Category Archives: Syari’ah

Usai Shalat Fardhu, Wirid atau Shalat Rawatib Dulu?

ketika selesai shlt fardhu, lgsg shlt rowatib ba’diyah tnpa dzikir terlebih dahulu krn khwtr hadats apkh boleh? Krn ada yg menyampaikan u dzikir dan doa dulu

***

Pertama, Ketika sedang kebelet BAK dan BAB, maka yang lebih afdhol adalah BAK dan BAB dahulu. Jangankan shalat sunnah rawatib atau wirid, jika BAK dan BAB itu berbenturan dengan shalat fardhu berjamaah sekalipun, afdholnya tetap BAK dan BAB dulu.

Rasulullah bersabda:

لا صلاة بحضرة طعام، ولا هو يُدافعُه الأخبثان

“Tidak sempurna shalat saat dihadirkannya makanan, tidak pula saat dia kebelet BAK dan BAB” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Taklid dalam Masalah Akidah

Definisi Taklid

Taklid menurut bahasa adalah

اتباع الغير دون تأمل

mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi.”

Sedangkan taklid menurut syara’, dalam al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah  juz 1 didefinisikan sebagai :

العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة

melakukan suatu perbuatan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah yang mengharuskan perbuatan tersebut” [1]

Taklid bisa terjadi pada orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, bisa juga terjadi pada seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia.

Taklid dalam Masalah Akidah

Berbeda dengan masalah hukum syara’ yang boleh bertaklid, taklid dalam masalah akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang taklid dalam masalah akidah, misalnya firman Allah Swt:

Read the rest of this entry

Kewajiban Menafkahi Kerabat

Menafkahi para kerabat (orang tua, saudara dan lainnya) menjadi wajib jika terpenuhi syarat- syaratnya, diantaranya:

Pertama, jika kerabat tersebut dalam keadaan faqir/miskin sehingga tidak mampu menafkahi diri mereka sendiri, dan tidak ada orang lain yang menafkahi mereka. Tetapi jika mereka mampu, atau ada orang lain yang menafkahi mereka dengan cukup, maka gugurlah kewajiban ini.

Read the rest of this entry

Cukupkah dengan Salat Saja?

Dari Abu Hurairah, Nabi saw  bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ.

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Apabila salatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila salatnya rusak, dia akan gagal  dan merugi….” (HR. Abu Daud)

Sebagian orang menjadikan hadits ini untuk menghindari berbagai kewajiban lain, terlebih kewajiban yang terkait dengan ‘politik’ seperti mengoreksi kebijakan penguasa, dia merasa bahwa yang penting salatnya full dan baik, dengan begitu dia merasa yakin kelak akan  selamat di akhirat.

Read the rest of this entry

Belajar Tidak Ada Ruginya

Ketika sudah belajar beberapa lama namun tidak juga kunjung mengerti dan mencapai hasil seperti apa yang diinginkan, sebagian orang merasa bahwa upayanya tidaklah berguna, sia-sia belajar kata mereka, lalu mereka berhenti.

Padahal, masalah mau faham atau tidak, disamping itu ada usaha manusia, namun Allah juga yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami pelajaran. Lebih dari itu, sekalipun tidak ada satu katapun yang difahami/dihafal dalam majlis ‘ilmu, hadir dan belajar tetaplah mendapatkan kemuliaan.

Imam Abu Laits (w. 373 H) dalam Tanbîh al-Ghâfilîn h.439 menyatakan:

Read the rest of this entry

Rizki, Nikmat atau Bencana?

Rizki dan karunia Allah baik itu berupa harta, anak, istri, pangkat,  jabatan maupun gelar dan popularitas, jika itu diperoleh dengan jalan maksiyat, atau digunakan dalam kemaksiyatan, atau semua itu membuat dia berlarut-larut dalam kemaksiyatan, maka semua itu pada hakikatnya bukanlah nikmat, namun  bencana dan istidraj dari Allah.

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan (kenikmatan) dunia kepada seorang hamba karena kemaksiatannya, dalam hal-hal yang disenangi hamba tersebut, ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj” (H.R Ahmad)

Read the rest of this entry

Seorang Mukmin Tidaklah Berdusta

Kebohongan adalah salah satu sifat tercela dalam Islam, bahkan sebelum Islam, para penyembah berhala di Makkah sudah menganggap kebohongan adalah ‘aib yang sangat memalukan.

Abu Sufyan, salah satu tokoh Quraisy, saat masih menjadi penyembah berhala pernah ditanya Kaisar Heraqlius, lewat penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi (yakni Nabi Muhammad saw). Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.” Abu Sufyan berkata:

فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ

“Demi Allah, jika bukan karena rasa malu aku akan mereka tuduh telah berdusta, niscaya aku akan berdusta tentangnya.” (Shahih al Bukhari, 1/8. Maktabah Syamilah).

Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya:

أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَاناً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» .

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلاً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ»

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّاباً؟ فَقَالَ: «لاَ»

“Apakah seorang mukmin bisa bersifat pengecut? Beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanya lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa bersifat pelit?’, beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanyakan lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?’, beliau menjawab: tidak” (HR. Imam Malik dalam al Muwaththa’ dan al Baihaqi dalam Syu’abul ‘Iman).

Read the rest of this entry

Sedang Shalat Datang Gempa, Haruskah Dibatalkan Saja?

Dalam kondisi normal, tanpa adanya udzur, jika sedang dilaksanakan, shalat tidak boleh dibatalkan begitu saja. Oleh karena itu, saat lupa bacaan maupun lupa jumlah rakaat, solusinya bukan membatalkan sholat lalu mengulanginya.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kalian membatalkan amalan-amalan kalian.” (QS. Muhammad: 33).

Namun ketika ada udzur atau bahaya yang mengancam dirinya ataupun orang lain, dan untuk menghindari bahaya tersebut dia harus membatalkan shalatnya, dan tidak ada orang lain yang mau dan mampu menghilangkan bahaya tersebut, maka dia harus membatalkan shalatnya dan mengulangi shalatnya lagi setelah bahaya berlalu jika masih dalam waktunya, atau mengqodho’nya jika telah lewat waktunya, namun jika dia tidak melakukannya, justru melanjutkan shalatnya, maka dia berdosa walaupun shalatnya tetap sah.

Read the rest of this entry

Kritik Atas Islam Nusantara

Walaupun berbeda-beda dalam merumuskan istilah ‘Islam Nusantara’, setidaknya istilah ini memuat gagasan pokok bahwa Islam Nusantara bersifat tawasut (moderat)[i], inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, bisa menerima demokrasi dengan baik, sebagaimana kata Azyumardi Azra, juga “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran, didakwahkan dengan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya”, sebagaimana kata Said Agil Siradj, dia menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”[ii]

Read the rest of this entry

Shalat Dua Gerhana

Istilah gerhana dalam hadis-hadis disebut kusuf atau khusuf dan kedua istilah ini dalam hadis dapat dipertukarkan penggunaannya. Hanya saja dalam literatur fikih, biasanya kata kusuf digunakan untuk menyebut gerhana matahari dan khusuf untuk menyebut gerhana bulan. Sering juga digunakan bentuk ganda “kusufain” untuk menyebut gerhana matahari dan gerhana bulan sekaligus.

Read the rest of this entry

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Cinta

Tak selamanya suatu rumah tangga selalu dihiasi ‘bunga-bunga cinta’, tidak sedikit cinta yang awalnya membara, seiring berjalannya waktu akan semakin redup, lalu mati, bahkan menyisakan rasa tidak suka, baik disebabkan fisik yang tidak lagi sedap dipandang mata, atau perangai yang tidak lagi mempesona. Apakah ketika itu terjadi, perceraian menjadi jalan keluarnya? Ada baiknya kita renungi bagaimana sikap orang shaleh ketika menghadapi hal tersebut.

Berqurban Atas Nama Ortu yang Sudah Wafat

Berqurban atas nama orang lain yang masih hidup tanpa seizinnya adalah tidak sah, begitu juga berqurban atas nama orang lain, termasuk orang tua, yang sudah meninggal — dantidak pernah berwasiat agar berqurban –juga tidak sah menurut qoul ashohh dalam madzhab Syafi’i.

Imam an Nawawi menyatakan:

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا

“Tidak ada (tidak sah) berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) tanpa izinnya, dan tidak (tidak sah) juga untuk mayit jika ia tidak pernah berwasiat untuk berqurban atas namanya” (Minhajut Thalibin, 1/321. Maktabah Syamilah). Read the rest of this entry

Solusi Islam atas Kenaikan Harga

Meningkatnya harga telur bulan ini cukup tinggi, efeknya juga cukup terasa, misalnya keu bolu[1] yang sebelumnya harganya Rp. 32 ribu naik 25% menjadi Rp. 40 ribu per biji.

Tidak heran jika kemudian Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ‘menganalisis’ dan memberitahu kepada masyarakat bahwa naiknya harga tersebut dipicu oleh sejumlah momentum seperti hari raya, masa libur yang panjang hingga perhelatan pesta sepak sepak bola Piala Dunia[2], namun demikian pihak kepolisian tetap menyelidiki penyebab kenaikan harga telur tersebut.[3]

Read the rest of this entry

Minta Cerai Karena Dimadu (Poligami)

Poligami hukum asalnya boleh, walau bisa berubah jadi sunnah, makruh ataupun haram, namun demikian seorang wanita juga boleh menolak dipoligami, asalkan penolakannya atas dasar perasaan saja, bukan karena menolak hukum/syariat yang membolehkan seorang suami melakukan poligami, atau menganggap bahwa hukum dibolehkannya berpoligami merupakan bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Walaupun istri menolak, jika suami tetap saja berpoligami—karena poligami memang tidak disyaratkan harus ada izin istri—maka istri tidaklah boleh begitu saja minta cerai dengan alasan dipoligami. Rasulullah bersabda:

أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ، فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ

wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Read the rest of this entry