Category Archives: Politik

Khilafah: Wajib Tunggal Atau Boleh Lebih Dari Satu?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si, MSI

Khilafah telah menjadi pembicaraan publik di Indonesia akhir-akhir ini, baik pada level pemerintah maupun level masyarakat dengan berbagai segmennya. Seorang tokoh ormas Islam pun kemudian melontarkan ide “Khilafah Nasionalis”, sebagai lawan dari “Khilafah Internasionalis” yang ditolaknya tanpa alasan syar’i. Ide “Khilafah Nasionalis” nampaknya dimaksudkan untuk mengkrompomikan dua ide yang bertentangan (kontradiktif), yaitu Khilafah sebagai ajaran Islam di satu sisi, dengan ide negara-bangsa pada sisi lain. Read the rest of this entry

Iklan

Sisi Baku Dalam "Ketidakbakuan" Sistem Khilafah

Tidak menarik mengikuti diskusi tentang “kebakuan sistem khilafah” antara Prof. Mahfud MD (MMD) dengan KH. Shiddiq al Jawi (di sini), baru membahas istilah “sistem baku”, diskusi sudah berhenti.

Sejak awal, saya sudah menduga arah dari pernyataan Pak MMD dalam cuitannya: “Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”. Saya menduga alur berfikir pak MMD adalah sbb:

  1. ada ikhtilaf dalam (cabang-cabang) sistem khilafah,
  2. karena ada ikhtilaf maka tidak baku,
  3. dan karena tidak baku maka bebas dan boleh beda-beda, mau republik, kerajaan, monarki, maupun kekaisaran, semua bebas.
  4. karena itu tidak wajib menegakkan sistem khilafah dg satu bentuk tertentu.

Dan dugaan saya ini sepertinya benar, terbukti dengan tanggapan beliau di bagian bawah (di sini).

Tulisan ini hanya ingin mengoreksi alur berfikir tersebut, karena alur berpikir tersebut sangat berbahaya jika diberlakukan ke bidang-bidang yang lain, semisal:

Read the rest of this entry

Cacat Epistemologis dalam Istilah “Sistem Baku Khilafah” Prof. Mahfud MD

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI

(Pimpinan Pesantren Hamfara Jogjakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY; Mahasiswa Doktoral Prodi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sudah tersebar luas tantangan Prof. Mahfud MD via akun twitter beliau agar para penyeru khilafah menunjukkan sistem baku Khilafah. Prof. Mahfud MD menulis di akun twitter-nya,”Kalau mereka bisa menunjukkan sistem baku khilafah dari Qur`an dan Hadits maka saya akan langsung mempejuangkan khilafah bersama mereka. Ayo.” Dalam tweet beliau yang lain,”Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”

Read the rest of this entry

Bughât (Pemberontak)

Sangat miris hati mendengar ada intelektual atau kyai yang sembarangan menggunakan istilah bughât (pemberontak). Istilah ini mereka tujukan kepada setiap orang yang tidak sepakat dengan kebijakan penguasa dan berusaha meluruskannya. Dulu saat Belanda menjajahpun, ada model orang-orang seperti ini, mendukung Belanda, sementara pejuang yang menentang Belanda kata mereka pantas dibuang ke Digul.

Ini bisa terjadi karena ketidakfahaman tentang makna bughât, atau faham namun sengaja memelintir pemahamannya demi tujuan-tujuan duniawi.

Read the rest of this entry

Sosialisme/Komunisme dan Pertentangannya dengan Islam

Sosialisme termasuk komunisme memang telah ‘mati’ dan hilang dominasinya dalam kehidupan, namun sebagai pemikiran ideologi, selama masih ada orang-orang yang mengemban dan memperjuangkannya, dia masih memiliki potensi untuk ‘hidup’ kembali. Oleh karena itu, kajian terhadap sosialisme termasuk komunisme tetaplah penting untuk mematikan sisa-sisa ‘nyawa’ yang masih menggeliat mencari celah-celah dan kesempatan untuk bangkit kembali.

Read the rest of this entry

Beginilah Rasulullah Menyikapi Pembantaian Terhadap Muslim

Islam, disamping mengajarkan kasih sayang, juga mengajarkan sikap tegas kepada musuh yang telah membunuh dan melakukan kedzaliman kepada manusia, apalagi kepada saudara se-iman.

Ketika perjanjian hudaybiyyah – yang berisi gencatan senjata selama 10 tahun berlangsung, Bani Bakr menjadi sekutu Quraisy sedang Bani Khuza’ah menjadi sekutu Nabi saw.

Read the rest of this entry

Menta’ati Allah Lebih Penting daripada Melawan Opini Negatif

Salah satu hal yang membahayakan ketaqwaan seseorang adalah jika dia lebih perhatian terhadap bagaimana pandangan manusia terhadap dirinya daripada pandangan Allah atas dirinya: begitu ingin tampil perfect, sempurna, dihadapan manusia, namun jarang merenungi posisi dirinya dihadapan Allah swt.

Padahal bagaimanapun kita berupaya mencitrakan diri sebaik mungkin dihadapan manusia, tetap saja ada manusia yang senang, ada yang tidak peduli, termasuk ada yang benci, apalagi jika pencitraan diri tersebut dilakukan dengan kebohongan dan propaganda negatif, maka itu justru akan menjadikan urusannya tidak akan ditolong Allah swt.

Read the rest of this entry

Pentingnya Khalifah dan Tanggungjawabnya (Penjelasan Imam al Mawardi (w. 450H))

Sebagian orang, entah sengaja atau tidak, berupaya mendistorsi ajaran Islam tentang khilafah dengan mengatakan “khilafah bukan ajaran Islam”, menurut mereka, khilafah itu intinya adalah kepemimpinan, hingga ada guru besar sebuah universitas Islam mengatakan “khilafah hari ini ya Amerika”.

Sebagian lagi ketika tidak menemukan jalan untuk menolak kewajiban khilafah, akhirnya mengatakan, “kami setuju saja khilafah, namun khilafah aswaja, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir”, anehnya ketika dikejar untuk menjelaskan apa saja bedanya, akhirnya dijawab dengan muter-muter, tidak memberikan gambaran bagaimana khilafah aswaja, apalagi gambaran khilafah versi Hizbut Tahrir. Sepertinya dia berbicara begitu asal saja, yang penting memberikan persepsi negatif kepada orang seolah-olah Hizbut Tahrir bukan golongan aswaja, itu saja.

Sebagian lagi mengemukakan bahwa yang penting itu bukan “ismun” (nama), namun “musamma” (apa yang dikandung oleh nama tersebut), menggunakan kaidah “al ibrotu bil musamma, laa bil ismi”, lalu disimpulkan secara ‘akrobatik’ bahwa sekarang ini sudah era khilafah.

Read the rest of this entry

Jika Allah Menghendaki Sesuatu, Dia Akan Mengatur Sebab-Sebabnya

Pernahkah terbayang bagaimana caranya 38 kerajaan/kesultanan yang ada di Indonesia ini bisa bersatu menjadi satu negara, Indonesia? Padahal mereka, secara total telah hidup selama 443 tahun? Pernahkah terbayang, bagaimana bisa Majapahit yang telah hidup selama 207 tahun akhirnya menjadi bagian Indonesia?

Kalau sekarang orang berfikir, “dimana NKRI kalau negeri ini mau jadi kekhilafahan?” tidakkah mereka juga berfikir, dulu sebelum merdeka apakah kesultanan-kesultanan tersebut memikirkan hal yang sama: “dimana kesultanan kami jika kalian memproklamasikan Indonesia?”.

Read the rest of this entry

Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Read the rest of this entry

Ki Bagus Hadikusumo & Pancasila

Sudah 67 tahun berlalu, apa yang kita namakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun sejalan dengan proklamasi tersebut, masih juga mengganjal dihati –bagi sebagian umat yang menyadari-sebuah kesepakatan yang tidak tertunaikan. Sebuah perjuangan yang digugurkan sebelum dilahirkan. Gentlemant’s Agreement bernama Piagam Jakarta.

Read the rest of this entry

Kamu Goblok!

Suatu ketika, di negeri antah berantah, Mukidi, Hoka dan Utuh sedang naik jukung (perahu kecil), si Utuh yang mengayuh perahu. Dari arah depan nampak speed boat, melihat itu Hoka berkata ke Utuh: “ Tuh, ke pinggir Tuh, kalau dekat speed boat nanti kita bisa kena airnya”

Utuh menjawab: “biasa saja lah, ulun (saya) udah biasa bawa jukung ini, kada usah takutan”.

Read the rest of this entry

Mencegah Sekularisasi Pancasila

Pagi ini, Metro TV, dalam editorialnya, memprovokasi masyarakat untuk membubarkan ormas ‘menyimpang’, secara tegas yang mereka sebut adalah Hizbut Tahrir. Diantara alasannya adalah karena dianggap membahayakan NKRI dan merongrong Pancasila.

Hizbut Tahrir, memang adalah organisasi yang secara tegas senantiasa mengajak masyarakat untuk menerapkan syari’ah dan menegakkan khilafah (khilafah itu salah satu bagian dari syari’ah). Apakah memang benar seruan Hizbut Tahrir ini merongrong Pancasila? Ada baiknya dibaca dengan seksama tulisan KH. Makruf Amin (Ketua MUI dan NU), berjudul “Mencegah Sekularisasi Pancasila” dibagian bawah ini.

Jika mengajak berhukum kepada syari’ah dianggap merongrong Pancasila, apakah justru membiarkan berbagai kegiatan LGBT itu yang sesuai dengan Pancasila, hingga kata Tito Karnavian menyatakan negara wajib melindungi mereka? [1]. Adakah agama di Indonesia ini yang menyokong LGBT: Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender? Apakah penjualan berbagai aset strategis negara kepada asing itu justru yang selaras dengan Pancasila? Penista agama, bukan hanya agama Islam, bahkan agama dia sendiri (kristen) juga tak luput jadi candaan, disebutnya “ajaran kristen itu konyol”, apakah membela orang seperti itu wujud dari sikap Pancasilais?

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Membahayakan NKRI

Inilah bahaya yang mungkin ditimbulkan jika cita-cita Hizbut Tahrir untuk ditegakkannya syari’ah tercapai:

1. Membahayakan Wakil Rakyat. DPR akan kekurangan job dan berkurang durasi ‘studi banding’. Ini karena hukum syari’ah tidak perlu pengesahan DPR. Kalau tahap penyusunan satu RUU usulan DPR, anggaran yang digunakan Rp5,2 miliar pada tahun 2012[i], bisa dibayangkan berapa pemasukan yang akan hilang karena kurangnya job ini.

Read the rest of this entry

Batasan Ketaatan Kepada Penguasa (Ulil Amri)

Kewajiban untuk taat kepada penguasa (ulil amri) adalah hal yang sudah umum diketahui umat Islam, kewajiban ini tetap berlaku baik mereka senang dengan penguasa ataupun tidak, baik penguasanya adil maupun dzalim. Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, misalnya dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلّاَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat sesuatu yang dibenci (tidak disukai) dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sebab, barang siapa memisahkan diri dari jamaah[1] satu jengkal lantas mati, itu adalah kematian jahiliah.”

Read the rest of this entry