Category Archives: Fiqh

Ujung Sajadah ada Najisnya

Sahkah sholat memakai sajadah yang ujung sajadah ada najisnya?

Jika bagian alas yang kena najis tidak mengenai anggota badan kita, maka tidak batal shalatnya, karena tidak bisa dikatakan “membawa” najis. Ini berbeda jika pakaian, dompet, atau handphone, jika ada najisnya dan dipakai/dibawa shalat, maka shalatnya tidak sah, begitu juga membawa botol yang berisi najis, walau dalam keadaan tertutup rapat, maka tidak sah sholatnya.

Read the rest of this entry

Sunnah–Sunnah (Wirid) Setelah Shalat

Disunnahkan[1] setelah shalat beberapa perkara berikut:

1. Istighfar, dzikir dan do’a. Hal ini berlaku bagi imam, makmum, munfarid[2], baik laki-laki maupun perempuan, muqim maupun musafir, karena setelah shalat adalah waktu yang mustajab untuk berdo’a, juga karena Rasulullah melakukan yang demikian itu[3]. Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam ditanya;

يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ

wahai Rasulullah, doa apakah yang paling di dengar? Beliau berkata: “Doa di tengah malam terakhir, serta pada dubur shalat-shalat wajib.[4] (HR. at Tirmidzi, dia katakan hasan).

dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ

“Aku mengetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari suara takbir.” (Shahih Bukhari).

Read the rest of this entry

Bolehkah Berqurban dengan Binatang yang Dikebiri?

Boleh berqurban dengan binatang ternak yang telah dikebiri. Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh menyatakan:

Read the rest of this entry

Bolehkah Mengebiri Hewan?

Ulama-Ulama madzhab Syafi’i[1] membolehkan mengebiri hewan[2] yang halal dimakan saat hewan tersebut masih kecil, dan mengharamkannya saat hewan tersebut sudah besar, dan mensyaratkan agar pengebirian yang dilakukan tidak membinasakan hewan tersebut.

Read the rest of this entry

Hukum Arisan

Arisan (al jam’iyyah/al jumu’ah)[1] sebenarnya masuk dalam kategori al qordh[2] (hutang-piutang) yang hukum asalnya boleh. Disebut jam’iyyah karena mereka seperti organisasi/kumpulan, disebut al jumu’ah karena dulu biasanya para wanita melakukan ‘arisan’ ini tiap hari Jum’at.

Read the rest of this entry

Bolehkah Menggugurkan Kandungan 2 Bulan dengan Alasan Ekonomi?

…ana punya anak 3, … slm menempuh perkawinan kurang lebih 10 tahun ana memgalami pasang surut ekonomi. yg paling terasa 2 tahun ini…dg anak 3 ini jujur ana merasa sangat berat ust. (yaa Allah lindungi ulun dari kekufuran nikmat). makanya ana bersefakat dg istri bila berhubungan maka akan melakukan ‘azel (kb tanpa obat). namun Allah berkehendak lain, rencana ana untuk tdk mempunyai anak lagi sementara waktu ternyata dikasih (hamil).

ana bersama istri baru dtg dr bidan, dr keterangan beliau umur kandungan ga nyampe 2 bln. yg menjadi pertanyaan :

1. umur brp janin ditiupkan ruhnya?

2. bolehkah ana menyuruh istri menggugurkan kandungan dg pertimbangan ekonomi?.

3. tolong penjelasan bagaimana stts hukkumnya [0853**94****]

 

Read the rest of this entry

Tiga Shalat yang Wajib Diqodho’ Oleh Wanita Haid

Saat haid berlangsung seorang wanita haram mengerjakan shalat dan puasa, mereka wajib mengqodho puasa, namun tidak wajib mengqodho’ shalat, kecuali dalam 3 waktu, yakni 1) saat datangnya haidh, 2) saat berhentinya haidh dan 3) saat sebelum berhentinya haidh (menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad).

Read the rest of this entry

Haramkah Mendo’akan Keburukan Untuk Orang Yang Mendzalimi Dirinya atau Mendzalimi Umat Islam?

Agak heran ketika membaca di sosmed/internet[1], ada orang yang menyatakan tidak boleh mendo’akan keburukan kepada orang yang mendzolimi kita atau mendzolimi umat Islam. Agar tampak kuat, lalu dikutiplah nash-nash yang mereka simpulkan nash tersebut melarang mendoakan keburukan, seperti ayat A-li ‘Imran 3:128[2], juga hadits Rasulullah tentang pemabuk yang dipukul[3]. Inilah bahayanya menyimpulkan sendiri suatu hukum dari satu atau dua nash tanpa memperhatikan nash lain, dan tanpa sadar diri, apa kapasitas kita untuk menghukumi ini halal ini haram, tanpa menengok bagaimana ‘ulama yang sudah matang ilmunya berbicara hal tersebut.

Read the rest of this entry

Jenggot ‘Memelintir’ Kecerdasan

1. Benarkah jenggot mengurangi kecerdasan, sehingga makin panjang jenggot maka makin goblok?

2. Benarkah kalau jenggot dibiarkan panjang, walau kecerdasan otak berkurang, namun (kecerdasannya) turun kehati, Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih…sehingga kalau mau berjenggot panjang,  hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.

Read the rest of this entry

Kitab: Al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i

al mutamad fil fiqh asy syafi'i

Tidak setiap apa yang dikatakan orang sebagai pandangan madzhab Syafi’i adalah benar-benar pandangan yang mewakili madzhab ini, karena dikalangan ulama Syafi’iyyah pun ada ikhtilaf dalam berbagai persoalan fiqh.

Kitab ini merupakan kitab yang memuat pendapat-pendapat yang mu’tamad (diakui/dipegangi) dalam madzhab Syafi’i berikut berbagai penjelasan dan pendalilannya.

Read the rest of this entry

Bagaimana Hukum Jual Beli Kucing?

Terjadi perbedaan pendapat para ‘Ulama tentang jual beli kucing, ada yang membolehkan, ada yang memakruhkan:

1) Mayoritas ‘ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah membolehkan jual beli kucing, karena kucing adalah suci, dapat dimanfaatkan, dan terpenuhinya syarat-syarat jual beli, sehingga boleh memperjualbelikannya sebagaimana khimar(keledai) dan baghal. (Mausuah Al Fiqhiyyah, 42/266)[1]. Hanya saja  terdapat perbedaan dalam rincian persyaratannya; Al Bunany dari Madzhab Maliki mensyaratkan kebolehan jual beli kucing jika untuk dimanfaatkan dalam kondisi hidup, adapun Madzhab Syafi’i membolehkan jual beli kucing asal kucing jinak (al hirroh al ahliyyah) bukan kucing liar. [2]

Read the rest of this entry

Dialog: Haramkah Bermadzhab? Haramkah Taqlid (dlm Masalah Hukum Syara)?

Mr. X bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Mr. Y menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Read the rest of this entry

Taqlid

Taqlid menurut bahasa adalah mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi. Orang mengatakan qalladahu fi kadza, artinya mengikutinya tanpa perenungan dan tanpa berpikir lagi.

Sedangkan taqlid menurut syara’ adalah melakukan suatu perbuatan atau tindakan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah mulzimah (dalil yang mengikat). Misalnya orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, atau seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid lain yang sederajat dengan dia.

Read the rest of this entry

Hukum Genjatan Senjata

Hukumnya boleh dengan syarat adanya kemashlahatan berkaitan dengan jihad atau dakwah juga ada batasan waktunya.

Read the rest of this entry

Hukum Wanita Berhaji Wajib Tanpa Mahram atau Suami

Terjadi perbedaan pendapat tentang masalah ini apakah mahram atau suami adalah syarat wajib haji[1] bagi wanita atau bukan? Artinya jika seorang muslimah tidak menjumpai mahram atau suami apakah kewajiban pergi haji itu gugur darinya ataukah tidak?

Read the rest of this entry