Category Archives: Kritik Pemikiran

Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Read the rest of this entry

Ki Bagus Hadikusumo & Pancasila

Sudah 67 tahun berlalu, apa yang kita namakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun sejalan dengan proklamasi tersebut, masih juga mengganjal dihati –bagi sebagian umat yang menyadari-sebuah kesepakatan yang tidak tertunaikan. Sebuah perjuangan yang digugurkan sebelum dilahirkan. Gentlemant’s Agreement bernama Piagam Jakarta.

Read the rest of this entry

Kamu Goblok!

Suatu ketika, di negeri antah berantah, Mukidi, Hoka dan Utuh sedang naik jukung (perahu kecil), si Utuh yang mengayuh perahu. Dari arah depan nampak speed boat, melihat itu Hoka berkata ke Utuh: “ Tuh, ke pinggir Tuh, kalau dekat speed boat nanti kita bisa kena airnya”

Utuh menjawab: “biasa saja lah, ulun (saya) udah biasa bawa jukung ini, kada usah takutan”.

Read the rest of this entry

Mencegah Sekularisasi Pancasila

Pagi ini, Metro TV, dalam editorialnya, memprovokasi masyarakat untuk membubarkan ormas ‘menyimpang’, secara tegas yang mereka sebut adalah Hizbut Tahrir. Diantara alasannya adalah karena dianggap membahayakan NKRI dan merongrong Pancasila.

Hizbut Tahrir, memang adalah organisasi yang secara tegas senantiasa mengajak masyarakat untuk menerapkan syari’ah dan menegakkan khilafah (khilafah itu salah satu bagian dari syari’ah). Apakah memang benar seruan Hizbut Tahrir ini merongrong Pancasila? Ada baiknya dibaca dengan seksama tulisan KH. Makruf Amin (Ketua MUI dan NU), berjudul “Mencegah Sekularisasi Pancasila” dibagian bawah ini.

Jika mengajak berhukum kepada syari’ah dianggap merongrong Pancasila, apakah justru membiarkan berbagai kegiatan LGBT itu yang sesuai dengan Pancasila, hingga kata Tito Karnavian menyatakan negara wajib melindungi mereka? [1]. Adakah agama di Indonesia ini yang menyokong LGBT: Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender? Apakah penjualan berbagai aset strategis negara kepada asing itu justru yang selaras dengan Pancasila? Penista agama, bukan hanya agama Islam, bahkan agama dia sendiri (kristen) juga tak luput jadi candaan, disebutnya “ajaran kristen itu konyol”, apakah membela orang seperti itu wujud dari sikap Pancasilais?

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Membahayakan NKRI

Inilah bahaya yang mungkin ditimbulkan jika cita-cita Hizbut Tahrir untuk ditegakkannya syari’ah tercapai:

1. Membahayakan Wakil Rakyat. DPR akan kekurangan job dan berkurang durasi ‘studi banding’. Ini karena hukum syari’ah tidak perlu pengesahan DPR. Kalau tahap penyusunan satu RUU usulan DPR, anggaran yang digunakan Rp5,2 miliar pada tahun 2012[i], bisa dibayangkan berapa pemasukan yang akan hilang karena kurangnya job ini.

Read the rest of this entry

Buktikan Dulu!

EPISODE 1

Suami: “Sayang, kau sudah tahu kalau aku sayang padamu dan anak-anak kita, dan kau sendiri kemarin ikut berempati, kasihan juga prihatin terhadap temanmu yang belum ‘menemukan’jodohnya. Tidakkah terlintas dibenakmu untuk berbagi suami dengannya? Ini memang berat dan perlu pengorbanan, bukan hanya bagimu, namun juga bagiku untuk bertanggung jawab atas dua orang istri.”

Istri : “Suamiku, aku tahu engkau sayang padaku dan anak-anak kita, dan aku tahu engkau lelaki yang bertanggungjawab, namun mohon ma’af suamiku, aku tidak mau berbagi suami SEBELUM ENGKAU BISA MEMBUKTIKAN LEBIH DULU BAHWA ENGKAU ADIL TERHADAP ISTRI-ISTRIMU!.”

Read the rest of this entry

Melawan Propaganda Hitam

Propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu[1].

Jika propaganda dilakukan secara apik oleh pemegang kekuasaan, dibantu kekuatan media, ‘penelitian’ ilmuwan dan lembaga survey, apalagi jika ditambah permainan ‘dalil’ syara’, sementara kalangan yang mengerti memilih berdiam diri dengan alasan menghindari fitnah, maka terjungkirbaliklah nilai-nilai kebenaran, kesalahan akan dianggap masyarakat sebagai kebenaran, sebaliknya kebenaran akan dianggap kejahatan.

Read the rest of this entry

Si Gila Bahlul Mengomentari Kenaikan Harga

Ketika harga-harga naik, seseorang memberi tahu si Gila Bahlul dan memintanya berdo’a, maka Si Gila Bahlul menjawab:

مَا أُبَالِي وَلَوْ حَبَّةٌ[1] بِدِينَارٍ، إِنَّ للَّه عَلَيْنَا أَنْ نَعْبُدَهُ كَمَا أَمَرَنَا، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْزُقَنَا كَمَا وَعَدَنَا [2]

“aku tidak peduli, kalaupun satu biji (gandum) berharga satu dinar (4,25 gram emas), sesungguhnya hak Allah atas kita adalah kita beribadah kepada-Nya sebagaimana Dia perintahkan kita, dan kewajiban Dia adalah memberi rizki kepada kita sebagaimana Dia telah janjikan” (Adz Dzahaby (w. 748 H), Târîkhul Islam wa Wafayâtu al Masyâhiri al A’lâm, 12/90, maktabah Syamilah)

Read the rest of this entry

Kenaikan Harga: Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Perhatikan rumus pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto berikut:

Pertumbuhan Ekonomi

Dengan memperhatikan rumus di atas, maka kenaikan harga akan memberikan ‘efek positif’ berikut:

Do’a dan Perubahan

Ketika melihat kerusakan di masyarakat, sebagian kalangan memilih berdo’a sebagai upaya perbaikan. Mereka mau berdo’a untuk kebaikan umat, itu bagus, namun yang tidak tepat adalah ketika ‘meremehkan’ upaya kaum muslimin yang berupaya ber-amar makruf nahi munkar, menjelaskan penyimpangan yang terjadi sembari menjelaskan bagaimana seharusnya Islam mengatasinya, kadang upaya tersebut dipandang sinis, seolah-olah yang berupaya tersebut melalaikan berdo’a kepada Allah swt.

Read the rest of this entry

Marah yang Terpuji

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw:

دلني على عمل يُدخلني الجنة

Tunjukkan suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga.

Maka Rasulullah menjawab:

لا تغضب ولك الجنة

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR. at Thabrani)

Read the rest of this entry

Kok ‘Kasus Ahok Saja’ yang Dibesar-besarkan

– : Bayaknya orang melecehkan alQur’an, kenapa hanya ahok yg dibesar-besarkan? ini pasti muatannya politik saja!

+ : kalau ‘wong cilik’ yg melakukan memang tidak perlu respon besar, karena pengaruhnya juga tdk besar, begitu dilaporin langsung bisa ditindak aparat, lihat saja kasus orang ‘gila’ yg menuduh nabi Adam mengajarkan incest dan menghina nabi Ibrahim, kan mudah selesainya. Hukuman untuk orang kecil dan bodoh memang akan beda dg untuk orang yg pengaruhnya besar. Read the rest of this entry

Rekonstruksi Sukses

Sukses dalam pandangan banyak orang tua adalah ketika mereka berhasil berumah tangga dengan tentram, berkecukupan materi, dan anak-anaknya sudah berumah tangga pula dengan pekerjaan yang ‘mapan’. Seorang kepala negara, akan merasa sukses jika bisa menumbuhkan ekonomi, melakukan berbagai pembangunan infra struktur, dan disenangi oleh rakyatnya. Seorang kiai merasa sukses ketika ribuan orang menjadi ‘muhibbin’ (pecinta) nya, sementara pesantrennya selalu dipenuhi ribuan santri. Seorang santri/siswa/mahasiswa merasa sukses jika bisa lulus dengan nilai sangat memuaskan, lalu memperoleh pekerjaan dengan gaji yang ‘wah’, kemudian berumah tangga dengan pasangan yang diidam-idamkan, dan memiliki anak-anak yang menyenangkan. Tak heran jika dalam temu alumni (reuni), yang menjadi pembicaraan adalah seputar kesuksesan seperti itu.

Read the rest of this entry

NKRI Sudah Final Karena Sudah Di-Istikhoroh-i?

x : sistem negara ini sudah final, tidak berubah, harga mati, karena sudah pernah di-istikhoroh-i oleh kyai ***, kwalat kalau mau mengubahnya.

y : bukannya dulu saat di istikhoro-i oleh kyai *** sistemnya  bukan sistem yang sekarang, dulu RIS, terus diubah jadi sistem parlementer, PKI dulu juga dilegalkan…. siapa sebenarnya yang kwalat?

x : ?*+;’?

y : Istikhoroh itu bukan berarti kalau sudah dilakukan hasilnya lalu harom untuk berubah ke arah yg dianggap lebih baik, jangankan istikhoroh, sumpah pun boleh ditebus (dengan membayar kaffarat) jika ketemu perkara yg lebih baik…si A istikhoroh, lalu mantap menikahi si B, tidak bisa dikatakan kalau A harom bercerai dg B karena dulu sudah istikhoroh….

x : ya, tapi kan setelah istikhoroh, hasilnya itu jadi ketetapan Allah, dijamin kebenarannya…

y: Kata siapa?, lihat saja Prof. Dr. MDI, sebelum memutuskan bergabung dengan Dimas kanjeng “sang pengganda/pengada uang” juga sudah istikhoroh, bukan hanya 3 hari, tapi setahun,… dan lihat apa yg terjadi…

(saya ketik via hp, menjelang tidur, paginya baru dirapikan di kantor)

Baca Juga:

Al Maidah 51

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

‘Tafsirnya’ Ahok : tidak haram memilih pemimin kafir, dia katakan: “konteksnya bukan itu. Konteksnya jangan pilih nasrani yahudi jadi temenmu, sahabatmu” [1]

Read the rest of this entry