Nikah Muhallil (Menikahi Istri yg Ditalak 3 Lalu Diceraikan Agar Kembali Ke Suami Sebelumnya)

Bagaimana hukumnya menikah dengan niat untuk membantu pasangan suami istri yang talaq tiga, setelah itu dicerai dan dikembalikan lagi ke suami yang pertama?

***

Seorang suami yang mentalak istrinya tiga kali maka dia tidak boleh ruju’ pada istrinya hingga ia dinikahi oleh suami lain, dan suami lain tersebut melakukan hubungan suami-istri dengan istri tersebut.

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِل لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.. (QS. Al-Baqarah : 230)

dari Aisyah bahwa ada seorang laki-laki menceraikan isterinya dengan talak tiga. Lalu wanita itu menikah dan diceraikan lagi [1]. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun ditanya, apakah wanita itu telah halal untuk suaminya yang pertama. Maka beliau menjawab:

لَا، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَهَا كَمَا ذَاقَ الْأَوَّلُ

“Tidak, hingga laki-laki kedua itu merasakan madunya sebagaimana laki-laki pertama telah merasakannya.” (HR. al Bukhory)

Wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya, suami tersebut tidak bisa menikahinya lagi kecuali dengan 5 syarat[2]:

  1. Dilakukan setelah masa iddah dari suami pertama selesai.
  2. Menikah dengan lelaki lain dalam pernihakan yang sah
  3. Suami yang baru ini melakukan jima’ secara hakiki pada ‘tempatnya’.
  4. Suami yang baru ini menceraikan istri tersebut
  5. Istri tersebut sudah habis masa iddah dari suami yang barunya.

Nikah Muhallil dan Hukumnya

Nikah tahlil/muhallil (penghalalan) adalah nikah yang dimaksudkan untuk menghalalkan bekas istri yang telah ditalak tiga kali.

Nikah muhalli bisa haram dan/ tidak sah jika:

  1. Disyaratkan dalam aqad nikahnya bahwa suami barunya tidak akan mencampurinya.
  2. Ditentukan waktu berlakunya saat akad, ini jadinya seperti nikah kontrak atau mut’ah yang haram.
  3. Dalam aqad nikah dita’liq dengan: “jika kucampuri engkau, maka engkau tertalak tiga” sehingga otomatis suami barunya menalak tiga istri barunya ketika mencampurinya.[3]
  4. Dalam akad disebut bahwa dia akan ‘menghalalkan istri tersebut’ untuk dinikahi suami pertamanya.

Berkaitan dengan ini, at Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud berkata;

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحِلَّ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ- قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat al muhil (suami kedua) dan al muhallal lahu (suami pertama).” [4]

Abu Isa (Imam at Tirmidzi) berkata; “Ini merupakan hadits hasan sahih

Hanya saja jika tidak dinyatakan dalam akad, hanya diniatkan dalam hati bahwa dia akan segera menceraikan wanita tsb agar bisa menikah lagi dengan suami yang telah menalak tiga, maka hukumnya sah dalam pandangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, hanya saja Syafi’iyyah menyatakannya makruh, karena dalam masalah mu’amalah niat itu tidak berpengaruh terhadap sah/tidaknya.[5]

Dalam I’anatuth Thalibin (penjelasan kitab Fathul Mu’in), 3/321 dinyatakan:

)قوله: ولا مع تأقيت) معطوف على مع تعليق: أي ولا يصح النكاح

مع توقيته.

قال ع ش: أي حيث وقع ذلك في صلب العقد، أما لو توافقا عليه قبل ولم يتعرضا له في العقد لم يضر، لكن ينبغي كراهته.

(perkataannya: wa laa ma’a ta-qît), di athafkan kepada ma’a ta’lîq: maksudnya dan tidak sah nikah dengan penyebutan jangka waktu berlakunya nikah.

Berkata ع ش (yakni Syaikh ‘Ali bin Asy-Syaromilsy, wafat 1087 H): maksudnya ketika terjadi hal tersebut (penyebutan jangka waktu) pada ijab qobul (shalbul ‘aqd), adapun jika mereka berdua sepakat atas jangka waktu tersebut sebelum terjadinya akad dan tidak menyebutkannya dalam akad maka tidakla membahayakan (merusak) keabsahan nikah, akan tetapi hendaklah membenci hal tersebut (makruh).

Oleh karena itu nikah dengan niat tahlil, yakni hanya niat, tidak disebut pada saat ijab qobul, dan tidak ada ta’liq untuk tahlil adalah seperti pernikahan biasa, yang berlaku selamanya jika suami kedua ternyata berubah pikiran dan tidak jadi menceraikan wanita tersebut.

Hanya saja madzhab Hanbali dan Maliki tetap menganggap nikah tahlil adalah tidak sah, walaupun tahlil itu hanya sekedar niat tanpa disebut di akad, dengan alasan saddu adz dzaro’i’ (menutup pintu kerusakan)  [6]. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]

Baca Juga:


[1] Dalam riwayat muslim disebutkan, قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا (sebelum wanita tersebut ‘dicampurinya’)

[2] Mausu’ah fiqhiyyah, merukuk ke:

كِفَايَة الأَْخْيَار 2 / 109، وَالْحَاوِي الْكَبِير للماوردي 11 / 455، وَالْمُغْنِي لاِبْن قُدَامَة 6 / 646، وَالشَّرْح الصَّغِير 2 / 415 وَمَا بَعْدَهَا، وَابْن عَابِدِينَ 2 / 537 وَمَا بَعْدَهَا

[3] Ini pandangan Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, serta Abu Yusuf dari Hanafiyyah. Madzhab hanafi memandang nikahnya sah, hanya saja syaratnya tidak berlaku.

[4] وَقَدْ أَوَّل الْحَنَفِيَّةُ اللَّعْنَ الْوَارِدَ فِي شَأْنِ الْمُحَلِّل بِتَأْوِيلاَتٍ أُخْرَى مِنْهَا: أَنَّ اللَّعْنَ عَلَى مَنْ شَرَطَ الأَْجْرَ عَلَى التَّحْلِيل، وَقَال ابْنُ عَابِدِينَ: وَاللَّعْنُ عَلَى هَذَا الْحَمْل أَظْهَرُ، لأَِنَّهُ كَأَخْذِ الأُْجْرَةِ عَلَى عَسْبِ التَّيْسِ وَهُوَ حَرَامٌ، وَيُقَرِّبُهُ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَمَّى الْمُحَلِّل بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ.

[5] الزَّوَاجُ بِقَصْدِ التَّحْلِيل:

11 – ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الزَّوَاجَ بِقَصْدِ التَّحْلِيل – مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ فِي الْعَقْدِ – صَحِيحٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَتَحِل الْمَرْأَةُ بِوَطْءِ الزَّوْجِ الثَّانِي لِلأَْوَّل؛ لأَِنَّ النِّيَّةَ بِمُجَرَّدِهَا فِي الْمُعَامَلاَتِ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ، فَوَقَعَ الزَّوَاجُ صَحِيحًا لِتَوَافُرِ شَرَائِطِ الصِّحَّةِ فِي الْعَقْدِ، وَتَحِل لِلأَْوَّل، كَمَا لَوْ نَوَيَا التَّأْقِيتَ وَسَائِرَ الْمَعَانِي الْفَاسِدَةِ.

[6] وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ الزَّوَاجَ بِقَصْدِ التَّحْلِيل – وَلَوْ بِدُونِ شَرْطٍ فِي الْعَقْدِ – بَاطِلٌ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَوَاطَأَ الْعَاقِدَانِ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا ذُكِرَ قَبْل الْعَقْدِ، ثُمَّ عُقِدَ الزَّوَاجُ بِذَلِكَ الْقَصْدِ، وَلاَ تَحِل الْمَرْأَةُ بِهِ لِزَوْجِهَا الأَْوَّل، عَمَلاً بِقَاعِدَةِ سَدِّ الذَّرَائِعِ. وَلِحَدِيثِ: لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّل وَالْمُحَلَّل لَهُ

Iklan

Posted on 11 April 2016, in Ikhtilaf, Pergaulan, Rumah Tangga, Syari'ah and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. apakah laknatnya tetap apa hilang jiga akadnya sah
    .saya hanya pokus pada hadist laknat alloh bagu muhalil dan muhalilah

    Suka

  2. Rita supriatni

    Asallamu’alikum pak ustad. Saya mau bertanya. Saya pernah menikahi seorang duda . Dan saya berpacaran selama 4 bulan lalu saya menikah. Dan setelah saya menikah dengan laki laki duda itu sya mengandung putri pertama saya. Dan setelah kandungan saya menginjak 8 bulan ternyata suami saya diam diam menjalin hub lagi dengan mantan istrinya diam diam .lalu saya mengetahui nya . Dan saya minta penjelasan. Tpi dia tdak mau menjelaskan .entah krna dia kesepian lalu dia melakukan hub itu krna waktu itu posisi saya sedang hamil di kampung dan dia di jkrta . Entah krna dia berat kedua duanya saya juga tidak mengerti. Intinya setelah saya tau dia diam diam menjalin hub lg dengan mantan istrinya saya tdak terima. Karna dlu saya menikah dengan laki laki ini posisi bukan lgi suaminya itu perempuan. Bahkan perempuan itu pun tau bahwa mantan suami nya menikah dengan saya .ketika berpacaran pun mantan istrinya tau tpi entah mengapa ketika saya menikah dengan mantan suami nya itu dia malah melakukan hub ngan gelap di belakang saya. Dan saya tdak terima saya minta suami nya memilih salah satu dri kita . Tpi suami saya tdak mau memilih. Salah satu dri kita intinya dia berat kesana berat ke saya tpi saya tdak terima . Apa itu hukum nya pak ustad mohon berikan penjelasan supaya saya tau hukum agama dan aturan agama.. makasih

    Suka

    • Wa’alaikumussalaam…
      1) Pacaran sebelum menikah itu kesalahan, hendakya memohon ampun kepada Allah
      2) Suami menjalin hubungan dengan mantan istri, jika tanpa ikatan nikah, itu juga kesalahan, sampiyan harusnya berupaya agar suami tidak demikian, baik menasehati langsung atau tidak.
      3) Jika suami menikahi lagi mantan istrinya dan sah (bukan talak tiga lalu langsung nikah lagi), maka bersabarlah ketika dipoligami oleh suami sampiyan, yang perlu dilakukan adalah bagaimana menjadikan suaminya menjadi orang shalih, adil membagi nafkah dan giliran bermalam diantara istri-istrinya. Islam melarang seorang istri menyuruh suami menceraikan madunya. Namun meminta cerai atau khulu’ dibolehkan jika alasannya sekira tidak sanggup lagi memenuhi hak suami, namun hal ini tidak dianjurkan. Allaahu A’lam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s