ana Copas ya akhy..?
    Jazakallahu Khoir..”

    Suka

  7. yang perlu kita ketahui bahwa 3/4 dari hadits diatas sudah terbukti dan benar…. ini semakin menguatkan hadits diatas…
    Subhanallah…

    Suka

  8. subhanallah
    pembahasannya mendalam dan menyeluruh
    bagaimana cara belajarnya akhi?

    Suka

    • ana hanya berupaya mengumpulkan hal-hal yang berkaitan saja dan nukil sana nukil sini, banyak terbantu dg maktabah syamilah untuk melihat berbagai macam hal dan ide. Allahu A’lam

      Suka

  9. ustadz izin mengcopy ya us…. jazakumullah atas penjelasannya…

    Suka

  10. Bila kita mati tanpa baiat dlm khilafah maka mati jahiliyah,minta dijelaskan keterangan tsb dan bgmn agar tidak mati dlm keadaan jahiliyah! Terimakasih atensinya

    Suka

  11. Assalamu ‘alaikum wr wb
    mau nanya nih ustad
    kalo ustad berkenan tolong ditanggapin
    terima kasih sebelumnya
    saya merasa aneh nih dg orang2 yg menolak hadist riwayat Ahmad 17680 ttg kembalinya KHILAFAH ISLAMIYAH
    mereka menolak dg alasan ada perawi hadist yg bernama habib bin salim
    yg aneh itu bagi saya,
    1.masak sih ada perawi hadist namanya Habib bin Salim
    2.trus masak ada orang di Timur tengah bernama Habib..!?!?
    padahal kata Habib itu bukan nama seseorang, tapi nama julukan seperti Syeikh, Kiyai, ato orang jawa Mas, orang sunda Aa dll
    3.siapa sih Habib bin Salim ini?
    apakah tokoh fiktif karangan orang2 yg menolak hadist
    ato emang bener ada
    kalo bener ada, tolong dong jelasin siapa dia …

    wassalamu ‘alaikum wr wb

    ===
    Jawaban.
    Wa’alaikumussalaam….
    1) Habib bin Salim itu Maula Nu’man bib Basyir, merupakan tabi’in kalangan pertengahan. Termasuk perowi Imam Muslim, yakni meriwayatkan hadits: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu.” (HR. Muslim no 1452). Juga perowi Abu dawud, Tirmidzi, Ibnu majah, juga Ad Darimi
    2) banyak org arab namanya habib, memang itu sekarang jadi semacam “gelar”, kalau dulu tidak dipakai, panggilannya hanya nama, sehingga tidak populer panggilan habib hasan, atau habib husain (cucu nabi saw), habib ja’far as shadiq, habib ali zainal abidin dll, padahal mereka dzuriyat nabi saw. Dalam Taqriibut tahdziib (hal 151) bisa dilihat banyak yg namanya habib: Habib ibnu subai’ah (tabi’in), habib ibn sulaim al ‘abbasy, habib ibnu as syahid al azdi …
    3) lihat no 1, tambahan di sini: http://hizbut-tahrir.or.id/2007/11/13/kembalinya-khilafah-adalah-bisyarah-nabawiyyah-untuk-kita/

    Suka

  12. Yahya al-inkisaria

    maaf,, msh belumn ngeeh.. kenapa kita masih harus membela khilafah, kalo kita pake hadits2 yang ahd aja,, khan hadits ahad masih memungkinkan ada kesalahan??

    Suka

    • @Yahya:

      1) Ilustrasi: Misalkan ada dua hasil penelitian, A dan B, meneliti masalah yang sama pada waktu yang bersamaan dengan ruang sampel yang sama. Menurut metode yang digunakan dan diakui penelitinya masing-masing, penelitian A akurasinya 99 %, penelitian B akurasinya 60%, apakah ada orang yang berakal sehat lebih membela hasil penelitian B dan mengenyampingkan penelitian A? (‘afwan ini hanya ilustrasi).

      2) Tegaknya khilafah itu bia ditinjau dari 3 sisi:

      a) dari sisi PEMBENARAN akan kembali tegaknya, maka memang benar ini khabar ahad, walau ada yang menyatakan mutawatir ma’nawy, shg hanya berfaedah dzann, oleh sebab itu tidaklah otomatis dinyatakan sebagai kafir orang yang masih belum menerima ini, namun demikian kasusnya kembali seperti no 1 ilustrasi diatas.

      b) dari sisi KEWAJIBAN penegakannya, maka dalam hal ini para ‘ulama sepakat khabar ahad adalah hujjah dalam masalah hukum syara’, sehingga keliru sekali orang yang menolak kewajibannya, walaupun tidak otomatis dihukumi kafir. Oleh sebab itu Imam Al Qurthuby sampai mencela orang yang menolak kewajiban khilafah sebagai orang yang “Tuli ttg masalah syari’ah”
      هَذِهِ الْآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبِ إِمَامٍ وَخَلِيفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ وَيُطَاعُ، لِتَجْتَمِعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتَنْفُذُ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيفَةِ. وَلَا خِلَافَ فِي وُجُوبِ ذَلِكَ بَيْنَ الْأُمَّةِ وَلَا بَيْنَ الْأَئِمَّةِ إِلَّا مَا رُوِيَ عَنِ الْأَصَمِّ حَيْثُ كَانَ عَنِ الشَّرِيعَةِ أَصَمَّ
      …”Ayat ini merupakan dalil pada mengangkat imam dan khalifah, supaya didengar dan ditaati…dan tidak ada perbedaan pendapat pada masalah ini (yakni mengangkat seorang imam/khalifah) diantara umat maupun diantara para imam mazhab kecuali apa yang driwayatkan dari al-Asham sebab adalah ia tuli pada masalah syari’at”

      Namun demikian, al asham tidak otomatis dikatakan murtad, hanya memang dia tidak dianggap saja, sehingga kewajiban tegaknya khilafah itu dikatakan sebagai Ijma’ sebagaimana Imam an Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shohih Muslim (12/205) menulis :
      وَاَجْمَعُوْا عَلَى اَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ, وَوُجُوْبُهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ
      Dan mereka (kaum muslimin) sepakat bahwa sesungguhnya wajib bagi kaum muslimin mengangkat Kholifah, dan kewajiban (mengangkat khalifah ini) ditetapkan dengan syara’ bukan dengan akal. (lihat juga ‘Aunul Ma’bud, 6/414, Tuhfatul Ahwadzi, 6/397)

      3) Khilafah itu intinya adalah penegakan seluruh hukum syari’ah, dan hukum syari’ah itu banyak pula yang dalilnya mutawatir dalam Al Qur’an, sehingga kalau penolakan terhadap khilafah dg alasan hukum syari’ah itu tidak layak diterapkan dan ia meyakini dalam hatinya demikian maka orang tersebut bisa tergolong murtad karena sama saja dengan menolak hukum-hukum yang terang dalam Al Qur’an. Allahu A’lam.

      Suka

  13. Assalamu’alaykum, minta materi2 yg Ustadz ulas yaaa
    ===
    wa’alaykumussalaam… silakan.

    Suka

  14. Assalamu’alaykum
    Terima kasih atas ilmunya, salam kenal.. dan saya mohon izin untuk copas sebagian artikelnya ya.. 🙂

    ==
    Wa’alaiykumussalaam…. silakan

    Suka

  15. Assalamualaikum….
    ana ijin copy haditsnya ya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s