Category Archives: Pergaulan

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Cinta

Tak selamanya suatu rumah tangga selalu dihiasi ‘bunga-bunga cinta’, tidak sedikit cinta yang awalnya membara, seiring berjalannya waktu akan semakin redup, lalu mati, bahkan menyisakan rasa tidak suka, baik disebabkan fisik yang tidak lagi sedap dipandang mata, atau perangai yang tidak lagi mempesona. Apakah ketika itu terjadi, perceraian menjadi jalan keluarnya? Ada baiknya kita renungi bagaimana sikap orang shaleh ketika menghadapi hal tersebut.

Minta Cerai Karena Dimadu (Poligami)

Poligami hukum asalnya boleh, walau bisa berubah jadi sunnah, makruh ataupun haram, namun demikian seorang wanita juga boleh menolak dipoligami, asalkan penolakannya atas dasar perasaan saja, bukan karena menolak hukum/syariat yang membolehkan seorang suami melakukan poligami, atau menganggap bahwa hukum dibolehkannya berpoligami merupakan bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Walaupun istri menolak, jika suami tetap saja berpoligami—karena poligami memang tidak disyaratkan harus ada izin istri—maka istri tidaklah boleh begitu saja minta cerai dengan alasan dipoligami. Rasulullah bersabda:

أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ، فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ

wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Read the rest of this entry

Halal Haram Poligami

Menikah hukum asalnya adalah sunnah, namun jika sudah punya istri, menambah istri lagi (poligami) hukum asalnya adalah mubah/boleh, bukan sunnah. Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’ : 3)

Meskipun pada dasanya mubah, poligami hukumnya bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram, tergantung keadaan lelaki yang akan melakukan poligami.

Read the rest of this entry

Sudahkah Mengenal Calon yang Akan Dipilih?

Mengenal seseorang yang akan dipilih adalah sangat penting, baik akan dipilih sebagai pekerja, rekan bisnis, gurunya anak-anak, akan dijadikan sebagai suami/istri, terlebih lagi mau dijadikan wakil dalam pemerintahan, atau bahkan sebagai pemimpin.

Khalifah Umar bin al Khattab sangat teliti dalam hal ini, bahkan sekedar urusan menjadi saksi dalam suatu kesaksian beliau tidak gegabah, beliau meminta orang yang bersaksi tersebut untuk mendatangkan seseorang yang mengenal betul diri orang yang akan bersaksi tersebut.

Imam al Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah hendak memberi kesaksian kepada Umar bin al-Khattab. Maka Umar berkata padanya: 

لَسْتُ أَعْرِفُكَ، وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ، ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ

“Aku tidak kenal kamu, dan tidak masalah aku tidak mengenalmu, (namun) datangkanlah seseorang yang mengenal kamu.”

Read the rest of this entry

Khulu’ (Talak Tebus)

Disamping istri bisa menggugat cerai suaminya (menuntut fasakh), dan hakim bisa memutuskan ikatan pernikahan jika terpenuhi syarat-syarat nya walaupun suami bersikeras tidak mau menceraikan, seorang istri juga bisa melepaskan ikatan pernikahan dari suaminya dengan melakukan khulu’ (talak tebus).

Khulu’ sebenarnya adalah salah satu jenis perceraian, namun memiliki hukum-hukum khusus yang membedakannya dengan perceraian biasa.

Khulu’ adalah berpisahnya suami istri, permintaan berpisah dari sang istri, dengan adanya kompensasi/pengganti dari pihak istri. Hukumnya adalah boleh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. AL-Baqarah: 229).

Maknanya “khiftum” (khawatir) adalah “dzann” (dugaan), makna “allaa yuqiima huduudallaah” (keduanya tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah) maknanya adalah adanya ketidak sukaan salah satu pasangan dengan pasangannya, atau istri menduga bakalan tidak sanggup mentaatinya, atau suami menduga tidak bakal sanggup menunaikan hak-hak istrinya, maka tidak mengapa suami mengambil tebusan dari sang istri.

Read the rest of this entry

Kedudukan Wali Dan Saksi Dalam Pernikahan

Bagaimana status ‘nikah bathin’ yang dilakukan tanpa wali dan saksi, hanya Allah saja sebagai saksi mereka?

***

Wali Nikah

Madzhab Syafi’i dan Maliki memandang bahwa adanya wali adalah rukun dalam akad nikah, sehingga tidak sah nikah tanpa adanya wali[1].

Alasannya antara lain adalah hadits dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rsulullah saw:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta beliau menshahihkannya)

Dalam madzhab Hanafi, wali bukanlah rukun nikah, namun menjadi syarat jawaz dan syarat nafâdz, sehingga akad nikah tanpa wali dianggap tetap sah, namun tidak mustahab (tidak disenangi).

Read the rest of this entry

Mencegah LGBT Sejak Dini

Menurut Jawapos (23/5/17), diperkirakan 3% penduduk Indonesia (sekitar 7,86 juta jiwa) terkena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Penggrebekan pesta seks kaum Gay (homoseksual) di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang berhasil menciduk 141 pria, menyentak kesadaran kita, bahwa perilaku homoseks bisa ‘menular’ bahkan ke pria-pria yang tampak jantan, maskulin, atletis lengkap dengan perut ‘six pack’ yang berotot.

Walaupun dalam pandangan Islam, homoseksual, maupun prilaku menyerupai lain jenis- yang bukan bawaan sejak lahir- adalah termasuk tindakan kriminal (jarîmah), dimana pelakunya terkena had liwath, namun di negeri Pancasila ini, mereka dilindungi (dibiarkan berkembang), bisa kita buktikan dengan pernyataan Presiden: “polisi harus melindungi kaum LGBT” (bbc.com, 19/10/16), juga terakhir bisa kita lihat apa yang terjadi di MK. Ironis, Hal yang dikhawatirkan Rasulullah saw, justru dilindungi dan dibiarkan berkembang di negeri mayoritas muslim ini. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Read the rest of this entry

Kewajiban Isteri Kepada Suaminya

Diceritakan oleh Hushain bin Mihshan r.a bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ ؟

“Apakah kamu mempunyai suami?”

ia menjawab, : نَعَمْ “Ya.”

Beliau bertanya lagi:

فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟

“Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab,

مَا آلُوهُ إِلاَّ مَا أَعْجَزُ عَنْهُ

“Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad)

Read the rest of this entry

Isteri Berzina (Selingkuh), Wajibkah Diceraikan?

Zina, apalagi bagi yang telah menikah adalah dosa besar, pelakunya wajib dikenakan hukum jilid (cambuk) 100 kali jika belum pernah nikah, dan wajib dirajam jika telah pernah menikah, tidak ada perbedaan pendapat ‘ulama dalam hal ini.[1]

Hanya saja, jika karena suatu hal (misalnya tidak cukup saksi dan tidak mengaku di pengadilan, atau pengadilannya tidak memakai hukum Islam), sehingga hukuman rajam tidak ditegakkan, apakah istri tersebut otomatis terceraikan?

Read the rest of this entry

Rasulullah Melarang ‘Ali Berpoligami?

Kisah tersebut memang shahih, diriwayatkan oleh Imam al Bukhary dan Muslim. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkhutbah di atas mimbar:

Read the rest of this entry

Hukum Nikah dengan Syarat Tidak Dipoligami

Sahkah pernikahan jika istri mensyaratkan nanti tidak dipoligami (dimadu)? Jika itu sah, lalu suami ternyata berpoligami, bagaimana hukumnya?

***

Dalam pandangan madzhab Syafi’i, akad nikah tersebut sah, namun syarat tersebut rusak, dan merusak mahar yang disebutkan, sehingga mahar wanita tersebut menjadi mahar mitsli (mahar yang sepadan dengan umumnya wanita pada ‘kelas’nya).

Read the rest of this entry

Condong Kepada Orang Zalim

Suatu ketika Abu Bakar melihat Rasulullah makin beruban, maka beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah beruban.” Maka Rasulullah Saw. menjawab:

شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Aku dibuat beruban oleh surat Hud, al Waqi’ah, al Mursalat, ‘amma yatasâ-alûn (an-Naba), dan idzas syamsu kuwwirot (at-Takwîr). (HR. At Tirmidzi[1])

Read the rest of this entry

Nikah Muhallil (Menikahi Istri yg Ditalak 3 Lalu Diceraikan Agar Kembali Ke Suami Sebelumnya)

Bagaimana hukumnya menikah dengan niat untuk membantu pasangan suami istri yang talaq tiga, setelah itu dicerai dan dikembalikan lagi ke suami yang pertama?

Read the rest of this entry

Bagaimana Tata Cara Ruju’ (Istri Masih Dalam Masa Iddah)?

Rujuk menurut bahasa artinya kembali (mengembalikan). Sedangkan dalam istilah fikih pernikahan artinya ruju’ adalah kembalinya seorang suami kepada istrinya yang di talak raj’i, tanpa melalui perkawinan yang baru dalam masa ‘iddah.

Read the rest of this entry

Hukum Masuk Rumah Orang Lain Tanpa Izin dan Penggeledahan

Bagaimana hukum masuk rumah orang lain tanpa izin, dan hukum menggeledah rumah tanpa izin pemiliknya?

Read the rest of this entry