Hukum Jual Beli Barang Ribawi Secara Tidak Tunai

Barang ribawi ada enam: emas, perak, kurma, gandum, jewawut, dan garam. [1]

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ باِلْبُرِّ، وَالشَّعِيْرُ بِالشَعِيْرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَداً بِيَدٍ. فَإِذَا اِخْتَلَفَتْ هَذِهِ اْلأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَداً بِيَدٍ

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma dan garam dengan garam, harus semisal, sama dan kontan. Jika berbeda jenis maka perjual-belikan sesuka kalian jika kontan.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari jalur Ubadah bin ash-Shamit ra)

Menjual emas atau perak atau uang kertas dengan emas atau perak atau uang kertas,[2] jika tidak kontan (cash) terkategori melakukan riba nasi’ah yang jelas haram dan merupakan dosa besar.

Read the rest of this entry

Kentut Tidak Membatalkan Shalat?

Saya melihat videonya Gus Mu****q yg menyatakan bahwa kentut tidak membatalkan shalat bagi orang yang madzhabnya Maliki, sebaliknya glegek (bersendawa/meriga) membatalkan shalat dalam madzhab tersebut, betulkah?

Jawaban:

Tidak benar, tidak ada perbedaan pendapat dikalangan Madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’i maupun Hanbali bahwa kentut itu membatalkan wudhu dan shalat.

Ibnu Hubairoh (w. 560 H) dalam kitabnya, Al-Ijma’ ‘Inda Aimmati Ahlis Sunnah al Arba’ah – Ahmad bin Hanbal-Abu Hanifah-Malik- Asy Syafi’i menyatakan:

Read the rest of this entry

Memanfaatkan Barang Gadai

Secara syar’i gadai adalah:

جَعْل عَيْنٍ مَالِيَّةٍ وَثِيقَةً بِدَيْنٍ يُسْتَوْفَى مِنْهَا أَوْ مِنْ ثَمَنِهَا إِذَا تَعَذَّرَ الْوَفَاءُ

“Menjadikan suatu ‘ain maliyyah (dzat harta) sebagai jaminan hutang, yang akan dibayar hutang itu dengan dzat harta tersebut atau dari harga dzat harta tersebut ketika tidak mampu membayar hutang.”[1]

Read the rest of this entry

Pengembara Ilmu

imageSeorang ibu berkata kepada suaminya: “Nanti xxx (nama anaknya) tidak usah sekolah jauh-jauh ya, kan bisa saja belajar di sini-sini saja.” Suaminya terdiam berfikir sejenak, lalu berkata, “orang-orang besar, mereka tidak ngendon dari lahir sampai mati di tempat kelahirannya saja”.

***

Imam Al-Bukhari yang lahir di Bukhara (sekarang Uzbekistan), beliau mengembara hingga ke Khurasan, lalu ke Baghdad lalu Bashrah (Iraq), lalu Damaskus, al-Quds, lalu Fusthat (Kairo Lama), lalu Madinah, lalu kembali ke Bukhara dan wafatnya di Samarkand.[1] Tujuh kota dari berbagai negara saat ini yang beliau kunjungi dalam menuntut ilmu, padahal saat itu alat transportasi tidak semudah saat ini.

Imam Muslim, dari Khurasan ke Bashrah, Madinah, Makkah, Tabuk, Fusthat, Damaskus, Iraq, Thibristan, lalu kembali ke Khurasan. [2]

Betul, di zaman sekarang, untuk sekedar memperoleh pengetahuan saja, dengan sekedar duduk di rumahpun bisa mengakses pengetahuan dari berbagai penjuru dunia. Namun ada satu hal yang tidak bisa diperoleh jika hanya berkutat di rumah saja, yakni kerasnya usaha dan berbagai kesulitan saat jauh dari orang tua. Karena itulah Imam Al-Syafi’i (w. 204 H) pernah ber sya’ir:

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ *** وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

“Berpergianlah, akan kau temukan pengganti yang telah engkau tinggalkan *** berusahalah, sungguh kenikmatan hidup itu ada pada kerasnya usaha.”

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ ***إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

Sungguh aku melihat berhentinya air (tidak mengalir) akan merusaknya (menjadi kotor) *** jika dia mengalir maka akan bersih, jika tidak mengalir tidak akan bersih.”

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست *** والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب

Seekor singa jika tidak meninggalkan buminya (mengembara) tidaklah (akan bisa) menangkap (mangsa) *** dan anak panah jika tidak meninggalkan busurnya tidak akan bisa mengenai (sasaran).”[3]

Al-Hafidz Ibnu Hajar menceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya:

رجل يطلب العلم يلزم رجلا عنده علم كثير أو يرحل؟

“Mana yang lebih utama antara seseorang yang mulazamah kepada orang yang memiliki banyak ilmu, ataukah rihlah (bepergian dalam rangka menuntut ilmu).?”

Maka beliau menjawab:

يرحل، يكتب عن علماء الأمصار، فيشام الناس ويتعلم منهم

“(Lebih afdhal) rihlah, dia menulis (menuntut ilmu) dari banyak ulama berbagai negeri, lalu dia bergaul, mengenal, meneliti dan mengungkap banyak hal terkait manusia dan belajar dari mereka.”[4]

Betul, orang tua normalnya sayang anak, tidak ingin berpisah jauh dari anak-anaknya, namun harusnya rasa sayang dan keinginan bersama tersebut di’upgrade’ levelnya; sayang kalau anak-anak tidak mendapatkan pengalaman yang lebih dalam menuntut ilmu dan keinginan bersama kelak di akhirat dalam naungan kasih sayang Allah Ta’ala. Allahu A’lam. [MTaufikNT]


Baca Juga:

[1] Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Hadîts al-Nabawi, Cet. V. (Damaskus: Dâr al-Fikr, 2005), hlm. 11.

[2] Ibid., hlm. 12.

[3] Muhammad bin Idris al-Syâfi’i, Dîwân Al-Syâfi’i (Kairo: Maktabah Ibnu Sina, tt), hlm. 25-26.

[4] Abd al-Fattâh Abu Ghuddah, Shafahât Min Shabri Al-Ulama, Cet. II. (Halb: Maktab al-Mathbû’ât al-Islamiyyah, 1974), hlm. 19-20: قال ابن الأثير في ([النهاية]): ([يقال: شاممت فلاناً إذا قاربته وتعرفت ما عنده بالاختبار والكشف، وهى مفاعلة من الشم، كأنك تشم ما عنده ويشم ما عندك، لتعملا بمقتضى ذلك]). انتهى.

Khutbah Ketinggalan Shalawat, Haruskah Shalat Jum’at Diulang?

Menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali, membaca shalawat termasuk salah satu diantara rukun khutbah. Jika khatib ketinggalan membacanya maka hendaknya jamaah mengingatkannya dan khatib menyempurnakan kekurangannya, atau bisa juga salah satu jamaah naik mimbar dan membaca rukun-rukun khutbahnya, jika ini tidak dilakukan maka tidak sah khutbah Jum’atnya. (baca syarat dan rukun khutbah Jum’at dalam madzhab Syafi’i https://wp.me/pcdvJ-Of)

Hanya saja, kalau khatibnya bermadzhab Hanafi atau Maliki, maka sah saja khutbah tersebut jika tanpa membaca shalawat sekalipun. Karena menurut Hanafiyyah, khutbah memiliki satu rukun saja, yakni dzikir saja baik sedikit ataupun banyak.[1] sementara Malikiyyah juga menyatakan khutbah hanya punya satu rukun saja, yakni memberi peringatan atau kabar gembira. [2] Beda kasusnya jika khatibnya menyatakan dirinya bermadzhab Syafi’i atau Hanbali, lalu khutbah tanpa membaca shalawat, maka khutbahnya tidak sah.

Read the rest of this entry

Syarat dan Rukun Khutbah Jum’at

Syarat-syarat sah khutbah Jum’at[1]:

1. Berdiri bila mampu dan memisahkan diantara dua khutbah dengan duduk. Jika tidak mampu berdiri, maka dengan duduk, atau kalau tidak bisa duduk dengan berbaring, dan memisah antara dua khutbah dengn diam sejenak.

2. Mendahulukan khutbah dari pada shalat.

3. Suci dari dua hadats dan najis yang tidak dima’fu (dimaafkan).

4. Menutup auratnya dalam dua khutbah.

5. Berbahasa Arab[2]

6. Seluruh khutbah dilakukan di waktu dzuhur.

Read the rest of this entry

Radikal Fundamentalis vs Radikal Sekularis

Menurut Lukman, Menteri Agama RI periode lalu, istilah “radikal” memiliki akar kata “radiks” yang berarti mengakar atau mendalam. Sementara, dari sudut pandang agama, memahami serta mengamalkan suatu ajaran agama secara mendalam dan mengakar memang sudah semestinya dilakukan oleh masing-masing pemeluk.

“Agama memang harus diyakini, menghujam dalam hati sanubari, fikiran, dan terefleksi dalam tindakan dan sikap,” kata dia.

Dengan demikian, menurut Lukman, dalam konteks keberagamaan, radikalisme sebetulnya bukan sesuatu yang harus dicegah karena semua agama memang pada dasarnya mengajarkan setiap pemeluknya untuk memegang agama secara mengakar dan mendalam.

Read the rest of this entry

Mendidik Anak Lewat “Jalur Langit”

Jarak bukanlah alasan orang tua untuk melalaikan tugas mendidik dan mengingatkan anak-anaknya, terlebih untuk urusan shalat mereka. Ketiadaan telepon, telegram apalagi gadget, tidak menghalangi sahabat Nabi untuk ‘berkomunikasi’ jarak jauh ‘hanya’ untuk mengingatkan mereka agar jangan lupa shalat.

Abu Qirshafah, Jandarah bin Khaisyanah al-Kinani r.a adalah seorang sahabat yang pernah Rasulullah pakaikan burnus (sejenis jubah bertutup kepala) kepadanya, orang-orang banyak yang datang meminta doa keberkahan kepadanya. Beliau memiliki putra yang bernama Qirshafah, saat putranya ini sedang berjihad di Romawi sedangkan beliau di Asqalan, jika masuk waktu sahur, beliau menyeru dengan suaranya yang nyaring:

يَا قِرْصَافَةُ الصَّلَاةُ

“Wahai Qirshafah, shalat”

Read the rest of this entry

Ketakwaan; Sebab Pertolongan

Salah satu musibah terbesar yang menimpa suatu bangsa, organisasi, partai, maupun individu adalah hilang/berkurangnya ketakwaan. Menyebar luasnya kedustaan, kecurangan, suap, menuruti syahwat, mengabaikan shalat, … itu semua adalah bencana yang lebih besar dibandingkan sekedar bencana alam.

Ibn ’Abd Rabbih al-Andalusi (w. 328 H) dalam Al-’Aqd al-Farîd menyatakan bahwa Khalifah ‘Umar r.a sangat mengkhawatirkan terjadinya perbuatan maksiat yang dilakukan oleh umat Islam. Beliau menganggap hal itulah yang akan menghalangi datangnya pertolongan dari Allah Ta’ala. Umar menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash dan pasukannya:

Read the rest of this entry

Mengqadha Sholat Wajib

Definisi

والقضاء: فعل الواجب بعد وقته. أو إيقاع الصلاة بعد وقتها.

“Qadha’: adalah melaksanakan kewajiban setelah waktunya, atau menjalankan shalat setelah habis waktunya.” [1]

Hukumnya

Wajib tidaknya mengqadha shalat tergantung kepada alasan mengapa seseorang sampai meninggalkan shalat hingga lewat waktunya.

Pertama, jika seseorang tidak mengerjakan shalat fardhu hingga waktunya habis karena ada udzur lupa atau tertidur, maka dia tidak berdosa karena kealpaan tersebut, namun wajib mengqadha shalat yang tertinggal tersebut, tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ‘ulama tentang hal ini.[2]

Read the rest of this entry

Memahami Politik

Berpikir untuk memahami politik itu lebih sukar dari pada memahami wanita, apalagi jika sekedar dibandingkan dengan memahami matematika yang memiliki banyak teorema.

Dalam matematika, suatu teorema jika sudah terbukti lewat definisi maupun teorema sebelumnya maka dia relatif fixed, tidak berubah-ubah dan bisa digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena lain dalam persoalan matematika atau lainnya.

Sementara dalam politik, jangankan teorema, realitas yang terindra pun bisa menyimpan berbagai makna yang berbeda, bisa digiling dan digoreng sesuai selera, bisa menyasar kemana-mana tergantung berapa kuasa dan tenaga seseorang untuk menjadikannya sebagai senjata.

Read the rest of this entry

Ketidakadilan, Sumber Kehancuran

Jika kita saksikan kondisi masyarakat akhir-akhir ini, maka penyebab berbagai kisruh yang terjadi adalah karena hilangnya rasa keadilan dan meluasnya kecurangan dan korupsi, bukan karena agama, syari’ah atau hal lain yang sering dipropagandakan.

Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwaththa’ bahwa saat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Rawahah r.a ke Khaibar untuk menaksir pembagian hasil panen kebun antara umat Islam dan Yahudi, orang-orang Yahudi mengumpulkan berbagai macam perhiasan dari istri-istri mereka, lalu mereka mau menyerahkannya sebagai ‘hadiah’, mereka berkata kepada Abdullah bin Rawahah:

هذَا لَكَ وَخَفِّفْ عَنَّا وَتَجَاوَزْ فِي الْقَسْمِ

“Semua perhiasan ini untuk kamu, tapi berilah keringanan kepada kami dan berilah tambahan pada bagian kami.”

Abdullah bin Rawahah menjawab:

يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ، وَاللهِ إِنَّكُمْ لَمِنْ أَبْغَضِ خَلْقِ اللهِ إِلَيَّ وَمَا ذَاكَ بِحَامِلِي عَلَى أَنْ أَحِيفَ عَلَيْكُمْ. فَأَمَّا مَا عَرَّضْتُمْ مِنَ الرَّشْوَةِ فَإِنَّهَا سُحْتٌ، وَإِنَّا لاَ نَأْكُلُهَا

“Wahai kaum Yahudi! Demi Allah, kalian adalah makhluk ciptaan Allah yang paling aku benci, meski demikian kebencianku tidak akan membuatku berbuat lalim kepada kalian. Adapun semua perhiasan yang kalian berikan kepadaku sebagai suap, itu semua adalah haram, dan kami tidak memakannya.”

Mereka menjawab:

بِهذَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

“Dengan keadilan seperti ini, tegaklah langit dan bumi.”[1]

Read the rest of this entry

Menjomblo, Menikah atau ‘Menambah’?

Manakah yang lebih utama, menjomblo, menikah ataukah menambah istri?. Jawabannya tergantung. Adakalanya menjomblo lebih utama daripada menikah, adakalanya menikahi satu istri lebih baik, dan adalakanya menambah istri lebih utama. Ukurannya, mana saja kondisi yang lebih memudahkan seseorang untuk mempersiapkan dan membangun kehidupan ukhrawinya, itulah yang lebih baik.

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 17)

(1) Menjomblo Lebih Utama

Bagi penuntut ‘ilmu atau orang yang ingin fokus mendalami ilmu menjomblo itu lebih baik. Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) menyatakan:

يُسْتَحَبُّ لِلطَّالِبِ أَنْ يَكُونَ عَزَبًا مَا أَمْكَنَهُ لِئَلَّا يَقْطَعَهُ الِاشْتِغَالُ بِحُقُوقِ الزَّوْجَةِ وَالِاهْتِمَامِ بِالْمَعِيشَةِ عَنْ إكْمَالِ طَلَبِ الْعِلْمِ

“disukai seorang penuntut ilmu untuk menjomblo semampunya agar kesibukan dia dalam menunaikan hak-hak istri dan mencari nafkah tidak memutusnya dari kesempurnaan menuntut ‘ilmu. [1]

Read the rest of this entry

Hijrah, Bukti Kandasnya Makar Penentang Dakwah

Para penentang dakwah mengira bahwa fitnahan, framing buruk dan berbagai tuduhan negatif akan menyurutkan langkah dakwah…. sekali-kali tidak, justru hal tersebut akan memperkuatnya. Mungkin mereka berhasil menutup satu pintu, namun dengan itu Allah justru membukakan pintu lain yang lebih baik, satu orang berhasil mereka palingkan, namun Allah munculkan puluhan yang lebih baik sebagai penggantinya.

Read the rest of this entry

Imam Nawawi Tidak Mewajibkan Sistem Khilafah?

CATATAN PENTING UNTUK NADIRSYAH HOSEN

Oleh Buya Alfitri

image Bismillah.
Saya bukan pengurus, aktivis, kader apalagi simpatisan HTI, tapi setelah membaca tulisan beliau ini, saya melihat ada beberapa catatan yang harus beliau pahami dengan baik, yaitu:

PERTAMA
Kitab Raudhah itu RINGKASAN dari isi kitab al-`Aziz/Fathul `Aziz karya imam ar-Rafi`i. Karenanya, isi kitab Raudhah dipengaruhi oleh isi kitab al-`Aziz.

Jika imam ar-Rafi`i tidak menguraikan sistem Khilafah secara detail di dalamnya, maka logis bila imam Nawawi juga ikut tidak membahasnya secara detail, sebagaimana yang dilakukan oleh imam al-Mawardi. Jika tidak, maka kitab ar-Raudhah tidak lagi menjadi ringkasan.

Jadi, sikap imam Nawawi yang tidak menjelaskan sistem Khilafah secara detail dalam ar-Raudhah, itu tidak bisa dijadikan bukti konkrit untuk mengatakan bahwa beliau tidak mewajibkan menegakkan sistem Khilafah.

Read the rest of this entry