Diskusi Khabar Ahad (Lanjutan I)

Karena banyak komentar/tanggapan tulisan ana di sini, sini, dan sini. Dan ada salah satu tanggapan yang cukup panjang dari Abu Haura Ahmad Junayd Ahmad Dzulkifli (48 halaman) disini, maka ana perlu jelaskan beberapa hal disini (kalau di kolom komentar kurang sreg rasanya), sebagian adalah komentar ana yang belum selesai di topik tersebut, kalau kepanjangan bisa dibaca yang terakhir saja (yang ana kasih warna biru).

Sebelumnya terima kasih atas 48 halaman tulisannya, ana berharap antum juga merujuk kitab-kitab yang ana sampaikan, membaca dan menyimaknya dengan seksama, perhatikan jelas-jelas apa yang dikatakan para Ulama tersebut, bandingkan dengan yang antum kutip, dan pahami tema pembahasan mereka.

1) Dari yang antum tulis, semakin jelas, bahwa yang antum maksud “sebagai hujjah” disini memang bukan dalam tema pembahasan IMAN DAN KAFIR di halaman 9 antum tulis:
“”"Dan kami tidak mengingkari terjadinya perbedaan pendapat antara beberapa sahabat pada sebagian perkara aqidah seperti perbedaan masalah apakah Nabi shalaullahu ’alaihi wasallam melihat Allah Ta’ala dengan mata kepala ataukah tidak pada malam mi’rajnya”"”
Jawaban:
Kalau memang yang antum maksud demikian, sudah berulang-ulang ana sampaikan–lihat diskusi dalam komentar sebelumnya–, ana sepakat bahwa khabar mutawatir maupun ahad memang bisa dijadikan hujjah dalam perkara apapun, baik “aqidah” maupun “‘amaliyah/syari’ah”.

Perhatikan kembali penjelasan Imam Abu Bakr Muhammad bin Abi Sahl as-Sarokhsiy, pada masanya digelari al-Imam al-Ajall az-Zahid Syams al-A`immah (Sang Imam Agung yang Zuhud dan Matahari Para Imam), Wafat +- 490 H, bahwa tema yg mereka bahas adalah pembedaan Iman dan Kafir berkaitan dengan penolakan suatu dalil:

وهو أنه لا يكفر جاحده، لان دليله لا يوجب علم اليقين، ويجب العمل به لان دليله موجب للعمل ويضلل جاحده إذا لم يكن متأولا بل كان رادا لخبر الواحد، فإن كان متأولا في ذلك مع القول بوجوب العمل بخبر الواحد فحينئذ لا يضلل،

dan sesungguhnya tidaklah diKAFIRKAN orang yang mengingkarinya (khabarul wahid) karena dalilnya tidak mewajibkan ‘ilmu yaqin, dan wajib beramal dengannya karena dalilnya mewajibkan untuk di’amalkan…mengingkari khabar ahad (yang shahih/hasan) tanpa dia mendatangkan takwil dihukumi sesat, jika ada takwil atas pengingkarannya dan ia menyatakan wajibnya ‘amal dengan khabar wahid maka ia tidak dinyatakan sesat.
selengkapnya di: https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/05/03/khabar-ahad-dalam-pandangan-ulama-ushul/
Baca pula: https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/04/30/perbedaan-antara-aqidah-dan-hukum-syara/

2) Tidak ana komentarinya beberapa komentar antum sebelumnya karena memang antum membahas tema yang tidak ana bahas.

3). di halaman 5, antum tulis: “”"Pertanyaan kita, apakah Ibnu Hazm (384-456 H) dengan kitab-nya yang monumental dalam ilmu Ushul yang berjudul Al-Ihkam Fii Ushulil Al-Ahkam tidak dikatakan sebagai salah satu ulama Ahli Ushul? …. “”"
Jawaban:

Ana tidak pernah menyatakan Ibnu Hazm, apalagi Imam Syafi’i bukan ulama ushul. Ketika Rasululah bersabda:

اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

Bersabarlah kalian semuanya, karena sesungguhnya tidak berlalu suatu zaman atas kalian kecuali zaman setelahnya lebih buruk dari zaman sebelumnya hingga kalian menjumpai Rabb kalian. (HR. Bukhory)
Mungkin orang yang tidak faham juga akan berkesimpulan bahwa masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz lebih buruk dari pada masa Al Hajjaj bin Yusuf yg terjadi sebelumnya.
Ketika orang membaca di metrotv: “Kaum Perempuan Tuntut LSF Cabut ‘Arwah Goyang Karawang’”, maka tidak bisa difahami bahwa metro menuduh perempuan lain yg tidak menuntut sebagai BUKAN PEREMPUAN. Pahamilah bagaimana menempatkan pembahasan dalam istilah ushul disebut mafhum mukholafah, sehingga tidak serampangan menarik kesimpulan dengan mafhum mukholafah padahal tidak tepat.

4) Tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat (hal 10): Imam Syafi’i dengan Imam Ahmad saja berbeda menyikapi hal ini, bukankah sudah ana tulis di komentar sebelumnya saat diskusi dgn akhi Ridwan (harap dibaca diskusi/komentar sebelumnya biar tidak mbolak-mbalik):
Dialog ini terdapat dalam Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubro, 2/48, atau Fiqhus Sunnah 1/96 (Maktabah Syamilah)

مناظرة في تارك الصلاة : ذكر السبكي في طبقات الشافعية أن الشافعي وأحمد رضي الله عنهما تناظرا في تارك الصلاة. قال الشافعي: يا أحمد أتقول: إنه يكفر؟ قال: نعم. قال: إذا كان كافرا فبم يسلم؟ قال: يقول: لا إله إلا الله محمد رسول الله.

قال الشافعي: فالرجل مستديم لهذا القول لم يتركه.

قال: يسلم بأن يصلي.

قال: صلاة الكافر لا تصح، ولا يحكم له بالاسلام بها.

فسكت الامام أحمد، رحمهما الله تعالى.

ولكن كثيرا من علماء السلف والخلف، منهم أبو حنيفة، مالك، والشافعي، على أنه لا يكفر، بل يفسق ويستتاب، فإن لم يتب قتل حد أعند مالك والشافعي وغيرهما. وقال أبو حنيفة: لا يقتل بل يعزر ويحبس حتى يصلي، وحملوا أحاديث التكفير على الجاحد أو المستحل للترك

 

Walaupun Imam Ahmad diam, tidak menjawab hujjah Imam Syafi’i, dan tetap pendapatnya tidak berubah, namun Imam Syafi’i tidak menuduh macam-macam terhadap Imam Ahmad.

5). Hal 10: antum tulis : “””“Jika alasan anda tidak mau menggunakan hadits ahad sebagai hujjah aqidah KARENA BISA TERJADI SALING MENGKAFIRKAN…”””

Jawaban:

Seperti sebelumnya, ana lihat antum keliru memahami bahasa Indonesia sehingga menarik kesimpulan yg keliru pula. Siapa yg tidak mau menggunakan hadits ahad sebagai hujjah aqidah dg alasan KARENA bisa terjadi saling mengkafirkan? Jelas saya tulis ““Akibat lainnya…”, jadi bukan itu alasannya, namun terjadi mudahnya saling mengkafirkan itu hanya salah satu akibat saja.

6) halaman 14 – 15 antum tulis: “”"””Karena pendapat Ulama tidak dapat dijadikan hujjah akan tetapi dijadikan hujjah apa yang telah mereka jadikan hujjah”
(Kami nukil dari perkataan Syaikh Abdul Qadir Abdil Aziz dalam kitabnya Al-Jaami’ fii Thalab Al-Ilm Al-Syariif)”"”"

Jawaban:
Ana sepakat dengan ungkapannya, perkataan Ulama memang bukan hujjah, namun perlu hati-hati memahami nash baik al Qur’an atau Hadits, kalau ‘ufuq ilmunya rendah bisa salah memahami, lalu memfonis orang lain sesat, bahkan kafir. Ana sendiri tidak cocok dengan beberapa tulisan Syaikh Abdul Qadir Abdil Aziz, misalnya dalam kitabnya “al irhaabu minal islam, fa man ankaro dzaalika faqad kafaro”
beliau memahami bahwa terorisme adalah bagian dari islam, barang siapa mengingkarinya maka ia telah kafir, beliau menafsirkan irhab dalam ayat tersebut sebagai terorisme seperti makna sekarang, terus menghukumi orang yang mengingkari hal tsb sebagai kafir.

7) Hal 17: “””Ustadz Taufik keliru menggunakan kaidah ushul pada ayat tersebut dan ayat yang semisalnya. Karena bunyi dari kaidah ”Ibrah (pengertian) itu diambil berdasarkan umumnya lafadz….””””

Jawaban:

Tolong dibaca juga kaidah : “keumuman lafadz dalam kekhususan sebab adalah keumuman dalam TEMA kejadian, bukan umum untuk semua kejadian”. Juga sudah ana sampaikan bahwa “dzonn” dalam al Qur’an itu digunakan juga untuk menyatakan yaqin, dan ini diluar tema pembahasan ini, temanya juga bukan zhann marjuh seperti syak & wahm, krn kalau yang di maksud adalah dzann marjuh, bagaimana mungkin an Nawawi dan ulama lain menyatakan wajibnya amal dgnya?

8) Hal 33.: ditulis fatwa al azhar tentang khabar ahad, terus di katakan keliru.

Jawaban:

Alhamdulillah antum mau nulis fatwa al Azhar tersebut, setidaknya antum mendapat penjelasan yang gamblang bukan dari ana atau syaikh Taqy, walaupun antum nyatakan fatwa tersebut salah.

Pernyataan dalam fatwa : “””Berkata ulama ushul : “hadits ahad wajib diamalkan pada perkara hukum syari’ah amaliyah, yang disebut sebagai perkara furu’(cabang), dan (hadits ahad-pen) tidak diamalkan pada perkara aqidah, yang disebut sebagai perkara ushuluddin (dasar agama)””” Ana rasa sudah jelas fatwa tersebut, walaupun antum coba putar-putar maknanya. Memang amalan ada amalan hati seperti ikhlas, ridlo, shabar, … siapa yang menolak itu bahkan amal pun juga disebut dalam sebagian hadits sebagai iman, shalat dalam al Qur’an disebut juga sebagai iman, tidak ada yg nolak hal tersebut. Coba fahami TEMA apa yg dibahas dalam fatwa tersebut agar tidak salah berkesimpulan.

9). Hal 35: antum tulis: “””Anggapan Syaikh Jadulhaq bahwa Imam nawawi tidak menjadikan hadits ahad sebagai hujjah aqidah adalah suatu kekeliruan karena di dalam kitab-kitabnya kita temukan pernyataan Imam Nawawi seperti; Bab Dalil bahwasannya mencintai kaum Anshar dan ‘Ali adalah bagian dari Iman (Syarh Shahih Muslim, 2/63), Bab Dalil bahwa orang yang mati tanpa menyekutukan Allah dijamin masuk Surga (Syarh Shahih Muslim, 2/92) yang bersumber dari hadits-hadits ahad. Dn bukti lainnya di dalam tulisan kami yang berjudul“Antara Menolak dan Menerima Hadist Ahad Sebagai Hujjah dalam Aqidah””””

Jawaban:

Dari awal tulisan antum, ‘afwan, ana lihat antum tidak mengerti TEMA yang mereka bahas, sehingga pembahasan antum terpaksa sekali lagi ana katakan campur aduk. Kalau mau membahas TEMA KEHUJJAHAN KHABAR AHAD, Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim TELAH MEMBUAT PASAL TERSENDIRI TENTANG PEMBAHASAN INI, BUKANNYA MALAH MEMBAHAS BAB LAIN kemudian disimpulkan sendiri lalu di klaim bahwa pendapat Imam Nawawi sesuai dengan pendapat antum. Sama seperti orang membahas bab “tahanan” dalam tema elektronika yang maknanya adalah komponen resistor, terus yang digunakan rujukan bab “tahanan” dalam tema ilmu hukum, ya gak nyambung lah.

Lihatlah pernyataan beliau di Syarah Shahih Muslim juz 1 hal 19 s/d 21, terbitan Dâru Ihyâit Turots Al ‘Araby. Dihalaman 20 jelas isinya: (kan sudah ana tulis dg arabnya sekalian di https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/05/03/khabar-ahad-dalam-pandangan-ulama-ushul/ )harap dicermati lagi yang huruf kapital:

“Adapun khabar ahad, ia adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir, sama saja apakah karena perawinya satu atau lebih. Masih diperselisihkan hukum hadits ahad. PENDAPAT YANG DIPEGANG OLEH MAYORITAS KAUM MUSLIM DARI KALANGAN SHAHABAT DAN TABI’IIN, DAN KALANGAN AHLI HADITS, FUKAHA, DAN ULAMA USHUL YANG DATANG SETELAH PARA SHAHABAT DAN TABI’UN ADALAH: KHABAR AHAD (HADITS AHAD) YANG TSIQAH ADALAH HUJJAH SYAR’IY YANG WAJIB DIAMALKAN, DAN KHABAR AHAD HANYA MENGHASILKAN DZANN, TIDAK MENGHASILKAN ILMU (KEYAKINAN). WAJIBNYA MENGAMALKAN HADITS AHAD, KITA KETAHUI BERDASARKAN SYARIAT, BUKAN KARENA AKAL….Sebagian ahli hadits berpendapat bahwa hadits-hadits ahad yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Muslim menghasilkan ilmu (keyakinan), berbeda dengan hadits-hadits ahad lainnya. Pada penjelasan sebelumnya kami telah menjelaskan kesalahan pendapat ini secara rinci. Semua pendapat selain pendapat jumhur adalah bathil. Kebathilan orang yang berpendapat tanpa hujjah dalam masalah ini telah tampak jelas….Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad menghasilkan keyakinan, sesungguhnya orang itu terlalu berbaik sangka. Bagaimana bisa dinyatakan hadits ahad menghasilkan keyakinan (ilmu), sedangkan hadits ahad masih mungkin mengandung ghalath, wahm, dan kadzb?” Wallahu a’lam bish shawab

Selanjutnya beliau (Imam Nawawi) membantah pendapat Ibnu Sholah :

Pendapat ini – yang disebutkan oleh Ibnu Sholah tentang (hadits) Bukhory dan muslim dalam tema pembahasan ini – menyalahi pendapat para ahli tahqiq dan jumhur ulama, mereka mengatakan: hadits – hadits dalam kitab shohihain yang tidak mencapai derajat mutawatir SESUNGGUHNYA HANYA MENGHASILKAN DZON, maka sesungguhnya ia hadits ahad, dan hadits ahad sesungguhnya hanya berfaedah dzon, tidak ada bedanya dalam masalah ini antara (hadits) Imam Bukhari, Imam Muslim dan para Imam Hadis lainnya. SEDANGKAN APA YANG DIJUMPAI BAHWA UMAT MENERIMA (KHABAR AHAD DALAM BUKHARI MUSLIM) SESUNGGUHNYA HANYA BERFAEDAH AKAN WAJIBNYA ‘AMAL dengan apa –apa yang ada dalam keduanya (yakni shahih Bukhory – Muslim)

Siapa sebetulnya yang keliru? Syaikh Jaadul Haq dari lembaga Fatwa Al Azhar atau antum yang membahas tema lain?

Dengan cara mikir antum demikian, orang juga bisa berkesimpulan bahwa HT menyatakan wajibnya menjadikan khabar ahad sebagai hujjah dalam perkara ‘aqidah karena dalam kitab-kitabnya, khabar ahad juga dipakai. Misalnya dalam kitab min muqowwimat… Bab 16. “Takut kepada Allah dalam Kondisi Tersembunyi dan Terang-terangan”, diwajibkan takut kepada Allah juga dengan banyak khabar ahad. Juga Bab 13. “Merindukan Surga dan Berlomba Dalam Kebaikan”.

SEKALI LAGI ANA SAMPAIKAN, Sangat penting mengetahui tema apa yang dibahas oleh mereka, tidak ada gunanya banyak berdalil, memakai banyak nash, mengutip banyak pendapat ‘ulama kalau ditempatkan pada tema yang keliru. Contoh lain, mari kita perhatikan sabda Rasulullah s.a.w:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ الشُّهَدَاءِ الَّذِي يَأْتِي بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسْأَلَهَا

Hadits riwayat Muslim ini memuji orang yang bersaksi sebelum dia diminta bersaksi. Bandingkan dengan hadits berikut:

أَحْسِنُوا إِلَى أَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَفْشُوا الْكَذِبُ حَتَّى يَشْهَدَ الرَّجُلُ عَلَى الشَّهَادَةِ لَا يُسْأَلُهَا

Hadits riwayat Ibnu Majah dan Nasa’I diatas mencela orang yang bersaksi padahal dia belum diminta bersaksi. Kedua hadits ini tidaklah bertentangan karena temanya berbeda (bisa teliti sendiri).

Begitu juga pernyataan Imam Nawawi diatas, kalau mau membahas kehujjahan khabar ahad ya jangan lari ke pasal atau bab lain lah, padahal beliau sudah menempatkannya dalam pasal khusus.

Hal 40: antum nulis: “”Yang menjadi alasan mereka masih tetap membenarkan adanya azab kubur ADALAH KETAKUTAN MEREKA AKAN DINYATAKAN SESAT sebagaimana ungkapan sebagian ulama mengenai hukum orang yang mengingkari hadits ahad :

”Khabar ahad mewajibkan ‘amal, tidak mewajibkan ‘ilmu yaqin, mengingkarinya (tanpa takwil/alasan) dipandang sesat, tidak kafir.” (KITAB USHUL AL BAZDAWIY, karya Fakhrul Islam Al Bazdawi, Wafat 482 H)

Jawaban:

Antum belajar dari mana untuk mengetahui isi hati orang lain? Lewat internet lagi? Namun sayangnya tebakan antum itu keliru.

Tidak menjadikan hadis ahad sebagai dalil dalam masalah aqidah adalah sangat berbeda dengan mengingkari hadis ahad seperti yang dilakukan oleh Mu’tazilah. Mereka mengingkari kehujjahan hadis ahad karena menurut mereka tidak rasional. Mereka mengatakan: “ Apakah kalian menemukan di dalam kubur alat-alat untuk menyiksa seperti paku, gergaji, palu dll ”, dan tentu mereka (Muta’zilah) tidak akan menemukannya karena itu berkaitan dengan hal yang ghoib/ tidak dapat diindera kemudian mereka mengingkari hadis ahad tentang adzab qubur karena menurut mereka tidak rasional (Lihat Kitab Ar-Ruh Oleh Imam Ibn Al-Qoyyim Al-Jauziyah).

Sebagai Ilustrasi (ini bukan hujjah lho), perhatikan gambar hasil test kehamilan berikut (ana kasih ilustrasi ini karena antum orang kesehatan):

Akan sangat aneh kalau orang tidak percaya bahwa yang di tes hamil, karena hasil test dengan alat ini menunjukkan ia positif hamil, namun juga sangat aneh orang yang  menyatakan pasti, tidak mungkin tidak, atau yaqin yang dites orangnya pasti hamil padahal akurasi alatnya hanya 99%.

Adapun tentang adzab kubur,ana mempercayainya bukan karena takut disebut sesat, ana mempercayainya KARENA HADITS-HADITS DALAM MASALAH TERSEBUT ADALAH DZONN YANG ROJIH (KUAT)/ghalabatudz dzon, yang oleh Imam As Syarokhsy disebut sebagai ‘ilmu thuma’ninah (yang dipercaya dengan penuh ketenangan hati), Syaikh Abu Zahroh menyebutnya ‘ilmu dzonny. Sedangkan maksud “”bukan hujjah dalam perkara ‘aqidah”” krn ana tidak menganggap mu’tazilah sebagai kafir (ini termasuk dalam fatwanya Ibnu Taymiyah). SEKALI LAGI, Kafir yang saya maksud adalah kafir diluar Islam, karena sebagian madzhab Imam Ahmad ada menggunakan istilah kafir namun dimaksudkan kafir  tidak keluar dari Islam.

Tambahan lagi setahu ana  HT tidak mentabanny masalah azab kubur sehingga diserahkan kepada masing-masing anggota memilih pendapat yang mana, sehingga kalau ada yang menyematkan hal ini pada HT adalah sebuah kedustaan.

‘afwan. Banyak hal yang tidak ana tanggapi, intinya ana lihat masalah TEMA yang antum bahas lari kesana kemari, akibatnya  masalah penarikan kesimpulan antum dari nash maupun perkataan ‘ulama juga  bermasalah, juga antum memakai mafhum mukholafah dalam memahami bahasa Indonesia tidak pada tempatnya (seperti no3). Sekali lagi ‘afwan kalau tersinggung.

Baca Juga:

Posted on 19 Februari 2011, in Aqidah, Ikhtilaf. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s