Sabar Hingga Akhir

Usianya sudah senja, rambutnya ‘menyala’, putih semua. Saya mengenalnya sekitar 13 tahun lalu, ketika saya menyampaikan pengajian di sebuah masjid di Banjarmasin.

Ada satu hal yang menarik dari beliau, yakni keseriusan beliau dalam menghadiri setiap kajian, mendengarkan, mencatat, bertanya, hingga menyampaikan pandangan diantara para hadirin, sepertinya itu yang tidak berubah dari beliau, sejak 13-an tahun lalu.

Read the rest of this entry

Mengambil Upah Mengajari Al Qur’an

Dalam masalah mengajar, seseorang dibenarkan untuk mengontrak seorang guru yang mengajar anak-anaknya atau mengajarnya atau mengajar siapa saja yang dia inginkan.

Mengajar adalah manfaat yang mubah (boleh) dan mendapat upah dari manfaat tersebut adalah mubah. Ijarah (kontrak kerja) dalam masalah ini hukumnya juga mubah.

Read the rest of this entry

Status Kepemilikan Harta Istri

1) Bagaimana status harta penghasilan istri yang bekerja?

2) Jika harta istri dan suami bercampur untuk modal usaha, bagaimana pengaturannya?

3) Jika bercerai, padahal hartanya tercampur, bagaimana membaginya?

Read the rest of this entry

Berdosakah Seorang Istri Mencintai Lelaki Lain?

Berdosakah seorang wanita yang telah bersuami bersimpati atau menyukai laki2 lain yg dikaguminya. Seperti halnya zulaikha yg terpikat dg yusuf as, namun ia tetap menjaga adab…masih mencintai dan taat pada suaminya dan berkhidmat pd keluarganya [08152094****]

Read the rest of this entry

‘Amr bin Hisyâm, Sang Bapak Kebodohan (Abu Jahal) *)

Sebelum Islam datang, ‘Amr bin Hisyâm (570 – 624 M) adalah orang yang dikenal kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam usia yang masih muda, para tetua Quraisy sudah sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah, oleh karena itu ia dikenal dengan sebutan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan).

Hanya saja, semua itu berubah ketika Islam datang, kecerdasan otaknya tidak digunakan untuk membela Islam, bahkan sebaliknya, digunakan untuk memutarbalikkan fakta dalam rangka menentang kebenaran Islam. Kedudukan dan reputasinya yang sudah tinggi menghalangi dia untuk menerima Islam, ajaran yang bakalan memposisikan manusia sederajat, hanya dibedakan oleh ketaqwaannya.

Read the rest of this entry

Askes dan Dana Pensiun

Pertanyaan,

Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh pegawai negeri baik sipil maupun militer secara otomatis—mau tidak mau, suka atau tidak suka, menjadi anggota (Asuransi Kesehatan) ASKES dan mendapatkan dana jaminan hari tua yang lebih sering dikenal dengan dana pensiun,

(1) Bagaimana hukumnya menjadi anggota ASKES? Dan bagaimana kalau kita sakit lalu memanfaatkan dana ASKES untuk keperluan berobat?

(2) Bolehkah kita menerima dana pensiun?

Read the rest of this entry

Dakwah di Persimpangan Jalan

Suatu ketika, pemuka-pemuka bangsawan Quraisy – dengan diketahui oleh Abu Sufyan b. Harb – pergi menemui Abu Talib, paman Nabi dan sekaligus pelindung dakwah Nabi.

“Abu Talib,” kata mereka, “kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat nenek-moyang kita. Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau tidak, biarlah kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi dia.”

Read the rest of this entry

Ayat-ayat Penghilang Duka dan Kesedihan

Diriwayatkan dari Imam al Hasan al-Bashri (w. 110 H), bahwa beliau berkata:

عجبا لـمَكْرُوب غَفَلَ عَن خمس، وَقد عَرَفَ مَا جعل الله لمن قالهن

Mengherankan orang yang bersedih (namun) melupakan lima hal, sementara ia tahu apa yang Allah jadikan pada orang yang mengatakan lima hal tersebut.

Read the rest of this entry

Riya (Pamer)

Melakukan perbuatan-perbuatan hanya semata karena riya, ingin dilihat orang, tidak terkesan pada jiwa dan tidak meresapi rahasia dan hikmahnya adalah salah satu sifat pendusta agama. Allah berfirman:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma’un: 6)

Read the rest of this entry

Ahkamul Khamsah (Lima Hukum Syara’)

Hukum syar’i adalah khithaabus- Syaari’(seruan dari Sang Pembuat Hukum — Allah dan Rasul-Nya) yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Hukum syara ditetapkan berdasarkan adanya khithab (seruan) tersebut, sedang kejelasannya tergantung pada jelasnya makna dari suatu khithab. Khithab syar’i adalah segala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berupa perintah dan larangan –kisah, riwayat dan sejenisnya tidak termasuk dalam pengertian hukum Syar’i–. Oleh karena itu pemahaman terhadap hukum syara’ sangat bertumpu pada pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab keduanya merupakan sumber tasyri’.

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Mengingkari Adzab Kubur?

Ini adalah tuduhan keliru, hasil kesimpulan mentah pihak penuduh, lalu kesimpulan keliru itu disematkan kepada Hizbut Tahrir.

Yang benar, Hizbut Tahrir mewajibkan pembenaran (tashdîq) atau percaya (îmân) terhadap keberadaan adzab kubur, tanpa mengadopsi pendapat apakah yang mengingkarinya dihukumi kafir ataukah dihukumi berdosa saja, sebagaimana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang itu.

Tuduhan ini mungkin  bermula dari konsep dalil yang diadopsi Hizbut Tahrir dalam perkara akidah, yakni:

Read the rest of this entry

Inti Pandangan Hizbut Tahrir Terkait Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

Secara ringkas, dalam masalah aqidah, Hizbut Tahrir memberikan ketentuan-ketentuan mendasar berkenaan dengan karakter akidah, kriteria dalil yang mendasarinya, sikap terhadap hadits ahad, dan konsekwensi bagi orang yang mengingkarinya, ringkasnya sebagai berikut:

1. Dalil akidah haruslah dalil yang bersifat pasti.

2. Dalil yang memenuhi hal tersebut (no 1) adalah al-Qur`an dan hadits mutawatir, dengan syarat masing-masing dari keduanya memiliki penunjukan arti yang pasti (qath’îy dalâlah).

3. Orang yang mengingkari dalil no 2, atau mengingkari apa yang ditunjukkannya dihukumi kafir, baik itu terkait akidah maupun hukum syara’.

Sedangkan untuk dalil yang tidak memenuhi kriteria sebagai dasar akidah, yakni khabar ahad, maka Hizbut Tahrir mensikapinya:

Read the rest of this entry

Prof. Hasan Hitou, Akidah dan Hadits Ahad

Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou adalah seorang ulama ahli Ushul bermadzhab Syafi’i, beliau juga salah satu tim ahli dalam penyusunan Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah yang seluruhnya berjumlah 45 jilid tebal, juga salah satu pembimbing dan penguji Prof. Dr. Ali Musthafa Ya’qub (alm). Berikut kutipan dari kitab beliau al-Wajîz fî Ushûl al-Tasyrî’ al-Islâmî, tentang Akidah dan Hadits Ahad.

Read the rest of this entry

Murabahah

Ibn Manzhur di dalam Lisân al-’Arab (II/442-443, Dar Shadir) menyatakan: ar-ribhu wa ar-rabhu wa ar-rabâh artinya pertumbuhan dalam perdagangan;arbahtuhu ‘alâ sil’atihi artinya aku memberi dia keuntungan; arbahahu bi mutâ’ihi (ia mendapat keuntungan dengan dagangannya). Aku memberi dia harta secara murabahah artinya berdasarkan keuntungan di antara keduanya. Dikatakan: Aku menjual barang itu secara murabahah setiap sepuluh dirham labanya satu dirham.

Read the rest of this entry

Isi Fatwa MUI Tentang Murabahah *)

Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.

2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.

3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.

4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.

5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.

7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.

9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

Read the rest of this entry