Category Archives: Akhlaq

Bersyukur dalam Menghadapi Musibah

Pada dasarnya musibah adalah ujian dalam hidup. Sebagaimana layaknya suatu ujian, dia akan menyaring dan membedakan manusia, mana yang lulus mana yang tidak, mana yang nilainya tinggi, dan mana yang nilainya rendah.

Musibah telah memetakan nilai manusia pada empat kelompok: pertama, orang yang selalu berkeluh kesah dan mengadu kepada sesama manusia, kedua, orang yang bersabar, tidak mengeluh dan mengadu kecuali kepada Allah, ketiga, orang yang ridho dengan musibah yang menimpanya, dan keempat adalah kelompok orang yang bersyukur dalam suasana musibah tersebut.

Read the rest of this entry

Iklan

Sudahkah Mengenal Calon yang Akan Dipilih?

Mengenal seseorang yang akan dipilih adalah sangat penting, baik akan dipilih sebagai pekerja, rekan bisnis, gurunya anak-anak, akan dijadikan sebagai suami/istri, terlebih lagi mau dijadikan wakil dalam pemerintahan, atau bahkan sebagai pemimpin.

Khalifah Umar bin al Khattab sangat teliti dalam hal ini, bahkan sekedar urusan menjadi saksi dalam suatu kesaksian beliau tidak gegabah, beliau meminta orang yang bersaksi tersebut untuk mendatangkan seseorang yang mengenal betul diri orang yang akan bersaksi tersebut.

Imam al Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah hendak memberi kesaksian kepada Umar bin al-Khattab. Maka Umar berkata padanya: 

لَسْتُ أَعْرِفُكَ، وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ، ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ

“Aku tidak kenal kamu, dan tidak masalah aku tidak mengenalmu, (namun) datangkanlah seseorang yang mengenal kamu.”

Read the rest of this entry

Jangan ‘Mengumbar’ Masalah Ikhtilaf

Mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) dikalangan ‘ulama pada dasarnya adalah baik, bahkan Qobishoh bin’Uqbah (w. 215 H), pernah menyatakan:

لَا يُفْلِحُ مَنْ لَا يَعْرِفُ اخْتِلَافَ النَّاسِ

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan (pendapat dikalangan) manusia (ulama’).” [Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Jâmi’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/820. Maktabah Syamilah].

Hanya saja, bagi orang yang berilmu, hendaknya sangat berhati-hati menukilkan berbagai perbedaan pendapat (ikhtilaf) tersebut, pertama perlu dilihat tingkat ikhtilafnya, apakah masyhur atau aneh (syadz), kedua perlu dilihat ke siapa dia menyampaikannya, orang yang gemar melakukan dosa atau ke penuntut ilmu yang menjaga kehormatan diri, dan ketiga perlu dilihat apakah hal tersebut akan dipolitisir dan dijadikan alasan untuk meremehkan agama atau tidak.

Tidaklah halal memberikan keterangan atau menukilkan fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasâhul fiddin (meremehkan dan bermudah-mudah dalam agama).

Read the rest of this entry

Diterimakah Amalan Kita?

Harap dan cemas merupakan salah satu diantara sifat orang orang yang beriman. Ummul Mukminin Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ke 60 dalam surat al Mukminun:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan (melakukan) apa yang telah mereka berikan (lakukan), sedang hati mereka senatiasa takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”

Aisyah bertanya:

هو الذي يسرق ويزني ويشرب الخمر وهو يخاف الله عز وجل ؟

“apakah dia (dalam ayat ini) adalah orang yang mencuri, berzina dan minum khamr (memabukkan), sedang ia takut (diazab) Allah Ta’ala?”

beliau menjawab:

لا يا بنت الصديق، ولكنه الذي يصلي ويصوم ويتصدق وهو يخاف الله عز وجل

“Tidak wahai anak perempuan Abu Bakr Ash shiddiq, akan tetapi ia adalah orang yang sholat, berpuasa dan bershadaqah sedang ia takut kepada Allah (tidak diterima amalannya)”. HR. at Tirmidzi

Read the rest of this entry

Sederhana

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar yang kasar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Melihat hal itu, berkatalah Ibnu Mas’ud:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَمَرْتَنَا أَنْ نَبْسُطَ لَكَ وَنَعْمَلَ[1]

“Wahai Rasulullah, kalau engkau izinkan, kami akan bentangkan untukmu tempat tidur yang empuk, dan baju yang bagus”

Beliau menjawab:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا[2]، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidak ada urusan kecintaanku dengan dunia, Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara bernaung di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Read the rest of this entry

Gembira dengan Datangnya Ramadhan

Takwa bukan sekedar menyesuaikan perbuatan anggota tubuh dengan ketentuan Allah semata, namun takwa juga ditandai dengan adanya rasa, rasa gembira terhadap apa yang di ridhai-Nya, dan rasa sedih jika jauh dari Allah Ta’ala.

Diantara hal yang patut bergembira ketika menjumpainya adalah datangnya Ramadhan. Ketika rasa gembira tidak ada dalam diri seorang muslim, dia merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan, bisa jadi ini adalah pertanda buruk akan lemahnya imannya serta hilangnya kepekaan spiritual dari dalam dirinya.

Read the rest of this entry

Belajar Hingga Akhir Hayat

Abdullah bin Mubarak (wafat tahun 181 H), seorang ahli fikih, ahli hadits yang wara’ dan terpercaya pernah ditanya:

إلى متى تطلب العلم؟

Sampai kapan engkau menuntut ilmu?

Beliau menjawab:

حتى الممات، إن شاء الله

Sampai mati, insya Allah” (‘Uluwwul Himmah, hal 202).

Disamping waktunya ‘dihabiskan’ untuk menuntut ilmu, beliau tidak ketinggalan juga berjihad, berniaga, menafkahkan hartanya dan senantiasa pergi haji.

Imam Abu Ja’far At Thabari (w. 310 H), ahli tafsir dan sejarah, saat dalam kondisi payah sesaat sebelum meninggal, beliau meminta tinta dan kertas. Ditanyakan pada beliau:

Read the rest of this entry

Mengoptimalkan Waktu Tidur

Jika rata-rata seseorang tidur 6 jam sehari, maka dalam 70 tahun berarti dia telah menghabiskan 17,5 tahun usianya untuk tidur. Jika tidurnya hanya sekedar tidur, tidak diberi nilai pahala kebaikan di sisi Allah Ta’ala, maka 25% usianya tidak bermakna apapun, sia-sia belaka. Jika yang dihitung hanya shalat, dan sekali shalat dia menghabiskan waktu 6 menit, maka shalatnya hanya 2% saja dari waktu hidup dia, alangkah ruginya.

Read the rest of this entry

Kemana Engkau Gantungkan Harapan?

 

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al-lkhlas: 2)

Tentang maksud ayat ini, Ikrimah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas r.a:

يَعْنِي الَّذِي يَصْمُدُ الْخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ

bahwa (maksudnya) ialah yang semua makhluk bergantung kepada-Nya dalam (pemenuhan) kebutuhan-kebutuhan dan permintaan-permintaan mereka. (Tafsir Ibn Katsir, 8/528)

Allah adalah tempat bergantung bagi segala keperluan, Dia menjadi tujuan semuanya, tidak ada satu perkarapun bakal terjadi melainkan atas izin-Nya. Ini adalah i’tiqad seorang muslim.

Hanya saja, dalam kenyataan hidup, tidak jarang ungkapan tersebut hanya sekedar pemanis di bibir saja, tidak meresap sampai ke hati.

Read the rest of this entry

Kepandaian yang Membahayakan

Suatu ketika Khalifah ‘Umar bin al Khattab r.a berkata dari atas mimbar:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْمُنَافِقَ الْعَلِيمَ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah orang munafik yang ‘alim”.

Hadirin bertanya:

وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمًا؟

“bagaimana bisa seorang munafik (kok) ‘alim ?”

Beliau menjawab:

يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ وَيَعْمَلُ بِالْجَوْرِ أَوْ قَالَ الْمُنْكَرِ

“dia berkata-kata dengan hikmah, namun berbuat aniaya atau mungkar” (Al Marwazi (w. 294H), Ta’dzîmu Qadris Shalât,2/633)

Read the rest of this entry

Kekeringan Spiritual

Saya sudah sibuk melakukan ketaatan, juga mengisi berbagai majlis ta’lim, mengapa saya merasa ‘kering’ spiritualitas saya?

***

Berulang pertanyaan senada dengan itu diajukan kepada kami, seolah-olah kami lebih baik dari mereka – moga Allah menjadikan sangkaan mereka benar, kalau tidak benar, moga Allah ubah diri kami hingga menjadi lebih baik dari yang mereka sangka. Kami memberanikan menulis ini dalam rangka menasihati diri kami sendiri, juga semoga memberi manfaat bagi yang lain.

Read the rest of this entry

Beginilah Cinta

Anas bin Malik r.a pernah bercerita; “Seorang tukang jahit (pakaian) mengundang Rasulullah saw untuk makan masakan yang telah dibuatnya. Aku ikut pergi bersama Rasulullah saw. Lalu penjahit itu menyuguhkan hidangan kepada Beliau berupa roti dan kuah yang berisikan labu dan daging kering (dendeng). Anas berkata;

فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنْ حَوَالَيْ الصَّحْفَةِ قَالَ فَلَمْ أَزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مُنْذُ يَوْمَئِذٍ

‘Aku melihat Rasulullah saw mengambil labu dari pinggir nampan, sejak saat itu aku senantiasa senang dengan labu.’” (Shahih Muslim[1]). Read the rest of this entry

Sabar Dalam Ketaatan

Secara bahasa, sabar berarti

حَبس النفس عن الجَزَعِ

“menahan diri dari berkeluh kesah” (Al Jauhari, As Sihhah fi Al Lughoh, 1/378).

تَرْكُ الشَّكْوَى مِن أَلَمِ الْبَلْوَى لِغيرِ اللهِ لَا إلى اللهِ

“meninggalkan berkeluh kesah karena beratnya ujian kepada selain Allah, bukan kepada Allah.” (Al Jurjâniy, At ta’rîfaat, 1/42)

Sabar terdapat dalam tiga keadaan: 1) menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah, 2) menjalankan ketaatan kepada Allah, dan 3) menghadapi ketentuan qodho’ dan qodar-Nya.

Read the rest of this entry

Kebohongan di Era ‘Jahiliah’ Modern

Secara bahasa, jahiliah (jâhiliyyah) merupakan bentuk mashdar shinâ’î[i] dari kata jâhil (orang yang memiliki (sifat) jahl). Al jahl (kebodohan) sendiri memiliki tiga bentuk: 1). ketiadaan ‘ilmu (pengetahuan), ini adalah makna asal, 2). meyakini sesuatu berbeda dengan kenyataan sesuatu itu sendiri, dan 3). melakukan sesuatu berbeda dengan apa yang semestinya dilakukan.[ii]

Read the rest of this entry

Polaritas Sektarian: Daur Ulang Fitnah Kepada Hizbut Tahrir

Sungguh berat dosa menebar fitnah, walaupun dia tidak bermaksud memfitnah, karena kesalahan tersebut akan terus berkembang dan mengalirkan dosa kepada pelakunya sekalipun dia telah wafat.

Fitnah yang puluhan tahun lalu telah diklarifikasi bahwa itu tidak benar, atau hanya bersumber dari angan-angan pemfitnah belaka, ternyata masih saja ada yang mendaur ulang, menyebarkan demi motiv-motiv tertentu.

Kenapa bisa banyak tuduhan fatal tersebut? Apakah karena terlalu percaya diri akan pengetahuannya?, ataukah karena terlalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani?, pendiri dan konseptor Hizbut Tahrir. Padahal kalau mau tahu diri sedikit saja, bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani juga alumni Al Azhar setingkat Doktor pada saat ini, S-3 nya juga dalam bidang Peradilan Islam, tentu tidak akan muncul tuduhan-tuduhan aneh, yang justru menghinakan penuduhnya.

Berikut fitnah-fitnah yang didaur ulang tersebut, isinya kurang lebih sama, walau kemasannya baru. Saya tidak menanggapi secara serius, hanya memberikan link seperlunya yang mengantarkan kepada tulisan lama yang pernah saya tulis.

Read the rest of this entry