Author Archives: MTaufikNT

Seorang Mukmin Tidaklah Berdusta

Kebohongan adalah salah satu sifat tercela dalam Islam, bahkan sebelum Islam, para penyembah berhala di Makkah sudah menganggap kebohongan adalah ‘aib yang sangat memalukan.

Abu Sufyan, salah satu tokoh Quraisy, saat masih menjadi penyembah berhala pernah ditanya Kaisar Heraqlius, lewat penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi (yakni Nabi Muhammad saw). Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.” Abu Sufyan berkata:

فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ

“Demi Allah, jika bukan karena rasa malu aku akan mereka tuduh telah berdusta, niscaya aku akan berdusta tentangnya.” (Shahih al Bukhari, 1/8. Maktabah Syamilah).

Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya:

أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَاناً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» .

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلاً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ»

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّاباً؟ فَقَالَ: «لاَ»

“Apakah seorang mukmin bisa bersifat pengecut? Beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanya lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa bersifat pelit?’, beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanyakan lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?’, beliau menjawab: tidak” (HR. Imam Malik dalam al Muwaththa’ dan al Baihaqi dalam Syu’abul ‘Iman).

Read the rest of this entry

Iklan

Sedang Shalat Datang Gempa, Haruskah Dibatalkan Saja?

Dalam kondisi normal, tanpa adanya udzur, jika sedang dilaksanakan, shalat tidak boleh dibatalkan begitu saja. Oleh karena itu, saat lupa bacaan maupun lupa jumlah rakaat, solusinya bukan membatalkan sholat lalu mengulanginya.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kalian membatalkan amalan-amalan kalian.” (QS. Muhammad: 33).

Namun ketika ada udzur atau bahaya yang mengancam dirinya ataupun orang lain, dan untuk menghindari bahaya tersebut dia harus membatalkan shalatnya, dan tidak ada orang lain yang mau dan mampu menghilangkan bahaya tersebut, maka dia harus membatalkan shalatnya dan mengulangi shalatnya lagi setelah bahaya berlalu jika masih dalam waktunya, atau mengqodho’nya jika telah lewat waktunya, namun jika dia tidak melakukannya, justru melanjutkan shalatnya, maka dia berdosa walaupun shalatnya tetap sah.

Read the rest of this entry

Kritik Atas Islam Nusantara

Walaupun berbeda-beda dalam merumuskan istilah ‘Islam Nusantara’, setidaknya istilah ini memuat gagasan pokok bahwa Islam Nusantara bersifat tawasut (moderat)[i], inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, bisa menerima demokrasi dengan baik, sebagaimana kata Azyumardi Azra, juga “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran, didakwahkan dengan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya”, sebagaimana kata Said Agil Siradj, dia menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”[ii]

Read the rest of this entry

Hukum Siapakah yang Lebih Baik?

Diantara  masalah yang dihadapi  oleh hukum pidana dalam sistem sekuler saat ini, adalah tidak mampu mengerem meningkatnya angka kriminalitas, akibatnya muncul masalah susulan, mulai besarnya anggaran untuk mengurus dan memberi mereka makan, daya tampung yang dipaksakan hingga over capacity, sebagai konsekuensinya, sulit untuk membina mereka, sehingga tidak sedikit ‘alumni lapas’ yang setelah ‘lulus’ ternyata masih ‘tidak lulus’ dalam meninggalkan kebiasaan kriminal mereka, sebagiannya malah bertambah ahli.

Pemerintahpun sepertinya “bingung” dalam mengatasi masalah ini. Pada tahun 2005, jumlah penghuni Lapas di Indonesia mencapai 97.671 orang, pada 2013 jumlahnya meningkat menjadi 157.684 orang, ini sudah kelebihan 50.751 orang dari kapasitas semestinya, kata Denny Indrayana waktu itu[1]. Terlebih lagi saat ini, 2018, kata Menkumham Yasonna Laoly, penghuni Lapas meningkat menjadi 240 ribu orang. (ANTARA News, 13 April 2018)

Dengan anggaran makan 15 ribu per hari, tiap hari perlu Rp 3,6 milyar hanya untuk memberi makan, belum biaya lainnya. Wajar jika Yasonna mengeluh “Untuk biaya makannya saja Rp1,3 triliun dan ini masih utang Rp200 miliar”, katanya.[2]

Read the rest of this entry

Shalat Dua Gerhana

Istilah gerhana dalam hadis-hadis disebut kusuf atau khusuf dan kedua istilah ini dalam hadis dapat dipertukarkan penggunaannya. Hanya saja dalam literatur fikih, biasanya kata kusuf digunakan untuk menyebut gerhana matahari dan khusuf untuk menyebut gerhana bulan. Sering juga digunakan bentuk ganda “kusufain” untuk menyebut gerhana matahari dan gerhana bulan sekaligus.

Read the rest of this entry

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Cinta

Tak selamanya suatu rumah tangga selalu dihiasi ‘bunga-bunga cinta’, tidak sedikit cinta yang awalnya membara, seiring berjalannya waktu akan semakin redup, lalu mati, bahkan menyisakan rasa tidak suka, baik disebabkan fisik yang tidak lagi sedap dipandang mata, atau perangai yang tidak lagi mempesona. Apakah ketika itu terjadi, perceraian menjadi jalan keluarnya? Ada baiknya kita renungi bagaimana sikap orang shaleh ketika menghadapi hal tersebut.

Berqurban Atas Nama Ortu yang Sudah Wafat

Berqurban atas nama orang lain yang masih hidup tanpa seizinnya adalah tidak sah, begitu juga berqurban atas nama orang lain, termasuk orang tua, yang sudah meninggal — dantidak pernah berwasiat agar berqurban –juga tidak sah menurut qoul ashohh dalam madzhab Syafi’i.

Imam an Nawawi menyatakan:

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا

“Tidak ada (tidak sah) berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) tanpa izinnya, dan tidak (tidak sah) juga untuk mayit jika ia tidak pernah berwasiat untuk berqurban atas namanya” (Minhajut Thalibin, 1/321. Maktabah Syamilah). Read the rest of this entry

Solusi Islam atas Kenaikan Harga

Meningkatnya harga telur bulan ini cukup tinggi, efeknya juga cukup terasa, misalnya keu bolu[1] yang sebelumnya harganya Rp. 32 ribu naik 25% menjadi Rp. 40 ribu per biji.

Tidak heran jika kemudian Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ‘menganalisis’ dan memberitahu kepada masyarakat bahwa naiknya harga tersebut dipicu oleh sejumlah momentum seperti hari raya, masa libur yang panjang hingga perhelatan pesta sepak sepak bola Piala Dunia[2], namun demikian pihak kepolisian tetap menyelidiki penyebab kenaikan harga telur tersebut.[3]

Read the rest of this entry

Minta Cerai Karena Dimadu (Poligami)

Poligami hukum asalnya boleh, walau bisa berubah jadi sunnah, makruh ataupun haram, namun demikian seorang wanita juga boleh menolak dipoligami, asalkan penolakannya atas dasar perasaan saja, bukan karena menolak hukum/syariat yang membolehkan seorang suami melakukan poligami, atau menganggap bahwa hukum dibolehkannya berpoligami merupakan bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Walaupun istri menolak, jika suami tetap saja berpoligami—karena poligami memang tidak disyaratkan harus ada izin istri—maka istri tidaklah boleh begitu saja minta cerai dengan alasan dipoligami. Rasulullah bersabda:

أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ، فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ

wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Read the rest of this entry

Halal Haram Poligami

Menikah hukum asalnya adalah sunnah, namun jika sudah punya istri, menambah istri lagi (poligami) hukum asalnya adalah mubah/boleh, bukan sunnah. Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’ : 3)

Meskipun pada dasanya mubah, poligami hukumnya bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram, tergantung keadaan lelaki yang akan melakukan poligami.

Read the rest of this entry

Bersyukur dalam Menghadapi Musibah

Pada dasarnya musibah adalah ujian dalam hidup. Sebagaimana layaknya suatu ujian, dia akan menyaring dan membedakan manusia, mana yang lulus mana yang tidak, mana yang nilainya tinggi, dan mana yang nilainya rendah.

Musibah telah memetakan nilai manusia pada empat kelompok: pertama, orang yang selalu berkeluh kesah dan mengadu kepada sesama manusia, kedua, orang yang bersabar, tidak mengeluh dan mengadu kecuali kepada Allah, ketiga, orang yang ridho dengan musibah yang menimpanya, dan keempat adalah kelompok orang yang bersyukur dalam suasana musibah tersebut.

Read the rest of this entry

Sudahkah Mengenal Calon yang Akan Dipilih?

Mengenal seseorang yang akan dipilih adalah sangat penting, baik akan dipilih sebagai pekerja, rekan bisnis, gurunya anak-anak, akan dijadikan sebagai suami/istri, terlebih lagi mau dijadikan wakil dalam pemerintahan, atau bahkan sebagai pemimpin.

Khalifah Umar bin al Khattab sangat teliti dalam hal ini, bahkan sekedar urusan menjadi saksi dalam suatu kesaksian beliau tidak gegabah, beliau meminta orang yang bersaksi tersebut untuk mendatangkan seseorang yang mengenal betul diri orang yang akan bersaksi tersebut.

Imam al Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah hendak memberi kesaksian kepada Umar bin al-Khattab. Maka Umar berkata padanya: 

لَسْتُ أَعْرِفُكَ، وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ، ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ

“Aku tidak kenal kamu, dan tidak masalah aku tidak mengenalmu, (namun) datangkanlah seseorang yang mengenal kamu.”

Read the rest of this entry

Hukum Ngecat/Nyemir Rambut dan Jenggot

Hukum menyemir/ngecat rambut dan jenggot bergantung dengan siapa pelakunya dan jenis semirnya.

Jika pelakunya lelaki, dan semirnya hitam[1], menurut Malikiyyah, Hanafiyyah dan Hanabilah hukumnya makruh, kecuali dalam peperangan untuk menakuti musuh, yakni agar mereka melihat bahwa tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda. Namun kalangan Malikiyyah mengharamkan menyemir rambut dengan warna hitam jika tujuannya adalah untuk mengelabui orang lain, yakni agar mereka mengira bahwa pelakunya masih muda.

Adapun Syafi’iyyah secara umum berpendapat bahwa menyemir rambut dan jenggot dengan warna hitam hukumnya haram.

Read the rest of this entry

Jangan ‘Mengumbar’ Masalah Ikhtilaf

Mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) dikalangan ‘ulama pada dasarnya adalah baik, bahkan Qobishoh bin’Uqbah (w. 215 H), pernah menyatakan:

لَا يُفْلِحُ مَنْ لَا يَعْرِفُ اخْتِلَافَ النَّاسِ

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan (pendapat dikalangan) manusia (ulama’).” [Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Jâmi’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/820. Maktabah Syamilah].

Hanya saja, bagi orang yang berilmu, hendaknya sangat berhati-hati menukilkan berbagai perbedaan pendapat (ikhtilaf) tersebut, pertama perlu dilihat tingkat ikhtilafnya, apakah masyhur atau aneh (syadz), kedua perlu dilihat ke siapa dia menyampaikannya, orang yang gemar melakukan dosa atau ke penuntut ilmu yang menjaga kehormatan diri, dan ketiga perlu dilihat apakah hal tersebut akan dipolitisir dan dijadikan alasan untuk meremehkan agama atau tidak.

Tidaklah halal memberikan keterangan atau menukilkan fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasâhul fiddin (meremehkan dan bermudah-mudah dalam agama).

Read the rest of this entry

Khulu’ (Talak Tebus)

Disamping istri bisa menggugat cerai suaminya (menuntut fasakh), dan hakim bisa memutuskan ikatan pernikahan jika terpenuhi syarat-syarat nya walaupun suami bersikeras tidak mau menceraikan, seorang istri juga bisa melepaskan ikatan pernikahan dari suaminya dengan melakukan khulu’ (talak tebus).

Khulu’ sebenarnya adalah salah satu jenis perceraian, namun memiliki hukum-hukum khusus yang membedakannya dengan perceraian biasa.

Khulu’ adalah berpisahnya suami istri, permintaan berpisah dari sang istri, dengan adanya kompensasi/pengganti dari pihak istri. Hukumnya adalah boleh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. AL-Baqarah: 229).

Maknanya “khiftum” (khawatir) adalah “dzann” (dugaan), makna “allaa yuqiima huduudallaah” (keduanya tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah) maknanya adalah adanya ketidak sukaan salah satu pasangan dengan pasangannya, atau istri menduga bakalan tidak sanggup mentaatinya, atau suami menduga tidak bakal sanggup menunaikan hak-hak istrinya, maka tidak mengapa suami mengambil tebusan dari sang istri.

Read the rest of this entry