Berbagai Kerjasama Bisnis dalam Islam (1): Syirkah ‘Inan, Abdan, Mudhorobah

Dari Jabir bin Abdullah r.a,ia berkata; Rasulullah telah bersabda: …sesungguhnya satu jiwa tidak akan mati hingga rizkinya dipenuhi. Jika rizki itu lambat datangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan percantiklah cara dalam mencari rizki itu, yakni ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram (HR.Ibnu Majah)

Hadits di atas sepertinya harus lebih sering di ingat oleh setiap muslim, apalagi di era sekarang dimana kultur instan sudah merasuki banyak kehidupan masyarakat. Untuk meraup kekayaan dan merengkuh kekuasaan, tidak sedikit orang cenderung menempuh jalan pintas, bukan dengan kerja keras dan cerdas, tanpa peduli lagi apakah halal ataukah haram.

Jangankan memperhatikan aturan syariah, nalar dan logika pun seakan sudah tidak berfungsi bila berkaitan dengan kekayaan yang menjanjikan. Lihat saja yang dilakukan Koperasi Langit Biru (KLB) dan PT Gradasi Anak Negeri (GAN), walau baru berdiri tahun lalu (2011), KLB sudah menjaring uang Rp6 triliun dari 140 ribu nasabahnya.

Belum usai kekagetan akan kasus investasi bodong KLB, terungkap pula penipuan oleh PT GAN. Hanya butuh lima bulan bagi PT GAN untuk menggaet 21 ribu investor yang menyetor hingga total Rp390 miliar. Para nasabah sedikitnya menyetor Rp5 juta dan dijanjikan bisa menggembung hingga puluhan juta dalam waktu relatif singkat.

Praktik itu sesungguhnya bukan hanya menunjukkan kelihaian bandit masa kini mengeruk duit nasabah secara instan. Penipuan berkedok investasi tumbuh subur juga karena budaya instan yang kian melenakan masyarakat kita, disamping kurangnya pemahaman yang berkaitan dengan ketentuan syari’ah dalam mengatur kegiatan kerjasama bisnis dan investasi.

Tulisan ini akan membahas bagaimana kerjasama bisnis sesuai aturan Islam, dengan harapan bisa sedikit memberikan sumbangsih bagi masyarakat agar tidak mudah tertipu dalam bisnis, lebih dari itu agar harta yang mereka kembangkan menjadi harta yang penuh berkah.

Pengertian Perseroan (Syirkah)

Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika- yasyrakusyarikan/syirkatan/syarikatan artinya menjadi sekutu atau serikat.[1] Kata dasarnya boleh dibaca syirkah, boleh juga dibaca syarikah. Akan tetapi menurut Al-Jaziri, lebih fasih dibaca syirkah. Syirkah juga bermakna mencampurkan dua bagian (atau lebih) sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan satu bagian dengan bagian lainnya.[2]

Hukum dan Rukun Syirkah

Syirkah hukumnya mubah/boleh. Orang-orang pada masa Nabi saw telah bermuamalah dengan cara ber-syirkah dan Nabi saw membenarkannya, beliau bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَناَ ثَالِثُ الشَّرِيْكَيْنِ مَالَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua pihak yang ber-syirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Kalau salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi, dan ad-Daruquthni).

Menurut jumhur ‘ulama, rukun syirkah ada 3 yaitu: (1) akad (ijab-kabul), disebut juga shighat; (2) dua pihak yang berakad, syaratnya harus memiliki kecakapan melakukan pengelolaan harta; (3) obyek akad , disebut juga ma‘qûd ‘alayhi, yang mencakup pekerjaan (amal) dan/atau modal (mâl)[3].

Adapun syarat sah akad ada 2 (dua) yaitu: (1) obyek akadnya berupa tasharruf, yaitu aktivitas pengelolaan harta dengan melakukan akad-akad, misalnya akad jual-beli; (2) obyek akadnya dapat diwakilkan (wakalah), agar keuntungan syirkah menjadi hak bersama di antara para syarîk (mitra usaha) (An-Nabhani, 1990: 146).

Macam-Macam Syirkah

Ada dua macam jenis syirkah, yakni perseroan dalam hak milik (syirkatul amlâk) dan perseroan aqad (syirkatul ‘uqûd). Syirkatul amlâk ialah perseroan yang terjadi antara dua orang atau lebih dalam hal kepemilikan suatu barang tanpa akad. Syirkatul amlâk bisa ikhtiyari (ada peran dari dua orang yang berserikat), seperti dua orang membeli satu barang, atau mereka diberi satu hadiah, atau mereka menerima satu wasiyat, dan mereka menerimanya. Bisa juga jabari (tanpa peran dua orang yang berserikat), seperti dua orang/lebih menerima warisan satu barang. Sedangkan syirkatul ‘uqûd adalah akad yang terjadi antara dua orang atau lebih untuk berserikat dalam suatu harta dan keuntungannya.[4]

Menurut An-Nabhani, terdapat lima macam syirkah dalam Islam, yaitu: (1) syirkah inân; (2) syirkah abdan; (3) syirkah mudhârabah; (4) syirkah wujûh; dan (5) syirkah mufâwadhah[5]. An-Nabhani berpendapat bahwa semua itu adalah syirkah yang dibenarkan syariah Islam, sepanjang memenuhi syarat-syaratnya. Pandangan ini sejalan dengan pandangan ulama Hanafiyah dan Zaidiyah.

Menurut ulama Hanabilah, yang sah hanya empat macam, yaitu: syirkah inân, abdan, mudhârabah, dan wujûh. Menurut ulama Malikiyah, yang sah hanya tiga macam, yaitu: syirkah inân, abdan, dan mudhârabah. Menurut ulama Syafiiyah, Zahiriyah, dan Imamiyah, yang sah hanya syirkah inân dan mudhârabah[6].

Syirkah Inân

Syirkah inân adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi kontribusi kerja (‘amal) dan modal (mâl). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil As-Sunnah dan Ijma Sahabat[7]. Contoh syirkah inân: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut.

Dalam syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (nuqûd); sedangkan barang (‘urûdh), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya (qîmah al-‘urûdh) pada saat akad.

Keuntungan didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (syarîk) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%.

Syirkah ‘Abdan

Syirkah ‘abdan adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mâl). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya).

Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.

Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja syirkah ‘abdan terdiri dari beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal.

Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan kesepakatan; persentasenya boleh sama dan boleh juga tidak sama.

Syirkah Mudhârabah

Syirkah mudhârabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl). Istilah mudhârabah dipakai oleh ulama Irak, sedangkan ulama Hijaz menyebutnya qirâdh.[8]

Contoh: A sebagai pemodal memberikan modalnya sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal dalam usaha perdagangan umum (misal, usaha toko kelontong).

Ada dua bentuk lain sebagai variasi syirkah mudhârabah. Pertama, dua pihak (misalnya, A dan B) sama-sama memberikan konstribusi modal, sementara pihak ketiga (katakanlah C) memberikan konstribusi kerja saja. Kedua, pihak pertama (misalnya A) memberikan konstribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalnya B) hanya memberikan konstribusi modal, tanpa konstribusi kerja. Kedua bentuk syirkah ini masih tergolong syirkah mudhârabah.[9]

Syirkah mudhârabah hukumnya boleh berdasarkan dalil As-Sunnah (taqrîr Nabi saw.) dan Ijma Sahabat. Dalam syirkah ini, kewenangan melakukan tasharruf hanyalah menjadi hak pengelola (mudhârib/’âmil). Pemodal tidak berhak turut campur dalam tasharruf. Namun demikian, pengelola terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.

Syarat-Syarat Mudhârabah[10]

Berkaitan dengan syarat-syarat mudhârabah, berkaitan dengan orang yang berakad tidak disyaratkan harus muslim, namun disyaratkan mereka memiliki kelayakan untuk melakukan akad wakalah (perwakilan).

Adapun modal disyaratkan harus berupa uang sebagaimana dalam syirkah ’inan. Kalaupun berupa barang, Ibnu Abi Layla dan Al Auza’i membolehkannya namun harus ditetapkan nilainya dalam standar uang, misalnya seorang memiliki sebuah mobil lalu diserahkan kepada pengelola modal, maka ketika akad kerja sama tersebut disepakati, wajib ditentukan harga mobil tersebut dengan mata uang, misalnya Rp 80 juta; maka modal mudhârabah tersebut adalah Rp 80 juta. Banyaknya modal juga harus diketahui kadarnya oleh kedua pihak, harus ada (tunai) bukan piutang,[11] atau harta yang belum ada, dan harus diserahkan kepada pengelola sehingga pengelola dapat menggunakannya secara langsung.

Berkaitan dengan keuntungan disyaratkan harus diketahui dan disepakati kadar pembagiannya, untuk kedua pihak yang berakad, bukan hanya untuk satu pihak, bukan pula untuk pihak ketiga yang tidak terlibat, misalnya jika pemodal mengatakan “keuntungannya 1/3 untuk ku, 1/3 untuk istriku, 1/3 untukmu”, maka tidak sah, kecuali istrinya bertindak sebagai pengelola.[12] Keuntungannya dibagi dengan persentase dari keuntungan, bukan persentase modal, bukan pula ditentuan nilainya, contohnya jika dikatakan “kita bekerja sama Mudharabah dengan pembagian keuntungan untukmu satu juta perbulan dan sisanya untukku” maka akadnya tidak sah.

Adapun kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam mudhârabah berlaku hukum wakalah (perwakilan), sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya.

Abdurrazzâq meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata:

الْوَضِيعَةُ عَلَى الْمَالِ، وَالرِّبْحُ عَلَى مَا اصْطَلَحُوا عَلَيْهِ

“Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka (pihak-pihak yang bersyirkah.[13]

Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaannya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.[14]

Allahu Ta’ala A’lam. (insya Allah bersambung).[M. Taufik. N.T]

Baca Juga:

[1] Kamus Al-Munawwir, hlm. 765

[2] Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba‘ah, 3/60. Maktabah Syâmilah.

[3] Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu, 5/525, Maktabah Syâmilah. Al-Jaziri, idem, 3/71.

[4] Az-Zuhaili, idem, 5/523.

[5] An-Nabhani, idem, hal. 148

[6] Az-Zuhaili, idem, 5/524.

[7] An-Nabhani, idem, hal 148

[8] Az-Zuhaili, idem, 5/556

[9] An-Nabhani, idem, hal 152

[10] Az-Zuhaili, idem, juz 5 hal 574 dst, ditambah contoh.

[11] Namun jika dikatakan: “ambillah uangku di tempat si A, dan gunakan sebagai modal untuk usahamu (dengan akad mudharabah)” , maka hukumnya boleh, karena uangnya ada, yakni setelah diambil dari si A.

[12] Al Muthi’i, Takmilah Al Majmu’ Syarhu Al Muhadzab , 15/160

[13] Abdurrazzâq, Mushonnaf, 8/248. Maktabah Syâmilah. Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari jalur lain.

[14] Al-Khayyath, Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah, 2/66

Posted on 19 Juni 2012, in Ekonomi, Syari'ah. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. assalamu alaikum wr.wb
    afwan ust, saya mau bertanya!
    Mengapa hanya syirkah mudharabah saja yg dimasukkan sebagai salah satu bentuk bekerja untuk memiliki harta, padahal ada juga syirkah abdan, wujuh, inan mufawadha, kenapa tidak menyebut syirkah secara umum saja? Hal ini ada di dalam kitab nidzamul iqtishadi fil islam tulisan imam taqiyuddin an nabhani ra.

    Suka

    • wa’alaikumussalaam…. yang dimaksud sebab kepemilikan adalah sebab awal diperolehnya harta dari tidak memiliki sama sekali. kalau awalnya sudah ada, maka itu masuk ke bab pengembangan harta (tanmiyyatul maal). mudhorobah, bagi pengelolola menjadi sebab kepemilikan, bagi pemodal (investor) bukan sebab kepemilikan, namun masuk ke tashorruf fil milkiyyah. Allaahu a’lam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s