Category Archives: Akhlaq

Ketika Rayap Mengajarkan Adab

Walaupun banyak protes terhadap anggotanya yang membakar bendera tauhid (ar rayâh), jangankan minta maaf, si nganu tetap bersikeras bahwa tindakannya benar : bermaksud memuliakan kalimat tauhid agar tidak dijadikan sebagai alat propaganda oleh ormas tertentu….

***

Ketika Abu Jahal menjadikan nama Allah dalam naskah pemboikotan kepada Rasulullah, lalu naskah ini ditempel di dinding ka’bah.. (bayangkan kalau saat itu ada si nganu, ka’bah dan naskah pemboikotan bisa jadi akan dibakar, dianggap seperti ‘masjid dhiror’).

Setelah tiga tahun terasingkan di celah bukit, solidaritaspun datang, justru datangnya dari sebagian orang kafir yang menaruh belas kasihan kepada umat Islam: Hisyam bin ‘Amr, Zuhair bin Umayyah, Abul Buhturiy, Zam’ah bin Al-Aswad dan Muth’im bin Adi, merekalah yang ‘berkomplot’ merekayasa opini agar pemboikotan diakhiri….

Singkat cerita, ketika Muth’im bin Ady mau merobek naskah perjanjian tersebut, dia mendapati naskah perjanjian itu telah dimakan rayap, kecuali bagian awalnya yang berbunyi: Bismika Allaahumma. (Ibnu Ishaq (w. 151 H), As Siyar Wal Maghazi, hal 167).[1]

Read the rest of this entry

Khalifah Umar Menjinakkan Gempa Bumi

Imam al-Haramain (w. 478 H) menceritakan bahwa pada masa ‘Umar r.a pernah terjadi gempa bumi. Ketika itu ‘Umar segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sementara bumi sedang bergoncang dengan keras.

Kemudian `Umar memukul bumi dengan cambuk sambil berkata,

قُـــري ألم أعدل عليكِ

“Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.”

Maka bumipun langsung tenang saat itu juga.

Imam al-Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi, karena pada hakikatnya `Umar r.a. adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin, beliau adalah khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga `Umar menghukum (menta’zir) dan mendidik bumi (dengan mencambuknya) ketika bumi ‘berulah’, sebagaimana beliau menta’zir penduduk bumi karena kesalahan-kesalahan mereka.[1]

Read the rest of this entry

Belajar Tidak Ada Ruginya

Ketika sudah belajar beberapa lama namun tidak juga kunjung mengerti dan mencapai hasil seperti apa yang diinginkan, sebagian orang merasa bahwa upayanya tidaklah berguna, sia-sia belajar kata mereka, lalu mereka berhenti.

Padahal, masalah mau faham atau tidak, disamping itu ada usaha manusia, namun Allah juga yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami pelajaran. Lebih dari itu, sekalipun tidak ada satu katapun yang difahami/dihafal dalam majlis ‘ilmu, hadir dan belajar tetaplah mendapatkan kemuliaan.

Imam Abu Laits (w. 373 H) dalam Tanbîh al-Ghâfilîn h.439 menyatakan:

Read the rest of this entry

Rizki, Nikmat atau Bencana?

Rizki dan karunia Allah baik itu berupa harta, anak, istri, pangkat,  jabatan maupun gelar dan popularitas, jika itu diperoleh dengan jalan maksiyat, atau digunakan dalam kemaksiyatan, atau semua itu membuat dia berlarut-larut dalam kemaksiyatan, maka semua itu pada hakikatnya bukanlah nikmat, namun  bencana dan istidraj dari Allah.

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan (kenikmatan) dunia kepada seorang hamba karena kemaksiatannya, dalam hal-hal yang disenangi hamba tersebut, ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj” (H.R Ahmad)

Read the rest of this entry

Seorang Mukmin Tidaklah Berdusta

Kebohongan adalah salah satu sifat tercela dalam Islam, bahkan sebelum Islam, para penyembah berhala di Makkah sudah menganggap kebohongan adalah ‘aib yang sangat memalukan.

Abu Sufyan, salah satu tokoh Quraisy, saat masih menjadi penyembah berhala pernah ditanya Kaisar Heraqlius, lewat penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi (yakni Nabi Muhammad saw). Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.” Abu Sufyan berkata:

فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ

“Demi Allah, jika bukan karena rasa malu aku akan mereka tuduh telah berdusta, niscaya aku akan berdusta tentangnya.” (Shahih al Bukhari, 1/8. Maktabah Syamilah).

Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya:

أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَاناً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» .

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلاً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ»

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّاباً؟ فَقَالَ: «لاَ»

“Apakah seorang mukmin bisa bersifat pengecut? Beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanya lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa bersifat pelit?’, beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanyakan lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?’, beliau menjawab: tidak” (HR. Imam Malik dalam al Muwaththa’ dan al Baihaqi dalam Syu’abul ‘Iman).

Read the rest of this entry

Bersyukur dalam Menghadapi Musibah

Pada dasarnya musibah adalah ujian dalam hidup. Sebagaimana layaknya suatu ujian, dia akan menyaring dan membedakan manusia, mana yang lulus mana yang tidak, mana yang nilainya tinggi, dan mana yang nilainya rendah.

Musibah telah memetakan nilai manusia pada empat kelompok: pertama, orang yang selalu berkeluh kesah dan mengadu kepada sesama manusia, kedua, orang yang bersabar, tidak mengeluh dan mengadu kecuali kepada Allah, ketiga, orang yang ridho dengan musibah yang menimpanya, dan keempat adalah kelompok orang yang bersyukur dalam suasana musibah tersebut.

Read the rest of this entry

Sudahkah Mengenal Calon yang Akan Dipilih?

Mengenal seseorang yang akan dipilih adalah sangat penting, baik akan dipilih sebagai pekerja, rekan bisnis, gurunya anak-anak, akan dijadikan sebagai suami/istri, terlebih lagi mau dijadikan wakil dalam pemerintahan, atau bahkan sebagai pemimpin.

Khalifah Umar bin al Khattab sangat teliti dalam hal ini, bahkan sekedar urusan menjadi saksi dalam suatu kesaksian beliau tidak gegabah, beliau meminta orang yang bersaksi tersebut untuk mendatangkan seseorang yang mengenal betul diri orang yang akan bersaksi tersebut.

Imam al Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah hendak memberi kesaksian kepada Umar bin al-Khattab. Maka Umar berkata padanya: 

لَسْتُ أَعْرِفُكَ، وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ، ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ

“Aku tidak kenal kamu, dan tidak masalah aku tidak mengenalmu, (namun) datangkanlah seseorang yang mengenal kamu.”

Read the rest of this entry

Jangan ‘Mengumbar’ Masalah Ikhtilaf

Mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) dikalangan ‘ulama pada dasarnya adalah baik, bahkan Qobishoh bin’Uqbah (w. 215 H), pernah menyatakan:

لَا يُفْلِحُ مَنْ لَا يَعْرِفُ اخْتِلَافَ النَّاسِ

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan (pendapat dikalangan) manusia (ulama’).” [Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Jâmi’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/820. Maktabah Syamilah].

Hanya saja, bagi orang yang berilmu, hendaknya sangat berhati-hati menukilkan berbagai perbedaan pendapat (ikhtilaf) tersebut, pertama perlu dilihat tingkat ikhtilafnya, apakah masyhur atau aneh (syadz), kedua perlu dilihat ke siapa dia menyampaikannya, orang yang gemar melakukan dosa atau ke penuntut ilmu yang menjaga kehormatan diri, dan ketiga perlu dilihat apakah hal tersebut akan dipolitisir dan dijadikan alasan untuk meremehkan agama atau tidak.

Tidaklah halal memberikan keterangan atau menukilkan fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasâhul fiddin (meremehkan dan bermudah-mudah dalam agama).

Read the rest of this entry

Diterimakah Amalan Kita?

Harap dan cemas merupakan salah satu diantara sifat orang orang yang beriman. Ummul Mukminin Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ke 60 dalam surat al Mukminun:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan (melakukan) apa yang telah mereka berikan (lakukan), sedang hati mereka senatiasa takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”

Aisyah bertanya:

هو الذي يسرق ويزني ويشرب الخمر وهو يخاف الله عز وجل ؟

“apakah dia (dalam ayat ini) adalah orang yang mencuri, berzina dan minum khamr (memabukkan), sedang ia takut (diazab) Allah Ta’ala?”

beliau menjawab:

لا يا بنت الصديق، ولكنه الذي يصلي ويصوم ويتصدق وهو يخاف الله عز وجل

“Tidak wahai anak perempuan Abu Bakr Ash shiddiq, akan tetapi ia adalah orang yang sholat, berpuasa dan bershadaqah sedang ia takut kepada Allah (tidak diterima amalannya)”. HR. at Tirmidzi

Read the rest of this entry

Sederhana

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar yang kasar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Melihat hal itu, berkatalah Ibnu Mas’ud:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَمَرْتَنَا أَنْ نَبْسُطَ لَكَ وَنَعْمَلَ[1]

“Wahai Rasulullah, kalau engkau izinkan, kami akan bentangkan untukmu tempat tidur yang empuk, dan baju yang bagus”

Beliau menjawab:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا[2]، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidak ada urusan kecintaanku dengan dunia, Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara bernaung di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Read the rest of this entry

Gembira dengan Datangnya Ramadhan

Takwa bukan sekedar menyesuaikan perbuatan anggota tubuh dengan ketentuan Allah semata, namun takwa juga ditandai dengan adanya rasa, rasa gembira terhadap apa yang di ridhai-Nya, dan rasa sedih jika jauh dari Allah Ta’ala.

Diantara hal yang patut bergembira ketika menjumpainya adalah datangnya Ramadhan. Ketika rasa gembira tidak ada dalam diri seorang muslim, dia merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan, bisa jadi ini adalah pertanda buruk akan lemahnya imannya serta hilangnya kepekaan spiritual dari dalam dirinya.

Read the rest of this entry

Belajar Hingga Akhir Hayat

Abdullah bin Mubarak (wafat tahun 181 H), seorang ahli fikih, ahli hadits yang wara’ dan terpercaya pernah ditanya:

إلى متى تطلب العلم؟

Sampai kapan engkau menuntut ilmu?

Beliau menjawab:

حتى الممات، إن شاء الله

Sampai mati, insya Allah” (‘Uluwwul Himmah, hal 202).

Disamping waktunya ‘dihabiskan’ untuk menuntut ilmu, beliau tidak ketinggalan juga berjihad, berniaga, menafkahkan hartanya dan senantiasa pergi haji.

Imam Abu Ja’far At Thabari (w. 310 H), ahli tafsir dan sejarah, saat dalam kondisi payah sesaat sebelum meninggal, beliau meminta tinta dan kertas. Ditanyakan pada beliau:

Read the rest of this entry

Mengoptimalkan Waktu Tidur

Jika rata-rata seseorang tidur 6 jam sehari, maka dalam 70 tahun berarti dia telah menghabiskan 17,5 tahun usianya untuk tidur. Jika tidurnya hanya sekedar tidur, tidak diberi nilai pahala kebaikan di sisi Allah Ta’ala, maka 25% usianya tidak bermakna apapun, sia-sia belaka. Jika yang dihitung hanya shalat, dan sekali shalat dia menghabiskan waktu 6 menit, maka shalatnya hanya 2% saja dari waktu hidup dia, alangkah ruginya.

Read the rest of this entry

Kemana Engkau Gantungkan Harapan?

 

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al-lkhlas: 2)

Tentang maksud ayat ini, Ikrimah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas r.a:

يَعْنِي الَّذِي يَصْمُدُ الْخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ

bahwa (maksudnya) ialah yang semua makhluk bergantung kepada-Nya dalam (pemenuhan) kebutuhan-kebutuhan dan permintaan-permintaan mereka. (Tafsir Ibn Katsir, 8/528)

Allah adalah tempat bergantung bagi segala keperluan, Dia menjadi tujuan semuanya, tidak ada satu perkarapun bakal terjadi melainkan atas izin-Nya. Ini adalah i’tiqad seorang muslim.

Hanya saja, dalam kenyataan hidup, tidak jarang ungkapan tersebut hanya sekedar pemanis di bibir saja, tidak meresap sampai ke hati.

Read the rest of this entry

Kepandaian yang Membahayakan

Suatu ketika Khalifah ‘Umar bin al Khattab r.a berkata dari atas mimbar:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْمُنَافِقَ الْعَلِيمَ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah orang munafik yang ‘alim”.

Hadirin bertanya:

وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمًا؟

“bagaimana bisa seorang munafik (kok) ‘alim ?”

Beliau menjawab:

يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ وَيَعْمَلُ بِالْجَوْرِ أَوْ قَالَ الْمُنْكَرِ

“dia berkata-kata dengan hikmah, namun berbuat aniaya atau mungkar” (Al Marwazi (w. 294H), Ta’dzîmu Qadris Shalât,2/633)

Read the rest of this entry