Mempelajari Al-Qur’an

Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman al-Sulami dari Utsman bin ‘Affan r.a bahwa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”[1]

Abu Abdirrahman al-Sulami tetap mengajarkan Alquran sejak zaman Utsman r.a sampai masa al-Hajjaj bin Yusuf.[2] Ketika beliau meriwayatkan hadis ini, beliau berkata:

فَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي فِي مَقْعَدِي هَذَا

(Hadits) inilah yang membuatku duduk di kursi ini (untuk mengajar membaca al-Qur’an dan memperoleh fadhilahnya).”[3]

Read the rest of this entry

Islam Membebaskan Murtad?

Seseorang sebut saja Prof. X yang juga Rais Syuriah Ormas Y di negeri Z, diakun twitternya pada 16 Juli 2019 menulis: “Seorang sahabat Nabi yg bernama al-Hushain, kedua anaknya memilih masuk Kristen. Dia bertanya pada Nabi: “bolehkan aku memaksa anakku kembali masuk Islam?” Maka turunlah ayat “La Ikraha fid din” (tak ada paksaan dlm beragama)”

Benarkah Islam membebaskan seorang muslim untuk murtad?

Read the rest of this entry

Mana yang Prioritas, Qurban atau Aqiqah Dulu?

Aqiqah dan Qurban keduanya hukumnya sunnah. Jika sanggup maka yang paling afdhol adalah dilakukan keduanya.

Jika keuangan hanya cukup untuk salah satunya saja, maka dilihat waktu dan kondisinya. Jika saat mendekati Idul Adha dan hari Tasyrik, maka menurut hemat kami sebaiknya berqurban dahulu saja, karena aqiqah waktunya lapang, bisa kapan saja sepanjang tahun sementara qurban waktunya hanya 4 hari saja dalam setahun. Kecuali jika aqiqahnya aqiqah wajib, misalnya bernadzar: “jika Allah mengaruniakan anak kepadaku maka aku akan mengaqiqahinya”, maka mendahulukan yang wajib tentu lebih utama.

Read the rest of this entry

Perumpamaannya Seperti Anjing

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing … (QS. Al A’râf: 176)

Read the rest of this entry

Kematian Bukanlah Perpisahan

image Kematian itu bukanlah perpisahan, apalagi sekedar ditinggal safar (perjalanan) dalam rangka menuntut ilmu atau ketaatan yang lainnya. Perpisahan yang hakiki antara dua orang terjadi ketika nanti salah satunya masuk surga dan yang lainnya masuk ke neraka dan kekal di dalamnya.

Perpisahan yang hakiki juga terjadi jika dua orang ketika hidup di dunia telah ‘sepakat’ dan bekerja sama untuk menjadi penduduk neraka. Kerukunan, kebersamaan dan rasa saling mencintai di dunia akan sirna ketika mereka dimasukkan bersama-sama ke dalam neraka. Mereka akan saling menuntut dan menyalahkan mengapa temannya dulu tidak mengajak ke jalan ketakwaan. Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67).

Read the rest of this entry

Hukum Menikahi Saudara Tiri

Bolehkah menikah antara saudara tiri? Janda bawa anak, duda juga bawa anak, lalu janda dan duda tersebut menikah?, anaknya janda juga menikah dengan anaknya duda tersebut?

***

Saudara tiri (lain bapak, lain ibu) yang beda jenis bukanlah mahram, sehingga mereka boleh menikah. Namun jika tidak menikah mereka haram berkhalwat.

Read the rest of this entry

Saat Hutang Melebihi Warisan

Warisan/tarikah adalah

مَا تَرَكَهُ الْمَيِّتُ مِنْ أَمْوَالٍ وَحُقُوقٍ

“apa saja yang ditinggalkan mayit baik berupa harta ataupun hak-hak mayit.” [1]

atau

حَقٌّ قَابِلٌ لِلتَّجَزُّؤِ يَثْبُتُ لِمُسْتَحِقِّهِ بَعْدَ مَوْتِ مَنْ كَانَ لَهُ ذَلِكَ لِقَرَابَةٍ بَيْنَهُمَا أَوْ نَحْوِهَا

“hak yang bisa dibagi-bagi, yang ditetapkan bagi yang berhak setelah matinya orang tersebut karena kekerabatan antara keduanya atau semisalnya.”[2]

Oleh karena itu, diyat (tebusan), piutang, maupun barang-barang lain seperti sandal, baju, tas, handphone, perkakas dapur, beras/makanan yang merupakan milik si mayit merupakan harta warisan mayit. Sementara harta istri/suaminya si mayit tidak termasuk harta warisannya si mayit. (https://mtaufiknt.wordpress.com/2017/08/10/status-kepemilikan-harta-istri/)

Read the rest of this entry

Sabar Saat Dihina

وسمع الشعبى رَجُلاً وقعَ فيه، فما ترك شيئاً

Imam As Sya’bi (w. 104 H) mendengar seseorang mencela dan menjelek-jelekkan dirinya, beliau membiarkannya.

فلما فرغ قَالَ الشعبى: إن كنتَ صادقاً فغفر الله لي، وإن كنت كاذباً فغفَر الله لك

Ketika lelaki tersebut selesai, As Sya’bi berkata: “kalau engkau benar, moga Allah mengampuniku, dan jika engkau berdusta moga Allah memaafkan engkau” (Majma’ al-Amtsâl, 2/461).

Namun begitu, beliau kadang komentarnya ‘nylekit’ menghadapi orang yang pertanyaannya mengada-ada.

سئل الشعبي عن لحم الشيطان فقال: نحن نرضى منه بالكفاف

Imam asy Sya’bi pernah ditanya tentang hukum memakan daging syetan, maka beliau menjawab: “Kami sudah cukup puas dengan rizki dari-Nya (tidak kepingin makan daging syetan)”

فقيل له: ما تقول في [أكل] الذباب؟ قال: إن اشتهيته فكله

maka ditanyakan lagi: apa pendapat engkau tentang hukum memakan lalat?, beliau menjawab: “Jika engkau suka, makanlah”. (Tadzkiroh al Hamduniyyah, 9/376).

Read the rest of this entry

Menggabungkan Niat Puasa Qodho’ dg Syawal, Bolehkah?

Menggabungkan niat satu ibadah dengan ibadah lain adakalanya boleh, seperti shalat sunnat wudhu + tahiyyatul masjid + qabliyah dzuhur, dan adakalanya tidak boleh, seperti menggabungkan shalat qodho qobliyah subuh dengan shalat dhuha, pembahasan tentang hal ini agak panjang.

Adapun menggabungkan niat puasa qodho’ Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan syawwal, ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

Read the rest of this entry

Pendapat Para Ulama Terkait Bid’ah

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“… dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat …” (HR. An-Nasâi)

Secara umum ada dua pendapat berkaitan dengan bid’ah, yakni:

Bid’ah Bisa Baik, Bisa Buruk

Ini pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H), Shulthonul ‘Ulama Al-’Izz ibn Abdis Salam (wafat 660 H), Imam An-Nawawi (676 H), Al Hafidz As Suyuthi ( w. 911 H), Abu Syâmah (wafat 665 H). Dari kalangan Malikiyah: Al-Qarafi (wafat 684 H) dan Az-Zarqani (wafat 1122 H). Dari kalangan Al-Hanabilah : Al Hafidz Ibnu Al-Jauzi (wafat 597 H) serta dari kalangan Dzahiri : Ibnu Hazm (wafat 456 H).[1]

Read the rest of this entry

Pendapat Ulama Terkait Rukyat Hilal

Prihatin melihat suasana perbedaan pendapat terkait penentuan awal akhir Ramadhan di era sosmed sekarang ini, terutama ketika pendapat bahwa jika satu daerah berhasil melihat bulan sabit itu wajib jadi patokan seluruh dunia, justru pendapat yang kuat ini, yang empat Imam Madzhab sepakat akan hal ini, yang merupakan pendapat mayoritas ahli fiqih zaman dulu, justru pendapat ini dipandang lemah oleh sebagian kalangan. Ada beberapa point yang perlu diperhatikan secara komprehensif untuk memahami persoalan ini, apakah sekedar masalah fiqih, astronomi atau masalah politik.

Pertama, terkait rukyat, pendapat empat imam madzhab menyatakan bahwa negeri yang tidak melihat bulan sabit tetap wajib mengikuti negeri yang berhasil melihatnya.

Ibnu Hubairoh (w. 560 H), dalam kitab beliau, al-Ijma’ menyatakan:

hubairoh rukyat global

“Dan mereka (empat Imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad) telah sepakat : bahwa ketika bulan sabit telah terlihat dan tersiar di suatu negeri pada saat malam, maka wajib puasa atas seluruh penduduk dunia. Kecuali apa yang diriwayatkan oleh Abu Hamid Al Isfirayayni yang menyatakan rukyat tersebut tidaklah mengikat bagi negeri-negeri yang lain untuk memulai puasa. Al Qadhi Abu Thayyib At Thabari menyalahkan pendapat ini. Ia berkata: “Ini adalah kekeliruan darinya. Tetapi yang benar adalah jika penduduk suatu negeri melihat bulat sabit Ramadhan, maka (rukyat) ini berlaku bagi seluruh manusia di negeri-negeri yang lain untuk berpuasa”[1] (Ibnu Hubairoh (w. 560 H), Al Ijma’ ‘Inda Aimmati Ahlis Sunnah al Arba’ah- Ahmad bin Hanbal-Abu Hanifah-Malik- Asy Syafi’i, hal 77. lihat pula Ijmâ’ al-Aimmati al-Arba’ah wa Ikhtilâfuhum, juz 1 hlm. 287).

Begitu juga yang dinyatakan oleh Syaikh Abdul Wahhab as Sya’roni (w. 973 H), salah satu Ulama Madzhab Syafi’i yang pada masanya digelari dengan Al Qutbur Rabbani, dalam kitab beliau, Al-Mîzân menyatakan:

Read the rest of this entry

Meningkatkan Ketakwaan

Sering kita dengarkan wasiat khatib: “marilah kita tingkatkan ketakwaan kita”, namun sudahkah kita perhatikan ada berapa tingkatan takwa tersebut, dan pada posisi mana ketakwaan kita?

Tingkat pendidikan mudah diidentifikasi, mulai TK, SD sampai S3, namun tingkat ketakwaan seseorang sukar untuk diteliti, bahkan oleh diri yang bersangkutan sendiri. Pendidikan setinggi apapun tidak otomatis berkorelasi positif dengan tingkat ketakwaan, padahal seseorang yang memiliki pengetahuan, jika tidak dibarengi dengan berupaya meningkatkan ketakwaannya, maka semua itu tidak berguna, justru bisa mencelakakannya.

Ibn al-Sammak (w. 183 H) berkata:

كم من شيء إذا لم ينفع لم يضر، ولكن العلم إذا لم ينفع ضر

“Banyak hal jika tidak bermanfaat tidak menimbulkan petaka, namun ilmu jika tidak bermanfaat maka menimbulkan petaka” (Tarikh Baghdad, 3/347)

Read the rest of this entry

Puasa vs Kecurangan

CURANG, itulah mungkin kata-kata yang populer akhir-akhir ini. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, curang berarti tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil.

Puasa seharusnya cukup untuk melatih dan membiasakan pelakunya dalam menjauhi kecurangan. Orang yang berpuasa tidak akan makan yang halal di siang hari walaupun dia dalam kamar sendirian, tidak terpantau CCTV dan tidak ada yang menyadap alat komunikasinya sekalipun. Jika yang halal saja mampu dia jaga, logikanya yang haram, seperti kecurangan, tentu akan lebih mampu dia jaga.

Lalu mengapa kecurangan bisa dilakukan, bahkan oleh orang yang berpuasa sekalipun? Ada beberapa penyebab yang mendasarinya, antara lain:

Read the rest of this entry

‘Diet’ Spiritual

Tidak sedikit orang berpuasa dalam rangka menjaga kesehatan. Diet ketat dilakukan demi sekedar mendapatkan tubuh yang ideal, anehnya ‘diet’ spiritual sering lupa diperhatikan. Abdullah bin Subrumah (w. 144 H) berkata:

عجبت من الذي يحتمي من الطعام مخافة الداء كيف لا يحتمي من الذنوب مخافة النار

“Aku heran dengan orang yang bisa melakukan diet dari makanan sebab takut penyakit, bagaimana bisa dia tidak mampu diet dari dosa sebab takut neraka.” (Akhbâr al-Qudhât, 3/123).

Read the rest of this entry

Menyikapi Kegagalan

Bukan hanya dana yang rata-rata perhari habis Rp35,9 Milyar[1], pemilu di negeri ini juga menghabiskan ‘jiwa’. Modal habis, hutang menumpuk, ditambah gagal menjadi anggota dewan membuat tidak sedikit caleg gagal yang akhirnya stress. Ujung-ujungnya negara, lewat BPJS pula yang menanggung pengobatan mereka.[2] RSJ Menur Surabaya, misalnya telah menyiapkan 309 kamar untuk caleg gagal terpilih[3], sementara di RSJ Sambang Lihum Kalsel hanya menyediakan 80 tempat tidur.[4]

Mengubah Sudut Pandang

Setidaknya ada lima tipe caleg, pertama, caleg yang bermain curang, menghabiskan uang untuk ‘money politic’, namun gagal. Kedua, caleg yang bermain bersih, tidak banyak keluar uang, dan gagal. Ketiga, caleg yang bermain curang, menghabiskan uang untuk ‘money politic’, dan berhasil menggapai impiannya. Keempat, caleg yang bermain bersih, tidak banyak keluar uang, dan berhasil menggapai impiannya. Kelima, caleg yang maju karena didanai pihak ketiga, gagal atau tidak tidak berpengaruh ke ‘dompetnya’.

Read the rest of this entry