Khilafah & Masa Depan Dunia

Oleh: Muhammad Taufik N.T

(Insya Allah disampaikan pada Liqa Syawwal, 18 Syawwal 1431 H/26 September 2010, dengan tema : “Menjadi Khairu ‘Ummah dengan Menegakkan Khilafah”)

***

"Until a few years ago, most Islamist groups considered the notion of establishing a new Caliphate a utopian goal. Now, an increasing number of people consider it a serious objective"

"Hingga beberapa tahun yang lalu, sebagian besar kelompok Islam menganggap upaya penegakan Khilafah yang baru adalah tujuan yang utopis. Sekarang, semakin bertambah orang yang mempertimbangkan pendirian kembali Khilafah sebagai tujuan yang serius" (Zayno Baran, direktur the International Security and Energy Programs Nixon Center) -dipublikasikan Foreign Affair November/Desember 2005.

***

1. Roda Sejarah Senantiasa Berputar

Kejayaan suatu kaum, tidak peduli betapa pun tingginya kejayaan tersebut, pasti akan menurun dan jatuh, termasuk kejayaan kita sendiri. Sejarah akan bergerak secara siklis, ibarat roda yang berputar, kadang diatas dan kadang di bawah. Saat roda sejarah suatu kaum menuju ke titik bawah, pastilah pada saat itu ada kaum lain yang roda sejarahnya bergerak naik keatas. Allah SWT berfirman:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim (Ali ‘Imran 140).

Berkaitan dengan pergiliran masa kejayaan dalam ayat diatas, Al Hafidz Ibnu Katsir (wafat 774 H) menyatakan:

أَيْ نُدِيل عَلَيْكُمْ الْأَعْدَاء تَارَة وَإِنْ كَانَتْ لَكُمْ الْعَاقِبَة لِمَا لَنَا فِي ذَلِكَ مِنْ الْحِكْمَة

Yaitu Kami pergilirkan kemenangan itu bagi musuh kalian atas diri kalian dalam sesekali waktu, sekalipun pada akhirnya kalian memperoleh akibat yang baik, (Kami lakukan demikian itu) karena kebijaksanaan Kami yang mengandung hikmah (buat kalian).(QS Ali ‘Imran : 140)

Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا

dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)

Ibnu Abbas r.a mengatakan bahwa dalam kondisi seperti itu kita dapat melihat siapa yang bersabar dan teguh dalam menghadapi musuh-musuh[1].

Sedangkan Al Hafidz As Suyuthi (wafat 911 H) dalam Tafsir Jalâlain menyatakan:

"وَتِلْكَ الْأَيَّام نُدَاوِلهَا" نُصَرِّفهَا "بَيْن النَّاس" يَوْمًا لِفِرْقَةٍ وَيَوْمًا لِأُخْرَى لِيَتَّعِظُوا

“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan” Kami mengedarkannya (silih berganti) “di antara manusia” suatu hari/waktu (masa kejayaan) bagi satu golongan dan hari/waktu yang lain (masa kejayaan) untuk suatu golongan yang lainnya agar mereka sama-sama menarik pelajaran.

Sejarah kehidupan manusia telah membuktikan pergiliran kekuasaan diantara manusia, Bani Israel yang berkuasa sejak 975 SM, 250 tahun kemudian berhasil diruntuhkan oleh raja `Asyur namanya Syanharib, Oleh karena kejahatan Bani Israel ini tidak juga berhenti, maka Allah mengerahkan tentara Babilonia di bawah pimpinan rajanya Bukhtanassar (Nebukadnezar), yang menawan dan menjadikan mereka sebagai budak. Allah kemudian memberikan giliran bagi orang-orang Bani Israel untuk berkuasa kembali, maka sesudah Cyrus, Kisra Persia yang pertama dari keluarga Sasan dapat mengalahkan Babilonia, dia memerdekakan para tawanan dari Bani Israel yang berada di Babilonia itu, dan mengirimkan mereka kembali ke Palestina pada tahun 536 SM sehingga orang-orang Bani Israel itu menguasai negerinya kembali [2]. Begitu juga sejarah mencatat kejayaan Persia dan Romawi digantikan oleh kejayaan Khilafah Islam selama lebih dari 1000 tahun, kemudian digantikan kejayaan Inggris, Perancis dan Jerman, lalu diganti kejayaan Amerika Serikat dan Uni Soviyet yang akhirnya Uni Soviyet juga runtuh, sehingga praktis saat ini Amerika Serikat-lah yang menguasai dunia.

2. Kemunkaran & Kekufuran; Sebab Kehancuran

Negeri Saba, suku bangsa yang hidup di Yaman yg berdiri dan berkembang kira-kira 1000 SM, menjadi salah satu contoh bagaimana kekufuran telah menghancurkan mereka. Allah gambarkan kemakmuran mereka dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ …

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (QS. Saba’ : 15 )

Di negeri saba ini kiri kanan jalan penuh kebun-kebun menghijau, dihiasi pohon-pohon berbuah lebat. Sehingga yang berjalan di seluruh negeri Saba tak pernah merasakan lelah, haus, dan lapar. Jika ingin makan, tinggal memetik aneka macam buah yang terdapat di sepanjang jalan. Maka sejauh apa pun perjalanan, selalu terasa dekat dan ringan.[3]

Air juga tak kurang. Mengalir dan memancar di mana-mana. Air tersebut, bersumber dari bendungan Ma’rib. Sebuah bendungan besar yang mampu menampung curahan air hujan satu kali musim hujan, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua tiga tahun musim kemarau.

Beratus tahun, bangsa dan negeri Saba menempuh kehidupan bahagia lahir batin. Hanya saja, suatu ketika, bangsa dan negeri Saba terkena penyakit kufur nikmat. Generasi-generasi baru bangsa Saba mulai terlena dengan kenikmatan-kenikmatan semu yang muncul dari impian hawa nafsu. Mulailah timbul pertentangan dan benturan aspirasi.

Bendungan Ma’rib yang dulu terpelihara,mulai terabaikan, penduduk Saba mejadi sibuk oleh berbagai kepentingan masing-masing, orang-orang yang dipercaya mengelola bendungan Ma’rib, tak lagi tekun bekerja. Malah banyak fasilitas umum yang disalahgunakan. Dikorupsi untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Kondisi bendungan Ma’rib tak lagi terperhatikan.

Keadaan semakin memuncak, yakni dg mereka mencampakkan aturan Allah SWT. Akhirnya Allah mengazab mereka melalui bobolnya bendungan Ma’rib, Allah menimpakan azab banjir bandang. Kebun-kebun indah dan subur, berubah seketika menjadi hamparan tanah kering yang tak dapat ditumbuhi tanamam selain pohon-pohon berduri, berkulit pahit, dan tak berbuah. Yaitu sejenis pohon atsl (cemara) dan sidr (dadap liae/bidara). Allah menyatakan:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS. Saba’: 16)

Kisah bangsa dan negeri Saba sangat baik untuk berkaca. Mengapa kemajuan dan kemakmuran bangsa dan negara tersebut hancur berantakan? Berdasarkan data-data sejarah dan tafsir Alquran, kemajuan negara dan bangsa Saba dimulai oleh keimanan kepada Allah SWT yang dipelopori wanita yg akhirnya disunting oleh nabi Sulaiman a.s . Sejak itu, rakyat Saba meninggalkan kepercayaan kepada berhala-berhala dan sembahan buatan manusia lainnya, seperti harta, pangkat, jabatan, dll., yang mengandung kedzaliman kepada diri pribadi (kebodohan moral dan intelektual), dzalim kepada orang lain (mengajak kepada kejahilan dan kemaksiatan), dan dzalim kepada Allah SWT (tidak menghargai nikmat anugerah akal dan pikiran untuk membedakan yang hak dan batil, yang halal dan haram).

Dalam konteks keadaan mereka. Allah berfirman:

ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (kengganan bersyukur) mereka. kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur (QS. Saba [34]: 17).

Begitu juga dengan Bani Isreal, Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا …

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri (Al Isra’ : 7)

عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا

Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat (Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al Isra : 8)

Dan berkaitan dengan umat manusia secara umum, Allah katakan:

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا

Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. (Al Isra : 58)

3. Amerika Serikat: Bangkrut !

Kebangkrutan Amerika Serikat menandai berawalnya babak baru akan munculnya sebuah kekuatan baru yang akan memimpin dunia. Penerima Nobel bidang Ekonomi, Paul Krugman menulis bahwa "Cahaya akan menjauh dari seluruh Amerika." Bahkan, Amerika Serikat, yang saat ini tenggelam dalam krisis utang besar di atas 90% dari PDB (Produk Domestik Bruto), terancam oleh Zaman Es sosial yang lebih parah daripada apa pun yang negara itu pernah alami sejak era The Great Depression (malaise, 1930). Departemen Pertanian AS menekankan bahwa sekitar 50 juta orang Amerika tidak mampu membayar makanan yang cukup di tahun 2009. Hanya satu persen saja dari rakyat Amerika sendiri yang menikmati total kekayaan negara. Menurut Kapten William Finley, kepala cabang lokal dari Salvation Army, orang-orang yang dulunya kaya, yang telah kehilangan rumah mereka, kini terpaksa tidur di mobil mahal mereka yang diparkir di sudut-sudut kota [4].

Adapun negara-negara lain juga mengalami nasib yang serupa, kalaupun ada yang ekonominya bertahan namun dari sisi hancurnya generasi seperti kematian karena narkoba, bunuh diri maupun alkohol sudah seperti tidak tertangani lagi. Belum lagi kalau bicara hampir punahnya kehidupan mereka akibat banyak warganya yang tidak mau punya anak, memilih homo seksual ataupun yang hamil namun diaborsi. Oleh sebab itu, adalah sebuah hal yang sangat na’if kalau umat masih percaya dengan mengikuti pola hidup dan aturan mereka.

Hanya saja, kalaupun Amerika hancur, bukan berarti masa depan otomatis berada ditangan umat Islam. Umat Islam hanya akan benar-benar berjaya kembali jika mereka benar-benar memperbaiki dan meningkatkan keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Allah SWT, yakni dengan menerapkan aturan-aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, baik individu, maupun dalam berbangsa dan bernegara.

Umar bin al-Khaththab r.a pernah berwasiat kepada Sa’ad Bin Abi Waqqas dan pasukannya saat mau berangkat menuju Kisra:

… وإنما ننتصر بمعصية عدونا لله، وطاعتنا له، فإذا استوينا في المعصية كان لهم الفضل علينا في القوة، وإن لم نغلبهم بطاعتنا لم نغلبهم بقوتنا[5]

Sesungguhnya kita hanya ditolong karena kemaksiatan musuh-musuh kita kepada Allah, jika kita juga sama dalam melakukan maksiat maka adalah mereka lebih utama dari pada kita dalam hal kekuatan, jika kita tidak mengalahkan mereka dengan ketaatan kita, kita tidak akan dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.

Umar ibnu Abdil Aziz pernah berwasiat kepada sebagian pekerjanya, “Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah di tempat mana saja Engkau berada. Sesungguhnya taqwa kepada Allah adalah persiapan yang paling baik, makar yang paling sempurna, dan kekuatan yang paling dahsyat. … Dan janganlah karena permusuhan seseorang dari manusia menjadikan kalian lebih perhatian padanya daripada dosa-dosa kalian. Janganlah kalian katakan bahwa musuh-musuh kita lebih jelek keadaannya daripada kita dan mereka takkan pernah menang atas kita sekalipun kita banyak dosa. Berapa banyak kaum yang dihinakan dengan sesuatu yang lebih jelek dari musuh-musuhnya karena dosa-dosanya. Mintalah kalian pertolongan kepada Allah atas diri-diri kalian, sebagaimana kalian minta pertolongan pada-Nya atas musuh-musuh kalian…”[6]

4. Respon Umat Terhadap Tawaran Syariah dan Khilafah

Saat ini, Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, geliat dakwah kepada Islam, yakni dengan seruan dan ajakan kepada syariah yang akan diterapkan dalam sistem khilafah sudah semakin menggelora, masyarakat juga semakin merindukan tegaknya syari’ah. Hal ini tergambar dari Survei oleh PPIM – UIN Syahid Jakarta, menunjukkan masyarakat yang menginginkan syariah pada tahun 2001 sebesar 61%, tahun 2002 sebesar 71%, dan pada tahun 2003 meningkat menjadi sebesar 75%. Selain itu, pernah dilakukan sebuah survei oleh GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia) pada tahun 2006 untuk mengetahui pandangan hidup apa yang dipilih mahasiswa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Respondennya adalah para mahasiswa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (Unibraw). Hasilnya menunjukkan sebagian besar mahasiswa memilih Syariah Islam (80 %), sementara 15,5 % mahasiswa memilih Sosialisme, dan hanya 4,5 % mahasiswa yang memilih Pancasila. (Kompas, 4 Maret 2008).

Survei lain pernah dilakukan SEM Institute (Shariah Management and Economic Institute), Jakarta, pada bulan Maret 2008. Survei dilakukan di 26 kota Indonesia dengan 1052 orang responden. Ketika kepada para responden ditanyakan, "Setujukah Anda dengan penerapan Syariah Islam?" ternyata sebagian besar masyarakat (83 %) menyetujui penerapan Syariah Islam. Mereka juga ditanya,"Yakinkah Anda bahwa Syariah Islam dapat membawa kemaslahatan dan satu-satunya solusi bagi masalah bangsa?" Jawabannya adalah sebagian besar (84 %) menyatakan yakin. Kepada responden juga ditanyakan, "Setujukah Anda dengan pernyataan,’Khilafah adalah bentuk sistem politik dan pemerintahan dalam Islam?" Jawabannya, sebagian besar responden (74 %) menyatakan setuju. (Survei Syariah, SEM Institute, Jakarta : 2008).

Dalam sebuah hasil survey yang dilakukan YouGov terungkap hasil yang cukup mengejutkan, dua perlima (40%) dari mahasiswa Muslim yang disurvei (1400 mahasiswa) mendukung diterapkannya Syariah menjadi undang-undang bagi Muslim Inggris. Sementara itu sepertiga (33%) dari mahasiswa Muslim yang disurvei mendukung diterapkannya kekhalifahan di seluruh dunia yang didasarkan pada hukum Syari’ah. Mayoritas (58%) dari anggota aktif Masyarakat Islam kampus mendukung ide ini.

Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau Ketua Dewan Duma (Parlemen Rusia), Mikael Boreyev, dalam buku Rusia Imperium Ketiga memprediksikan bahwa pada tahun 2020 mayoritas negara-negara di dunia akan mengalami kehancuran, dan nanti hanya akan ada lima negara besar yakni: Rusia, yang telah menggabungkan Eropa kedalamnya; Cina, yang akan mendominasi negara-negara Asia Timur dengan kekuatan militer dan ekonominya; Khilafah Islamiyah, yang akan membentang dari Jakarta hingga Tangier dan mayoritas daerah Afrika; dan Konfederasi yang menggabungkan benua Amerika Utara dan Amerika Selatan. Boreyev memprediksi India juga mungkin menjadi negara besar jika ia mampu menghadapi kekuatan Islam yang meliputinya[7]. NIC (National Inteligent Council) yang berpusat di Washington dalam The Global Future Mapping 2020, diantaranya memperkirakan akan berdirinya The New Islamic Chaliphate (Khilafah Islam yang Baru).

5. Berita & Janji Allah & Rasul-Nya tentang Masa Depan Umat

Dalam Surat An Nûr ayat 55, Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور: 55)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya [8]menyatakan:

هذا وعد من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم . بأنه سيجعل أمته خلفاء الأرض، أي: أئمةَ الناس والولاةَ عليهم، وبهم تصلح البلاد، وتخضع لهم العباد،…

"Ini adalah janji dari Allah swt kepada Rasulullah saw, bahwasanya Dia akan menjadikan umatnya (umat nabi Muhammad saw) sebagai khulafa` al-ardl, yakni: pemimpin-pemimpin manusia dan penguasa atas mereka; dan dengan mereka negeri-negeri diperbaiki dan seluruh manusia tunduk kepada mereka, …

Dari Abdullah bin ‘Amru, beliau berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَكْتُبُ إِذْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلًا قُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلًا يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

Suatu ketika kami berada bersama Rasulullah saw sedang menulis, yaitu di saat beliau ditanya tentang dua kota, manakah yang lebih dahulu dibuka; Qostantinopel atau Rum? Maka Rasulullah SAW pun menjawab: "Kotanya Hiroclus yang lebih dahulu dibuka yakni Qostantinopel"

Hadit ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Muhson, Abu Amr Ad-Dani di dalam As-Sunanul Wâridah fil-Fitan (hadits-hadits tentang fitnah), Al-Hakim dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam Kitabul Ilmi. Abdul Ghani menyatakan bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim dalam al Mustadrak menilai hadits ini shahih menurut syarat Bukhory & Muslim. Penilaian Al-Hakim itu disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

Kata Rûmiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Italia sekarang ini, sebagaimana bisa kita lihat di dalam Mu’jamul Buldan. Upaya real untuk melakukan futuhat ke Qostantinopel ini juga dilakukan oleh kaum muslimin setelahnya, yakni Abu Ayyub al-Anshari (44 H) pada Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan, Sulaiman bin Abdul Malik (98 H) masa Kekhalifahan Umayyah, Khalifah Harun al-Rasyid (190 H) masa Kekhalifahan Abasiyyah, Khalifah Beyazid I (796 H) masa Kekhalifahan Utsmanityyah, dan berhasil saat Khalifah Murad II (824 H) pada masa Kekhalifahan Utsmaniyyah, dibawah komando sulthan Muhammad Al Fatih, 824 tahun setelah Hijrah. Adapun Roma, ibu kota Italia sekarang ini sampai saat ini, futuhat belum pernah sampai kesana. Insya Allah dalam waktu dekat, kemenangan pertama (pembukaan Qostantinopel) akan segera diikuti oleh kemenangan kedua (pembukaan kota Roma) sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, dan ini meniscayakan akan tegaknya kembali khilafah.

Dalam hadits lain Rasulullah menegaskan bahwa Khilafah akan tegak kembali sebelum hari kiamat, bahkan sebelum munculnya Al Mahdi, adapun Imam Mahdi adalah khalifah pengganti setelah khalifah sebelumnya wafat. Imam as Syaukani menyatakan bahwa terdapat lima puluh hadits yang terdiri atas hadits shahih, hasan, dan dha’if yang berbicara tentang al Mahdi, salah satunya dari Tsauban r.a :

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

…"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka memerangi kamu dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. " Kemudian beliau Saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal , lalu beliau SAW bersabda: "Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi" [Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Khurujil Mahdi 2: 1467; Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain." Perkataan Hakim ini juga disetujui oleh adz-Dzahabi].

6. Khatimah

Yang terpenting dari semua hal diatas adalah bagaimana kita berperan dalam membangun masa depan umat yg lebih baik tersebut, yakni dengan tegaknya syari’ah dalam bingkai khilafah, karena kalaupun kita tidak mau berperan maka dengan mudah Allah akan menjadikan orang lain yang berperan aktif dalam usaha ini. Kalau kita terjun dalam perjuangan ini, maka pujian maupun cacian dari manusia akan menambah kebaikan kita asalkan kita mampu bersabar dan ikhlas meniti jalan-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

"Jika seorang muslim bergaul (berinteraksi dalam amar ma’ruf nahi munkar[9]) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul (berinteraksi dalam amar ma’ruf nahi munkar) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka." [HR. At Tirmidzi, no 2431, dari Ibnu ‘Umar, Ahmad, Juz 10/hal 316]. Allahu Ta’ala A’lam.


[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Adziim, Juz 2 Hal 127, Dâru Tayyibah Lin Nasyri wat Tawzî’, Maktabah Syâmilah

[2] Tafsir Depag RI, surat Al Isra : 5 – 6, lihat Juga Tafsir Al Baydhowi (wafat 685 H), Anwârut Tanzîl wa Asrârut Ta’wîl, 3/401, Maktabah Syâmilah.

[3] Muhammad Syafiq Ghirbal, At-Tarîkhul Qadîm; dan kitab-kitab tafsir Alquran seperti Jamî’ul Bayan karya Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Kassyaf karya Az-Zamakhsyari, dll.

[4] http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/amerika-segera-menjadi-negara-dunia-ketiga.htm, diakses 16/9/2010

[5] الشيخ علي بن نايف الشحود: موسوعة الخطب والدروس

[6] Abu Nu’aim, Al Hilyah, 5/303

[7] Jurnal Al Wa’ie, No 121 Tahun XI, 1 – 30 September 2010

[8] تفسير القرأن العظيم, 6: 77

[9] سبل السلام – الصنعاني ,ج 7 / ص 245

Baca Juga:

Posted on 21 September 2010, in Makalah, Politik, Tarikh. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s