Bolehkah Menutup Jalan Umum Untuk Suatu Keperluan?

Semua orang punya hak untuk memanfaatkan jalan umum[1], baik dengan sekedar lewat, atau membuat jalan tembus ke situ atau jalan cabang,…dll.

Boleh juga seseorang memarkir kendaraan atau mobil, atau membuat stand untuk berjual beli di jalan umum, dengan dua syarat:

Read the rest of this entry

Hukum Shalat di Jalan Raya

Hukum shalat di jalan raya adalah makruh, ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafi’i. Sebagaimana dinyatakan dalam al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i, jilid I hal 326:

Read the rest of this entry

Syubhat

Status hukum dalam Islam hanya ada lima, yakni: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Sedangkan syubhat adalah satu keadaan atau perkara yang masih samar, baik disebabkan karena objeknya (benda atau perbuatan) yang masih belum diketahui hukumnya atau pihak manusianya yang belum mengetahui status hukumnya.

Read the rest of this entry

Ujung Sajadah ada Najisnya

Sahkah sholat memakai sajadah yang ujung sajadah ada najisnya?

Jika bagian alas yang kena najis tidak mengenai anggota badan kita, maka tidak batal shalatnya, karena tidak bisa dikatakan “membawa” najis. Ini berbeda jika pakaian, dompet, atau handphone, jika ada najisnya dan dipakai/dibawa shalat, maka shalatnya tidak sah, begitu juga membawa botol yang berisi najis, walau dalam keadaan tertutup rapat, maka tidak sah sholatnya.

Read the rest of this entry

Do’a dan Perubahan

Ketika melihat kerusakan di masyarakat, sebagian kalangan memilih berdo’a sebagai upaya perbaikan. Mereka mau berdo’a untuk kebaikan umat, itu bagus, namun yang tidak tepat adalah ketika ‘meremehkan’ upaya kaum muslimin yang berupaya ber-amar makruf nahi munkar, menjelaskan penyimpangan yang terjadi sembari menjelaskan bagaimana seharusnya Islam mengatasinya, kadang upaya tersebut dipandang sinis, seolah-olah yang berupaya tersebut melalaikan berdo’a kepada Allah swt.

Read the rest of this entry

Empat Puluh Tahun

Usia 40 tahun adalah usia ‘kematangan’ seseorang, jika tidak berhati-hati dan sering mengevaluasi diri, bisa jadi kerugian yang akan terjadi; kematian keburu menghampiri saat lalai dalam mempersiapkan diri. Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad memberi nasehat kepada salah satu muridnya:

وَمَنْ جَاوَزَ الْأَرْبَعِينَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ

Dan barangsiapa yang usianya sudah mencapai 40 tahun namun kebajikannya tidak melebihi dosanya maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.

Read the rest of this entry

Qodlo & Qodar: Perbuatan Manusia Tidak Ada Kaitannya dengan Qodlô’?

Ada sebagian orang yang menuduh Hizbut Tahrir (HT) berpandangan bahwa perbuatan manusia tidak ada kaitannya dengan qodlô’ (keputusan/ketetapan) Allah swt, sehingga HT dituduh sesat dalam hal ini, karena menurut ulama sunni semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah swt. Benarkah demikian?

Read the rest of this entry

Marah yang Terpuji

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw:

دلني على عمل يُدخلني الجنة

Tunjukkan suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga.

Maka Rasulullah menjawab:

لا تغضب ولك الجنة

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR. at Thabrani)

Read the rest of this entry

Kok ‘Kasus Ahok Saja’ yang Dibesar-besarkan

– : Bayaknya orang melecehkan alQur’an, kenapa hanya ahok yg dibesar-besarkan? ini pasti muatannya politik saja!

+ : kalau ‘wong cilik’ yg melakukan memang tidak perlu respon besar, karena pengaruhnya juga tdk besar, begitu dilaporin langsung bisa ditindak aparat, lihat saja kasus orang ‘gila’ yg menuduh nabi Adam mengajarkan incest dan menghina nabi Ibrahim, kan mudah selesainya. Hukuman untuk orang kecil dan bodoh memang akan beda dg untuk orang yg pengaruhnya besar. Read the rest of this entry

Mempersiapkan Kematian

Bagaimanapun kondisi kita, perbuatan kita, juga bagaimanapun rumah kita di dunia, kuburanlah ‘rumah singgah’ kita menuju negeri keabadian. Bagaimanapun juga pakaian kita, mau menutup aurat atau mengumbar aurat, kelak hanya kain kafanlah yang menyertai ‘perjalanan’ yang entah berapa lama akan berakhir.

Di sana, ahli maksiyat akan hitam jelek wajahnya walaupun didunia dia berwajah cemerlang dengan make up yang mahal. Sebaliknya orang yang menghiasi dirinya dengan taqwa akan bersinar wajahnya. Jika kita malu berwajah hitam jelek di dunia, padahal hidup didunia ini sebentar, tidakkah kita malu jika membawa wajah jelek penuh dosa saat menghadiri ‘muktamar’ seluruh manusia di padang Makhsyar?. Sudahkah kita bersiap menghadapinya?

Read the rest of this entry

Pemimpin atau Teman Setia? (Kasus Al Maidah 51)

Kemarin dapat beberapa tulisan terkait terjemah al Maidah 51, ada yang menganggap al Qur’annya dipalsukan karena di satu versi awliya diterjemahkan sebagai “pemimpin”, sementara di cetakan lain diterjemahkan sebagai “teman setia”. Lebih lanjut ini dikaitkan dengan fitnah-fitnahan lalu ngefek ke hal-hal lain.

Read the rest of this entry

Penjelasan Kritik Sanad Hadits “Man Lam Yahtamma…”

Oleh Ust Yuana Ryan Tresna

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَطَّارِ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ، ثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ “. مستدرك الحاكم

Terkait hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم  ” ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu’jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma’uz Zawaa’id, 1/47), “di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan Ibn Hibban”. Ibn Rajab dalam kitab Jaami’ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.

Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat Majma’uz-Zawaa’id, 11/143), di dalamnya ada Yazid bin Rabi’ah, dan dia matruk.

Ketiga, dari Ibn Mas’ud ra. (Lihat riwayat al-Hakim, 4/356). Imam adz-Dzahabi dalam kitab at-Talkhish mengatakan di dalamnya ada Ishaq dan Maqaatil yang keduanya tidak tsiqah dan juga tidak shadiq.

Keempat, dari Anas ra. dengan lafazh: “wa man laa yahtam lil muslimina falaysa minhum” (al-Baihaqi, Sya’bul Iman, 22/11). Al-Baihaqi menegaskan bahwa isnadnya dha’if.

Demikian juga dengan asy-Syaukani (Lihat al-Fawaa’idul Majmu’ah, 1/40), beliau mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif.

Berkaitan dengan beragamnya jalur, riwayat dan komentar seperti disebutkan sebelumnya, ahsan jika kita menyimak apa yang disampaikan oleh Ibn katsir, beliau berkata: “meriwayatkan hadits bil ma’na dibolehkan oleh jumhur manusia, salaf dan khalaf.. dan diamalkan“. Syaratnya adalah bahwa yang meriwayatkan tahu atas yang dia riwayatkan, bashiirah terhadap lafazh dan maksud dari lafazh. (Lihat al-Baa’its al-Hatsits Fikhtishaari ‘Ulumil Hadits, 18).

Untuk konteks hadits ini, ihtimam terhadap urusan kaum Muslim ditegaskan pada banyak ayat al-Qur’an dan hadits shahih, diantaranya:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain….” [At-Taubah :71]

 وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“(Mereka) nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”[Al ‘Ashr : 3]

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri” (HR Al-Bukhari (1/14 no. 13), Muslim (1/67, 68 no. 45) dan lain-lain, dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu)

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى .

“ Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam rasa cinta mereka, kasih-sayang mereka, dan kelemah-lembutan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak tidur dan demam” (HR Muslim (4/1999 no. 2586), dan lain-lain, dari hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu)

Di samping itu, ada yang berpendapat jika terdapat hadits yang sanadnya dha’if tetapi “talaqqathul ulama’ bil qabuul” wajib diambil. Bahkan, para muhaqqiq seperti Ibn Taimiyyah, as-Subki, dan Ibn Abdis Salam menegaskan, bahwa para ulama mengambil hadits yang isnadnya masih “perlu dikaji”, seperti hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم “. Lebih dari itu, mereka menjadikannya sebagai dalil dan sandaran salah satu rukun tasyri’ yang empat (Lihat Arsyif Multaqa Ahlil Hadits, 1/6747). Yang perlu menjadi catatan, bahwa term talaqqathul ummah bil qabul itu tidak ada hubungannya dengan ijma’ atau pembahasan tentang ijma’ mana yang merupakan dalil syara. Istilah tersebut digunakan oleh para ulama untuk suatu hal yang ditransmisikan di tengah-tengah umat, dan tidak ada penolakan dari umat karena memang hal tersebut masyru’ dalam Islam.

Dengan demikian, hadits tersebut di atas bersumber dari beberapa shahabat, dan kebanyakan ulama hadits mendha’ifkan, hanya saja untuk jalur dari Hudzaifah ra. yg diriwayatkan oleh ath-Thabarani; al-Haitsami, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan Ibn Hibban mentsiqahkan Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi. Jadi sebenarnya hadits tersebut makbul. Bahkan ketika Ibn Rajab mencantumkan hadits tersebut dalam kitabnya, dan tidak memberikan komentar apapun, menunjukkan penerimaan beliau terhadap hadits tersebut. Artinya, menurut Ibn Rajab hadits tersebut makbul. Demikian juga perlu dipahami bahwa tidak semua hadits yang sanadnya dha’if matannya otomatis dha’if, karena ada syahid (penguat) pada riwayat yang lain.

Walaupun hadits tersebut pada kebanyakan sanadnya adalah dha’if, tetapi karena ‘talaqqathul ‘ulama bil qabul’, menurut para ulama wajib diambil. Selain itu, meski hadits tersebut pada kebanyakan jalur sanadnya dha’if, tetapi dari segi maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih dan ayat-ayat al-Qur’an yang mewajibkan ihtimam atas kaum muslimin dan urusan mereka. Jadi, bisa dikatakan bahwa periwayatan hadits tersebut adalah bil ma’na, dan ini bagi para ulama salaf dan khalaf adalah boleh. Jika demikian, maka “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم ” adalah adalah makbul, karena: (1) ada sebagian riwayatnya yang makbul; (2) hadits tersebut diriwayatkan “bil ma’na“, dan secara makna sejalan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yg mewajibkan ihtimam terhadap umat Islam dan urusan mereka; (3) hadits tersebut “talaqqathul ulama’ bil qabul“.

catatan tambahan:

(1) tidak semua hadits yang sanadnya dha’if matannya otomatis dha’if..karena bisa jadi ada syawahid (penguat) pada riwayat yang lain..atau bil makna sejalan dengan hadits-hadits shahih atau hasan yang diriwayatkan dengan jalur lain.

(2) terkait dengan hadits “man laa yahtam biamril muslimin falaisa minhum..” maka perlu kami tegaskan kembali:
(a) tema hadits ini adalah “ihtimam biamril muslimin”, misalnya amar ma’ruf nahi munkar (Ali Imran 104 dan 110), hadits saling menasehati antar sesama muslim (Muttafaq alaih, Ahmad, dan an-Nasa’i), mencintai saudara muslim layaknya mencintai diri sendiri (Muttafaq alaih), izalah (menghilangkan) kemunkaran (Shahih Muslim), dan banyak lagi yang lain. Jadi benar secara bilma’na selain didukung al Qur’an juga hadits-hadits shahih. Makanya, hadits tersebut masyhur di kalangan para fuqaha’… dan maudhu’ hadits tersebut talaqqathul ummah bil qabul.
(b) talaqqathul ummah bil qabul itu tidak ada hubungannya dengan ijma’ atau pembahasan tentang ijma’ mana yang merupakan dalil syara. Istilah tersebut digunakan oleh para ulama untuk suatu hal yang ditransmisikan di tengah-tengah umat, dan tidak ada penolakan dari umat karena memang hal tersebut “masyru’..” dalam Islam. Jadi penegasannya memang merupakan perkara yang masyru’.
(c) kalau mencermati penjelasan terkait hadits di atas, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang sanad hadits tersebut, ada yang mendha’ifkan dan ada juga yang menerima. Kalau kita kaitkan dengan bahwa hadits tersebut masyhur menurut para fuqaha’ dan dari segi maudhu’nya (maudhu’ yang disyariatkan oleh Islam baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah), maka hadits tersebut makbul baik dari segi sanad maupun matannya.

yuana ryan tresna

 حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَطَّارِ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ، ثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ سَلَمَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللَّهَ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ “. مستدرك الحاكم

Terkait hadits “… من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم  ” ada beberapa jalur periwayatan: pertama, dari Hudzaifah ra. (Lihat ath-Thabarani, al-Mu’jamul Awsath, 7/270). Al-Haitsami berkata (Lihat Majma’uz Zawaa’id, 1/47), “di dalamnya ada Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi, yg didhaifkan oleh Muhammad bin Humaid dan ditsiqahkan oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah, dan Ibn Hibban”. Ibn Rajab dalam kitab Jaami’ul Ulum wal Hikam (9/2) mencantumkan hadits tersebut dari Hudzaifah tanpa komentar.

Kedua, dari Abu Dzar (riwayat ath-Thabarani). Menurut al-Haitsami (Lihat…

Lihat pos aslinya 670 kata lagi

Penyucian Jiwa (Sisi Lain Kisah Uwais)

Ketika orang-orang Yaman datang, Umar menyelidiki rombongan dan bertanya, apakah ada diantara kalian yang berasal dari Qaran (salah satu dari kabilah Murad)?”

Kemudian dia mendatangi orang-orang yang berasal dari Qaran dan bertanya; “Siapa kalian?” Mereka menjawab; “Orang-orang Qaran.”

Kemudian tali kekang Umar atau Uwais terjatuh dan salah seorang dari keduanya (Umar atau Uwais) mengambilkan untuk yang lainnya sehingga dia mengenalnya,

Read the rest of this entry

Rekonstruksi Sukses

Sukses dalam pandangan banyak orang tua adalah ketika mereka berhasil berumah tangga dengan tentram, berkecukupan materi, dan anak-anaknya sudah berumah tangga pula dengan pekerjaan yang ‘mapan’. Seorang kepala negara, akan merasa sukses jika bisa menumbuhkan ekonomi, melakukan berbagai pembangunan infra struktur, dan disenangi oleh rakyatnya. Seorang kiai merasa sukses ketika ribuan orang menjadi ‘muhibbin’ (pecinta) nya, sementara pesantrennya selalu dipenuhi ribuan santri. Seorang santri/siswa/mahasiswa merasa sukses jika bisa lulus dengan nilai sangat memuaskan, lalu memperoleh pekerjaan dengan gaji yang ‘wah’, kemudian berumah tangga dengan pasangan yang diidam-idamkan, dan memiliki anak-anak yang menyenangkan. Tak heran jika dalam temu alumni (reuni), yang menjadi pembicaraan adalah seputar kesuksesan seperti itu.

Read the rest of this entry

NKRI Sudah Final Karena Sudah Di-Istikhoroh-i?

x : sistem negara ini sudah final, tidak berubah, harga mati, karena sudah pernah di-istikhoroh-i oleh kyai ***, kwalat kalau mau mengubahnya.

y : bukannya dulu saat di istikhoro-i oleh kyai *** sistemnya  bukan sistem yang sekarang, dulu RIS, terus diubah jadi sistem parlementer, PKI dulu juga dilegalkan…. siapa sebenarnya yang kwalat?

x : ?*+;’?

y : Istikhoroh itu bukan berarti kalau sudah dilakukan hasilnya lalu harom untuk berubah ke arah yg dianggap lebih baik, jangankan istikhoroh, sumpah pun boleh ditebus (dengan membayar kaffarat) jika ketemu perkara yg lebih baik…si A istikhoroh, lalu mantap menikahi si B, tidak bisa dikatakan kalau A harom bercerai dg B karena dulu sudah istikhoroh….

x : ya, tapi kan setelah istikhoroh, hasilnya itu jadi ketetapan Allah, dijamin kebenarannya…

y: Kata siapa?, lihat saja Prof. Dr. MDI, sebelum memutuskan bergabung dengan Dimas kanjeng “sang pengganda/pengada uang” juga sudah istikhoroh, bukan hanya 3 hari, tapi setahun,… dan lihat apa yg terjadi…

(saya ketik via hp, menjelang tidur, paginya baru dirapikan di kantor)

Baca Juga: