Isbal (Memanjangkan Kain Melebihi Mata Kaki)

Perbedaan pendapat tentang isbal sudah lama ada, meski ada sebagian kalangan yang agaknya tetap memaksakan pendapatnya. Setidaknya ada dua pendapat tentang hal ini, yakni

1. Isbal Mutlak Haram, dengan atau tanpa kesombongan

Dalilnya adalah:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

“Apa yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka itu tempatnya di neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari dalam shahihnya]

Dan juga karena sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir Ibn Sulaim:

وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْمَخِيلَةِ…

“Jauhilah isbal olehmu, karena itu tergolong kesombongan.” [Hadits Riwayat Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih]

Dan juga karena sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang tsabit dari beliau :

ثَلَاثَة لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يَوْمَ الْقِيَامَة ، وَلَا يَنْظُر إِلَيْهِمْ ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ ، وَلَهُمْ عَذَاب أَلِيم . قَالَ : فَقَرَأَهَا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاث مَرَّات : الْمُسْبِل وَالْمَنَّان وَالْمُنْفِق سِلْعَته بِالْحَلِفِ الْكَاذِب

“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan dari dosa serta mereka akan mendapat azab yang sangat pedih, Rasulullah mengatakannya tiga kali: yaitu pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” [HR Muslim dalam shahihnya]

Tidak ada beda apakah dia melakukan karena sombong atau tidak. Itu berdasarkan keumuman banyak hadits. Dan juga karena secara keumuman itu dilakukan karena sombong dan angkuh, walau dia tidak bermaksud demikian. Perbuatannya adalah perantara menuju kesombongan dan keangkuhan. Dan dalam perbuatan itu juga ada mengandung unsur meniru wanita dan mempermudah pakaian dikenai kotoran dan najis. Serta perbuatan itu juga menunjukkan sikap berlebih-lebihan.

Siapa yang melakukannya karena sombong, maka dosanya lebih besar. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Adapun sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakar Ash Shiddiq Radliyallah’anhu ketika dia mengatakan kepada beliau bahwa sarungnya sering melorot kecuali kalau dia benar-benar menjaganya:

إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ

“Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena sombong.” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Ini adalah bantahan bagi orang yang melakukannya, tapi berdalil dengan apa yang dilakukan Abu Bakar Ash Shiddiq. Bila dia memang benar-benar menjaganya dan tidak sengaja membiarkannya, itu tidak mengapa.

[Dari Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da’wah hal 220]

Pendapat Syaikh Bin Baz ini sesuai dengan pendapat Syaikh Al Mubarokfury dalam kitabnya “Tuhfatul Ahwadzi”.

2. Pendapat Yang Mengharamkan Bila Dengan Niat Riya’

Al-Imam An-Nawawi (wafat 676 H), dalam Syarah Shahih Muslim, beliau menuliskan :

وأما الأحاديث المطلقة بأن ما تحت الكعبين في النار فالمراد بها ما كان للخيلاء، لأنه مطلق، فوجب حمله على المقيد. والله أعلم

Adapun hadits-hadits yang muthlaq yang menyatakan bahwa apa saja (pakaian) yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan untuk kesombongan. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a’lam.

والخيلاء الكبر. وهذا التقييد بالجر خيلاء يخصص عموم المسبل إزاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيلاء. وقد رخص النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك لأبي بكر الصديق رضي الله عنه, وقال, ” لست منهم ” إذ كان جره لغير الخيلاء

Dan Khuyala’ adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, “Kamu bukan bagian dari mereka.” Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

Pendapat lain dikemukakan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, saat menjelaskan hadits tentang isbal:

 بَيْنَمَا رَجُل يُصَلِّي مُسْبِلًا إِزَاره  : أَيْ مُرْسِله أَسْفَل مِنْ الْكَعْبَيْنِ تَبَخْتُرًا وَخُيَلَاء وَإِطَالَة الذَّيْل مَكْرُوهَة عِنْد أَبِي حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ فِي الصَّلَاة وَغَيْرهَا، وَمَالِك يُجَوِّزهَا فِي الصَّلَاة دُون الْمَشْي لِظُهُورِ الْخُيَلَاء فِيهِ . كَذَا قَالَ فِي الْمِرْقَاة .

(ketika seorang lelaki sedang shalat dalam kondisi isbal): yakni mengulurkan kain dibawah mata kaki dalam kondisi sombong, dan memanjangkan ujung pakaian hukumnya makruh menurut Abu Hanifah dan Asy Syafi’i, baik dalam sholat maupun diluar sholat, dan Malik membolehkannya dalam sholat, namun melarangnya saat berjalan karena nampaknya kesombongan padanya (saat berjalan). Demikian dikatakan dalam (kitab) Al Mirqâh

Al Hâfidz al ‘Iraqy (w. 806 H), dalam Tharhu at Tatsrib, menyatakan:

فَالْمُسْتَحَبُّ نِصْفُ السَّاقَيْنِ وَالْجَائِزُ بِلَا كَرَاهَةٍ مَا تَحْتَهُ إلَى الْكَعْبَيْنِ فَمَا نَزَلَ عَنْ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ مَمْنُوعٌ فَإِنْ كَانَ لِلْخُيَلَاءِ فَهُوَ مَمْنُوعٌ مَنْعَ تَحْرِيمٍ، وَإِلَّا فَمَنْعُ تَنْزِيهٍ

Al Mardawi (w. 885 H), dalam al Inshaf, 1/472 menyatakan:

يُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُ الرَّجُلِ إلَى فَوْقِ نِصْفِ سَاقِهِ، نُصَّ عَلَيْهِ. وَيُكْرَهُ زِيَادَتُهُ إلَى تَحْتِ كَعْبَيْهِ بِلَا حَاجَةٍ، عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الرِّوَايَتَيْنِ. وَعَنْهُ ” مَا تَحْتَهُمَا فِي النَّارِ ” وَذَكَرَ النَّاظِمُ: مَنْ لَمْ يَخَفْ خُيَلَاءَ لَمْ يُكْرَهْ. وَالْأَوْلَى تَرْكُهُ، هَذَا فِي حَقِّ الرَّجُلِ

“dimakruhkan baju lelaki diatas separo betis (kependekan),… , dan dimakruhkan pula menambahkan (panjangnya) hingga dibawah mata kaki tanpa ada hajat,… dan an Nadzim menyatakan: “siapa yang tidak khawatir (dengan memakai baju dibawah mata kaki) akan menjadikannya sombong maka tidak makruh”.  Dan yang lebih utama adalah meninggalkannya, ini berkaitan dengan (pakaian) laki-laki”

Imam Ibnu Muflih (w. 763), Al Adab Asy Syar’iyyah, 3/521, setelah menyatakan pendapat pendapat Imam Ahmad (dalam satu riwayat), juga ashab hanabilah bahwa tidaklah haram memanjangkan kain pakaian jika tidak bermaksud sombong, beliau menulis tentang Imam Abu Hanifah yang memanjangkan kainnya bahkan ke tanah, dan memahaminya itu tidak haram, ini pula pendapat Ibnu Taymiyyah:

وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ – رَحِمَهُ اللَّهُ – ارْتَدَى بِرِدَاءٍ ثَمِينٍ قِيمَتُهُ أَرْبَعُمِائَةِ دِينَارٍ وَكَانَ يَجُرُّهُ عَلَى الْأَرْضِ فَقِيلَ لَهُ أَوَلَسْنَا نُهِينَا عَنْ هَذَا؟ فَقَالَ إنَّمَا ذَلِكَ لِذَوِي الْخُيَلَاءِ وَلَسْنَا مِنْهُمْ، وَاخْتَارَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ – رَحِمَهُ اللَّهُ – عَدَمَ تَحْرِيمِهِ وَلَمْ يَتَعَرَّضْ لِكَرَاهَةٍ وَلَا عَدَمِهَا.

***

Maka klaim bahwa isbal itu haram secara mutlak dan sudah disepakati oleh semua ulama adalah klaim yang kurang tepat, begitu pula menyatakan isbalnya Abu Bakar r.a itu karena darurat juga kurang tepat,  bagaimana bisa disebut darurat karena pada saat itu juga kainnya bisa dipotong biar tidak kepanjangan, sebagaimana sahabat yg langsung merobek kleman baju yang ada sutranya ketika Rasulullah melarang memakai sutra. Alasan yang tepat kenapa Abu Bakar boleh Isbal adalah karena tidak sombong itu, ini dinyatakan oleh Asy Suyuthi:

وقد رخص صلى الله عليه و سلم في ذلك لأبي بكر حيث كان جره لغير الخيلاء

‘Ala kulli haal, yang manapun pendapat yang kita pilih, seharusnya sebagai muslim kita saling menghargai perbedaan ini. Allahu a’lam [M.Taufik N.T]

Baca Juga:

last update, 2 Juni 2016

Posted on 22 Februari 2008, in Ikhtilaf. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. sip mantab

    Suka

  2. ikhtilaf sendiri merupakan khazanah…marilah kita jangan menghakimi penafsiran kita terhadap teks lebih benar dan sesuai kehendak Allah dan rasul-Nya…akhir kata dari artikel ust sungguh sebuah pengakuan adanya perhargaan terhadap pendapat…syukran ust

    Suka

    • Ya, hanya memang juga wajar dan sangat logis jika seseorang ketika mengambil (mentabanni) suatu pendapat dari berbagai ikhtilaf, dia akan mengambil yang paling benar dalam pandangannya, di sinilah kita harus saling memaklumi jika ada orang yang ‘merasa paling benar’, yang jadi masalah adalah kalau tidak hanya merasa paling benar, namun menganggap selainnya ‘sesat’, padahal domain pembahasannya adalah masalah khilafiyyah. Adapun kalau masalah yang dalil dan dalalahnya qath’iy, maka seharusnya memang tidak ada ruang untuk berbeda, sehingga jika berbeda maka memang layang disematkan sebutan sesat itu. ‘afwan.

      Suka

  3. Assalamu’alaikum Ust Taufik, dari pendapat yang ada bs disimpulkan bahwa hukum isbal hanya haram dan makruh ya? apakah ada pendapat yang memubahkan jika isbal diluar sholat? jika tidak ada, apakah tidak sebaiknya kita mengangkat kain kita di atas mata kaki (tidak isbal)? misalnya dengan memptong celana kita yang selama ini isbal? syukron jazilan

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam….
      Ada yang mengharamkan secara mutlak
      Ada yang memakruhkan
      Ada yang memakruhkan jika tidak ada hajat, jika ada hajat membolehkan.
      Maksud Isbal sendiri, ada yang memaknainya kalau sampai nyeret ke tanah (yang makruh), jika tidak sampai nyeret ke tanah tidak makruh.

      Coba cermati di al Adabus Syar’iyyah, 3/522 berikut:

      يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ طُولُ قَمِيصِ الرَّجُلِ إلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِلَى شِرَاكِ النَّعْلِ وَهُوَ الَّذِي فِي الْمُسْتَوْعِبِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَطُولُ الْإِزَارِ إلَى مَدِّ السَّاقَيْنِ، قَالَ وَقِيلَ إلَى الْكَعْبَيْنِ وَيَزِيدُ ذَيْلُ الْمَرْأَةِ عَلَى ذَيْلِهِ مَا بَيْنَ الشِّبْرِ إلَى الذِّرَاعِ قَدَّمَهُ ابْنُ تَمِيمٍ.

      Bagusnya, keluar dari ikhtilaf dengan menjadikan pakaian maksimal hanya sampai mata kaki.

      Di sisi lain jangan memandang negatif pada orang yang memakai pakaian lebih dari itu. Allaahu A’lam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s