Author Archives: MTaufikNT

Lagi Tentang Mengoreksi/Menasehati Penguasa dengan Terang-terangan

Sebagian kalangan ada yang menyatakan bahwa mengoreksi penguasa tidak boleh secara terbuka, lalu mereka mencela orang yang mengoreksi dengan terang-terangan, lebih dari itu mereka katakan aktivitas tersebut membahayakan keamanan.

Enam tahun lalu, bahkan sebelum itu sudah pernah saya tulis tentang hal ini, bagi yang ingin membaca dengan agak panjang bisa di-klik di sini: https://mtaufiknt.wordpress.com/2012/11/23/mengoreksi-penguasa-dengan-terang-terangan-merupakan-cara-khowarij/?

Berikut ini versi singkatnya, plus tambahannya.

Pertama, hadits ‘Iyâdl bin Ghanm yang digunakan sebagai dalil[1] dinilai dho’if oleh Syaikh Muqbil, dalam Tuhfât Al Mujîb, hal 164, sementara Syaikh Syu’aib al Arna’uth menilai tambahan ini hasan lighairihi. Oleh karena itu perbedaan pandangan dari sisi ini tidak layak jadi alasan untuk saling menghina.

Read the rest of this entry

Saudara Ipar Adalah Kematian

Pagi tadi (8/12) saat mengisi pengajian yang membahas tentang pergaulan pria dan wanita, seorang bapak bercerita tentang seorang dokter pria di Banjarmasin. Karena secara materi berkelebihan, dia mengajak adik lelakinya untuk tinggal bersama di rumahnya, sekaligus menemani dan menyopiri mobil istrinya. Lama-lama terungkap bahwa adik lelakinya bukan hanya menyopiri mobil istrinya, namun juga ‘menyopiri’ istrinya. Mereka akhirnya bercerai, dokter tersebut membeli rumah baru, sementara mantan istrinya menikah dengan adiknya.

Kejadian yang kurang lebih sama juga terjadi di pelosok Kalimantan Selatan. Bedanya, sang istri yang membawa adik perempuannya tinggal bersama dia dan suaminya. Suatu ketika gegerlah rumah tersebut karena adiknya yang belum menikah ternyata hamil, dan pelakunya ternyata adalah suaminya sendiri. Setelah diteliti, ternyata perselingkuhan itu telah berlangsung lama, 7 tahun!.

Read the rest of this entry

Mahram Terkait Hadits Larangan Khalwat

Rasulullah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahram sang wanita tersebut.’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Khalwat yang haram dalam hadits ini terkait berduaannya seorang lelaki dan seorang wanita di tempat sepi dan tertutup dari pandangan manusia, dimana orang lain tidak bisa masuk tanpa izin dari mereka. Dalam Syarh Shahih Muslim (9/109), Imam al-Nawawi menyatakan bahwa khalwat tetap diharamkan walaupun yang dilakukan adalah salat berjama’ah.

Read the rest of this entry

Cara Mengurus Jenazah Bayi Keguguran

Bayi lahir keguguran yang tidak ada tanda-tanda kehidupan saat lahir seperti bergerak dan sejenisnya, dan kegugurannya belum sampai pada batas tertiupnya ruh yakni dalam kandungan usia kurang dari 4 bulan menurut madzhab Syafi’i, maka ulama sepakat bahwa ia tidak dishalati, dan tidak dimandikan, cukup dikuburkan begitu saja.

Adapun jika kandungan telah berusia 4 bulan keatas maka ada dua pendapat, menurut pendapat yang lebih azhhar ia tidak dishalatkan, tetapi dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab, namun bila ia bergerak (ada tanda kehidupan setelah empat bulan) maka dishalatkan menurut pendapat yang lebih azhhar dan dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab.

Read the rest of this entry

Jilbab, Kerudung, Hijab dan Niqab

Jilbâb, jamaknya jalâbîb menurut umumnya orang Arab adalah baju kurung panjang, sejenis jubah[1], bukan sekedar kerudung.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS. Al Ahzab: 59).

Memang ada berbagai penafsiran terkait makna jilbâb ini, ada yang memaknainya sebagai ridâ yang dipakai di atas kerudung, ada yang memaknainya sebagai al milhafah (sejenis jubah/mantel), namun Imam al Qurthubi setelah menjelaskan berbagai pendapat tersebut, beliau menyatakan

وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ الثَّوْبُ الَّذِي يَسْتُرُ جَمِيعَ الْبَدَنِ

“Yang tepat, bahwasanya jilbab itu adalah pakaian yang menutupi seluruh badan.”[2]

Read the rest of this entry

Ghibah (Menggunjing) Tidak Selalu Haram

Ghibah (menggunjing) adalah membicarakan perihal orang lain yang tidak disukai olehnya, saat orang lain tersebut tidak ada, baik itu terkait kekurangan fisiknya, rumahnya, kendaraannya atau hal lainnya, baik menggunjingnya langsung lewat ucapan maupun tidak langsung seperti lewat grup Whatsapp, Facebook, Twitter dsb, baik menggunjingnya sembunyi-sembunyi berdua atau bertiga ataupun menggunjingnya ‘berjamaah’ dalam suatu majlis. Nabi saw bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ» قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»

“Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, Nabi saw berkata, “(yaitu) kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” Lalu ada yang mengatakan, “Bagaimana jika apa yang aku sebut memang benar-benar dimiliki oleh saudaraku?” Nabi menjawab, “(Jika memang demikian) berarti engkau telah mengghibahnya. Namun jika (apa yang kamu sebut) tidak ada pada dirinya, berarti Engkau telah berdusta.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Penipuan Dalam Jual Beli (Tadlis)

Definisi

Secara bahasa tadlîs artinya al-khidâ’ wa al-ibhâm wa at-tamwiyah (penipuan, kecurangan, penyamaran, penutupan)[1].

Para ahli fikih mengartikan tadlîs di dalam jual-beli adalah menutupi aib barang.[2] Hanya saja dari deskripsi nash yang ada, meski barangnya tidak ada cacatnya, tadlis tetap terjadi jika barang yang dijual ternyata tidak sesuai dengan yang dideskripsikan atau yang ditampakkan.

Read the rest of this entry

Ketika Rayap Mengajarkan Adab

Walaupun banyak protes terhadap anggotanya yang membakar bendera tauhid (ar rayâh), jangankan minta maaf, si nganu tetap bersikeras bahwa tindakannya benar : bermaksud memuliakan kalimat tauhid agar tidak dijadikan sebagai alat propaganda oleh ormas tertentu….

***

Ketika Abu Jahal menjadikan nama Allah dalam naskah pemboikotan kepada Rasulullah, lalu naskah ini ditempel di dinding ka’bah.. (bayangkan kalau saat itu ada si nganu, ka’bah dan naskah pemboikotan bisa jadi akan dibakar, dianggap seperti ‘masjid dhiror’).

Setelah tiga tahun terasingkan di celah bukit, solidaritaspun datang, justru datangnya dari sebagian orang kafir yang menaruh belas kasihan kepada umat Islam: Hisyam bin ‘Amr, Zuhair bin Umayyah, Abul Buhturiy, Zam’ah bin Al-Aswad dan Muth’im bin Adi, merekalah yang ‘berkomplot’ merekayasa opini agar pemboikotan diakhiri….

Singkat cerita, ketika Muth’im bin Ady mau merobek naskah perjanjian tersebut, dia mendapati naskah perjanjian itu telah dimakan rayap, kecuali bagian awalnya yang berbunyi: Bismika Allaahumma. (Ibnu Ishaq (w. 151 H), As Siyar Wal Maghazi, hal 167).[1]

Read the rest of this entry

Haram Memilih Pemimpin Zalim

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), salah seorang ulama besar madzhab Syafi’i, menyatakan dalam kitabnya Al-Zawâjir ’an Iqtirâfi Al-Kabâir:

الْكَبِيرَةُ الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ بَعْدَ الثَّلَاثِمِائَةِ: تَوْلِيَةُ جَائِرٍ أَوْ فَاسِقٍ أَمْرًا مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ

“Dosa besar ke 341: memilih (menunjuk) orang yang sewenang-wenang (zalim) atau fâsiq untuk mengurusi urusan-urusan umat Islam.”[1]

Beliau mengungkapkan berbagai dalil, diantaranya:

Read the rest of this entry

Akar Masalah Korupsi

Walaupun banyak kasus korupsi berhasil terungkap, bahkan ada daerah yang 41 dari 45 anggota DPRD nya ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, namun Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2017 tetap stagnan, tetap di skor 37[1] hingga menempatkan Indonesia di ranking 96 untuk negara yang bersih dari korupsi. Ini tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa ini bisa terjadi? apa akar masalahnya? Sudahkah serius memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya?

Tiga Jenis Korupsi

Tidak selalu korupsi itu berarti memperkaya diri sendiri. Setidaknya ada tiga kemungkinan seseorang melakukan korupsi:

Pertama, karena memang ingin memperkaya diri, atau untuk mengembalikan ‘modal’ yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan jabatan.

Kedua, karena terpaksa, baik terpaksa karena dia sebagai bawahan yang ‘dipaksa’ atasan untuk korupsi, atau keadaan yang memang memaksa, seperti komputer kantor rusak sementara tidak ada anggaran untuk perbaikan atau pembelian, padahal komputer tersebut sangat diperlukan untuk pekerjaan kantor, di sisi lain mengajukan perbaikan anggaran juga lambat, akhirnya mengalihkan pos anggaran lain untuk membeli komputer, hal seperti ini bisa dikategorikan korupsi dalam bahasa hukum Indonesia.

Ketiga, tidak tahu atau tidak sengaja. Seperti seseorang dapat dana untuk membangun satu ruangan, karena perlunya dua ruangan maka dana tersebut dia tambahi sendiri agar cukup untuk membangun dua ruangan. Jika hal ini di audit, salah-salah pelakunya bisa tertuduh korupsi. Termasuk di sini misalnya dana BOS digunakan semuanya untuk membangun gedung pesantren.

Read the rest of this entry

Benarkah Alquran Tidak Berbahasa Arab?

Dalam kuliah sore kemarin (17/10/18), Prof. AM dari UIN Suka menyampaikan hasil penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa ternyata Alquran itu asalnya bukanlah berbahasa Arab, namun Syro-aramaic. Saya langsung teringat dengan Christoph Luxenberg yang sekitar 15 tahun lalu pernah memunculkan pernyataan yang sama.

Ketika ada peserta yang menyampaikan Surat Yusuf/12: 2:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab”[1]

Beliau menjawab bahwa itu adalah wilayah teologi, sementara hasil penelitian tadi adalah wilayah ilmiah. Salah satu alasan yang AM sampaikan adalah bahwa bahasa Arab itu baru muncul belakangan setelah Alquran, yakni setelah digagas oleh Abul Aswad Ad-Du’ali.

Memang benar bahwa yang dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab (Nahwu) adalah Abul Aswad Ad-Du’ali (603—688M), dan memang beliau hanyalah seorang tabi’in sehingga saat Alquran turun beliau belum ada, beliau murid sekaligus shahabat Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib.

Hanya saja, logika saya kok tidak bisa menerima alasan tersebut, tidak tersusunnya ilmu Nahwu itu tidak cukup untuk menjadi alasan bahwa bahasa Arab tidak ada, karena bahasa itu tidak harus ada manuskrip sebagai bukti keberadaannya, dia diwariskan lewat ucapan, bukan semata-mata lewat tulisan/manuskrip.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut saya bertanya, “dengan alur berpikir tersebut, walaupun turun temurun nenek moyang bangsa Indonesia biasa membuat tempe, namun andai tidak ada manuskrip yang menjelaskan tentang proses dan tata cara pembuatan tempe dari Indonesia, apakah bisa disimpulkan secara ilmiah bahwa tempe itu bukan buatan orang Indonesia?” beliau jawab secara retoris “bisa, bahkan kalau dikatakan tempe itu asalnya dari planet lain juga bisa, asal terbukti secara ilmiah. Tidak salah juga sih jawaban beliau, kan ada ucapan “asal terbukti secara ilmiah” nggak sempat lagi untuk menyambung pertanyaan karena waktu pertemuan habis.

Jika yang dimaksud “terbukti secara ilmiah” itu harus ada dokumen/manuskrip yang menunjukkan itu, maka saya merasa ini adalah kemunduran berpikir ilmiah. Banyak realitas empirik, hal yang sudah jelas nyata, akan tertolak ketika tidak ada manuskripnya, bahkan orang yang sejak lahir tidak pernah mengurus dokumen apapun juga akan tertolak keberadaannya karena tidak adanya manuskrip (dokumen) sebagai bukti kalau dia ada. Namun anehnya AM membela dan me-“maha benar”kan[2] teori evolusi Darwin, padahal tidak ada manuskrip yang membuktikannya, yang ada hanya kumpulan berbagai fosil yang dia (Darwin) beri makna sesuai alur pemikirannya.

Apa yang disampaikan AM, sebenarnya sudah lebih dari 15 tahun lalu disampaikan Christoph Luxenberg, dan hal tersebut sudah terbantah oleh Syamsuddin Arief, PhD, alumni  ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, saat menulis tulisan di bawah  beliau sedang melakukan penelitian di Johann Wolfgang Goethe-Universitdt, Frankfurt am Main, Jerman, untuk PhD kedua.

Beliau menyatakan tidak sulit untuk membantah dan menolak Luxenberg, sebab seluruh uraiannya dibangun atas asumsi-asumsi yang keliru:

Pertama, ia mengira Al-Qur’an dibaca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan.

Kedua, ia menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks.

Ketiga, ia menyamakan Al-Qur’an dengan Bibel, dimana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk difahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan fondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya. Beliau jelaskan ini panjang lebar.

Beliau juga mengemukakan review dari pakar Semitistik dan Direktur Orientalisches Seminar di Universitas Frankfurt, Prof. Hans Daiber, yang menyatakan bahwa dari sudut metodologi pun karya Luxenberg cukup bermasalah dan karena itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam review-nya atas buku Luxenberg, Daiber mengemukakan tidak kurang dari lima poin, ulasan lengkapnya bisa dibaca dalam tulisan dibagian bawah ini. Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Kajian Pemikiran Islam AL-INSAN Vol. 1 Tahun I, Jakarta. [Muhammad Taufik]

Read the rest of this entry

Khalifah Umar Menjinakkan Gempa Bumi

Imam al-Haramain (w. 478 H) menceritakan bahwa pada masa ‘Umar r.a pernah terjadi gempa bumi. Ketika itu ‘Umar segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sementara bumi sedang bergoncang dengan keras.

Kemudian `Umar memukul bumi dengan cambuk sambil berkata,

قُـــري ألم أعدل عليكِ

“Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.”

Maka bumipun langsung tenang saat itu juga.

Imam al-Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi, karena pada hakikatnya `Umar r.a. adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin, beliau adalah khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga `Umar menghukum (menta’zir) dan mendidik bumi (dengan mencambuknya) ketika bumi ‘berulah’, sebagaimana beliau menta’zir penduduk bumi karena kesalahan-kesalahan mereka.[1]

Read the rest of this entry

Usai Shalat Fardhu, Wirid atau Shalat Rawatib Dulu?

ketika selesai shlt fardhu, lgsg shlt rowatib ba’diyah tnpa dzikir terlebih dahulu krn khwtr hadats apkh boleh? Krn ada yg menyampaikan u dzikir dan doa dulu

***

Pertama, Ketika sedang kebelet BAK dan BAB, maka yang lebih afdhol adalah BAK dan BAB dahulu. Jangankan shalat sunnah rawatib atau wirid, jika BAK dan BAB itu berbenturan dengan shalat fardhu berjamaah sekalipun, afdholnya tetap BAK dan BAB dulu.

Rasulullah bersabda:

لا صلاة بحضرة طعام، ولا هو يُدافعُه الأخبثان

“Tidak sempurna shalat saat dihadirkannya makanan, tidak pula saat dia kebelet BAK dan BAB” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Taklid dalam Masalah Akidah

Definisi Taklid

Taklid menurut bahasa adalah

اتباع الغير دون تأمل

mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi.”

Sedangkan taklid menurut syara’, dalam al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah  juz 1 didefinisikan sebagai :

العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة

melakukan suatu perbuatan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah yang mengharuskan perbuatan tersebut” [1]

Taklid bisa terjadi pada orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, bisa juga terjadi pada seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia.

Taklid dalam Masalah Akidah

Berbeda dengan masalah hukum syara’ yang boleh bertaklid, taklid dalam masalah akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang taklid dalam masalah akidah, misalnya firman Allah Swt:

Read the rest of this entry

Kewajiban Menafkahi Kerabat

Menafkahi para kerabat (orang tua, saudara dan lainnya) menjadi wajib jika terpenuhi syarat- syaratnya, diantaranya:

Pertama, jika kerabat tersebut dalam keadaan faqir/miskin sehingga tidak mampu menafkahi diri mereka sendiri, dan tidak ada orang lain yang menafkahi mereka. Tetapi jika mereka mampu, atau ada orang lain yang menafkahi mereka dengan cukup, maka gugurlah kewajiban ini.

Read the rest of this entry