Kesalahfahaman Tentang Kemaksuman Nabi & Rasul Sebelum Diutus

Baca Sebelumnya: Kesalahfahaman Tentang Qodlo & Qodar

Dengan cara yang sama, penulis buku al-Gharrah juga menukil sebagian pendapat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kemudian dia bantah, lalu bantahan tersebut dia carikan pembenaran dengan pandangan ulama’:

إلا أن هذه العصمة للأنبياء والرسل، وإنما تكون بعد أن يصبح نبيا أو رسولا بالوحي إليه، أما قبل النبوة والرسالة فإنه يجوز عليهم ما يجوز على سائر البشر، لأن العصمة هي للنبوة والرسالة

Hanya saja, kemaksuman ini berlaku untuk para Nabi dan Rasul setelah menjadi Nabi atau Rasul berdasarkan wahyu yang disampaikan kepadanya. Adapun sebelum menjadi Nabi dan Rasul, maka apa yang berlaku pada manusia yang lain, bisa saja berlaku bagi mereka. Karena kemaksuman tersebut berlaku karena kenabian dan kerasulan.

الرد: اتفق أهل الحق على أنه يجب للأنبياء الصدق والأمانة والفطانة فعلم من هذا أن الله تعالى لايختار لهذا المنصب إلا من هو سالم من الرذالة والسفاهة والكذب والبلادة، فمن كانت له سوابق من هذا القبيل لا يصلح للنبوة ولو تخلى منها بعد.

وتجب للأنبياء العصمة من الكفر والكبائر وصغائر الخسة والدناءة، وتجوز عليهم ما سوى ذلك من الصغائر التي ليس فيه خسة، وهذا قول أكثر العلماء كما نقله غير واحد، وعليه أبو الحسن الأشعري.

فعلى قوله تصح النبوة لمن كان لصا سراقا نباشا للقبور ولوطيا إلى غير ذلك من الرذالات تحصل من البشر

Sanggahan: Ahli Haq sepakat, bahwa para Nabi wajib mempunyai sifat jujur, amanah dan cerdas. Dari sini diketahui, bahwa Allah SWT. tidak memilih jabatan ini kecuali orang yang selamat dari sifat hina, khianat, bodoh, dusta dan dungu. Maka, siapa saja yang mempunyai masa lalu seperti ini, tidak layak menyandang jabatan kenabian, meski setelah itu dia terbebas darinya.

Para Nabi wajib terbebas dari kekufuran, dosa besar dan kesalahan-kesalahan kecil yang hina dan murahan. Mereka boleh berbuat dosa-dosa kecil yang tidak mengandung kehinaan. Inilah pandangan kebanyakan ulama’, sebagaimana yang dikatakan oleh lebih dari satu ulama’. Inilah pendapat Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Dengan pandangannya ini, berarti menurut Hizb, kenabian itu juga boleh diberikan kepada orang yang sebelumnya menjadi pencuri, homoseks dan sejenis perbuatan tercela lainnya, yang bisa saja dialami oleh manusia[1]

Penjelasan:

Pertama, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya, dari aspek kutipan; penulis buku al-Gharrah juga hanya mengutip sebagian, dan sebagiannya lagi merupakan kesimpulannya sendiri. Lebih parah lagi, karena kesimpulan itu ternyata kesimpulan hipotetik (an-natijah al-fardhiyyah), yang sebenarnya tidak ada, tetapi dinyatakan seolah-olah ada, kemudian dituduhkan seolah-olah Hizbut Tahrir berpandangan seperti itu. Padahal, itu merupakan kesimpulannya sendiri. Contohnya:

فعلى قوله تصح النبوة لمن كان لصا سراقا نباشا للقبور ولوطيا إلى غير ذلك من الرذالات تحصل من البشر

Dengan pandangannya ini, berarti menurut Hizb, kenabian itu juga boleh diberikan kepada orang yang sebelumnya menjadi pencuri, homoseks dan sejenis perbuatan tercela lainnya, yang bisa saja dialami oleh manusia[2]

Dengan cara seperti ini, penulis buku al-Gharrah tersebut telah melakukan kebohogan ganda. Pertama, membuat kesimpulan yang fakta sebenarnya tidak ada. Kedua, membuat tuduhan pihak lain berkesimpulan seperti yang dia simpulkan, padahal pihak lain tidak pernah menyatakan kesimpulan seperti itu. As-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sendiri menyatakan:

أما عصمة النبي والرسول عن الأفعال المخالفة لأوامر الله ونواهيه فالدليل العقلي قائم على أنه معصوم عن الكبائر حتما، فلا يفعل كبيرة من الكبائر مطلقا لأن فعل الكبيرة يعني ارتكاب المعصية. والطاعة لاتتجزأ والمعصية لاتتجزأ. فإذا تطرقت المعصية إلى الفعل تطرقت إلى التبليغ، وهي تناقض الرسالة والنبوة. ولذلك كان الأنبياء والرسل معصومين عن الكبائر كما هم معصومون بالتبليغ عن الله. أما العصمة عن الصغائر فإنه قد اختلف العلماء فيها، فمنهم من قال إنهم غير معصومين عنها لأنها ليست معصية، ومنهم من قال إنهم معصومين عنها لأنها معصية. والحق أن كل ما كان طلب فعله أو تركه جازما ــ أي جميع الفروض والمحرمات ــ هم معصومون بالنسبة لها، معصومون عن ترك الواجبات، وعن فعل المحرمات، سواء أكانت كبائر أم صغائر، أي معصومون عن كل ما يسمى معصية، ويصدق عليه أنه معصية

Tentang kemaksuman Nabi dan Rasul dari perbuatan-perbuatan yang menyalahi perintah dan larangan Allah, sebenarnya dalil ‘aqli telah menyatakan, bahwa Nabi dan Rasul itu pasti maksum dari dosa-dosa besar, sehingga secara mutlak tidak akan melakukan satu dosa besar pun, karena melakukan satu dosa besar sama dengan melakukan maksiat. Padahal, ketaatan tidak bisa dipilah, begitu juga kemaksiatan tidak bisa dipilah. Jika kemaksiatan itu mewarnai perbuatan, maka hal yang sama juga pasti mewarnai penyampaian (risalah), padahal itu jelas bertentangan dengan kerasulan dan kenabian itu sendiri. Karena itu, para Nabi dan Rasul harus maksum dari dosa besar. Sama halnya mereka juga harus maksum ketika menyampaikan (risalah) dari Allah. Adapun kemaksuman dari dosa-dosa kecil, para ulama’ telah berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, bahwa mereka tidak maksum dari dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bukan maksiat. Sebaliknya, ada juga yang berpendapat, bahwa mereka harus maksum dari dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu adalah maksiat. Yang benar, bahwa apa saja yang dituntut untuk dikerjakan atau ditinggalkan dengan tegas —yaitu semua bentuk kewajiban atau keharaman, maka terkait dengannya mereka jelas maksum; maksum dari meninggalkan kewajiban, dan maksum dari melakukan keharaman, baik yang masuk kategori dosa besar maupun kecil. Artinya, mereka semuanya maksum dari apa saja yang disebut maksiat, dan memang layak disebut maksiat[3]

Kedua, kebohongan penulis buku al-Gharrah dalam menukil pendapat ulama’ untuk membenarkan pendapatnya. Pendapat penulis buku ini jelas menyatakan, bahwa:

أن الله تعالى لايختار لهذا المنصب إلا من هو سالم من الرذالة والسفاهة والكذب والبلادة، فمن كانت له سوابق من هذا القبيل لا يصلح للنبوة ولو تخلى منها بعد

Allah SWT. tidak memilih jabatan ini kecuali orang yang selamat dari sifat hina, khianat, bodoh, dusta dan dungu. Maka, siapa saja yang mempunyai masa lalu seperti ini, tidak layak menyandang jabatan kenabian, meski setelah itu dia terbebas darinya[4]

yang coba dicarikan pembenaran dengan pendapat Ahl Haq, khususnya Abu al-Hasan al-Asy’ari, yang seolah-olah Abu al-Hasan al-Asy’ari berpendapat seperti itu. Padahal, yang berpendapat bahwa Nabi dan Rasul harus maksum sebelum menjadi Nabi dan Rasul adalah kalangan Muktazilah dan Syi’ah.

al-Imam al-Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi yang menyatakan:

وفي شرح العقائد أن الأنبياء عليهم الصلاة والسلام معصومون عن الكذب خصوصًا فيما يتعلق بأمر الشرع وتبليغ الأحكام وإرشاد الأمة أما عمدًا فبالإجماع، وإما سهوًا فعند الأكثرين وفي عصمتهم عن سائر الذنوب تفصيل وهو أنهم معصومون عن الكفر قبل الوحي وبعده بالإجماع، وكذا عن تعمّد الكبائر عند الجمهور خلافًا للحشوية، وأما سهوًا فجوّزه الأكثرون، وأما الصغائر فتجوز عمدًا عند الجمهور خلافًا للجبائي وأتباعه، وتجوز سهوًا باتفاق إلا ما يدل على الخسّة كسرقة لقمة وتطفيف حبة، لكن المحقّقين اشترطوا أن ينبهوا عليه فينتهوا عنه هكذا كله بعد الوحي، وأما قبله فلا دليل على امتناع صدور الكبيرة خلافًا للمعتزلة ومنع الشيعة، صدور الصغيرة والكبيرة قبل الوحي وبعده.

Dalam kitab Syarh al-‘Aqa’id dinyatakan, bahwa para Nabi as. maksum dari perbuatan dusta, khususnya dalam kaitannya dengan urusan syariat, penyampaian hukum, dan bimbingan kepada umat. Mengenai maksum dari perkara tersebut yang dilakukan secara sengaja telah menjadi ijmak, adapun yang dilakukan karena lupa, menurut pendapat mayoritas tetap maksum. Soal kemaksuman mereka dari dosa-dosa yang lain dapat dirinci, bahwa menurut ijmak mereka maksum dari kekufuran, sebelum dan setelah turunnya wahyu, begitu juga —menurut pendapat jumhur— maksum dari dosa besar yang dilakukan secara sengaja. Berbeda dengan pengikut Hasyawi. Namun, maksum darinya karena lupa juga dibolehkan oleh kebanyakan ulama’. Soal dosa kecil, menurut jumhur boleh saja. Ini berbeda dengan al-Juba’i dan para pengikutnya (Muktazilah), dan telah menjadi ittifaq (kesepakatan), bahwa itu boleh juga dilakukan karena lupa, kecuali apa yang menunjukkan kehinaan, seperti mencuri sesuap makanan dan biji-bijian yang dijemur. Namun, para muhaqqiq (‘ulama yg meneliti) mensyaratkan bahwa perkara (dosa) tersebut harus diperingatkan(diberitahukan kepada para nabi bahwa itu terlarang) sehingga bisa mereka tinggalkan, semua ini berlaku setelah turunnya wahyu. Adapun sebelumnya, pada dasarnya tidak ada satu dalil pun yang melarang terjadinya dosa besar. Berbeda dengan Muktazilah, juga Syi’ah yang menolak (terjadinya dosa besar), juga dosa kecil dan besar, sebelum dan setelah turunnya wahyu[5]

Ini dikuatkan dengan keterangan Abu Manshur Abd al-Qahir al-Baghdadi (w. 429 H), dalam kitabnya, Kitab Ushul ad-Din, yang menyatakan:

أجمع أصحابنا على وجوب كون الأنبياء معصومون بعد النبوة على الذنوب كلها. وأما السهو والخطأ فليسا من الذنوب فلذلك ساغا عليهم. وقد سهى نبينا في صلوته حتى سلم على الركعتين نبى عليها وسجد سجدتي السهو. وأجازوا الذنوب قبل النبوة، وتأولوا على ذلك كل ما حكي في القرآن من ذنوبهم. وأجاز ابن كرام في كتابه الذنوب من الأنبياء من غير تفصيل منه. ولأصحابه اليوم في ذلك تفصيل ويقولون يجوز عليهم الذنوب ما لايوجب حدا تفسيقا. وفيهم من يجيز الخطأ في التبليغ…

Ashhabuna (para pengikut mazhab kami, yaitu Ahlussunnah) sepakat tentang keharusan para Nabi maksum dari segala dosa setelah kenabian. Soal lupa atau salah, keduanya bukanlah dosa, maka keduanya boleh bagi mereka. Nabi kita (Muhammad) saw. pernah lupa dalam shalatnya, hingga salam sementara beliau baru mengerjakan dua rakaat, kemudian beliau diingatkan, lalu melakukan sujud sahwi sebanyak dua kali. Mereka (ashhabuna) juga membolehkan terjadinya dosa-dosa tersebut sebelum kenabian. Mereka kemudian menerangkan berbagai kasus dosa (yang pernah menimpa mereka) yang telah diceritakan dalam al-Qur’an.[6]

Dengan demikian, jelas bahwa pandangan penulis al-Gharrah yang mengklaim dirinya Ahlussunnah nyata bukanlah pendapat Ahlussunnah, melainkan pendapat Muktazilah dan Syi’ah. Bahkan, dalam kitab al-Ibanah dan Maqalat al-Islamiyyin wa ikhtilaf al-Mushallin[7] sendiri, yang merupakan dua karya outentik Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H), beliau sama sekali tidak pernah menyatakan seperti yang dinyatakan oleh penulis al-Gharrah tersebut. Lalu dari mana dia menisbatkan pendapat tersebut kepada al-Asy’ari?

Sumber: Bantahan Terhadap Kitab Al Gharral Al Imaniyyah…beberapa terjemahan diedit.

Baca Juga:

  • Serangan WTC 9/11; Karya Monumental MOSSAD &CIA
  • Upaya Aktif Menjemput Janji Allah Dan Bisyarah Rasululah Saw
  • Aktivitas Politik Dakwah Rasulullah SAW
  • Hukum Keberadaan Jama’ah Da’wah

    [1] ‘Abdullah al-Harari, al-Gharrah al-Imaniyyah fi Mafasid at-Tahririyyah, ed. ‘Abdul ‘Aziz Masyhuri al-Indunisi, al-Idarah al-Markaziyyah li Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah Indonesia, 2001, hal. 17-18.

    [2] Ibid, hal. 17 – 18

    [3] As-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz’ al-Awwal, Dar al-Ummah, Beirut, cetakan Muktamadah, 2003 M/1423 H, hal. 134-135.

    [4] ‘Abdullah al-Harari, Ibid, hal. 17.

    [5] al-Imam al-Mulla ‘Ali al-Qari al-Hanafi, Syarh Kitab al-Fiqh al-Akbar, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan I, 1995, hal. 104

    [6] al-Imam Abu Manshur Abd al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushul ad-Din, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan I, 1981 M/1401 H, hal. 167-168. Lihat juga, ‘Adhuddin al-Iji, al-Mawaqif fi ‘Ilm al-Kalam, ‘Alam al-Kutub, Beirut, t.t., hal. 358-359.

    [7] al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘An Ushul ad-Diyanah, ed. ‘Abdullah Mahmud Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan I, 1998 M/1418 H, hal. 5-92; al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, al-Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, ed. Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Beirut, cetakan 1990 M/1911 H, juz I, hal. 345-350.

  • Posted on 14 Februari 2011, in Afkar, Aqidah, Kritik Pemikiran. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s