Category Archives: Syari’ah

Kedudukan Wali Dan Saksi Dalam Pernikahan

Bagaimana status ‘nikah bathin’ yang dilakukan tanpa wali dan saksi, hanya Allah saja sebagai saksi mereka?

***

Wali Nikah

Madzhab Syafi’i dan Maliki memandang bahwa adanya wali adalah rukun dalam akad nikah, sehingga tidak sah nikah tanpa adanya wali[1].

Alasannya antara lain adalah hadits dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rsulullah saw:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta beliau menshahihkannya)

Dalam madzhab Hanafi, wali bukanlah rukun nikah, namun menjadi syarat jawaz dan syarat nafâdz, sehingga akad nikah tanpa wali dianggap tetap sah, namun tidak mustahab (tidak disenangi).

Read the rest of this entry

Iklan

Utbah bin Rabi’ah, Ksatria Salah Jalan

Jangan kita berfikir bahwa semua penentang dakwah Rasulullah saw masa lalunya dipenuhi dengan kelicikan, kedunguan dan kebejatan. Bahkan di barisan para penentang itu, ada orang-orang cerdik, baik, bermoral, bijak dan punya track record yang cemerlang. Diantaranya ada Utbah bin Rabi’ah (567 – 624 M), yang disifati oleh Imam Adz-Dzahabi sebagai Syaikhul Jâhiliyyah[1].

Namun, tak peduli bagaimanapun kejeniusan seseorang, bagaimanapun kebijaksanaannya, sifat ksatrianya, gelar, pangkat dan kedudukannya, jika dia memposisikan dirinya menghadang jalan dakwah, maka kehinaanlah yang akan menjadi akhir ceritanya, jika tidak segera bertaubat.

Read the rest of this entry

Zakat Mata Uang

Emas dan perak, jika telah mencapai nishab, yakni 20 dinar (85 gram emas), atau 200 dirham (595 gram perak[1]), dan telah berlalu masa setahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%, tidak ada perbedaan pendapat ‘ulama dalam hal ini, yang terjadi perbedaan hanya dalam hal emas dan perak sebagai perhiasan yang benar-benar dipakai apakah wajib dizakati atau tidak, mayoritas ‘ulama menyatakan tidak wajib, sementara kalangan Hanafiyyah menyatakan tetap wajib dizakati. Begitu juga mata uang kertas, jika dijamin (distandarisasi) dengan emas dan perak, maka tetap wajib dizakati sesuai dengan nishab emas dan perak.

Adapun mata uang kertas yang tidak dijamin dengan emas dan perak, para ‘ulama berbeda pendapat. Namun mengingat bahwa berkaitan dengan kewajiban zakat emas dan perak, Rasulullah saw dalam beberapa haditsnya menggunakan lafadz ‘riqqah’, waraq’, ‘awaq’, ‘dirham’, dan, ‘dinar’, yang semuanya merujuk pada emas dan perak sebagai satuan mata uang, maka hal tersebut menunjukkan diwajibkan zakat atas uang dan alat pembayaran, baik bahannya emas dan perak atau bukan. Inilah Keputusan Majma’ Al Fiqh Al Islami pada daurahnya yang ke-3, no: 9, menyatakan bahwa uang kertas merupakan uang yang mempunyai sifat penuh sebagai alat tukar, sehingga berlaku baginya hukum-hukum syar’i sebagaimana yang berlaku pada emas dan perak, inilah pandangan mayoritas ulama masa kini[2] termasuk juga yang dinyatakan dalam al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i (2/34).

Read the rest of this entry

Ketika Sibuk Menuntut Ilmu Jadi Alasan Meninggalkan Dakwah

Sebagian orang ada yang meninggalkan aktivitas dakwahnya ketika merasa kurang ‘ilmu, ditambah dengan celaan orang, “lulusan umum kok dakwah”, “ilmu kunci seperti nahwu, shorof, adab, bayan, badi’, ma’ani saja masih belepotan kok ngajari orang”, ungkapan seperti ini kata al Habib Abdullah bin ‘Alawi al Haddad adalah talbîs (pengkaburan) Syaitan, kesannya baik agar seseorang berjibaku dalam menuntut ilmu, namun sebenarnya adalah keliru, beliau menyatakan:

وعليك) بتعليم الجاهلين وإرشاد الضَّالين وتذكير الغافلين)

“Hendaklah engkau mendidik orang-orang yang bodoh, menunjukkan jalan lurus kepada mereka yang tersesat dan mengingatkan orang-orang yang terlena (dengan segala tipuan dunia).

واحذر أن تدع ذلك قائلاً إنما يعلّم ويذكر من يعمل بعلمه وأنا لست كذلك، أو إني لست بأهل للإرشاد لأنه من أخلاق الأكابر، وهذا كله تلبيس من الشيطان

Hati-hatilah engkau dari meninggalkan yang demikian (dakwah), dengan berkata, “yang (berhak) mengajar dan mengingatkan hanyalah ulama yang mengamalkan ilmunya, sedangkan aku tidaklah demikian”, atau “aku bukanlah orang yang pantas untuk menunjukkan jalan pada orang lain, karena yang pantas untuk itu adalah para tokoh agama.” (ucapan-ucapan) itu semua adalah pengkaburan (talbîs)nya setan.

Read the rest of this entry

‘Abbad bin Bisyr: Tidak Terlena dg Kenikmatan Ibadah

Saat perjalanan pulang dari Perang Dzat ar-Riqa’, Rasulullah SAW dan kaum Muslim kemudian memutuskan menginap di suatu tempat. Rasul menunjuk beberapa orang untuk berjaga bergantian, diantara mereka adalah ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyr r.a.
‘Abbad melihat bahwa ‘Ammar sedang kelelahan, kemudian beliau meminta agar ‘Ammar tidur lebih dahulu. Setelah memeriksa tempat di sekitarnya, dan terlihat aman, ‘Abbad bangkit untuk menunaikan shalat tahajud. Ketika sedang berdiri menuntaskan surah di rakaat pertama, tubuhnya terkena anak panah. Ia mencabut anak panah itu dan melanjutkan bacaannya.

Read the rest of this entry

Serius dalam Beragama

Sebagian orang merasa bahwa beragama itu cukuplah dengan sholat, zakat, sedekah, puasa, memperbanyak dzikir, berlaku baik pada keluarga, tidak perlu ‘neko-neko’ (macam-macam), ‘mengurusi’ persoalan politik, menjelaskan kedzaliman yang terjadi agar masyarakat tidak terjatuh kedalamnya, apalagi ngaji masalah negara, ekonomi nasional, dll.

Ungkapan tersebut bisa mencerminkan ketidaktahuannya, atau bisa juga mencerminkan kesembronoan dalam beragama, merasa enteng saja memikul amanah agama ini, merasa bahwa dosa-dosa terkait politik, ekonomi, sosial, dll adalah enteng. Padahal shahabat Ibnu Mas’ud r.a berkata:

إِنَّ الـمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut). (Diriwayatkan al Bukhory dan Muslim).

Read the rest of this entry

Kekeringan Spiritual

Saya sudah sibuk melakukan ketaatan, juga mengisi berbagai majlis ta’lim, mengapa saya merasa ‘kering’ spiritualitas saya?

***

Berulang pertanyaan senada dengan itu diajukan kepada kami, seolah-olah kami lebih baik dari mereka – moga Allah menjadikan sangkaan mereka benar, kalau tidak benar, moga Allah ubah diri kami hingga menjadi lebih baik dari yang mereka sangka. Kami memberanikan menulis ini dalam rangka menasihati diri kami sendiri, juga semoga memberi manfaat bagi yang lain.

Read the rest of this entry

Shalawat Taysir

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw, dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad Saw.

صَلَاةً تَفْتَحُ لِي بِهَا بَابَ الرِّضَا وَالتَّيْسِيْرِ

Rahmat yang dengannya Engkau bukakan pintu keridhaan dan kemudahan untuk hamba.

Read the rest of this entry

Mencegah LGBT Sejak Dini

Menurut Jawapos (23/5/17), diperkirakan 3% penduduk Indonesia (sekitar 7,86 juta jiwa) terkena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Penggrebekan pesta seks kaum Gay (homoseksual) di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang berhasil menciduk 141 pria, menyentak kesadaran kita, bahwa perilaku homoseks bisa ‘menular’ bahkan ke pria-pria yang tampak jantan, maskulin, atletis lengkap dengan perut ‘six pack’ yang berotot.

Walaupun dalam pandangan Islam, homoseksual, maupun prilaku menyerupai lain jenis- yang bukan bawaan sejak lahir- adalah termasuk tindakan kriminal (jarîmah), dimana pelakunya terkena had liwath, namun di negeri Pancasila ini, mereka dilindungi (dibiarkan berkembang), bisa kita buktikan dengan pernyataan Presiden: “polisi harus melindungi kaum LGBT” (bbc.com, 19/10/16), juga terakhir bisa kita lihat apa yang terjadi di MK. Ironis, Hal yang dikhawatirkan Rasulullah saw, justru dilindungi dan dibiarkan berkembang di negeri mayoritas muslim ini. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Read the rest of this entry

Kewajiban Isteri Kepada Suaminya

Diceritakan oleh Hushain bin Mihshan r.a bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ ؟

“Apakah kamu mempunyai suami?”

ia menjawab, : نَعَمْ “Ya.”

Beliau bertanya lagi:

فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟

“Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab,

مَا آلُوهُ إِلاَّ مَا أَعْجَزُ عَنْهُ

“Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad)

Read the rest of this entry

Khilafah: Wajib Tunggal Atau Boleh Lebih Dari Satu?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi, S.Si, MSI

Khilafah telah menjadi pembicaraan publik di Indonesia akhir-akhir ini, baik pada level pemerintah maupun level masyarakat dengan berbagai segmennya. Seorang tokoh ormas Islam pun kemudian melontarkan ide “Khilafah Nasionalis”, sebagai lawan dari “Khilafah Internasionalis” yang ditolaknya tanpa alasan syar’i. Ide “Khilafah Nasionalis” nampaknya dimaksudkan untuk mengkrompomikan dua ide yang bertentangan (kontradiktif), yaitu Khilafah sebagai ajaran Islam di satu sisi, dengan ide negara-bangsa pada sisi lain. Read the rest of this entry

Pandangan Al-Muhaddits Dr. Mahmud Sa’id Mamduh Tentang Al-Syaikh Taqiyuddin Al-Nabhani dan Hizbut Tahrir

Sebagian orang, karena merasa ber’ilmu, lalu memandang rendah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Hizbut Tahrir, padahal kalau mau berkaca sedikit saja, dan melihat bahwa Syaikh Taqiyuddin an Nabhani adl juga lulusan al Azhar setingkat Doktor dalam masalah Qadha (peradilan), tentu tidak akan gegabah melecehkan beliau dan apa yg beliau dakwahkan…. namun ya begitulah, kadang mata bisa mengingkari terangnya matahari, bukan krn mataharinya yg tidak bersinar atau tertutup awan, namun karena matanya yang sakit.

Read the rest of this entry

Melawan Dalih Ngawur Terkait Panji Rasul

Oleh Utsman Zahid
(Pengasuh Pondok Pesantren NDM Surakarta dan Pengasuh di Majlis Kajian Islam Kaffah Surakarta)

Berburuk Sangka Terhadap Pengemban Panji Rasul SAW.

Mengikuti dan menyimak status di salah satu akun Facebook (FB) salah seorang teman, dengan nama akun, sebut saja “ZM”, meninggalkan rasa keheranan teramat mendalam. Bagaimana dia mencurigai penggunaan bendera berwarna putih (liwa’) dan berwarna hitam (rayah) adalah sebuah modus belaka. Secara tersirat dia mengakui kebodohannya tentang ilmu hadits, sehingga dia tidak berani masuk ke ranah riwayat tentang liwa’ dan royah tersebut sebagai bendera Rasulullah Muhammad saw. Namun, tanpa bukti, sebagai bentuk penolakannya terhadap liwa’ dan royah tersebut, dia mengklaim bahwa itu hanya sebagai kedok HT(I) dan yang sejenis untuk menyembunyikan agenda jahat di baliknya. Masya Allah… Idza sa’a fi’il mar’i sa’at zhununu (ketika buruk perbuatan seorang, maka buruk pula persangkaannya). Begitu kata seorang penyair. Read the rest of this entry

Sisi Baku Dalam "Ketidakbakuan" Sistem Khilafah

Tidak menarik mengikuti diskusi tentang “kebakuan sistem khilafah” antara Prof. Mahfud MD (MMD) dengan KH. Shiddiq al Jawi (di sini), baru membahas istilah “sistem baku”, diskusi sudah berhenti.

Sejak awal, saya sudah menduga arah dari pernyataan Pak MMD dalam cuitannya: “Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”. Saya menduga alur berfikir pak MMD adalah sbb:

  1. ada ikhtilaf dalam (cabang-cabang) sistem khilafah,
  2. karena ada ikhtilaf maka tidak baku,
  3. dan karena tidak baku maka bebas dan boleh beda-beda, mau republik, kerajaan, monarki, maupun kekaisaran, semua bebas.
  4. karena itu tidak wajib menegakkan sistem khilafah dg satu bentuk tertentu.

Dan dugaan saya ini sepertinya benar, terbukti dengan tanggapan beliau di bagian bawah (di sini).

Tulisan ini hanya ingin mengoreksi alur berfikir tersebut, karena alur berpikir tersebut sangat berbahaya jika diberlakukan ke bidang-bidang yang lain, semisal:

Read the rest of this entry

Cacat Epistemologis dalam Istilah “Sistem Baku Khilafah” Prof. Mahfud MD

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI

(Pimpinan Pesantren Hamfara Jogjakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI Propinsi DIY; Mahasiswa Doktoral Prodi Dirasah Islamiyah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sudah tersebar luas tantangan Prof. Mahfud MD via akun twitter beliau agar para penyeru khilafah menunjukkan sistem baku Khilafah. Prof. Mahfud MD menulis di akun twitter-nya,”Kalau mereka bisa menunjukkan sistem baku khilafah dari Qur`an dan Hadits maka saya akan langsung mempejuangkan khilafah bersama mereka. Ayo.” Dalam tweet beliau yang lain,”Sy bilang, ayo siapa yg bs tunjukkan sistem khilafah yg baku saya akan jd pengikutnya. Tapi tdk pernah ada, tuh.”

Read the rest of this entry