Category Archives: Politik

Islam & Ujaran Kebencian

Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, menyuruh berbuat kebaikan, berlaku adil dan menolong sesama, bahkan binatang melata sekalipun tidak boleh dianiaya. Namun di sisi lain Islam ‘mengajarkan kebencian’ dan menyeru manusia untuk membenci apa yang dibenci oleh Islam. Rasulullah bersabda:

Bukan hanya membenci apa yang dibenci Allah, namun seorang muslim juga dituntut untuk ‘menyebarkan kebencian’ tersebut, dalam hadis dikatakan”

وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِى فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ، ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الأَرْضِ

“Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Rasulullah saw. bersabda, “Kemudian Jibril pun membencinya dan menyeru kepada penghuni langit, sesungguhnya Allah telah membenci si Fulan, maka bencilah ia.” Rasul saw. bersabda, “Kemudian mereka pun membencinya dan setelah itu kebencian baginya akan diletakan di bumi.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Khilafah Ajaran Islam

Tulisan menarik dari Dr. Daud Rasyid, Lc., MA, seorang akademisi bidang hadits dan syariah, disampaikan secara resmi di persidangan PTUN, Jakarta Timur, tanggal 08 Pebruari 2018, disertakan pula berbagai literatur sebagai referensi yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

*****

KHILAFAH AJARAN ISLAM

Dr. Daud Rasyid, Lc., MA (*)

Istilah Khilafah

Khilafah adalah isim syar’i [istilah syariah]. Artinya, Khilafah ini bukan istilah buatan manusia, karena istilah ini pertama kali digunakan dalam nash syariah dengan konotasi yang khas, berbeda dengan makna yang dikenal oleh orang Arab sebelumnya. Sebagaimana kata Shalat, Hajj, Zakat, dan sebagainya. [Lihat, al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Juz I/27-28]

Read the rest of this entry

Pencerdasan & Penyadaran Politik

Salah satu perkara penting yang harus ditanamkan di tengah-tengah umat adalah kesadaran politik (al wa’yu as siyâsi). Orang yang buta politik tidak akan sadar bahwa kesulitan ekonomi, tinggi rendahnya biaya hidup, menyebar atau hilangnya penyakit masyarakat, semuanya sangat dipengaruhi oleh keputusan politik, mereka juga tidak peduli bahwa terkurasnya kekayaan umat, melemahnya nilai tukar mata uang, itu juga akibat keputusan politik, bukan semata ekonomi.

Membangun kesadaran politik memang banyak hambatannya, orang yang buta huruf relatif mudah diajari daripada orang yang buta politik, karena orang yang buta huruf biasanya merasa bahwa itu adalah kekurangan dirinya, sementara orang yang buta politik, mereka bahkan bisa bangga dengan ‘kebutaannya’ tersebut, bahkan mengajak orang lain untuk seperti dirinya.

Read the rest of this entry

Jerit Muslim Uighur Untuk “Mu’tashim”

Diantara ciri sehatnya keimanan seseorang adalah adanya rasa persaudaraan dan empati kepada setiap orang yang beriman, dimanapun mereka berada, apapun suku mereka. Ibarat satu tubuh, sakit dan senang akan dirasakan bersama. Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ِ

“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan empati adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”(HR. Muslim).

Menurut satu komite PBB, sekitar satu juta Muslim Uighur ditahan dalam kamp-kamp penguasa Cina. Kelompok hak asasi manusia mengatakan para tahanan dipaksa untuk menyatakan kesetiaan kepada Presiden Xi Jinping, meninggalkan keyakinannya, yakni Islam, bahkan sekedar jenggot dan nama yang Islamipun mereka permasalahkan. [1]

Read the rest of this entry

Haram Memilih Pemimpin Zalim

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), salah seorang ulama besar madzhab Syafi’i, menyatakan dalam kitabnya Al-Zawâjir ’an Iqtirâfi Al-Kabâir:

الْكَبِيرَةُ الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ بَعْدَ الثَّلَاثِمِائَةِ: تَوْلِيَةُ جَائِرٍ أَوْ فَاسِقٍ أَمْرًا مِنْ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ

“Dosa besar ke 341: memilih (menunjuk) orang yang sewenang-wenang (zalim) atau fâsiq untuk mengurusi urusan-urusan umat Islam.”[1]

Beliau mengungkapkan berbagai dalil, diantaranya:

Read the rest of this entry

Diam yang Menghinakan

Tidak selalu diam itu emas. Adakalanya justru diam adalah kehinaan, seperti saat seharusnya dia melakukan pembelaan kepada agamanya namun justru dia memilih diam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا يَحْقِرْ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ

“Janganlah salah seorang diantara kalian menghinakan dirinya sendiri.”

Mereka (para sahabat) bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَحْقِرُ أَحَدُنَا نَفْسَهُ؟

Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dari kami menghinakan dirinya sendiri?”

Beliau menjawab:

يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالٌ ثُمَّ لَا يَقُولُ فِيهِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِي كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ خَشْيَةُ النَّاسِ فَيَقُولُ فَإِيَّايَ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَى

“Dia melihat satu perkara (yang seharusnya) dia mengucapkan satu perkataan karena Allah atas perkara tersebut, lalu dia tidak mengatakan (pembelaan) kepadanya, maka Allah ‘azza wajalla akan berkata kepadanya kelak di hari Kiamat; ‘Apa yang mencegahmu untuk mengatakan begini dan begini!’ lalu ia menjawab, ‘Saya takut terhadap manusia’. Maka Allah pun berfirman: ‘Aku lebih berhak untuk kamu takuti’.” (HR. Ibnu Majah. Al Bushiri dalam Zawa’id (3/242) berkata: hadist ini sanadnya shahih).

Jika diam saja adalah kehinaan, tentu memutar-mutar lidah yang bisa dikonotasikan masyarakat sebagai pembelaan kepada kezaliman adalah lebih hina lagi, dan jauh lebih hina lagi jika berkata secara nyata untuk menyokong kezaliman terhadap agama.

Read the rest of this entry

Cinta Tanah Air: Antara Iman dan Nafsu

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ

“cinta tanah air merupakan bagian dari keimanan”

Ungkapan ini sering digunakan sebagai senjata oleh kaum sekuler untuk menikam perjuangan umat dalam menegakkan syari’ah Allah swt. Framing mulai “tidak memiliki rasa cinta kepada negara” hingga tuduhan yang lebih keji: “ingin menghancurkan negara”, kerap dilontarkan dan dibumbui ‘dalil’ ini.

Ada enam hal yang perlu difahami terkait ungkapan yang sering disebut sebagai hadits tersebut.

Pertama: Hadist di atas adalah hadist maudhu’ (palsu), sebagaimana diungkapkan Imam as Shoghôny (w. 650 H)[1], dan ‘laa ashla lahu’ (tidak ada ashl nya) menurut para huffadz[2].

Read the rest of this entry

Khilafah: Wajib Tunggal Atau Boleh Lebih Dari Satu?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si, MSI

Khilafah telah menjadi pembicaraan publik di Indonesia akhir-akhir ini, baik pada level pemerintah maupun level masyarakat dengan berbagai segmennya. Seorang tokoh ormas Islam pun kemudian melontarkan ide “Khilafah Nasionalis”, sebagai lawan dari “Khilafah Internasionalis” yang ditolaknya tanpa alasan syar’i. Ide “Khilafah Nasionalis” nampaknya dimaksudkan untuk mengkrompomikan dua ide yang bertentangan (kontradiktif), yaitu Khilafah sebagai ajaran Islam di satu sisi, dengan ide negara-bangsa pada sisi lain. Read the rest of this entry

Sisi Baku Dalam "Ketidakbakuan" Sistem Khilafah

Tidak menarik mengikuti diskusi tentang “kebakuan sistem khilafah” antara Prof. Mahfud MD (MMD) dengan KH. Shiddiq al Jawi (di sini), baru membahas istilah “sistem baku”, diskusi sudah berhenti.

Sejak awal, saya sudah menduga arah dari pernyataan Pak MMD dalam cuitannya: “Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”. Saya menduga alur berfikir pak MMD adalah sbb:

  1. ada ikhtilaf dalam (cabang-cabang) sistem khilafah,
  2. karena ada ikhtilaf maka tidak baku,
  3. dan karena tidak baku maka bebas dan boleh beda-beda, mau republik, kerajaan, monarki, maupun kekaisaran, semua bebas.
  4. karena itu tidak wajib menegakkan sistem khilafah dg satu bentuk tertentu.

Dan dugaan saya ini sepertinya benar, terbukti dengan tanggapan beliau di bagian bawah (di sini).

Tulisan ini hanya ingin mengoreksi alur berfikir tersebut, karena alur berpikir tersebut sangat berbahaya jika diberlakukan ke bidang-bidang yang lain, semisal:

Read the rest of this entry

Cacat Epistemologis dalam Istilah “Sistem Baku Khilafah” Prof. Mahfud MD

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI

(Pimpinan Pesantren Hamfara Jogjakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY; Mahasiswa Doktoral Prodi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sudah tersebar luas tantangan Prof. Mahfud MD via akun twitter beliau agar para penyeru khilafah menunjukkan sistem baku Khilafah. Prof. Mahfud MD menulis di akun twitter-nya,”Kalau mereka bisa menunjukkan sistem baku khilafah dari Qur`an dan Hadits maka saya akan langsung mempejuangkan khilafah bersama mereka. Ayo.” Dalam tweet beliau yang lain,”Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”

Read the rest of this entry

Bughât (Pemberontak)

Sangat miris hati mendengar ada intelektual atau kyai yang sembarangan menggunakan istilah bughât (pemberontak). Istilah ini mereka tujukan kepada setiap orang yang tidak sepakat dengan kebijakan penguasa dan berusaha meluruskannya. Dulu saat Belanda menjajahpun, ada model orang-orang seperti ini, mendukung Belanda, sementara pejuang yang menentang Belanda kata mereka pantas dibuang ke Digul.

Ini bisa terjadi karena ketidakfahaman tentang makna bughât, atau faham namun sengaja memelintir pemahamannya demi tujuan-tujuan duniawi.

Read the rest of this entry

Sosialisme/Komunisme dan Pertentangannya dengan Islam

Sosialisme termasuk komunisme memang telah ‘mati’ dan hilang dominasinya dalam kehidupan, namun sebagai pemikiran ideologi, selama masih ada orang-orang yang mengemban dan memperjuangkannya, dia masih memiliki potensi untuk ‘hidup’ kembali. Oleh karena itu, kajian terhadap sosialisme termasuk komunisme tetaplah penting untuk mematikan sisa-sisa ‘nyawa’ yang masih menggeliat mencari celah-celah dan kesempatan untuk bangkit kembali.

Read the rest of this entry

Beginilah Rasulullah Menyikapi Pembantaian Terhadap Muslim

Islam, disamping mengajarkan kasih sayang, juga mengajarkan sikap tegas kepada musuh yang telah membunuh dan melakukan kedzaliman kepada manusia, apalagi kepada saudara se-iman.

Ketika perjanjian hudaybiyyah – yang berisi gencatan senjata selama 10 tahun berlangsung, Bani Bakr menjadi sekutu Quraisy sedang Bani Khuza’ah menjadi sekutu Nabi saw.

Read the rest of this entry

Menta’ati Allah Lebih Penting daripada Melawan Opini Negatif

Salah satu hal yang membahayakan ketaqwaan seseorang adalah jika dia lebih perhatian terhadap bagaimana pandangan manusia terhadap dirinya daripada pandangan Allah atas dirinya: begitu ingin tampil perfect, sempurna, dihadapan manusia, namun jarang merenungi posisi dirinya dihadapan Allah swt.

Padahal bagaimanapun kita berupaya mencitrakan diri sebaik mungkin dihadapan manusia, tetap saja ada manusia yang senang, ada yang tidak peduli, termasuk ada yang benci, apalagi jika pencitraan diri tersebut dilakukan dengan kebohongan dan propaganda negatif, maka itu justru akan menjadikan urusannya tidak akan ditolong Allah swt.

Read the rest of this entry

Pentingnya Khalifah dan Tanggungjawabnya (Penjelasan Imam al Mawardi (w. 450H))

Sebagian orang, entah sengaja atau tidak, berupaya mendistorsi ajaran Islam tentang khilafah dengan mengatakan “khilafah bukan ajaran Islam”, menurut mereka, khilafah itu intinya adalah kepemimpinan, hingga ada guru besar sebuah universitas Islam mengatakan “khilafah hari ini ya Amerika”.

Sebagian lagi ketika tidak menemukan jalan untuk menolak kewajiban khilafah, akhirnya mengatakan, “kami setuju saja khilafah, namun khilafah aswaja, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir”, anehnya ketika dikejar untuk menjelaskan apa saja bedanya, akhirnya dijawab dengan muter-muter, tidak memberikan gambaran bagaimana khilafah aswaja, apalagi gambaran khilafah versi Hizbut Tahrir. Sepertinya dia berbicara begitu asal saja, yang penting memberikan persepsi negatif kepada orang seolah-olah Hizbut Tahrir bukan golongan aswaja, itu saja.

Sebagian lagi mengemukakan bahwa yang penting itu bukan “ismun” (nama), namun “musamma” (apa yang dikandung oleh nama tersebut), menggunakan kaidah “al ibrotu bil musamma, laa bil ismi”, lalu disimpulkan secara ‘akrobatik’ bahwa sekarang ini sudah era khilafah.

Read the rest of this entry