Category Archives: Kritik Pemikiran

Melawan Propaganda Hitam

Propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu[1].

Jika propaganda dilakukan secara apik oleh pemegang kekuasaan, dibantu kekuatan media, ‘penelitian’ ilmuwan dan lembaga survey, apalagi jika ditambah permainan ‘dalil’ syara’, sementara kalangan yang mengerti memilih berdiam diri dengan alasan menghindari fitnah, maka terjungkirbaliklah nilai-nilai kebenaran, kesalahan akan dianggap masyarakat sebagai kebenaran, sebaliknya kebenaran akan dianggap kejahatan.

Read the rest of this entry

Si Gila Bahlul Mengomentari Kenaikan Harga

Ketika harga-harga naik, seseorang memberi tahu si Gila Bahlul dan memintanya berdo’a, maka Si Gila Bahlul menjawab:

مَا أُبَالِي وَلَوْ حَبَّةٌ[1] بِدِينَارٍ، إِنَّ للَّه عَلَيْنَا أَنْ نَعْبُدَهُ كَمَا أَمَرَنَا، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْزُقَنَا كَمَا وَعَدَنَا [2]

“aku tidak peduli, kalaupun satu biji (gandum) berharga satu dinar (4,25 gram emas), sesungguhnya hak Allah atas kita adalah kita beribadah kepada-Nya sebagaimana Dia perintahkan kita, dan kewajiban Dia adalah memberi rizki kepada kita sebagaimana Dia telah janjikan” (Adz Dzahaby (w. 748 H), Târîkhul Islam wa Wafayâtu al Masyâhiri al A’lâm, 12/90, maktabah Syamilah)

Read the rest of this entry

Kenaikan Harga: Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Perhatikan rumus pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto berikut:

Pertumbuhan Ekonomi

Dengan memperhatikan rumus di atas, maka kenaikan harga akan memberikan ‘efek positif’ berikut:

Do’a dan Perubahan

Ketika melihat kerusakan di masyarakat, sebagian kalangan memilih berdo’a sebagai upaya perbaikan. Mereka mau berdo’a untuk kebaikan umat, itu bagus, namun yang tidak tepat adalah ketika ‘meremehkan’ upaya kaum muslimin yang berupaya ber-amar makruf nahi munkar, menjelaskan penyimpangan yang terjadi sembari menjelaskan bagaimana seharusnya Islam mengatasinya, kadang upaya tersebut dipandang sinis, seolah-olah yang berupaya tersebut melalaikan berdo’a kepada Allah swt.

Read the rest of this entry

Marah yang Terpuji

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw:

دلني على عمل يُدخلني الجنة

Tunjukkan suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga.

Maka Rasulullah menjawab:

لا تغضب ولك الجنة

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR. at Thabrani)

Read the rest of this entry

Kok ‘Kasus Ahok Saja’ yang Dibesar-besarkan

– : Bayaknya orang melecehkan alQur’an, kenapa hanya ahok yg dibesar-besarkan? ini pasti muatannya politik saja!

+ : kalau ‘wong cilik’ yg melakukan memang tidak perlu respon besar, karena pengaruhnya juga tdk besar, begitu dilaporin langsung bisa ditindak aparat, lihat saja kasus orang ‘gila’ yg menuduh nabi Adam mengajarkan incest dan menghina nabi Ibrahim, kan mudah selesainya. Hukuman untuk orang kecil dan bodoh memang akan beda dg untuk orang yg pengaruhnya besar. Read the rest of this entry

Rekonstruksi Sukses

Sukses dalam pandangan banyak orang tua adalah ketika mereka berhasil berumah tangga dengan tentram, berkecukupan materi, dan anak-anaknya sudah berumah tangga pula dengan pekerjaan yang ‘mapan’. Seorang kepala negara, akan merasa sukses jika bisa menumbuhkan ekonomi, melakukan berbagai pembangunan infra struktur, dan disenangi oleh rakyatnya. Seorang kiai merasa sukses ketika ribuan orang menjadi ‘muhibbin’ (pecinta) nya, sementara pesantrennya selalu dipenuhi ribuan santri. Seorang santri/siswa/mahasiswa merasa sukses jika bisa lulus dengan nilai sangat memuaskan, lalu memperoleh pekerjaan dengan gaji yang ‘wah’, kemudian berumah tangga dengan pasangan yang diidam-idamkan, dan memiliki anak-anak yang menyenangkan. Tak heran jika dalam temu alumni (reuni), yang menjadi pembicaraan adalah seputar kesuksesan seperti itu.

Read the rest of this entry

NKRI Sudah Final Karena Sudah Di-Istikhoroh-i?

x : sistem negara ini sudah final, tidak berubah, harga mati, karena sudah pernah di-istikhoroh-i oleh kyai ***, kwalat kalau mau mengubahnya.

y : bukannya dulu saat di istikhoro-i oleh kyai *** sistemnya  bukan sistem yang sekarang, dulu RIS, terus diubah jadi sistem parlementer, PKI dulu juga dilegalkan…. siapa sebenarnya yang kwalat?

x : ?*+;’?

y : Istikhoroh itu bukan berarti kalau sudah dilakukan hasilnya lalu harom untuk berubah ke arah yg dianggap lebih baik, jangankan istikhoroh, sumpah pun boleh ditebus (dengan membayar kaffarat) jika ketemu perkara yg lebih baik…si A istikhoroh, lalu mantap menikahi si B, tidak bisa dikatakan kalau A harom bercerai dg B karena dulu sudah istikhoroh….

x : ya, tapi kan setelah istikhoroh, hasilnya itu jadi ketetapan Allah, dijamin kebenarannya…

y: Kata siapa?, lihat saja Prof. Dr. MDI, sebelum memutuskan bergabung dengan Dimas kanjeng “sang pengganda/pengada uang” juga sudah istikhoroh, bukan hanya 3 hari, tapi setahun,… dan lihat apa yg terjadi…

(saya ketik via hp, menjelang tidur, paginya baru dirapikan di kantor)

Baca Juga:

Al Maidah 51

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

‘Tafsirnya’ Ahok : tidak haram memilih pemimin kafir, dia katakan: “konteksnya bukan itu. Konteksnya jangan pilih nasrani yahudi jadi temenmu, sahabatmu” [1]

Read the rest of this entry

Bolehkah Berhaji di Bulan Syawwal atau Dzulqa’dah Saja?

Masdar F. Mas’udi (tokoh NU) menyatakan bahwa waktu pelaksanaan haji perlu ditinjau ulang, menurutnya ibadah haji tidak mesti di bulan Dzulhijjah, pandangan ini kemudian diapresiasi oleh kalangan ‘Islam Liberal’ dan menyebutnya sebagai ‘gagasan brilian kyai NU’. Bagaimana menyikapinya?

Read the rest of this entry

Jenggot ‘Memelintir’ Kecerdasan

1. Benarkah jenggot mengurangi kecerdasan, sehingga makin panjang jenggot maka makin goblok?

2. Benarkah kalau jenggot dibiarkan panjang, walau kecerdasan otak berkurang, namun (kecerdasannya) turun kehati, Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih…sehingga kalau mau berjenggot panjang,  hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.

Read the rest of this entry

Menyikapi Proyek ‘Monsterisasi’ Khilafah

Penggunaan kekerasan oleh suatu kelompok, kalaupun berhasil menguasai suatu wilayah, maka yang tegak bukan khilafah yang syar’i, namun demikian jika dengan kekerasan tersebut ternyata mereka mendominasi negeri yang memiliki pilar-pilar negara sesuai wilayah sekitarnya, menstabilkan keamanan dalam dan luar negerinya tanpa bantuan asing, menerapkan Islam dengan adil dan baik dan mayoritas masyarakat di wilayah itu (bukan hanya kelompoknya) ridha dan senang mengangkatnya sebagai khalifah, maka secara syar’i juga sah sebagai khalifah, asalkan khalifahnya memenuhi syarat-syarat pengangkatan.

Read the rest of this entry

Khutbah Jum’at – Bingung (Menyikapi Sistem Hidup Selain Islam)

Oleh: M. Taufik N.T — download lengkapnya di <<sini>>

Suatu ketika Umar ibnul Khaththab r.a datang kepada Nabi SAW dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahlul kitab. Lalu dia membacakannya kepada Nabi SAW, maka Nabi pun marah seraya bersabda:

Read the rest of this entry

Demokrasi dalam Pandangan Islam

Oleh : Muhammad Taufik NT

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ»، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ

“Hari kiamat tak bakalan terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhory no. 7319 dari Abu Hurairah r.a)

Read the rest of this entry

Menyoroti Konsep Relativisme Pemikiran

Oleh: M. Taufik N.T

Relativisme adalah konsep bahwa suatu pandangan tidaklah memiliki kebenaran mutlak, namun bernilai relatif (nisbi) dan subyektif menurut perbedaan persepsi dan pertimbangan. Perbedaan manusia, budaya, etika, moral, agama, bukanlah perbedaan dalam hakikat, melainkan perbedaan karena faktor-faktor di luarnya. Yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah tergantung pada masing-masing orang dan budaya masyarakatnya[1].

Read the rest of this entry