Menghilangkan Kerancuan Dalam Masalah Memerangi Hawa Nafsu (Jihadun Nafsi)

Oleh Muhammad Taufik N.T

Sesungguhnya sudah menjadi sesuatu yang diketahui secara nyata, bahwasanya menegakkan khilafah dan mengangkat seorang khilafah untuk kaum muslimin hukum asalnya adalah fardlu kifayah, akan tetapi jika kewajiban ini tidak dapat terealisir dengan aktivitas orang yang memperjuangkannya, maka kewajiban ini meluas hingga menjadi kewajiban setiap muslim, hal ini berlaku untuk setiap fardhu kifayah.

Meskipun demikian, ada sebagian orang yang melarang/tidak menyukai melakukan aktivitas penegakan khilafah sebelum terpenuhinya beberapa perkara, yakni umat Islam harus memerangi (hawa nafsunya) sendiri. Oleh sebab itu jika engkau menyeru mereka untuk sama-sama berjuang dalam hal ini, mereka akan menjawab: yang diwajibkan kepada kita pertama kali adalah memerangi (hawa nafsu) kita, memperbaiki diri dahulu, baru setelah itu kita beraktifitas untuk menegakkan khilafah…. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Sesungguhnya Rasulullah berkata:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ

“Seorang pejuang (Mujâhid) adalah orang yang berjuang memerangi hawa nafsunya sendiri” (Hr Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad shahih).

Oleh karena itu memerangi hawa nafsu adalah perkara yang dituntut oleh syara’ untuk dilaksanakan. Oleh sebab itu tidak seorangpun boleh menolak pemikiran ini. Karena ungkapan dan fikrah ini dating dari Rasulullah, yang harus ditolak adalah pemahaman keliru terhadap hadits tersebut, yang diatas pemaham,an tadi dibangun hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum syara’. Dari sini maka wajib bagi kita memahami jihadun nafsi dengan berbagai bentuk pemahaman berikut:

Pertama, sesungguhnya jihadun nafsi dan perbaikan diri hanya dapat dilakukan dengan melakukan segala bentuk kefardhuan dan meninggalkan segala yang diharamkan-Nya. Ini dari segi yang paling mendasar. Adapun untuk meraih derajat yang lebih tinggi adalah dengan melakukan yang mandub(sunnah) dan meninggalkan yang makruh. Jika seorang muslim sudah melakukan hal yang pertama saja—yakni melaksanakan yang wajib dan meninggalkan yang haram saja—maka hal itu sudah mencukupi, dan ia merupakan orang yang beruntung, insya Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَالَ تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا شَيْئًا أَبَدًا وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُ فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا

Seorang lelaki kampung telah datang mengadap Rasulullah s.a.w lalu berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang memasukkan aku ke Surga. Rasulullah s.a.w bersabda: Engkau hendaklah mengabdikan diri kepada Allah, jangan menyekutukannya dengan sesuatu, dirikanlah shalat yang difardukan dan keluarkanlah zakat yang diwajibkan serta berpuasa pada bulan Ramadan. Lalu orang itu berkata: Demi Allah yang berkuasa atas diriku, aku tidak akan menambah atau menguranginya sama sekali apa yang telah dijelaskan kepadaku. Setelah orang itu pergi Rasulullah s.a.w pun bersabda: Siapa yang ingin melihat ahli Syurga maka lihatlah lelaki ini (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun jika seorang muslim mengerjakan dua perkara : melaksanakan yang wajib dan sunnah serta meninggalkan yang haram dan makruh, maka sesungguhnya ia benar benar menjadi orang yang memerangi hawa nafsunya dan memperbaiki dirinya.

Kedua, sesunggunya nafsu itu cenderung kepada syahwat yang kadang kadang haram, serta membenci melaksanakan kewajiban yang sulit. Sabda Nabi :

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

Neraka tutupi dengan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsu dan surga ditutupi dengan sesuatu yang dibenci hawa nafsu (HR. Bukhory)

Dan Allah berfirman menyampaikan pernyataan istri Al Aziz yang menggoda Nabi Yusuf a.s:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Sesungguhnya nafsu itu senantiasa menyuruh berbuat keburukan (Yusuf : 53).

Oleh karena itu hendaklah kita memperhatikan hal ini dalam memerangi hawa nafsu. Disini jihadun nafsi berarti kita mendorong dengan dorongan yang kuat dan memaksanya untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, pada saat yang sama juga harus dikekang dari melaksanakan yang haram. Oleh karena itu jihadun nafsi (memerangi hawa nafsu) adalah dengan cara tidak menuruti setiap ajakan hawa nafsu jika perintah dan larangan Allah tidak sesuai dengan keinginan tersebut, serta memaksanya dengan sepenuh kemampuan untuk melaksanakan segala ketaatan kepada Allah baik yang ringan dan terlebih yang berat/rumit yang nafsu tidak suka untuk melaksanakannya. Inilah yang bisa dikatakan sebagai memerangi hawa nafsu sehingga orang yang melaksanakannya akan mencapai derajat yang tinggi.

Ketiga, sesungguhnya diantara kewajiban yang dibebankan kepada seorang muslim-bahkan merupakan kewajiban terpenting- adalah aktivitas untuk menegakkan khilafah dengan pengerahan segenap potensi dan kemampuan. Kewajiban ini terhitung sebagai kewajiban yang sangat agung dan besar-karena hanya dengan tegaknya khilafah maka sebagian besar hukum-hukum Islam baru dapat terlaksana, dan ketiadaannya menyebabkan kemaksiatan nyata-nyata berkembang pesat dimasyarakat. Kewajiban ini juga terhitung sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu karena rintangannya begitu besar, hawa nafsu senantiasa akan mencari alasan untuk mengelak dari kewajiban ini. Oleh karena itu untuk melaksanakan kewajiban penegakan khilafah ini juga diperlukan –bahkan sangat penting- adanya perang terhadap hawa nafsu, karena sekarang kita melihat sebagian besar kaum muslimin lari dari melaksanakan kewajiban ini dikarenakan ketiadaan perlawanan mereka terhadap hawa nafsu, tidak ada upaya untuk mengekang keliarannya, sehingga banyak yang terlena dengan mereguk kenikmatan dunia, tersibukkan dengan urusan dunia, sehingga mereka mengikuti hawa nafsunya dan menaati perintah syaithan seraya berpaling dari perintah Allah.

Dari sini maka tidak ada pertentangan antara memerangi hawa nafsu dan memperbaiki diri disatu pihak dengan aktivitas penegakan khilafah dipihak lain. Adapun jika seorang muslim menolak perjuangan penegakan khilafah, atau menggampang-gampangkannya, atau mengakhir-akhirkannya, bermalas-malasan melaksanakannya dengan alasan memperbaiki diri lebih dahulu dan memerangi hawa nafsu…… maka sesungguhnya ia tidaklah memerangi hawa nafsunya, tidak memperbaiki dirinya dan juga tidak mendidik dirinya…. Dan sesungguhnya yang dilakukannya hanyalah menghancurkan dirinya, yakni dengan menjatuhkan dirinya kepada sesuatu yang dimurkai dan dibenci Allah, yakni meremehkan kewajiban yg dibebankan dipundaknya, na’udzu billah. Hal ini karena seorang muslim jika meninggalkan dengan sengaja kewajibannya, atau meremehkannya maka tidaklah ia memperbaiki dan mendidik dirinya, mungkinkah memperbaiki diri dan berperang melawan hawa nafsu dengan jalan meninggalkan kefardhuan atau meremehkannya ??? Allahu Ta’ala A’lam(hasil terjemahan jaman dulu, ditambahi pengantar)

Baca Juga:

Iklan

Posted on 29 Agustus 2010, in Dakwah, Kritik Pemikiran, Pendidikan, Perang/Jihad. Bookmark the permalink. 23 Komentar.

  1. Dibawah ini copy paste dari diskusi materi ini di FB

    Suka

  2. Bismillah.
    Akhi bolehkan ana ikut berkomentar?

    Sangat masgul perbandingannya antara Mana yg lebih utama Menegakkan Khilafah dgn memerangi hawa nafsu.

    Seperti membandingkan mana yg lebih besar antara gajah dgn semut.

    Semua org mengerti dan dpt menjawab.

    Sama halnya pernyataan :
    ” HT berjuang menegakkan Khilafah, yang lainnya tidak berjuang menegakkan Khilafah ”

    ” Saya Salaf, mereka bukan salaf”

    ” PKS terus bergerak dan berbuat demi umat, biarkanlah yg lain hanya berwacana dan duduk di Majelis kajian tidak berbuat apa-apa utk umat”

    Subhanallah…..
    1. Semua orang sudah pasti mengaku pengikut Salaf (Salafussholeh) , maka siapa yg Salaf dan siapa yg bukan ? Apakah salafnya “Salafiyun?
    2. Semua orang merambisi menegakkan Khilafah dgn caranya masing-masing, seperti apakah Khilafah yang aka membawa kemuliaan umat ini ? Apakah Khilafah nya yg hanya diperjuangkan HT saja?
    3 . Semua orang mengaku berbuat terbaik untuk umat dgn caranya sendiri2, siapakah yang terbaik mengangkat kemuliaan umat ? Apakah perjuangan melalui parlementer yg di usung PKS saja yg diperlukan umat?

    Kembali, thema inti dari tulisan diatas tentang khilafah maka berikut kami menyertakan link pembanding Khilafah yang di PERJUANGKAN dgn BERSUNGGUH-SUNGGUH oleh pihak lain :

    1. http://muslim.or.id/manhaj/mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html

    2. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=288

    3. http://abumushlih.com/tauhid-sepenting-apakah.html/

    Jazakallah

    Suka

    • ‎”Sangat masgul perbandingannya antara Mana yg lebih utama Menegakkan Khilafah dgn memerangi hawa nafsu”.

      kom: ditulisan ana tidak membandingkan mana yg lebih utama, justru dua hal tersebut sejalan, jadi tidak ada yang perlu tersinggung. intinya memerangi hawa nafsu itu dilakukan dengan melaksanakan kewajiban, semakin berat kewajiban semakin berat pula memerangi hawa nafsu, yg di kritik dlm tulisan tersebut kan yang meremehkan perjuangan untuk tegaknya syari’ah dg alasan memerangi hawa nafsu.

      bagi yang tidak meremehkan, walaupun mungkin caranya berbeda ana rasa tidak perlu tersinggung. kalau bicara mulai ‘aqidah dan tauhid semua ana rasa sepakat, namun apakah sejak dahulu kita hanya memulai terus, nanti sampai hari kiamat juga masih memulai saja. sudah berapa ratus tahun dakwah ini berjalan, masa yg dilakukan cuma memulai terus. ‘afwan

      Suka

  3. ‎”…, namun apakah sejak dahulu kita hanya memulai terus, nanti sampai hari kiamat juga masih memulai saja. sudah berapa ratus tahun dakwah ini berjalan, mas yg dilakukan cuma memulai terus.” —–> apakah kalimat ini bukan membandingkan, …kalau tidak mau di sebut “mau menang sendiri” bahwa HT mendeclare bahwa Khalifah yg mereka usung, berupa persatuan seluruh aqidah (Syiah, Sunni, Mu’tajilah, Khawarij dll) yang hanya dapat menegakan Khilafah ?

    Hal diatas jika mau dibandingan proses masing-masing dalam menegakkan Khilafah, akan menjurus ke hal fatal jika adanya pemikiran yg terlintas di hati para pengusung tegaknya khilafah, bahwa tegaknya khilafah BUKAN karena PEMBERIAN Allah.

    {وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik” (QS An Nuur:55).

    Dimana khilafah akan mengusai bumi ini dengan SYARAT dan ketentuan ALLAH semata.

    Syaratnya dengan memiliki ke Imanan dgn aqidah yang benar —-> Apakah campur baur Aqidah memenuhi syarat tersebut ?

    Bahayanya syiah : http://www.facebook.com/note.php?note_id=150644094947210

    Ketentuaan Allah atas tegaknya Khilafah adalah SEBAGAIMANA DIA TELAH MENJADIKAN ORG2 YANG SEBELUM MEREKA BERKUASA ——-> Mari kita pelajari tegaknya Khilafah dimasa keemasan Islam silam :

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=129651487046471

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=133886799956273

    Semoga kesungguhan, niat dan cara kita masing2 menegakan Khilafah di catat Allah sebagai pahala besar di sisi Nya. Amin

    Suka

  4. Apakah Khilafah yg di usung HT sudah tegak ? …. kalau cuma “tanda-tanda”, “tanda-tanda”, “tanda-tanda”,….

    Tanda-tandanya pun “hanya” pengerahan massa dalam demo unjuk rasa di bbrp negara.

    قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

    “Katakanlah: tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” [QS Al-Baqarah: 111

    Suka

  5. Akhi Taufik Menukilkan bahwa; قال الشيخ احمد عيد عطيات: ”…ان الانسان لا يفكر بالتغيير الا اذا ادرك ان هناك واقعا فاسدا او سيئا او اقل جودة مما ينبغي, وحتى يحصل هنا الادراك فلا بد من الاحساس بفساد الواقع“ (أحمد عطيات, الطريق,

    Sesungguhnya …hal ini ,bahwa untuk berubah perlu berbuat,adalah suatu kesepakatan semua manusia sejak jaman Nabi Adam sampai detik sekarang yg kita ada padanya.

    tp yg menjadi masalah apakah perubahan itu mesti ditempuh dengan aqidahnya hizbut tahrier?yaitu aqidah khilafah.hidup dan mati untuk khilafah.bahwa semuanya bisa di ajak kerja sama tersebab alasan khilafah.Walau dengan mengorbankan sedikit keyakinana yg mestinya katakanlah kebenaran itu walaupun pahit.

    Adapun dakwah yang berdasarkan jalan kenabian adalah sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Rabi’ al-madkhali :

    Da’i yang ikhlas, yang ingin menelusuri jejak para Nabi dan ingin memperbaiki keadaan umat dengan perbaikan yang benar, yang pertama… harus dia obati adalah penyelewengan dalam perkara tauhid. Apabila engkau melihat seorang da’i berjalan di atas petunjuk dan bimbingan. Dan apabila engkau melihat ada seorang da’i berbelok ke kanan, ke politik, atau ke yang lainnya, maka tidak ragu bahwa orang ini berada dalam kebimbangan. Tidak ragu lagi, dia melenceng dari dakwah yang disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah terhadap seluruh Nabi, mulai Nabi yang pertama hingga Nabi yang terakhir. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

    “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (agar menyerukan:) beribadahlah kepada Allah dan Jauhilah Thagut.” (An Nahl: 36)

    Apakah yang dimaksud dengan thagut di ayat ini? Karena saat ini ada yang memaknakan thogut pada ayat ini berbeda dengan makna thogut yang dimaukan oleh Al Qur’an.

    “Jauhilah togut” adalah: (Jauhilah) peribadahan kepada berhala-berhala dan jauhilah perbuatan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla.

    Maka perbaikilah (ummat ini) dengan menghancurkan toghut-toghut dalam jiwa manusia. Setelah baik aqidah ummat manusia, maka akan baik sisi kehidupan mereka. Jika seseorang ridho Allah sebagai Rabb dan sesembahannya yang benar, dan tidak ada sesembahan yang bernar kecuali Dia, niscaya dia tidak akan tunduk kepada undang-undang timur dan barat selama-lamanya, karena ia ridho Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya. Sehinga ia akan membuang undang-undang dan peraturan-peraturan buatan manusia.

    Adapun kalau engkau mengawali (perbaikan Ummat) dengan hanya memperbaiki masalah politik dan menyibukkan pemuda dengan masalah seperti ini, berarti engkau menutupkan tabir terhadap dakwah para Nabi. Ini merupakan kesalahan yang fatal yang menimpa para da’i. Yang segera mereka dapatkan –disebabkan dakwah yang seperti ini- adalah dampak negatif. Bukanlah aku orang yang- demi Allah- lebih tahu, lebih sayang, dan lebih cemburu dibandingkan Allah dan Rasul-Nya ‘alaihishshalatu wassalam dari apa yang aku kira.

    Suka

  6. Tentang Artikel -Meraih kemenangan dan kasuksesan-

    Akhi menceritakan tentang dakwah para Nabi,yg penuh rintangan dan cobaan dan memakan waktu yg begitu lama.Para pembaca akan menyimpulkan bahwa bahwa Hizbut tahrier membawa dakwah yg seperti …itu pula.tp benarkah seperti itu?

    Tidak sama sekali,tersebabSesungguhnya seluruh Nabi ‘alaihimus sallam memulai dakwahnya dengan memperbaiki segi akidahnya dan memerangi kemusyrikan. Dan bahwa kerusakan-kerusakan yang berkaitan dengan masalah akidah manusia, berupa kemusyrikan, khurafat, dan bid’ah, jauh lebih berbahaya daripada kerusakan-kerusakan di bidang hukum dan pemerintahan. Kita harus memiliki keyakinan demikian, sebab para Nabi sendiri berkeyakinan seperti itu. Kerusakan akidah itu sendiri telah menjadi bagian dari kebanyakan penguasa dan rakyatnya.

    Allah subhanallahu wa ta’ala tidak membebani para pembawa risalah untuk menjatuhkan suatu Daulah demi tegaknya Daulah yang lain. Allah subhanallahu wa ta’ala tidak pula membebani mereka untuk mencapai tujuan kekuasaan, karena dakwah yang menempatkan penegakkan Daulah sebagai tujuan pertama dan utama tidak akan terlepas dari tendensi mencari kekuasaan dunia, kedudukan, dan jabatan. Dan usaha pencapaian kekuasaan sering diperani oleh orang-orang rakus dan dengki. Tak jarang muncul sekelompok juru dakwah yang berjuang untuk menegakkan Daulah, namun terselinap niat untuk merealisasikan dorongan nafsu, kerakusan, dan dorongan untuk memperoleh hajat yang mereka idamkan.

    Sesungguhnya dakwah mengajak orang untuk menegakkan Daulah jauh lebih mudah dan bahkan lebih cepat mendapat pengikut, sebab kebanyakan manusia menghendaki perolehan dunia dan pemenuhan hawa nafsu. Namun karena sedemikian banyak kendala dan kesulitan dalam menempuh jalan dakwah para Rasul, sedemikian besar kesabaran yang dituntut, maka kita dapati bahwa teramat sedikit orang yang bersedia mengikutinya.

    Suka

  7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal kenabiannya telah ditawari kedudukan sebagai penguasa Makkah, namun beliau menolak kecuali setelah menyelesaikan dakwah tauhidullah dan menumpas kemusyrikan.

    Allah menganugerahkan kepemimpin…an atas umat yang menegakkan tauhid. Kekuasaan itu adalah buah kebaikan yang dipetik karena keimanan mereka. Anugerah Daulah itu pada gilirannya dilimpahkan kepada mereka karena keteguhan mereka dalam menegakkan kalimat Allah, karena kejujuran mereka, amal shalih mereka dan usaha mereka untuk melaksanakan syariat Allah. Anugerah itulah yang diperoleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya, karena kesabaran mereka dalam menempuh manhaj dakwah yang haq, menghadapi kekejian dan kebrutalan kaum musyrikin. Allah telah menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta shahabatnya, memenangkan Dien yang mereka bela, dan mengokohkan mereka di atas bumi. Marilah kita pegang janji Allah subhanallahu wa ta’ala :

    Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal shalih. Bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka yang berkuasa. Dan sungguh Dia akan mengukuhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku … . (QS. An Nur : 55)

    Suka

  8. Kita lihat jauhnya perbedaan antara Dakwahnya para Nabi Alaihimussalam dakwahnya Hizbut Tahrier.Dakwahnya para Nabi tiadalah mengenal kompromi.sedangkan dakwahnya Hizbut tahrier dia akan berkompromi dengan siapa pun hatta syi’ah sekalipun.

    D…i maktabah pribadi saya ada puluhan majalah al-Wa’ ie ,saya lihat bagaimana Tokoh2 Hizbut thrier mendatangi tokoh2 kuburiyyien,mendatangi orang2 yg pemahamannya terhadap Islam jauh dari tuntunan kenabian.orang yg melegalkan tambahan2 baru dalam syariat atas nama bid’ah hasanah

    Inilah dia Musa Alaihis, dibesarkan di dalam istana penguasa yang paling dhalim lagi dipertuhankan. Dia saksikan benar kerusakan, kekufuran, kesewenang-wenangan, kedhaliman, dan kediktatoran yang terjadi di istana dan pusat pemerintahan Fir…’aun. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri penindasan yang menimpa Bani Israil. Mereka diperbudak, dihina dina, dan direndahkan derajatnya. Penguasa tiran itu membiarkan generasi perempuannya tetap hidup, sementara generasi laki-laki dimusnahkan. Inilah kedhaliman terburuk yang tercatat dalam sejarah umat manusia.

    Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman :

    Sesungguhnya Fir’aun berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash : 4)

    Kaum Fir’aun adalah termasuk ahli syirik sejati dan penyembah berhala, watsaniyyah. Menghadapi kaumnya yang sedemikian remuk sendi-sendinya, bagaimanakah Musa ‘alaihis sallam memulai dakwahnya? Adakah ia memulainya dengan upaya memperbaiki umat keberhalaan dengan cara menyerang pemerintahan yang berkuasa serta memaklumatkan perjuangan menegakkan Daulah Islamiyyah? Adakah ia merebut kekuasaan dari tangan diktator besar di bawah pimpinan Fir’aun yang dipertuhankan itu? Tidak demikian.

    Dakwah Musa ‘alaihis sallam tidak berbeda dengan dakwah bapak-bapak pendahulunya dan juga saudara-saudaranya para Nabi. Allah telah mengajarkan dengan baik pokok ketauhidan dan memilihnya sebagai urusan yang mampu memikul risalah-Nya dan menegakkannya dalam rangka pengabdian tulus kepada-Nya.

    Para ulama Sunnah telah berbicara tentang Hizbut Tahrier.yang semuanya bermula dari telaahan Muhadditsul Ashri Syaikh Al-Albani.Di antara mereka adalah Syaikh abdurrahman Dimasyqiyah yg sering menulis tentang syiah bahkan berdebat langsung,…bukannya saling berangkulan :

    نشأ حزب التحرير على الطريقة التي نشأ عليه غيره من التأصيل الحماسي العاطفي. وجعل مسألة عودة الخلافة الأسلامية شعارا بل عقيدة تطغى على العقيدة. وبنا برنامجا سياسيا زعم أنه يجب أن لا يزيد عن 13 سنة وبعدها يتسلم الخلافة.لكنه لم يراع بتاء المنهج على أساس تربوي أخلاقي وإنما على بنيان سياسي بحت. وكادت كتب الحزب تخلو من الدعوة الى الصدق والورع والتقوى والأخلاص، والتحذير من الشرك ووسائله ومداخله التي هي أكثر مواضيع القرآن، وتخلو من التحذير من أصناف المعاصي التي هي بدورها من أسباب فقدان الخلافة.

    Lihat arraddu ala hizbit tahrier hal.8

    Suka

    • Ini saja, penulisnya sudah salah faham:
      وبنا برنامجا سياسيا زعم أنه يجب أن لا يزيد عن 13 سنة وبعدها يتسلم الخلافة.لكنه لم يراع بتاء المنهج على أساس تربوي أخلاقي وإنما على بنيان سياسي بحت

      Cobalah bersikap ilmiyyah dengan mengecek ke kedua belah pihak. Dikitab mana, atau dari mana bisa disimpulkan seperti itu?

      Jangan kekaguman kita pada seseorang menjadikan kita ikut saja walaupun jelas yg kita kagumi salah, walaupun mungkin beliau tidak sengaja, atau tidak faham. Sahabat saja bisa salah faham dalam kasus bani mushtaliq, apakah Al Albani diposisikan lebih baik dari shahabat sehingga pasti benar dalam menyerap fakta?

      https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/09/22/khutbah-jumat-teliti-dalam-menerima-informasi/

      Suka

    • Apakah seperti ini yg antum maksud bid’ah SESAT yg di tolerir oleh kawan-kawan dari HT:
      Bersalaman setelah shalat
      Ceramah setelah tarawih
      Adanya waktu Imsak
      Mencari imam yg bacaannya seperti bacaan imam masjidil haram Membaca al Qur’an pakai lagu bayati, hijaz dll
      Ceramah saat aqiqah
      Berdzikir pakai tasbih, atau alat penghitung selain jari
      Ziyarah kubur
      Melafadzkan niyat dg usholli…

      http://www.facebook.com/note.php?note_id=422912542682

      Suka

  9. Realita yg berbicara seperti itu dan sebelumnya buku2 yg menjadi rujukan ht serta artikel2nya ataupun buletin2nya telah menjadi saksi bahwa khilafah adalah segalanya bagi ht.sampai2 sorang rekan yg sejak SMA ikut ht segala aktivitasnya dicu…rahkan untuk khilafah,segala gerak gerik bahkan keluar masuk nafasnya adalah untuk khilafah,terakhir ktika dia bikin skripsi ,yg berkaitan dengan khilafah juga yg dia tulis.

    sedangkan saya tahu bahwa Tauhidnya pas2n,cara ibadahnya morat marit.tp saya angkat jempol dia selalu semangt bebicara tentang khilafah,walaupun teman2nya tidak paham,berbicara menghujat pemerintah,mencela kebijaksanaan2 pemerintah dgn nada memprovokasi,terus ngajak ikut demo yg notebennya adalah produk yahudi dan menjadi alat kaum khawarij untuk mengulingkan pemerintah.
    yg dalam isthilah HT nantinya disebut dengan thalabun nushroh.

    Satu saja pertanyaan ana untuk Hizbut tahrier.beranikah menulis di al-wa’ie tentang aqidah bahwa banyak hal2 yg ada dimasyarakat yg malah didukung oleh ulama2nya adalah Bid’ah dan sebagiannya bisa membawa kepada kemusyrikan?

    jangan hanya menulis hal yg sifatnya slalu dan slalu menghujat pemerintah.

    Suka

    • Semakin antum nulis semakin faham ana kalau antum tidak mengenal apa yg antum tuduhkan, termasuk tentang thalabun nushroh. afwan, kalau memang begitu terserah antum bgm menyimpulkan, itu tanggung jawab antum.

      Baik realita, maupun dari kitab2nya, ana tdk jumpai bagian yang antum katakan dari kitab arraddu ala hizbit tahrier hal.8, ini jelas keliru, kalau antum ikhlas, tentu antum akan bisa menerima kalau kutipan dalam kitab ini keliru, bukan malah mengalihkan ke tema lain.

      وبنا برنامجا سياسيا زعم أنه يجب أن لا يزيد عن 13 سنة وبعدها يتسلم الخلافة.لكنه لم يراع بتاء المنهج على أساس تربوي أخلاقي وإنما على بنيان سياسي بحت

      Cobalah bersikap ilmiyyah dengan mengecek ke kedua belah pihak. Dikitab mana, atau dari fakta apa bisa disimpulkan seperti itu? Atau antum tidak faham bagian yg ana kutip dari pernyataan antum?

      Sungguh memprihatinkan kalau para da’i sibuk saling serang antar organisasi tanpa mau mengecek, inikah contoh dari salafush shaleh?

      Suka

      • kalau realita antum jadikan bukti, ya ana bisa memahami kalau NU di tuduh musyrik, quburiyyun, karena faktanya memang ada orang NU yang ziyarah kuburnya tidak syar’i. ada yg nuduh Muhammadiyah seperti abu jahal, karena sudah tahu yg benar, cuma krn malu saja akhirnya enggan mengakui kebenaran(ada tokoh muhammadiyah yg curhat ke ana), Jama’ah Tabligh ahli bid’ah, karena mungkin ada orang tabligh yang melakukan bid’ah, termasuk Islam itu jelek karena banyak orang Islam yg korupsi, berzina, dll. na’udzu billaah.

        Suka

    • ٍSebetulnya catatan ana ini kesimpulannya kan sederhana, yakni memerangi hawa nafsu dilakukan dengan memaksa nafsu untuk melaksanakan kewajiban yang Allah bebankan, semakin berat kewajiban, maka semakin berat juga perjuangannya.

      Bagi orang …pelit, semangat untuk kaya, maka untuk bersedekah perlu memerangi hawa nafsunya, sebagaimana sabda Rasul riwayat imam bukhory:
      “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan berkata,: “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?”. Beliau menjawab: “Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya.

      Mengenai aqidah dan tauhid yang pertama, ana setuju

      Suka

  10. Ana mempercayai Ulama2 ana sebagaimana Akhi mempercayai Ulama2 yg jd ilkutan akhi .syaikh Abdurrahman menyatakan ;

    نشأ حزب التحرير على الطريقة التي نشأ عليه غيره من التأصيل الحماسي العاطفي. وجعل مسألة عودة الخلافة الأسلامية شعارا بل عقيدة تط…غى على العقيدة. وبنا برنامجا سياسيا زعم أنه يجب أن لا يزيد عن 13 سنة وبعدها يتسلم الخلافة.لكنه لم يراع بتاء المنهج على أساس تربوي أخلاقي وإنما على بنيان سياسي بحت. وكادت كتب الحزب تخلو من الدعوة الى الصدق والورع والتقوى والأخلاص، والتحذير من الشرك ووسائله ومداخله التي هي أكثر مواضيع القرآن، وتخلو من التحذير من أصناف المعاصي التي هي بدورها من أسباب فقدان الخلافة.

    Dimana letak kesalah fahaman beliau ?bukankah HT memang dakwahnya adalah menyeru kepada khilafah dan itu prioritas utamanya.Bukan hanya realita tp tp konsep2nya pun selalu mengarah dan berkaitan kpd hal itu.dan bukankah HT juga pernah meraba2 kapan akan berdirinya khilafah itu?

    kita tentu sepakat,kalau orang masygulnya dalam suatu hal,maka hal2 lain akan terkepinggirkan,mau ataupun tidak mau, walaupun ada ucapan “Mengenai aqidah dan tauhid yang pertama, ana setuju”.

    Ya benar,masalah yg akhi kemukakan adalah bid’ah2 yg wajib agar ummat diperingatkan dari hal itu.Ulama2 Sunnah memberikan contoh ketegaran mereka terhadap penyampaian hal2 yg bersipat bidah itu.Yg bid’ah kita katakan bidah,bukannya berlindung disebalik anggapan itu khilafiyah,karena generelisasinya tidak akan ada yg namanya bidah,karena semua hal ada khilafiyahnya.

    realita nu berbeda dengan realita HT.anggaran dasar NU merujuk kpd mazhab empat.realitanya generasi muda NU tidak hanya merujuk kpd mazhab empat.NU generasi tua teramat kokoh memegang apa yg tertulis dalam kitab kuning,tetapi generasi mudan…ya udah mulai mencari mana landasanya.Lihat buku tradisi intelektual NU Dr.Ahmad Zahro.

    Adapun HT antara realita dan yg tertulis sama.anggaran dasarnya menuju berdirinya khilafah.sehingga semua kekuatan,tenaga ,aktivitas,untuk terealisasinya hal itu.Nah kira2 apakah ada generasi muda HT yg mau merubah anggaran dasarnya itu?menjadi anggaran dasar dakwah tauhid,membereskan penyimpangan2 yg ada baru nanti khilafah akan berdiri sendirinya.bukan sebaliknya menyusun konsep khilafahnya duluan sedangkan orang2 nya belum siap.Ibarat bikin kapal besar kita sibuk merancang bagaimana cara membuatnya,apa dan bagaimana nanti yg akan dilakukan.sedangkan orang2 yg akan menumpangi kapal itu tidak kita urus,jdnya pas penumpang2 itu naik kapal,mereka berprilaku deng seribiu satu macam perilaku aneh yg akhirnya seperti kejadian di al-jazair.kapalnya tenggelam karena ketidak siapan yg menumpanginya.Allahu al-musta’an.

    Wa akhiran.ana mohon maaf jika ada kata2 yg tiada pantas terucap.

    Wassalamualaikum warohmatulloh

    Suka

    • ‘alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh.
      Yang ana tanyakan khusus yang ana copy paste dari antum, bukan yg lain, yakni yg ini, وبنا برنامجا سياسيا زعم أنه يجب أن لا يزيد عن 13 سنة وبعدها يتسلم الخلافة.لكنه لم يراع بتاء المنهج على أساس …تربوي أخلاقي وإنما على بنيان سياسي بحت. Ini sama sekali keliru. Kalau masalahnya percaya-percayaan saja, ya memang tidak ada gunanya diskusi, makanya ana heran, sampai sekarang masih saja ada orang yg ngaku “salafi” yg nyebarkan berita kalau HT membolehkan berciuman dg non mahrom yg bukan istrinya, HT membolehkan pornografi, boleh melihat mahrom saat bugil, dll, ini akibat percaya “buta” kepada pemberi informasi, tanpa mau klarifikasi, ataupun kalau klarifikasi maka tidak percaya kepada yg memberi klarifikasi, “yang penting ana percaya kepada ‘ulama kami yang mengatakan ht membolehkan berciuman dg non mahrom yg bukan istri…”.

      Suka

    • Ana tidak bermaksud membela HT maupun NU, Muhammadiyah, Jama’ah tabligh atau ormas lain, ana hanya sedih melihat para da’i yg katanya memperjuangkan tauhid, aqidah menurut salafus shaleh akhirnya melontarkan hal yg tidak pantas pada saudara… sesama muslim hanya misalnya gara-gara perkara yang memang ana anggap khilafiyyah (walaupun antum anggap bid’ah yg sesat).

      Apakah masalah isbal dan jenggot menjadi masalah utama aqidah salafiyah (di Banjarmasin di sebuah masjid muhammadiyah ribut hanya gara-gara itu), kalau antum menyebut aqidah khilafah (yg HT tidak pernah menyebutnya), apakah aqidah jenggot lebih penting?

      Kalau memulai dari aqidah ana sepakat, namun apakah jenggot, isbal, dan berpolemik dalam masalah bid’ah yg sebagian masih khilafiyah, itu juga merupakan masalah aqidah, sehingga harus masyghul di situ?

      Bagaimana hukumnya kalau setelah/sebelum tarawih misalnya melakukan salah satu aktivitas berikut: 1) makan, 2)baca koran, 3) memasak, 4) tertawa … boleh apa tidak ? kalau boleh mengapa ceramah setelah/sebelum tarawih dikatakan bid’ah yg berkonotasi sesat?, sementara tidak ada terlintas pemahaman sedikitpun bahwa ceramah ini bagian dari shalat tarawih, hanya sekedar memanfaatkan waktu. Mungkin dijawab: kalau diadakan terus menerus maka bid’ah. Dari sisi mana bisa diambil kesimpulan begitu? sampai ada yg mengatakan sholat dhuha kalau dilakukan terus menerus juga bid’ah sesat (ana tdk tahu dia dari mana atau terinspirasi siapa).

      Bagaimana hukumnya kalau sebelum shalat misalnya melakukan salah satu aktivitas berikut: 1) makan, 2)baca koran, 3) memasak, 4) tertawa … boleh apa tidak ? kalau boleh, mengapa hanya sekedar membaca usholli … jadi bid’ah yang sesat, sementara ana kaji di kitab-kitab yg dipakai NU tidak satupun yang menganggap itu bagian dari sholat, bukan syarat, bukan pula rukun sehingga tidak bisa dikatakan menambah-nambah ibadah, itu hanya pengkondisian awal, sama misalnya sebelum shalat kita berdo’a dulu. Walaupun ana tidak pakai usholli … lagi, yakni niat cukup dalam hati bahwa ana menyengaja sholat… namun ana tidak berani menyatakan hal tersebut bid’ah sesat, (terserah kalau antum anggap ana ikut membela ahli bid’ah gara gara ini). Apakah hal-hal diatas adalah aqidah menurut antum sehingga kita harus sibuk membahas tema ini?

      Suka

    • Lalu apakah mengajak orang yakin seyakin-yakinnya bahwa Allahlah pencipta kita, yang menghidupkan dan mematikan kita, yg ketentuannya pasti terlaksana, mengajak manusia yakin bahwa hanya syariat –Nya yang layak bagi kita, hanya syari’at-Nya yang menjamin keadilan, dan termasuk syari’at-Nya adalah kewajiban menegakkan khilafah, yg fungsi utama khilafah adalah menerapkan syari’at dan menjadikan ketundukan hanya kepada Allah, menjaga aqidah umat dan mengemban Islam ke seluruh dunia, apakah keyakinan ini bukan bagian aqidah ? atau dianggap kurang penting dibanding pembahasan isbal, jenggot , raka’at tarawih, imsak puasa dan usholli …?

      Mungkin antum katakan, wah itu pakai akal, tidak sesuai jalan salafus shalih, untuk memahami sesuatu harus pemahaman akalnya salafus shaleh. Kalau begitu apakah standar akal salafus shaleh itu? Apakah hanya ‘ulama-ulama yg diakui “salafi” saja yang mempunyai akal seperti ini, khilafiyah antar mereka saja yang diakui sebagai khilafiyyah, sementara yg lain tidak diakui sebagai khilafiyah namun dianggap bid’ah yg sesat? Lihatlah bagaimana Bin Baz menyelisihi Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar dalam masalah jenggot yang lebih dari satu genggam, juga menyelisihi Al Albani sendiri, namun ini ditolerir sebagai khilafiyyah, al Albani juga beda dg bin Baz dalam masalah apa wanita haidl boleh masuk masjid (di NU saja tidak ada beda), ini ditolerir sbg khilafiyyah, namun ketika yg beda lain “group” kenapa di sebut bid’ah, menyimpang dll?

      Berhati-hatilah saudaraku, Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermahdzab Hanafi dalam buku Daf’u Al-Auham An-Masalah Al Qira’at Khalf Al-Imam, hal. 15 : ‘’Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan , padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan madzab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzab Abu Hanifah dan ambil hadist Rasul SAW’’. Padahal hadis ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat atau sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui‘’. Ini bukan peringatan untuk antum, ini peringatan untuk ana, antum dan umat Islam yg lain untuk berhati-hati.

      ‘afwan, ana juga mohon ma’af kalau menyinggung.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s