Category Archives: Pergaulan

Jatuhkah Talak Dalam Kondisi Dipaksa?

 imageMenceraikan istri dalam kondisi dipaksa, jika terpenuhi syarat-syaratnya maka tidaklah jatuh talak tersebut. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sungguh Allah tidak menghukum umatku karena tersalah, lupa dan dipaksa orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Fath al-Qorîb, hal 244, dijelaskan bahwa tidak jatuh talak itu jika paksaan tersebut terjadi tanpa hak. Sebaliknya jika paksaan itu dengan hak, seperti paksaan hakim kepada orang yang telah meng-‘ila[1] istrinya, dan berakhir masa ‘ila yang dibenarkan Islam, lalu hakim memaksa untuk mentalaknya, maka jatuhlah talaknya.

Begitu juga tidak setiap paksaan menjadikan tidak jatuhnya talak. Syarat paksaan yang jika terpenuhi menjadikan tidaklah jatuh talak adalah[2]:

Read the rest of this entry

Menghadapi Pasangan Pemarah

Sebelum menghukumi bahwa pasangan (suami/istri) kita pemarah, perlu dianalisis lebih dahulu persoalan apa yang banyak memicu terjadinya kemarahan tersebut. Jika persoalannya memang secara syar’i menuntut munculnya kemarahan maka sudah selayaknya suami/istri kita marah, ini adalah marah yang terpuji. Misalnya istri yang keluar rumah tanpa menutup aurat, menggampangkan urusan shalat, bermuamalah yang tidak syar’i, atau menggunjing memang layak dimarahi, ini juga berlaku untuk suami.

Kemarahan yang hanya dipicu oleh hal-hal sepele dan tidak syar’i, inilah yang bisa dijadikan acuan untuk mendefinisikan bahwa suami/istri kita pemarah. Misalnya istri marah gara-gara suami telat pulang sebentar saja, atau suami naik pitam gara-gara istri tidak pandai masak sehingga seringkali makanan gosong , dll.

Memilih Sejak Awal

Adakalanya seseorang memang bersifat pemarah. Ingin semua serba perfect, sedikit saja melihat hal yang tidak sesuai kehendaknya, amarahnya segera tersulut. Oleh sebab itu, karakter ini perlu dikenali sejak seseorang memilih calon istri/suami.

Read the rest of this entry

Jangan Meniru Budaya Kufur

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a bahwa Nabi ShallalLaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidîn dijelaskan bahwa meniru dan menyerupai kaum kafir bisa menjatuhkan pelakunya kedalam kekafiran jika dilakukan dalam rangka turut menyemarakkan kekafirannya. Adapun jika sekedar meniru, tanpa disertai untuk turut menyemarakkan kekafiran mereka, maka tidaklah menjadikan pelakunya sebagai kafir, namun mereka berdosa, sementara jika tidak sengaja meniru, namun kebetulan sama dengan mereka, maka tidaklah berdosa.[1]

Read the rest of this entry

Saudara Ipar Adalah Kematian

Pagi tadi (8/12) saat mengisi pengajian yang membahas tentang pergaulan pria dan wanita, seorang bapak bercerita tentang seorang dokter pria di Banjarmasin. Karena secara materi berkelebihan, dia mengajak adik lelakinya untuk tinggal bersama di rumahnya, sekaligus menemani dan menyopiri mobil istrinya. Lama-lama terungkap bahwa adik lelakinya bukan hanya menyopiri mobil istrinya, namun juga ‘menyopiri’ istrinya. Mereka akhirnya bercerai, dokter tersebut membeli rumah baru, sementara mantan istrinya menikah dengan adiknya.

Kejadian yang kurang lebih sama juga terjadi di pelosok Kalimantan Selatan. Bedanya, sang istri yang membawa adik perempuannya tinggal bersama dia dan suaminya. Suatu ketika gegerlah rumah tersebut karena adiknya yang belum menikah ternyata hamil, dan pelakunya ternyata adalah suaminya sendiri. Setelah diteliti, ternyata perselingkuhan itu telah berlangsung lama, 7 tahun!.

Read the rest of this entry

Mahram Terkait Hadits Larangan Khalwat

Rasulullah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

‘Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahram sang wanita tersebut.’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Khalwat yang haram dalam hadits ini terkait berduaannya seorang lelaki dan seorang wanita di tempat sepi dan tertutup dari pandangan manusia, dimana orang lain tidak bisa masuk tanpa izin dari mereka. Dalam Syarh Shahih Muslim (9/109), Imam al-Nawawi menyatakan bahwa khalwat tetap diharamkan walaupun yang dilakukan adalah salat berjama’ah.

Read the rest of this entry

Ghibah (Menggunjing) Tidak Selalu Haram

Ghibah (menggunjing) adalah membicarakan perihal orang lain yang tidak disukai olehnya, saat orang lain tersebut tidak ada, baik itu terkait kekurangan fisiknya, rumahnya, kendaraannya atau hal lainnya, baik menggunjingnya langsung lewat ucapan maupun tidak langsung seperti lewat grup Whatsapp, Facebook, Twitter dsb, baik menggunjingnya sembunyi-sembunyi berdua atau bertiga ataupun menggunjingnya ‘berjamaah’ dalam suatu majlis. Nabi saw bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ» قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»

“Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, Nabi saw berkata, “(yaitu) kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” Lalu ada yang mengatakan, “Bagaimana jika apa yang aku sebut memang benar-benar dimiliki oleh saudaraku?” Nabi menjawab, “(Jika memang demikian) berarti engkau telah mengghibahnya. Namun jika (apa yang kamu sebut) tidak ada pada dirinya, berarti Engkau telah berdusta.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Cinta

Tak selamanya suatu rumah tangga selalu dihiasi ‘bunga-bunga cinta’, tidak sedikit cinta yang awalnya membara, seiring berjalannya waktu akan semakin redup, lalu mati, bahkan menyisakan rasa tidak suka, baik disebabkan fisik yang tidak lagi sedap dipandang mata, atau perangai yang tidak lagi mempesona. Apakah ketika itu terjadi, perceraian menjadi jalan keluarnya? Ada baiknya kita renungi bagaimana sikap orang shaleh ketika menghadapi hal tersebut.

Minta Cerai Karena Dimadu (Poligami)

Poligami hukum asalnya boleh, walau bisa berubah jadi sunnah, makruh ataupun haram, namun demikian seorang wanita juga boleh menolak dipoligami, asalkan penolakannya atas dasar perasaan saja, bukan karena menolak hukum/syariat yang membolehkan seorang suami melakukan poligami, atau menganggap bahwa hukum dibolehkannya berpoligami merupakan bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Walaupun istri menolak, jika suami tetap saja berpoligami—karena poligami memang tidak disyaratkan harus ada izin istri—maka istri tidaklah boleh begitu saja minta cerai dengan alasan dipoligami. Rasulullah bersabda:

أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ، فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ

wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Read the rest of this entry

Halal Haram Poligami

Menikah hukum asalnya adalah sunnah, namun jika sudah punya istri, menambah istri lagi (poligami) hukum asalnya adalah mubah/boleh, bukan sunnah. Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’ : 3)

Meskipun pada dasanya mubah, poligami hukumnya bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram, tergantung keadaan lelaki yang akan melakukan poligami.

Read the rest of this entry

Sudahkah Mengenal Calon yang Akan Dipilih?

Mengenal seseorang yang akan dipilih adalah sangat penting, baik akan dipilih sebagai pekerja, rekan bisnis, gurunya anak-anak, akan dijadikan sebagai suami/istri, terlebih lagi mau dijadikan wakil dalam pemerintahan, atau bahkan sebagai pemimpin.

Khalifah Umar bin al Khattab sangat teliti dalam hal ini, bahkan sekedar urusan menjadi saksi dalam suatu kesaksian beliau tidak gegabah, beliau meminta orang yang bersaksi tersebut untuk mendatangkan seseorang yang mengenal betul diri orang yang akan bersaksi tersebut.

Imam al Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah hendak memberi kesaksian kepada Umar bin al-Khattab. Maka Umar berkata padanya: 

لَسْتُ أَعْرِفُكَ، وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ، ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ

“Aku tidak kenal kamu, dan tidak masalah aku tidak mengenalmu, (namun) datangkanlah seseorang yang mengenal kamu.”

Read the rest of this entry

Khulu’ (Talak Tebus)

Disamping istri bisa menggugat cerai suaminya (menuntut fasakh), dan hakim bisa memutuskan ikatan pernikahan jika terpenuhi syarat-syarat nya walaupun suami bersikeras tidak mau menceraikan, seorang istri juga bisa melepaskan ikatan pernikahan dari suaminya dengan melakukan khulu’ (talak tebus).

Khulu’ sebenarnya adalah salah satu jenis perceraian, namun memiliki hukum-hukum khusus yang membedakannya dengan perceraian biasa.

Khulu’ adalah berpisahnya suami istri, permintaan berpisah dari sang istri, dengan adanya kompensasi/pengganti dari pihak istri. Hukumnya adalah boleh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. AL-Baqarah: 229).

Maknanya “khiftum” (khawatir) adalah “dzann” (dugaan), makna “allaa yuqiima huduudallaah” (keduanya tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah) maknanya adalah adanya ketidak sukaan salah satu pasangan dengan pasangannya, atau istri menduga bakalan tidak sanggup mentaatinya, atau suami menduga tidak bakal sanggup menunaikan hak-hak istrinya, maka tidak mengapa suami mengambil tebusan dari sang istri.

Read the rest of this entry

Kedudukan Wali Dan Saksi Dalam Pernikahan

Bagaimana status ‘nikah bathin’ yang dilakukan tanpa wali dan saksi, hanya Allah saja sebagai saksi mereka?

***

Wali Nikah

Madzhab Syafi’i dan Maliki memandang bahwa adanya wali adalah rukun dalam akad nikah, sehingga tidak sah nikah tanpa adanya wali[1].

Alasannya antara lain adalah hadits dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rsulullah saw:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta beliau menshahihkannya)

Dalam madzhab Hanafi, wali bukanlah rukun nikah, namun menjadi syarat jawaz dan syarat nafâdz, sehingga akad nikah tanpa wali dianggap tetap sah, namun tidak mustahab (tidak disenangi).

Read the rest of this entry

Mencegah LGBT Sejak Dini

Menurut Jawapos (23/5/17), diperkirakan 3% penduduk Indonesia (sekitar 7,86 juta jiwa) terkena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Penggrebekan pesta seks kaum Gay (homoseksual) di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang berhasil menciduk 141 pria, menyentak kesadaran kita, bahwa perilaku homoseks bisa ‘menular’ bahkan ke pria-pria yang tampak jantan, maskulin, atletis lengkap dengan perut ‘six pack’ yang berotot.

Walaupun dalam pandangan Islam, homoseksual, maupun prilaku menyerupai lain jenis- yang bukan bawaan sejak lahir- adalah termasuk tindakan kriminal (jarîmah), dimana pelakunya terkena had liwath, namun di negeri Pancasila ini, mereka dilindungi (dibiarkan berkembang), bisa kita buktikan dengan pernyataan Presiden: “polisi harus melindungi kaum LGBT” (bbc.com, 19/10/16), juga terakhir bisa kita lihat apa yang terjadi di MK. Ironis, Hal yang dikhawatirkan Rasulullah saw, justru dilindungi dan dibiarkan berkembang di negeri mayoritas muslim ini. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Read the rest of this entry

Kewajiban Isteri Kepada Suaminya

Diceritakan oleh Hushain bin Mihshan r.a bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ ؟

“Apakah kamu mempunyai suami?”

ia menjawab, : نَعَمْ “Ya.”

Beliau bertanya lagi:

فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟

“Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab,

مَا آلُوهُ إِلاَّ مَا أَعْجَزُ عَنْهُ

“Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad)

Read the rest of this entry

Isteri Berzina (Selingkuh), Wajibkah Diceraikan?

Zina, apalagi bagi yang telah menikah adalah dosa besar, pelakunya wajib dikenakan hukum jilid (cambuk) 100 kali jika belum pernah nikah, dan wajib dirajam jika telah pernah menikah, tidak ada perbedaan pendapat ‘ulama dalam hal ini.[1]

Hanya saja, jika karena suatu hal (misalnya tidak cukup saksi dan tidak mengaku di pengadilan, atau pengadilannya tidak memakai hukum Islam), sehingga hukuman rajam tidak ditegakkan, apakah istri tersebut otomatis terceraikan?

Read the rest of this entry