Umur Umat Islam Maksimal 1500 Tahun?

Beberapa kali masuk BC (Broadcasting) ke WA saya[1] menyatakan bahwa umur umat Islam tidak lebih dari 1500 tahun, artinya tidak sampai 49 tahun lagi umat Islam akan ‘punah’ dari muka bumi.

Mengingat isi BC tersebut menyandarkan hitungannya ke para ‘ulama besar, yang kepakarannya tidak diragukan lagi; Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Jalaluddin As-Suyûthi, dan Imam Ibnu Hajar al Hambali(?), tergelitik juga hati untuk ‘meneliti’ benarkah mereka rahimahumullaah mengatakan seperti yang disimpulkan dalam BC tersebut?, kalau benar, apa pula landasan ‘perhitungan’ tersebut?. Dengan menelusuri beberapa kitab dalam Maktabah Syamilah, saya dapati hal-hal berikut:

Imam Jalaluddin as Suyûthi (w. 911 H)

Dalam kitabnya, Al Hâwi lil Fatâwa, 2/104, beliau menyatakan:

الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْآثَارُ أَنَّ مُدَّةَ هَذِهِ الْأُمَّةِ تَزِيدُ عَلَى أَلْفِ سَنَةٍ، وَلَا تَبْلُغُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهَا خَمْسَمِائَةِ سَنَةٍ

“Yang ditunjukkan oleh sejumlah riwayat (atsar) bahwa waktu (durasi) umat ini (Islam) adalah lebih dari seribu tahun, namun lebihnya tidak sampai lebih dari 500 tahun.”[2]

Jadi penyandaran hitungan bahwa ‘umur’ umat Islam maksimal 1500 tahun kepada Imam as Suyûthi adalah benar.

Jika sekarang tahun 1438 H, sebelum hijrah ada 13 tahun, maka jika dihitung secara Matematis, umur umat Islam memang tersisa 1500 – 1438 – 13 = 49 tahun, tidak sampai 50 tahun!.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)

Dalam kitabnya, Fathul Bâry, 4/449, dalam hadits tentang perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani ialah seperti seseorang yang mempekerjakan suatu kaum agar bekerja hingga malam, Yahudi hanya bekerja sampai tengah hari, lalu tidak mau melanjutkan, Nashrani hanya bekerja dari tengah hari sampai Ashar, lalu juga tidak mau melanjutkan, dan pekerjaan dirampungkan kaum muslimin yang bekerja dari Ashar sampai Maghrib namun mendapat upah penuh seperti bekerja dari pagi[3], ketika membahas hadits ini, beliau menyatakan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ بَقَاءَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَزِيدُ عَلَى الْأَلْفِ لِأَنَّهُ يَقْتَضِي أَنَّ مُدَّةَ الْيَهُودِ نَظِيرُ مُدَّتَيِ النَّصَارَى وَالْمُسْلِمِينَ وَقَدِ اتَّفَقَ أَهْلُ النَّقْلِ عَلَى أَنَّ مُدَّةَ الْيَهُودِ إِلَى بَعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفَيْ سَنَةٍ وَمُدَّةَ النَّصَارَى مِنْ ذَلِكَ سِتُّمِائَةٍ وَقِيلَ أَقَلُّ فَتَكُونُ مُدَّةُ الْمُسْلِمِينَ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفٍ قَطْعًا

“(Hadits ini) dijadikan dalil bahwa keberlangsungan (umur) umat ini mencapai lebih dari seribu tahun, sebab hadits ini menuntut bahwa waktu (durasi) Yahudi setara dengan gabungan waktu Nasrani dan muslimin[4]. Dan sesungguhnya para ahli riwayat telah sepakat bahwa jangka waktu yang dilalui umat Yahudi hingga diutusnya Nabi adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan waktu yang dilalui Nasrani hingga diutusnya Nabi adalah 600 tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu, sehingga waktu yang akan dilalui kaum muslimin pasti lebih dari seribu tahun”[5]

Jadi kalau menggunakan pernyataan di atas, umur umat Islam diperkirakan = umur Yahudi – umur Nashrani = 2000 – 600 = 1400 tahun dan ada lebihnya karena umur Nashrani (jarak antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad SAW) ada yang menyatakan kurang dari 600 tahun, sebagaimana beliau nyatakan.

Imam Ibnu Rajab al Hambali (w. 795 H)

Saya mencari ulama bernama Ibnu Hajar al Hambali, sebagaimana dalam BC, tidak ketemu, mungkin yang dimaksud adalah Imam Ibnu Rajab al Hambali, dalam kitabnya yang bernama Fathul Bâry (nama kitabnya saja yang sama dengan kitabnya Imam Ibnu Hajar), pada juz 4 hal 343, ketika menjelaskan hadits terkait sebelumnya, beliau menyatakan:

وقد قدمنا: أن حديث ابن عمر الذي خرجه البخاري هاهنا يدل على أن مدة الدنيا كلها كيوم وليلة، وأن مدة الأمم الثلاث أصحاب الشرائع المتبعة قريب من نصف ذلك، وهو قدر يوم تام، وأن مدة اليهود منه إلى ظهور عيسى حيث كانت أعمالهم صالحة تنفعهم عند الله كما بين صلاة الصبح إلى صلاة الظهر، ومدة النصارى إلى ظهور محمد – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حيث كانت أعمالهم صالحة مقبولة كما بين صلاةِ الظهر والعصر، ومدة المسلمين منه من صلاة العصر إلى غروب الشمس، وذلك في الزمان المعتدل قدر ربع النهار، وهو قدر ثمن الليل والنهار كما سبق ذكره وتقديره.

“Dan telah kami sampaikan: bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang dikeluarkan oleh al Bukhary di sini menunjukkan bahwa masa (berlangsungnya) dunia seluruhnya seperti masa sehari semalam, dan masa tiga umat penganut syari’at-syari’at itu hampir setengahnya, yakni sekitar sehari penuh, dan masa Yahudi hingga diutusnya Isa as, dari sisi amal shalih mereka bermanfaat, adalah seperti antara shalat subuh hingga dzhuhur, dan masa Nashrani hingga lahirnya Nabi Muhammad saw, dari sisi amal shalih mereka diterima ,adalah seperti antara shalat dzuhur dengan ashar, dan masa kaum muslimin adalah dari shalat ashar hingga terbenam matahari, dan yang demikian itu, dalam ukuran waktu yang sedang adalah sekitar ¼ hari, dan sekitar 1/8 dari sehari semalam sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.[6]

Setelah menjelaskan hal tersebut beliau menegaskan:

لكن مدة الماضي من الدنيا إلى بعثة محمد – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، ومدة الباقي منها إلى يوم القيامة، لا يعلمه على الحقيقة إلا الله عز وجل، وما يذكر في ذلك فأنما هو ظنون لا تفيد علماً.

Akan tetapi masa yang telah lewat dari dunia sampai diutusnya nabi Muhammad saw, dan masa yang tersisa hingga hari kiamat, tidak ada yang mengetahui secara hakiki kecuali Allah ‘azza wa jalla, dan apa-apa yang disebut dalam (pembahasan) yang demikian itu hanyalah merupakan perkiraan-perkiraan (dzunûn) yang tidak berfaedah kepastian (‘ilm).

Mendudukkan Permasalahan

Dengan membaca dan menyimak penjelasan ketiga imam besar tersebut, seharusnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa pernyataan usia umat Islam maksimal 1500 tahun itu adalah perkiraan, bukan kepastian. Yang saya khawatirkan kalau hal tersebut dianggap kepastian, atau dianggap itulah pandangan Islam, nanti ketika ternyata setelah 1500 tahun (49 tahun lagi) ternyata umat Islam masih ada, akan banyak yang menyalahkan Islam itu sendiri.

Imam as Suyûthi sendiri sebelum membahas hal tersebut menyatakan:

الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْآثَارُ…

Yang ditunjukkan oleh riwayat-riwayat…

Lalu beliau mengemukakan riwayat-riwayat yang dimaksud, yang tidak ada yang beliau nyatakan itu sebagai riwayat yang mutawatir, maka tahulah kita bahwa ungkapan beliau itu berfaedah dzann (perkiraan)[7].

Adapun Imam Ibnu Hajar al Asqalani, beliau menyatakan dibagian awal penjelasan dengan ungkapan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ …

“(Hadits ini) dijadikan dalil…”

Beliau menggunakan shighat majhul (bentuk kalimat pasif), setara dengan shighat tamridh yang mengindikasikan lemahnya pendapat yang beliau nukil, dengan demikian beliau hanya sekadar menukil pendapat sebagian kalangan dalam menafsirkan hadits tersebut.

Lebih jelas lagi apa yang dinyatakan Ibnu Rajab al Hambali:

وما يذكر في ذلك فأنما هو ظنون لا تفيد علماً

apa-apa yang disebut dalam (pembahasan) yang demikian itu hanyalah merupakan perkiraan-perkiraan (dzunûn) yang tidak berfaedah kepastian (‘ilm).

Untuk menyatakan apakah perkiraan/hitungan tersebut benar atau salah, tinggal dilihat kesesuaian dengan fakta saja, jika ternyata setelah 49 tahun-an lagi umat Islam punah, berarti perkiraan tersebut benar, jika tidak, maka perkiraan tersebut keliru.

Adapun alasan kenapa diperkirakan usia umat Islam maksimal 1500 tahun, hitungannya disandarkan pada berbagai riwayat[8], diantaranya bahwa usia bumi hanya 7000 tahun saja[9], sementara Nabi saw diutus pada akhir tahun ke 6000an, juga riwayat bahwa Dajjal akan keluar pada permulaan 100 tahun, lalu Isa turun membunuh Dajjal, dan (Isa as) hidup di bumi selama 40 tahun, juga riwayat bahwa setelah terbitnya matahari dari Barat, manusia masih hidup 120 tahun, antara dua tiupan sangkakala malaikat Isrofil itu 40 tahun…munculnya al Mahdi adalah 7 tahun sebelum keluarnya Dajjal….

Dengan riwayat-riwayat ini saja, jika menghitungnya secara Matematis sebagaimana didapatnya angka 1500, maka jika dikatakan usia umat Islam tidak sampai 1500 tahun, padahal masa Imam Mahdi dan Nabi Isa tentu masih ada umat Islam, maka Imam Mahdi tentunya akan ada tidak sampai 1500 – 1438 – 13 – 7– 40 = 2 tahun lagi. Jika Imam Mahdi munculnya setelah khilafah tegak, yakni setelah khalifah sebelumnya wafat, maka harusnya tahun-tahun ini, bahkan sebelum ini, khilafah sudah tegak.!

Tentang dunia akan berakhir setelah 7000 tahun dari penciptaannya, dalam pandangan ilmiah, Ahli geokimia UCLA menemukan bukti bahwa kehidupan telah ada di Bumi setidaknya 4,1 miliar tahun lalu, sedangkan usia bumi sendiri sekitar 4,54 miliar tahun[10], ini  memang juga  perkiraan ilmiah yang masih bisa diperdebatkan dan tidak bisa dipastikan, sebagaimana yang dikemukakan Imam Ibnu Rajab sebelumnya.

Kesimpulan

Kiamat akan terjadi itu adalah bagian keyakinan, mengingkarinya berarti kafir. Adapun kapan terjadinya, ayat alQur’an dan hadits-hadits shahih tidak ada menyebut hitung-hitungan secara jelas. bahkan alQur’an menyatakan:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “kapankah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia…” (QS. Al-A’raf 187)

Adapun riwayat-riwayat yang menunjukkan hitungan kapan kiamat, Imam As Sakhôwi (w. 902 H) menyatakan:

كل ما ورد مما فيه تحديد لوقت يوم القيامة على التعيين فإما أن يكون لا أصل له … أو لا يثبت إسناده

Setiap riwayat yang menyebutkan batasan hari kiamat dengan ta’yin (penetapan), adakalanya tidak ada asalnya… atau tidak kuat sanadnya (al Maqâsidul Hasanah, hal 693)[11].

Yang lebih penting dari membahas kapan kiamat?, atau kapan umat Islam akan berakhir? adalah membahas amal apa yang telah kita persiapkan untuk bekal di hari kelak. Dari Anas r.a, dia berkata:

أنَّ رجلاً سألَ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ السَّاعةِ، فقالَ: متى الساعة؟ قَالَ: وماذا أعدَدتَ لها؟ قال: لا شيء، إلاَّ أني أحِبُّ اللهَ ورَسُولَه، فَقالَ أنتَ مَعَ مَن أحبَبْتَ

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kiamat. Ia berkata, “Kapan terjadinya kiamat ya Rasulullah?” Rasul berkata, “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Laki-laki itu berkata, “Aku tidak menyiapkan apa pun kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasul saw. berkata, “Engkau bersama apa yang engkau cintai.” (Muttafaq ‘Alaih). Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:


[1] ini diantara BC yang masuk:

*BACALAH DENGAN SEKSAMA*

_Kalender HIJRIYAH UMAT ISLAM TIDAK SAMPAI 1500 H SEKARANG SUDAH 1438 H (2016 Masehi)_

*_BERAPA TAUN LAGIKAH ???_*

Tdk terasa kita hidup dipenghujung Jaman.

Rasul SAW Berkata :

_Jaman itu dibagi 5_

_1. Jaman Nubuwwah_

(Jaman kenabian diawali dr Jaman Nabi Adam AS sampai Baginda Nabi Muhammad SAW)

_2. Jaman Khilafah l_

(dipimpin sahabat -sahabat Nabi Abu Bakar Umar, Utsman dan Ali ra).

_3. Jaman Al-mulk kerajaan_ (berakhir runtuhnya Dinasti Utsmani diturki kalau diindonesia Majapahit, Sriwijaya, Galu dsbnya).

_4. Jaman Jababiro_

(Jaman kebebasan maksiat dimana-mana dan kita hidup di Jaman ini).

Fitnah2 bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin (era fitnah terbesar akan terjadi saat Dajjal muncul), Org2 yg tdk cakap/dzolim menjadi penguasa (pemimpin), jumlah ummat Islam banyak ttp bagaikan buih diatas laut (sedikit yg berjihad untuk membela Islam)… –>

*_Jaman ini sdh terjadi dan sdg kita jalani…_*

*_Astaghfirullah….._*

_5. Jaman Khilafah ll_

(Jaman yg mana suasana seperi pada Jaman Rosululloh SAW, nanti umat Islam akan dipimpin *_Imam Mahdi hanya berlangsung lebih kurang 9 tahun._*

_Pada Jaman ini pula Dajjal muncul, Nabi Isa AS jg muncul ditugaskan untuk membunuh Dajjal dan meng-Islamkan orang2 Kafir/Nashoro)._

Para Ulama hadits memprediksi ttg usia umur ummat Islam :

_1. Ibnu Hajar Asqalani_

seorang ulama pakar hadits, kitab beliau yg populer diindonesia adalah Fathul Barri Beliau berkata umur umat Islam sampai 1476 H.

_2. Imam As-syuyuthi_

Beliau mengatakan umur umat Islam sampai 1477 H

*_3. Ibnu Hajar Hambali_*

kata Beliau umur umat Islam lebih dari 1400 H namun tdk sampai 1500 H

Allahu Akbar skrg umur umat Islam sudah sampai pd 1437 H.

*_Hari kiamat tdk ada yg tau termasuk Rosululloh SAW namun mengenai umur umat Islam, Rasulullah sdh memberi bocoran tdk sampai 1500 H._*

Kelak diakhir jaman Alloh SWT akan wafatkan serentak umat islam dimuka bumi dan yg tersisa hanyalah orang kafir yg akan menyaksikan hancurnya bumi gunung laut langit dan seluruh alam (baca Al-Qoriah, Al-Qiyamah, Al-Waqiah).

Diantara tanda kiamat kata Rasulullah SAW akan muncul Dukhan (kabut hitam) yg menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam, lalu sahabat bertanya Ya Rasulullah kapan itu terjadi???

Kata Baginda Nabi SAW itu terjadi apabila yg

– pertama KALAU PENYANYI WANITA BERMUNCULAN DIMANA-MANA

– Yg kedua kata Rasulullah SAW, kalau alat musik dicintai oleh umatku dan minuman keras dimana-mana….

*_Teman2, tanda2 diatas sudah muncul semua sekarang………. ._*

*_Mumpung masih ada waktu, mari segera benahi diri, perbaiki kualitas ibadah dan perbanyak amal sholih untuk bekal di akherat nanti…._*

Wallahu’alam….

*Sudahkah Siapkah…*

Note:

Kajian ilmiah seluruh Pakar Iptek di timur n barat sdh 100% membenarkan Peringatan Rasulullah 14 abad yg lalu…! n janji Allah pasti benar n tepat…!

BADAN Meteorologi dan Geofisika menyatakan bahwa akan terjadi kemarau panjang yang akan melanda dunia.

Diperkirakan kemarau panjang tersebut akan dimulai tahun 2019 hingga 2022. Cadangan air dunia saat ini hanya tersisa 3% saja.

Lalu apa artinya informasi ini bagi kita?

Artinya adalah *_keluarnya Dajjal telah sangat dekat._*

*_Dan munculnya Imam Mahdi telah berada di tengah-tengah kita, tanpa kita sadari._*

Ini berarti apa yang disabdakan Rasulullah telah terbukti.

Dalam hadits tentang kisah Tamim Ad-Dari, keluarnya Dajjal di tandai dengan keringnya danau Thabariyyah (Tiberias), keringnya mata air Zughar, dan pohon kurma Baisan tidak berbuah lagi. Dan jika kita mengikuti perkembangan informasi terakhir tentang tiga pertanda tersebut, sudah nyata terjadi.

Sudah dua tahun ini, pohon kurma di Baisan tidak berbuah lagi.

Diikuti dengan semakin minusnya mata air Zughar. Dan yang paling mencengangkan adalah surutnya air di danau Tiberias di Israel sudah sangat mengkhawatirkan.

Sedemikian, sehingga pemerintah Israel sibuk mencari sumber air lain.

Salah satunya perencanaan penyulingan air laut. Dalam hadits lain dikatakan bahwa Dajjal akan keluar dari sarangnya ditandai setelah terjadi kemarau dan kekeringan selama kurun 3 tahun. Dan sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika telah memperkirakan kekeringan panjang akan dimulai tahun 2019 hingga 2022.

Jika di antara kita ada yang pernah berhaji dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014, maka insya Allah pernah berjumpa dengan “calon Imam Mahdi” di dekat Ka’bah. Dan hanya orang-orang khusus saja yang mengetahui tanda tandanya. Dan kemunculan Imam Mahdi ini seperti yang pernah di nubuwahkan oleh Rasulullah adalah ditandai wafatnya Raja yang namanya bermakna nama hewan.

Bisa jadi ia adalah Raja Fahd (Fahd: singa). Setelah itu terjadi perselisihan. Dan naik tahta raja yang banyak dosa, kemudian meninggal, kemudian muncul raja yang baik. (Bisa jadi ia adalah Raja Salman). Wallahu a’lam.

Di masa atau setelah masa pemerintahan Raja Salman inilah terjadinya pembai’atan atas Imam Mahdi. Dari pertanda ayat-ayat qauniyah tersebut, kesimpulannya adalah akhir dari fananya dunia ini sudah demikian dekat.

Marilah kita berbuat baik semaksimal mungkin, dan ajaklah setiap berjuvmpa dimanapun untuk semakin bersungguh sungguh memperbanyak amal akhirat.

ALLAHU AKBAR !!!

[2] As Suyûthi, Al Hâwi lil Fatâwa, 2/104. Maktabah Syamilah

[3] Shahih Bukhari :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ وَالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ قَوْمًا يَعْمَلُونَ لَهُ عَمَلًا يَوْمًا إِلَى اللَّيْلِ عَلَى أَجْرٍ مَعْلُومٍ فَعَمِلُوا لَهُ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ فَقَالُوا لَا حَاجَةَ لَنَا إِلَى أَجْرِكَ الَّذِي شَرَطْتَ لَنَا وَمَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ فَقَالَ لَهُمْ لَا تَفْعَلُوا أَكْمِلُوا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمْ وَخُذُوا أَجْرَكُمْ كَامِلًا فَأَبَوْا وَتَرَكُوا وَاسْتَأْجَرَ أَجِيرَيْنِ بَعْدَهُمْ فَقَالَ لَهُمَا أَكْمِلَا بَقِيَّةَ يَوْمِكُمَا هَذَا وَلَكُمَا الَّذِي شَرَطْتُ لَهُمْ مِنْ الْأَجْرِ فَعَمِلُوا حَتَّى إِذَا كَانَ حِينُ صَلَاةِ الْعَصْرِ قَالَا لَكَ مَا عَمِلْنَا بَاطِلٌ وَلَكَ الْأَجْرُ الَّذِي جَعَلْتَ لَنَا فِيهِ فَقَالَ لَهُمَا أَكْمِلَا بَقِيَّةَ عَمَلِكُمَا مَا بَقِيَ مِنْ النَّهَارِ شَيْءٌ يَسِيرٌ فَأَبَيَا وَاسْتَأْجَرَ قَوْمًا أَنْ يَعْمَلُوا لَهُ بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ فَعَمِلُوا بَقِيَّةَ يَوْمِهِمْ حَتَّى غَابَتْ الشَّمْسُ وَاسْتَكْمَلُوا أَجْرَ الْفَرِيقَيْنِ كِلَيْهِمَا فَذَلِكَ مَثَلُهُمْ وَمَثَلُ مَا قَبِلُوا مِنْ هَذَا النُّورِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan Kaum Muslimin dibandingkan orang-orang Yahudi dan Nashrani seperti seseorang yang memperkerjakan kaum yang bekerja untuknya pada suatu hari hingga malam dengan upah yang ditentukan. Maka diantara mereka ada yang melaksanakan pekerjaan hingga pertengahan siang lalu berkata: Kami tidak memerlukan upah darimu sebagaimana yang kamu persyaratkan kepada kami (bekerja hingga malam) dan apa yang telah kami kerjakan biarlah nggak apa-apa”. Maka orang itu berkata: “Selesaikanlah sisa pekerjaan, nanti baru kalian boleh mengambil upahnya dengan penuh”. Maka mereka tidak mau dan tidak melanjutkan pekerjaan mereka. Kemudian dia memperkerjakan dua orang pekerja setelah mereka untuk menuntaskan sisa pekerjaan dan berkata, kepada keduanya: “Selesaikanlah sisa waktu hari kalian ini dan bagi kalian berdua akan mendapatkan upah sebagaimana yang aku syaratkan kepada mereka. Maka mereka berdua mengerjakannya hingga ketika sampai saat shalat ‘Ashar, keduanya berkata, ” Tidaklah yang kami telah kerjakan sia-sia dan kamu wajib membayar upah seperti yang kamu janjikan kepada kami berdua”. Maka orang itu berkata, kepada keduanya: “Selesaikanlah sisa pekerjaan kalian berdua yang tidak sampai separuh hari ini”. Namun kedua orang itu enggan melanjutkannya. Lalu orang itu memperkerjakan suatu kaum yang mengerjakan sisa hari. Maka kaum itu mengerjakan sisa pekerjaan hingga terbenam matahari dan mereka mendapatkan upah secara penuh termasuk upah dari pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh dua golongan orang sebelum mereka. Itulah perumpamaan mereka dan mereka yang menerima cahaya (Islam) ini”.

[4] Karena Yahudi kerjanya setengah hari, sedangkan Nashrani dan kaum muslimin mengerjakan sisanya (yang setengah hari lagi).

[5] Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bâry, 4/449. Maktabah Syamilah

[6] Imam Ibnu Rajab al Hambali, Fathul Bâry, 4/343. Maktabah Syamilah.

[7] Karena dalam pandangan beliau, juga jumhur ‘ulama, khabar ahad tidak berfaedah al’ilm (al yaqin):

قال شيخ الإسلام جلال الدين السيوطي ـ الشافعي المذهب ـ المتوفى عام 911هـ في كتابه (الإتقان في علوم القرآن) طبعة المكتبة الثقافية ـ بيروت ج1 ص 77 , ما نصه: لا خلاف أن كل ما هو من القرآن يجب أن يكون متواترا في أصله وأجزائه وأما في محله ووضعه وترتيبه , فكذلك عند محققي أهل السنة للقطع بأن العادة تقضي بالتواتر في تفاصيل مثله لأن هذا المعجز العظيم الذي هو أصل الدين القويم والصراط المستقيم مما تتوفر الدواعي على نقل جمله وتفاصيله. فما نقل آحادا ولم يتواتر يقطع بأنه ليس من القرآن قطعا.

وأضاف الإمام السيوطي في نفس المصدر ج2 ص5 ـ باب القراءات الآحاد والشاذة والتي غير متواترة , ما نصه:

[والموقوف على المظنون مظنون والظني لا يكتفي به في الأصول ….. والظن لا يعول عليه في المسائل الأصولية القطعية] أهـ.

[8] As–Suyûthi, Al Hâwi lil Fatâwa, 2/104-105. Maktabah Syâmilah, penjelasannya cukup panjang, diantara yang beliau nyatakan:

… فَأَقُولُ أَوَّلًا: الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْآثَارُ أَنَّ مُدَّةَ هَذِهِ الْأُمَّةِ تَزِيدُ عَلَى أَلْفِ سَنَةٍ، وَلَا تَبْلُغُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهَا خَمْسَمِائَةِ سَنَةٍ ; وَذَلِكَ لِأَنَّهُ وَرَدَ مِنْ طُرُقٍ أَنْ مُدَّةَ الدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ فِي أَوَاخِرِ الْأَلْفِ السَّادِسَةِ، وَوَرَدَ أَنَّ الدَّجَّالَ يَخْرُجُ عَلَى رَأْسِ مِائَةٍ، وَيَنْزِلُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيَقْتُلُهُ، ثُمَّ يَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، وَأَنَّ النَّاسَ يَمْكُثُونَ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا مِائَةً وَعِشْرِينَ سَنَةً، وَأَنَّ بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، فَهَذِهِ مِائَتَا سَنَةٍ لَا بُدَّ مِنْهَا، وَالْبَاقِي الْآنَ مِنَ الْأَلْفِ مِائَةُ سَنَةٍ وَسَنَتَانِ، وَإِلَى الْآنِ لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَلَا خَرَجَ الدَّجَّالُ الَّذِي خُرُوجُهُ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا بَعْدَ نُزُولِ عِيسَى بِسَنَتَيْنِ، وَلَا ظَهَرَ المهدي الَّذِي ظُهُورُهُ قَبْلَ الدَّجَّالِ بِسَبْعِ سِنِينَ، وَلَا وَقَعَتِ الْأَشْرَاطُ الَّتِي قَبْلَ ظُهُورِ المهدي، وَلَا بَقِيَ يُمْكِنُ خُرُوجُ الدَّجَّالِ عَنْ قَرِيبٍ ; لِأَنَّهُ إِنَّمَا يَخْرُجُ عَلَى رَأْسِ مِائَةٍ، وَقَبْلَهُ مُقَدِّمَاتٌ تَكُونُ فِي سِنِينَ كَثِيرَةٍ، فَأَقَلُّ مَا يَكُونُ أَنْ يَجُوزَ خُرُوجُهُ عَلَى رَأْسِ الْأَلْفِ، أَيْ: لَمْ يَتَأَخَّرْ إِلَى مِائَةٍ بَعْدَهَا، فَكَيْفَ يَتَوَهَّمُ أَحَدٌ أَنَّ السَّاعَةَ تَقُومُ قَبْلَ تَمَامِ أَلْفِ سَنَةٍ؟ هَذَا شَيْءٌ غَيْرُ مُمْكِنٍ، بَلِ اتَّفَقَ خُرُوجُ ” الدَّجَّالِ ” عَلَى رَأْسِ أَلْفٍ، وَهُوَ الَّذِي أَبْدَاهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ احْتِمَالًا، مَكَثَتِ الدُّنْيَا بَعْدَهُ أَكْثَرَ مِنْ مِائَتَيْ سَنَةٍ، الْمِائَتَيْنِ الْمُشَارِ إِلَيْهَا، وَالْبَاقِي مَا بَيْنَ خُرُوجِ الدَّجَّالِ وَطُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَلَا نَدْرِي كَمْ هُوَ، وَإِنْ تَأَخَّرَ الدَّجَّالُ عَنْ رَأْسِ أَلْفٍ إِلَى مِائَةٍ أُخْرَى كَانَتِ الْمُدَّةُ أَكْثَرَ، وَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَكُونَ الْمُدَّةُ أَلْفًا وَخَمْسَمِائَةِ سَنَةٍ أَصْلًا، وَهَا أَنَا أَذْكُرُ الْأَحَادِيثَ وَالْآثَارَ الَّتِي اعْتَمَدْتُ عَلَيْهَا فِي ذَلِكَ.

Beliau kemudian mengetengahkan dan menjelaskan berbagai riwayat terkait ungkapan beliau tersebut.

[9] Al Hawi, 2/105-106, diantaranya riwayat berikut:

وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ: حَدَّثَنَا أحمد بن النضر العسكري، وجعفر بن محمد العرياني قَالَا: حَدَّثَنَا الوليد بن عبد الملك بن سرح الحراني، حَدَّثَنَا سليمان بن عطاء القريشي الحربي عَنْ سلمة بن عبد الله الجهني، عَنْ عمر بن أبي شجعة بن ربيع الجهني، عَنِ الضحاك بن زمل الجهني قَالَ: رَأَيْتُ رُؤْيَا فَقَصَصْتُهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ: «إِذَا أَنَا بِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى مِنْبَرٍ فِيهِ سَبْعُ دَرَجَاتٍ وَأَنْتَ فِي أَعْلَاهَا دَرَجَةً، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَمَّا الْمِنْبَرُ الَّذِي رَأَيْتَ فِيهِ سَبْعَ دَرَجَاتٍ، وَأَنَا فِي أَعْلَاهَا دَرَجَةً، فَالدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ، وَأَنَا فِي آخِرِهَا أَلْفًا» ” أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ، وَأَوْرَدَهُ السهيلي فِي الرَّوْضِ الْأُنُفِ، وَقَالَ: هَذَا الْحَدِيثُ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفَ الْإِسْنَادِ فَقَدْ رُوِيَ مَوْقُوفًا عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، مِنْ طُرُقٍ صِحَاحٍ أَنَّهُ قَالَ: الدُّنْيَا سَبْعَةُ أَيَّامٍ، كُلُّ يَوْمٍ أَلْفُ سَنَةٍ، وَبُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِهَا.

[10] Wikipedia. Usia ini ditentukan melalui penanggalan radiometrik meteorit dan sesuai dengan usia bebatuan tertua yang pernah ditemukan dan sampel dari bulan. Matahari, sebagai perbandingan, berusia sekitar 4.57 miliar tahun, 30 juta tahun lebih tua.

[11] Imam As Sakhawi (w. 902 H), al Maqâsidul Hasanah, hal 693. Maktabah Syamilah

Iklan

Posted on 21 Maret 2017, in Aqidah, Ikhtilaf, Politik and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s