Category Archives: Akhlaq

Kebohongan di Era ‘Jahiliah’ Modern

Secara bahasa, jahiliah (jâhiliyyah) merupakan bentuk mashdar shinâ’î[i] dari kata jâhil (orang yang memiliki (sifat) jahl). Al jahl (kebodohan) sendiri memiliki tiga bentuk: 1). ketiadaan ‘ilmu (pengetahuan), ini adalah makna asal, 2). meyakini sesuatu berbeda dengan kenyataan sesuatu itu sendiri, dan 3). melakukan sesuatu berbeda dengan apa yang semestinya dilakukan.[ii]

Read the rest of this entry

Iklan

Polaritas Sektarian: Daur Ulang Fitnah Kepada Hizbut Tahrir

Sungguh berat dosa menebar fitnah, walaupun dia tidak bermaksud memfitnah, karena kesalahan tersebut akan terus berkembang dan mengalirkan dosa kepada pelakunya sekalipun dia telah wafat.

Fitnah yang puluhan tahun lalu telah diklarifikasi bahwa itu tidak benar, atau hanya bersumber dari angan-angan pemfitnah belaka, ternyata masih saja ada yang mendaur ulang, menyebarkan demi motiv-motiv tertentu.

Kenapa bisa banyak tuduhan fatal tersebut? Apakah karena terlalu percaya diri akan pengetahuannya?, ataukah karena terlalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani?, pendiri dan konseptor Hizbut Tahrir. Padahal kalau mau tahu diri sedikit saja, bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani juga alumni Al Azhar setingkat Doktor pada saat ini, S-3 nya juga dalam bidang Peradilan Islam, tentu tidak akan muncul tuduhan-tuduhan aneh, yang justru menghinakan penuduhnya.

Berikut fitnah-fitnah yang didaur ulang tersebut, isinya kurang lebih sama, walau kemasannya baru. Saya tidak menanggapi secara serius, hanya memberikan link seperlunya yang mengantarkan kepada tulisan lama yang pernah saya tulis.

Read the rest of this entry

Sabar Hingga Akhir

Usianya sudah senja, rambutnya ‘menyala’, putih semua. Saya mengenalnya sekitar 13 tahun lalu, ketika saya menyampaikan pengajian di sebuah masjid di Banjarmasin.

Ada satu hal yang menarik dari beliau, yakni keseriusan beliau dalam menghadiri setiap kajian, mendengarkan, mencatat, bertanya, hingga menyampaikan pandangan diantara para hadirin, sepertinya itu yang tidak berubah dari beliau, sejak 13-an tahun lalu.

Read the rest of this entry

‘Amr bin Hisyâm, Sang Bapak Kebodohan (Abu Jahal) *)

Sebelum Islam datang, ‘Amr bin Hisyâm (570 – 624 M) adalah orang yang dikenal kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam usia yang masih muda, para tetua Quraisy sudah sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah, oleh karena itu ia dikenal dengan sebutan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan).

Hanya saja, semua itu berubah ketika Islam datang, kecerdasan otaknya tidak digunakan untuk membela Islam, bahkan sebaliknya, digunakan untuk memutarbalikkan fakta dalam rangka menentang kebenaran Islam. Kedudukan dan reputasinya yang sudah tinggi menghalangi dia untuk menerima Islam, ajaran yang bakalan memposisikan manusia sederajat, hanya dibedakan oleh ketaqwaannya.

Read the rest of this entry

Ayat-ayat Penghilang Duka dan Kesedihan

Diriwayatkan dari Imam al Hasan al-Bashri (w. 110 H), bahwa beliau berkata:

عجبا لـمَكْرُوب غَفَلَ عَن خمس، وَقد عَرَفَ مَا جعل الله لمن قالهن

Mengherankan orang yang bersedih (namun) melupakan lima hal, sementara ia tahu apa yang Allah jadikan pada orang yang mengatakan lima hal tersebut.

Read the rest of this entry

Riya (Pamer)

Melakukan perbuatan-perbuatan hanya semata karena riya, ingin dilihat orang, tidak terkesan pada jiwa dan tidak meresapi rahasia dan hikmahnya adalah salah satu sifat pendusta agama. Allah berfirman:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma’un: 6)

Read the rest of this entry

Menta’ati Allah Lebih Penting daripada Melawan Opini Negatif

Salah satu hal yang membahayakan ketaqwaan seseorang adalah jika dia lebih perhatian terhadap bagaimana pandangan manusia terhadap dirinya daripada pandangan Allah atas dirinya: begitu ingin tampil perfect, sempurna, dihadapan manusia, namun jarang merenungi posisi dirinya dihadapan Allah swt.

Padahal bagaimanapun kita berupaya mencitrakan diri sebaik mungkin dihadapan manusia, tetap saja ada manusia yang senang, ada yang tidak peduli, termasuk ada yang benci, apalagi jika pencitraan diri tersebut dilakukan dengan kebohongan dan propaganda negatif, maka itu justru akan menjadikan urusannya tidak akan ditolong Allah swt.

Read the rest of this entry

Berfikir Sejenak Itu Lebih Baik

Diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun” (HR. Abu Syaikh al Ashbahâny dalam al ‘Adzamah, 1/299)

Hadits ini tidak shahih menurut Imam Ibnul Jauzi (al Maudhû’ât, 3/144), karena Utsman bin Abdillah dan Ishaq bin Najih dikenal sebagai pendusta. Sedangkan Syaikh ‘Ali al Qary menyatakan ini bukan hadits (Al Mashnû’, hal 82).

Read the rest of this entry

Kemunafikan Kita

Membaca judul ini, mungkin dalam hati  akan berkata “anda saja kali yang munafik, jangan bilang kita dong”. Nifaq (kemunafikan) itu ada dua: 1) nifaq ‘Itiqady yang menyebabkan kafir, yakni menampakkan keislaman namun dalam hati sebenarnya ingkar, dan 2) nifaq ‘amaly, yakni sifat-sifat dan perbuatan khas munafik, namun tidak sampai menjadikan orang yang melakukannya kafir.

Jika kita merasa terbebas dari kemunafikan, justru itu pertanda bahwa kita kehilangan kepekaan spiritual kita dan kita begitu dekat dengan berbagai kemunafikan itu sendiri. Bagaimana tidak, para shahabat Rasulullah saw saja begitu khawatir diri mereka tergolong orang-orang munafiq.

Read the rest of this entry

Rahmat Itu Terasa Menakutkan Bagi Kaum Munafik

Sebagaimana makanan yang lezat terasa pahit bagi orang yang sakit, begitu juga syari’at Islam yang merupakan rahmat bagi semesta alam akan terasa menakutkan bagi orang yang dalam hatinya bersarang penyakit nifaq. Allah membuat perumpamaan tentang mereka:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati[1]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.[2] (QS. Al Baqarah 19)

Read the rest of this entry

Lalai Yang Tercela

Abu ‘Ali Ad-Daqqâq (w. 405 H) berkata: “Suatu ketika aku datang mengunjungi orang saleh yang sedang sakit. Beliau termasuk salah seorang masyayikh besar. Ketika itu beliau dikelilingi oleh murid-muridnya, dan sedang menangis, beliau adalah seorang syaikh yang sudah lanjut usia. Aku bertanya kepadanya:

ايها الشيخ مم بكاؤك أعلى الدنيا ؟

“Wahai syaikh, apa yang membuat engkau menangis, apakah mengenai persoalan dunia?”

Dia menjawab :

كلا بل أبكى على فَوْت صلاتى

“Bukan, akan tetapi aku menangis karena ‘kehilangan’ shalatku.”

Aku kembali bertanya:

وكيف ذلك وقد كنتَ مصليا ؟

”Bagaimana hal itu bisa terjadi, padahal Engkau adalah orang yang rajin mendirikan shalat?”

Dia menjawab:

لانى قد بقيتْ يومى هذا وما سجدت الا فى غفلة، ولا رفعت رأسى الا فى غفلة، وما أنا أموت على الغفلة

”Karena sungguh (sekarang) inilah sisa hariku, sementara tidak lah aku bersujud kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), tidaklah aku mengangkat kepala kecuali dalam keadaan lalai, dan tidaklah aku (suka) mati dalam keadaan lalai. [Imam al Ghazali (w. 505 H), Mukâsyafatul Qulûb, hal 17[1]].

Read the rest of this entry

Menimbang Berita, Mewaspadai Hoax

Rasulullah saw pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka? Beliau menjawab: “mulut dan kemaluan” (HR at-Tirmidzi ia mengatakan hadis sahih).[1]

Pada era informasi sekarang ini, saat satu berita di suatu belahan bumi dalam hitungan detik bisa menyebar sampai ke belahan bumi yang lain, maka kehati-hatian dalam berbicara, terlebih lagi ‘berbicara’ di social media sangat perlu diperhatikan, jika tidak kita bisa menjadi korban berita palsu (hoax), menebar fitnah, atau menjadi pendusta tanpa merasa.

Read the rest of this entry

Empat Puluh Tahun

Usia 40 tahun adalah usia ‘kematangan’ seseorang, jika tidak berhati-hati dan sering mengevaluasi diri, bisa jadi kerugian yang akan terjadi; kematian keburu menghampiri saat lalai dalam mempersiapkan diri. Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad memberi nasehat kepada salah satu muridnya:

وَمَنْ جَاوَزَ الْأَرْبَعِينَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ

Dan barangsiapa yang usianya sudah mencapai 40 tahun namun kebajikannya tidak melebihi dosanya maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.

Read the rest of this entry

Marah yang Terpuji

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw:

دلني على عمل يُدخلني الجنة

Tunjukkan suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga.

Maka Rasulullah menjawab:

لا تغضب ولك الجنة

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR. at Thabrani)

Read the rest of this entry

Penyucian Jiwa (Sisi Lain Kisah Uwais)

Ketika orang-orang Yaman datang, Umar menyelidiki rombongan dan bertanya, apakah ada diantara kalian yang berasal dari Qaran (salah satu dari kabilah Murad)?”

Kemudian dia mendatangi orang-orang yang berasal dari Qaran dan bertanya; “Siapa kalian?” Mereka menjawab; “Orang-orang Qaran.”

Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Umar atau Uwais) mengambilkan untuk yang lainnya sehingga dia mengenalnya,

Read the rest of this entry