Category Archives: Ibadah

Diterimakah Amalan Kita?

Harap dan cemas merupakan salah satu diantara sifat orang orang yang beriman. Ummul Mukminin Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ke 60 dalam surat al Mukminun:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan (melakukan) apa yang telah mereka berikan (lakukan), sedang hati mereka senatiasa takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”

Aisyah bertanya:

هو الذي يسرق ويزني ويشرب الخمر وهو يخاف الله عز وجل ؟

“apakah dia (dalam ayat ini) adalah orang yang mencuri, berzina dan minum khamr (memabukkan), sedang ia takut (diazab) Allah Ta’ala?”

beliau menjawab:

لا يا بنت الصديق، ولكنه الذي يصلي ويصوم ويتصدق وهو يخاف الله عز وجل

“Tidak wahai anak perempuan Abu Bakr Ash shiddiq, akan tetapi ia adalah orang yang sholat, berpuasa dan bershadaqah sedang ia takut kepada Allah (tidak diterima amalannya)”. HR. at Tirmidzi

Read the rest of this entry

Iklan

Shalat Sambil Membaca Al Qur’an di HP

Menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah hukumnya boleh dalam shalat membaca al Qur’an lewat mushaf[1] walaupun kadang-kadang dia membalik halaman, karena membalik halaman adalah gerakan sedikit yang tidak membatalkan shalat. (lihat Al Mausû’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, 33/57).[2] Dan walaupun HP bukan mushaf, namun kedudukannya sama saja jika yang dibuka adalah aplikasi Al Quran, lain ceritanya jika yang dibuka adalah youtube.

Read the rest of this entry

Shalat dengan Mata Terpejam

Diantara sunnah shalat, menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, adalah pandangan mata mengarah ke tempat sujud. Sebagaimana hadits

كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا صلى طأطأ رأسه، ورمى ببصره نحو الأرض

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila shalat, maka beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya kearah tanah.” (HR. al-Hakim)

Adapun memejamkan mata ketika shalat, ada riwayat bahwa Nabi melarangnya:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يُغْمِضُ عَيْنَيْهِ

“Bila salah seorang diantara kalian berdiri menjalankan shalat, maka janganlah memejamkan kedua matanya” (HR. at-Thabrany dalam Mu’jam al-Kabîr 9/34, juga al Haitsami dalam Majma’uz Zawâid,2/83, dan beliau mengatakan: di dalam nya ada Laits bin Abi Salim, dan dia adalah mudallis).

Hanya saja, larangan dalam riwayat tersebut bukan menunjukkan haram, juga bukan menjadikan shalat tidak sah. Mayoritas ulama ahli fiqh (Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan sebagian Syafi’iiyyah) menilai bahwa hukum memejamkan mata saat shalat adalah makruh.

Read the rest of this entry

Gembira dengan Datangnya Ramadhan

Takwa bukan sekedar menyesuaikan perbuatan anggota tubuh dengan ketentuan Allah semata, namun takwa juga ditandai dengan adanya rasa, rasa gembira terhadap apa yang di ridhai-Nya, dan rasa sedih jika jauh dari Allah Ta’ala.

Diantara hal yang patut bergembira ketika menjumpainya adalah datangnya Ramadhan. Ketika rasa gembira tidak ada dalam diri seorang muslim, dia merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan, bisa jadi ini adalah pertanda buruk akan lemahnya imannya serta hilangnya kepekaan spiritual dari dalam dirinya.

Read the rest of this entry

Mengoptimalkan Waktu Tidur

Jika rata-rata seseorang tidur 6 jam sehari, maka dalam 70 tahun berarti dia telah menghabiskan 17,5 tahun usianya untuk tidur. Jika tidurnya hanya sekedar tidur, tidak diberi nilai pahala kebaikan di sisi Allah Ta’ala, maka 25% usianya tidak bermakna apapun, sia-sia belaka. Jika yang dihitung hanya shalat, dan sekali shalat dia menghabiskan waktu 6 menit, maka shalatnya hanya 2% saja dari waktu hidup dia, alangkah ruginya.

Read the rest of this entry

Zakat Mata Uang

Emas dan perak, jika telah mencapai nishab, yakni 20 dinar (85 gram emas), atau 200 dirham (595 gram perak[1]), dan telah berlalu masa setahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%, tidak ada perbedaan pendapat ‘ulama dalam hal ini, yang terjadi perbedaan hanya dalam hal emas dan perak sebagai perhiasan yang benar-benar dipakai apakah wajib dizakati atau tidak, mayoritas ‘ulama menyatakan tidak wajib, sementara kalangan Hanafiyyah menyatakan tetap wajib dizakati. Begitu juga mata uang kertas, jika dijamin (distandarisasi) dengan emas dan perak, maka tetap wajib dizakati sesuai dengan nishab emas dan perak.

Adapun mata uang kertas yang tidak dijamin dengan emas dan perak, para ‘ulama berbeda pendapat. Namun mengingat bahwa berkaitan dengan kewajiban zakat emas dan perak, Rasulullah saw dalam beberapa haditsnya menggunakan lafadz ‘riqqah’, waraq’, ‘awaq’, ‘dirham’, dan, ‘dinar’, yang semuanya merujuk pada emas dan perak sebagai satuan mata uang, maka hal tersebut menunjukkan diwajibkan zakat atas uang dan alat pembayaran, baik bahannya emas dan perak atau bukan. Inilah Keputusan Majma’ Al Fiqh Al Islami pada daurahnya yang ke-3, no: 9, menyatakan bahwa uang kertas merupakan uang yang mempunyai sifat penuh sebagai alat tukar, sehingga berlaku baginya hukum-hukum syar’i sebagaimana yang berlaku pada emas dan perak, inilah pandangan mayoritas ulama masa kini[2] termasuk juga yang dinyatakan dalam al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i (2/34).

Read the rest of this entry

Seekor Sapi Untuk Qurban Sekaligus Aqiqah

Tanya ustadz mohon pencerahan apakah di bolehkan 1 ekor sapi sebagian ada yang niat korban dan sebagian niat akikah? Mohon penjelasan terimakasih

Read the rest of this entry

Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Hukumnya

Menurut jumhur (mayoritas) ahli fiqh kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama’ muta-akhhirin kalangan Hanafiyyah, puasa enam hari di bulan syawwal (selain tanggal 1) hukumnya adalah sunnah. Dalilnya adalah sabda Nabi saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia ikuti (dengan berpuasa) enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Zakat Fitrah: Siapa Menanggung Siapa?

Jika seorang mukallaf memenuhi syarat-syarat wajibnya mengeluarkan zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri.

Dia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah atas siapa saja yang menjadi kewajiban atasnya memberi nafkah, baik sebab wajibnya nafkah tersebut karena nikah, kerabat, atau karena khidmat (pelayan yang tidak digaji).

Urutan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah adalah: 1) dirinya sendiri, 2) Istrinya, 3) anaknya yang kecil, 4) bapak kandungnya, 5) ibu kandungnya,[1] 6) anaknya yang besar yang tidak mampu bekerja.

Zakat Fitrah: Definisi, Waktu, dan Syarat Wajib

Definisi

Zakat fitrah adalah kadar tertentu dari harta, yang wajib mengeluarkannya saat tenggelam matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan, dengan syarat-syarat tertentu, bagi setiap mukallaf dan yang menjadi tanggungannya. Read the rest of this entry

Wanita Haidl Memegang dan atau Membaca al Qur’an

Berbeda hukumnya bagi wanita haidl antara membaca al Qur’an dengan menyentuh al Qur’an.

Wanita Haidl Membaca Al Qur’an

Menurut mayoritas ahli fikih: Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, wanita haidl termasuk nifas dan orang junub diharamkan membaca al Qur’an. Alasannya Sabda Nabi SAW:

لَا تَقْرَأِ الحَائِضُ، وَلَا الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ

“Tidak boleh orang yang sedang haidl atau junub membaca sesuatu dari al-Quran” (HR. at-Tirmidzi).

Read the rest of this entry

Shalat Bagi Musafir: Jama’ dan Qoshor

Matan Taqrib:

(فصل) ويجوز للمسافر قصر الصلاة الرباعية بخمس شرائط: أن يكون سفره في غير معصية. وأن تكون مسافته ستة عشر فرسخا. وأن يكون مؤديا للصلاة الرباعية. وأن ينوي القصر مع الإحرام. وأن لا يأتم بمقيم.

Syarat Shalat Qoshor

(Pasal) Boleh bagi musafir (orang yang melakukan perjalanan) untuk mengqoshor[1] shalat yang empat raka’at (menjadi 2 (dua) raka’at) dengan 5 (lima) syarat:

  1. Bukan perjalanan maksiat.
  2. Jarak yang ditempuh mencapai 16 farsakh.
  3. Shalat empat raka’at. (shalat maghrib dan subuh tidak bisa di qashar)
  4. Niat qashar saat takbiratul ihram (takbir pertama).
  5. Tidak bermakmum pada orang mukim.

Read the rest of this entry

Bersuci (Thaharah)

Bersuci menduduki peran sangat penting dalam ibadah, karena berbagai Ibadah tidak  sah tanpa bersuci. Tulisan ini merujuk kepada kitab at Taqrib atau Ghayatul Ikhtishor (puncak ringkasan) karya Imam Abu Syuja’ (434H-593 H), (kun-yahnya Abu Thayyib). ditambah berbagai penjelasan dari kitab-kitab fiqh lain dalam Madzhab Syafi’i.

Read the rest of this entry

Pentingnya Belajar Fiqh

Fiqh secara bahasa bermakna al fahmu (pemahaman), sedangkan secara istilah, fiqh didefinisikan sebagai

الفقه هو العلم بالأحكام الشرعية العملية المستنبطة من الأدلّة التفصيلية

Fiqh adalah ilmu tentang hukum-hukum syara’ praktis yang digali dari dalil-dalil yang terperinci[1].

Tidak ada yang memungkiri bahwa belajar fiqh adalah sangat penting, karena fiqh lah yang menjelaskan kepada kita hukum-hukum terkait ibadah dan mu’amalah. Aktivitas apapun yang kita lakukan, agar menjadi amal terbaik, yang kita harapkan diterima disisi Allah swt, harus memenuhi dua syarat; ikhlas dan benar. Ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima, sebaliknya benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima.[2]

Read the rest of this entry

Jima’ di Siang Hari Bulan Ramadhan

Jima’ (bersetubuh) di siang hari dengan sengaja membatalkan puasa. Namun jika terpenuhi delapan syarat[1], disamping membatalkan puasa juga menjadikan suami wajib membayar kaffârat. Delapan syarat tersebut adalah:

Read the rest of this entry