Category Archives: Dakwah

Jerit Muslim Uighur Untuk “Mu’tashim”

Diantara ciri sehatnya keimanan seseorang adalah adanya rasa persaudaraan dan empati kepada setiap orang yang beriman, dimanapun mereka berada, apapun suku mereka. Ibarat satu tubuh, sakit dan senang akan dirasakan bersama. Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ِ

“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan empati adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”(HR. Muslim).

Menurut satu komite PBB, sekitar satu juta Muslim Uighur ditahan dalam kamp-kamp penguasa Cina. Kelompok hak asasi manusia mengatakan para tahanan dipaksa untuk menyatakan kesetiaan kepada Presiden Xi Jinping, meninggalkan keyakinannya, yakni Islam, bahkan sekedar jenggot dan nama yang Islamipun mereka permasalahkan. [1]

Read the rest of this entry

Lagi Tentang Mengoreksi/Menasehati Penguasa dengan Terang-terangan

Sebagian kalangan ada yang menyatakan bahwa mengoreksi penguasa tidak boleh secara terbuka, lalu mereka mencela orang yang mengoreksi dengan terang-terangan, lebih dari itu mereka katakan aktivitas tersebut membahayakan keamanan.

Enam tahun lalu, bahkan sebelum itu sudah pernah saya tulis tentang hal ini, bagi yang ingin membaca dengan agak panjang bisa di-klik di sini: https://mtaufiknt.wordpress.com/2012/11/23/mengoreksi-penguasa-dengan-terang-terangan-merupakan-cara-khowarij/?

Berikut ini versi singkatnya, plus tambahannya.

Pertama, hadits ‘Iyâdl bin Ghanm yang digunakan sebagai dalil[1] dinilai dho’if oleh Syaikh Muqbil, dalam Tuhfât Al Mujîb, hal 164, sementara Syaikh Syu’aib al Arna’uth menilai tambahan ini hasan lighairihi. Oleh karena itu perbedaan pandangan dari sisi ini tidak layak jadi alasan untuk saling menghina.

Read the rest of this entry

Belajar Tidak Ada Ruginya

Ketika sudah belajar beberapa lama namun tidak juga kunjung mengerti dan mencapai hasil seperti apa yang diinginkan, sebagian orang merasa bahwa upayanya tidaklah berguna, sia-sia belajar kata mereka, lalu mereka berhenti.

Padahal, masalah mau faham atau tidak, disamping itu ada usaha manusia, namun Allah juga yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami pelajaran. Lebih dari itu, sekalipun tidak ada satu katapun yang difahami/dihafal dalam majlis ‘ilmu, hadir dan belajar tetaplah mendapatkan kemuliaan.

Imam Abu Laits (w. 373 H) dalam Tanbîh al-Ghâfilîn h.439 menyatakan:

Read the rest of this entry

Kritik Atas Islam Nusantara

Walaupun berbeda-beda dalam merumuskan istilah ‘Islam Nusantara’, setidaknya istilah ini memuat gagasan pokok bahwa Islam Nusantara bersifat tawasut (moderat)[i], inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, bisa menerima demokrasi dengan baik, sebagaimana kata Azyumardi Azra, juga “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran, didakwahkan dengan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya”, sebagaimana kata Said Agil Siradj, dia menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”[ii]

Read the rest of this entry

Jangan ‘Mengumbar’ Masalah Ikhtilaf

Mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) dikalangan ‘ulama pada dasarnya adalah baik, bahkan Qobishoh bin’Uqbah (w. 215 H), pernah menyatakan:

لَا يُفْلِحُ مَنْ لَا يَعْرِفُ اخْتِلَافَ النَّاسِ

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan (pendapat dikalangan) manusia (ulama’).” [Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Jâmi’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/820. Maktabah Syamilah].

Hanya saja, bagi orang yang berilmu, hendaknya sangat berhati-hati menukilkan berbagai perbedaan pendapat (ikhtilaf) tersebut, pertama perlu dilihat tingkat ikhtilafnya, apakah masyhur atau aneh (syadz), kedua perlu dilihat ke siapa dia menyampaikannya, orang yang gemar melakukan dosa atau ke penuntut ilmu yang menjaga kehormatan diri, dan ketiga perlu dilihat apakah hal tersebut akan dipolitisir dan dijadikan alasan untuk meremehkan agama atau tidak.

Tidaklah halal memberikan keterangan atau menukilkan fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasâhul fiddin (meremehkan dan bermudah-mudah dalam agama).

Read the rest of this entry

Diam yang Menghinakan

Tidak selalu diam itu emas. Adakalanya justru diam adalah kehinaan, seperti saat seharusnya dia melakukan pembelaan kepada agamanya namun justru dia memilih diam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا يَحْقِرْ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ

“Janganlah salah seorang diantara kalian menghinakan dirinya sendiri.”

Mereka (para sahabat) bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَحْقِرُ أَحَدُنَا نَفْسَهُ؟

Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dari kami menghinakan dirinya sendiri?”

Beliau menjawab:

يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالٌ ثُمَّ لَا يَقُولُ فِيهِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِي كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ خَشْيَةُ النَّاسِ فَيَقُولُ فَإِيَّايَ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَى

“Dia melihat satu perkara (yang seharusnya) dia mengucapkan satu perkataan karena Allah atas perkara tersebut, lalu dia tidak mengatakan (pembelaan) kepadanya, maka Allah ‘azza wajalla akan berkata kepadanya kelak di hari Kiamat; ‘Apa yang mencegahmu untuk mengatakan begini dan begini!’ lalu ia menjawab, ‘Saya takut terhadap manusia’. Maka Allah pun berfirman: ‘Aku lebih berhak untuk kamu takuti’.” (HR. Ibnu Majah. Al Bushiri dalam Zawa’id (3/242) berkata: hadist ini sanadnya shahih).

Jika diam saja adalah kehinaan, tentu memutar-mutar lidah yang bisa dikonotasikan masyarakat sebagai pembelaan kepada kezaliman adalah lebih hina lagi, dan jauh lebih hina lagi jika berkata secara nyata untuk menyokong kezaliman terhadap agama.

Read the rest of this entry

Hukum Syari’at & Implikasi Logis

Akal memang mempunyai peran penting dalam keimanan seseorang, bahkan taklif hukum syara’ kepada diri seseorang ditentukan berdasarkan akalnya. Oleh karena itu orang yang belum baligh dan orang gila tidak dibebani kewajiban syari’at karena akalnya tidak sempurna.

Karena tidak semua hal mampu dijangkau akal, maka tidak boleh akal dijadikan pemutus perkara terhadap hal yang tidak dijangkaunya itu. Diantara hal yang tidak dijangkau akal adalah ketentuan halal-haramnya sesuatu, mengapa daging babi itu haram sementara sapi halal, ini bukanlah ranah akal membicarakannya. Peran akal hanyalah memahami dalil (nash), memahami fakta yang dikenai nash (manath) dan menerapkan dalil atas fakta tersebut.

Read the rest of this entry

Utbah bin Rabi’ah, Ksatria Salah Jalan

Jangan kita berfikir bahwa semua penentang dakwah Rasulullah saw masa lalunya dipenuhi dengan kelicikan, kedunguan dan kebejatan. Bahkan di barisan para penentang itu, ada orang-orang cerdik, baik, bermoral, bijak dan punya track record yang cemerlang. Diantaranya ada Utbah bin Rabi’ah (567 – 624 M), yang disifati oleh Imam Adz-Dzahabi sebagai Syaikhul Jâhiliyyah[1].

Namun, tak peduli bagaimanapun kejeniusan seseorang, bagaimanapun kebijaksanaannya, sifat ksatrianya, gelar, pangkat dan kedudukannya, jika dia memposisikan dirinya menghadang jalan dakwah, maka kehinaanlah yang akan menjadi akhir ceritanya, jika tidak segera bertaubat.

Read the rest of this entry

Ketika Sibuk Menuntut Ilmu Jadi Alasan Meninggalkan Dakwah

Sebagian orang ada yang meninggalkan aktivitas dakwahnya ketika merasa kurang ‘ilmu, ditambah dengan celaan orang, “lulusan umum kok dakwah”, “ilmu kunci seperti nahwu, shorof, adab, bayan, badi’, ma’ani saja masih belepotan kok ngajari orang”, ungkapan seperti ini kata al Habib Abdullah bin ‘Alawi al Haddad adalah talbîs (pengkaburan) Syaitan, kesannya baik agar seseorang berjibaku dalam menuntut ilmu, namun sebenarnya adalah keliru, beliau menyatakan:

وعليك) بتعليم الجاهلين وإرشاد الضَّالين وتذكير الغافلين)

“Hendaklah engkau mendidik orang-orang yang bodoh, menunjukkan jalan lurus kepada mereka yang tersesat dan mengingatkan orang-orang yang terlena (dengan segala tipuan dunia).

واحذر أن تدع ذلك قائلاً إنما يعلّم ويذكر من يعمل بعلمه وأنا لست كذلك، أو إني لست بأهل للإرشاد لأنه من أخلاق الأكابر، وهذا كله تلبيس من الشيطان

Hati-hatilah engkau dari meninggalkan yang demikian (dakwah), dengan berkata, “yang (berhak) mengajar dan mengingatkan hanyalah ulama yang mengamalkan ilmunya, sedangkan aku tidaklah demikian”, atau “aku bukanlah orang yang pantas untuk menunjukkan jalan pada orang lain, karena yang pantas untuk itu adalah para tokoh agama.” (ucapan-ucapan) itu semua adalah pengkaburan (talbîs)nya setan.

Read the rest of this entry

‘Abbad bin Bisyr: Tidak Terlena dg Kenikmatan Ibadah

Saat perjalanan pulang dari Perang Dzat ar-Riqa’, Rasulullah SAW dan kaum Muslim kemudian memutuskan menginap di suatu tempat. Rasul menunjuk beberapa orang untuk berjaga bergantian, diantara mereka adalah ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyr r.a.
‘Abbad melihat bahwa ‘Ammar sedang kelelahan, kemudian beliau meminta agar ‘Ammar tidur lebih dahulu. Setelah memeriksa tempat di sekitarnya, dan terlihat aman, ‘Abbad bangkit untuk menunaikan shalat tahajud. Ketika sedang berdiri menuntaskan surah di rakaat pertama, tubuhnya terkena anak panah. Ia mencabut anak panah itu dan melanjutkan bacaannya.

Read the rest of this entry

Serius dalam Beragama

Sebagian orang merasa bahwa beragama itu cukuplah dengan sholat, zakat, sedekah, puasa, memperbanyak dzikir, berlaku baik pada keluarga, tidak perlu ‘neko-neko’ (macam-macam), ‘mengurusi’ persoalan politik, menjelaskan kedzaliman yang terjadi agar masyarakat tidak terjatuh kedalamnya, apalagi ngaji masalah negara, ekonomi nasional, dll.

Ungkapan tersebut bisa mencerminkan ketidaktahuannya, atau bisa juga mencerminkan kesembronoan dalam beragama, merasa enteng saja memikul amanah agama ini, merasa bahwa dosa-dosa terkait politik, ekonomi, sosial, dll adalah enteng. Padahal shahabat Ibnu Mas’ud r.a berkata:

إِنَّ الـمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut). (Diriwayatkan al Bukhory dan Muslim).

Read the rest of this entry

Pandangan Al-Muhaddits Dr. Mahmud Sa’id Mamduh Tentang Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhani dan Hizbut Tahrir

Sebagian orang, karena merasa ber’ilmu, lalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Hizbut Tahrir, padahal kalau mau berkaca sedikit saja, dan melihat bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani adl juga lulusan al Azhar setingkat Doktor dalam masalah Qadha (peradilan), tentu tidak akan gegabah melecehkan beliau dan apa yg beliau dakwahkan…. namun ya begitulah, kadang mata bisa mengingkari terangnya matahari, bukan krn mataharinya yg tidak bersinar atau tertutup awan, namun karena matanya yang sakit.

Read the rest of this entry

Kebohongan di Era ‘Jahiliah’ Modern

Secara bahasa, jahiliah (jâhiliyyah) merupakan bentuk mashdar shinâ’î[i] dari kata jâhil (orang yang memiliki (sifat) jahl). Al jahl (kebodohan) sendiri memiliki tiga bentuk: 1). ketiadaan ‘ilmu (pengetahuan), ini adalah makna asal, 2). meyakini sesuatu berbeda dengan kenyataan sesuatu itu sendiri, dan 3). melakukan sesuatu berbeda dengan apa yang semestinya dilakukan.[ii]

Read the rest of this entry

Polaritas Sektarian: Daur Ulang Fitnah Kepada Hizbut Tahrir

Sungguh berat dosa menebar fitnah, walaupun dia tidak bermaksud memfitnah, karena kesalahan tersebut akan terus berkembang dan mengalirkan dosa kepada pelakunya sekalipun dia telah wafat.

Fitnah yang puluhan tahun lalu telah diklarifikasi bahwa itu tidak benar, atau hanya bersumber dari angan-angan pemfitnah belaka, ternyata masih saja ada yang mendaur ulang, menyebarkan demi motiv-motiv tertentu.

Kenapa bisa banyak tuduhan fatal tersebut? Apakah karena terlalu percaya diri akan pengetahuannya?, ataukah karena terlalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani?, pendiri dan konseptor Hizbut Tahrir. Padahal kalau mau tahu diri sedikit saja, bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani juga alumni Al Azhar setingkat Doktor pada saat ini, S-3 nya juga dalam bidang Peradilan Islam, tentu tidak akan muncul tuduhan-tuduhan aneh, yang justru menghinakan penuduhnya.

Berikut fitnah-fitnah yang didaur ulang tersebut, isinya kurang lebih sama, walau kemasannya baru. Saya tidak menanggapi secara serius, hanya memberikan link seperlunya yang mengantarkan kepada tulisan lama yang pernah saya tulis.

Read the rest of this entry

‘Amr bin Hisyâm, Sang Bapak Kebodohan (Abu Jahal) *)

Sebelum Islam datang, ‘Amr bin Hisyâm (570 – 624 M) adalah orang yang dikenal kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam usia yang masih muda, para tetua Quraisy sudah sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah, oleh karena itu ia dikenal dengan sebutan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan).

Hanya saja, semua itu berubah ketika Islam datang, kecerdasan otaknya tidak digunakan untuk membela Islam, bahkan sebaliknya, digunakan untuk memutarbalikkan fakta dalam rangka menentang kebenaran Islam. Kedudukan dan reputasinya yang sudah tinggi menghalangi dia untuk menerima Islam, ajaran yang bakalan memposisikan manusia sederajat, hanya dibedakan oleh ketaqwaannya.

Read the rest of this entry