Author Archives: MTaufikNT

Jatuhkah Talak Dalam Kondisi Dipaksa?

 imageMenceraikan istri dalam kondisi dipaksa, jika terpenuhi syarat-syaratnya maka tidaklah jatuh talak tersebut. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sungguh Allah tidak menghukum umatku karena tersalah, lupa dan dipaksa orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Fath al-Qorîb, hal 244, dijelaskan bahwa tidak jatuh talak itu jika paksaan tersebut terjadi tanpa hak. Sebaliknya jika paksaan itu dengan hak, seperti paksaan hakim kepada orang yang telah meng-‘ila[1] istrinya, dan berakhir masa ‘ila yang dibenarkan Islam, lalu hakim memaksa untuk mentalaknya, maka jatuhlah talaknya.

Begitu juga tidak setiap paksaan menjadikan tidak jatuhnya talak. Syarat paksaan yang jika terpenuhi menjadikan tidaklah jatuh talak adalah[2]:

Read the rest of this entry

Selamatkan Generasi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, Beliau menjawab:

الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Mulut dan kemaluan.” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata; hadits ini shahih gharib).

Perzinaan, baik yang dilakukan dengan alasan ‘kasih sayang’ di hari Valentine maupun dilakukan dengan alasan ekonomi, disamping akan mencelakakan di akhirat, di duniapun bisa membuat celaka. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Tengah (Jateng) memperkirakan sekitar 27.000 pelajar di Jateng terindikasi mengidap HIV/AIDS (Solopos.com, 29/11/18). Sementara di Banjarbaru, KPA Kota Banjarbaru menyebut setiap pekan, satu orang terjangkit HIV/AIDS di Kota Banjarbaru, itu hanya yang terdeteksi KPA (banjarbaruklik.com, 12/8/17).

Read the rest of this entry

Belajarlah Sebelum Memimpin

“Saya dilamar seorang lelaki yang tidak begitu mengerti agama, namun dia berjanji mau mengaji setelah menikah, apakah saya terima lamarannya dan menikah dahulu, ataukah nanti?” begitu kurang lebihnya satu pertanyaan yang terlontar dari peserta kajian keluarga pada tanggal 2/2/19 di Banjarmasin.

Kepala keluarga adalah pemimpin dalam wilayah keluarga. Dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya; diarahkan ke mana keluarganya, bagaimana dia menjalankan kehidupan berkeluarga, apa hak dan kewajiban dari masing-masing anggota keluarganya, kondisi apa yang menyebabkan runtuhnya/bercerainya suami-istri, semua itu mesti difahami sebelum seseorang benar-benar menjadi kepala keluarga.

Read the rest of this entry

Islam & Ujaran Kebencian

Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, menyuruh berbuat kebaikan, berlaku adil dan menolong sesama, bahkan binatang melata sekalipun tidak boleh dianiaya. Namun di sisi lain Islam ‘mengajarkan kebencian’ dan menyeru manusia untuk membenci apa yang dibenci oleh Islam. Rasulullah bersabda:

Bukan hanya membenci apa yang dibenci Allah, namun seorang muslim juga dituntut untuk ‘menyebarkan kebencian’ tersebut, dalam hadis dikatakan”

وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِى فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ، ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الأَرْضِ

“Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Rasulullah saw. bersabda, “Kemudian Jibril pun membencinya dan menyeru kepada penghuni langit, sesungguhnya Allah telah membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Rasul saw. bersabda, “Kemudian mereka pun membencinya dan setelah itu kebencian baginya akan diletakan di bumi.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Menghadapi Pasangan Pemarah

Sebelum menghukumi bahwa pasangan (suami/istri) kita pemarah, perlu dianalisis lebih dahulu persoalan apa yang banyak memicu terjadinya kemarahan tersebut. Jika persoalannya memang secara syar’i menuntut munculnya kemarahan maka sudah selayaknya suami/istri kita marah, ini adalah marah yang terpuji. Misalnya istri yang keluar rumah tanpa menutup aurat, menggampangkan urusan shalat, bermuamalah yang tidak syar’i, atau menggunjing memang layak dimarahi, ini juga berlaku untuk suami.

Kemarahan yang hanya dipicu oleh hal-hal sepele dan tidak syar’i, inilah yang bisa dijadikan acuan untuk mendefinisikan bahwa suami/istri kita pemarah. Misalnya istri marah gara-gara suami telat pulang sebentar saja, atau suami naik pitam gara-gara istri tidak pandai masak sehingga seringkali makanan gosong , dll.

Memilih Sejak Awal

Adakalanya seseorang memang bersifat pemarah. Ingin semua serba perfect, sedikit saja melihat hal yang tidak sesuai kehendaknya, amarahnya segera tersulut. Oleh sebab itu, karakter ini perlu dikenali sejak seseorang memilih calon istri/suami.

Read the rest of this entry

Khilafah Ajaran Islam

Tulisan menarik dari Dr. Daud Rasyid, Lc., MA, seorang akademisi bidang hadits dan syariah, disampaikan secara resmi di persidangan PTUN, Jakarta Timur, tanggal 08 Pebruari 2018, disertakan pula berbagai literatur sebagai referensi yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

*****

KHILAFAH AJARAN ISLAM

Dr. Daud Rasyid, Lc., MA (*)

Istilah Khilafah

Khilafah adalah isim syar’i [istilah syariah]. Artinya, Khilafah ini bukan istilah buatan manusia, karena istilah ini pertama kali digunakan dalam nash syariah dengan konotasi yang khas, berbeda dengan makna yang dikenal oleh orang Arab sebelumnya. Sebagaimana kata Shalat, Hajj, Zakat, dan sebagainya. [Lihat, al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Juz I/27-28]

Read the rest of this entry

Zina Adalah Kejahatan

Walaupun kasus “coblosan 80 juta” terungkap, tertangkap, dan beritanya sempat viral di sosmed, namun Polisi menyatakan bahwa KUHP tak bisa menjerat pelaku, yakni PSK dan pelanggannya.[1] Jerat pidana untuk pengguna PSK bisa dikaitkan denga pasal Perzinahan yang diatur dalam Pasal 284 KUHP. Namun penerapan pasal itu jadi perdebatan karena sejumlah pihak menganggap jerat pasal gugur jika hubungan bersetebuh dilakukan atas dasar suka sama suka dan tanpa ada paksaan.

Kasus-demi kasus menghilang begitu saja, Mei 2015 silam, kasus AA bahkan bertarif Rp 200 juta. Begitu juga SB dan TM tidak mendapatkan hukuman apa-apa, hanya RA saja yang mendapatkan hukuman sebagai mucikari.

Read the rest of this entry

Jangan Meniru Budaya Kufur

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a bahwa Nabi ShallalLaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidîn dijelaskan bahwa meniru dan menyerupai kaum kafir bisa menjatuhkan pelakunya kedalam kekafiran jika dilakukan dalam rangka turut menyemarakkan kekafirannya. Adapun jika sekedar meniru, tanpa disertai untuk turut menyemarakkan kekafiran mereka, maka tidaklah menjadikan pelakunya sebagai kafir, namun mereka berdosa, sementara jika tidak sengaja meniru, namun kebetulan sama dengan mereka, maka tidaklah berdosa.[1]

Read the rest of this entry

Pencerdasan & Penyadaran Politik

Salah satu perkara penting yang harus ditanamkan di tengah-tengah umat adalah kesadaran politik (al wa’yu as siyâsi). Orang yang buta politik tidak akan sadar bahwa kesulitan ekonomi, tinggi rendahnya biaya hidup, menyebar atau hilangnya penyakit masyarakat, semuanya sangat dipengaruhi oleh keputusan politik, mereka juga tidak peduli bahwa terkurasnya kekayaan umat, melemahnya nilai tukar mata uang, itu juga akibat keputusan politik, bukan semata ekonomi.

Membangun kesadaran politik memang banyak hambatannya, orang yang buta huruf relatif mudah diajari daripada orang yang buta politik, karena orang yang buta huruf biasanya merasa bahwa itu adalah kekurangan dirinya, sementara orang yang buta politik, mereka bahkan bisa bangga dengan ‘kebutaannya’ tersebut, bahkan mengajak orang lain untuk seperti dirinya.

Read the rest of this entry

Jerit Muslim Uighur Untuk “Mu’tashim”

Diantara ciri sehatnya keimanan seseorang adalah adanya rasa persaudaraan dan empati kepada setiap orang yang beriman, dimanapun mereka berada, apapun suku mereka. Ibarat satu tubuh, sakit dan senang akan dirasakan bersama. Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ِ

“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan empati adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”(HR. Muslim).

Menurut satu komite PBB, sekitar satu juta Muslim Uighur ditahan dalam kamp-kamp penguasa Cina. Kelompok hak asasi manusia mengatakan para tahanan dipaksa untuk menyatakan kesetiaan kepada Presiden Xi Jinping, meninggalkan keyakinannya, yakni Islam, bahkan sekedar jenggot dan nama yang Islamipun mereka permasalahkan. [1]

Read the rest of this entry

Upah dengan Sebagian Hasil Kerja

Upah (ujroh) adalah kompensasi (‘iwadh) atas akad ijâroh.

Sementara ijârah itu sendiri adalah

عَقْدٌ عَلَى الـمَنْفَعَة بِعِوَضٍ

“Akad atas suatu manfaat dengan adanya kompensasi.”[1]

Al-Khatîb al-Syarbîni al-Syafi’i mendefinisikan dengan memasukkan beberapa syarat untuk membedakannya dengan akad yang lain, beliau menyatakan bahwa ijârah adalah:

عَقْدٌ عَلَى مَنْفَعَة، مقصودة، معلومة، قابلة للبَذل والإباحة، بعوض معلوم.

‘Aqdun ala manfa’at[in] maqshûdat[in] ma’lûmat[in] qâbilat[in] lil badzli wal ibâhati bi ‘iwadh[in] ma’lûm[in]

“Akad atas suatu manfaat, yang maqshûdah, yang ma’lûm (diketahui), bisa untuk diserahkan dan mubah, dengan adanya kompensasi yang diketahui.[2]

Read the rest of this entry

Lagi Tentang Mengoreksi/Menasehati Penguasa dengan Terang-terangan

Sebagian kalangan ada yang menyatakan bahwa mengoreksi penguasa tidak boleh secara terbuka, lalu mereka mencela orang yang mengoreksi dengan terang-terangan, lebih dari itu mereka katakan aktivitas tersebut membahayakan keamanan.

Enam tahun lalu, bahkan sebelum itu sudah pernah saya tulis tentang hal ini, bagi yang ingin membaca dengan agak panjang bisa di-klik di sini: https://mtaufiknt.wordpress.com/2012/11/23/mengoreksi-penguasa-dengan-terang-terangan-merupakan-cara-khowarij/?

Berikut ini versi singkatnya, plus tambahannya.

Pertama, hadits ‘Iyâdl bin Ghanm yang digunakan sebagai dalil[1] dinilai dho’if oleh Syaikh Muqbil, dalam Tuhfât Al Mujîb, hal 164, sementara Syaikh Syu’aib al Arna’uth menilai tambahan ini hasan lighairihi. Oleh karena itu perbedaan pandangan dari sisi ini tidak layak jadi alasan untuk saling menghina.

Read the rest of this entry

Saudara Ipar Adalah Kematian

Pagi tadi (8/12) saat mengisi pengajian yang membahas tentang pergaulan pria dan wanita, seorang bapak bercerita tentang seorang dokter pria di Banjarmasin. Karena secara materi berkelebihan, dia mengajak adik lelakinya untuk tinggal bersama di rumahnya, sekaligus menemani dan menyopiri mobil istrinya. Lama-lama terungkap bahwa adik lelakinya bukan hanya menyopiri mobil istrinya, namun juga ‘menyopiri’ istrinya. Mereka akhirnya bercerai, dokter tersebut membeli rumah baru, sementara mantan istrinya menikah dengan adiknya.

Kejadian yang kurang lebih sama juga terjadi di pelosok Kalimantan Selatan. Bedanya, sang istri yang membawa adik perempuannya tinggal bersama dia dan suaminya. Suatu ketika gegerlah rumah tersebut karena adiknya yang belum menikah ternyata hamil, dan pelakunya ternyata adalah suaminya sendiri. Setelah diteliti, ternyata perselingkuhan itu telah berlangsung lama, 7 tahun!.

Read the rest of this entry

Mahram Terkait Hadits Larangan Khalwat

Rasulullah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahram sang wanita tersebut.’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Khalwat yang haram dalam hadits ini terkait berduaannya seorang lelaki dan seorang wanita di tempat sepi dan tertutup dari pandangan manusia, dimana orang lain tidak bisa masuk tanpa izin dari mereka. Dalam Syarh Shahih Muslim (9/109), Imam al-Nawawi menyatakan bahwa khalwat tetap diharamkan walaupun yang dilakukan adalah salat berjama’ah.

Read the rest of this entry

Cara Mengurus Jenazah Bayi Keguguran

Bayi lahir keguguran yang tidak ada tanda-tanda kehidupan saat lahir seperti bergerak dan sejenisnya, dan kegugurannya belum sampai pada batas tertiupnya ruh yakni dalam kandungan usia kurang dari 4 bulan menurut madzhab Syafi’i, maka ulama sepakat bahwa ia tidak dishalati, dan tidak dimandikan, cukup dikuburkan begitu saja.

Adapun jika kandungan telah berusia 4 bulan keatas maka ada dua pendapat, menurut pendapat yang lebih azhhar ia tidak dishalatkan, tetapi dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab, namun bila ia bergerak (ada tanda kehidupan setelah empat bulan) maka dishalatkan menurut pendapat yang lebih azhhar dan dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab.

Read the rest of this entry