Author Archives: M. Taufik N.T

Madzhab Sahabat Lebih Benar Daripada Madzhab Empat?

Pengertian

Madzhab Sahabat, biasa disebut juga Qaul (perkataan) Sahabat adalah pendapat-pendapat Shahabat secara perorangan dalam masalah-masalah Ijtihad.

Madzhab sahabat berbeda dengan ijma’ sahabat yakni kesepakatan sahabat atas hukum suatu peristiwa (dan) bahwa hukum tersebut merupakan hukum syara.

Kehujjahan

Madzhab sahabat bukanlah dalil syara’ yang menjadi hujjah/dasar dalam menghukumi sesuatu, inilah pendapat jumhur Asyariyah, Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam madzhabnya (Syafi’iyah) juga Abul Hasan Al-Kharha dari kalangan Hanafiyah, ini pula yang ditabanni dalam Hizbut Tahrir[1], alasannya:

Read the rest of this entry

Jika Allah Menghendaki Sesuatu, Dia Akan Mengatur Sebab-Sebabnya

Pernahkah terbayang bagaimana caranya 38 kerajaan/kesultanan yang ada di Indonesia ini bisa bersatu menjadi satu negara, Indonesia? Padahal mereka, secara total telah hidup selama 443 tahun? Pernahkah terbayang, bagaimana bisa Majapahit yang telah hidup selama 207 tahun akhirnya menjadi bagian Indonesia?

Kalau sekarang orang berfikir, “dimana NKRI kalau negeri ini mau jadi kekhilafahan?” tidakkah mereka juga berfikir, dulu sebelum merdeka apakah kesultanan-kesultanan tersebut memikirkan hal yang sama: “dimana kesultanan kami jika kalian memproklamasikan Indonesia?”.

Read the rest of this entry

Kebenaran itu Berat , Namun Lezat

Imam Abdullah bin Mubarak (w. 181 H) meriwayatkan bahwa sahabat Hudzaifah bin al Yaman r.a berkata:

إِنَّ الْحَقَّ ثَقِيلٌ، وَهُوَ مَعَ ثِقَلِهِ مَرِيءٌ، وَإِنَّ الْبَاطِلَ خَفِيفٌ، وَهُوَ مَعَ خِفَّتِهِ وَبِيءٌ، وَتَرْكَ الْخَطِيئَةِ أَيْسَرُ – أَوْ قَالَ خَيْرٌ مِنْ طَلَبِ التَّوْبَةِ – وَرُبَّ شَهْوَةِ سَاعَةٍ أَوْرَثَتْ حُزْنًا طَوِيلًا

Sesungguhnya kebenaran itu berat, (namun) bersama dengan beratnya itu ada kelezatan, sedangkan kebatilan itu ringan, (namun) bersama ringannya itu ada penyakit. Meninggalkan kesalahan lebih mudah – atau dia katakan lebih baik – dari pada meminta taubat, betapa banyak syahwat sesaat yang menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan” [Az Zuhdu war Raqâ-iq, hal 291. Maktabah Syâmilah].[1]

Read the rest of this entry

Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Read the rest of this entry

Ki Bagus Hadikusumo & Pancasila

Sudah 67 tahun berlalu, apa yang kita namakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun sejalan dengan proklamasi tersebut, masih juga mengganjal dihati –bagi sebagian umat yang menyadari-sebuah kesepakatan yang tidak tertunaikan. Sebuah perjuangan yang digugurkan sebelum dilahirkan. Gentlemant’s Agreement bernama Piagam Jakarta.

Read the rest of this entry

Jima’ di Siang Hari Bulan Ramadhan

Jima’ (bersetubuh) di siang hari dengan sengaja membatalkan puasa. Namun jika terpenuhi delapan syarat[1], disamping membatalkan puasa juga menjadikan suami wajib membayar kaffârat. Delapan syarat tersebut adalah:

Read the rest of this entry

Andai Dakwah Itu Wajib Idzin

Andai dakwah itu wajib idzin, mungkin Islam tidak akan sampai ke negeri kita, karena Rasulullah saw bukan saja tidak diidzinkan dakwahnya, bukan hanya dihalang-halangi, namun juga dianiaya bahkan mau dibunuh.

Andai meyakini sesuatu itu wajib idzin, tentu tukang sihir yang melawan Nabi Musa juga tidak akan bisa beriman, setelah sebelumnya melihat mu’jizat Nabi Musa a.s.

Read the rest of this entry

Awam dan Dengki; Sulit Mencerna Informasi

Awam bukanlah suatu cela, karena setiap orang adalah orang awam dalam suatu permasalahan, walaupun bisa jadi dia ‘alim dalam permasalahan yang lain. Bahkan Rasulullah SAW yang memiliki sifat cerdas (fathônah) saja bisa keliru dalam urusan penyerbukan kurma, hingga beliau berkata “antum a’lamu bi ‘umûri dun-yâkum”, kalian lebih tahu urusan dunia kalian (yakni teknik penyerbukan kurma dan yang semisalnya). Seorang Kyai yang ‘alim, dan menguasai berbagai cabang keilmuan, bisa jadi beliau awam dalam urusan teknologi, menyimpan nomor telpon ke hp saja tidak bisa, atau beliau awam dalam urusan politik, karena membaca berita saja tidak mau, hidupnya hanya beralih dari membaca satu kitab ke kitab yang lain, ini semua pada dasarnya bukanlah ‘aib.

Read the rest of this entry

Berfikir Sejenak Itu Lebih Baik

Diriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Zakariya, dari Utsman bin Abdillah al-Qurasyi, dari Ishaq bin Najih al-Multhi, dari Atha al-Khurasani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun” (HR. Abu Syaikh al Ashbahâny dalam al ‘Adzamah, 1/299)

Hadits ini tidak shahih menurut Imam Ibnul Jauzi (al Maudhû’ât, 3/144), karena Utsman bin Abdillah dan Ishaq bin Najih dikenal sebagai pendusta. Sedangkan Syaikh ‘Ali al Qary menyatakan ini bukan hadits (Al Mashnû’, hal 82).

Read the rest of this entry

Kamu Goblok!

Suatu ketika, di negeri antah berantah, Mukidi, Hoka dan Utuh sedang naik jukung (perahu kecil), si Utuh yang mengayuh perahu. Dari arah depan nampak speed boat, melihat itu Hoka berkata ke Utuh: “ Tuh, ke pinggir Tuh, kalau dekat speed boat nanti kita bisa kena airnya”

Utuh menjawab: “biasa saja lah, ulun (saya) udah biasa bawa jukung ini, kada usah takutan”.

Read the rest of this entry

Kemunafikan Kita

Membaca judul ini, mungkin dalam hati  akan berkata “anda saja kali yang munafik, jangan bilang kita dong”. Nifaq (kemunafikan) itu ada dua: 1) nifaq ‘Itiqady yang menyebabkan kafir, yakni menampakkan keislaman namun dalam hati sebenarnya ingkar, dan 2) nifaq ‘amaly, yakni sifat-sifat dan perbuatan khas munafik, namun tidak sampai menjadikan orang yang melakukannya kafir.

Jika kita merasa terbebas dari kemunafikan, justru itu pertanda bahwa kita kehilangan kepekaan spiritual kita dan kita begitu dekat dengan berbagai kemunafikan itu sendiri. Bagaimana tidak, para shahabat Rasulullah saw saja begitu khawatir diri mereka tergolong orang-orang munafiq.

Read the rest of this entry

Mencegah Sekularisasi Pancasila

Pagi ini, Metro TV, dalam editorialnya, memprovokasi masyarakat untuk membubarkan ormas ‘menyimpang’, secara tegas yang mereka sebut adalah Hizbut Tahrir. Diantara alasannya adalah karena dianggap membahayakan NKRI dan merongrong Pancasila.

Hizbut Tahrir, memang adalah organisasi yang secara tegas senantiasa mengajak masyarakat untuk menerapkan syari’ah dan menegakkan khilafah (khilafah itu salah satu bagian dari syari’ah). Apakah memang benar seruan Hizbut Tahrir ini merongrong Pancasila? Ada baiknya dibaca dengan seksama tulisan KH. Makruf Amin (Ketua MUI dan NU), berjudul “Mencegah Sekularisasi Pancasila” dibagian bawah ini.

Jika mengajak berhukum kepada syari’ah dianggap merongrong Pancasila, apakah justru membiarkan berbagai kegiatan LGBT itu yang sesuai dengan Pancasila, hingga kata Tito Karnavian menyatakan negara wajib melindungi mereka? [1]. Adakah agama di Indonesia ini yang menyokong LGBT: Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender? Apakah penjualan berbagai aset strategis negara kepada asing itu justru yang selaras dengan Pancasila? Penista agama, bukan hanya agama Islam, bahkan agama dia sendiri (kristen) juga tak luput jadi candaan, disebutnya “ajaran kristen itu konyol”, apakah membela orang seperti itu wujud dari sikap Pancasilais?

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Membahayakan NKRI

Inilah bahaya yang mungkin ditimbulkan jika cita-cita Hizbut Tahrir untuk ditegakkannya syari’ah tercapai:

1. Membahayakan Wakil Rakyat. DPR akan kekurangan job dan berkurang durasi ‘studi banding’. Ini karena hukum syari’ah tidak perlu pengesahan DPR. Kalau tahap penyusunan satu RUU usulan DPR, anggaran yang digunakan Rp5,2 miliar pada tahun 2012[i], bisa dibayangkan berapa pemasukan yang akan hilang karena kurangnya job ini.

Read the rest of this entry

Seandainya Perjuangan Ini Mudah…

Seandainya perjuangan ini mudah, bebas dari fitnah, dan mendapatkan balasan langsung di dunia, niscaya banyak sekali yg turut berjuang. Allah berfirman:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta”. (QS. At Taubah : 42).

Read the rest of this entry

Mashlahat Dakwah

Tidaklah disebut kemashlahatan dakwah dengan hanya berhasilnya umat Islam berkuasa, jika dengan berkuasanya itu masyarakat semakin kabur pemahamannya terhadap Islam, tidak begitu jelas lagi mana yang haq mana yang bathil. Tidaklah disebut kemashlahatan dakwah jika seorang ‘Ulama berhasil duduk di Parlemen, namun ternyata disana juga ikut menetapkan undang-undang yang menentang syari’ah, yang justru masyarakat akan memandang undang-undang tersebut sudah baik, dg berlogika : “kalau tidak baik tdk mungkin Ustadz Fulan mau duduk di situ”. Sesuatu dianggap mashlahat dakwah yang sebenarnya jika memang sesuatu itu semakin memperjelas antara yang haq dan bathil, sehingga orang-orang awampun akan tahu mana yang haq mana yang bathil. Jika seseorang berkuasa, dia akan menjadikan kekuasaannya untuk menolong dakwah, menjelaskan dan menerapkan yang haq, serta mencegah dan melarang kebathilan, tidak bercabang lidah, memutar kata untuk menyatakan keberpihakannya kepada hukum-hukum Allah swt, apapun resiko yang akan dihadapinya.

Kisah dalam hadits di bawah ini menunjukkan kemashlahatan dakwah yang hakiki, walaupun akibat fisiknya “mengerikan”.

Read the rest of this entry