Khilafah Menurut Ibnu Khaldun (w. 808 H)

al-‘Allaamah Ibnu Khaldun al Maliki –rahimahu-Llaah– (w. 808 H) dalam Tarikh-nya menyebutkan bahwa kekuasaan itu ada tiga model. .
الملك الطبيعي هو حمل الكافة على مقتضى الغرض والشهوة ،
.
“Kekuasaan alamiah (dengan pengaruh/dominasi): yaitu pemerintahan atas rakyat berdasarkan kepentingan dan syahwat.”

والسياسي هو حمل الكافة علي مقتضى النظر العقلي في جلب المصالح الدنيوية ودفع المضار ،

“Kekuasaan politis (mengurus urusan): yaitu pemerintahan atas rakyat berdasarkan sudut pandang akal dalam menciptakan kemaslahatan dan mencegah marabahaya duniawi.” .
والخلافة هي حمل الكافة على مقتضى النظر الشرعي في مصالحهم الأخروية والدنيوية الراجعة إليها . إذ أحوال الدنيا ترجع كلها عند الشارع إلى اعتبارها بمصالح الآخرة .

“dan Khilafah: yaitu pemerintahan atas rakyat berdasarkan sudut pandang syari’at, demi kemaslahatan mereka di akhirat, dan demi kemaslahatan mereka di dunia yang berpulang kepada kemaslahatan akhirat. Karena segala kondisi di dunia ini menurut Syari’ (Allah SWT) akan diperhitungkan berdasarkan kemaslahatannya di akhirat.”

فهي في الحقيقة خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

“Dia (khilafah) pada hakikatnya adalah pengganti peran shaahibus syari’ah (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengannya (dengan agama).”

Sebelumnya, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa model kekuasaan pertama dan kedua di atas adalah TERCELA (MADZMUUM)! Sedangkan yang terakhir adalah WAJIB!

Sumber: Taariikh Ibn Khalduun, juz 1, hlm 238-239

[copas FBnya Yai Azizi Fathoni]

Iklan

Shalawat Taysir

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw, dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad Saw.

صَلَاةً تَفْتَحُ لِي بِهَا بَابَ الرِّضَا وَالتَّيْسِيْرِ

Rahmat yang dengannya Engkau bukakan pintu keridhaan dan kemudahan untuk hamba.

Read the rest of this entry

Kewajiban Pemimpin dalam Islam

Walaupun pemilu Presiden 2019 masih jauh, namun hiruk-pikuk ‘perebutan’ pengaruh untuk berkuasa sudah terasa, padahal kekuasaan bukanlah sesuatu yang layak untuk diperebutkan. Rasulullah shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ

“kalian akan rakus terhadap kekuasaan, padahal kekuasaan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat (bagi yang tidak menjalankan kewajibannya), ia adalah senikmat-nikmat penyusuan dan segetir-getir penyapihan.”[1] (HR. al Bukhari dari Abu Hurairah)

Read the rest of this entry

Mencegah LGBT Sejak Dini

Menurut Jawapos (23/5/17), diperkirakan 3% penduduk Indonesia (sekitar 7,86 juta jiwa) terkena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Penggrebekan pesta seks kaum Gay (homoseksual) di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang berhasil menciduk 141 pria, menyentak kesadaran kita, bahwa perilaku homoseks bisa ‘menular’ bahkan ke pria-pria yang tampak jantan, maskulin, atletis lengkap dengan perut ‘six pack’ yang berotot.

Walaupun dalam pandangan Islam, homoseksual, maupun prilaku menyerupai lain jenis- yang bukan bawaan sejak lahir- adalah termasuk tindakan kriminal (jarîmah), dimana pelakunya terkena had liwath, namun di negeri Pancasila ini, mereka dilindungi (dibiarkan berkembang), bisa kita buktikan dengan pernyataan Presiden: “polisi harus melindungi kaum LGBT” (bbc.com, 19/10/16), juga terakhir bisa kita lihat apa yang terjadi di MK. Ironis, Hal yang dikhawatirkan Rasulullah saw, justru dilindungi dan dibiarkan berkembang di negeri mayoritas muslim ini. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Read the rest of this entry

Kewajiban Isteri Kepada Suaminya

Diceritakan oleh Hushain bin Mihshan r.a bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ ؟

“Apakah kamu mempunyai suami?”

ia menjawab, : نَعَمْ “Ya.”

Beliau bertanya lagi:

فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟

“Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab,

مَا آلُوهُ إِلاَّ مَا أَعْجَزُ عَنْهُ

“Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad)

Read the rest of this entry

Khilafah: Wajib Tunggal Atau Boleh Lebih Dari Satu?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si, MSI

Khilafah telah menjadi pembicaraan publik di Indonesia akhir-akhir ini, baik pada level pemerintah maupun level masyarakat dengan berbagai segmennya. Seorang tokoh ormas Islam pun kemudian melontarkan ide “Khilafah Nasionalis”, sebagai lawan dari “Khilafah Internasionalis” yang ditolaknya tanpa alasan syar’i. Ide “Khilafah Nasionalis” nampaknya dimaksudkan untuk mengkrompomikan dua ide yang bertentangan (kontradiktif), yaitu Khilafah sebagai ajaran Islam di satu sisi, dengan ide negara-bangsa pada sisi lain. Read the rest of this entry

Yerussalem (al Quds) Bumi yang Dijanjikan Untuk Yahudi?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (QS. Al Maidah: 21)

Sebagian orang, ketika membaca ayat ini bertanya-tanya, apakah benar bahwa Palestina (tanah Kan’an), tepatnya al Quds/ Baitul Maqdis (Yerussalem), adalah tanah yang dijanjikan Allah untuk Yahudi, sebagaimana yang diklaim oleh Zionis Israel bahwa merekalah pewaris tanah itu?.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini.

Read the rest of this entry

Pandangan Al-Muhaddits Dr. Mahmud Sa’id Mamduh Tentang Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhani dan Hizbut Tahrir

Sebagian orang, karena merasa ber’ilmu, lalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Hizbut Tahrir, padahal kalau mau berkaca sedikit saja, dan melihat bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani adl juga lulusan al Azhar setingkat Doktor dalam masalah Qadha (peradilan), tentu tidak akan gegabah melecehkan beliau dan apa yg beliau dakwahkan…. namun ya begitulah, kadang mata bisa mengingkari terangnya matahari, bukan krn mataharinya yg tidak bersinar atau tertutup awan, namun karena matanya yang sakit.

Read the rest of this entry

Melawan Dalih Ngawur Terkait Panji Rasul

Oleh Utsman Zahid
(Pengasuh Pondok Pesantren NDM Surakarta dan Pengasuh di Majlis Kajian Islam Kaffah Surakarta)

Berburuk Sangka Terhadap Pengemban Panji Rasul SAW.

Mengikuti dan menyimak status di salah satu akun Facebook (FB) salah seorang teman, dengan nama akun, sebut saja “ZM”, meninggalkan rasa keheranan teramat mendalam. Bagaimana dia mencurigai penggunaan bendera berwarna putih (liwa’) dan berwarna hitam (rayah) adalah sebuah modus belaka. Secara tersirat dia mengakui kebodohannya tentang ilmu hadits, sehingga dia tidak berani masuk ke ranah riwayat tentang liwa’ dan royah tersebut sebagai bendera Rasulullah Muhammad saw. Namun, tanpa bukti, sebagai bentuk penolakannya terhadap liwa’ dan royah tersebut, dia mengklaim bahwa itu hanya sebagai kedok HT(I) dan yang sejenis untuk menyembunyikan agenda jahat di baliknya. Masya Allah… Idza sa’a fi’il mar’i sa’at zhununu (ketika buruk perbuatan seorang, maka buruk pula persangkaannya). Begitu kata seorang penyair. Read the rest of this entry

Sisi Baku Dalam "Ketidakbakuan" Sistem Khilafah

Tidak menarik mengikuti diskusi tentang “kebakuan sistem khilafah” antara Prof. Mahfud MD (MMD) dengan KH. Shiddiq al Jawi (di sini), baru membahas istilah “sistem baku”, diskusi sudah berhenti.

Sejak awal, saya sudah menduga arah dari pernyataan Pak MMD dalam cuitannya: “Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”. Saya menduga alur berfikir pak MMD adalah sbb:

  1. ada ikhtilaf dalam (cabang-cabang) sistem khilafah,
  2. karena ada ikhtilaf maka tidak baku,
  3. dan karena tidak baku maka bebas dan boleh beda-beda, mau republik, kerajaan, monarki, maupun kekaisaran, semua bebas.
  4. karena itu tidak wajib menegakkan sistem khilafah dg satu bentuk tertentu.

Dan dugaan saya ini sepertinya benar, terbukti dengan tanggapan beliau di bagian bawah (di sini).

Tulisan ini hanya ingin mengoreksi alur berfikir tersebut, karena alur berpikir tersebut sangat berbahaya jika diberlakukan ke bidang-bidang yang lain, semisal:

Read the rest of this entry

Cacat Epistemologis dalam Istilah “Sistem Baku Khilafah” Prof. Mahfud MD

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI

(Pimpinan Pesantren Hamfara Jogjakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY; Mahasiswa Doktoral Prodi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sudah tersebar luas tantangan Prof. Mahfud MD via akun twitter beliau agar para penyeru khilafah menunjukkan sistem baku Khilafah. Prof. Mahfud MD menulis di akun twitter-nya,”Kalau mereka bisa menunjukkan sistem baku khilafah dari Qur`an dan Hadits maka saya akan langsung mempejuangkan khilafah bersama mereka. Ayo.” Dalam tweet beliau yang lain,”Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”

Read the rest of this entry

Beginilah Cinta

Anas bin Malik r.a pernah bercerita; “Seorang tukang jahit (pakaian) mengundang Rasulullah saw untuk makan masakan yang telah dibuatnya. Aku ikut pergi bersama Rasulullah saw. Lalu penjahit itu menyuguhkan hidangan kepada Beliau berupa roti dan kuah yang berisikan labu dan daging kering (dendeng). Anas berkata;

فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنْ حَوَالَيْ الصَّحْفَةِ قَالَ فَلَمْ أَزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مُنْذُ يَوْمَئِذٍ

‘Aku melihat Rasulullah saw mengambil labu dari pinggir nampan, sejak saat itu aku senantiasa senang dengan labu.’” (Shahih Muslim[1]). Read the rest of this entry

Sedemikian Parahkah Intervensi Dunia Pendidikan Kita?

tempo, guru diperiksa Membaca berita diperiksanya sembilan guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Madrasah Aliyah se-Kalsel, terkait mencantumkan materi khilafah dan khalifah di soal PAS, walaupun sanksinya belum diputuskan (tempo, 7/12), namun tetap saja hati terasa miris dan prihatin, kenapa?

Pertama, guru hanya menjalankan tugasnya sesuai kurikulum, soal yang dibuat juga sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum, bagaimana mungkin mereka bisa disalahkan, apalagi diberi sanksi, jika mereka hanya menjalankan tupoksinya? Lihatlah di buku fikih siswa yang dikeluarkan Kemenag sendiri (kurikulum 2013), ada lima bab di situ, satu bab tentang khilafah, soal yang dibuat juga tidak keluar dari materi). Awalnya, kepala Biro Humas Kemenag, Mastuki, berkomentar bahwa tidak ada yang salah dengan soal tersebut, (detik, 5/12), anehnya sehari setelah itu, muncul informasi bahwa ujian fikih akan diulang, (kemenag.go.id, 6/12), selanjutnya muncul berita 9 guru yang membuat soal tersebut diperiksa, walau sanksinya belum ditentukan, (tempo, 7/12).

Kedua, saya belum melihat adanya pembelaan kepada 9 guru yang dimaksud, walaupun di sosmed banyak yang prihatin, namun sebatas keprihatinan, sebagaimana yang saya rasakan.

Read the rest of this entry

Serius dalam Beraktivitas

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? (QS. Al Qiyamah : 36)

Ayat ini, walaupun bentuknya adalah pertanyaan, namun maknanya adalah pengingkaran bahwa tidaklah manusia diciptakan lalu dibiarkan hidup seenaknya, tanpa ada perintah dan larangan dari Allah SWT yang harus ditaatinya. Aktivitas apapun yang dilakukan manusia, pasti ada perintah dan larangan (hukum) Allah atas aktivitas tersebut.

Read the rest of this entry

Islam Moderat

Sebagaimana kata “toleran”, kata “moderat” (wasathiyyah) sering digunakan dengan makna positif untuk mensifati orang-orang yang bisa menerima hal-hal yang ‘aneh’ dalam syari’ah, seperti LGBT, pernikahan sejenis, muslimah menikah dg non muslim, membuka aurat, orang kafir menjadi penguasa dan tidak perlunya hukum syari’ah diterapkan secara formal. Sementara kelompok yang menolak hal tersebut akan dijuluki radikal, fundamentalis yang dianggap berbahaya

Parahnya, klaim tersebut kemudian dijustifikasi dengan dalil dari Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang “wasath” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Read the rest of this entry