Minta Cerai Karena Dimadu (Poligami)

Poligami hukum asalnya boleh, walau bisa berubah jadi sunnah, makruh ataupun haram, namun demikian seorang wanita juga boleh menolak dipoligami, asalkan penolakannya atas dasar perasaan saja, bukan karena menolak hukum/syariat yang membolehkan seorang suami melakukan poligami, atau menganggap bahwa hukum dibolehkannya berpoligami merupakan bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Walaupun istri menolak, jika suami tetap saja berpoligami—karena poligami memang tidak disyaratkan harus ada izin istri—maka istri tidaklah boleh begitu saja minta cerai dengan alasan dipoligami. Rasulullah bersabda:

أيُّما امرأةٍ سأَلتْ زوجَها طلاقَها مِن غيرِ بأسٍ، فحرامٌ عليها رائحةُ الجنَّةِ

wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya wangi surga” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Dalam riwayat Ibnu Jarir, diakhir riwayat disebutkan

المختلعات من المنافقات

“wanita-wanita yang mengajukan cerai (tanpa alasan syar’i) termasuk wanita-wanita munafik”

Namun demikian, jika ternyata suami tidak bisa berlaku adil, atau mengabaikan hak-hak salah satu istrinya, atau terjadi pertentangan dan perselisihan diantara suami-istri, atau setelah dicoba beberapa lama istri tetap tidak sanggup menunaikan hak-hak suaminya karena telah hilang rasa cintanya, maka dalam kondisi demikian, tidak mengapa istri mengajukan tuntutan untuk bercerai dengan suaminya.

Dalam hal ini, suami hendaknya bersabar menghadapinya, itulah salah satu resiko berpoligami, dan hendaknya sebisa mungkin suami membujuk dan mempertahankan istri-istrinya, dengan cara-cara yang syar’i tentunya. Jika bisa berdamai dengan salah seorang dari suami istri mengorbankan sebagian haknya, maka perdamaian di saat seperti ini lebih baik daripada perceraian. Jika ternyata tidak berhasil, dan tetap ngotot minta cerai, maka kisah sahabat ini bisa menjadi salah satu solusi.

Adalah Rafi’ bin Khadij Al-Ansari r.a — salah seorang sahabat Nabi saw — mempunyai seorang istri, ketika istrinya telah tua, lalu ia menikah lagi dengan gadis yang masih muda hingga hatinya lebih cenderung kepada istri mudanya. Maka istri tuanya meminta diceraikan, lalu Rafi’ menceraikannya dengan talak satu, lalu dia memberi waktu kepada istrinya (untuk berfikir dalam masa iddah).

Ketika masa idah-nya akan habis, maka Rafi’ merujuknya kembali. Namun ternyata kecondongan hati Rafi’ tetap kepada istri mudanya (Rafi’ tentu masih adil dalam apa yang diwajibkan Allah, namun naluri dan gairah tentu akan berbeda terhadap yang tua dengan yang muda, ini alamiah, Rasulullah saja, dari sisi hati, lebih mencintai Aisyah dibanding istri yang lain). Maka istri tuanya meminta cerai lagi, dan Rafi’ menceraikannya (jadinya jatuh talak dua), dan memberi waktu kepada istrinya (untuk berfikir dalam masa iddah). Ketika masa idahnya yang kedua akan habis, maka Rafi’ merujuknya kembali. Namun ternyata kecondongan hati Rafi’ tetap kepada istri mudanya, sehingga istri tuanya meminta cerai lagi, maka kemudian Rafi’ berkata kepadanya,

مَا شئتِ، إِنَّمَا بَقِيَتْ لَكِ تَطْلِيقَةٌ وَاحِدَةٌ، فَإِنْ شئتِ استقررتِ عَلَى مَا تَريْن مِنَ الْأَثَرَةِ، وَإِنْ شِئْتِ فَارَقْتُكِ

“Saya hanya menuruti kemauanmu, sesungguhnya tinggal tersisa satu talak untukmu (yakni jika tertalak lagi maka tidak bisa rujuk lagi). Jika kamu mau, engkau bisa tetap menjadi istriku dengan perlakuan seperti yang engkau lihat sekarang, kalau engkau lebih suka kuceraikan, maka kamu aku ceraikan.”

Maka istri tua Rafi’ berkata,

لَا بَلْ أَسْتَقِرُّ عَلَى الْأَثَرَةِ

“Tidak, aku ingin tetap menjadi istrimu, sekalipun engkau lebih condong kepada istri mudamu.”

Maka Rafi’ tetap menjadikannya sebagai istri dengan persyaratan tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/429).

Jika suami tidak sanggup lagi berlaku adil dalam pembagian giliran bermalam, perdamaian bisa dilakukan dengan salah satu istri memberikan sebagian giliran bermalamnya kepada istri yang lain, dan ini tidak dipandang sebagai perbuatan dosa karena pihak istri rela tetap berstatus sebagai istrinya, sekalipun hari gilirannya diberikan kepada istri satunya. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya suami memberikan pilihan kepada istrinya, antara tetap menjadi istri dengan keterbatasan seperti itu, atau diceraikan. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga

Posted on 16 Juli 2018, in Pergaulan, Rumah Tangga and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s