Beberapa Hal Berkaitan dengan Bai’at

Oleh: M. Taufik N.T

1. Makna Bai’at

Ibnu Khaldun dalam kitabnya, Muqaddimah[1] menjelaskan makna bai’at  secara bahasa:


اعلم أن البيعة هي العهد على الطاعة، كأن المبايع يعاهد أميره على أنه يسلم له النظر في أمرنفسه وأمور المسلمين، لا ينازغه في شيء من ذلك، ويطيعه فيما يكلفه به من الأمر على المنشط والمكره

Ketahuilah bahwa bai’at adalah berjanji untuk taat, seolah-olah seorang yang berbai’at berjanji kepada pimpinannya untuk menyerahkan kepadanya urusan dirinya dan urusan kaum muslimin untuk tidak menentangnya pada masalah apapun dalam urusan itu serta mentaatinya pada apa yang ia bebankan kepadanya dari perintahnya baik dalam keadaan suka atau duka.

وكانوا إذا بايعوا الأمير وعقدوا عهده جعلوا أيديهم في يده تأكيداً للعهد، فأشبه ذلك فعل البائع والمشتري، فسمي بيعة، مصدر باع، وصارت البيعة مصافحة بالأيدي

Dulu jika mereka berbaiat kepada pimpinan dan mengikat janjinya mereka meletakkan tangan di atas tangan pimpinannya untuk menekankan janji itu, sehingga dengan itu mereka menyerupai perbuatan penjual bersama pembelinya maka dinamailah Bai’at. Bentuk mashdar dari kata bâ’a (باع) -yang berarti menjual- sehingga jadilah kata bai’at berarti berjabat tangan[2].

Dari sinilah terdapat kesepakatan ahlussunnah bahwa bai’at adalah ‘aqad antara umat dengan khalifah, dan akad pengangkatan khilafah disebut bai’at adalah bentuk tasybih (penyerupaan) seperti akad bai’ (jual beli) tatkala penjual menjabat tangan pembeli saat sempurnanya ‘aqad[3].

Dan ba’iat itu secara syar’i maupun kebiasaan tidaklah diberikan kecuali kepada amirul mukminin (khalifah) kaum muslimin[4].

2. Hukum Bai’at

Tidak ada ikhtilaf tentang disyari’atkannya bai’at karena banyaknya hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang bai’at ini, demikian pula menunjukan bahwa beliau membai’at para sahabatnya dalam beberapa kesempatan. Diantaranya :

a. Hadits Riwayat Bukhary dari ‘Ubadah Bin Shamit, ia berkata:

… فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

diantara janji yang beliau ambil dari kami adalah, agar kami berbaiat kepada beliau untuk senantiasa mendengar dan ta’at, saat giat mapun malas, dan saat kesulitan maupun kesusahan, lebih mementingkan urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah.’

b. Hadits Riwayat Bukhary dari ‘Ubadah Bin Shamit, ia berkata:

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك

"Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak membuat kebohongan yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak bermaksiat dalam perkara yang ma’ruf. Barangsiapa diantara kalian yang memenuhinya maka pahalanya ada pada Allah dan barangsiapa yang melanggar dari hal tersebut lalu Allah menghukumnya di dunia maka itu adalah kafarat baginya, dan barangsiapa yang melanggar dari hal-hal tersebut kemudian Allah menutupinya (tidak menghukumnya di dunia) maka urusannya kembali kepada Allah, jika Dia mau, dimaafkannya atau disiksanya". Maka kami membai’at Beliau untuk perkara-perkara tersebut.

c. Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِىٌّ خَلَفَهُ نَبِىٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ ». قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ « فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ ».

“Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi, setiap Nabi meninggal maka akan digantikan oleh Nabi yang lain sesudahnya. Dan sungguh, tidak akan ada Nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan) yang merekan akan banyak berbuat dosa." Para sahabat bertanya, "Apa yang anda perintahkan untuk kami jika itu terjadi?" beliau menjawab: "Tepatilah baiat yang pertama, kemudian yang sesudah itu. Dan penuhilah hak mereka, kerana Allah akan meminta pertanggung jawaban mereka tentang pemerintahan mereka."

d. Hadits Riwayat Muslim dari Abdullah Bin ‘Amru Bin Al Ash:

… وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ

…Siapa yang membai’at seorang pemimpin (penguasa) lalu dia memberikan genggaman tangannya serta buah hatinya (yakni dengan sepenuh hati), hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya…

Imam Al Qurthubi (wafat 671 H) dalam tafsirnya[5] mengatakan:

إذا نعقدت الإمامة باتفاق أهل الحل والعقد أو بواحد على ما تقدم وجب على الناس كافة مبايعته على السمع والطاعة وإقامة كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه و سلم ومن تأبى عن البيعة لعذر عذر ومن تأبى لغير عذر جبر وقهر لئلا تفترق كلمة المسلمين

Dan jika imamah (khilafah) telah terwujud dengan kesepakatan ahlul halli wal aqdi atau dengan salah satu seperti penjelasan yg lalu, maka wajib bagi seluruh rakyat membai’atnya untuk mendengar dan ta’at dan untuk menegakkan kitab Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW maka barangsiapa yang tidak berbai’at karena ada udzur dia diberi udzur/maaf dan barangsiapa yang tanpa udzur maka dia dipaksa (untuk berbai’at), agar kesatuan kaum muslimin tidak terpecah.

3. Pandangan Kaum Muslimin Tentang Bai’at Setelah Runtuhnya Khilafah

Ada tiga kelompok yang berbeda, yakni[6]:

Kelompok Pertama mengatakan : "Sesungguhnya orang yang meninggalkan bai’at adalah kafir". Kemudian mereka membaiat pimpinannya sendiri walaupun bukan khalifah, sedang orang yang tidak membaiatnya adalah kafir menurut pandangan mereka. Ucapan ini tidak tepat, Ali bin Abi Thalib tidak membaiat (bai’at in’iqad) Abu Bakar selama kurang lebih setengah tahun, dan tidak seorang sahabatpun yang mengatakan tentang kekafirannya selama beliau meninggalkan baiat[7].

Kelompok Kedua, Mengatakan: "Sesunguhnya baiat adalah wajib, barangsiapa yang meniggalkannya berarti dosa". Dari sinilah mereka menetapkan seorang amir bagi diri-diri mereka, sehingga menurut mereka gugurlah dosa-dosa tadi dari mereka ketika membaiatnya. Padahal yang benar adalah bahwa dosa meninggalkan baiat tidak menjadi gugur dengan cara membaiat amir tersebut. Karena baiat yang wajib dan berdosa bila orang yang meninggalkannya ialah baiat terhadap imam (pemimpin) muslim yang menetap di bumi dan menegakkan khilafah Islamiyyah dengan syarat-syarat yang benar.

Kelompok Ketiga, adalah mereka (kaum muslimin) yang tidak membaiat seorangpun. Mereka mengatakan : "Sesungguhnya meninggalkan baiat adalah berdosa, tetapi baiat adalah hak seorang khalifah yang tinggal di bumi (walau) kenyataannya tidak ada di masa sekarang". Menurut keyakinanku (Syaikh Ali Hasan), kelompok ketiga inilah yang berada di atas kebenaran".

4. Kesimpulan

Bai’at dalam hadits-hadits Rasulullah di Madinah adalah aqad pengangkatan khalifah (kepala negara) dalam sistem Islam, bukan pengangkatan ketua organisasi, dll.

Bai’at kepada Khalifah hukumnya wajib, meninggalkannya berdosa, namun tidak sampai kafir, dosa ini tidak gugur kalau hanya membai’at asal-asalan, seperti membai’at seseorang yang secara de facto bukan khalifah.

Bila saat ini belum tegak khilafah, maka yang dilakukan seharusnya berupaya sekuat mungkin untuk menegakkannya, tentunya dengan aktivitas yg syar’iy. Allahu Ta’ala A’lam.

Baca Juga:


[1] Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, 1/108, Maktabah Syâmilah

[2] Ibnu Khaldun, idem

[3] Dr. Ahmad Fu’ad Abdul Jawwad Abdul Majid, Al bai’at ‘Inda Mufakkiry Ahlissunnah, hal 17.

[4] Al Khalidi, Al-Ushul Fikriyyah li al-Tsaqafah al-Islamiyah (2/73) dan Qawaid Nizham al-Hukmi (262)

[5] الجامع لأحكام القرآن juz 1 hal 302, Maktabah Syamilah

[6] Diringkas dari Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, Al-Bai’ah Baina As-Sunnah Wal Al-Bid’ah ‘Inda Al-Jama’ah Al-Islamiyah, terj: Bai’at Antara Sunnah Dan Bid’ah

[7] Rinciannya di Tahdzir Al-Abqari min Muhadharat al-Khudhari (I/198) karya Al-Syaikh Muhammad al-Arabi al-Tibyani

Posted on 21 September 2010, in Kritik Pemikiran, Politik, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. afwan, ustad knp comment sy tdk di jwb? malah di hapus?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s