Akar Masalah Korupsi

Walaupun banyak kasus korupsi berhasil terungkap, bahkan ada daerah yang 41 dari 45 anggota DPRD nya ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, namun Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2017 tetap stagnan, tetap di skor 37[1] hingga menempatkan Indonesia di ranking 96 untuk negara yang bersih dari korupsi. Ini tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa ini bisa terjadi? apa akar masalahnya? Sudahkah serius memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya?

Tiga Jenis Korupsi

Tidak selalu korupsi itu berarti memperkaya diri sendiri. Setidaknya ada tiga kemungkinan seseorang melakukan korupsi:

Pertama, karena memang ingin memperkaya diri, atau untuk mengembalikan ‘modal’ yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan jabatan.

Kedua, karena terpaksa, baik terpaksa karena dia sebagai bawahan yang ‘dipaksa’ atasan untuk korupsi, atau keadaan yang memang memaksa, seperti komputer kantor rusak sementara tidak ada anggaran untuk perbaikan atau pembelian, padahal komputer tersebut sangat diperlukan untuk pekerjaan kantor, di sisi lain mengajukan perbaikan anggaran juga lambat, akhirnya mengalihkan pos anggaran lain untuk membeli komputer, hal seperti ini bisa dikategorikan korupsi dalam bahasa hukum Indonesia.

Ketiga, tidak tahu atau tidak sengaja. Seperti seseorang dapat dana untuk membangun satu ruangan, karena perlunya dua ruangan maka dana tersebut dia tambahi sendiri agar cukup untuk membangun dua ruangan. Jika hal ini di audit, salah-salah pelakunya bisa tertuduh korupsi. Termasuk di sini misalnya dana BOS digunakan semuanya untuk membangun gedung pesantren.

Read the rest of this entry

Benarkah Alquran Tidak Berbahasa Arab?

Dalam kuliah sore kemarin (17/10/18), Prof. AM dari UIN Suka menyampaikan hasil penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa ternyata Alquran itu asalnya bukanlah berbahasa Arab, namun Syro-aramaic. Saya langsung teringat dengan Christoph Luxenberg yang sekitar 15 tahun lalu pernah memunculkan pernyataan yang sama.

Ketika ada peserta yang menyampaikan Surat Yusuf/12: 2:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab”[1]

Beliau menjawab bahwa itu adalah wilayah teologi, sementara hasil penelitian tadi adalah wilayah ilmiah. Salah satu alasan yang AM sampaikan adalah bahwa bahasa Arab itu baru muncul belakangan setelah Alquran, yakni setelah digagas oleh Abul Aswad Ad-Du’ali.

Memang benar bahwa yang dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab (Nahwu) adalah Abul Aswad Ad-Du’ali (603—688M), dan memang beliau hanyalah seorang tabi’in sehingga saat Alquran turun beliau belum ada, beliau murid sekaligus shahabat Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib.

Hanya saja, logika saya kok tidak bisa menerima alasan tersebut, tidak tersusunnya ilmu Nahwu itu tidak cukup untuk menjadi alasan bahwa bahasa Arab tidak ada, karena bahasa itu tidak harus ada manuskrip sebagai bukti keberadaannya, dia diwariskan lewat ucapan, bukan semata-mata lewat tulisan/manuskrip.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut saya bertanya, “dengan alur berpikir tersebut, walaupun turun temurun nenek moyang bangsa Indonesia biasa membuat tempe, namun andai tidak ada manuskrip yang menjelaskan tentang proses dan tata cara pembuatan tempe dari Indonesia, apakah bisa disimpulkan secara ilmiah bahwa tempe itu bukan buatan orang Indonesia?” beliau jawab secara retoris “bisa, bahkan kalau dikatakan tempe itu asalnya dari planet lain juga bisa, asal terbukti secara ilmiah. Tidak salah juga sih jawaban beliau, kan ada ucapan “asal terbukti secara ilmiah” nggak sempat lagi untuk menyambung pertanyaan karena waktu pertemuan habis.

Jika yang dimaksud “terbukti secara ilmiah” itu harus ada dokumen/manuskrip yang menunjukkan itu, maka saya merasa ini adalah kemunduran berpikir ilmiah. Banyak realitas empirik, hal yang sudah jelas nyata, akan tertolak ketika tidak ada manuskripnya, bahkan orang yang sejak lahir tidak pernah mengurus dokumen apapun juga akan tertolak keberadaannya karena tidak adanya manuskrip (dokumen) sebagai bukti kalau dia ada. Namun anehnya AM membela dan me-“maha benar”kan[2] teori evolusi Darwin, padahal tidak ada manuskrip yang membuktikannya, yang ada hanya kumpulan berbagai fosil yang dia (Darwin) beri makna sesuai alur pemikirannya.

Apa yang disampaikan AM, sebenarnya sudah lebih dari 15 tahun lalu disampaikan Christoph Luxenberg, dan hal tersebut sudah terbantah oleh Syamsuddin Arief, PhD, alumni  ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, saat menulis tulisan di bawah  beliau sedang melakukan penelitian di Johann Wolfgang Goethe-Universitdt, Frankfurt am Main, Jerman, untuk PhD kedua.

Beliau menyatakan tidak sulit untuk membantah dan menolak Luxenberg, sebab seluruh uraiannya dibangun atas asumsi-asumsi yang keliru:

Pertama, ia mengira Al-Qur’an dibaca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan.

Kedua, ia menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks.

Ketiga, ia menyamakan Al-Qur’an dengan Bibel, dimana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk difahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan fondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya. Beliau jelaskan ini panjang lebar.

Beliau juga mengemukakan review dari pakar Semitistik dan Direktur Orientalisches Seminar di Universitas Frankfurt, Prof. Hans Daiber, yang menyatakan bahwa dari sudut metodologi pun karya Luxenberg cukup bermasalah dan karena itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam review-nya atas buku Luxenberg, Daiber mengemukakan tidak kurang dari lima poin, ulasan lengkapnya bisa dibaca dalam tulisan dibagian bawah ini. Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Kajian Pemikiran Islam AL-INSAN Vol. 1 Tahun I, Jakarta. [Muhammad Taufik]

Read the rest of this entry

Khalifah Umar Menjinakkan Gempa Bumi

Imam al-Haramain (w. 478 H) menceritakan bahwa pada masa ‘Umar r.a pernah terjadi gempa bumi. Ketika itu ‘Umar segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sementara bumi sedang bergoncang dengan keras.

Kemudian `Umar memukul bumi dengan cambuk sambil berkata,

قُـــري ألم أعدل عليكِ

“Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.”

Maka bumipun langsung tenang saat itu juga.

Imam al-Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi, karena pada hakikatnya `Umar r.a. adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin, beliau adalah khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga `Umar menghukum (menta’zir) dan mendidik bumi (dengan mencambuknya) ketika bumi ‘berulah’, sebagaimana beliau menta’zir penduduk bumi karena kesalahan-kesalahan mereka.[1]

Read the rest of this entry

Usai Shalat Fardhu, Wirid atau Shalat Rawatib Dulu?

ketika selesai shlt fardhu, lgsg shlt rowatib ba’diyah tnpa dzikir terlebih dahulu krn khwtr hadats apkh boleh? Krn ada yg menyampaikan u dzikir dan doa dulu

***

Pertama, Ketika sedang kebelet BAK dan BAB, maka yang lebih afdhol adalah BAK dan BAB dahulu. Jangankan shalat sunnah rawatib atau wirid, jika BAK dan BAB itu berbenturan dengan shalat fardhu berjamaah sekalipun, afdholnya tetap BAK dan BAB dulu.

Rasulullah bersabda:

لا صلاة بحضرة طعام، ولا هو يُدافعُه الأخبثان

“Tidak sempurna shalat saat dihadirkannya makanan, tidak pula saat dia kebelet BAK dan BAB” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Taklid dalam Masalah Akidah

Definisi Taklid

Taklid menurut bahasa adalah

اتباع الغير دون تأمل

mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi.”

Sedangkan taklid menurut syara’, dalam al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah  juz 1 didefinisikan sebagai :

العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة

melakukan suatu perbuatan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah yang mengharuskan perbuatan tersebut” [1]

Taklid bisa terjadi pada orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, bisa juga terjadi pada seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia.

Taklid dalam Masalah Akidah

Berbeda dengan masalah hukum syara’ yang boleh bertaklid, taklid dalam masalah akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang taklid dalam masalah akidah, misalnya firman Allah Swt:

Read the rest of this entry

Kewajiban Menafkahi Kerabat

Menafkahi para kerabat (orang tua, saudara dan lainnya) menjadi wajib jika terpenuhi syarat- syaratnya, diantaranya:

Pertama, jika kerabat tersebut dalam keadaan faqir/miskin sehingga tidak mampu menafkahi diri mereka sendiri, dan tidak ada orang lain yang menafkahi mereka. Tetapi jika mereka mampu, atau ada orang lain yang menafkahi mereka dengan cukup, maka gugurlah kewajiban ini.

Read the rest of this entry

Cukupkah dengan Salat Saja?

Dari Abu Hurairah, Nabi saw  bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ.

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Apabila salatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila salatnya rusak, dia akan gagal  dan merugi….” (HR. Abu Daud)

Sebagian orang menjadikan hadits ini untuk menghindari berbagai kewajiban lain, terlebih kewajiban yang terkait dengan ‘politik’ seperti mengoreksi kebijakan penguasa, dia merasa bahwa yang penting salatnya full dan baik, dengan begitu dia merasa yakin kelak akan  selamat di akhirat.

Read the rest of this entry

Motif Hijrah Nabi

Hijrah pertama dan kedua ke Habasyah dilakukan dalam rangka menjaga diri dan agama mereka saat  tekanan, siksaan dan persekusi terhadap para sahabat kian menjadi-jadi. Berangkatlah 16 orang sahabat  pada periode pertama dan  101 sahabat pada periode kedua.

Adapun hijrahnya Nabi saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, bukanlah sekedar untuk menyelamatkan diri dari siksaan, namun bertujuan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh (kâffah), dengan tegaknya Daulah Islam di Madinah. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa hal:

Read the rest of this entry

Belajar Tidak Ada Ruginya

Ketika sudah belajar beberapa lama namun tidak juga kunjung mengerti dan mencapai hasil seperti apa yang diinginkan, sebagian orang merasa bahwa upayanya tidaklah berguna, sia-sia belajar kata mereka, lalu mereka berhenti.

Padahal, masalah mau faham atau tidak, disamping itu ada usaha manusia, namun Allah juga yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami pelajaran. Lebih dari itu, sekalipun tidak ada satu katapun yang difahami/dihafal dalam majlis ‘ilmu, hadir dan belajar tetaplah mendapatkan kemuliaan.

Imam Abu Laits (w. 373 H) dalam Tanbîh al-Ghâfilîn h.439 menyatakan:

Read the rest of this entry

Rizki, Nikmat atau Bencana?

Rizki dan karunia Allah baik itu berupa harta, anak, istri, pangkat,  jabatan maupun gelar dan popularitas, jika itu diperoleh dengan jalan maksiyat, atau digunakan dalam kemaksiyatan, atau semua itu membuat dia berlarut-larut dalam kemaksiyatan, maka semua itu pada hakikatnya bukanlah nikmat, namun  bencana dan istidraj dari Allah.

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan (kenikmatan) dunia kepada seorang hamba karena kemaksiatannya, dalam hal-hal yang disenangi hamba tersebut, ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj” (H.R Ahmad)

Read the rest of this entry

Seorang Mukmin Tidaklah Berdusta

Kebohongan adalah salah satu sifat tercela dalam Islam, bahkan sebelum Islam, para penyembah berhala di Makkah sudah menganggap kebohongan adalah ‘aib yang sangat memalukan.

Abu Sufyan, salah satu tokoh Quraisy, saat masih menjadi penyembah berhala pernah ditanya Kaisar Heraqlius, lewat penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi (yakni Nabi Muhammad saw). Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.” Abu Sufyan berkata:

فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ

“Demi Allah, jika bukan karena rasa malu aku akan mereka tuduh telah berdusta, niscaya aku akan berdusta tentangnya.” (Shahih al Bukhari, 1/8. Maktabah Syamilah).

Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya:

أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَاناً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» .

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلاً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ»

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّاباً؟ فَقَالَ: «لاَ»

“Apakah seorang mukmin bisa bersifat pengecut? Beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanya lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa bersifat pelit?’, beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanyakan lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?’, beliau menjawab: tidak” (HR. Imam Malik dalam al Muwaththa’ dan al Baihaqi dalam Syu’abul ‘Iman).

Read the rest of this entry

Sedang Shalat Datang Gempa, Haruskah Dibatalkan Saja?

Dalam kondisi normal, tanpa adanya udzur, jika sedang dilaksanakan, shalat tidak boleh dibatalkan begitu saja. Oleh karena itu, saat lupa bacaan maupun lupa jumlah rakaat, solusinya bukan membatalkan sholat lalu mengulanginya.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kalian membatalkan amalan-amalan kalian.” (QS. Muhammad: 33).

Namun ketika ada udzur atau bahaya yang mengancam dirinya ataupun orang lain, dan untuk menghindari bahaya tersebut dia harus membatalkan shalatnya, dan tidak ada orang lain yang mau dan mampu menghilangkan bahaya tersebut, maka dia harus membatalkan shalatnya dan mengulangi shalatnya lagi setelah bahaya berlalu jika masih dalam waktunya, atau mengqodho’nya jika telah lewat waktunya, namun jika dia tidak melakukannya, justru melanjutkan shalatnya, maka dia berdosa walaupun shalatnya tetap sah.

Read the rest of this entry

Kritik Atas Islam Nusantara

Walaupun berbeda-beda dalam merumuskan istilah ‘Islam Nusantara’, setidaknya istilah ini memuat gagasan pokok bahwa Islam Nusantara bersifat tawasut (moderat)[i], inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, bisa menerima demokrasi dengan baik, sebagaimana kata Azyumardi Azra, juga “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran, didakwahkan dengan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya”, sebagaimana kata Said Agil Siradj, dia menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”[ii]

Read the rest of this entry

Hukum Siapakah yang Lebih Baik?

Diantara  masalah yang dihadapi  oleh hukum pidana dalam sistem sekuler saat ini, adalah tidak mampu mengerem meningkatnya angka kriminalitas, akibatnya muncul masalah susulan, mulai besarnya anggaran untuk mengurus dan memberi mereka makan, daya tampung yang dipaksakan hingga over capacity, sebagai konsekuensinya, sulit untuk membina mereka, sehingga tidak sedikit ‘alumni lapas’ yang setelah ‘lulus’ ternyata masih ‘tidak lulus’ dalam meninggalkan kebiasaan kriminal mereka, sebagiannya malah bertambah ahli.

Pemerintahpun sepertinya “bingung” dalam mengatasi masalah ini. Pada tahun 2005, jumlah penghuni Lapas di Indonesia mencapai 97.671 orang, pada 2013 jumlahnya meningkat menjadi 157.684 orang, ini sudah kelebihan 50.751 orang dari kapasitas semestinya, kata Denny Indrayana waktu itu[1]. Terlebih lagi saat ini, 2018, kata Menkumham Yasonna Laoly, penghuni Lapas meningkat menjadi 240 ribu orang. (ANTARA News, 13 April 2018)

Dengan anggaran makan 15 ribu per hari, tiap hari perlu Rp 3,6 milyar hanya untuk memberi makan, belum biaya lainnya. Wajar jika Yasonna mengeluh “Untuk biaya makannya saja Rp1,3 triliun dan ini masih utang Rp200 miliar”, katanya.[2]

Read the rest of this entry