Category Archives: Aqidah

Benarkah Alquran Tidak Berbahasa Arab?

Dalam kuliah sore kemarin (17/10/18), Prof. AM dari UIN Suka menyampaikan hasil penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa ternyata Alquran itu asalnya bukanlah berbahasa Arab, namun Syro-aramaic. Saya langsung teringat dengan Christoph Luxenberg yang sekitar 15 tahun lalu pernah memunculkan pernyataan yang sama.

Ketika ada peserta yang menyampaikan Surat Yusuf/12: 2:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab”[1]

Beliau menjawab bahwa itu adalah wilayah teologi, sementara hasil penelitian tadi adalah wilayah ilmiah. Salah satu alasan yang AM sampaikan adalah bahwa bahasa Arab itu baru muncul belakangan setelah Alquran, yakni setelah digagas oleh Abul Aswad Ad-Du’ali.

Memang benar bahwa yang dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab (Nahwu) adalah Abul Aswad Ad-Du’ali (603—688M), dan memang beliau hanyalah seorang tabi’in sehingga saat Alquran turun beliau belum ada, beliau murid sekaligus shahabat Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib.

Hanya saja, logika saya kok tidak bisa menerima alasan tersebut, tidak tersusunnya ilmu Nahwu itu tidak cukup untuk menjadi alasan bahwa bahasa Arab tidak ada, karena bahasa itu tidak harus ada manuskrip sebagai bukti keberadaannya, dia diwariskan lewat ucapan, bukan semata-mata lewat tulisan/manuskrip.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut saya bertanya, “dengan alur berpikir tersebut, walaupun turun temurun nenek moyang bangsa Indonesia biasa membuat tempe, namun andai tidak ada manuskrip yang menjelaskan tentang proses dan tata cara pembuatan tempe dari Indonesia, apakah bisa disimpulkan secara ilmiah bahwa tempe itu bukan buatan orang Indonesia?” beliau jawab secara retoris “bisa, bahkan kalau dikatakan tempe itu asalnya dari planet lain juga bisa, asal terbukti secara ilmiah. Tidak salah juga sih jawaban beliau, kan ada ucapan “asal terbukti secara ilmiah” nggak sempat lagi untuk menyambung pertanyaan karena waktu pertemuan habis.

Jika yang dimaksud “terbukti secara ilmiah” itu harus ada dokumen/manuskrip yang menunjukkan itu, maka saya merasa ini adalah kemunduran berpikir ilmiah. Banyak realitas empirik, hal yang sudah jelas nyata, akan tertolak ketika tidak ada manuskripnya, bahkan orang yang sejak lahir tidak pernah mengurus dokumen apapun juga akan tertolak keberadaannya karena tidak adanya manuskrip (dokumen) sebagai bukti kalau dia ada. Namun anehnya AM membela dan me-“maha benar”kan[2] teori evolusi Darwin, padahal tidak ada manuskrip yang membuktikannya, yang ada hanya kumpulan berbagai fosil yang dia (Darwin) beri makna sesuai alur pemikirannya.

Apa yang disampaikan AM, sebenarnya sudah lebih dari 15 tahun lalu disampaikan Christoph Luxenberg, dan hal tersebut sudah terbantah oleh Syamsuddin Arief, PhD, alumni  ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, saat menulis tulisan di bawah  beliau sedang melakukan penelitian di Johann Wolfgang Goethe-Universitdt, Frankfurt am Main, Jerman, untuk PhD kedua.

Beliau menyatakan tidak sulit untuk membantah dan menolak Luxenberg, sebab seluruh uraiannya dibangun atas asumsi-asumsi yang keliru:

Pertama, ia mengira Al-Qur’an dibaca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan.

Kedua, ia menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks.

Ketiga, ia menyamakan Al-Qur’an dengan Bibel, dimana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk difahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan fondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya. Beliau jelaskan ini panjang lebar.

Beliau juga mengemukakan review dari pakar Semitistik dan Direktur Orientalisches Seminar di Universitas Frankfurt, Prof. Hans Daiber, yang menyatakan bahwa dari sudut metodologi pun karya Luxenberg cukup bermasalah dan karena itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam review-nya atas buku Luxenberg, Daiber mengemukakan tidak kurang dari lima poin, ulasan lengkapnya bisa dibaca dalam tulisan dibagian bawah ini. Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Kajian Pemikiran Islam AL-INSAN Vol. 1 Tahun I, Jakarta. [Muhammad Taufik]

Read the rest of this entry

Taklid dalam Masalah Akidah

Definisi Taklid

Taklid menurut bahasa adalah

اتباع الغير دون تأمل

mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi.”

Sedangkan taklid menurut syara’, dalam al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah  juz 1 didefinisikan sebagai :

العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة

melakukan suatu perbuatan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah yang mengharuskan perbuatan tersebut” [1]

Taklid bisa terjadi pada orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, bisa juga terjadi pada seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia.

Taklid dalam Masalah Akidah

Berbeda dengan masalah hukum syara’ yang boleh bertaklid, taklid dalam masalah akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang taklid dalam masalah akidah, misalnya firman Allah Swt:

Read the rest of this entry

Belajar Bertawakkal

Allah SWT berfirman :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65] : 3).

Tentang ayat ini, Imam Al Qurtubi (w. 671H) menyatakan:

أَيْ مَنْ فَوَّضَ إِلَيْهِ أَمْرَهُ كَفَاهُ مَا أَهَمَّهُ. وَقِيلَ: أَيْ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَجَانَبَ الْمَعَاصِي وَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ، فَلَهُ فِيمَا يُعْطِيهِ فِي الْآخِرَةِ مِنْ ثَوَابِهِ كِفَايَةٌ. وَلَمْ يُرِدِ الدُّنْيَا، لِأَنَّ الْمُتَوَكِّلَ قَدْ يُصَابُ فِي الدُّنْيَا وَقَدْ يُقْتَلُ

”yakni barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Dan dikatakan: yakni siapa saja yang bertaqwa kepada Allah, menjauhi maksiyat, dan bertawakkal kepada-Nya, maka baginya apa yang diberikan di akhirat dari ganjarannya itu mencukupinya. Dan tidak dimaksudkan untuk dunia, karena orang yang bertawakkal kadang diberi musibah di dunia, dan kadang juga dibunuh (di dunia)” [al Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, 18/161. Maktabah Syamilah].

Read the rest of this entry

Sosialisme/Komunisme dan Pertentangannya dengan Islam

Sosialisme termasuk komunisme memang telah ‘mati’ dan hilang dominasinya dalam kehidupan, namun sebagai pemikiran ideologi, selama masih ada orang-orang yang mengemban dan memperjuangkannya, dia masih memiliki potensi untuk ‘hidup’ kembali. Oleh karena itu, kajian terhadap sosialisme termasuk komunisme tetaplah penting untuk mematikan sisa-sisa ‘nyawa’ yang masih menggeliat mencari celah-celah dan kesempatan untuk bangkit kembali.

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Mengingkari Adzab Kubur?

Ini adalah tuduhan keliru, hasil kesimpulan mentah pihak penuduh, lalu kesimpulan keliru itu disematkan kepada Hizbut Tahrir.

Yang benar, Hizbut Tahrir mewajibkan pembenaran (tashdîq) atau percaya (îmân) terhadap keberadaan adzab kubur, tanpa mengadopsi pendapat apakah yang mengingkarinya dihukumi kafir ataukah dihukumi berdosa saja, sebagaimana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang itu.

Tuduhan ini mungkin  bermula dari konsep dalil yang diadopsi Hizbut Tahrir dalam perkara akidah, yakni:

Read the rest of this entry

Inti Pandangan Hizbut Tahrir Terkait Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

Secara ringkas, dalam masalah aqidah, Hizbut Tahrir memberikan ketentuan-ketentuan mendasar berkenaan dengan karakter akidah, kriteria dalil yang mendasarinya, sikap terhadap hadits ahad, dan konsekwensi bagi orang yang mengingkarinya, ringkasnya sebagai berikut:

1. Dalil akidah haruslah dalil yang bersifat pasti.

2. Dalil yang memenuhi hal tersebut (no 1) adalah al-Qur`an dan hadits mutawatir, dengan syarat masing-masing dari keduanya memiliki penunjukan arti yang pasti (qath’îy dalâlah).

3. Orang yang mengingkari dalil no 2, atau mengingkari apa yang ditunjukkannya dihukumi kafir, baik itu terkait akidah maupun hukum syara’.

Sedangkan untuk dalil yang tidak memenuhi kriteria sebagai dasar akidah, yakni khabar ahad, maka Hizbut Tahrir mensikapinya:

Read the rest of this entry

Prof. Hasan Hitou, Akidah dan Hadits Ahad

Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou adalah seorang ulama ahli Ushul bermadzhab Syafi’i, beliau juga salah satu tim ahli dalam penyusunan Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah yang seluruhnya berjumlah 45 jilid tebal, juga salah satu pembimbing dan penguji Prof. Dr. Ali Musthafa Ya’qub (alm). Berikut kutipan dari kitab beliau al-Wajîz fî Ushûl al-Tasyrî’ al-Islâmî, tentang Akidah dan Hadits Ahad.

Read the rest of this entry

Umur Umat Islam Maksimal 1500 Tahun?

Beberapa kali masuk BC (Broadcasting) ke WA saya[1] menyatakan bahwa umur umat Islam tidak lebih dari 1500 tahun, artinya tidak sampai 49 tahun lagi umat Islam akan ‘punah’ dari muka bumi.

Mengingat isi BC tersebut menyandarkan hitungannya ke para ‘ulama besar, yang kepakarannya tidak diragukan lagi; Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Jalaluddin As-Suyûthi, dan Imam Ibnu Hajar al Hambali(?), tergelitik juga hati untuk ‘meneliti’ benarkah mereka rahimahumullaah mengatakan seperti yang disimpulkan dalam BC tersebut?, kalau benar, apa pula landasan ‘perhitungan’ tersebut?. Dengan menelusuri beberapa kitab dalam Maktabah Syamilah, saya dapati hal-hal berikut:

Read the rest of this entry

Si Gila Bahlul Mengomentari Kenaikan Harga

Ketika harga-harga naik, seseorang memberi tahu si Gila Bahlul dan memintanya berdo’a, maka Si Gila Bahlul menjawab:

مَا أُبَالِي وَلَوْ حَبَّةٌ[1] بِدِينَارٍ، إِنَّ للَّه عَلَيْنَا أَنْ نَعْبُدَهُ كَمَا أَمَرَنَا، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْزُقَنَا كَمَا وَعَدَنَا [2]

“aku tidak peduli, kalaupun satu biji (gandum) berharga satu dinar (4,25 gram emas), sesungguhnya hak Allah atas kita adalah kita beribadah kepada-Nya sebagaimana Dia perintahkan kita, dan kewajiban Dia adalah memberi rizki kepada kita sebagaimana Dia telah janjikan” (Adz Dzahaby (w. 748 H), Târîkhul Islam wa Wafayâtu al Masyâhiri al A’lâm, 12/90, maktabah Syamilah)

Read the rest of this entry

Qodlo & Qodar: Perbuatan Manusia Tidak Ada Kaitannya dengan Qodlô’?

Ada sebagian orang yang menuduh Hizbut Tahrir (HT) berpandangan bahwa perbuatan manusia tidak ada kaitannya dengan qodlô’ (keputusan/ketetapan) Allah swt, sehingga HT dituduh sesat dalam hal ini, karena menurut ulama sunni semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah swt. Benarkah demikian?

Read the rest of this entry

Mempersiapkan Kematian

Bagaimanapun kondisi kita, perbuatan kita, juga bagaimanapun rumah kita di dunia, kuburanlah ‘rumah singgah’ kita menuju negeri keabadian. Bagaimanapun juga pakaian kita, mau menutup aurat atau mengumbar aurat, kelak hanya kain kafanlah yang menyertai ‘perjalanan’ yang entah berapa lama akan berakhir.

Di sana, ahli maksiyat akan hitam jelek wajahnya walaupun didunia dia berwajah cemerlang dengan make up yang mahal. Sebaliknya orang yang menghiasi dirinya dengan taqwa akan bersinar wajahnya. Jika kita malu berwajah hitam jelek di dunia, padahal hidup didunia ini sebentar, tidakkah kita malu jika membawa wajah jelek penuh dosa saat menghadiri ‘muktamar’ seluruh manusia di padang Makhsyar?. Sudahkah kita bersiap menghadapinya?

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Mengingkari Qodlo dan Qadar?

Ada sebagian kalangan melakukan tuduhan-tuduhan keji terhadap Hizbut Tahrir dengan menyatakan bahwa Hizbut Tahrir mengingkari takdir atau tidak mempercayai qodlo dan qodar.[1]

Ada beberapa hal yang harus dijelaskan terkait ini:

Pertama, penuduh mungkin tidak membaca secara utuh. Andai membaca utuh, tentu tidak berkesimpulan demikian. Pada paragraf pertama kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz I[2], pada bab Akidah Islam saja jelas dinyatakan:

العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى

Akidah Islam adalah iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan kepada qadla dan qadar baik buruknya dari Allah Ta’ala.

Read the rest of this entry

Mukjizat, Karomah, Sihir & Istidroj

Sungguh memprihatinkan melihat fenomena akhir-akhir ini terkait hal-hal klenik yang menimpa umat Islam. Setelah terungkap kasus “penasehat spiritual” dari pemimpin padepokan yang menjadi tersangka penyalahgunaan sabu-sabu yang dia sebut aspat, tidak lama kemudian muncul kasus padepokan lain yang melakukan penipuan dengan modus ‘penggandaan/pengadaan uang’ dan pembunuhan mantan santrinya. Masalahnya bukan sekedar ratusan milyar atau mungkin trilyunan dana umat yang ‘menguap’, namun yang lebih memprihatinkan dari itu adalah agama Islam yang mulia ini dijadikan justifikasi oleh sebagian besar mereka untuk membenarkan tindakannya.

Read the rest of this entry

Kapan Seorang Muslim Berubah Jadi Kafir (Murtad)?

Secara umum para ulama sepakat bahwa orang yang mengingkari khabar mutawatir menjadi kafir, sementara orang yang menolak khabar ahad tidaklah menjadi kafir, namun berdosa mengingkarinya jika tidak ada takwil terhadap khabar ahad tersebut.

Read the rest of this entry

Demokrasi dalam Pandangan Islam

Oleh : Muhammad Taufik NT

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ»، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ

“Hari kiamat tak bakalan terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhory no. 7319 dari Abu Hurairah r.a)

Read the rest of this entry