Category Archives: Fiqh

Selesai Shalat, Baru Tahu Ada Najis di Pakaian

Suci dari najis adalah termasuk bagian dari syarat sahnya shalat. Masalahnya jika seseorang merasa yakin bahwa dirinya telah suci dari najis, namun ternyata setelah selesai shalat, ia melihat bajunya terkena najis yang tidak ma’fu (ditoleransi), wajibkah dia mengulangi shalatnya?

Para ulama madzhab Syafi’i sendiri berbeda pendapat tentang hal ini, hanya saja pendapat yang ashah[1] dalam madzhab Syafi’i, seseorang yang ada najis pada badan/pakaiannya, dia baru mengetahui setelah dia selesai shalat, dan dia ‘yakin’ bahwa dia shalat dengan membawa/terkena najis tersebut maka shalatnya tidak sah dan dia wajib mengulanginya. Dalam Al Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i dinyatakan:

clip_image002

“dan sucinya badan dari najis merupakan syarat sahnya shalat, jika dia tahu najis tersebut (lalu shalat dengan najis tersebut) maka tidak sah shalatnya. Begitu juga jika dia lupa atau tidak tahu, maka tidak sah shalatnya, jika dia shalat (dengan adanya najis tersebut) maka dia wajib mengulanginya, karena kesucian (thaharah) adalah wajib maka tidak gugur dengan alasan tidak tahu sebagaimana wudhu. Sama saja hal tersebut terjadi dalam shalat fardhu, sunnah, jenazah, sujud tilawah dan syukur, semua itu syaratnya adalah tidak adanya najis” [2]

Read the rest of this entry

Menikahi Wanita Hamil dan Nasab Anaknya

Wanita hamil ada dua kemungkinan: 1) hamil dalam pernikahan atau 2) hamil diluar pernikahan.

Hamil dalam Pernikahan

Jika wanita tersebut hamil dalam pernikahan, misalnya dicerai saat hamil atau suaminya meninggal saat wanita tsb hamil, maka tidak ada perbedaan pendapat para fuqoha bahwa tidak sah menikahinya sebelum wanita tersebut melahirkan.[1]

Alasannya adalah firman Allah SWT :

وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. (Qs Ath-Tholaq : 4).

Read the rest of this entry

Hukum Ngecat/Nyemir Rambut dan Jenggot

Hukum menyemir/ngecat rambut dan jenggot bergantung dengan siapa pelakunya dan jenis semirnya.

Jika pelakunya lelaki, dan semirnya hitam[1], menurut Malikiyyah, Hanafiyyah dan Hanabilah hukumnya makruh, kecuali dalam peperangan untuk menakuti musuh, yakni agar mereka melihat bahwa tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda. Namun kalangan Malikiyyah mengharamkan menyemir rambut dengan warna hitam jika tujuannya adalah untuk mengelabui orang lain, yakni agar mereka mengira bahwa pelakunya masih muda.

Adapun Syafi’iyyah secara umum berpendapat bahwa menyemir rambut dan jenggot dengan warna hitam hukumnya haram.

Read the rest of this entry

Mensucikan Najis Jilatan Anjing

Kenajisan Anjing

Kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah berpandangan bahwa anjing tergolong najis ‘ain (najis yang barangnya nampak oleh mata) yang mugholladzoh (berat). Dan kenajisannya tidak hanya sebatas air liurnya saja, tetapi mencakup juga keringatnya dan setiap anggota tubuhnya.[1]

Read the rest of this entry

Kedudukan Wali Dan Saksi Dalam Pernikahan

Bagaimana status ‘nikah bathin’ yang dilakukan tanpa wali dan saksi, hanya Allah saja sebagai saksi mereka?

***

Wali Nikah

Madzhab Syafi’i dan Maliki memandang bahwa adanya wali adalah rukun dalam akad nikah, sehingga tidak sah nikah tanpa adanya wali[1].

Alasannya antara lain adalah hadits dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rsulullah saw:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta beliau menshahihkannya)

Dalam madzhab Hanafi, wali bukanlah rukun nikah, namun menjadi syarat jawaz dan syarat nafâdz, sehingga akad nikah tanpa wali dianggap tetap sah, namun tidak mustahab (tidak disenangi).

Read the rest of this entry

Zakat Tanaman

Tidak semua harta terkena kewajiban zakat. Diantara harta (mâl) yang terkena kewajiban zakat adalah: 1) hewan tertentu, 2) emas, perak dan uang, 3) tanaman dan buah tertentu, 4) harta perdagangan, juga 5) rikâz (harta dari galian).

Jenis Tanaman yang Terkena Zakat

Tidak semua tanaman terkena kewajiban zakat. Para ‘Ulama sepakat bahwa zakat diwajibkan pada gandum (hinthah), jewawut (asy-sya’îr), kurma (at-tamru) dan kismis (az-zabib). Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru yang berkata:

Read the rest of this entry

Hadiah Pahala dan Bacaan al Qur’an Untuk Mayit

Para ahli fikih sepakat bahwa seseorang yang telah meninggal tetap mendapatkan manfaat dari beberapa jenis amalnya sendiri, yakni shadaqah jariyah, ‘ilmu yang bermanfa’at, dan anak shalih yang berdo’a untuknya, berdasarkan hadits:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

apabila seorang manusia mati maka terputus darinya amal (perbuatan)nya kecuali yang berasal dari tiga hal yakni : shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang berdoa untuknya. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud).

Imam As Suyuthi (w. 911H) menjelaskan cabang-cabang dari 3 jenis amal ini: menyebarkan ilmu, doanya anak, menanam pohon kurma (atau yang bisa diambil manfaatnya oleh orang lain ketika penanamnya wafat), shodaqah jariyah, mewariskan mushaf, ribat (tinggal) di daerah perbatasan, menggali sumur, mengalirkan sungai, membangun rumah untuk orang asing (rumah singgah), membangun tempat dzikir, mengajari orang baca al Quran,(Aunul Ma’bud, 8/61. Maktabah Syamilah)[1]

Semua amal pribadi si mayit, tetap mengalir pahalanya walaupun dia telah meninggal, asal atsar (bekas/efek) amal tersebut masih bisa bermanfaat sepeninggalnya, termasuk juga dosa, ada yang tetap mengalir walaupun dia telah meninggal.

Adapun amal orang lain apakah memberi manfa’at kepada seseorang yang telah mati? Di sini ada perincian dari sisi jenis amal apa yang dimaksud.

Read the rest of this entry

Mengambil Upah Mengajari Al Qur’an

Dalam masalah mengajar, seseorang dibenarkan untuk mengontrak seorang guru yang mengajar anak-anaknya atau mengajarnya atau mengajar siapa saja yang dia inginkan.

Mengajar adalah manfaat yang mubah (boleh) dan mendapat upah dari manfaat tersebut adalah mubah. Ijarah (kontrak kerja) dalam masalah ini hukumnya juga mubah.

Read the rest of this entry

Status Kepemilikan Harta Istri

1) Bagaimana status harta penghasilan istri yang bekerja?

2) Jika harta istri dan suami bercampur untuk modal usaha, bagaimana pengaturannya?

3) Jika bercerai, padahal hartanya tercampur, bagaimana membaginya?

Read the rest of this entry

Askes dan Dana Pensiun

Pertanyaan,

Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh pegawai negeri baik sipil maupun militer secara otomatis—mau tidak mau, suka atau tidak suka, menjadi anggota (Asuransi Kesehatan) ASKES dan mendapatkan dana jaminan hari tua yang lebih sering dikenal dengan dana pensiun,

(1) Bagaimana hukumnya menjadi anggota ASKES? Dan bagaimana kalau kita sakit lalu memanfaatkan dana ASKES untuk keperluan berobat?

(2) Bolehkah kita menerima dana pensiun?

Read the rest of this entry

Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Hukumnya

Menurut jumhur (mayoritas) ahli fiqh kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama’ muta-akhhirin kalangan Hanafiyyah, puasa enam hari di bulan syawwal (selain tanggal 1) hukumnya adalah sunnah. Dalilnya adalah sabda Nabi saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia ikuti (dengan berpuasa) enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Kriteria Gharim yang Berhak Mendapat Zakat

Tidak semua orang yang berhutang terkategori Gharim yang berhak menerima zakat.

Read the rest of this entry

Zakat Fitrah: Siapa Menanggung Siapa?

Jika seorang mukallaf memenuhi syarat-syarat wajibnya mengeluarkan zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri.

Dia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah atas siapa saja yang menjadi kewajiban atasnya memberi nafkah, baik sebab wajibnya nafkah tersebut karena nikah, kerabat, atau karena khidmat (pelayan yang tidak digaji).

Urutan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah adalah: 1) dirinya sendiri, 2) Istrinya, 3) anaknya yang kecil, 4) bapak kandungnya, 5) ibu kandungnya,[1] 6) anaknya yang besar yang tidak mampu bekerja.

Perbedaan Infaq, Shadaqah, Zakat, Hibah, Hadiah dan ‘Ariyah

Baik infâq, shadaqah, zakât, hibah, hadiah dan ‘âriyah secara umum semuanya bermakna mengeluarkan harta, namun pemakaian istilah tersebut berbeda-beda.

Read the rest of this entry