Meningkatkan Ketakwaan

Sering kita dengarkan wasiat khatib: “marilah kita tingkatkan ketakwaan kita”, namun sudahkah kita perhatikan ada berapa tingkatan takwa tersebut, dan pada posisi mana ketakwaan kita?

Tingkat pendidikan mudah diidentifikasi, mulai TK, SD sampai S3, namun tingkat ketakwaan seseorang sukar untuk diteliti, bahkan oleh diri yang bersangkutan sendiri. Pendidikan setinggi apapun tidak otomatis berkorelasi positif dengan tingkat ketakwaan, padahal seseorang yang memiliki pengetahuan, jika tidak dibarengi dengan berupaya meningkatkan ketakwaannya, maka semua itu tidak berguna, justru bisa mencelakakannya.

Ibn al-Sammak (w. 183 H) berkata:

كم من شيء إذا لم ينفع لم يضر، ولكن العلم إذا لم ينفع ضر

“Banyak hal jika tidak bermanfaat tidak menimbulkan petaka, namun ilmu jika tidak bermanfaat maka menimbulkan petaka” (Tarikh Baghdad, 3/347)

Read the rest of this entry

Puasa vs Kecurangan

CURANG, itulah mungkin kata-kata yang populer akhir-akhir ini. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, curang berarti tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil.

Puasa seharusnya cukup untuk melatih dan membiasakan pelakunya dalam menjauhi kecurangan. Orang yang berpuasa tidak akan makan yang halal di siang hari walaupun dia dalam kamar sendirian, tidak terpantau CCTV dan tidak ada yang menyadap alat komunikasinya sekalipun. Jika yang halal saja mampu dia jaga, logikanya yang haram, seperti kecurangan, tentu akan lebih mampu dia jaga.

Lalu mengapa kecurangan bisa dilakukan, bahkan oleh orang yang berpuasa sekalipun? Ada beberapa penyebab yang mendasarinya, antara lain:

Read the rest of this entry

‘Diet’ Spiritual

Tidak sedikit orang berpuasa dalam rangka menjaga kesehatan. Diet ketat dilakukan demi sekedar mendapatkan tubuh yang ideal, anehnya ‘diet’ spiritual sering lupa diperhatikan. Abdullah bin Subrumah (w. 144 H) berkata:

عجبت من الذي يحتمي من الطعام مخافة الداء كيف لا يحتمي من الذنوب مخافة النار

“Aku heran dengan orang yang bisa melakukan diet dari makanan sebab takut penyakit, bagaimana bisa dia tidak mampu diet dari dosa sebab takut neraka.” (Akhbâr al-Qudhât, 3/123).

Read the rest of this entry

Menyikapi Kegagalan

Bukan hanya dana yang rata-rata perhari habis Rp35,9 Milyar[1], pemilu di negeri ini juga menghabiskan ‘jiwa’. Modal habis, hutang menumpuk, ditambah gagal menjadi anggota dewan membuat tidak sedikit caleg gagal yang akhirnya stress. Ujung-ujungnya negara, lewat BPJS pula yang menanggung pengobatan mereka.[2] RSJ Menur Surabaya, misalnya telah menyiapkan 309 kamar untuk caleg gagal terpilih[3], sementara di RSJ Sambang Lihum Kalsel hanya menyediakan 80 tempat tidur.[4]

Mengubah Sudut Pandang

Setidaknya ada lima tipe caleg, pertama, caleg yang bermain curang, menghabiskan uang untuk ‘money politic’, namun gagal. Kedua, caleg yang bermain bersih, tidak banyak keluar uang, dan gagal. Ketiga, caleg yang bermain curang, menghabiskan uang untuk ‘money politic’, dan berhasil menggapai impiannya. Keempat, caleg yang bermain bersih, tidak banyak keluar uang, dan berhasil menggapai impiannya. Kelima, caleg yang maju karena didanai pihak ketiga, gagal atau tidak tidak berpengaruh ke ‘dompetnya’.

Read the rest of this entry

Memilih Pemimpin yang Adil

Rasulullah bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ …

‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil…’ (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Siapakah yang dimaksud dengan pemimpin yang adil dalam hadits tersebut?. Dalam Ibânat al-Ahkâm Syarh Bulûgh al-Marâm dijelaskan:

الإمام العادل الحاكم العام التابع لأوامر الله تعالى فيضع كل شيء موضعه من غير إفراط ولا تفريط

“Imam atau pemimpin yang adil adalah penguasa umum (bagi kaum muslimin/shâhibu al-wilâyati al-udzma[1]/khalifah) yang mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala, menempatkan segala sesuatu di tempatnya tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan.”[2]

Pemimpin yang adil adalah orang yang jika Allah meneguhkan kekuasaannya maka dia akan melaksanakan segala perintah Allah untuk diri dan rakyatnya, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Firman Allah:

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.”(QS. Al-Hajj: 41).

Read the rest of this entry

Betulkah Kita Takut Kepada Allah?

Takut kepada Allah merupakan kewajiban. Siapa saja yang tidak takut kepada Allah di dunia, kelak dia dibuat ketakutan pada hari kiamat, sebagaimana hadits qudsi riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya:

وَعِزَّتِي لاَ أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِي خَوْفَيْنِ وَأَمْنَيْنِ، إِذَا خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِذَا أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Demi keagungan-Ku, tidak akan Aku kumpulkan dalam diri hamba-Ku dua ketakutan dan dua keamanan. Jika dia takut kepada-Ku di dunia maka akan Kuberi keamanan di akhirat, dan jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, akan Aku buat dia ketakutan di hari kiamat”.

Hanya saja takut kepada Allah yang hakiki tidak sekedar di bibir saja, namun tercermin dalam hati, sikap, perbuatan dan ucapan.

Abu Laits mengutip perkataan Al-Rabî’ bin Khaitsam yang menyatakan:

عَلَامَةُ خَوْفِ اللَّهِ تَعَالَى يَتَبَيَّنُ فِي سَبْعَةِ أَشْيَاءَ:

Tanda bahwa seorang hamba itu takut kepada Allah Ta’ala nampak dalam tujuh perkara:

Read the rest of this entry

Merekatkan Hati Rakyat

Salah satu tugas berat pasca pemilu nanti, disamping membangun negeri yang makin terlilit hutang adalah tugas untuk merekatkan kembali hati-hati rakyat yang sudah terpolarisasi. Masing-masing kubu cenderung tidak percaya kepada kubu yang lainnya. Beberapa hal yang mesti diupayakan oleh setiap pihak yang ingin merekatkan hati rakyat, dan ini harus dimulai dari diri masing-masing pihak, terutama kalangan penguasa antara lain:

Read the rest of this entry

Beda Laki-Laki dan Perempuan dalam Shalat

Sesungguhnya shalat lelaki dengan wanita adalah sama dalam hal rukun, syarat, sunnah dan makruhnya. Adapun tata cara melakukan sunnah-sunnahnya mayoritas juga sama, namun berbeda sebagiannya.

Imam as Syafi’i menyatakan point-point perbedaan tersebut bahwa wanita: disunnahkan menempelkan bagian tubuh satu dengan lainnya, menempelkan perut dengan kedua paha dalam sujudnya, begitu juga dalam ruku’nya, dan hendaklah menebalkan jilbabnya, dan menjauhkannya saat ruku’ dan sujud sehingga tidak tergambar (bentuk) pakaiannya, dan hendaklah melirihkan suaranya, dan jika mengingatkan sesuatu dalam shalatnya hendaklah dengan bertepuk tangan.[1]

Read the rest of this entry

Sederhana Mengatasi Korupsi

Demokrasi di Indonesia menjadikan korupsi seakan ‘mustahil’ tertangani. Bagaimana tidak, kendaraan politik pra pencalonan yang terhitung mahal akan mendorong calon yang menang untuk mengembalikan modal sekaligus ‘bunganya’.

Syari’at Islam, jika diterapkan secara utuh, akan menjadikan masalah korupsi bisa dicegah dan diatasi dengan sederhana, tidak perlu pembuktian yang panjang dan rumit atau melakukan OTT (Operasi Tangkap Tangan). Misalnya apa yang dilakukan Khalifah ‘Umar, beliau akan menghitung terlebih dahulu jumlah kekayaan pribadi kepala daerah sebelum diangkatnya. Lalu dihitung lagi saat pejabat tersebut selesai bertugas.

Read the rest of this entry

Selesai Shalat, Baru Tahu Ada Najis di Pakaian

Suci dari najis adalah termasuk bagian dari syarat sahnya shalat. Masalahnya jika seseorang merasa yakin bahwa dirinya telah suci dari najis, namun ternyata setelah selesai shalat, ia melihat bajunya terkena najis yang tidak ma’fu (ditoleransi), wajibkah dia mengulangi shalatnya?

Para ulama madzhab Syafi’i sendiri berbeda pendapat tentang hal ini, hanya saja pendapat yang ashah[1] dalam madzhab Syafi’i, seseorang yang ada najis pada badan/pakaiannya, dia baru mengetahui setelah dia selesai shalat, dan dia ‘yakin’ bahwa dia shalat dengan membawa/terkena najis tersebut maka shalatnya tidak sah dan dia wajib mengulanginya. Dalam Al Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i dinyatakan:

clip_image002

“dan sucinya badan dari najis merupakan syarat sahnya shalat, jika dia tahu najis tersebut (lalu shalat dengan najis tersebut) maka tidak sah shalatnya. Begitu juga jika dia lupa atau tidak tahu, maka tidak sah shalatnya, jika dia shalat (dengan adanya najis tersebut) maka dia wajib mengulanginya, karena kesucian (thaharah) adalah wajib maka tidak gugur dengan alasan tidak tahu sebagaimana wudhu. Sama saja hal tersebut terjadi dalam shalat fardhu, sunnah, jenazah, sujud tilawah dan syukur, semua itu syaratnya adalah tidak adanya najis” [2]

Read the rest of this entry

Abi Bohong

“Abi bohong”, kata Daud (5 tahun) ketika saya tiba di rumah. ‘Abi’ dalam bahasa Arab artinya ‘bapakku’, mirip dengan panggilan ‘Abah’ yang dalam bahasa Arab bermakna ‘bapaknya’.

Apa penyebabnya? Tidak lain adalah karena pamannya yang menjemputnya pulang sekolah, tidak jadi saya jemput sendiri. Alasan bahwa jadwal kuliah molor sehingga tidak sempat lagi untuk menjemput tidak bisa dicerna oleh pikirannya.

Walaupun kenyataannya tidak berbohong, melainkan ada udzur yang menyebabkan tidak sempat lagi menjemput, tetap saja orang tua perlu hati-hati ketika ‘menjanjikan’ sesuatu kepada anak kecil. Jika kurang hati-hati berbicara, akan ter’framing’ dalam jiwa anak bahwa berbohong adalah hal yang lumrah karena orang tuanya mencontohkan yang demikian. Ini terkait hal yang belum bisa dicerna oleh nalar anak bahwa itu bukan kebohongan.

Read the rest of this entry

Menikahi Wanita Hamil dan Nasab Anaknya

Wanita hamil ada dua kemungkinan: 1) hamil dalam pernikahan atau 2) hamil diluar pernikahan.

Hamil dalam Pernikahan

Jika wanita tersebut hamil dalam pernikahan, misalnya dicerai saat hamil atau suaminya meninggal saat wanita tsb hamil, maka tidak ada perbedaan pendapat para fuqoha bahwa tidak sah menikahinya sebelum wanita tersebut melahirkan.[1]

Alasannya adalah firman Allah SWT :

وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. (Qs Ath-Tholaq : 4).

Read the rest of this entry

Penyembur Hoax Dalam Alquran

Jauh sebelum era sosmed, keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menjadi korban berita hoax (bohong). Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah saw, yakni `Aisyah r.a, sehabis perang dengan Bani Mushthaliq bulan Sya’ban tahun 5 H. Peperangan itu diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula `Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Read the rest of this entry

Jatuhkah Talak Dalam Kondisi Dipaksa?

 imageMenceraikan istri dalam kondisi dipaksa, jika terpenuhi syarat-syaratnya maka tidaklah jatuh talak tersebut. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sungguh Allah tidak menghukum umatku karena tersalah, lupa dan dipaksa orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Fath al-Qorîb, hal 244, dijelaskan bahwa tidak jatuh talak itu jika paksaan tersebut terjadi tanpa hak. Sebaliknya jika paksaan itu dengan hak, seperti paksaan hakim kepada orang yang telah meng-‘ila[1] istrinya, dan berakhir masa ‘ila yang dibenarkan Islam, lalu hakim memaksa untuk mentalaknya, maka jatuhlah talaknya.

Begitu juga tidak setiap paksaan menjadikan tidak jatuhnya talak. Syarat paksaan yang jika terpenuhi menjadikan tidaklah jatuh talak adalah[2]:

Read the rest of this entry

Selamatkan Generasi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, Beliau menjawab:

الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Mulut dan kemaluan.” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata; hadits ini shahih gharib).

Perzinaan, baik yang dilakukan dengan alasan ‘kasih sayang’ di hari Valentine maupun dilakukan dengan alasan ekonomi, disamping akan mencelakakan di akhirat, di duniapun bisa membuat celaka. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Tengah (Jateng) memperkirakan sekitar 27.000 pelajar di Jateng terindikasi mengidap HIV/AIDS (Solopos.com, 29/11/18). Sementara di Banjarbaru, KPA Kota Banjarbaru menyebut setiap pekan, satu orang terjangkit HIV/AIDS di Kota Banjarbaru, itu hanya yang terdeteksi KPA (banjarbaruklik.com, 12/8/17).

Read the rest of this entry