Mengoreksi Penguasa Dengan Terang-Terangan Merupakan Cara Khowarij?

Sebagian kalangan ada yang menyatakan bahwa mengoreksi penguasa wajib dengan sembunyi-sembunyi, diam-diam, dan tidak boleh terbuka. Lebih dari itu mereka mencela orang-orang yang mengoreksi dengan terang terangan, dan mengatakan bahwa ini adalah cara-cara khawârij[1]. Dalil yang dipakai adalah hadits riwayat Imam Ahmad berikut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ وَإِنَّكَ يَا هِشَامُ لَأَنْتَ الْجَرِيءُ، إِذْ تَجْتَرِئُ عَلَى سُلْطَانِ اللهِ، فَهَلَّا خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ السُّلْطَانُ، فَتَكُونَ قَتِيلَ سُلْطَانِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughiroh telah menceritakan kepada kami Shafwan telah menceritakan kepadaku Syuraih bin ‘Ubaid Al Hadlromi dan yang lainnya berkata; ‘Iyâdl bin Ghanm mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan[2]. Hisyâm bin Hakim meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga ‘Iyâdl marah. (‘Iyâdl r.a) tinggal (menetap) beberapa hari, lalu Hisyâm bin Hakim mendatanginya, memberikan alasan. Hisyâm berkata kepada ‘Iyâdl: Tidakkah kau mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia” ‘Iyâdl bin Ghanm berkata; Wahai Hisyâm bin Hakim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat, namun tidakkah kau mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya dan sesungguhnya engkau wahai Hisyâm, kamu sungguh orang yang berani, jika kamu berani kepada penguasa Allah, tidakkah engkau takut dibunuh penguasa, maka kau menjadi korban penguasa Allah Tabâroka wa Ta’âla? (HR. Ahmad, hadits no. 15333) [3]

Sanad Hadits

Hadits ini diriwayatkan dengan dua jalur periwayatan sebagai berikut:

 1. ‘Iyâdl bin Ghanm adalah shahabat. Dia termasuk orang yang berbaiat di Baiat Ar-Ridwan, meninggal tahun 20 H di Syam.

2. Hisyâm bin Hakim bin Hizam bin Khuwailid al Qurasyi al Asadi. Meninggal pada awal masa kekhilafahan Mu’awiyah. Al Hâfidz Ibnu Hajar menyebutnya sebagai shahabat anak seorang sahabat, disebutkan dalam shahihayn.[4] (Taqribu At Tahdzib hal 572, Maktabah Syamilah)

3. Syuraih bin ’Ubaid adalah tabi’in. Al Hâfidz Ibnu Hajar Al Asqalani menilai Syuraih dengan : tsiqah banyak memursalkan[5] hadits[6] (Taqribu At Tahdzib hal 265, Maktabah Syamilah).

4. Shafwan bin ‘Amru bin Harim (Abu ‘Amru) adalah tabi’in kalangan biasa, meninggal pada tahun 155 H. Al Hâfidz Ibnu Hajar Al Asqalani mentsiqahkannya.

5. Abdul Quddus bin Al Hajjaj (Abu Al Mughirah) adalah tabi’ut tabi’in kalangan biasa, meninggal pada tahun 212 H. Al Hâfidz Ibnu Hajar Al Asqalani mentsiqahkannya.

Penilaian Para ‘Ulama

Sanad hadits ini adalah dho’if karena Syuraih bin ‘Ubaid bin Syuraih al Hadlromiy tidak mendengar hadits tersebut dari Hisyâm bin Hakim bin Hizam, Syuraih juga tidak mendengarnya dari Iyâdl bin Ghanm jadi kedua jalur periwayatan tersebut adalah dho’if, termasuk hadits Munqathi’. Ini sebagaimana ta’liq Syaikh Syu’aib al Arna’uth yang menyatakan:

وهذا إسناد ضعيف لانقطاعه، شريح بن عبيد الحضرمي لم يذكروا له سماعاً من عياض ولا من هشام

Dan ini adalah sanad yg dho’if karena terputusnya, Syuraikh bin ‘Ubaid Al Hadlromy tidak menuturkan lewat pendengaran (simâ’an) dari ‘Iyâdl dan tidak juga dari Hisyâm.

Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya, Al Marâsîl[7] menyatakan:

سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ لَمْ يَدْرِكْ أَبَا أُمَامَةَ وَلَا الْحَارِثَ بْنَ الْحَارِث وَلَا الْمُقدم

Aku mendengar ayahku berkata: Syuraih tidak berjumpa dengan abu Umâmah, tidak pula al Hârist bin al Hârist dan tidak pula Miqdam.

Jika Syuraih bin ‘Ubaid tidak mendapati (masa) Abu Umâmah r.a yang meninggal tahun 86 H, juga tidak menemui al Miqdam bin Ma’di Karb r.a yang meninggal tahun 87 H, maka tidaklah mungkin dia bertemu dengan Hisyâm bin al Hakim yang meninggal pada awal masa kekhilafahan Mu’awiyah, lebih-lebih dengan ‘Iyâdl bin Ghanm yang meninggal pada tahun 20 H yaitu pada masa amirul mukminin Umar bin Khaththab r.a, oleh karena itu mestilah hadist ini, dengan kedua sanad ini termasuk hadits munqathi’ (terputus sanadnya).

Adakah Riwayat Lain Yang Memperkuat Hadits Ini?

Riwayat hadits tersebut sampai redaksi : إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ (artinya: Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia) adalah shahih lighairihi[8]. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan ahli hadits lain, seperti hadits :

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّ هِشَامَ بْنَ حَكِيمٍ، وَجَدَ رَجُلًا وَهُوَ عَلَى حِمْصَ يُشَمِّسُ نَاسًا مِنَ النَّبْطِ فِي أَدَاءِ الْجِزْيَةِ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّ اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا»

Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair bahwa Hisyâm bin Hakim pernah melewati orang di Syam sedang menjemur beberapa orang petani di terik matahari karena tidak membayar pajak. Kemudian Hisyâm bertanya; ‘Mengapa mereka ini dihukum? ‘ ‘Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia”. (HR. Muslim)

Adapun redaksi مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً … (Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan…”), dalam hal ini terjadi ikhtilaf:

· Syaikh Syu’aib al Arna’uth (lahir 1928 M) menilai tambahan ini hasan lighairihi. Bahkan al Albani menshahihkannya[9]. Berikut ringkasan alasan penerimaan tambahan ini:

Hadits ‘Iyâdl bin Ghanm sebagaimana tersebut sebelumnya, sanadnya lemah karena inqithaa’ (keterputusan) antara Syuraih dengan ‘Iyâdl dan Hisyaam.

Akan tetapi inqithâ’ ini disambung oleh Jubair bin Nufair dalam riwayat Ibnu Abi ‘Âshim (no. 1097) [10], namun sanad riwayat ini juga lemah karena kelemahan Muhammad bin Ismâ’îl bin ‘Ayyâsy. Al-Hafizh Ibnu Hajar sempat menyebut riwayatnya lalu melemahkannya dengan menyatakan, ”Tapi Muhammad (bin Ismail ini) dha’if jiddan (sangat lemah)”.[11]

Syuraih juga mempunyai mutâba’ah[12] dari ‘Abdurrahmân bin ‘Âidz Al-Azdiy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi ‘Âshim (no. 1098), namun sanad riwayat ini juga lemah karena ‘Abdul-Hamîd bin Ibrâhîm setelah kitab-kitabnya hilang hafalannya buruk. [13]

Tetapi ‘Abdul-Hamîd bin Ibrâhîm mempunyai mutâba’ah dari ‘Amru bin Al-Hârits Al-Himshiy dari jalan Ishâq bin Ibrâhîm bin Zibrîq, dari ‘Amru bin Al-Haarits Al-Himshiy, dari ‘Abdullah bin Sâlim. Sanad hadits ini juga lemah karena Ishâq bin Ibrâhîm bin Zibrîq, an Nasa’i menyatakannya “tidak tsiqah”, al Albani sendiri menyatakan sebagai sangat lemah (dho’if jiddan).[14]

Mereka menyatakan walaupun semua hadits tersebut lemah, namun menurut penilaian mereka dalam setiap thabaqah sanad saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

· Syaikh Muqbil menilai tambahan bahwa mengoreksi penguasa harus secara diam-diam adalah tambahan yang dho’if karena syadz, dalam Tuhfât Al Mujîb, menulis:

“Telah tetap dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda, “Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kebenaran di sisi penguasa yang zalim”, dan kata-kata “di sisi” (‘indiyyah) tidaklah mesti bermakna rahasia dan harus bersama penguasa saja (rahasia).

Adapun hadits : “Siapa yang memiliki nasehat untuk penguasa maka hendaknya dia menasehatinya secara rahasia”, hadits ini asalnya ada di Shahih Muslim tanpa tambahan ini. redaksi hadits tersebut yang ada di Shahih Muslim adalah “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia” dan tidak disebutkan tambahan ini. Maka haruslah ditelaah tambahan ini (yakni tambahan menasehati harus secara rahasia), jika para perawi yang meriwayatkan tambahan itu semisal dengan para perawi yang tidak membawakan tambahan maka tambahan tersebut adalah tambahan yang bisa diterima. Demikian pula, jika perawi yang membawakan tambahan itu punya nilai lebih dari pada perawi yang tidak membawakan tambahan maka tambahan tersebut adalah juga tambahan yang diterima, adapun jika tambahan tersebut adalah tambahan yang kurang kuat maka status tambahan tersebut adalah tambahan yang syadz, dan (tambahan) redaksi di atas adalah (tambahan) yang syadz. (Tuhfât Al Mujîb, hal 164)

Penilaian tentang kelemahan hadits sirriyyatun nashîhat (nasehat dg rahasia) di atas juga dinyatakan oleh Dr. Muhammad bin Abdullah al Mas’ary, beliau menjelaskan panjang lebar kelemahan hadits ini dari berbagai segi dalam kitabnya, Muhâsabatul Hukkâm, hal 261 – 299.

Pemahaman Hadits: Cara Menasehati Penguasa

Hadits ini menjelaskan salah satu adab dan uslub/cara menasehati penguasa, yakni hendaklah tidak mengungkap aibnya ditengah masyarakat, hal ini juga berlaku untuk menasehati individu, termasuk orang tua dalam mendidik anak-anaknya dan guru terhadap murid-muridnya.

وقال الشافعي: من وعظ أخاه سرا فقد نصحه وزانه ، ومن وعظه علانية فقد فضحه وخانه

Imam Asy Syafi’i berkata : barang siapa menasehati saudaranya secara rahasia maka sungguh ia telah menasehati dan menghiasi saudaranya, dan barang siapa menasehatinya secara terang terangan (didepan publik) maka sesungguhnya ia telah membuka kejelekannya dan menghianatinya. [Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 9/140]

Terlepas dari ikhtilaf kesahihan hadits tersebut, walaupun penulis lebih memilih pendapat yang mendho’ifkan, dan penulis mengambil pandangan bahwa hadits dho’if boleh digunakan untuk sekedar menjelaskan fadhilah amal, bukan untuk menentukan status halal/haramnya perbuatan, jika hadits ini dipakai dengan konteks yang benar, dalam perkara yang tepat, maka bisa memberikan kebaikan pada umat dan negara dan menjaga stabilitas negara. Disisi lain, kalau dipakai bukan pada tempatnya, hadits ini bisa dijadikan senjata oleh bangsa penjajah dan kaki tangannya untuk membodohi umat agar penjajahan mereka ‘stabil’ dan kekuasaan mereka berjalan dengan aman, lancar dan terkendali untuk senantiasa melakukan berbagai kemaksiatan dan pengingkaran terhadap hukum-hukum Allah SWT.

Adapun bagi orang yang menganggap tambahan hadits tersebut shahih/hasan, maka tidak bisa kemudian otomatis difahami bahwa larangan tersebut hukumnya haram, apalagi sampai menyematkan label ‘khawarij’ atau label tidak layak lainnya, sebab:

1) Tidak semua kalimat yang berbentuk larangan/nahyu (di dalam al Quran dan Sunnah) pasti berimplikasi hukum haram. Sighat nahyu bisa saja berimplikasi tahrim (haram), karahah(tidak disukai), al-irsyad(penjelasan) dan lain-lain. Larangan yang tersebut di dalam hadits Imam Ahmad hanya menunjukkan makna al-irsyad dan rukhshah belaka, ini ditunjukkan beberapa hal antara lain:

a. Kalimat “Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya” menunjukkan rukhsoh (keringanan) bahwa menyampaikan dengan rahasia sudah cukup untuk melepaskan diri dari dosa, baik nasehatnya diterima atau ditolak.

b. Perkataan ‘Iyâdl bin Ghanm, “… tidakkah engkau takut dibunuh oleh penguasanya Allah, dan engkau menjadi orang yang terbunuh oleh penguasa Allah tabaaraka wa ta’aala”, menunjukkan bahwa beliau sedang mengingatkan saudaranya, Hisyâm bin Hakim, tentang resiko yang bisa terjadi jika menasehati penguasa dengan terang-terangan, bukan mengingatkan atas kemaksiyatan yang dilakukan oleh Hisyâm bin Hakim. Ditambah lagi Hisyâm juga mengoreksi pejabat lain, seperti Umair bin Sa’ad dengan terang-terangan, bahkan Iyâdl sendiri juga mengoreksi dengan terang-terangan (riwayatnya di point berikutnya)

2) Banyak riwayat yang menjelaskan keharusan berkata benar dimana saja, tidak harus rahasia, baik kepada penguasa atau bukan, semisal hadits dari ’Ubaidah bin Ash-Shamit radliyallaahu ’anhu ia berkata :

… وَأَنْ نَقُومَ أَوْ نَقُولَ بِالحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا، لاَ نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ

”… dan agar kami selalu berbuat dan berkata dengan kebenaran dimanapun kami berada tanpa takut celaan dan hinaan dalam menjalankan perintah Allah” (HR. Bukhari no. 7199, Dâru Thûqi an Najâh, Maktabah Syâmilah)

3) Menyembunyikan apa yang seharusnya disampaikan adalah salah satu ciri sifat nifâq. Imam Bukhariy meriwayatkan:

قَالَ أُنَاسٌ لِابْنِ عُمَرَ إِنَّا نَدْخُلُ عَلَى سُلْطَانِنَا فَنَقُولُ لَهُمْ خِلَافَ مَا نَتَكَلَّمُ إِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ قَالَ كُنَّا نَعُدُّهَا نِفَاقًا

Manusia berkata kepada Ibnu ‘Umar, Kami memasuki (rumah) penguasa kami, kemudian kami mengatakan kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan tatkala kami keluar dari (rumah) mereka ( penguasa). Ibu ‘Umar berkata: adalah kami menghitungnya sebagai (sikap) nifaq (munafiq). [Shahih Bukhari, 23/421, Maktabah Syâmilah]

Hadits ini menunjukkan bahwa mereka tidak harus datang sendirian, bisa di fahami dari lafadz inna nadkhulu (sesungguhnya kami memasuki…) dan pengingkaran Ibnu ‘Umar r.a akan sikap mereka yakni : “kemudian kami mengatakan kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan tatkala kami keluar” menunjukkan bahwa dalam kondisi tidak sendirianpun tetap dituntut berkata haq didepan penguasa, artinya ketika penguasanya berbuat melanggar syara’ maka harus juga dinyatakan sebagai melanggar syara’, bukan malah dicarikan alasan, hujjah atau udzur untuk membenarkan penguasa, namun tetap perlu diperhatikan bahwa perkara tersebut adalah benar-benar pelanggaran syara’ bukan sekedar masalah khilafiyyah –yang kebetulan pendapat penguasa berbeda dengan pendapat dirinya.

4) Dalam riwayat lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur ‘Urwah bin Zubair bahwa ‘Iyâdl bin Ghanm justru pihak yang mengingkari penyiksaan karena masalah jizyah, tanpa ada tambahan harus rahasia, bandingkan dengan hadits yang ada tambahan menyuruh menasehati secara rahasia (no. 15333), justru Iyâdl adalah pihak yang menyiksa.

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عِيَاضَ بْنَ غَنْمٍ رَأَى نَبَطًا يُشَمَّسُونَ فِي الْجِزْيَةِ، فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar berkata; telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az-Zuhri dari ‘Urwah telah sampai kepadanya dari seseorang bahwa, ‘Iyâdl bin Ghanm melihat rakyat jelata yang dijemur karena masalah jizyah. Lalu berkata; saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” Allah subhanahu wata’ala menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Ahmad, No 15334, Syu’aib Arna’uth menyatakan marfu’ shahih lighairihi)

Hadits di bawah ini juga bicara mengoreksi pejabat dengan terang-terangan, tanpa tambahan yang dipermasalahkan.

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَمِّهِ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عِيَاضَ بْنَ غَنْمٍ، وَهِشَامَ بْنَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ، مَرَّا بِعَامِلِ حِمْصَ وَهُوَ يُشَمِّسُ أَنْبَاطًا فِي الشَّمْسِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْعَامِلِ: مَا هَذَا يَا فُلَانُ؟ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا”

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami anak saudara Ibnu Syihab dari pamannya berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair ‘Iyâdl bin Ghanm dan Hisyâm bin Hakim bin Hizam melewati pejabat Himsh yang sedang menjemur rakyat jelata di matahari, lalu salah satunya berkata kepada pejabat tadi, kenapa itu wahai fulan saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Allah subhanahu wata’ala akan menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Ahmad, No 15336, Syu’aib Arna’uth menyatakan marfu’ shahih)

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ حِزَامٍ، أَنَّهُ مَرَّ بِأُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ، قَدْ أُقِيمُوا فِي الشَّمْسِ بِالشَّامِ، فَقَالَ: مَا هَؤُلَاءِ؟ قَالُوا: بَقِيَ عَلَيْهِمْ شَيْءٌ مِنَ الْخَرَاجِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعَذِّبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ” قَالَ: وَأَمِيرُ النَّاسِ يَوْمَئِذٍ عُمَيْرُ بْنُ سَعْدٍ عَلَى فِلَسْطِينَ، قَالَ: فَدَخَلَ عَلَيْهِ، فَحَدَّثَهُ فَخَلَّى سَبِيلَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyâm bin ‘Urwah dari bapaknya dari Ibnu Hizam dia pernah melewati orang-orang dzimmi yang dijemur di bawah matahari di Syam. Lalu dia bertanya, ada apa dengan mereka? Mereka menjawab, mereka masih memiliki tanggungan khoroj (pajak yang dibebankan kepada para orang kafir yang berada di bawah kekuasaan Islam). Lalu (Hakim bin Hizam Radliyallahu’anhuma) berkata; saya bersaksi saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” Allah ‘Azzawajalla pada Hari Kiamat menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia” (Hisyâm Radliyallahu’anhu) berkata; Amir mereka di Palestina pada waktu itu adalah ‘Umair bin Sa’ad. Hisyâm berkata; lalu (Hakim Radliyallahu’anhu) menemuinya (‘Umair) dan berbicara kepadanya maka dia (‘Umair) melepaskan mereka(yakni orang yang dijemur). (HR. Ahmad, No 15330, Syu’aib Arna’uth menyatakan sanadnya shahih menurut syarat Muslim)

Dari riwayat-riwayat tersebut, sebenarnya bisa dirinci sebagai berikut:

a. Hisyâm bin Hakim telah mengingkari dan mengingatkan secara terang-terangan Iyâdl bin Ghanm ketika Iyâdl menyiksa orang di Dariya karena tidak membayar jizyah (hadits no. 15333), dan Iyâdl mengambil faedah dari Hisyâm sehingga setelah itu Iyâdl termasuk orang yang mengingkari penyiksaan terhadap manusia, bahkan dengan terag-terangan, hal ini bisa dilihat dalam hadits no. 15334 dan hadits no 15336.

b. Pengingkaran Ibnu Hizam terhadap ‘Umair bin Sa’ad ketika menjadi pejabat Palestina, yang menjemur ahludz dzimmah dalam masalah jizyah (riwayat no. 15330), beliau melakukan pengingkaran terang-terangan, baru kemudian masuk menemui ‘Umair dan membahas persoalan tersebut.

c. Hadits-hadits tersebut di atas, semua itu diriwayatkan ‘Urwah bin Zubair yang menjumpai Hisyâm dan mendengarnya secara langsung sebagaimana dalam Shahih Muslim, akan tetapi memang ‘Urwah tidak berjumpa dengan Iyâdl yang wafat pada masa ‘Umar, namun dia mendengar kisah selengkapnya dari Hisyâm yang menyaksikan langsung kejadian, dan saat itu Hisyâm beserta Iyâdl. Lalu ‘Urwah menyampaikan kisah tersebut, dan dalam banyak riwayat hanya menyebut Hisyâm (no. 15330) karena Hisyâm adalah gurunya langsung, adakalanya juga menyebut Iyâdl sendiri, seperti hadits no. 15334, atau Iyâdl beserta Hisyâm (hadits no. 15336).

Bagaimana bisa difahami haram menasehati penguasa dengan terang-terangan dengan alasan hadits Iyâdl (yang dho’if atau minimal dipertentangkan) yakni hadits no. 15333, sementara Iyâdl sendiri (atau Hisyâm bersama Iyâdl) justru menasehati penguasa, yakni ‘Umair bin Sa’ad, dengan terang terangan, dalam kasus dan tema yang sama (hadits no. 15336). Lihat pula ‘Umair bin Sa’ad, tidak mempermasalahkan cara shahabat tersebut mengingkari apa yang dilakukannya dengan terang-terangan sebelum menemuinya, namun beliau langsung melepaskan orang yang dijemur tersebut.

Yang lebih ajaib, Syaikh Abdus Salam bin Barjas dalam Mu’âmalatul Hukkâm fi Dhau’i Al-Kitâb wa As-Sunnah, setelah menguatkan hadits tsb dengan merujuk al Albani, dengan menyatakannya shahih, bukan hasan sebagaimana diduga orang, apalagi dho’if, beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah pokok dalam hal merahasiakan nasehat terhadap penguasa[15]. Bagaimana bisa hal yang pokok dibangun di atas hadits yang diperselisihkan keshahihannya?

5) Banyak juga riwayat lain yang menunjukkan bahwa para shahabat tidaklah mengharamkan menasehati penguasa dengan terang-terangan, ada pula sahabat yang memilih menasehati dengan rahasia, ini menunjukkan bahwa menasehati penguasa, baik dengan terang-terangan atau rahasia adalah hal yang diperbolehkan syara’. Diantara riwayat tersebut adalah:

a. Ubadah bin Shamit r.a menasehati Mu’awiyyah dengan terang-terangan dalam kasus riba fadhl

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْقَوَارِيرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ كُنْتُ بِالشَّامِ فِي حَلْقَةٍ فِيهَا مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ فَجَاءَ أَبُو الْأَشْعَثِ قَالَ قَالُوا أَبُو الْأَشْعَثِ أَبُو الْأَشْعَثِ فَجَلَسَ فَقُلْتُ لَهُ حَدِّثْ أَخَانَا حَدِيثَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ نَعَمْ غَزَوْنَا غَزَاةً وَعَلَى النَّاسِ مُعَاوِيَةُ فَغَنِمْنَا غَنَائِمَ كَثِيرَةً فَكَانَ فِيمَا غَنِمْنَا آنِيَةٌ مِنْ فِضَّةٍ فَأَمَرَ مُعَاوِيَةُ رَجُلًا أَنْ يَبِيعَهَا فِي أَعْطِيَاتِ النَّاسِ فَتَسَارَعَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ فَبَلَغَ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ فَقَامَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرِّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحِ بِالْمِلْحِ إِلَّا سَوَاءً بِسَوَاءٍ عَيْنًا بِعَيْنٍ فَمَنْ زَادَ أَوْ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى فَرَدَّ النَّاسُ مَا أَخَذُوا فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاوِيَةَ فَقَامَ خَطِيبًا فَقَالَ أَلَا مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَحَدَّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثَ قَدْ كُنَّا نَشْهَدُهُ وَنَصْحَبُهُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُ فَقَامَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ فَأَعَادَ الْقِصَّةَ ثُمَّ قَالَ لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ أَوْ قَالَ وَإِنْ رَغِمَ مَا أُبَالِي أَنْ لَا أَصْحَبَهُ فِي جُنْدِهِ لَيْلَةً سَوْدَاءَ قَالَ حَمَّادٌ هَذَا أَوْ نَحْوَهُ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيِّ عَنْ أَيُّوبَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dia berkata, “Ketika di negeri Syam, saya mengikuti suatu halaqah (majlis ilmu), ternyata di situ juga ada Muslim bin Yasar. Tidak lama kemudian Abu Al Asy’ats datang.” Abu Qilabah melanjutkan, “Lalu orang-orang yang ikut bermajlis berkata, “Abu Al ‘Asy’ats telah datang, Abu Al ‘Asy’ats telah datang!” Ketika ia telah duduk, maka aku pun berkata kepadanya, “Riwayatkanlah hadits kepada saudara kami, yaitu hadits Ubadah bin Shamit.” Dia menjawab, “Baiklah. Suatu ketika kami mengikuti suatu peperangan, dan dalam peperangan tersebut ada juga Mu’awiyah, lalu kami mendapatkan ghanimah yang melimpah ruah yang di antaranya adalah wadah yang terbuat dari perak. Mu’awiyah kemudian menyuruh seseorang untuk menjual wadah tersebut ketika orang-orang menerima pembagian harta ghanimah, maka mereka beramai-ramai menawarnya, ternyata hal itu sampai di telinga ‘Ubadah bin Shamit, maka ia pun berdiri dan berkata, “Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam kecuali jika dengan takaran yang sama dan tunai, barangsiapa melebihkan, maka dia telah melakukan praktek riba.” Lantas mereka menolak dan tidak jadi mengambilnya. Dan hal itu sampai ke telinga Mu’awiyah, maka dia berdiri dan berkhutbah, dia berkata, “Kenapa ada beberapa lelaki mereka menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal kami telah bersama beliau dan kami tidak pernah mendengar hal itu dari beliau?” lantas Ubadah bin Shamit berdiri dan mengulangmi ceritanya. Kemudian dia berkata, “Sungguh, kami akan senantiasa meriwayatkan apa yang kami dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun Mu’awiyah tidak menyukainya.” Atau dia berkata, “Saya tidak peduli padanya walau harus dipecat dari tentaranya ketika berada di malam hari yang sangat gelap gulita.” Hammad mengatakan, “Ini, atau seperti itu.” Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Abdul Wahhab Ats Tsaqafi dari Ayyub dengan isnad seperti ini.” (HR. Muslim).

b. Abu Said Al Khudri r.a mengoreksi Marwan (Amir Madinah) dengan terang-terangan dalam kasus shalat ‘Ied

Dalam Shahih Bukhory (no. 956), Abu Said al Khudri berkata:

… فَلَمْ يَزَلْ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ فَلَمَّا أَتَيْنَا الْمُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ فَجَبَذَنِي فَارْتَفَعَ فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقُلْتُ لَهُ غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ فَقُلْتُ مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لَا أَعْلَمُ فَقَالَ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ

“…Manusia senantiasa melaksanakan (tata cara shalat hari raya) seperti apa yang beliau (Nabi saw) laksanakan, hingga pada suatu hari aku keluar bersama Marwan -yang saat itu sebagai Amir di Madinah- pada hari raya Adlha atau Fithri. Ketika kami sampai di tempat shalat, ternyata di sana sudah ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Ash Shalt. Ketika Marwan hendak menaiki mimbar sebelum pelaksanaan shalat, aku tarik pakaiannya dan dia balik menariknya, kemudian ia naik dan khuthbah sebelum shalat. Maka aku katakan kepadanya, “Demi Allah, kamu telah merubah (sunnah)!” Lalu dia menjawab, “Wahai Abu Sa’id. Apa yang engkau ketahui itu telah berlalu.” Aku katakan, “Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik dari apa yang tidak aku ketahui.” Lalu dia berkata, “Sesungguhnya orang-orang tidak akan duduk (mendengarkan khutbah kami) setelah shalat. Maka aku buat (khutbah) sebelum shalat.”

c. Umar Bin Khattab r.a dikoreksi secara terang-terangan

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/243 – 244, Dâru Thayyibah Lin Nasyri wat Tawzî’, Cet. II, Maktabah Syâmilah, menceritakan bahwa ketika Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu menyampaikan khutbah di atas mimbar, dia menyampaikan bahwa Umar hendak membatasi mahar sebanyak 400 Dirham, sebab nilai itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika ada yang lebih dari itu maka selebihnya dimasukkan ke dalam kas negara. Hal ini diprotes langsung oleh seorang wanita, di depan manusia saat itu, dengan perkataannya:

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يَزِيدُوا النِّسَاءَ صَدَاقَهُمْ عَلَى أَرْبَعِمِائَةِ دِرْهَمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ؟ قَالَ: وَأَيُّ ذَلِكَ؟ فَقَالَتْ: أَمَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ: وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا [النساء: 20] قال: فقال: اللَّهُمَّ غَفْرًا، كُلُّ النَّاسِ أَفْقَهُ مِنْ عُمَرَ. ثُمَّ رَجَعَ فَرَكِبَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ: إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ أَنْ تَزِيدُوا النِّسَاءَ فِي صَدَاقِهِنَّ عَلَى أَرْبَعِمِائَةِ دِرْهَمٍ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُعْطِيَ مِنْ مَالِهِ مَا أَحَبَّ

“Wahai Amirul mu’minin, engkau melarang manusia dari memberi mahar buat wanita melebihi 400 Dirham?” Umar menjawab: “Benar.” Wanita itu berkata: “Apakah kau tidak mendengar firman Allah: “ …. sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?.” (QS. An Nisa (4): 20) Umar menjawab; “Ya Allah ampunilah, semua manusia lebih tahu dibanding Umar.” Kemudia Umar pun meralat keputusannya. Kemudian naik ke mimbar dan berkata: “dahulu aku melarang kalian untuk membayar mahar wanita lebih dari 400 dirham, maka (sekarang) barang siapa yang mau (silakan) memberi dari hartanya sebanyak yang dia suka”. Mengutip Al Hâfidz Abu Ya’la, Imam Ibnu katsir mengatakan: sanadnya jayyid qawiy (baik lagi kuat)[16].

Dalam riwayat tersebut Umar r.a tidak mengingkari cara wanita tersebut menasehatinya dengan terang-terangan, begitu pula sahabat yang lain. Jika menasehati dg terang-terangan mereka fahami haram, tentulah para sahabat r.a tidak akan membiarkan peristiwa itu tanpa memberi nasehat pada wanita tersebut, minimal mereka akan menyatakan: “wahai ibu, ibu memang benar, namun cara ibu itu haram dilakukan”. [M. Taufik N.T]

Download selengkapnya di <<sini>>

Baca Juga:


[1] Khawârij, secara harfiah berarti “mereka yang keluar” , sebutan untuk kelompok yang muncul pada pertengahan abad ke 7, yang menganggap kaum muslimin yang melakukan dosa besar adalah kafir.

[2] Dalam riwayat lain hal tersebut dilakukan terhadap orang yang enggan membayar jizyah: .. ‘Iyadl bin Ghanm melihat rakyat jelata yang dijemur karena masalah jizyah. Lalu ia berkata; saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Allah SWT menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Ahmad, No. 14793)

[3] Musnad Imam Ahmad dengan Tahqîq Syua’ib al Arna’uth, Mu’assasah Ar Risâlah, Cet. I. 1421 H, Maktabah Syâmilah

[4] هشام ابن حكيم ابن حزام ابن خويلد ابن أسد القرشي الأسدي صحابي ابن صحابي له ذكر في الصحيحين في حديث عمر حيث سمعه يقرأ سورة الفرقان مات قبل أبيه ووهم من زعم أنه استشهد بأجنادين

[5] Mursal artinya yang dilepaskan, yang dilangsungkan. Menurut Musthalahul Hadits, mursal adalah istilah bagi satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’in langsung dari Nabi saw dengan tidak menyebut nama orang (sahabat) yang menceritakan kepadanya.

[6] شريح ابن عبيد ابن شريح الحضرمي الحمصي ثقة من الثالثة وكان يرسل كثيرا

[7] hal. 90, Maktabah Syamilah

[8] Dinamakan dengan Shahih Ligahairihi karena shahihnya hadits tersebut bukan karena sanad hadits tersebut, namun karena bergabungnya hadits-hadits yang lain kepadanya

[9] السنةلابن أبي عاصم ومعه ظلال الجنة في تخريج السنة- ج 2 ص 522

[10] Yakni pada hadits dalam As Sunnah Li Ibni Aby ‘Ashim no 1097:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا أَبِي، عَنْ ضَمْضَمِ بْنِ زُرْعَةَ، عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: قَالَ جُبَيْرُ بْنُ نُفَيْرٍ، قَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ لِهِشَامِ بْنِ حَكِيمٍ: أَوَ لَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فِي أَمْرٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

[11] Al-Ishabah 4/510

[12] mutaba’ah atau mutabi’ adalah suatu riwayat yang mengikuti periwayatan orang lain dari guru yang terdekat atau gurunya guru (hadis yang diriwayatkan oleh periwayat lebih dari satu orang dan terletak bukan pada tingkat sahabat Nabi, namun tabi’in).

[13] Ibnu Hajar Al Asqalany, Taqrîbu at Tahdzîb, hal 332: عبد الحميد ابن إبراهيم الحضرمي أبو تقي بفتح المثناة ثم قاف مكسورة الحمصي صدوق إلا أنه ذهبت كتبه فساء حفظه.

[14] Al-Albani dalam Silsilah al Ahâdîtsu adh Dha’îfah, 2/181 menyatakan:

وأبوه إسحاق بن إبراهيم بن زبريق ضعيف جدا ، قال النسائي : ” ليس بثقة ” . وقال أبو داود : ” ليس بشيء ” وكذبه محدث حمص محمد بن عوف الطائي وهو أعرف بأهل بلده ا (“Dan ayahnya (ayah Amr) yaitu Ishaq bin Ibrahim bin Zibriq adalah dhaif jiddan. An-Nasa`iy mengatakannya, tidak tsiqah, Abu Daud mengatakannya, “Bukan apa-apa”, bahkan muhaddits daerah Hims yaitu Muhammad bin Auf Ath-Tha`iy yang merupakan orang yang paling tahu tentang penduduk negerinya sendiri menganggapnya pendusta.)

[15] وهذا الحديث أصل في إخفاء نصيحة السلطان، وأن الناصح إذا قام بالنصح على هذا الوجه، فقد برىء وخلت ذمته من التبعة …

[16] Walaupun Syaikh al Albany dalam Irwa’ul Ghalil (6/348) mendho’ifkannya, namun pendho’ifan al Albani tidak kemudian memastikan bahwa Al Hâfidz Abu Ya’la keliru dalam menilai sanad riwayat ini.

Posted on 23 November 2012, in Dakwah, Kritik Pemikiran, Mutiara Hadits, Politik. Bookmark the permalink. 26 Komentar.

  1. Surya Noor Rakhmatillah

    komentar saya (taufik) langsung saya sisipkan, ada dalam tanda kurung, dengan cetak tebal

    Bismillahirrohmanirrohim.

    Para Petinggi – pimpinan HT hendaknya CERDAS dalam mengkader & memobilisasi da’i-da’i nya.

    Menjadikan para da’i-da’i nya yang menyeru kepada tauhid dan Aqidah yg shohih, sebagai pondasi utama membangun Khilafah.

    (‘afwan, tema tulisan ini tidak membahas HT, insya Allah, justru penegakan syari’ah dan khilafah itu adalah konsekuensi dari tauhid, kalau bukan krn tauhid ngapain juga “menghadang bahaya” dengan menyuarakan khilafah, lebih aman bicara Islam dari sisi kultural saja)

    Para da’i HT hendaknya menggandeng pembela & penegak Tauhid yg mana mereka telah berupaya membersihkan Aqidah umat ini dari kesyirikan dan bid’ah, sebagaimana telah tegaknya ke khilafahan yg di bangun para pendahulu umat ini.

    (Insya Allah, siapapun dia kalau muslim maka kita gandeng, masalahnya memang ada sebagian muslim yang tidak mau digandeng, bahkan kadang menuduh yang tidak-tidak, namun walau demikian mereka tetap kita anggap saudara)

    Para Petinggi – Pimpinan HT hendaknya tidak bermudah-mudah dan meringankan kata-kata sehingga membingungkan umat, bahkan membangun image negatif bahwa HT lebih “dekat” ke musuh agama ini di bandingkan ke Ahlu Sunnah dan para Ulamanya yg membentengi umat ini dari musuh dalam selimut umat Islam, Syiah LAKNATULLAH.

    (Para ‘Ulama ahlus sunnah sepakat bahwa syi’ah itu salah, namun mereka tidak sepakat mengatakan SEMUA SYI’AH ITU KAFIR. Yang jelas-jelas kafir itu kalau misalnya mereka menuhankan ‘Ali, menuduh A’isyah berzina, menyatakan ‘Ali dan Imam-imam mereka lebih tinggi kedudukannya dari para Nabi, menganggap Al Qur’an yang ada sekarang kurang ayatnya, menuduh Jibril salah mengantarkan wahyu, kalau seperti ini jelas KAFIR, jadi hendaknya jangan bermudah-mudah menggeneralisir semua KAFIR, ahlus sunnah yang mana kalau ada seperti itu, adapun kekeliruan mereka dalam beberapa hal itu banyak dibahas di kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz II, silakan saja di teliti)

    Sekedar sharing :
    https://www.facebook.com/media/set/?set=a.391212034251310.82722.100000875492236&type=3

    http://arriauny.blogspot.com/2012/09/hubungan-ht-dan-khomaini-ne-bukti.html

    (Hendaknya kita CERDAS menyikapi sebuah link, valid kah yang mereka tulis?
    1) Tentang khomeini, bahwa HT mau membai’at dia jadi khalifah, itu tidak valid, sudah pernah saya jelaskan, memang HT pernah mendatangi khomeini dan menawarkan KONSEP pemerintahan Islam, sebagaimana HT juga mendatangi penguasa-penguasa yang lain dan menawarkan hal yang sama. Kalau mereka menerima dan mau mengaplikasikan konsep tersebut-dimana dalam konsep tersebut, diterangkan juga kaidah ‘aqidah Islam sebagai asas negara dan semua hal yang berkaitan dengan pengaturan rakyat(lihat muqaddimat dustur), apa salahnya kalau mereka menerima lalu mereka diangkat jadi khalifah? Namun ternyata khomeini lebih memakai konsep syi’ah. ‘AIB KAH HAL SEPERTI INI?
    2) tentang demokrasi (seperti dalam link yang akhir), bukankah tauhidullah meniscayakan kedaulatan (hak membuat hukum) hanya ditangan Allah, bukan ditangan rakyat? kalau semua manusia menyepakati yang haram jadi boleh, maka kesepakatan mereka tidak berguna. Memang benar kami menolak ide kedaulatan yg ada dalam konsep demokrasi, kami menganggapnya bertentangan dengan tauhid, memang ada masalah apa kalau begitu?)

    Demikian, semoga Allah memberikan yg terbaik utk mu saudaraku.

    (Aamiin, waiyyaaka)

    Alhamdulillah, tidak ada tanggapan terhadap isi postingan ini, semoga sepakat.

    Suka

  2. Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh, apa khabar mas Taufik, di mana sekarang? lama tdk bersua. Semoga selalu sehat wal afiat.

    ##
    Wa’alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakaatuh, alhamdulillah, kami sehat dan Allah senantiasa memberikan kebaikan. kami sekarang tinggal di batas kota, belakang Q mall (hypermart), kalau lewat silakan mampir. Aamiin, jazaakallaahu khairan ‘ala shaalihi du’aa ik.

    Suka

  3. Surya Noor Rakhmatillah

    PATUTKAH : Syiah dikatakan Saudara semuslim dan Para penegak Aqidah-Tauhid dituduh antek Barat ?
    ___________________________________________________
    Penjahat aqidah terbesar yang telah menanamkan penyimpangan-penyimpangan dari hal terkecil dalam peribadahan dan aqidah, hingga dalam hal penyiksaan terhadap ahlu sunnah yang menentangnya.

    Musuh dalam selimut yang paling berbahaya dialah syiah laknatullah.

    Tunjukkan Aqidah Syiah dari golongan mana yg masih selamat di akhir zaman ini ?

    Akan kan HT “meng generalisasi” SYIAH sebagai SAUDARANYA SEMUSLIM ?

    ((1) lho, coba dibaca baik-baik, yang melakukan generalisasi itu siapa?, justru kesannya dari komentar sampiyan, sampiyan yang menggeneralisir kalau SEMUA SYI’AH ITU KAFIR, betulkah demikian?, tolong ini dijawab biar tidak bolak-balik membahas ini, umat memang perlu dibentengi dari kesesatan syi’ah, namun generalisasi bahwa SEMUA syi’ah itu KAFIR itu tidak pada tempatnya, bahkan fatwa syaikh bin baz saja tidak menggeneralisir kok. baca juga ini, terutama point f : http://syabab1924.blogspot.com/2011/03/kedudukan-syiah-di-tengah-tengah-umat.html.
    Ini yang dari salafy sendiri :
    Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat.
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/3626-apakah-syiah-itu-kafir.html. Saya terusterang heran dengan sampiyan, sudah 3 kali hal ini saya sampaikan kok masih saja kesimpulan sampiyan begitu, kalau sampiyan tidak suka dengan HT ya sudahlah, namun janganlah menimpakan sesuatu kepada orang lain berdasarkan persepsi sampiyan sendiri, ingat juga saat sampiyan menuduh pejuang khilafah menghina syari’at Rasulullah (jenggot) gara-gara foto yang sampiyan sendiri tidak tahu, namun menuduhnya editan dan dimaksudkan untuk menghina jenggot, padahal foto tsb adalah pejabat muslim turki yang membantu pengungsi muslim rohingya https://www.facebook.com/photo.php?fbid=441030879269425&set=a.111041742268342.6422.100000875492236&type=1&comment_id=1223355&ref=notif&notif_t=photo_reply&theater

    Sebagaimana ada Islam KTP demikian pula adaya syiah KTP, mereka itu yg perlu kita selamatkan Aqidahnya, mereka hanya ikut-ikutan karena dangkalnya ilmu agamanya.

    ((2). saya malah belum dengar ada klasifikasi “ilmiyyah” seperti ini, (a) kalau ada apa dasar klasifikasinya, dan ‘ulama mana yang mengklasifikasikan demikian?, (b) terus Islam KTP masih muslim atau tidak, (c) syi’ah KTP masih muslim atau kafir, (d) kalau Syi’ah KTP masih Muslim walau sesat, dia masih berhak diperlakukan sebagai muslim, bahkan Allah sebut dua kelompok yang saling berperang saja bisa jadi masih muslim keduanya: Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.(QS 49:9))

    Syiah punya step by step menjerat mangsanya:
    1. Menanamkan kecintaan kepada Ahlu Bait.
    2. Memupuk loyalitas berlebihan kpd Ahlu Bait dan menanamkan kebencian kpd Muawiyah.
    3. …
    4. ….
    5. …
    6. Memerangi Ahlu Sunnah

    Akankah mereka yg masih terbawa-bawa, “syiah binaan” pd step-tep awal, dikatakan sebagai mereka yg memiliki Aqidah Syiah yg selamat ….. ???

    Saudaraku “JANGAN MENG GENERALISIR” keburukan menjadi kekebaikan seperti itu ….. KASIHAN UMAT !

    ((3). Saudaraku, kalau sampiyan membaca tuntas tentu tidak akan muncul kata “MENGGENERALISIR” itu)

    Sementara itu orang yg mendakwahkan Aqidah – Tauhid di cela dan fitnah yg membuat perpecahan umat,

    Contoh teringan dari penegakan Tauhid adalah penyelisihan terhadap kehidupan orang kafir, diantaranya memakai peci, tidak isbal dan berjenggot. Orang-orang yg menyampaikan dakwah akan Isbal, antum katakan membuat GADUH suatu masjid …. Astaghfirullah !

    ((4)isbal itu masalah khilafiyah, tidak perlu dikaitkan dengan penegakan Tauhid, kalau mau isbal ya terserah pemahamannya, tidak isbal (celana cingkrang) ya terserah, yang jadi masalah kan kalau masalah khilafiyyah dipertentangkan sedemikian rupa shg jama’ah resah, itu fakta lho, jangan mengedepankan persepsi sampiyan sendiri dengan mengatakan ini celaan dan fitnah, harusnya ya introspeksi lah, kecuali kalau sampiyan menganggap masalah isbal ini termasuk masalah aqidah)

    Semangat untuk menyelisihi ritual-tradisi orang-orang kafir senantiasa dikobarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau. Inilah yang kemudian menegakkan kewibawaan umat Islam di mata musuh-musuhnya sampai menjulang tinggi ke atap langit. Bendera al-Islaamu Ya’lu walaa Yu’la ‘Alaihi (Islam itu tinggi, dan tidak ada yang melampaui ketinggianya) benar-benar menghujam dan mengakar di bumi.

    Sekedar info, pembahasan dlm makalah ini sudah pernah ana baca sama persis oleh salah seorang ustadz HTI lainnya, dan sudah ada tanggapan ilmiah dari ustadz Badrusalam, pengelola radio Rodja.

    ((5) Sekedar info juga, saya sudah membaca bantahan ust. Badrussalam (http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/20/bantahan-hizbut-tahrir/), kemudian banyak di copas di blog-blog lain, afwan isinya tidak usah di copas disini gin, info tambahan bahwa apa yang ditulis tersebut juga sudah dipatahkan oleh ust. Syamsuddin disini (http://syabab1924.blogspot.com/2010/07/tanggapan-kritik-atas-pendapat-yang.html).
    (6) kalau sampiyan katakan “pembahasan dlm makalah ini sudah pernah ana baca sama persis oleh salah seorang ustadz HTI lainnya”, coba link nya mana kok bisa dikatakan SAMA PERSIS?, kalau sampiyan tidak bisa menunjukkan linknya maka ada dua kemungkinan 1) sampiyan tidak betul-betul membaca postingan ini, atau 2) sampiyan tidak faham makna SAMA PERSIS
    (7). Di postingan ini sengaja saya kutipkan pendapat syaikh Muqbil yang berbeda dg mainstream salafy di sini, dengan harapan minimal ikhwan di salafy bisa berlapang dada menyatakan ini ikhtilaf atau lebih lagi kalau mereka memahami kelemahan pendapatnya, mereka bisa mengakui bahwa pendapatnya lemah. Ini saja, tolong kalau mau menanggapi per point saja (1 sd 7), kalau copas dari link-link yang sudah saya sebutkan diatas, mohon ma’af kalau tidak akan saya tampilkan, pembaca lain bisa saja membaca langsung dari link tsb.

    Dan komentar-komentar ana …. akan berkait dgn inti pembahasan tsb.

    Suka

  4. Ada yang mau saya tanyakan mas, terkait atsar Umar bin Khaththab di atas.
    1. Apa alasan Anda memilih untuk menolak pendha’ifan dari Al Albani? Di tafsir Ibnu Katsir hanya ditakhrij saja tanpa ada penjelasan tentang sanadnya lebih lanjut, kecuali hanya keterangan sanad jayyid dari Abu Ya’la. Sedangkan di Irwaul Ghalil dijelaskan kenapa atsar itu dha’if dengan cukup panjang lebar. Maksud saya, Anda memilih untuk menshahihkan ini sudah melalui tarjih penelitian sanad atau sekedar karena mendukung pendapat Anda? Kalau memang karena Anda sudah meneliti sanadnya, mohon berbagi faidah kepada kami di sini, kenapa pendha’ifan Al Albani tersebut salah. *saya katakan ‘salah’ karena Anda lebih memilih untuk menshahihkan dan menampilkannya sebagai hujjah*
    2. Dalam tafsir Ibnu Katsir di ayat yang sama, di situ disebutkan kisah shahih tentang pembatasan mahar oleh Umar bin Khaththab karena beralasan mengikuti sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Apakah dengan kisah ini, Umar menuruti wanita tersebut dan meninggalkan sunnah Rasulullah?

    جزاك الله خيرا

    Suka

    • 1) Bisa dilihat di kitab تنبيه القارئ لتقوية ما ضعفه الألباني (=peringatan (untuk) pembaca untuk menguatkan apa-apa yang di dho’ifkan Al Albany), ada di maktabah syamilah juga, ini ana copas kan isinya:
      هذا فيه أما ادعاؤه أنه منقطع فهو بحسب ما وقف عليه وإلا فقد رواه أبو يعلى متصلاً، فقال: حدثنا أبو خيثمة ثنا يعقوب بن إبراهيم حدثنا أبي عن ابن إسحاق حدثني محمد بن عبد الرحمن عن مجالد بن سعيد عن الشعبي عن مسروق قال: ركب عمر منبر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فذكره. راجع تفسير ابن كثير. وأما ما ادعاه من ضعف مجالد فإنه يتقوى بالطريق الآخر الذي ذكره من رواية قيس بن الربيع عن أبي حصين عن أبي عبد الرحمن السلمي عن عمر ولهذا قال ابن كثير في تفسيره 1: 467 لما ذكر رواية أبي يعلى إسناده جيد قوي.
      وأما ما ادعاه من نكارته فليس كما قال؛ فإن الآية تدل على جواز المغالاة في المهر، وكلام عمر يدل على النهى عنه فعارضته المرأة بالآية الدالة على جوازه فرجع إلى قولها. قال القرطبي في تفسيره 5: 99 الآية دليل على جواز المغالاة في المهور لأن الله تعالى لا يمثل إلا بمباح وهكذا قال ابن كثير نحوه وابن عطية في تفسيره 4: 65، وابن العربي في أحكام القرآن.

      Adapun pendho’ifan Al Albani ada di Irwa’ul Ghalil ini:
      ومع انقطاعه ضعيف من أجل مجالد وهو ابن سعيد , ليس بالقوى ثم هو منكر المتن , فإن الآية لا تنافى توجيه عمر إلى ترك المغالاة فى مهور النساء , ولا مجال الآن لبيان ذلك , فقد كتبت فيه مقالا نشر فى مجلة التمدن الإسلامى منذ بضع سنين.
      ثم وجدت له طريقا أخرى عند عبد الرزاق فى ” المصنف ” (6/180/10420) عن قيس بن الربيع عن أبى حصين عن أبى عبد الرحمن السلمى قال: فذكره نحوه مختصرا وزاد فى الآية فقال: ” قنطارا من ذهب ” , وقال: (ولذلك) [1] هى فى قراءة عبد الله.
      قلت: وإسناده ضعيف أيضا , فيه علتان: الأولى: الانقطاع فإن أبا عبد الرحمن السلمى واسمه عبد الله بن حبيب بن ربيعة لم يسمع من عمر كما قال ابن معين.

      Kalau mau lebih panjang tentang hadits ini copas dari Imam As Sakhowy dalam Maqâsid al Hasanah, hal 551 dst
      حَدِيث: كُلُّ أَحَدٍ أَعْلَمُ أَوْ أَفْقَهُ مِنْ عُمَرَ، قاله بعد أن خطب ناهيا عن المغالاة في صداق النساء، وأن لا يزن على أربعمائة درهم، وقالت له امرأة من قريش: أما سمعت اللَّه تعالى يقول {وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا} ، أبو يعلى في مسنده الكبير من طريق مجالد بن سعيد عن الشعبي عن مسروق قال: ركب عمر منبر النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثم قال: أيها الناس ما إكثاركم في صداق النساء، وقد كان رسول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه إنما الصدقات فيما بينهم أربعمائة درهم فما دون ذلك، ولو كان الإكثار في ذلك تقوى عند اللَّه أو مكرمة لم تسبقوهم إليها فلا أعرفن ما زاد رجل في صداق امرأة على أربعمائة، قال: ثم نزل، فاعترضته امرأة من قريش فقالت له: يا أمير المؤمنين، نهيت الناس أن يزيدون النساء في صدقاتهن على أربعمائة درهم؟ قال: نعم، فقالت: أما سمعت ما أنزل اللَّه في القرآن؟ قال: وأي ذلك، فقالت: أما سمعت اللَّه يقول {وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا} قال: فقال: اللَّهم غفرا كل الناس أفقه من عمر، قال: ثم رجع فركب المنبر فقال: أيها الناس إني كنت نهيت أن تزيدوا النساء في صدقهن على أربعمائة درهم، فمن شاء أن يعطي من ماله ما أحب، قال أبو يعلى: وأظنه قال: فمن طابت نفسه فليفعل، وسنده جيد قوي. وهو عند البيهقي في سننه من هذا الوجه بدون مسروق، ولذا قال عقبه: إنه منقطع، ولفظه: خطب عمر الناس فحمد اللَّه وأثنى عليه وقال: ألا لا تغالوا في صداق النساء فإنه لا يبلغني عن أحد ساق أكثر من شيء ساقه رسول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أو سيق إليه إلا جعلت فضل ذلك في بيت المال، ثم نزل فعرضت له امرأة من قريش فقالت: يا أمير المؤمنين أكتاب اللَّه أحق أن يتبع أم قولك، قال: بل كتاب اللَّه فما ذاك قالت: نهيت الناس آنفا أن يتغالوا في صدق النساء واللَّه يقول في كتابه {وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا} ، فقال: كل أحد أفقه من عمر مرتين أو ثلاثا، ثم رجع إلى المنبر فقال للناس: إني كنت نهيتكم أن تغالوا في صداق النساء ألا فليفعل رجل في ماله ما بدا له، وأخرجه عبد الرزاق من جهة أبي العجفاء السلمي قال: خطبنا عمر، فذكر نحوه، فقامت امرأة فقالت له: ليس ذلك لك يا عمر إن اللَّه يقول {وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا} الآية، فقال: امرأة خاصمت عمر فخصمته، ورواه ابن المنذر من طريق عبد الرزاق أيضا بزيادة: قنطارا من ذهب، قال: وكذلك في قراءة ابن مسعود ورواه الزبير بن بكار عن عمه مصعب بن عبد اللَّه عن جده قال: قال عمر: لا تزيدوا في مهر النساء فمن زاد ألقيت الزيادة في بيت المال، وذكر نحوه، بلفظ: فقال عمر: امرأة أصابت ورجل أخطأ، وللبيهقي من حديث بكر قال: قال عمر: لقد خرجت وأنا أريد أن أنهى عن كثرة مهور النساء حتى نزلت هذه الآية {وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا} وقال: إنه مرسل جيد

      Suka

    • Intinya: Ana lebih memilih penerimaan Imam Al Hafidz Ibnu Katsir yang menerima penilaian Al Hafidz Abu Ya’la. Apalagi salah satu alasan Syaikh Al Albani dalam mendho’ifannya adalah karena matannya yang ditolak krn kata beliau ayat tsb tidak menafikan tawjihnya ‘umar untuk membatasi mahar, kesimpulan al Albani bahwa ayat tersebut tidak bertentangan dg pembatasan mahar (400 dirham) ini yang tidak tepat.

      Kata qinthôr itu maksudnya harta yang banyak, dan harta yang lebih dari 400 dirham pun termasuk dalam cakupan kata qinthôr tersebut, sehingga membatasi kebolehan mahar maksimal 400 dirham berarti melarang apa yang dibolehkan dalam ayat tersebut yakni kebolehan memberikan harta yang banyak walau lebih dari 400 dirham. Selain Imam Ibnu Katsir, lihatlah penjelasan Imam Al Qurthuby, Ibnu Athiyyah dan Ibnu Araby.

      Suka

    • 2) Sunnah mana yang ditinggalkan? justru Nabi tidak membatasi banyaknya mahar, jadi jangan dipertentangkan mana yang tidak bertentangan, sebaliknya apa yang bertentangan jangan pula dikatakan tidak bertentangan. Rasulullah sendiri memberikan mahar untk Istrinya (Ummu Habibah) sebesar 4 ribu dirham kok.
      Imam An-Nasa’i meriwayatkan dari Ummu Habibah bahwa mahar Rasulullah pada Ummu Habibah besarnya empat ribu Dirham.

      عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ أَنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ. زَوَّجَهَا النَّجَاشِيُّ وَأَمْهَرَهَا أَرْبَعَةَ آلاَفٍ وَجَهَّزَهَا مِنْ عِنْدِهِ

      “Dari Ummu Habibah bahwasanya Rasulullah menikahinya di saat ia berada di tanah Habasyah. Raja Najasyi (yang mewakili) menikahinya dan memberinya mahar empat ribu Dirham” (HR. An Nasa’i dg sanad Shahih)

      Ana sepakat bahwa wanita dalam menentukan mahar hendaknya memudahkan pihak laki-laki, namun batasan kemudahan itu relatif. Allahu A’lam.

      Suka

  5. “Ana sepakat bahwa wanita dalam menentukan mahar hendaknya memudahkan pihak laki-laki, namun batasan kemudahan itu relatif. Allahu A’lam.”

    Sangat sepakat mas!

    Suka

  6. baiklah., yang saya tangkap dari penjelasan di atas, antum menganggap riwayat yang lemah (karena mujallid bin sa’id dha’if dan inqitha’ antara sya’bi dan umar) itu dikuatkan oleh riwayat dari jalur qais bin rabi’, yang kemudian dianggap sanadnya jayyid.. padahal qais bin rabi’ ini dha’if, selain itu juga inqitha’ antara abu abdirrahman dengan umar.. jadi, apakah riwayat ini kemudian bisa menguatkan?

    sunnah rasulullah adalah mempermudah mahar, namun tidak membatasinya. ini benar. maksudnya, apakah umar membatasi mahar sedangkan beliau tahu bahwa sunnahnya hanya dianjurkan untuk mempermudah mahar, sesuai khutbah beliau ttg 12 uqiyah.. lagipula, pembahasan tentang fiqih mahar saya tidak mau memperpanjang, karena sekiranya kisah ini benar, maka kebijakan umar membatasi mahar adalah bagian dari ijtihad beliau sebagai khulafaur rasyidin, sebagaimana dulu abu bakar dan juga umar melarang haji tamattu’.

    jadi, yang saya harapkan pembahasan haditsnya saja yang antum tanggapi selanjutnya. jazakallahu khair.

    Suka

    • 1) Sudah ana copaskan dari kitabnya, http://www.archive.org/download/waq6330/6330.pdf. Sekali lagi penilaian suatu hadits tidak mutlak hanya Al Albani saja yang pasti benar, bahkan Al Albani juga banyak kelirunya, sebagian bahkan diakui beliau sendiri (lihat kitab taroja’at beliau). Yang menilai jayyid qawiy itu bukan saya, namun Ibnu Katsir dan Abu Ya’la, dan sekali lagi dalam hal ini saya lebih percaya penilaian mereka berdua.

      2). Kalau sampiyan cenderung dengan penilaian al Albani untuk riwayat Umar, ya monggo, silahkan, namun baca juga riwayat yang lainnya dalam postingan ini.

      Suka

      • lho, kok asal pilih aja mas? mbok seperti di artikel di atas itu lho, hadits ‘iyadh dibahas sanadnya sampe detail.. jadi kita tahu alasan anda memilihnya karena memang kuat dari sisi sanad, bukan karena asal pilih aja yang penting mendukung isi artikel..

        (lho, memang fokus artikel ini hadits ‘iyadh kok, bukan atsar tsb)

        anda ndak perlu ngasih tau saya kalau al albani juga kadang keliru.. itu sudah umum diketahui.. yang saya tanyakan itu penjabaran sanad dari anda sampai anda mentarjihkan pendapat abu ya’la tersebut..

        (alhamdulillah kalau sudah umum diketahui, saya tidak menuduh anda tidak tahu lho🙂 )

        jangan dikira saya belum baca copasan anda di atas itu, justru setelah saya baca maka saya tanggapi bahwa riwayat yang dianggap menguatkan itu juga punya kelemahan2 yang sudah saya sebut di atas, nah, bagaimana anda menanggapinya?

        gini saja, biar lebih mudah anda mengerti.. hadits itu kan bisa diterima kalau selamat dari ‘illat, entah itu li dzatihi maupun li ghairih.. nah, bagaimana anda bisa menguatkan hadits di atas dengan ‘illat yang saya sebutkan di atas.. bukan asal taqlid dengan alasan lebih percaya dengan abu ya’la dan ibnu katsir, dll.

        (yang menguatkan itu bukan saya mas, yang saya tulis sejak awal itu kan kutipan para ‘ulama. Saya memang taklid kok, bukan mujtahid, dan saya tidak berani menguatkan atau melemahkan suatu riwayat hanya krn pikiran saya sendiri, tanpa rujukan dari para ‘ulama)

        saya bukan taqlid kepada al albani, jangan salah.. justru saya sedang mempertanyakan apakah antum hanya taqlid atau benar2 menelitinya dengan benar..

        so, saya harap anda menanggapi komentar saya ini dengan penjelasan anda mengenai hadits di atas, bagaimana bisa dikuatkan dengan 2 ‘illat yang sudah saya sebutkan..

        (‘afwan, kalau mau penjelasan saya, sampiyan tidak akan dapatkan, saya hanya menuliskan penjelasan para ‘ulama, lalu kenapa saya memilih menerima riwayat tersebut?
        1) krn Ibnu Katsir menerimanya,
        2) Abu Ya’la menerimanya,
        3) Di kitab yang ana copaskan diatas yakni تنبيه القارئ لتقوية ما ضعفه الألباني (=peringatan (untuk) pembaca untuk menguatkan apa-apa yang di dho’ifkan Al Albany)dijelaskan penguatnya.
        Kalau mencari ‘ulama yang mungkin diterima salafy, lihat saja:
        4) Ibnu Taymiyyah dalam Minhajus Sunnah, 6/76, menggunakan riwayat ini, beliau menulis : أَنَّ هَذِهِ الْقِصَّةَ دَلِيلٌ عَلَى كَمَالِ فَضْلِ عُمَرَ وَدِينِهِ وَتَقْوَاهُ، وَرُجُوعِهِ إِلَى الْحَقِّ إِذَا تَبَيَّنَ لَهُ، وَأَنَّهُ يَقْبَلُ الْحَقَّ حَتَّى مِنِ امْرَأَةٍ، وَيَتَوَاضَعُ لَهُ، وَأَنَّهُ مُعْتَرِفٌ بِفَضْلِ الْوَاحِدِ عَلَيْهِ، وَلَوْ فِي أَدْنَى مَسْأَلَةٍ
        5) Syaikh Musthafa Al ‘Adawy (salafy mesir) juga menyatakan hadits ini hasan lighairihi, lihat di Kitab Jami’ Ahkam an Nisa’ juz 3 hal 301, menjelaskan 4 syawahid yang menguatkan atsar ini, bukan hanya atsar penguat yang dipakai syaikh al albany. dibagian akhir pembahasan syaikh musthafa al adawy menulis:
        وبالجملة فالأثر بهذه الشواهد – وخاصة الشاهد الثاني ، وإن لم يكن مطولا فهو يشهد لأصل القصة ، وكذلك الشاهد الثالث إذا صح إلى مسروق – يرتقي إلى الحسن ، والله تعالى أعلم .
        هذا وقد ضعف الشيخ ناصر الألباني – رحمه الله – هذا الأثر (6/348) ، ولكنه ما أشار إلى الشاهد الثاني ولا الثالث ولا الرابع التي ذكرناها ، ووصف المتن بالنكارة ، ولا نوافقه على ذلك . والله تعالى أعلم .
        )

        oh iya, saya memang sengaja fokus ke hadits ini dulu dan belum ada rencana utk menanggapi hadits yang lain. santai saja mas🙂

        (ya, santai saja, kalau ikhtilaf sepertinya ya tdk akan selesai-selesai, akan selalu ada saja alasan baik yang melemahkan ataupun menguatkan, tinggal bagaimana saling menghargai pendapat saja yang penting

        eh, pernyataan awal anda : “Apakah dengan kisah ini, Umar menuruti wanita tersebut dan meninggalkan sunnah Rasulullah?”, sunnah rasul yang mana yang anda maksud? kok belum dijawab?)

        Suka

  7. Nah, kan.. inilah ajaibnya anda..

    Pada artikel di atas anda jelas bukan muqallid, tapi muttabi’ (mengikuti pendapat berdasarkan penelitian dasar yang digunakan).. Namun begitu masalah atsar ‘Umar anda berbalik jadi muqallid yang tidak meneliti sanadnya melainkan hanya sekedar pilih pendapat ulama saja?

    Komentar 1:
    (Memang benar kata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, kalau orang berbicara pada perkara yang bukan ahlinya akan muncul hal-hal ajaib🙂. Memangnya seorang mujtahid tidak boleh dia berijtihad dalam satu masalah terus taqlid dalam masalah lain? kalau hal ini ajaib, maka Imam an Nawawi, Imam As Suyuthi,… juga ajaib karena mereka “berijtihad” dalam banyak masalah, namun dalam berbagai masalah juga mereka justru taqlid saja, apalagi saya yang memang bukan mujtahid ya pantaslah demikian. Lagi pula sudah saya sampaikan alasan saya memilih tersebut, terserahlah kalau anda katakan “hanya sekedar pilih”.
    Oh ya, muttabi’ dalam pandangan saya termasuk muqallid juga, bedanya hanya muttabi’ tahu alasannya walaupun alasannya tidak sampai tingkat hujjah mulzamah. https://mtaufiknt.wordpress.com/2012/12/12/taqlid/).

    ====

    Atsar yang dikatakan syaikh Musthafa al ‘Adawi mengenai adanya Masruq, itu juga berporos pada perawi yang sama, yaitu Mujalid (yang mana inilah letak kelemahannya), yang di riwayat lain oleh al Baihaqi, tidak disebutkan Masruq di situ. Bukankah di sini malah menjadi jelas letak wahm dari Mujalid? Lagipula syaikh al ‘Adawi mengatakan إذا صح إلى مسروق sebagai syarat ia naik menjadi hasan. Pada kenyataanya beliau tidak memastikankeshahihan sanad sampai Masruq bahkan sebaliknya, beliau menjelaskan kedha’ifan sanadnya. Dan lagi, bukankah beliau mengatakan di situ bahwa ia mengecek Musnad ‘Umar di Musnad Abu Ya’la dan tidak menemukannya? Jadi, penghasanan beliau itu bersyarat, dan syaratnya sendiri berdasarkan uraian di atas tidak terpenuhi.

    Syahid pertama, sudah saya sebut di atas mengenai inqitha’ antara ‘Abdurrahman As Sulami dengan ‘Umar.

    Syahid kedua, sekiranya shahih, amat singkat sekali dan tidak menyebutkan cerita wanita mengkritik ‘Umar , bagaimana bisa dijadikan penguat? Lagipula syahid ini mursal, yang artinya, tidak shahih karena inqitha’ antara Bakr bin ‘Abdullah dengan ‘Umar.

    Syahid ketiga, yaitu riwayat Abu Ya’la. Pada dasanya itu jalur yang sama dengan al Baihaqi namun dengan tambahan Masruq. Sudah saya jabarkan di atas, kelemahannya ada di poros yang sama yaitu Mujalid, tidak bisa menguatkan.

    Syahid keempat, munqathi’ antara Mush’ab bin Tsabit dan ‘Umar. Selain itu Mush’ab bin Tsabit ini dha’if.

    Nah, saya modif dan balikkan pertanyaan yang ada di artikel ini kepada Anda: Adakah riwayat lain yang menyambung sanad yang putus (dan banyak kelemahan) ini?

    Komentar 2:
    (1- al ‘Adawi tidak menyatakan إذا صح إلى مسروق sebagai syarat ia naik menjadi hasan. Perhatikan baik-baik pernyataan beliau:
    وبالجملة فالأثر بهذه الشواهد – وخاصة الشاهد الثاني ، وإن لم يكن مطولا فهو يشهد لأصل القصة ، وكذلك الشاهد الثالث إذا صح إلى مسروق – يرتقي إلى الحسن
    (dan secara global atsar tersebut dengan syawahid (jamak dari syahid, artinya dengan keempat syahid tsb) ini – dan khususnya syahid ke dua, walaupun tidak panjang menjadi syahid bagi asal kisah tersebut, begitu juga syahid ketiga jika shah sampai masruq – mengangkat derajatnya ke (derajat) hasan)

    Kalau anda faham penggunaan tanda “-” tentunya bisa menangkap bahwa syaikh al adawy memang menghasankan hadits tersebut, dengan alasan 4 syawahid tsb, bukan semata-mata karena riwayat masruq. mungkin kalau diubah kalimatnya jadi begini lebih mudah:
    وبالجملة فالأثر بهذه الشواهد يرتقي إلى الحسن، وخاصة الشاهد الثاني ، وإن لم يكن مطولا فهو يشهد لأصل القصة ، وكذلك الشاهد الثالث إذا صح إلى مسروق –
    (dan secara global atsar tersebut dengan syawahid ini mengangkat derajatnya ke (derajat) hasan, dan khususnya syahid ke dua, walaupun tidak panjang menjadi syahid bagi asal kisah tersebut, begitu juga syahid ketiga jika shah sampai masruq)

    2- memang beliau mengatakan di situ bahwa ia mengecek Musnad ‘Umar di Musnad Abu Ya’la dan tidak menemukannya? namun di baris akhir halaman tsb beliau mendapatkannya di tafsir ibnu katsir dari jalan Khalid bin sa’id dari as sa’by dari masruq (ini lho halaman 301 juz 3: https://mtaufiknt.files.wordpress.com/2012/12/atsar-umar-syaikh-musthafa-al-adawy.pdf). Nyata-nyata beliau menghasankannya gitu kok masih dipermasalahkan)

    3- Syahid ke dua walaupun singkat namun isinya menunjukkan ke asal kisah: umar menyatakan: aku keluar dan aku ingin melarang kalian membanyakkan mahar, hingga disampaikan kepadaku ayat ini (…). Al Baihaqi mengatakan ini mursal jayyid (mursal yang baik).

    4- intinya, mengutip al adawy, keempat syawahid tsb secara keseluruhan saling menguatkan
    ====

    Monggo dijawab. Jika anda masih dengan alasan pilih2 pendapat ulama tanpa penelitian, yasudah, ndak perlu dilanjutkan dan cukuplah kami para pembaca tahu bagaimana metodologi “klasik” anda dalam mendukung pendapat anda.

    Terlepas dari apakah syaikh al Albani dan syaikh Abu Ishaq mendha’ifkan, kemudian syaikh al ‘Adawi menghasankan, dan perbedaan penilaian lainnya, saya cuma pengen tau apa anda ini sekedar asal comot yang mendukung pendapat anda, atau benar2 meneliti pendapat masing2.. Ternyata yang terjadi adalah anda asal taqlid saja, terbukti alasan Anda tidak jauh dari alasan ulama Fulan dan Alan menshahihkan ini.. Mana analisa seperti yang di artikel? Penyikapan yang berbeda antara hadits ‘Iyadh dan atsar ‘Umar inilah yang mengherankan saya. Jika kemudian anda beralasan anda cuma muqallid, maka tidak perlu lah dilanjut lagi pembahasan ini dan begitu pula tidak perlu ada pembahasan sanad hadits ‘Iyadh yang panjang lebar di atas dengan segala analisa anda yang mengaku muqallid itu.

    Komentar 3:
    Lihat komentar 1, dan lihat juga apa masalah yang dibahas di postingan ini, yang ana sampaikan ttg hadits ‘Iyadh itu juga bukan dari kreasi pikiran ana sendiri, silakan saja lihat rujukannya.

    Selain Al Albani dan Abu Ishaq (lahir 1954 M), mungkin anda bisa memberikan referensi ‘ulama yang menyelisihi Ibnu Katsir, Abu Ya’la dan Ibnu Taymiyyah dalam menerima atsar tersebut, kalau ada ‘ulama yang semasa mereka atau sekelas mereka, terus yang membantah dengan alasan seperti yang anda katakan disini itu siapa, setahu saya yang muqallid ini, al albani mencacat atsar tsb hanya melihat syahid kedua dan memandang nakaroh pada matan.
    ===

    Kan sudah saya bilang mas, tentang sunnah Rasulullah tidak perlu dibahas lagi, fokus membahas hadits saja.. anggap saja SAYA SALAH ngomong. Oke? Jadi monggo, sekali lagi, tanggapannya seputar hadits saja.. Supaya orang ngga mengira anda mengalihkan topik, dan supaya pembahasan kita ga kemana2 karena fokus ke satu saja sudah cukup panjang apalagi dua atau lebih. Aroma pengalihan topik dari anda kok nampak sekali, jangan terlalu ditampakkan lah..

    Komentar 4:
    OK. Saya bukan mengalihkan topik, bahkan sejauh ini anda bahas tidak menyentuh isi postingan, kalaupun atsar tentang umar itu anda anggap lemah, hal tsb juga tidak ngaruh pada ide yang ada dalam postingan tsb. Lagi pula saya hanya ingin tahu saja bagaimana bunyi redaksi sunnah yang diselisihi umar (kan belum anda sampaikan), namun klo tdk mau dibahas ya nggak papa.

    Suka

  8. Oh iya, satu lagi, anda menulis:
    “Dalam riwayat tersebut Umar r.a tidak mengingkari cara wanita tersebut menasehatinya dengan terang-terangan.”

    Bagaimana dengan riwayat berikut:
    ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
    أيتها الرعية إن لنا عليكم حقا النصيحة بالغيب، والمعاونة على الخير
    “Wahai sekalian rakyat, sesungguhnya kami memiliki hak atas kalian untuk dinasehati secara diam-diam, dan pertolongan dalam kebaikan..”
    [Riwayat Ibnus Sari dalam Az Zuhd, 2/602]

    Komentar:
    1) kan sudah jelas tertulis “Dalam riwayat tersebut” coba renungkan kata “tersebut” itu kembalinya ke mana.
    2) Kok tidak anda sebutkan takhrij riwayat Hannad Ibnus Sari tsb, shahih atau dho’if🙂
    3) apakah anda memahami ada pertentangan dalam dua atsar tersebut?

    ===

    btw maaf ya, dari cara menanggapi anda kok nampaknya anda punya persepsi saya hanya manut ulama dari salafi saja. bahkan tidak ada satu kata pun dari komentar2 saya yang menyebut atau sekedar mengesankan saya seorang salafi. namun jika saya memang salafi secara haqiqi maka walhamdulillah, itu harapan saya.

    Komentar:
    Ma’af juga, jawaban ini kan bukan hanya untuk anda saja🙂, siapa tahu diantara pembaca ada yang sukanya rujukan dari kalangan yang mereka senangi saja, soalnya yang begitu “keras” dalam hal ini ya “salafy” (dalam tanda petik).

    ===

    jadi saya pikir tidak perlu sebut2 “ulama salafi” dan yang sejenisnya yang memberi kesan seolah saya ini sekte ‘salafi’ yang cuma mau nurut sama perkataan syaikh salafi, sedangkan salafi sendiri adalah tidak maksum, yang maksum adalah manhaj salaf. kalau saya cuma nurut pendapat orang yang mengaku salafi, apa bedanya saya dengan hizbi? mari kita anggap diskusi kita ini antara dua orang yang tidak terikat oleh kelompok.

    Komentar:
    sepakat dengan ini: “mari kita anggap diskusi kita ini antara dua orang yang tidak terikat oleh kelompok”.
    Sudah saya bilang juga kalau ikhtilaf (seandainya diterima ini ikhtilaf) sepertinya ya tdk akan selesai-selesai dibahas, masalahnya kan tinggal percaya atau tidak dengan alasan masing-masing, itu saja. https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/10/18/memahami-menyikapi-perbedaan-pendapat-ikhtilaf/

    Suka

  9. Tentu saja yang ajaib itu anda. Lha wong gak ada yang bilang anda berijtihad kok. Wa Subhanallah, saya dan anda bukan pada kapasitasnya untuk berijtihad. Saya hanya katakan, anda ini muttabi’ di satu sisi, muqallid di sisi yang lain, dan tentu keduanya sesuai definisi yang sudah saya cantumkan di atas. Kalau ngga sepakat dengan istilah, maka setidaknya anda paham saya maksud kan? Bahwa anda mentarjih kedha’ifan hadits ‘Iyadh dengan penelitian sanad, sedangkan untuk atsar ‘Umar, anda tidak lakukan kecuali hanya memilih pendapat ulama yang mendukung pendapat anda. Maka dengan ini cukuplah pembaca yang menilai.

    Komentar:
    Pertama :Anda ini faham bahasa Indonesia nggak sih? siapa yang nuduh anda menyatakan saya sebagai mujtahid?. Yang ana sampaikan di komentar itu kan menanggapi anda yang mengatakan ajaib kalau disatu sisi muttabi’, disisi lain taqlid. Trus saya sampaikan yg intinya: kalau mujtahid saja boleh dia berijtihad disatu sisi dan taqlid disisi lain, apalagi saya yang bukan mujtahid. Jadi ajaibnya anda itu krn menyangka kalau muttabi’ dalam satu hal maka tidak boleh taqlid dalam hal lain. Fahamkah? itu ungkapan intinya kalau yang kedudukannya lebih tinggi saja (mujtahid) boleh, maka yang kedudukannya lebih rendah (muttabi’) lebih boleh lagi, bukan ajaib.

    Kedua: Kalau anda benar-benar membaca dan faham artikel diatas, maka anda tidak akan menulis :“anda mentarjih kedha’ifan hadits ‘Iyadh dengan penelitian sanad”, Dibagian mana saya mentarjih DENGAN PENELITIAN SANAD? yang benar saya hanya mengemukakan alasan para ‘ulama yang menghasankan dan mendho’ifkan, terus memilih salah satunya, dan fokus ke tema “Pemahaman Hadits: Cara Menasehati Penguasa”. Coba baca baik-baik sebelum berkomentar. ‘afwan
    ===

    Syaikh Al ‘Adawi berkata: وقد نظرت في مسند عمر من مسند أبي يعلى فلم أقف عليه.= “sudah saya lihat di Musnad ‘Umar dari Musnad Abu Ya’la, dan tidak saya temukan..” Kemudian beliau mengatakan bahwa beliau menemukannya di Tafsir Ibnu Katsir, bukan di Musnad Abu Ya’la.. Anda gak baca penjelasan Syaikh Al ‘Adawi sampai selesai ya? Coba baca sampai halaman 302.. Kata beliau: “Yang nampak bagiku, Khalid bin Sa’id ini salah penulisan. Yang benar adalah Mujalid bin Sa’id, sehingga kembali ke sanad awal, yaitu Mujalid dari Asy Sya’bi dari ‘Umar.. Tetapi Mujalid di satu tempat menyebut Masruq di tempat lain membuangnya, maka Mujalid ini buruk hafalannya.”

    Oleh karena itu, riwayat Abu Ya’la sebenarnya sama dengan riwayat Al Baihaqi sebagaimana saya katakan di awal, sama2 berporos pada Mujalid yang dha’if. Selain itu, kedha’ifan Mujalid ini terlihat pada buruknya hafalan beliau sehingga tidak konsisten dalam membawakan riwayat, yang satu menyebut Masruq, di riwayat yang lain membuangnya. Kita jadi ragu apakah benar Masruq ada di sanad tersebut. Begitu kira2.

    Komentar:
    Ya. dihalaman 302 al adawy menulis:
    وقال الحافظ ابن كثير عقبه : قال أبو يعلى : وأظنه قال فمن طابت نفسه فليفعل ، إسناده جيد قوي . انتهى .
    قلت : والذي يبدو لي أن مجالد بن سعيد تصحف إلى خالد بن سعيد ، وعلى هذا فمرد هذه الطريق إلى الطريق الأول مجالد عن الشعبي عن عمر ، ولكن مجالدا كان أحيانا يدخل مسروقا ، وأحيانا يسقطه فمجالد سيء الحفظ .
    وعلى كل فالأثر كما قلنا حسن بمجموع طرقه وقد نقلنا – كما سبق عن ابن كثير – أن إسناده جيد قوي ، والله أعلم

    ===

    Hehehe, tanpa dibilangin pun saya juga tahu mas, kalau Syaikh menilai itu berdasar pada 4 syawahid, bukan hanya riwayat Masruq saja. Ngapain juga 4 riwayat itu disebutkan kalau yang dianggap cuma syawahid riwayat Masruq. Pada komentar atas itu sekedar saya tekankan saja komentar Syaikh al ‘Adawi mengenai riwayat Masruq. Walaupun pada akhirnya kita tahu bahwa Syaikh menilai ini hasan, namun kata2 beliau ini meninggalkan pesan untuk kita kritisi, yaitu: “JIKA shah sampai masruq”. Ini apa kalau bukan syarat? Dan pada kenyataannya, syarat ini tidak terpenuhi, sebagaimana saya jelaskan di atas. Syaikh pun tahu akan hal itu.

    Komentar:
    Justru syaikh al adawi menyatakan : ولكن مجالدا كان أحيانا يدخل مسروقاوأحيانا يسقطه
    artinya apa? syaikh menyatakan kadang mujalid memasukkan masruq dan kadang tidak, yakni beliau katakan ini sah sampai masruq, cuma kadang disebut kadang tidak, makanya kemudian beliau menegaskan
    وعلى كل فالأثر كما قلنا حسن بمجموع طرقه
    dari semua hal tersebut, sebagaimana kami katakan, atsar tersebut adalah hasan dengan semua jalannya
    lha kalau beliau berkesimpulan seperti kesimpulan anda, yakni menganggap tidak sah sampai masruq, bagaimana beliau berkesimpulan demikian?

    ===

    Mengenai syahid kedua, yang mana itu juga tidak bersambung, anda mengatakan “isinya menunjukkan ke asal kisah” (yang tepat: menunjukkan ke ashl atau pokok/inti cerita). Nah, kenapa anda (dengan menukil penjelasan Syaikh Muqbil) menganggap lemah ziyadah dari ‘Iyadh? Bukankah secara pokok cerita, isinya sama saja? Bahkan ziyadah dari ‘Iyadh cuma beda satu kalimat saja, sedangkan syahid ini tidak hanya satu tapi banyak kalimat yang tidak ada pada riwayat pokok yang dikuatkan, bahkan tidak membawa qarinah/keterangan sedikitpun tentang menasehati terang2an? Coba tes kekonsistenan anda sendiri dengan menelaah hal ini.

    ==
    Komentar:
    Kata “Kisah” dengan “cerita” itu menurut saya sama. dan ungkapan itu kutipan dari al adawy, bukan dari saya sendiri.

    Alasan saya bisa di baca mulai bagian “Pemahaman Hadits: Cara Menasehati Penguasa” dalam postingan ini (komentar saya yang ada kata “beda tema” dihapus)
    ==

    Nah, sekarang mari kita analisis secara ringkas, perbandingan hadits ‘Iyadh dan atsar ‘Umar.

    Hadits ‘Iyadh di atas terdapat keterputusan antara ‘Iyadh/Hisyam dengan Syuraih, namun ternyata bisa disambung dengan Jubair bin Nufair walaupun di sanad Jubair ada kelemahan di rawi lainnya. Sehingga bisa saling menguatkan. Namun anda tidak ikut penguatan ini.

    Dalam atsar ‘Umar, semua jalur tidak ada yang bisa menyambung keterputusan antara ‘Umar dengan perawi setelah beliau kecuali Masruq. Sedangkan riwayat Masruq yang dikeluarkan Abu Ya’la dan dikatakan jayyid qawiy itu ternyata sama jalurnya dengan yang keluarkan Al Baihaqi melalui Mujalid bin Sa’id, tanpa menyebut Masruq. Sedangkan Mujalid ini dha’if, dan karena wahm Mujalid, keberadaan perawi Masruq sendiri dipertanyakan di riwayat ini.

    Nah, dari ringkasan kedua riwayat di atas, apa yang mendasari Anda memilih dha’if-nya hadits ‘Iyadh dan memilih hasan-nya atsar ‘Umar, sedangkan keduanya punya kelemahan yang relatif sama? Bahkan tampak bagi kita atsar ‘Umar dan syawahid2nya lebih banyak kelemahan.. Ini yang sebenarnya saya tanyakan dari awal.. Thariqah anda mentarjih pendapat itu seperti apa sih? Asas ilmiah atau asas manfaah? Jika asas manfaah, maka bagaimana kami bisa mempercayai keobjektivan tulisan2 anda.. Makanya untuk bisa mengetahuinya, saya tanyakan tentang ini.. Sama sekali bukan dalam rangka membantah ide anda dalam menulis tulisan ini. Adapun ide anda, saya paham kok. Walaupun sayangnya tidak menyentuh realita yang ada. Namun tidak akan saya bahas di sini, karena akan menukil kalimat syaikh Muqbil di atas secara lebih lengkap (karena yang ditulis di artikel itu belum semuanya) untuk dibandingkan dengan yang ada di kitab Dukhul Mujtama’ HT, dan tentu akan panjang dan memecah fokus obrolan kita.

    Mengenai riwayat ‘Umar berpidato untuk dinasehati diam2, sebenarnya saya ingin melihat apakah Anda mau mengecek riwayat tersebut atau bersikap cuek (karena riwayatnya tidak mendukung pendapat Anda). Sudah anda cari tahu, belum? Kok malah nanya balik ke saya.. Saya sih sudah mengecek sebelum mempostingkannya di komentar di atas, tapi tidak akan saya bahas di sini. Karena kalau memang asas anda ilmiah, anda mestinya cari tahu derajat atsar tersebut. Jika memang shahih, maka mestinya anda akan rujuk dari kalimat “Dalam riwayat tersebut Umar r.a tidak mengingkari cara wanita tersebut menasehatinya dengan terang-terangan”. Karena meskipun anda berdalih “dalam riwayat tersebut”, tapi kita semua tahu anda sedang menunjukkan bukti bahwa ‘Umar tidak mengingkari orang yang menasehati beliau dengan terang2an. Apa faidahnya anda menulis kalimat tersebut kalau bukan untuk memberi kesimpulan bahwa ‘Umar mengizinkan mengkritik terang2an? Tentu saja secara zhahir tidak ada pertentangan antara dua atsar tersebut, karena pelaku yang mengoreksi pemimpin di muka umum itu (si wanita Quraisy) bukan orang yang sama yang menyuruh untuk menasehati diam2 (yaitu ‘Umar). Saya tidak mempertentangkan kedua atsar tersebut, tapi seandainya atsar perintah ‘Umar itu shahih, bukankah yang anda maukan dari kesimpulan “Umar r.a tidak mengingkari cara wanita tersebut menasehatinya dengan terang-terangan” menjadi perlu diperbaiki? Sehingga, -seandainya shahih-, kisah tersebut hanya memuat faidah fiqih pembatasan mahar, dan tidak memberi faidah bahwa ‘Umar tidak mengingkari riwayat tersebut, karena ada qarinah bahwa ‘Umar sendiri menyuruh untuk menasehati secara diam2.

    Seandainya setelah anda teliti ternyata riwayat perintah ‘Umar ini ternyata temukan dha’if, maka -bi idznillah-, anda bisa menilai sendiri apakah atsar wanita mengoreksi ‘Umar di atas tetap bernilai hasan, atau malah lebih layak untuk didha’ifkan. Wallahu a’lam.

    Suka

  10. Hehe.,. kok komentar anda semakin didominasi dengan hal2 yang tidak menyentuh esensi diskusi kita tentang derajat hadits ya.. Gak tau deh, saya yang salah nulis, atau anda yang gak paham apa yang saya tulis.
    ==
    Komentar: kalau tidak mau melebar diskusinya, ya janganlah anda menulis hal-hal yang melebar, shg saya rasa perlu ditanggapi krn ada ide yang saya anggap tdk tepat disitu, seperti kata anda ajaib dlm permasalahan taqlid…namun bolehlah, kalau ada yang tidak saya tanggapi kedepannya, belum tentu saya sepakat… dan yang membaca jangan mennyandarkan pandangan tsb kepada saya hanya krn saya mendiamkan.
    ==

    Bahkan kata2 saya “DENGAN PENELITIAN SANAD”, pun anda pahami secara berlebihan. Memangnya itu artinya apa kalau bukan “mengemukakan alasan para ‘ulama yang menghasankan dan mendho’ifkan, terus memilih salah satunya” ?? Pada hadits ‘Iyadh, anda mengemukakan alasan memilihnya dengan penjabaran sanad, sedangkan pada atsar ‘Umar anda cuma memilih pendapat saja tanpa penjabaran, kecuali setelah saya tanyakan di komentar. Dan yang saya tanyakan adalah, bagaimana bisa dengan alasan yang sama, anda mendha’ifkan hadits ‘Iyadh sekaligus menghasankan atsar ‘Umar. Tolong dibaca baik2, jangan mengomentari hal2 yang gak esensial spt ini ah. Kalau memang bahasa saya salah menurut anda, carilah udzur untuk memahaminya sehingga tidak perlu ada balas berbalas komen yang didominasi klarifikasi salah paham perkataan. Kalau untuk memperpanjang komentar masih ada cara lain yang lebih elegan. Dan semoga bukan itu tujuannya. So please, fokus ke pembahasan hadits saja, only.

    ==
    Komentar:
    Justru disini letak masalahnya, makanya saya tulis dengan huruf kapital “DENGAN PENELITIAN SANAD” untuk membedakan mujtahid dg muqallid (termasuk muttabi’), ini tentunya kalau anda memahami definisi taklid dan apa itu hujjah mulzimah sebagaimana yg pernah saya kasih link nya (tentang taklid). Kalau seseorang mengambil suatu hukum syara’ dengan meneliti dalil dan semata-mata hanya krn dalil itu dia mengambil hukum, ya ini namanya mujtahid (dia mengambil hukum langsung dari dalil), yang kebetulan hasil ijtihadnya sama dg mujtahid lain.

    Namun kalau dia mengetahui dalil mujtahid A dan dalil mujtahid B, namun dia tidak menjadikan hujjah itu mulzimah sehingga ia terikat hanya dg (pemahaman dan validitas) hujjah tsb, namun lebih percaya kepada pemahaman mujtahid A dalam memahami hujjah, ini statusnya muqallid (muttabi’) terhadap mujtahid A. Sebagaimana dalam kasus hadits misalnya Syaikh A menolak hadits X, sedang Syaikh B menerima hadits X, lalu si C yang mengetahui alasan syaikh A dan syaikh B dari sisi sanad, dia memilih memakai hadits X, bukan krn memandang alasannya dari sisi sanad, namun krn memandang bahwa syaikh B lebih kredibel dari syaikh A, ini juga namanya muqallid (muttabi’). Dan sudah saya jelaskan bagaimana posisi saya dalam hal ini. Semoga anda mengerti apa yang saya maksud. Allahu A’lam.
    ==

    Saya tidak mengoreksi beda “cerita” dan “kisah”. Saya hanya mengoreksi penerjemahan “ashl”, lebih tepat diterjemahkan sbg pokok/inti, daripada asal.

    Kok tiba2 nyambungnya ke “beda tema”? Maksudnya, karena beda tema -menurut anda- kemudian jadi ziyadah tersebut tidak diterima? Jika iya, kaidah penerimaan ziyadah atas dasar seperti itu dalam ilmu hadits? Bolehlah berbagi ilmu di sini, barangkali saya belum tahu? Atau saya yang gak paham maksud anda “beda tema” di sini apa? Kaidah menentukan ini beda tema, yang itu temanya sama, seperti apa? Ada pembaca yang mau membantu saya untuk memahaminya? Saya khawatir nanti komentar balasannya malah membahas salah paham saya atas maksud Anda “beda tema” ini.

    ==
    Komentar
    Anda benar, tidak ada kaitan dengan beda tema. Komentar saya tentang “beda tema” akan saya hapus
    ==

    Saya balikkan kepada anda pertanyaan, “kalau tidak disebutkan tambahan tersebut, lantas dari mana bisa difahami kalau Umar membiarkan dirinya dikoreksi terang-terangan hanya dengan membaca: “aku keluar dan aku ingin melarang kalian membanyakkan mahar, hingga disampaikan kepadaku ayat ini”? Sama saja toh, dengan hadits ‘Iyadh di atas?

    Anda berkata “beberapa komentar saya sebelumnya juga belum dijawab”. yang mana ya? Anda juga banyak tidak menanggapi komentar saya namun saya tidak berharap dan meminta anda membalasnya, karena komentar saya yang tidak anda tanggapi itu memang itu bukan pada bahasan utama kita, jadi, tidak perlulah dilanjut. Sebenarnya saya ingin mengomentari tentang masalah “salafy”, “ikhtilaf”, dsb, namun tidak saya lakukan, karena seperti yang saya bilang, kita konsisten untuk fokus pada pembahasan ALASAN anda mendha’ifkan dan menshahihkan hadits. *saya pakai huruf kapital supaya tidak disalahkan lagi karena menggunakan istilah PENELITIAN SANAD*. saya mau tahu apakah anda konsisten dengan alasan yang sama untuk tarjih pendapat ulama dalam tashhih hadits.. dan justru komentar saya yang menjadi inti pertanyaan saya dan diskusi ini, belum anda komentari sama sekali dgn alasan “beberapa komentar saya sebelumnya juga belum dijawab”?

    Suka

  11. Oh iya ada yang terlewat. Anda mengatakan:
    Justru syaikh al adawi menyatakan : ولكن مجالدا كان أحيانا يدخل مسروقاوأحيانا يسقطه
    artinya apa? syaikh menyatakan kadang mujalid memasukkan masruq dan kadang tidak, yakni beliau katakan ini sah sampai masruq, cuma kadang disebut kadang tidak, makanya kemudian beliau menegaskan
    وعلى كل فالأثر كما قلنا حسن بمجموع طرقه
    dari semua hal tersebut, sebagaimana kami katakan, atsar tersebut adalah hasan dengan semua jalannya.

    Saya katakan: ini ANEH. Apa anda lupa kalau anda sempat baca dan menerjemahkan kalimat “JIKA shah sampai masruq”. Apa faidah beliau mengatakan JIKA shah sampai masruq? Itu tidak lain karena tidak bisa dipastikan bahwa itu shah sampai masruq. Kalau sudah jelas, buat apa disebutkan “JIKA”? Coba saya beri ilustrasi supaya anda lebih mudah memahaminya.

    Pak Guru mengabsen kelas, satu orang tidak hadir, yaitu Budi. Seorang murid yang dikenal pelupa, sempat mengabarkan bahwa Budi sakit, namun sempat juga mengatakan kalau Budi tidak sakit tapi bolos karena malas. Karena si murid ini pelupa, Pak Guru jadi tidak yakin.. Maka Pak Guru kemudian berkata, JIKA Budi tidak masuk karena sakit, maka ia wajib memberikan surat keterangan dokter. Pak Guru berkata dengan kata pengandaian “JIKA” karena beliau TIDAK BISA MEMASTIKAN apakah Budi ini sakit atau ada urusan lain. Dan kalimat di atas bisa dilanjutkan: “dan JIKA ternyata Budi tidak sakit, maka ia akan saya skors karena bolos.
    Jadi, ketika syarat setelah kata “JIKA” tidak terpenuhi, ia akan memberi konsekuensi yang berbeda.

    Saya merasa sayang harus sampai mengajari anda dengan perumpamaan seperti ini.

    ===
    Komentar: ya memang patut disayangkan, kalau anda membaca hanya sampai kalimat ini:
    … وكذلك الشاهد الثالث إذا صح إلى مسروق – يرتقي إلى الحسن (“begitu pula syahid ke tiga, jika sah itu sampai masruq – menaikkan (atsar ini) ke (derajat) hasan”)
    Kalau hanya sampai situ anda membacanya dan lalu menyimpulkan, memang kesimpulannya jadi seperti yang anda contohkan, (walaupun masih ada syahid yang lain).
    Namun kalau anda perhatikan lanjutannya:
    ثم إنني وجدت الحافظ ابن كثير قد ذكر إسناد الشاهد الثالث dst (kemudian sesungguhnya aku mendapati al hafidz ibnu katsir sungguh telah menyebutkan isnad syahid ke 3…) lalu beliau berkesimpulan ولكن مجالدا كان أحيانا يدخل مسروقاوأحيانا يسقطه

    Kalau diimplementasikan ke contoh anda, harusnya berbunyi:
    JIKA Budi tidak masuk karena sakit, maka ia wajib memberikan surat keterangan dokter….. namun ternyata, setelah diperiksa tasnya, pak guru mendapati ada surat keterangan dokter dalam tasnya…

    ==

    Seandainya pun kita jazm-kan ini benar2 sampai ke Masruq, maka riwayat ini beserta syahid2nya tidak lebih kuat dari hadits ‘Iyadh beserta syawahid2nya. Jadi, Jika anda beralasan menghasankan riwayat ini dengan alasan Syaikh Al ‘Adawy, maka hadits ‘Iyadh lebih layak lagi untuk dihasankan.

    Suka

  12. Walah… Bisa2nya anda memastikan Syaikh Al ‘Adawi mentarjih bahwa riwayat itu bersambung sampai ke Masruq. Darimana kesimpulan ini? Lha wong Syaikh cuma bilang “Kadang Mujalid memasukkan Masruq, kadang membuangnya”. Coba bagian mana dari penjelasan Syaikh yang menjelaskan penelitian beliau mengenai yang lebih kuat antara riwayat Al Baihaqi dengan Abu Ya’la.

    ==
    Komentar:
    Bagaimana anda memahami kalau ada kalimat : “saya ke masjid kadang pakai baju warna putih, kadang pakai baju warna hijau”. Trus lihat yang jelas al adawy menghasankan atsar tsb
    ==

    Seandainya pun Mujalid ini tidak dha’if, sehingga semua rijalnya tsiqah, tetap saja ada idhtirab pada sanad yang membuat hadits ini dha’if. Ringkasnya, untuk setidaknya membuat sanad hadits ini shahih dan muttashil, serta bebas idhtirab, maka harus ada minimal 2 syarat:
    1. Tsiqahnya Mujalid bin Sa’id.
    2. Setelah syarat pertama terpenuhi, kemudian diperlukan penelitian yang merajihkan riwayat yang muttashil ke Masruq.

    Terpenuhikah dua syarat di atas? Tidak. dan itu baru sanad shahih, belum jaminan haditsnya shahih karena bisa jadi syadz dengan hadits lain yang perawinya lebih tsiqah. Lagipula dengan penjelasan Syaikh Al ‘Adawi di atas, mestinya anda sadar bahwa perkataan Al Hafizh Abu Ya’la bahwa sanad hadits tersebut jayyid qawiy adalah tidak tepat. Sayangnya anda masih bersikeras dalam pendapat anda. Makanya pertanyaan dari saya tentang riwayat yang bisa menyambungkan, tidak bisa anda jawab. Sebagai kesimpulannya, terbuktilah bahwa asas anda dalam bertaqlid adalah asas manfaat, bukan asas ilmiah.

    btw, ada komentar saya yang belum diapprove sebelum komentar jam 12:01. kalau gak ditanggapi juga gpp, tapi setidaknya ditampilkan, karena saya juga gak pake kata2 kasar dan sejenisnya yang mungkin bisa membuat sebuah komen tak layak tayang.

    ==
    Komentar:
    Lihat komentar saya sebelumnya, sudah ana approve dan komentari. ‘afwan telat, banyak mengoreksi kerjaan mahasiswa dg secara rahasia, namun hasilnya saya upload terang-terangan🙂

    Suka

  13. mengenai posisi anda yang katanya taqlid, sudah saya ungkapkan kebingungan saya di komentar2 sebelumnya. bahwa dalam hadits iyadh, anda jelas2 memandang alasannya dari sisi sanad, namun dalam atsar umar, anda taqlid dengan ulama yang lebih anda percayai dalam hal kredibilitas. jadi, taqlid anda itu berdasar pada alasan sanad, atau pada kredibilitas ulama?

    kalau dengan alasan sanad, berarti anda muttabi’, karena anda bisa memilih secara ilmiah. namun jika karena lebih yakin pada ijtihad ulama tertentu karena merasa ilmu hadits ulama fulan lebih kuat dari ulama fulan, maka anda muqallid. dan kalau anda muqallid karena alasan demikian, maka mestinya anda taqlid pada satu pendapat imam saja untuk tashhih dan tadh’if hadits. sebab kalau alasannya karena ulama fulan lebih kredibel, ya sudah gak perlu lagi melihat ijtihad ulama allan, toh dia kalah kredibel, kalau kemudian dalam satu hadits mengambil ijtihad ulama fulan, di hadits lain mengambil ijtihad ulama allan, bagaimana dia tahu kalau dalam hadits ini yang benar ulama allan dan hadits itu yang benar ulama fulan?
    ==
    komentar:
    Tidak sesimple itu, sebagian kecil sudah saya jelaskan di bagian komentar postingan https://mtaufiknt.wordpress.com/2012/12/13/dialog-haramkah-bermadzhab-haramkah-taqlid-dlm-masalah-hukum-syara/

    Pembahasan lanjutnya tidak saya ungkap disini, nanti tambah panjang, bisa pembaca pelajari dalam bab at tanaqqul bayna al mujtahidin dlm kitab-kitab ushul fiqh, insya Allah kapan-kapan ditulis.
    ===

    jadi kalau boleh kami mengambil kesimpulan, artinya anda lebih percaya dengan tashih syaikh muqbil dan abu ya’la, serta syaikh al ‘adawy kan, daripada tashih syaikh al albani dan yang lainnya? baiklah, tidak ada masalah sama sekali selama anda konsisten.

    oh iya, karena di atas anda sempat menyebutkan alasan pilihan anda bahwa syaikh fulan memakainya sebagai hujjah, maka perlu kami nasehatkan kepada anda sebuah kaidah:

    مُجَرَّدُ عَمَلِ العَالِمِ أو فُتْيَاهُ بِوِفْقِ حَدِيْثٍ لا يُعْتَبَرُ تَصْحِيْحًا لَهُ ، وَلا تَوْثِيْقًا لِرَاوِيْهِ

    ==
    komentar:
    Sepakat. Adanya Ulama yg memakai suatu hadits sbg hujjah tidak otomatis shahihnya perawinya menurut ulama tsb, namun hanya menunjukkan ia menerima/menggunakan hadits/atsar tsb sbg hujjah.
    ==

    so, mungkin lain kali anda tidak perlu memakai alasan semacam itu lagi.

    sebenarnya saya menduga bahwa sejak awal anda tidak pernah memandang sisi sanad dari atsar umar, apalagi sampai membaca penjelasan syaikh al ‘adawi, kecuali setelah berjalannya diskusi. benarkah dugaan saya ini? dan ternyata, sampai sekarang anda masih tidak rujuk setelah anda membaca sendiri penjelasan syaikh al ‘adawi mengenai tashhif (kekeliruan) abu ya’la. namun itu bukan hal yang terlalu mengherankan bagi saya karena saya telah beberapa kali berdiskusi dengan syabab semisal anda dan karakteristiknya ternyata tidak jauh beda. apalagi komentar2 anda semakin tidak bermutu yang menunjukkan kapasitas anda, mosok bisa2nya ada analogi pakai baju beda warna dalam menelaah sanad hadits. benar2 membuat tidak berselera menanggapinya.

    ==
    Komentar
    Ya, mungkin yang bermutu itu komentar tentang pak guru dan muridnya yang tidak hadir, kenapa bermutu? tidak lain krn yang menulis anda, kalau org lain membuat ilustrasi yang sejenis maka hukumnya “tidak bermutu”🙂
    Aneh, gak selera kok ditanggapi?
    Sejak awal anda juga ngajak nggak usah bawa-bawa organisasi, dan klo komentar yang penting2 saja, namun kok anda langgar sendiri?
    ==

    ya sudah kalau begitu, pembahasan hadits tidak usah dilanjutkan,. insya Allah sudah jelas bagi saya dan para pembaca di sini untuk bisa menilai. terima kasih sudah mau menanggapi dan mengapprove komentar2 saya. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.

    ==
    Komentar
    Aamiin, waiyyaaka, al ‘afwu minka. Klo ada waktu singgah ke rumah saya saja langsung, insya Allah bisa diskusi sambil minum kopi (selama persediaan masih ada)🙂

    Al-Imam Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi rahimahullah (salah seorang murid/sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata : ” Aku tidak mendapati orang yang lebih berakal (lebih cerdas) daripada Asy Syafi’i. Suatu hari pernah aku berdiskusi (berdebat) dengan beliau, lalu kami berpisah. Setelah itu beliau menemuiku dan menggandeng tanganku seraya berkata : ” Hai Abu Musa! Tidakkah sepatutnya kita tetap bersaudara, meskipun kita tidak sependapat dalam satu masalah (ijtihad) pun?(Siyaru A’lam An-Nubala’ : 10/16-17)
    ==

    Suka

  14. oh iya, anda benar, saya khilaf sebut2 syabab. ‘afwan. namun setidaknya memang begitulah yang saya rasakan. tidak tahu kenapa bisa setipe kalau masalah susah rujuk dari kekeliruan.

    ==
    Komentar:
    Nah ya kan, ditulis lagi plus ditambahi, walau pakai ‘afwan.
    Susah rujuk dari kekeliruan? sepertinya definisi keliru itu klo tidak sesuai dg anda ya? Apakah keliru bila ada orang melihat Ibnu Katsir, Abu Ya’la, Ibnu Taymiyyah, Al Adawy memakai suatu riwayat lalu orang tersebut ikut memakai juga riwayat tersebut, dan dia tidak percaya dg orang yang menolak riwayat tersebut krn meragukan kredibilitas orang yang menolaknya? sekali lagi ini bukan sekedar berkaitan dg bisa meyakinkan salah satu pihak atau tidak. Lihatlah Imam Syafi’i berdialog dg Imam Ahmad tentang orang yang meninggalkan shalat, Imam Ahmad walaupun tidak bisa menjawab hujjah dan pertanyaan Imam Syafi’i, dia tetap memegang pendapatnya bahwa org yang meninggalkan shalat itu kafir, apakah kemudian Imam Ahmad dikatakan susah rujuk dari kebenaran? sekali lagi ini masalah penerimaan dan tentram tidaknya hati kita dengan hujjah orang saja.

    Ketika ada orang dijelaskan misalnya dlm shahih muslim ada riwayat yang ditolak, terus orang tersebut walaupun tidak mampu membantah alasan-alasan orang yang menolak, namun dia tetap menerima riwayat Imam Muslim tsb krn tdk tentram dg alasan orang yang menolak, apakah orang tersebut dianggap susah rujuk dari kekeliruan?

    Dan ketika saya, yang muqallid (muttabi’) ini tdk menerima hujjah anda krn sejak awal sudah saya tanyakan siapa ‘ulama yang hujjahnya seperti anda? itu juga tdk anda jawab, Al Albani saja menolaknya tdk seperti alasan anda tersebut … terus wajibkah saya percaya begitu saja dg anda padahal saya juga tidak kenal siapa anda?

    Disisi lain pantaskan ucapan “susah rujuk dari kekeliruan” anda lontarkan untuk masalah yang merupakan khilafiyyah, tambahan lagi anda tujukan bukan hanya ke saya, namun sekali lagi anda bawa-bawa org lain?
    ==

    saya tidak akan memaksa anda memahami penjelasan yang telah saya buat semudah mungkin sampai terpaksa harus membuat perumpamaan untuk orang sekaliber anda. bahkan anda tidak sadar dimana letak ketidakmutuan komentar anda tentang baju putih-hijau dibandingkan dengan tarjih riwayat. anda pikir mentarjih dua riwayat yang idhtirab itu sesimpel mengira2 antara dua baju mana yang dipakai? kalau memang gak paham, tidak usah dipaksakan.

    ==
    Komentar
    Betul. kalau memang gak paham, tidak usah dipaksakan.
    Saya membuat perumpamaan (sbgmn anda buat perumpamaan) :
    “saya ke masjid kadang pakai baju warna putih, kadang pakai baju warna hijau”
    Itu sekedar ingin tahu saja bagaimana anda memahami kalimat al adawy:
    ولكن مجالدا كان أحيانا يدخل مسروقاوأحيانا يسقطه
    gak ada kaitannya dg tarjih riwayat klo anda hubungkan langsung ya wajar gak ketemu…., lihat juga hadits iyadl yang kadang memasukkan hisyam dan iyadhl, kadang hanya hisyam saja, kadang hanya iyadl saja, …. namun kalau memang gak paham, tidak usah dipaksakan, ‘afwan.
    ==

    kalau masih belum paham, semoga dengan anda baca berulang2 ada celah untuk bisa memahami. jika masih saja belum paham, anda bisa tanyakan ke santri yang sedang belajar musthalah hadits dasar, semoga bisa membantu.

    dan jika masih belum paham lagi, berhentilah. karena saya pikir, terus menerus memaksa anda supaya paham, itu bisa termasuk kezhaliman.

    ==
    Komentar
    sama-sama, itu juga berlaku untuk anda, bukan hanya musthalah hadits dasar, namun bahasa indonesia juga perlu kita pelajari dan fahami.
    Kalau anda mau baca dan fahami komentar saya (12 Desember 2012 pada 11:26 pm) bagian kedua saja, insya Allah sejak awal sudah selesai. gak perlu sampai komentar bolak-balik.
    ==

    barakallahu fiik.

    ==
    aamiin, wa fiika baarakallahu
    ==

    Suka

  15. komentar 12 Desember pada 11:26 pm:
    “yang benar saya hanya mengemukakan alasan para ‘ulama yang menghasankan dan mendho’ifkan, terus memilih salah satunya”

    –> jadi, milihnya itu karena melihat ulamanya, atau melihat alasannya? dari zhahir kalimat di atas, tentang hadits ‘iyadh, anda memilih karena alasannya. kenapa dalam atsar umar anda tidak melihat alasannya, tapi hanya melihat ulamanya? kalau saya bingung dengan kontradiksi anda, apakah itu tanda bahwa saya yang harus belajar bahasa indonesia? kalau anda mau melihat penjelasan al ‘adawy, bukankah menjadi jelas bahwa sanad abu ya’la itu tidak tepat dikatakan jayyid qawiy? ini yang saya maksud kenapa anda tidak mau rujuk walaupun sudah membaca penjelasan al ‘adawy. jadi bukan saya yang menjelaskan kekeliruan pada sanad abu ya’la, jadi, anda gak perlu percaya sama saya, tapi percayalah pada bacaan anda sendiri.

    apa yang saya jelaskan di atas juga adalah yang sudah anda baca dari penjelasan syaikh al adawi mengenai riwayat2 dalam atsar umar. hanya saja, syaikh mengemukakakan “JIKA shah sampai masruq” itu bukan tanpa arti dan tujuan. kalau memang riwayat itu benar sah sampai masruq, memang betul bahwa akan bisa naik ke hasan. oleh karena itu syaikh menambahkan kalimat tersebut, sebagai bentuk pengandaian dgn kata “idza”, bukan pemastian. kadang seorang muhaddits dalam menilai hadits terkesan “menggantung” dengan tidak memastikan keshahihan suatu hadits, misalnya dengan menggunakan istilah “sanadnya shahih”. karena belum tentu ia menilai riwayat2 lain yang bisa saja terjadi syadz, idhtirab sanad atau idhtirab sanad, dan hal2 lain yang bisa merusak keshahihan hadits tersebut. jika seorang muhaddits/hafizh hanya menilai sanad dari hadits yang sedang ia bahas, ini mengisyaratkan bahwa ia tidak memastikan keshahihan hadits tersebut karena belum melihat pada riwayat2 lain yang bisa saja menyelisihinya atau menguatkannya. ia serahkan penelitiannya pada orang lain untuk hal tersebut. sanad dha’if suatu hadits belum tentu haditsnya dha’if, bisa hasan kalau ada riwayat penguat. sanad shahih juga belum tentu hadits shahih, karena bisa jadi menyelisihi riwayat lain yang sama atau lebih kuat baik dari sisi sanad maupun matan, sehingga bisa jadi dha’if. belum lagi ternyata juga hadits tersebut mushahhaf, atau salah tulis rawi sehingga terkesan shahih, padahal dha’if atau munqathi’. seperti yang terjadi pada sanad abu ya’la.

    ==
    Komentar
    Kalau yang anda baca dari al adawy, kok kesimpulan akhir anda kontradiksi dg kesimpulan al adawy? berikut ini yg al adawy tulis, lalu anda bantah (bantahan anda itu yg saya tanyakan merujuk ke mana?):
    وبالجملة فالأثر بهذه الشواهد يرتقي إلى الحسن، وخاصة الشاهد الثاني ، وإن لم يكن مطولا فهو يشهد لأصل القصة ، وكذلك الشاهد الثالث إذا صح إلى مسروق –
    (dan secara global atsar tersebut dengan syawahid ini mengangkat derajatnya ke (derajat) hasan, dan khususnya syahid ke dua, walaupun tidak panjang menjadi syahid bagi asal kisah tersebut, begitu juga syahid ketiga jika shah sampai masruq)

    yang beliau ‘gantung’ itu bukan kehasanan atsar, namun syahid ke tiga, terus syahid ketiga inipun beliau jelaskan dibagian berikutnya sebagaimana yang sudah ana jelaskan sebelumnya, sampai2 harus ngasih contoh baju…

    Kalau anda bilang rujukan yang anda pakai adl al adawy (seperti yang saya baca juga, walau itu bukan satu-satunya), dan kesimpulan akhir anda berbeda dg kesimpulan akhir al adawy, maka posisi anda sebenarnya bukan muttabi’, namun mujtahid yang bisa berkesimpulan langsung dari sanad hadits sehingga level anda lebih tinggi dari saya yang cuma muqallid/muttabi’ ini, jadinya ya wajar kalau saya sering “tidak nyambung”.

    Pembaca bisa lihat sendiri apakah memang al adawy kesimpulannya seperti yg saya katakan atau yang sdr. Abdullah katakan
    https://mtaufiknt.files.wordpress.com/2012/12/atsar-umar-syaikh-musthafa-al-adawy.pdf
    atau kitab selengkapnya disini: http://www.waqfeya.com/book.php?bid=838
    ==

    tuhkan, dibilang tidak usah memaksakan, tetap memaksakan, jadi makin ngawur. bisa2nya menganalogikan antara periwayatan syuraih dari hisyam dan iyadh, dengan periwayatan masruq dan asy sya’bi…. ckckck, mas, hisyam dan iyadh itu jelas2 kedua pelaku dalam hadits, rawi yang sama2 berbicara di hadits tersebut,. mau ngambil dari hisyam atau iyadh, ya sama saja -__-. kalau masruq, maka beliau menjumpai umar, namun kalau asy sya’bi, maka beliau tidak menjumpai umar. yang satu muttashil, yang satu munqathi’. tidak bisa tidak harus ditarjih untuk tahu hadits ini bisa jadi hasan atau tetap dha’if. inikah yang mau anda analogikan dengan kadang pakai baju putih kadang hijau? keterlaluan anda ini. coba sesekali belajar tentang idhthirab, bedanya dengan mazid fi muttashil sanad, dan lain2, biar gak tambah ngawur.

    oh iya, dialog imam ahmad vs imam syafi’i itu munkar, dan tidak bersanad. sebaiknya anda cek2 dulu sebelum menisbatkan sesuatu pada kedua imam tersebut, dan pada para ulama pada umumnya.

    kalau anda malah berhujjah dengan hal2 semacam itu, ya gakpapa. saya maklum karena anda seorang ulama.. tapi kalau yang saya ketahui, para ulama itu tidak segan rujuk jika memang terbukti benar2 keliru. kalau tidak sepakat pun, mereka menolak DENGAN ILMU, karena mereka para ulama. Jangankan menolak hujjah ulama lain, Imam Malik bahkan menolak hadits yang ia riwayatkan sendiri dengan sanad emas dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, karena beralasan menyelisihi amalan penduduk madinah. Penolakan beliau ini dimaklumi karena beliau seorang ‘alim, menolak pun atas dasar ilmu. Mungkin anda juga harus saya maklumi karena juga atas dasar ‘ilmu’. saya juga dapat ilmu baru dari anda, “kalau tidak mau menerima hujjah orang lain mau sekuat apapun, cukup katakan: saya gak kenal anda, saya saya gak kenal anda, saya tidak wajib percaya dengan penjelasan anda”. selesai. dan batallah istilah yang masyhur: “perhatikanlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang berkata.” terima kasih ilmunya.

    baiklah, karena ‘afwan saya tadi ditambah2i, jadi keknya salah lagi ya? ‘afwan lagi kalau begitu. buat saya sih, tidak perlu malu untuk meminta maaf kalau memang salah, justru malulah kalau salah berkali2 tapi tidak ada kata maaf. bukan begitu? : )

    ==
    ma’af. (memang sebelumnya tidak ada saya tulis kata ma’af, cuma ada saya tulis ‘afwan dan al ‘afwu), ma’af kan diri saya yang “ngawur” ini.
    ==

    Suka

  16. Apa yang anda katakan bahwa yang digantung hanyalah riwayat Masruq, itu benar, dan Alhamdulillah anda mengerti. Tapi tahukah anda, dengan menggantungnya riwayat ini, menggantunglah ke-hasan-an hadits. Kenapa bisa demikian, tidak lain karena Masruq adalah satu2nya dari semua rawi di semua syawahid yang menjadi penyambung rantai yg inqitha’ di bawah ‘Umar. Jika riwayat Masruq ini tidak sah, atau tidak bisa dipastikan eksistensi Masruq di situ, maka dari semua syawahid yang disebutkan, tidak akan bisa naik ke hasan, karena tidak ada yang bisa menyambung keterputusan sanad sampai ke ‘Umar.

    Jadi, saya hanya ingin mengajak anda kritis terhadap penjelasan Syaikh Al ‘Adawy, yaitu:
    1. Bagaimana bisa, anda sudah tahu bahwa riwayat Abu Ya’la itu berasal dari Mujalid yang dha’if, tapi anda masih mempertahankan bahwa sanad yang dibawakan Abu Ya’la itu jayyid qawiy. Ada penjelasan?

    2. Bagaimana bisa riwayat ini naik ke hasan sedangkan kita tidak tahu mana yang benar antara riwayat Al Baihaqi dengan Abu Ya’la? Apa tinggal pilih saja seperti memilih baju? Jawabannya: jelas tidak. Apakah otomatis yang dirajihkan adalah yang muttashil? Juga tidak. Anda bisa menengok contoh ulama mentarjih satu riwayat dari beberapa riwayat yang idhtirab, di sini http://islamqa.info/ar/ref/162967 terutama pada bagian اختلاف الرواة على أبي إسحاق. Anda tidak temukan yang semisal ini pada penjelasan Syaikh Al ‘Adawy.

    Dan tidak perlulah anda sampai mengatakan “Pembaca bisa lihat sendiri apakah memang al adawy kesimpulannya seperti yg saya katakan atau yang sdr. Abdullah katakan” seolah saya salah baca atau berdusta atas nama syaikh. Sejak awal saya tidak mengingkari bahwa beliau menghasankan, saya hanya katakan “Walaupun pada akhirnya kita tahu bahwa Syaikh menilai ini hasan, namun kata2 beliau ini meninggalkan pesan untuk kita kritisi”.

    Tapi tidak akan mengherankan jika ternyata pada akhirnya yang selalu menjadi alasan anda hanyalah ” yang penting ada yang menghasankan atsar ini “, atau ” yang penting kesimpulan akhir Al ‘Adawi adalah hasan “, dan tidak mau kritis atas penjelasan beliau sebagaimana kritisnya anda terhadap pendha’ifan Al Albani atas atsar ‘Umar. Kadang anda taqlid, kadang ittiba’, dan kadang kritis layaknya mujtahid. Tergantung kebutuhan dan kepentingan? Semoga tidak.

    Suka

  17. Sebenarnya, sejak awal sudah saya tulis bahwa baik hadits Iyadl r.a maupun atsar tentang ‘umar r.a itu diperselisihkan, kalaupun pembaca mampu ber’ijtihad’ lalu meneliti dan menilai lalu hasilnya seperti penilaian syaikh al albani bahwa hadits iyadl itu shahih, dan atsar ‘umar itu dho’if, maka nggak berpengaruh dg isi postingan ini, krn postingan ini bukan fokus pada kajian sanad.

    Adapun sanad saya muat sekedar informasi bagi yang ingin meneliti lebih lanjut. Dan tidak hanya sekali saya katakan, bahwa pembaca tidak akan mendapatkannya (lebih) dari saya tentang kajian sanad tsb, krn saya hanya menulis penilaian dari yg pro dan kontra, lalu memilihnya disamping melihat siapa ‘ulama penilainya juga melihat ada tidaknya “pertentangan pemahaman” dengan riwayat lainnya, sebagaimana point-point dalam sub bagian “Pemahaman Hadits: Cara Menasehati Penguasa”. Allahu A’lam

    Suka

  18. Iya mas, tahu kok. Saya juga tidak dalam rangka menanggapi isi postingan. Cuma berangkat dari rasa penasaran saja setelah membaca tulisan anda berikut footnote-nya, Ingin tahu seperti apa asas dan thariqah anda dalam mentarjih pendapat ulama dalam menilai hadits. Adapun kesimpulannya kembali pada siapa saja yang membaca tulisan ini berikut komentar2nya, biarlah yang objektif menilai dengan keobjektifannya, dan yang subjektif dengan kesubjektifannya.

    Suka

  19. Ma’af, kenapa kok tidak ditanggapi lagi komentarnya sdr. abdullah? saya nunggu kelanjutannya

    Suka

    • ‘afwan sepertinya memang harus ada yang menyudahi (lagian waktu liburan saya sudah habis, jadi mulai sibuk lagi), kalau di tanggapi terus ya tdk akan selesai-selesai dan cukup melelahkan, tiga kali sudah coba saya jelaskan tentang syahid ke 3, sampai menggunakan ilustrasi baju, lalu riwayat urwah… hanya untuk menjelaskan maksud dan konsekuensi perkataan: “ولكن مجالدا كان أحيانا يدخل مسروقا وأحيانا يسقطه”, sekali lagi hanya ilustrasi tentang maksud perkataan, bukan berkaitan langsung dg sanad, namun sepertinya memang yg difahami sdr abdullah berbeda.

      Sebetulnya saya senang dengan kekritisan sdr abdullah, namun yang agak kurang sepakat dengan beberapa penempatan/pemakaian ungkapan/kutipan. Seperti ungkapan “perhatikanlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang berkata.” Ini memang ungkapan yang benar namun tidak bisa ditempatkan dalam sembarang hal, misalnya dalam hal pembahasan hadits kan juga dilihat siapa orang (perawi) yang meriwayatkan). Muhammad ibnu Sirin Rahimahullah berkata, “Ilmu itu agama, maka perhatikan dari mana kalian mengambil agama kalian”.

      Saya tdk membahas lagi itu dg harapan, semoga kekritisan sdr. Abdullah itu tidak hanya kepada “org lain”, namun juga kepada “manhaj salaf” yang beliau klaim maksum. Kalau mau dengan pola beliau membahas postingan ini, tentunya beliau akan lebih kritis lagi kepada salah satu kitab ‘aqidah mereka, seperti Syarhu Lum’ah Al-I’tiqod Al-Hadi ila Sabil Ar-Rasyad lil Imam Ibn Qudamah Al-Maqdisi dengan syarah dari Ibn Utsaimin, disitu banyak bertebaran hadits dha’if, bahkan dha’if jiddan, dan ini bukan masalah hukum syara’ namun masalah yang lebih mendasar yakni ‘aqidah.

      Masalah atsar ‘Umar itu, sudah beberapa kali saya sampaikan, mau tdk dipakai juga terserah, dan hal itu bukan hal mendasar dalam postingan ini, ana memberikan literatur yang menerima dan membantah pendho’ifan oleh al Albani. Allahu A’lam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s