Category Archives: Ushulul Fiqh

Madzhab Sahabat Lebih Benar Daripada Madzhab Empat?

Pengertian

Madzhab Sahabat, biasa disebut juga Qaul (perkataan) Sahabat adalah pendapat-pendapat Shahabat secara perorangan dalam masalah-masalah Ijtihad.

Madzhab sahabat berbeda dengan ijma’ sahabat yakni kesepakatan sahabat atas hukum suatu peristiwa (dan) bahwa hukum tersebut merupakan hukum syara.

Kehujjahan

Madzhab sahabat bukanlah dalil syara’ yang menjadi hujjah/dasar dalam menghukumi sesuatu, inilah pendapat jumhur Asyariyah, Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam madzhabnya (Syafi’iyah) juga Abul Hasan Al-Kharha dari kalangan Hanafiyah, ini pula yang ditabanni dalam Hizbut Tahrir[1], alasannya:

Read the rest of this entry

Ikut Pendapat Imam Madzhab atau Ikut Hadits Shahih?

 

Saat pendapat Imam Madzhab bertentangan dengan hadits shahih?, manakah yang harus diamalkan?.

Mungkin bagi sebagian kalangan hal ini akan dijawab dengan sangat gampang, “ya pasti ikut hadist shahih lah, kan para imam madzhab sendiri menyuruh begitu, Imam as Syafi’i misalnya menyatakan:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ماقلت

Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, maka katakanlah (beramalah) dengan sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkanlah apa yang telah kukatakan.”[1]

Read the rest of this entry

Memahami & Menyikapi Perbedaan Pendapat (Ikhtilaf)

Oleh: M. Taufik N.T

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) merupakan hal yang pasti terjadi, bahkan hal ini juga terjadi dikalangan sahabat pada masa Rasulullah saw. masih hidup, seperti perbedaan pendapat saat Rasulullah memerintahkan sahabat pergi ke bani Quraidhoh, beliau mengatakan:

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

"Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar keculi di perkampungan Bani Quraizhah." Lalu tibalah waktu shalat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata, ‘Kami tidak akan shalat kecuali telah sampai tujuan’, dan sebagian lain berkata, ‘Bahkan kami akan melaksanakan shalat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian’. Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi saw, dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka." (HR. Bukhory dari Ibnu ‘Umar r.a)

Read the rest of this entry

Khabar Ahad dalam Pandangan Ulama Ushul

Oleh : M. Taufik N.T

Walaupun sebenarnya perbedaan pandangan tentang khabar ahad ini sudah dibahas oleh banyak ‘ulama terdahulu, namun sampai sekarang masih ada sebagian da’i yang sering melontarkan tuduhan sesat kepada sesama muslim gara-gara perbedaan pandangan tentang hal ini. Kalau ‘ulama – ulama dulu mereka bisa saling memahami perbedaan ini, mereka mengedepankan hujjah dan memahami fakta/maksud dari orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Berbeda dengan sekarang seolah – olah mereka menutup mata akan adanya perbedaan ini, tanpa mau mengkaji benar-benar apa sebenarnya maksud dari orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Akibatnya mereka menuduhkan apa yang tidak ada faktanya pada orang yang dituduh.

Read the rest of this entry

Yang Berhak Menentukan Hukum (Al Haakim)

Maksud dari dikeluarkannya suatu hukum atas suatu perbuatan adalah agar manusia bisa menentukan  sikaspnya atas suatu perbuatan, apakah dia akan mengerjakannya atau akan meninggalkannya, atau memilih (salah satu) diantara keduanya. Begitu pula atas suatu benda, apakah akan mengambilnya atau meninggalkannya, atau akan memilih (salah satu) diantara keduanya.

Semuanya tergantung pada pandangan manusia terhadap sesuatu;  apakah perkara tersebut baik atau buruk;  atau tidak baik dan juga tidak buruk.

Berdasarkan hal ini maka obyek pengeluaran suatu hukum atas perbuatan atau benda adalah menetapkan hasan (baik) dan qabih (buruk)nya suatu perbuatan atau benda. Penetapan tersebut bisa ditinjau dari tiga aspek, yaitu:

Read the rest of this entry

Khalifah Umar & Utsman Merubah Hukum Islam?

Oleh: M. Taufik N.T

Banyak kekaburan dan kekeliruan yang mengotori wajah sejarah Islam yang murni. Ini merupakan hasil usaha yang dilakukan banyak pihak yang memusuhi Islam agar Islam yang murni itu sampai ke generasi berikutnya dalam rupa yang buruk dan menjijikkan. Salah satu caranya melalui informasi dan buku-buku sejarah yang telah dipalsukan sesuai keinginan mereka. Sumber-sumber dan maklumat yang keliru inilah biasanya yang menjadi hidangan yang disajikan untuk makanan mental anak-anak Islam dari satu generasi ke satu generasi. Lebih parah lagi, pendidik-pendidik yang bertanggungjawab menghidangkan maklumat itu pula berperan tidak lebih hanya sebagai agen pengedar semata-mata, tanpa meneliti lebih lanjut mana yg benar dan mana yang palsu, mana yang obat dan mana yang racun. Bagi mereka semuanya adalah benar. Hal ini terjadi disebabkan oleh:

Read the rest of this entry

Fardlu Kifayah dan Pelaksanaannya

Adalah suatu hal yang ma’lumun minad din bidz-dzarurah bahwa fardhu itu ada dua macam. Fardhu kifayah dan fardhu ain. Ditinjau dari sisi kewajiban, sebenarnya, fardhu kifayah maupun fardhu ain sama, sama-sama fardhu, meski dari sisi pelaksanaannya berbeda. Imam Saifuddin al-Amidi dalam kitab al-Ihkam fii Ushul al-Ahkam menegaskan[1]:

المسألة الثانية لا فرق عند أصحابنا بين واجب العين، والواجب على الكفاية من جهة الوجوب، لشمول حد الواجب لهما

"Masalah yang ke dua. Tidak ada perbedaan, menurut madzhab kita, antara wajib ain dan wajib kifayah dari sisi kewajiban; dikarenakan ketercakupan batas kewajiban untuk keduanya".

Read the rest of this entry