Category Archives: Syari’ah

Halal Haram Poligami

Menikah hukum asalnya adalah sunnah, namun jika sudah punya istri, menambah istri lagi (poligami) hukum asalnya adalah mubah/boleh, bukan sunnah. Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’ : 3)

Meskipun pada dasanya mubah, poligami hukumnya bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram, tergantung keadaan lelaki yang akan melakukan poligami.

Read the rest of this entry

Iklan

Bersyukur dalam Menghadapi Musibah

Pada dasarnya musibah adalah ujian dalam hidup. Sebagaimana layaknya suatu ujian, dia akan menyaring dan membedakan manusia, mana yang lulus mana yang tidak, mana yang nilainya tinggi, dan mana yang nilainya rendah.

Musibah telah memetakan nilai manusia pada empat kelompok: pertama, orang yang selalu berkeluh kesah dan mengadu kepada sesama manusia, kedua, orang yang bersabar, tidak mengeluh dan mengadu kecuali kepada Allah, ketiga, orang yang ridho dengan musibah yang menimpanya, dan keempat adalah kelompok orang yang bersyukur dalam suasana musibah tersebut.

Read the rest of this entry

Sudahkah Mengenal Calon yang Akan Dipilih?

Mengenal seseorang yang akan dipilih adalah sangat penting, baik akan dipilih sebagai pekerja, rekan bisnis, gurunya anak-anak, akan dijadikan sebagai suami/istri, terlebih lagi mau dijadikan wakil dalam pemerintahan, atau bahkan sebagai pemimpin.

Khalifah Umar bin al Khattab sangat teliti dalam hal ini, bahkan sekedar urusan menjadi saksi dalam suatu kesaksian beliau tidak gegabah, beliau meminta orang yang bersaksi tersebut untuk mendatangkan seseorang yang mengenal betul diri orang yang akan bersaksi tersebut.

Imam al Baihaqi meriwayatkan bahwa seorang lelaki pernah hendak memberi kesaksian kepada Umar bin al-Khattab. Maka Umar berkata padanya: 

لَسْتُ أَعْرِفُكَ، وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ، ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ

“Aku tidak kenal kamu, dan tidak masalah aku tidak mengenalmu, (namun) datangkanlah seseorang yang mengenal kamu.”

Read the rest of this entry

Hukum Ngecat/Nyemir Rambut dan Jenggot

Hukum menyemir/ngecat rambut dan jenggot bergantung dengan siapa pelakunya dan jenis semirnya.

Jika pelakunya lelaki, dan semirnya hitam[1], menurut Malikiyyah, Hanafiyyah dan Hanabilah hukumnya makruh, kecuali dalam peperangan untuk menakuti musuh, yakni agar mereka melihat bahwa tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda. Namun kalangan Malikiyyah mengharamkan menyemir rambut dengan warna hitam jika tujuannya adalah untuk mengelabui orang lain, yakni agar mereka mengira bahwa pelakunya masih muda.

Adapun Syafi’iyyah secara umum berpendapat bahwa menyemir rambut dan jenggot dengan warna hitam hukumnya haram.

Read the rest of this entry

Jangan ‘Mengumbar’ Masalah Ikhtilaf

Mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) dikalangan ‘ulama pada dasarnya adalah baik, bahkan Qobishoh bin’Uqbah (w. 215 H), pernah menyatakan:

لَا يُفْلِحُ مَنْ لَا يَعْرِفُ اخْتِلَافَ النَّاسِ

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan (pendapat dikalangan) manusia (ulama’).” [Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Jâmi’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/820. Maktabah Syamilah].

Hanya saja, bagi orang yang berilmu, hendaknya sangat berhati-hati menukilkan berbagai perbedaan pendapat (ikhtilaf) tersebut, pertama perlu dilihat tingkat ikhtilafnya, apakah masyhur atau aneh (syadz), kedua perlu dilihat ke siapa dia menyampaikannya, orang yang gemar melakukan dosa atau ke penuntut ilmu yang menjaga kehormatan diri, dan ketiga perlu dilihat apakah hal tersebut akan dipolitisir dan dijadikan alasan untuk meremehkan agama atau tidak.

Tidaklah halal memberikan keterangan atau menukilkan fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasâhul fiddin (meremehkan dan bermudah-mudah dalam agama).

Read the rest of this entry

Khulu’ (Talak Tebus)

Disamping istri bisa menggugat cerai suaminya (menuntut fasakh), dan hakim bisa memutuskan ikatan pernikahan jika terpenuhi syarat-syarat nya walaupun suami bersikeras tidak mau menceraikan, seorang istri juga bisa melepaskan ikatan pernikahan dari suaminya dengan melakukan khulu’ (talak tebus).

Khulu’ sebenarnya adalah salah satu jenis perceraian, namun memiliki hukum-hukum khusus yang membedakannya dengan perceraian biasa.

Khulu’ adalah berpisahnya suami istri, permintaan berpisah dari sang istri, dengan adanya kompensasi/pengganti dari pihak istri. Hukumnya adalah boleh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. AL-Baqarah: 229).

Maknanya “khiftum” (khawatir) adalah “dzann” (dugaan), makna “allaa yuqiima huduudallaah” (keduanya tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah) maknanya adalah adanya ketidak sukaan salah satu pasangan dengan pasangannya, atau istri menduga bakalan tidak sanggup mentaatinya, atau suami menduga tidak bakal sanggup menunaikan hak-hak istrinya, maka tidak mengapa suami mengambil tebusan dari sang istri.

Read the rest of this entry

Diam yang Menghinakan

Tidak selalu diam itu emas. Adakalanya justru diam adalah kehinaan, seperti saat seharusnya dia melakukan pembelaan kepada agamanya namun justru dia memilih diam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا يَحْقِرْ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ

“Janganlah salah seorang diantara kalian menghinakan dirinya sendiri.”

Mereka (para sahabat) bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَحْقِرُ أَحَدُنَا نَفْسَهُ؟

Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dari kami menghinakan dirinya sendiri?”

Beliau menjawab:

يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالٌ ثُمَّ لَا يَقُولُ فِيهِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِي كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ خَشْيَةُ النَّاسِ فَيَقُولُ فَإِيَّايَ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَى

“Dia melihat satu perkara (yang seharusnya) dia mengucapkan satu perkataan karena Allah atas perkara tersebut, lalu dia tidak mengatakan (pembelaan) kepadanya, maka Allah ‘azza wajalla akan berkata kepadanya kelak di hari Kiamat; ‘Apa yang mencegahmu untuk mengatakan begini dan begini!’ lalu ia menjawab, ‘Saya takut terhadap manusia’. Maka Allah pun berfirman: ‘Aku lebih berhak untuk kamu takuti’.” (HR. Ibnu Majah. Al Bushiri dalam Zawa’id (3/242) berkata: hadist ini sanadnya shahih).

Jika diam saja adalah kehinaan, tentu memutar-mutar lidah yang bisa dikonotasikan masyarakat sebagai pembelaan kepada kezaliman adalah lebih hina lagi, dan jauh lebih hina lagi jika berkata secara nyata untuk menyokong kezaliman terhadap agama.

Read the rest of this entry

Diterimakah Amalan Kita?

Harap dan cemas merupakan salah satu diantara sifat orang orang yang beriman. Ummul Mukminin Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ke 60 dalam surat al Mukminun:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan (melakukan) apa yang telah mereka berikan (lakukan), sedang hati mereka senatiasa takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”

Aisyah bertanya:

هو الذي يسرق ويزني ويشرب الخمر وهو يخاف الله عز وجل ؟

“apakah dia (dalam ayat ini) adalah orang yang mencuri, berzina dan minum khamr (memabukkan), sedang ia takut (diazab) Allah Ta’ala?”

beliau menjawab:

لا يا بنت الصديق، ولكنه الذي يصلي ويصوم ويتصدق وهو يخاف الله عز وجل

“Tidak wahai anak perempuan Abu Bakr Ash shiddiq, akan tetapi ia adalah orang yang sholat, berpuasa dan bershadaqah sedang ia takut kepada Allah (tidak diterima amalannya)”. HR. at Tirmidzi

Read the rest of this entry

Sederhana

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar yang kasar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Melihat hal itu, berkatalah Ibnu Mas’ud:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَمَرْتَنَا أَنْ نَبْسُطَ لَكَ وَنَعْمَلَ[1]

“Wahai Rasulullah, kalau engkau izinkan, kami akan bentangkan untukmu tempat tidur yang empuk, dan baju yang bagus”

Beliau menjawab:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا[2]، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidak ada urusan kecintaanku dengan dunia, Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara bernaung di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Read the rest of this entry

Shalat Sambil Membaca Al Qur’an di HP

Menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah hukumnya boleh dalam shalat membaca al Qur’an lewat mushaf[1] walaupun kadang-kadang dia membalik halaman, karena membalik halaman adalah gerakan sedikit yang tidak membatalkan shalat. (lihat Al Mausû’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, 33/57).[2] Dan walaupun HP bukan mushaf, namun kedudukannya sama saja jika yang dibuka adalah aplikasi Al Quran, lain ceritanya jika yang dibuka adalah youtube.

Read the rest of this entry

Shalat dengan Mata Terpejam

Diantara sunnah shalat, menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, adalah pandangan mata mengarah ke tempat sujud. Sebagaimana hadits

كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا صلى طأطأ رأسه، ورمى ببصره نحو الأرض

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila shalat, maka beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya kearah tanah.” (HR. al-Hakim)

Adapun memejamkan mata ketika shalat, ada riwayat bahwa Nabi melarangnya:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يُغْمِضُ عَيْنَيْهِ

“Bila salah seorang diantara kalian berdiri menjalankan shalat, maka janganlah memejamkan kedua matanya” (HR. at-Thabrany dalam Mu’jam al-Kabîr 9/34, juga al Haitsami dalam Majma’uz Zawâid,2/83, dan beliau mengatakan: di dalam nya ada Laits bin Abi Salim, dan dia adalah mudallis).

Hanya saja, larangan dalam riwayat tersebut bukan menunjukkan haram, juga bukan menjadikan shalat tidak sah. Mayoritas ulama ahli fiqh (Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan sebagian Syafi’iiyyah) menilai bahwa hukum memejamkan mata saat shalat adalah makruh.

Read the rest of this entry

Gembira dengan Datangnya Ramadhan

Takwa bukan sekedar menyesuaikan perbuatan anggota tubuh dengan ketentuan Allah semata, namun takwa juga ditandai dengan adanya rasa, rasa gembira terhadap apa yang di ridhai-Nya, dan rasa sedih jika jauh dari Allah Ta’ala.

Diantara hal yang patut bergembira ketika menjumpainya adalah datangnya Ramadhan. Ketika rasa gembira tidak ada dalam diri seorang muslim, dia merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan, bisa jadi ini adalah pertanda buruk akan lemahnya imannya serta hilangnya kepekaan spiritual dari dalam dirinya.

Read the rest of this entry

Ketika Setan Memfitnah Setan

Imam al Qurthubi (w. 671 H), dalam tafsirnya menceritakan bagaimana kegigihan Setan dalam mengoda keluarga Nabi Ibrahim supaya tidak menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Isma’il.

Setan menyerupai seorang lelaki, lalu mendatangi Hajar, ibunya Isma’il, dan berkata:

أَتَدْرِينَ أَيْنَ يَذْهَبُ إِبْرَاهِيمُ بِابْنِكِ

Apakah kau tahu kemana Ibrahim pergi bersama putramu?’

Jawab Hajar: La (‘Tidak!’),

Setan berkata:

إِنَّهُ يَذْهَبُ بِهِ لِيَذْبَحَهُ

‘Dia pergi hendak menyembelih putramu’.

Hajar menjawab:

كَلَّا هُوَ أَرْأَفُ بِهِ مِنْ ذَلِكَ

tidak mungkin, dia sangat sayang dengan putranya’.

Read the rest of this entry

Belajar Hingga Akhir Hayat

Abdullah bin Mubarak (wafat tahun 181 H), seorang ahli fikih, ahli hadits yang wara’ dan terpercaya pernah ditanya:

إلى متى تطلب العلم؟

Sampai kapan engkau menuntut ilmu?

Beliau menjawab:

حتى الممات، إن شاء الله

Sampai mati, insya Allah” (‘Uluwwul Himmah, hal 202).

Disamping waktunya ‘dihabiskan’ untuk menuntut ilmu, beliau tidak ketinggalan juga berjihad, berniaga, menafkahkan hartanya dan senantiasa pergi haji.

Imam Abu Ja’far At Thabari (w. 310 H), ahli tafsir dan sejarah, saat dalam kondisi payah sesaat sebelum meninggal, beliau meminta tinta dan kertas. Ditanyakan pada beliau:

Read the rest of this entry

Hukum Syari’at & Implikasi Logis

Akal memang mempunyai peran penting dalam keimanan seseorang, bahkan taklif hukum syara’ kepada diri seseorang ditentukan berdasarkan akalnya. Oleh karena itu orang yang belum baligh dan orang gila tidak dibebani kewajiban syari’at karena akalnya tidak sempurna.

Karena tidak semua hal mampu dijangkau akal, maka tidak boleh akal dijadikan pemutus perkara terhadap hal yang tidak dijangkaunya itu. Diantara hal yang tidak dijangkau akal adalah ketentuan halal-haramnya sesuatu, mengapa daging babi itu haram sementara sapi halal, ini bukanlah ranah akal membicarakannya. Peran akal hanyalah memahami dalil (nash), memahami fakta yang dikenai nash (manath) dan menerapkan dalil atas fakta tersebut.

Read the rest of this entry