Hukum Nikah dengan Syarat Tidak Dipoligami

Sahkah pernikahan jika istri mensyaratkan nanti tidak dipoligami (dimadu)? Jika itu sah, lalu suami ternyata berpoligami, bagaimana hukumnya?

***

Dalam pandangan madzhab Syafi’i, akad nikah tersebut sah, namun syarat tersebut rusak, dan merusak mahar yang disebutkan, sehingga mahar wanita tersebut menjadi mahar mitsli (mahar yang sepadan dengan umumnya wanita pada ‘kelas’nya).

Syaikh Wahbah az Zuhaili, dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh menyatakan:

“Adapun syarat-syarat yang rusak: adalah yang berlawanan dengan tuntutan akad nikah namun tidak merusak pada maksudnya yang asal: yaitu jimak. Seperti syarat (agar) (1) suami tidak menikah lagi (dengan wanita lain), atau (2) tidak memberi nafkah kepada istri, atau (3) suami tidak melakukan perjalanan dengan istri atau (4) suami tidak mengajak pindah istri dari negerinya. Hukumnya: Nikahnya sah karena tidak merusak maksud nikah yaitu jimak atau bersenang-senang, sedangkan syaratnya rusak karena bertentangan dengan tuntutan akad baik menguntungkan istri seperti contoh pertama, ketiga dan keempat, atau merugikan istri seperti contoh kedua. Berdasarkan hadits Nabi “Setiap syarat yang tidak ada dalam Al-Quran maka itu batal” (hadits muttafaq ‘alaih dari Barirah). Mahar juga rusak. Karena syarat apabila menguntungkan bagi istri maka ia tidak rela dengan mahar yang disebut. Apabila merugikan istri, maka suami tidak rela mengganti mahar yang disebut kecuali ketika selamatnya perkara yang disyaratkan.”[1]

Berbeda halnya jika syarat yang diberikan merusak maksud pernikahan; yakni jimak, maka bukan hanya syaratnya yang rusak, namun akadnya juga batal, sehingga tidak bisa dianggap telah terjadi pernikahan. Misalnya Y mau dinikahi oleh X dengan syarat X tidak menggaulinya, atau syaratnya X hanya menggauli satu kali saja dalam setahun, atau mensyaratkan agar X hanya menggaulinya saat malam saja… maka batal nikahnya.[2]

Berbeda dengan madzhab Syafi’i, madzhab Hanbali membolehkan persyaratan seperti ini, dan wajib bagi sang suami untuk menunaikan persyaratan tersebut[3], sementara kalangan Hanafiyah membolehkan persyaratan ini dengan kompensasi maharnya dikurangi, dan wajib bagi sang suami untuk menunaikan persayaratan ini, jika sang suami melanggarnya dikemudian hari maka sang wanita mendapatakan mahar al-mitsl, dipihak lain, madzhab Maliki memandang persyaratan ini merupakan persyaratan yang makruh.

Sebagai catatan yang harus diperhatikan bagi para wanita, jika mengambil pendapat selain madzhab Syafi’i, kalaupun mereka mensyaratkan tidak mau dimadu, namun jangan sampai terbetik dalam hati kebencian terhadap syari’at Islam tentang poligami ini, karena Allah membuat hukum itu justru untuk memberikan solusi bagi manusia, bayangkan apa yang dirasakan para wanita jika masing-masing lelaki hanya beristri satu, sementara dia ‘tidak kebagian’ suami, sementara keluarga dan teman-temannya sering bertanya “kapan ‘undangan’nya?”, terbayang tidak ?.

Sebaliknya bagi para suami, nambah istri itu berarti nambah amanah, amanah yang kelak diminta pertanggungjawabannya didepan Allah, jika tidak sanggup menunaikannya, berlaku adil (dalam nafkah dan giliran bermalam), mendidik dan menjaganya kelak akan jadi sesalan. Allaahu A’lam.

Baca Juga:


[1] Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh, 9/49. Maktabah Syamilah, dengan penomoran otomatis:

ب ـ وأما الشروط الفاسدة: فهي التي تخالف مقتضى عقد النكاح ولم يخل بمقصوده الأصلي: وهو الوطء، كشرط ألا يتزوج عليها، أو ألا نفقة لها أو ألا يسافر بها، أوألا ينقلها من بلدها، وحكمها: أن الزواج يصح لعدم الإخلال بمقصوده وهو الوطء أو الاستمتاع، ويفسد الشرط لأنه يخالف مقتضى العقد، سواء أكان لها كالمثال الأول والثالث والرابع، أم عليها كالمثال الثاني، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل» ، ويفسد المهر أيضاً؛ لأن الشرط إن كان لها، فلم ترض بالمسمى وحده، وإن كان عليها فلم يرض الزوج ببدل المسمى إلا عند سلامة ما شرطه.

[2] Idem:

فإن أخل الشرط بمقصود الزواج الأصلي: كأن شرط ألا يطأها الزوج أصلاً، أو ألا يطأها إلا مرة واحدة مثلاً في السنة، أو شرطت المرأة ألا يطأها إلا ليلاً فقط أو إلا نهاراً فقط، أوشرط أن يطلقها ولو بعد الوطء، بطل الزواج؛ لأنه شرط ينافي مقصود العقد فأبطله.

[3] Jika akhirnya suami berpoligami maka istri punya hak khiyar (pilihan): apakah menggugurkan persyaratannya tersebut dan tetap menerima suaminya, atau istri memutuskan ikatan pernikahan.

Iklan

Posted on 31 Januari 2017, in Pergaulan, Rumah Tangga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s