Category Archives: Kritik Pemikiran

Kritik Atas Islam Nusantara

Walaupun berbeda-beda dalam merumuskan istilah ‘Islam Nusantara’, setidaknya istilah ini memuat gagasan pokok bahwa Islam Nusantara bersifat tawasut (moderat)[i], inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, bisa menerima demokrasi dengan baik, sebagaimana kata Azyumardi Azra, juga “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran, didakwahkan dengan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya”, sebagaimana kata Said Agil Siradj, dia menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”[ii]

Read the rest of this entry

Iklan

Sekulerisme ‘Memberhalakan’ Allah

Orang-orang Arab Jahiliyyah, mereka membuat berhala (patung), menyembahnya, memuji-mujinya, dan berkorban untuk berhala tersebut. Mereka akan marah jika ada yang berani menghina berhala mereka, namun disisi lain aturan berhala tidak pernah diperhatikan dalam mengatur kehidupan mereka.

Dalam negara sekuler, Allah swt. dianggap tak lebih dari sekedar berhala (patung) sebagaimana berhala di masa jahiliyyah: silahkan dipuji, disembah, dikagumi, disanjung, kalau Allah dihina boleh marah, namun dalam mengatur kehidupan Allah ‘tidak boleh ikut campur’, aturan-Nya tidak boleh diterapkan. Al Qur’an boleh dibaca, dikaji, dihafal bahkan dilombakan, namun tidak dijadikan rujukan dalam mengatur negara. Inilah sebenarnya bentuk ‘penghinaan’ tak langsung kepada Islam, kepada Allah dan kitab-Nya.

Read the rest of this entry

Hukum Syari’at & Implikasi Logis

Akal memang mempunyai peran penting dalam keimanan seseorang, bahkan taklif hukum syara’ kepada diri seseorang ditentukan berdasarkan akalnya. Oleh karena itu orang yang belum baligh dan orang gila tidak dibebani kewajiban syari’at karena akalnya tidak sempurna.

Karena tidak semua hal mampu dijangkau akal, maka tidak boleh akal dijadikan pemutus perkara terhadap hal yang tidak dijangkaunya itu. Diantara hal yang tidak dijangkau akal adalah ketentuan halal-haramnya sesuatu, mengapa daging babi itu haram sementara sapi halal, ini bukanlah ranah akal membicarakannya. Peran akal hanyalah memahami dalil (nash), memahami fakta yang dikenai nash (manath) dan menerapkan dalil atas fakta tersebut.

Read the rest of this entry

Cinta Tanah Air: Antara Iman dan Nafsu

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ

“cinta tanah air merupakan bagian dari keimanan”

Ungkapan ini sering digunakan sebagai senjata oleh kaum sekuler untuk menikam perjuangan umat dalam menegakkan syari’ah Allah swt. Framing mulai “tidak memiliki rasa cinta kepada negara” hingga tuduhan yang lebih keji: “ingin menghancurkan negara”, kerap dilontarkan dan dibumbui ‘dalil’ ini.

Ada enam hal yang perlu difahami terkait ungkapan yang sering disebut sebagai hadits tersebut.

Pertama: Hadist di atas adalah hadist maudhu’ (palsu), sebagaimana diungkapkan Imam as Shoghôny (w. 650 H)[1], dan ‘laa ashla lahu’ (tidak ada ashl nya) menurut para huffadz[2].

Read the rest of this entry

Ketika Sibuk Menuntut Ilmu Jadi Alasan Meninggalkan Dakwah

Sebagian orang ada yang meninggalkan aktivitas dakwahnya ketika merasa kurang ‘ilmu, ditambah dengan celaan orang, “lulusan umum kok dakwah”, “ilmu kunci seperti nahwu, shorof, adab, bayan, badi’, ma’ani saja masih belepotan kok ngajari orang”, ungkapan seperti ini kata al Habib Abdullah bin ‘Alawi al Haddad adalah talbîs (pengkaburan) Syaitan, kesannya baik agar seseorang berjibaku dalam menuntut ilmu, namun sebenarnya adalah keliru, beliau menyatakan:

وعليك) بتعليم الجاهلين وإرشاد الضَّالين وتذكير الغافلين)

“Hendaklah engkau mendidik orang-orang yang bodoh, menunjukkan jalan lurus kepada mereka yang tersesat dan mengingatkan orang-orang yang terlena (dengan segala tipuan dunia).

واحذر أن تدع ذلك قائلاً إنما يعلّم ويذكر من يعمل بعلمه وأنا لست كذلك، أو إني لست بأهل للإرشاد لأنه من أخلاق الأكابر، وهذا كله تلبيس من الشيطان

Hati-hatilah engkau dari meninggalkan yang demikian (dakwah), dengan berkata, “yang (berhak) mengajar dan mengingatkan hanyalah ulama yang mengamalkan ilmunya, sedangkan aku tidaklah demikian”, atau “aku bukanlah orang yang pantas untuk menunjukkan jalan pada orang lain, karena yang pantas untuk itu adalah para tokoh agama.” (ucapan-ucapan) itu semua adalah pengkaburan (talbîs)nya setan.

Read the rest of this entry

Yerussalem (al Quds) Bumi yang Dijanjikan Untuk Yahudi?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (QS. Al Maidah: 21)

Sebagian orang, ketika membaca ayat ini bertanya-tanya, apakah benar bahwa Palestina (tanah Kan’an), tepatnya al Quds/ Baitul Maqdis (Yerussalem), adalah tanah yang dijanjikan Allah untuk Yahudi, sebagaimana yang diklaim oleh Zionis Israel bahwa merekalah pewaris tanah itu?.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini.

Read the rest of this entry

Pandangan Al-Muhaddits Dr. Mahmud Sa’id Mamduh Tentang Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhani dan Hizbut Tahrir

Sebagian orang, karena merasa ber’ilmu, lalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Hizbut Tahrir, padahal kalau mau berkaca sedikit saja, dan melihat bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani adl juga lulusan al Azhar setingkat Doktor dalam masalah Qadha (peradilan), tentu tidak akan gegabah melecehkan beliau dan apa yg beliau dakwahkan…. namun ya begitulah, kadang mata bisa mengingkari terangnya matahari, bukan krn mataharinya yg tidak bersinar atau tertutup awan, namun karena matanya yang sakit.

Read the rest of this entry

Sisi Baku Dalam "Ketidakbakuan" Sistem Khilafah

Tidak menarik mengikuti diskusi tentang “kebakuan sistem khilafah” antara Prof. Mahfud MD (MMD) dengan KH. Shiddiq al Jawi (di sini), baru membahas istilah “sistem baku”, diskusi sudah berhenti.

Sejak awal, saya sudah menduga arah dari pernyataan Pak MMD dalam cuitannya: “Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”. Saya menduga alur berfikir pak MMD adalah sbb:

  1. ada ikhtilaf dalam (cabang-cabang) sistem khilafah,
  2. karena ada ikhtilaf maka tidak baku,
  3. dan karena tidak baku maka bebas dan boleh beda-beda, mau republik, kerajaan, monarki, maupun kekaisaran, semua bebas.
  4. karena itu tidak wajib menegakkan sistem khilafah dg satu bentuk tertentu.

Dan dugaan saya ini sepertinya benar, terbukti dengan tanggapan beliau di bagian bawah (di sini).

Tulisan ini hanya ingin mengoreksi alur berfikir tersebut, karena alur berpikir tersebut sangat berbahaya jika diberlakukan ke bidang-bidang yang lain, semisal:

Read the rest of this entry

Cacat Epistemologis dalam Istilah “Sistem Baku Khilafah” Prof. Mahfud MD

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI

(Pimpinan Pesantren Hamfara Jogjakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY; Mahasiswa Doktoral Prodi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sudah tersebar luas tantangan Prof. Mahfud MD via akun twitter beliau agar para penyeru khilafah menunjukkan sistem baku Khilafah. Prof. Mahfud MD menulis di akun twitter-nya,”Kalau mereka bisa menunjukkan sistem baku khilafah dari Qur`an dan Hadits maka saya akan langsung mempejuangkan khilafah bersama mereka. Ayo.” Dalam tweet beliau yang lain,”Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”

Read the rest of this entry

Sedemikian Parahkah Intervensi Dunia Pendidikan Kita?

tempo, guru diperiksa Membaca berita diperiksanya sembilan guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Madrasah Aliyah se-Kalsel, terkait mencantumkan materi khilafah dan khalifah di soal PAS, walaupun sanksinya belum diputuskan (tempo, 7/12), namun tetap saja hati terasa miris dan prihatin, kenapa?

Pertama, guru hanya menjalankan tugasnya sesuai kurikulum, soal yang dibuat juga sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum, bagaimana mungkin mereka bisa disalahkan, apalagi diberi sanksi, jika mereka hanya menjalankan tupoksinya? Lihatlah di buku fikih siswa yang dikeluarkan Kemenag sendiri (kurikulum 2013), ada lima bab di situ, satu bab tentang khilafah, soal yang dibuat juga tidak keluar dari materi). Awalnya, kepala Biro Humas Kemenag, Mastuki, berkomentar bahwa tidak ada yang salah dengan soal tersebut, (detik, 5/12), anehnya sehari setelah itu, muncul informasi bahwa ujian fikih akan diulang, (kemenag.go.id, 6/12), selanjutnya muncul berita 9 guru yang membuat soal tersebut diperiksa, walau sanksinya belum ditentukan, (tempo, 7/12).

Kedua, saya belum melihat adanya pembelaan kepada 9 guru yang dimaksud, walaupun di sosmed banyak yang prihatin, namun sebatas keprihatinan, sebagaimana yang saya rasakan.

Read the rest of this entry

Serius dalam Beraktivitas

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? (QS. Al Qiyamah : 36)

Ayat ini, walaupun bentuknya adalah pertanyaan, namun maknanya adalah pengingkaran bahwa tidaklah manusia diciptakan lalu dibiarkan hidup seenaknya, tanpa ada perintah dan larangan dari Allah SWT yang harus ditaatinya. Aktivitas apapun yang dilakukan manusia, pasti ada perintah dan larangan (hukum) Allah atas aktivitas tersebut.

Read the rest of this entry

Islam Moderat

Sebagaimana kata “toleran”, kata “moderat” (wasathiyyah) sering digunakan dengan makna positif untuk mensifati orang-orang yang bisa menerima hal-hal yang ‘aneh’ dalam syari’ah, seperti LGBT, pernikahan sejenis, muslimah menikah dg non muslim, membuka aurat, orang kafir menjadi penguasa dan tidak perlunya hukum syari’ah diterapkan secara formal. Sementara kelompok yang menolak hal tersebut akan dijuluki radikal, fundamentalis yang dianggap berbahaya

Parahnya, klaim tersebut kemudian dijustifikasi dengan dalil dari Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang “wasath” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Read the rest of this entry

Sosialisme/Komunisme dan Pertentangannya dengan Islam

Sosialisme termasuk komunisme memang telah ‘mati’ dan hilang dominasinya dalam kehidupan, namun sebagai pemikiran ideologi, selama masih ada orang-orang yang mengemban dan memperjuangkannya, dia masih memiliki potensi untuk ‘hidup’ kembali. Oleh karena itu, kajian terhadap sosialisme termasuk komunisme tetaplah penting untuk mematikan sisa-sisa ‘nyawa’ yang masih menggeliat mencari celah-celah dan kesempatan untuk bangkit kembali.

Read the rest of this entry

Pentingnya Khalifah dan Tanggungjawabnya (Penjelasan Imam al Mawardi (w. 450H))

Sebagian orang, entah sengaja atau tidak, berupaya mendistorsi ajaran Islam tentang khilafah dengan mengatakan “khilafah bukan ajaran Islam”, menurut mereka, khilafah itu intinya adalah kepemimpinan, hingga ada guru besar sebuah universitas Islam mengatakan “khilafah hari ini ya Amerika”.

Sebagian lagi ketika tidak menemukan jalan untuk menolak kewajiban khilafah, akhirnya mengatakan, “kami setuju saja khilafah, namun khilafah aswaja, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir”, anehnya ketika dikejar untuk menjelaskan apa saja bedanya, akhirnya dijawab dengan muter-muter, tidak memberikan gambaran bagaimana khilafah aswaja, apalagi gambaran khilafah versi Hizbut Tahrir. Sepertinya dia berbicara begitu asal saja, yang penting memberikan persepsi negatif kepada orang seolah-olah Hizbut Tahrir bukan golongan aswaja, itu saja.

Sebagian lagi mengemukakan bahwa yang penting itu bukan “ismun” (nama), namun “musamma” (apa yang dikandung oleh nama tersebut), menggunakan kaidah “al ibrotu bil musamma, laa bil ismi”, lalu disimpulkan secara ‘akrobatik’ bahwa sekarang ini sudah era khilafah.

Read the rest of this entry

Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Read the rest of this entry