Category Archives: Dakwah

‘Amr bin Hisyâm, Sang Bapak Kebodohan (Abu Jahal) *)

Sebelum Islam datang, ‘Amr bin Hisyâm (570 – 624 M) adalah orang yang dikenal kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam usia yang masih muda, para tetua Quraisy sudah sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah, oleh karena itu ia dikenal dengan sebutan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan).

Hanya saja, semua itu berubah ketika Islam datang, kecerdasan otaknya tidak digunakan untuk membela Islam, bahkan sebaliknya, digunakan untuk memutarbalikkan fakta dalam rangka menentang kebenaran Islam. Kedudukan dan reputasinya yang sudah tinggi menghalangi dia untuk menerima Islam, ajaran yang bakalan memposisikan manusia sederajat, hanya dibedakan oleh ketaqwaannya.

Read the rest of this entry

Dakwah di Persimpangan Jalan

Suatu ketika, pemuka-pemuka bangsawan Quraisy – dengan diketahui oleh Abu Sufyan b. Harb – pergi menemui Abu Talib, paman Nabi dan sekaligus pelindung dakwah Nabi.

“Abu Talib,” kata mereka, “kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat nenek-moyang kita. Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau tidak, biarlah kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi dia.”

Read the rest of this entry

Al Walid, Sirnanya Kemuliaan Ketika Menghadang Dakwah

Al Walid bin al Mughirah adalah salah seorang tokoh utama, hakim dan salah satu pemimpin kaum Quraisy di Makkah. Dia juga seorang yang cerdas, sebelum Islam datang, akalnya telah membuatnya sadar bahwa khamr itu tidak pantas diminum oleh pria terhormat. Karena itu, dia mengharamkan khamr untuk dirinya, dan bahkan dia memukul anaknya yang bernama Hisyam karena anaknya itu meminum khamr.

Al Walid bin al Mughirah pula yang berkata kepada kaum Quraisy yang sedang membangun kembali Ka’bah yang sempat rusak karena banjir, dengan perkataan yang baik:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَا تُدْخِلُوا فِي بُنْيَانِهَا مِنْ كَسْبِكُمْ إِلَّا طَيِّبًا. لَا يَدْخُلُ فِيهَا مَهْرُ بَغِيٍّ وَلَا بَيْعُ رِبًا، ولا مظلمة أحد من النَّاس

Hai kaum Quraisy, janganlah menyertakan ke dalam pembangunan Ka’bah ini (harta) dari hasil kerja kalian kecuali (harta) yang baik. Janganlah memasukkan dana dari hasil prostitusi, riba, dan (harta hasil) kezaliman kepada orang lain.” (Al-Bidâyah wan-Nihâyah, 2/386).[1]

Read the rest of this entry

Memperbaiki Masa Lalu, Menyongsong Masa Depan *)

Tidak sedikit para ‘ulama terdahulu bersedih, bahkan menangis meninggalkan Ramadhan. Imam Ibnu Rajab (w. 795 H), menceritakan bahwa Sayyidina Ali berkata di penghujung Ramadhan :

يا ليت شعري مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ فَنُهَنِّيه وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ فَنُعَزِّيهِ

“Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ikut berbela sungkawa.”[1]

Sebagian ulama menampakkan kesedihan di hari raya Idul Fitri, Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria, kenapa engkau malah bermuram durja?” Dia menjawab:

صدقتم ولكني عبد أَمَرَنِي مولايَ أن أعملَ له عملا فلا أدري أيَقْبَلَه مني أم لا ؟

“engkau benar, tetapi, aku ini hanyalah sorang hamba yang diperintah oleh Tuanku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”[2]

Read the rest of this entry

Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Read the rest of this entry

Andai Dakwah Itu Wajib Idzin

Andai dakwah itu wajib idzin, mungkin Islam tidak akan sampai ke negeri kita, karena Rasulullah saw bukan saja tidak diidzinkan dakwahnya, bukan hanya dihalang-halangi, namun juga dianiaya bahkan mau dibunuh.

Andai meyakini sesuatu itu wajib idzin, tentu tukang sihir yang melawan Nabi Musa juga tidak akan bisa beriman, setelah sebelumnya melihat mu’jizat Nabi Musa a.s.

Read the rest of this entry

Awam dan Dengki; Sulit Mencerna Informasi

Awam bukanlah suatu cela, karena setiap orang adalah orang awam dalam suatu permasalahan, walaupun bisa jadi dia ‘alim dalam permasalahan yang lain. Bahkan Rasulullah SAW yang memiliki sifat cerdas (fathônah) saja bisa keliru dalam urusan penyerbukan kurma, hingga beliau berkata “antum a’lamu bi ‘umûri dun-yâkum”, kalian lebih tahu urusan dunia kalian (yakni teknik penyerbukan kurma dan yang semisalnya). Seorang Kyai yang ‘alim, dan menguasai berbagai cabang keilmuan, bisa jadi beliau awam dalam urusan teknologi, menyimpan nomor telpon ke hp saja tidak bisa, atau beliau awam dalam urusan politik, karena membaca berita saja tidak mau, hidupnya hanya beralih dari membaca satu kitab ke kitab yang lain, ini semua pada dasarnya bukanlah ‘aib.

Read the rest of this entry

Seandainya Perjuangan Ini Mudah…

Seandainya perjuangan ini mudah, bebas dari fitnah, dan mendapatkan balasan langsung di dunia, niscaya banyak sekali yg turut berjuang. Allah berfirman:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta”. (QS. At Taubah : 42).

Read the rest of this entry

Mashlahat Dakwah

Tidaklah disebut kemashlahatan dakwah dengan hanya berhasilnya umat Islam berkuasa, jika dengan berkuasanya itu masyarakat semakin kabur pemahamannya terhadap Islam, tidak begitu jelas lagi mana yang haq mana yang bathil. Tidaklah disebut kemashlahatan dakwah jika seorang ‘Ulama berhasil duduk di Parlemen, namun ternyata disana juga ikut menetapkan undang-undang yang menentang syari’ah, yang justru masyarakat akan memandang undang-undang tersebut sudah baik, dg berlogika : “kalau tidak baik tdk mungkin Ustadz Fulan mau duduk di situ”. Sesuatu dianggap mashlahat dakwah yang sebenarnya jika memang sesuatu itu semakin memperjelas antara yang haq dan bathil, sehingga orang-orang awampun akan tahu mana yang haq mana yang bathil. Jika seseorang berkuasa, dia akan menjadikan kekuasaannya untuk menolong dakwah, menjelaskan dan menerapkan yang haq, serta mencegah dan melarang kebathilan, tidak bercabang lidah, memutar kata untuk menyatakan keberpihakannya kepada hukum-hukum Allah swt, apapun resiko yang akan dihadapinya.

Kisah dalam hadits di bawah ini menunjukkan kemashlahatan dakwah yang hakiki, walaupun akibat fisiknya “mengerikan”.

Read the rest of this entry

Melawan Propaganda Hitam

Propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu[1].

Jika propaganda dilakukan secara apik oleh pemegang kekuasaan, dibantu kekuatan media, ‘penelitian’ ilmuwan dan lembaga survey, apalagi jika ditambah permainan ‘dalil’ syara’, sementara kalangan yang mengerti memilih berdiam diri dengan alasan menghindari fitnah, maka terjungkirbaliklah nilai-nilai kebenaran, kesalahan akan dianggap masyarakat sebagai kebenaran, sebaliknya kebenaran akan dianggap kejahatan.

Read the rest of this entry

Do’a dan Perubahan

Ketika melihat kerusakan di masyarakat, sebagian kalangan memilih berdo’a sebagai upaya perbaikan. Mereka mau berdo’a untuk kebaikan umat, itu bagus, namun yang tidak tepat adalah ketika ‘meremehkan’ upaya kaum muslimin yang berupaya ber-amar makruf nahi munkar, menjelaskan penyimpangan yang terjadi sembari menjelaskan bagaimana seharusnya Islam mengatasinya, kadang upaya tersebut dipandang sinis, seolah-olah yang berupaya tersebut melalaikan berdo’a kepada Allah swt.

Read the rest of this entry

Empat Puluh Tahun

Usia 40 tahun adalah usia ‘kematangan’ seseorang, jika tidak berhati-hati dan sering mengevaluasi diri, bisa jadi kerugian yang akan terjadi; kematian keburu menghampiri saat lalai dalam mempersiapkan diri. Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad memberi nasehat kepada salah satu muridnya:

وَمَنْ جَاوَزَ الْأَرْبَعِينَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ

Dan barangsiapa yang usianya sudah mencapai 40 tahun namun kebajikannya tidak melebihi dosanya maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.

Read the rest of this entry

Penjelasan Kritik Sanad Hadits “Man Lam Yahtamma…”

Oleh Ust Yuana Ryan Tresna

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَطَّارِ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ، ثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ “. مستدرك الحاكم

Terkait hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم  ” ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu’jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma’uz Zawaa’id, 1/47), “di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan Ibn Hibban”. Ibn Rajab dalam kitab Jaami’ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.

Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat Majma’uz-Zawaa’id, 11/143), di dalamnya ada Yazid bin Rabi’ah, dan dia matruk.

Ketiga, dari Ibn Mas’ud ra. (Lihat riwayat al-Hakim, 4/356). Imam adz-Dzahabi dalam kitab at-Talkhish mengatakan di dalamnya ada Ishaq dan Maqaatil yang keduanya tidak tsiqah dan juga tidak shadiq.

Keempat, dari Anas ra. dengan lafazh: “wa man laa yahtam lil muslimina falaysa minhum” (al-Baihaqi, Sya’bul Iman, 22/11). Al-Baihaqi menegaskan bahwa isnadnya dha’if.

Demikian juga dengan asy-Syaukani (Lihat al-Fawaa’idul Majmu’ah, 1/40), beliau mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif.

Berkaitan dengan beragamnya jalur, riwayat dan komentar seperti disebutkan sebelumnya, ahsan jika kita menyimak apa yang disampaikan oleh Ibn katsir, beliau berkata: “meriwayatkan hadits bil ma’na dibolehkan oleh jumhur manusia, salaf dan khalaf.. dan diamalkan“. Syaratnya adalah bahwa yang meriwayatkan tahu atas yang dia riwayatkan, bashiirah terhadap lafazh dan maksud dari lafazh. (Lihat al-Baa’its al-Hatsits Fikhtishaari ‘Ulumil Hadits, 18).

Untuk konteks hadits ini, ihtimam terhadap urusan kaum Muslim ditegaskan pada banyak ayat al-Qur’an dan hadits shahih, diantaranya:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain….” [At-Taubah :71]

 وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“(Mereka) nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”[Al ‘Ashr : 3]

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri” (HR Al-Bukhari (1/14 no. 13), Muslim (1/67, 68 no. 45) dan lain-lain, dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu)

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى .

“ Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam rasa cinta mereka, kasih-sayang mereka, dan kelemah-lembutan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam” (HR Muslim (4/1999 no. 2586), dan lain-lain, dari hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu)

Di samping itu, ada yang berpendapat jika terdapat hadits yang sanadnya dha’if tetapi “talaqqathul ulama’ bil qabuul” wajib diambil. Bahkan, para muhaqqiq seperti Ibn Taimiyyah, as-Subki, dan Ibn Abdis Salam menegaskan, bahwa para ulama mengambil hadits yang isnadnya masih “perlu dikaji”, seperti hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم “. Lebih dari itu, mereka menjadikannya sebagai dalil dan sandaran salah satu rukun tasyri’ yang empat (Lihat Arsyif Multaqa Ahlil Hadits, 1/6747). Yang perlu menjadi catatan, bahwa term talaqqathul ummah bil qabul itu tidak ada hubungannya dengan ijma’ atau pembahasan tentang ijma’ mana yang merupakan dalil syara. Istilah tersebut digunakan oleh para ulama untuk suatu hal yang ditransmisikan di tengah-tengah umat, dan tidak ada penolakan dari umat karena memang hal tersebut masyru’ dalam Islam.

Dengan demikian, hadits tersebut di atas bersumber dari beberapa shahabat, dan kebanyakan ulama hadits mendha’ifkan, hanya saja untuk jalur dari Hudzaifah ra. yg diriwayatkan oleh ath-Thabarani; al-Haitsami, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan Ibn Hibban mentsiqahkan Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi. Jadi sebenarnya hadits tersebut makbul. Bahkan ketika Ibn Rajab mencantumkan hadits tersebut dalam kitabnya, dan tidak memberikan komentar apapun, menunjukkan penerimaan beliau terhadap hadits tersebut. Artinya, menurut Ibn Rajab hadits tersebut makbul. Demikian juga perlu dipahami bahwa tidak semua hadits yang sanadnya dha’if matannya otomatis dha’if, karena ada syahid (penguat) pada riwayat yang lain.

Walaupun hadits tersebut pada kebanyakan sanadnya adalah dha’if, tetapi karena ‘talaqqathul ‘ulama bil qabul’, menurut para ulama wajib diambil. Selain itu, meski hadits tersebut pada kebanyakan jalur sanadnya dha’if, tetapi dari segi maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih dan ayat-ayat al-Qur’an yang mewajibkan ihtimam atas kaum muslimin dan urusan mereka. Jadi, bisa dikatakan bahwa periwayatan hadits tersebut adalah bil ma’na, dan ini bagi para ulama salaf dan khalaf adalah boleh. Jika demikian, maka “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم ” adalah adalah makbul, karena: (1) ada sebagian riwayatnya yang makbul; (2) hadits tersebut diriwayatkan “bil ma’na“, dan secara makna sejalan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yg mewajibkan ihtimam terhadap umat Islam dan urusan mereka; (3) hadits tersebut “talaqqathul ulama’ bil qabul“.

catatan tambahan:

(1) tidak semua hadits yang sanadnya dha’if matannya otomatis dha’if..karena bisa jadi ada syawahid (penguat) pada riwayat yang lain..atau bil makna sejalan dengan hadits-hadits shahih atau hasan yang diriwayatkan dengan jalur lain.

(2) terkait dengan hadits “man laa yahtam biamril muslimin falaisa minhum..” maka perlu kami tegaskan kembali:
(a) tema hadits ini adalah “ihtimam biamril muslimin”, misalnya amar ma’ruf nahi munkar (Ali Imran 104 dan 110), hadits saling menasehati antar sesama muslim (Muttafaq alaih, Ahmad, dan an-Nasa’i), mencintai saudara muslim layaknya mencintai diri sendiri (Muttafaq alaih), izalah (menghilangkan) kemunkaran (Shahih Muslim), dan banyak lagi yang lain. Jadi benar secara bilma’na selain didukung al Qur’an juga hadits-hadits shahih. Makanya, hadits tersebut masyhur di kalangan para fuqaha’… dan maudhu’ hadits tersebut talaqqathul ummah bil qabul.
(b) talaqqathul ummah bil qabul itu tidak ada hubungannya dengan ijma’ atau pembahasan tentang ijma’ mana yang merupakan dalil syara. Istilah tersebut digunakan oleh para ulama untuk suatu hal yang ditransmisikan di tengah-tengah umat, dan tidak ada penolakan dari umat karena memang hal tersebut “masyru’..” dalam Islam. Jadi penegasannya memang merupakan perkara yang masyru’.
(c) kalau mencermati penjelasan terkait hadits di atas, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang sanad hadits tersebut, ada yang mendha’ifkan dan ada juga yang menerima. Kalau kita kaitkan dengan bahwa hadits tersebut masyhur menurut para fuqaha’ dan dari segi maudhu’nya (maudhu’ yang disyariatkan oleh Islam baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah), maka hadits tersebut makbul baik dari segi sanad maupun matannya.

yuana ryan tresna

 حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَطَّارِ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ، ثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ “. مستدرك الحاكم

Terkait hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم  ” ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu’jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma’uz Zawaa’id, 1/47), “di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan Ibn Hibban”. Ibn Rajab dalam kitab Jaami’ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.

Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat…

Lihat pos aslinya 670 kata lagi

Mukjizat, Karomah, Sihir & Istidroj

Sungguh memprihatinkan melihat fenomena akhir-akhir ini terkait hal-hal klenik yang menimpa umat Islam. Setelah terungkap kasus “penasehat spiritual” dari pemimpin padepokan yang menjadi tersangka penyalahgunaan sabu-sabu yang dia sebut aspat, tidak lama kemudian muncul kasus padepokan lain yang melakukan penipuan dengan modus ‘penggandaan/pengadaan uang’ dan pembunuhan mantan santrinya. Masalahnya bukan sekedar ratusan milyar atau mungkin trilyunan dana umat yang ‘menguap’, namun yang lebih memprihatinkan dari itu adalah agama Islam yang mulia ini dijadikan justifikasi oleh sebagian besar mereka untuk membenarkan tindakannya.

Read the rest of this entry

Imam Ahmad Menghadapi Penyebar Hoax

Imam al Qurthubi dalam tafsirnya menceritakan bahwa suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Yahya bin Ma’in rahimahulloh sholat di masjid Rushofah. Tiba-tiba ada seorang tukang cerita yang berdiri selepas sholat, lalu ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya berkata : “Telah menceritakan kepada kami Abdurrozzaq dari Ma’mar dari Qotadah dari Anas bin Malik berkata : “Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illalloh, maka Alloh akan menciptakan dari satu kalimat itu seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas sedangkan bulunya dari batu permata,” kemudian dia terus bercerita….

Mendengar itu Imam Ahmad bin Hanbal saling menatap dengan Yahya bin Ma’in. Yahya bin Ma’in bertanya : “Engkau menceritakan kepadanya hadits itu?”

Imam Ahmad menjawab: “Demi Allah, saya belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.” Read the rest of this entry