Category Archives: Ikhtilaf

Taklid dalam Masalah Akidah

Definisi Taklid

Taklid menurut bahasa adalah

اتباع الغير دون تأمل

mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi.”

Sedangkan taklid menurut syara’, dalam al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah  juz 1 didefinisikan sebagai :

العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة

melakukan suatu perbuatan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah yang mengharuskan perbuatan tersebut” [1]

Taklid bisa terjadi pada orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, bisa juga terjadi pada seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia.

Taklid dalam Masalah Akidah

Berbeda dengan masalah hukum syara’ yang boleh bertaklid, taklid dalam masalah akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang taklid dalam masalah akidah, misalnya firman Allah Swt:

Read the rest of this entry

Berqurban Atas Nama Ortu yang Sudah Wafat

Berqurban atas nama orang lain yang masih hidup tanpa seizinnya adalah tidak sah, begitu juga berqurban atas nama orang lain, termasuk orang tua, yang sudah meninggal — dantidak pernah berwasiat agar berqurban –juga tidak sah menurut qoul ashohh dalam madzhab Syafi’i.

Imam an Nawawi menyatakan:

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا

“Tidak ada (tidak sah) berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) tanpa izinnya, dan tidak (tidak sah) juga untuk mayit jika ia tidak pernah berwasiat untuk berqurban atas namanya” (Minhajut Thalibin, 1/321. Maktabah Syamilah). Read the rest of this entry

Hukum Ngecat/Nyemir Rambut dan Jenggot

Hukum menyemir/ngecat rambut dan jenggot bergantung dengan siapa pelakunya dan jenis semirnya.

Jika pelakunya lelaki, dan semirnya hitam[1], menurut Malikiyyah, Hanafiyyah dan Hanabilah hukumnya makruh, kecuali dalam peperangan untuk menakuti musuh, yakni agar mereka melihat bahwa tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda. Namun kalangan Malikiyyah mengharamkan menyemir rambut dengan warna hitam jika tujuannya adalah untuk mengelabui orang lain, yakni agar mereka mengira bahwa pelakunya masih muda.

Adapun Syafi’iyyah secara umum berpendapat bahwa menyemir rambut dan jenggot dengan warna hitam hukumnya haram.

Read the rest of this entry

Jangan ‘Mengumbar’ Masalah Ikhtilaf

Mengetahui ikhtilaf (perbedaan pendapat) dikalangan ‘ulama pada dasarnya adalah baik, bahkan Qobishoh bin’Uqbah (w. 215 H), pernah menyatakan:

لَا يُفْلِحُ مَنْ لَا يَعْرِفُ اخْتِلَافَ النَّاسِ

“Tidak beruntung orang yang tidak mengetahui perbedaan (pendapat dikalangan) manusia (ulama’).” [Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), Jâmi’u Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/820. Maktabah Syamilah].

Hanya saja, bagi orang yang berilmu, hendaknya sangat berhati-hati menukilkan berbagai perbedaan pendapat (ikhtilaf) tersebut, pertama perlu dilihat tingkat ikhtilafnya, apakah masyhur atau aneh (syadz), kedua perlu dilihat ke siapa dia menyampaikannya, orang yang gemar melakukan dosa atau ke penuntut ilmu yang menjaga kehormatan diri, dan ketiga perlu dilihat apakah hal tersebut akan dipolitisir dan dijadikan alasan untuk meremehkan agama atau tidak.

Tidaklah halal memberikan keterangan atau menukilkan fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasâhul fiddin (meremehkan dan bermudah-mudah dalam agama).

Read the rest of this entry

Mensucikan Najis Jilatan Anjing

Kenajisan Anjing

Kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah berpandangan bahwa anjing tergolong najis ‘ain (najis yang barangnya nampak oleh mata) yang mugholladzoh (berat). Dan kenajisannya tidak hanya sebatas air liurnya saja, tetapi mencakup juga keringatnya dan setiap anggota tubuhnya.[1]

Read the rest of this entry

Hadiah Pahala dan Bacaan al Qur’an Untuk Mayit

Para ahli fikih sepakat bahwa seseorang yang telah meninggal tetap mendapatkan manfaat dari beberapa jenis amalnya sendiri, yakni shadaqah jariyah, ‘ilmu yang bermanfa’at, dan anak shalih yang berdo’a untuknya, berdasarkan hadits:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

apabila seorang manusia mati maka terputus darinya amal (perbuatan)nya kecuali yang berasal dari tiga hal yakni : shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang berdoa untuknya. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud).

Imam As Suyuthi (w. 911H) menjelaskan cabang-cabang dari 3 jenis amal ini: menyebarkan ilmu, doanya anak, menanam pohon kurma (atau yang bisa diambil manfaatnya oleh orang lain ketika penanamnya wafat), shodaqah jariyah, mewariskan mushaf, ribat (tinggal) di daerah perbatasan, menggali sumur, mengalirkan sungai, membangun rumah untuk orang asing (rumah singgah), membangun tempat dzikir, mengajari orang baca al Quran,(Aunul Ma’bud, 8/61. Maktabah Syamilah)[1]

Semua amal pribadi si mayit, tetap mengalir pahalanya walaupun dia telah meninggal, asal atsar (bekas/efek) amal tersebut masih bisa bermanfaat sepeninggalnya, termasuk juga dosa, ada yang tetap mengalir walaupun dia telah meninggal.

Adapun amal orang lain apakah memberi manfa’at kepada seseorang yang telah mati? Di sini ada perincian dari sisi jenis amal apa yang dimaksud.

Read the rest of this entry

Seekor Sapi Untuk Qurban Sekaligus Aqiqah

Tanya ustadz mohon pencerahan apakah di bolehkan 1 ekor sapi sebagian ada yang niat korban dan sebagian niat akikah? Mohon penjelasan terimakasih

Read the rest of this entry

Wanita Haidl Memegang dan atau Membaca al Qur’an

Berbeda hukumnya bagi wanita haidl antara membaca al Qur’an dengan menyentuh al Qur’an.

Wanita Haidl Membaca Al Qur’an

Menurut mayoritas ahli fikih: Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, wanita haidl termasuk nifas dan orang junub diharamkan membaca al Qur’an. Alasannya Sabda Nabi SAW:

لَا تَقْرَأِ الحَائِضُ، وَلَا الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ

“Tidak boleh orang yang sedang haidl atau junub membaca sesuatu dari al-Quran” (HR. at-Tirmidzi).

Read the rest of this entry

Umur Umat Islam Maksimal 1500 Tahun?

Beberapa kali masuk BC (Broadcasting) ke WA saya[1] menyatakan bahwa umur umat Islam tidak lebih dari 1500 tahun, artinya tidak sampai 49 tahun lagi umat Islam akan ‘punah’ dari muka bumi.

Mengingat isi BC tersebut menyandarkan hitungannya ke para ‘ulama besar, yang kepakarannya tidak diragukan lagi; Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Jalaluddin As-Suyûthi, dan Imam Ibnu Hajar al Hambali(?), tergelitik juga hati untuk ‘meneliti’ benarkah mereka rahimahumullaah mengatakan seperti yang disimpulkan dalam BC tersebut?, kalau benar, apa pula landasan ‘perhitungan’ tersebut?. Dengan menelusuri beberapa kitab dalam Maktabah Syamilah, saya dapati hal-hal berikut:

Read the rest of this entry

Beda Pendapat Bisa Celaka!

clip_image002Ketika mas X sedang asik naik motor, didepannya ada mbak y yang menghidupkan sein ke arah kanan, dengan santai mas X melaju di kiri jalan, namun tanpa diduga, si mbak Y ternyata belok kiri, kecelakaan tidak dapat dihindari, namun untunglah tidak parah. Setelah menegakkan kendaraan yang jatuh, terjadilah pembicaraan antara mas X dengan mbak Y:

X: mbak, kalau mau belok tolong kasih tanda yang benar dong!

Y : heh, mas jangan nyalahkan saya, kan sudah saya kasih tanda, situ yang salah!

X : ya memang sudah ngasih tanda, tapi tandanya salah, mau belok kiri kok ngasih tanda lampu sein kanan!

Y : mas, mas, bodoh kok dipelihara!, justru saya kasih lampu sein ke kanan itu sebagai tanda agar situ lewat kanan, eeh, masih saja lewat kiri.

Read the rest of this entry

Benarkah Tidak Boleh Minta Diruqyah?

Sebagian kalangan melarang seseorang meminta diruqyah dengan beralasan hadits tentang tujuh puluh ribu dari umat Islam yang lebih dahulu masuk surga tanpa hisab, dimana Jibril menjelaskan sifat mereka;

كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

‘Karena mereka tidak minta di obati (dengan cara) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal.” (HR. al Bukhary)

Hadits tersebut bukan melarang orang minta ruqyah[1], hanya menjelaskan keutamaan orang yang sempurna tawakkalnya kepada Allah hingga tidak minta ruqyah dan hanya menyerahkan urusan penyakitnya kepada Allah swt dengan tanpa berobat.

Read the rest of this entry

Pemimpin atau Teman Setia? (Kasus Al Maidah 51)

Kemarin dapat beberapa tulisan terkait terjemah al Maidah 51, ada yang menganggap al Qur’annya dipalsukan karena di satu versi awliya diterjemahkan sebagai “pemimpin”, sementara di cetakan lain diterjemahkan sebagai “teman setia”. Lebih lanjut ini dikaitkan dengan fitnah-fitnahan lalu ngefek ke hal-hal lain.

Read the rest of this entry

Batalkah Shalat Jika Tersenggol Anak yang Belum Dikhitan?

Memang tidak ada dalil langsung yang menyatakan batalnya shalat karena bersentuhan dengan anak lelaki yang belum berkhitan (besunat), hanya saja pembahasannya terletak pada apakah lelaki yang belum dikhitan itu mengandung najis pada ‘kepala burung’nya atau tidak.

Read the rest of this entry

Mengangkat Pemimpin Kafir; Ikhtilaf?

Jika yang dimaksud hanya pemimpin dalam urusan administrasi, tidak punya hak untuk melegislasi undang-undang (peraturan), tidak punya hak mengangkat kepala daerah, maka memang benar ada ikhtilaf dalam hal ini, sebagian ‘ulama, seperti Imam Badruddin Al-Hamawi As-Syafi’i (w. 733 H) melarang orang kafir menduduki jabatan apapun yang mengurusi urusan kaum muslimin, walau sekedar jadi pemungut zakat, sementara sebagian lainnya, seperti Imam al Mawardi (w. 450 H) membolehkan.

Read the rest of this entry