Category Archives: Pendidikan

Belajar Hingga Akhir Hayat

Abdullah bin Mubarak (wafat tahun 181 H), seorang ahli fikih, ahli hadits yang wara’ dan terpercaya pernah ditanya:

إلى متى تطلب العلم؟

Sampai kapan engkau menuntut ilmu?

Beliau menjawab:

حتى الممات، إن شاء الله

Sampai mati, insya Allah” (‘Uluwwul Himmah, hal 202).

Disamping waktunya ‘dihabiskan’ untuk menuntut ilmu, beliau tidak ketinggalan juga berjihad, berniaga, menafkahkan hartanya dan senantiasa pergi haji.

Imam Abu Ja’far At Thabari (w. 310 H), ahli tafsir dan sejarah, saat dalam kondisi payah sesaat sebelum meninggal, beliau meminta tinta dan kertas. Ditanyakan pada beliau:

Read the rest of this entry

Iklan

Mencegah LGBT Sejak Dini

Menurut Jawapos (23/5/17), diperkirakan 3% penduduk Indonesia (sekitar 7,86 juta jiwa) terkena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Penggrebekan pesta seks kaum Gay (homoseksual) di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang berhasil menciduk 141 pria, menyentak kesadaran kita, bahwa perilaku homoseks bisa ‘menular’ bahkan ke pria-pria yang tampak jantan, maskulin, atletis lengkap dengan perut ‘six pack’ yang berotot.

Walaupun dalam pandangan Islam, homoseksual, maupun prilaku menyerupai lain jenis- yang bukan bawaan sejak lahir- adalah termasuk tindakan kriminal (jarîmah), dimana pelakunya terkena had liwath, namun di negeri Pancasila ini, mereka dilindungi (dibiarkan berkembang), bisa kita buktikan dengan pernyataan Presiden: “polisi harus melindungi kaum LGBT” (bbc.com, 19/10/16), juga terakhir bisa kita lihat apa yang terjadi di MK. Ironis, Hal yang dikhawatirkan Rasulullah saw, justru dilindungi dan dibiarkan berkembang di negeri mayoritas muslim ini. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Read the rest of this entry

Sedemikian Parahkah Intervensi Dunia Pendidikan Kita?

tempo, guru diperiksa Membaca berita diperiksanya sembilan guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Madrasah Aliyah se-Kalsel, terkait mencantumkan materi khilafah dan khalifah di soal PAS, walaupun sanksinya belum diputuskan (tempo, 7/12), namun tetap saja hati terasa miris dan prihatin, kenapa?

Pertama, guru hanya menjalankan tugasnya sesuai kurikulum, soal yang dibuat juga sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum, bagaimana mungkin mereka bisa disalahkan, apalagi diberi sanksi, jika mereka hanya menjalankan tupoksinya? Lihatlah di buku fikih siswa yang dikeluarkan Kemenag sendiri (kurikulum 2013), ada lima bab di situ, satu bab tentang khilafah, soal yang dibuat juga tidak keluar dari materi). Awalnya, kepala Biro Humas Kemenag, Mastuki, berkomentar bahwa tidak ada yang salah dengan soal tersebut, (detik, 5/12), anehnya sehari setelah itu, muncul informasi bahwa ujian fikih akan diulang, (kemenag.go.id, 6/12), selanjutnya muncul berita 9 guru yang membuat soal tersebut diperiksa, walau sanksinya belum ditentukan, (tempo, 7/12).

Kedua, saya belum melihat adanya pembelaan kepada 9 guru yang dimaksud, walaupun di sosmed banyak yang prihatin, namun sebatas keprihatinan, sebagaimana yang saya rasakan.

Read the rest of this entry

Memperbaiki Masa Lalu, Menyongsong Masa Depan *)

Tidak sedikit para ‘ulama terdahulu bersedih, bahkan menangis meninggalkan Ramadhan. Imam Ibnu Rajab (w. 795 H), menceritakan bahwa Sayyidina Ali berkata di penghujung Ramadhan :

يا ليت شعري مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ فَنُهَنِّيه وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ فَنُعَزِّيهِ

“Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ikut berbela sungkawa.”[1]

Sebagian ulama menampakkan kesedihan di hari raya Idul Fitri, Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria, kenapa engkau malah bermuram durja?” Dia menjawab:

صدقتم ولكني عبد أَمَرَنِي مولايَ أن أعملَ له عملا فلا أدري أيَقْبَلَه مني أم لا ؟

“engkau benar, tetapi, aku ini hanyalah sorang hamba yang diperintah oleh Tuanku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”[2]

Read the rest of this entry

Awam dan Dengki; Sulit Mencerna Informasi

Awam bukanlah suatu cela, karena setiap orang adalah orang awam dalam suatu permasalahan, walaupun bisa jadi dia ‘alim dalam permasalahan yang lain. Bahkan Rasulullah SAW yang memiliki sifat cerdas (fathônah) saja bisa keliru dalam urusan penyerbukan kurma, hingga beliau berkata “antum a’lamu bi ‘umûri dun-yâkum”, kalian lebih tahu urusan dunia kalian (yakni teknik penyerbukan kurma dan yang semisalnya). Seorang Kyai yang ‘alim, dan menguasai berbagai cabang keilmuan, bisa jadi beliau awam dalam urusan teknologi, menyimpan nomor telpon ke hp saja tidak bisa, atau beliau awam dalam urusan politik, karena membaca berita saja tidak mau, hidupnya hanya beralih dari membaca satu kitab ke kitab yang lain, ini semua pada dasarnya bukanlah ‘aib.

Read the rest of this entry

Penyucian Jiwa (Sisi Lain Kisah Uwais)

Ketika orang-orang Yaman datang, Umar menyelidiki rombongan dan bertanya, apakah ada diantara kalian yang berasal dari Qaran (salah satu dari kabilah Murad)?”

Kemudian dia mendatangi orang-orang yang berasal dari Qaran dan bertanya; “Siapa kalian?” Mereka menjawab; “Orang-orang Qaran.”

Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Umar atau Uwais) mengambilkan untuk yang lainnya sehingga dia mengenalnya,

Read the rest of this entry

Bodoh Itu Lebih Baik daripada ‘Sok Tahu’

Imam Malik berkata: “Al Qassâm bin Muhammad mengatakan:

لَأَنْ يَعِيشَ الرَّجُلُ جَاهِلًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَقُولَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا يَعْلَمُ

“Seseorang yang hidup dalam keadaan bodoh itu lebih baik baginya daripada berkata tentang Allah apa-apa yang dia tidak ketahui” [Ibnu Bath-thah (w. 387 H), Ibthâl al Hiyâl, 1/64].

Read the rest of this entry

Condong Kepada Orang Zalim

Suatu ketika Abu Bakar melihat Rasulullah makin beruban, maka beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah beruban.” Maka Rasulullah Saw. menjawab:

شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Aku dibuat beruban oleh surat Hud, al Waqi’ah, al Mursalat, ‘amma yatasâ-alûn (an-Naba), dan idzas syamsu kuwwirot (at-Takwîr). (HR. At Tirmidzi[1])

Read the rest of this entry

Berpikir Cepat; Menguak Pujian Istri Kepada Suaminya

Ketika membaca kitab Sur’atul Badîhah, karya Syaikh Taqiyyuddin an Nabhani, kitab yang membahas tentang bagaimana berupaya meningkatkan kecepatan berpikir, dan cepat pula menarik kesimpulan dengan tepat, diceritakan bagaimana cepat, tepat dan tanggapnya seorang sahabat menghadapi kasus seorang wanita yang sekilas memuji suaminya padahal sebenarnya mengadukan suaminya.

Hanya saja disitu tidak dijelaskan siapa sahabat tersebut, dan bagaimana kelanjutan kisahnya, maka untuk mengobati rasa ingin tahu, setelah mencari, walau tidak terlalu susah karena ada maktabah syamilah, yang agak susah nerjemahin sya’irnya, akhirnya dapatlah salah satu sumber kisah tersebut. Berikut ringkasan cerita tersebut dalam Bughyatut Thalab karya Ibnul Adim (w. 660 H).

Read the rest of this entry

Bolehkah Belajar dg Membaca Sendiri dari Kitab?

Bolehkah belajar dengan membaca sendiri dari kitab? Benarkah belajar tanpa guru dengan cara membaca kitab sendiri, berarti gurunya adalah syaithan?

Read the rest of this entry

Khutbah Jum’at – Jiwa Yang Merdeka

Kalau boleh dibandingkan antara kemerdekaan jiwa dan kemerdekaan raga, maka kemerdekaan jiwa jauh lebih penting daripada kemerdekaan raga semata.

Jiwa yang merdeka tidak bisa dihentikan aktifitas perjuangannya walaupun raganya tersandera, sebaliknya raga yang sehat, kuat dan gagah perkasa, jika jiwanya tersandera, jiwanya menjadi budak, maka kekuatan fisik itu tidak berarti apa-apa.

Read the rest of this entry

Khutbah Jum’at – Indonesia Surganya Miras

Minggu ini kita dikejutkan dengan kematian massal akibat minuman keras (miras) oplosan, 17 orang tewas dan ratusan lainnya harus dirawat di rumah sakit di Sumedang, Jabar (okezone.com, 8 Des 14). Walaupun negeri ini dihuni mayoritas muslim, namun miras dengan mudah bisa didapatkan, tidak aneh kalau tahun lalu aktivis sosial Fahira Idris menyebut Indonesia sebagai surganya miras.

Read the rest of this entry

Pendidikan Mahal, Bukti Alokasi Pendidikan 20% Hanya Jargon Politik

Pengamat pendidikan Wildan Hasan Syadzili menilai biaya yang mahal saat awal masuk sekolah baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi disebabkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen hanya menjadi jargon politik semata. “Dalam praktiknya tidak sampai 50 persen anggaran itu benar-benar untuk peningkatan mutu pendidikan. Lebih banyak untuk belanja pegawai,” kritiknya di Jakarta, Rabu (6/7)

Read the rest of this entry

Menghilangkan Kerancuan Dalam Masalah Memerangi Hawa Nafsu (Jihadun Nafsi)

Oleh Muhammad Taufik N.T

Sesungguhnya sudah menjadi sesuatu yang diketahui secara nyata, bahwasanya menegakkan khilafah dan mengangkat seorang khilafah untuk kaum muslimin hukum asalnya adalah fardlu kifayah, akan tetapi jika kewajiban ini tidak dapat terealisir dengan aktivitas orang yang memperjuangkannya, maka kewajiban ini meluas hingga menjadi kewajiban setiap muslim, hal ini berlaku untuk setiap fardhu kifayah.

Meskipun demikian, ada sebagian orang yang melarang/tidak menyukai melakukan aktivitas penegakan khilafah sebelum terpenuhinya beberapa perkara, yakni umat Islam harus memerangi (hawa nafsunya) sendiri. Oleh sebab itu jika engkau menyeru mereka untuk sama-sama berjuang dalam hal ini, mereka akan menjawab: yang diwajibkan kepada kita pertama kali adalah memerangi (hawa nafsu) kita, memperbaiki diri dahulu, baru setelah itu kita beraktifitas untuk menegakkan khilafah…. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Read the rest of this entry

Membiasakan Tafakkur

Membiasakan tafakkur adalah tradisi seorang mukmin. Allah menyebut kegiatan bertafakkur sebagai kebiasaan orang-orang yang berakal, Ulil Albaab. Dia SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآَيَاتٍ ِلأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 190-191).

Read the rest of this entry