Hukum Mensholatkan Orang Yang Mati Syahid

Pendapat Para Ulama Mengenai Sholat Bagi Syuhada

Mayoritas ‘ulama madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah berpendapat, bahwa orang yang mati syahid tidak boleh disholatkan. Sedangkan madzhab Hanafiyyah dan sebagian Syafi’iyyah berpendapat bahwa orang yang mati syahid disholatkan.

Di dalam kitab Tuhfat al-Fuqaha’ dinyatakan, “Menurut madzhab kami (Hanafiyyah), mensholatkan jenazah orang yang mati syahid adalah wajib. Ini berbeda dengan pendapat Syafi’iy. Adapun yang shahih (benar) adalah pendapat kami. Sebab, Nabi saw mensholati jenazah syahid di medan Uhud.”[1]

Imam Malik di dalam kitab al-Mudawwanah mengatakan, “Siapa saja yang gugur di medan peperangan, ia tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak disholatkan. Ia dikafani dengan baju yang dikenakannya…Tersebut di dalam hadits riwayat Jabir, “Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan untuk menguburkan mereka, tanpa dimandikan dan juga tidak disholatkan.”[2]

Imam Nawawiy di dalam kitab al-Majmuu’ menjelaskan sebagai berikut, “Orang yang mati syahid (al-syahiid) tidak boleh dimandikan dan disholatkan. Al-Muzaniy rahimakumullah berpendapat bahwa orang yang mati syahiid wajib disholatkan. Imam Haramain, al-Baghawiy, dan ulama yang lain berpendapat, bahwa orang yang mati syahid boleh disholatkan, tapi tidak sampai wajib…..Selanjutnya Imam Nawawiy berkata,”Madzhab terdahulu menyatakan haramnya mensholatkan dan memandikan orang yang mati syahid. Dalilnya adalah hadits riwayat Jabir.”[3]

Adapun pendirian madzhab Hanabilah tercermin di dalam kitab al-Mughniy karya Ibnu Qudamah, di mana di dalamnya dituturkan sebagai berikut, “Adapun masalah mensholati orang yang mati syahid, yang benar adalah ia tidak boleh disholatkan. Ini adalah pendapat Imam Malik, Syafi’iy, dan Ishaq. Diriwayatkan pula dari Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa orang yang mati syahid wajib disholatkan. Pendapat ini dipilih oleh al-Khallal, dan juga merupakan pendirian dari al-Tsauriy dan Abu Hanifah. Hanya saja, riwayat dari Imam Ahmad ini mesti dipahami bahwa mensholati orang yang mati syahid adalah mustahab (sunnah) bukan wajib. Beliau berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya Nabi saw mensholati para shahabat yang gugur di medan Uhud.”[4]

Sebagian yang lain berpendapat bahwa orang yang mati syahid boleh disholatkan, dan juga boleh tidak disholatkan.

Hujjah Yang Diketengahkan Para Ulama; Beserta Tarjihnya

Pada dasarnya, perselisihan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum mensholati jenazah orang yang mati syahid disebabkan perbedaan mereka dalam mengkompromikan hadits-hadits yang menafikan sholat jenazah bagi syuhada’ dengan hadits-hadits yang menetapkan sholat jenazah bagi syuhada.

Pendapat yang terkuat adalah boleh memilih antara mensholatkan orang yang mati syahid atau tidak. Sebab, mengamalkan dua bentuk hadits –baik hadits yang menafikan sholat bagi syuhada maupun yang tidak– lebih utama dibandingkan menolak atau mengabaikan salah satunya. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mati syahid boleh tidak disholatkan adalah sebagai berikut:

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya ia berkata;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَقُولُ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ وَقَالَ أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ وَلَمْ يُغَسَّلُوا وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya Rasulullah saw mengumpulkan setiap dua orang para shahabat yang gugur di medan Uhud pada sebuah kain kafan. Lalu beliau saw bersabda, “Siapa saja diantara mereka yang paling banyak hafal al-Quran kuburkanlah terlebih dahulu.” Jika ada dua orang menyatakan bahwa si fulan lebih banyak hafal al-Qurannya, beliau memasukkannya lebih dulu ke liang lahat. Selanjutnya beliau bersabda, “Saya bersaksi atas mereka kelak di hari akhir.” Setelah itu, Rasulullah saw memerintahkan para shahabat untuk menguburkan mereka, tanpa dimandikan terlebih dahulu, dan juga tidak disholatkan.”[HR. Bukhari]

Imam Ahmad juga mengetengahkan sebuah riwayat dari Jabir bin ‘Abdullah tentang syuhada Uhud.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ سَمِعْتُ عَبْدَ رَبِّهِ يُحَدِّثُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ جَابِرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي قَتْلَى أُحُدٍ لَا تُغَسِّلُوهُمْ فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ أَوْ كُلَّ دَمٍ يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ

“Dari Jabir bin ‘Abdullah ra, dari Nabi saw, bahwasanya Nabi saw pernah berkata mengenai syuhada’ Uhud,”Jangan kalian mandikan mereka. Sebab, setiap luka dan darah akan berbau misik kelak di hari kiamat. Jenazah mereka juga tidak disholatkan.”[HR. Imam Ahmad]

Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya, para syuhada’ Uhud tidak dimandikan, dan dikuburkan beserta dengan darahnya. Dan mereka tidak disholatkan.”[HR. Imam Ahmad]

Sedangkan dalil yang menunjukkan kebolehan mensholati orang yang mati syahid adalah sebagai berikut;

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir mengenai jenazah orang yang mati di medan Uhud.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ ثُمَّ طَلَعَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ إِنِّي بَيْنَ أَيْدِيكُمْ فَرَطٌ وَأَنَا عَلَيْكُمْ شَهِيدٌ وَإِنَّ مَوْعِدَكُمْ الْحَوْضُ وَإِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنْ مَقَامِي هَذَا وَإِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوهَا قَالَ فَكَانَتْ آخِرَ نَظْرَةٍ نَظَرْتُهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw mensholatkan jenazah yang gugur di medan Uhud setelah 8 tahun dari kematian mereka, seperti orang yang hendak mengucapkan perpisahan kepada orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati. Lalu, beliau naik ke atas mimbar dan bersabda, “Sesungguhnya aku berada di hadapan kalian dengan sebuah pahala. Dan aku wajib memberikan kesaksian kepada kalian. Sungguh, tempat kembali kalian adalah telaga. Aku telah menyaksikannya dari tempatku ini, dan aku tidak pernah khawatir kalian akan musyrik. Akan tetapi, yang aku khawatirkan atas kalian adalah berlomba-lomba dalam urusan dunia.” Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Itulah terakhir kali aku menyaksikan Rasulullah saw.”[HR. Imam Bukhari]

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Malik al-Ghafaaziy, bahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya Nabi saw mensholati jenazah syuhada’ Uhud, sepuluh orang, sepuluh orang. Dan setiap sepuluh orang disholatkan, Hamzah juga ikut disholatkan, hingga Rasulullah saw mensholatinya sebanyak 70 kali sholat.” [HR. Imam Abu Dawud]

Imam Abu Dawud juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Salam dari seorang shahabat Rasulullah saw, bahwasanya ia berkata, “Kami berhenti di sebuah perkampungan Juhainah. Lalu, ada seorang laki-laki dari kalangan kaum Muslim mencari seorang laki-laki dari suku Juhainah. Setelah ketemu, ia segera menebas laki-laki Juhainah tersebut. Sayangnya, tanpa disadarinya pedangnya mengenai dirinya sendiri. Nabi saw bersabda, “Wahai kaum Muslim, carilah saudaramu.” Para shahabat segera mencari laki-laki tersebut. Namun, mereka menemukan laki-laki itu sudah mati. Rasulullah saw segera menyelimuti jenazah laki-laki itu dengan bajunya yang berlumuran darah. Lalu Nabi mensholati laki-laki itu dan menguburkannya. Para shahabat bertanya, “Apakah laki-laki itu syahid? Nabi saw menjawab, “Benar. Dan saya menjadi saksi bagi dirinya.”[HR. Imam Abu Dawud]

Dari keseluruhan dalil di atas dapat disimpulkan, bahwasanya kadang-kadang Rasulullah saw mensholatkan jenazah orang yang mati syahid, dan kadang-kadang beliau tidak mensholatkan mereka. Dari sini bisa diambil ketetapan hukum, bahwa orang yang mati syahid boleh disholati atau tidak disholati.

Kedua bentuk hadits di atas –baik yang menafikan maupun menetapkan sholat bagi orang yang mati syahid– tidak boleh ditolak salah satunya. Sebab, dua bentuk hadits tersebut semuanya terbukti (tsubut) berasal dari Rasulullah saw, baik hadits yang menafikan sholat bagi orang yang mati syahid, maupun yang menetapkannya. Untuk menolak salah satunya diperlukan riwayat dan matan (redaksi) yang lain. Padahal tidak ada satupun riwayat maupun redaksi yang bisa digunakan untuk menolak salah satu bentuk dari hadits-hadits di atas. Oleh karena itu, dua bentuk hadits di atas sah digunakan sebagai hujjah. Hadits-hadits tersebut di atas juga tidak bisa ditarjih mana yang lebih kuat. Sebab, mentarjih salah satu bentuk hadits akan berakibat diabaikannya salah satu bentuk hadits. Jika kita lebih menguatkan hadits yang menafikan sholat jenazah bagi orang yang mati syahid, sama artinya mengabaikan hadits yang menetapkan sholat bagi jenazah syuhada’. Begitu juga sebaliknya. Walhasil, dua bentuk hadits tersebut tidak bisa ditarjih mana yang lebih kuat, keduanya mesti diamalkan dan tidak boleh diabaikan salah satunya. Sebab, mengabaikan salah satu dari dua bentuk hadits itu sama artinya mengabaikan apa yang dilakukan Rasulullah saw dan para shahabat ra.

Adapun pendapat yang menyatakan, bahwa makna sholat yang tercantum di dalam hadits riwayat ‘Uqbah bin ‘Amir adalah doa; sesungguhnya pendapat ini pun tertolak[5]. Sebab, lafadz sholat yang tercantum di dalam riwayat itu harus dipahami pada konteks syar’iynya. Lafadz sholat di dalam hadits tersebut tidak boleh ditafsirkan dengan makna lain, selain sholat syar’iy. Sebab, tidak ada satupun qarinah yang memalingkan maknanya dari makna syar’iy ke arah makna lughawiy (literal). Oleh karena itu, kata sholat yang tercantum di dalam hadits riwayat ‘Uqbah bin ‘Amir tidak boleh dimaknai dengan doa. Akan tetapi, harus dipahami tetap pada konteks syar’iynya, yakni mensholati jenazah syuhada.

Juga tidak boleh dinyatakan, bahwa hadits yang menetapkan sholat bagi syuhada’ telah menasakh hadits-hadits yang menafikan sholat bagi syuhada’. Alasannya, ada sebuah riwayat yang dituturkan oleh Ibnu Hibban, “Selanjutnya beliau saw masuk ke dalam rumahnya, dan tidak pernah keluar hingga Allah swt mencabut ruhnya.”[HR. Ibnu Hibban]. Tidak bisa dikatakan seperti itu. Sebab, hadits yang datang terakhir tidak secara otomatis menasakh hadits-hadits yang datang sebelumnya. Akan tetapi, harus ada qarinah (indikator) lain yang menunjukkan adanya nasakh. Sedangkan di dalam masalah ini tidak ada satupun riwayat yang menunjukkan adanya nasakh mansukh. Walhasil, semua riwayat, baik yang menafikan dan menetapkan sholat bagi syuhada’ absah dijadikan sebuah hujjah. Atas dasar itu, riwayat-riwayat yang menafikan sholat jenazah harus dibawa ke arah hukum jaiz (boleh), demikian juga riwayat-riwayat yang menetapkan sholat bagi syuhada’. Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak mensholati syuhada’ Badar, Khandaq, dan Khaibar. Sebab, hukum tidak mensholati jenazah syuhada bukanlah wajib, akan tetapi jaiz. Allahu A’lam.


[1] Tuhfat al-Fuqaha’, juz 1/212

[2] Imam Malik, al-Mudawwanah, juz 1/183. Lihat juga Hasyiyyah al-Dasuqiy, juz 1/426.

[3] Imam Nawawiy, al-Majmuu’¸ hal. 26-261

[4] Ibnu Qudamah, al-Mughniy, juz 2/401

[5] Berkenaan dengan hadits ini, Imam Nawawiy menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “sholat” yang tercantum dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir, “Rasulullah saw mensholati syuhada’ Uhud setelah 8 tahun kematian mereka“, adalah mendoakan mereka seperti doa dalam sholat mayat, bukan mensholatkan mayat.[Imam Nawawiy, al-Majmuu’, juz 5/265]

Sumber: ini

Posted on 10 Februari 2012, in Fiqh, Ikhtilaf, Syari'ah. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Assalamualikum, mau nanya pak ustad,k alau hukumnya jaiz setahu saya artinya boleh, untuk kasus ini, mensholati orang mati syahid berpahala atau tidak?

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam …
      Memang berpahala bagi yang mengambil pendapat boleh, sebagaimana orang tetap berpahala membaca surat al ikhlas setelah membaca surat lain setelah fatihah dalam shalat, walaupun membaca al ikhlas setelah membaca fatihah hukumnya boleh (jaiz).

      Hadits A’isyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

      أَنَّ النَّبِيَّ بَعَثَ رَجُلاً عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِ، فَيَخْتِمُ بِـ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا، ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ، فَقَالَ: ((سَلُوْهُ، لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟))، فَسَأَلُوْهُ، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ : ((أَخْبِرُوْهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ)).

      “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya. (HR Bukhory dan Muslim)
      Allahu A’lam.

      Suka

      • saya timbul pertanyaan lagi ustadz, apa perbedaan dari jaiz (berpahala) dengan sunnah/mandub? mohon penjelasannya

        Suka

        • Jaiz/mubah/ibahah itu artinya boleh, jadi boleh dikerjakan atau ditinggalkan, tidak terkait dengan pahala atau siksa. Sedangkan mandub/sunnah/nafilah itu yang melakukan berhak mendapat pahala, sementara meninggalkannya tdk berdosa (melakukannya dipuji secara syar’i, meninggalkannya tdk dicela).

          Jawaban diatas itu harus dibedakan antara shalat jenazahnya dengan sholat jenazah atas org yg mati syahid, antara membaca qur’an dengan membaca dua surah alqur’an setelah fatihah dlm sholat.

          Dalam hal membaca dua surah alqur’an setelah fatihah dlm sholat, pahala yg didapat itu adl KRN DIA MEMBACA AL QUR’ANNYA, bukan karena MEMBACA DUA SURAH ALQUR’AN SETELAH FATIHAH. Allahu A’lam.

          Suka

  2. ok thx atas penjelasannya

    Suka

  3. apa hukumnya memandikan orang mati sahid..,beserta alasannya

    Suka

    • jumhur ‘ulama menyatakan orang mati syahid dlm jihad (bukan syahid karena sakit perut, tenggelam, berjalan dijalan Allah, dll) jenazahnya tidak dimandikan. Madzhab syafi’i dan sebagian Malikiyyah bahkan mengharamkannya.
      ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ: إِلَى أَنَّ شَهِيدَ الْمُعْتَرَكِ لاَ يُغَسَّل، خِلاَفًا لِمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، إِذْ قَالاَ بِغُسْلِهِ

      dalilnya

      أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ فِي قَتْلَى أُحُدٍ بِدَفْنِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا وَلَمْ يُصَل عَلَيْهِمْ (أخرجه البخاري) . وَجَاءَ مِنْ وُجُوهٍ مُتَوَاتِرَةٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُصَل عَلَيْهِمْ وَقَال فِي قَتْلَى أُحُدٍ: زَمِّلُوهُمْ بِدِمَائِهِمْ أخرجه النسائي-

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s