Sahkah Berwudhu dari Ember Kecil yang Terpercik Air Bekas Wudhu?

Dalam literatur fiqh Madzhab Syafi’i, air musta’mal memang tidak sah digunakan untuk bersuci. Air Musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau najis yang tidak mengalami perubahan didalamnya. Dalam kitab I’ânatut Thôlibîn, I/37[1], ada empat syarat air bisa dikatakan musta’mal:

  1. Volume air sedikit (yakni kurang dari dua qullah/500 kati Baghdad, +- 216 liter),
  2. Sudah digunakan dalam rukun wajib thoharoh,
  3. Sudah terpisah dari anggota tubuh,
  4. Tidak ada niat sekedar nyiduk saja ketika memasukkan tangan ke dalam wadah air ataupun ketika anggota tubuh menyentuh air.

Adapun jika air muthlak terpercik air musta’mal, maka terdapat beberapa pendapat ulama sebagai berikut[2]:

(1) Bila diperkirakan pencampurannya mengakibatkan perubahan[3] maka tidak dapat dipakai mensucikan lagi, bila tidak mengalami perubahan maka masih bisa dipakai mensucikan.

(2) Bila air musta’mal yang mencampuri lebih sedikit maka masih bisa dipakai mensucikan lagi, bila lebih banyak atau sepadan maka tidak bisa dipakai mensucikan lagi

(3) Bila air musta’mal yang mencampuri banyak dan membuat perubahan maka tidak dapat digunakan bersuci, bila yang mencamurinya sedikit maka masih bisa dipakai bersuci.

Oleh sebab itu, jika air dalam ember sekedar kecipratan sedikit saja, sekira tidak merubah air dalam ember maka air dalam ember tersebut tetap bisa dipakai bersuci. Allaahu A’lam.

Baca Juga:


[1] واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه.فلو نوى الغسل من الجنابة ثم وضع كفه في ماء قليل ولم ينو الاغتراف صار مستعملا.وفي الوضوء بعد غسل الوجه وعند إرادة غسل اليدين، فلو لم ينو الاغتراف حينئذ صار الماء مستعملا.

[2] وَقَالَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ: إنْ كَانَ الْأَكْثَرُ الْمُسْتَعْمَلَ مُنِعَ، وَإِنْ كَانَ الْأَقَلُّ لَمْ يُمْنَعْ (المغني : ج 1 ص 14)

فَرْعٌ – إِذَا اخْتَلَطَ بِالْمَاءِ الْكَثِيرِ أَوِ الْقَلِيلِ مَائِعٌ يُوَافِقُهُ فِي الصِّفَاتِ، كَمَاءِ الْوَرْدِ الْمُنْقَطِعِ الرَّائِحَةِ، وَمَاءِ الشَّجَرِ، وَالْمَاءِ الْمُسْتَعْمَلِ، فَوَجْهَانِ. أَصَحُّهُمَا: إِنْ كَانَ الْمَائِعُ قَدْرًا لَوْ خَالَفَ الْمَاءَ فِي طَعْمٍ أَوْ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ لَتَغَيَّرَ التَّغَيُّرَ الْمُؤَثِّرَ، سَلَبَ الطَّهُورِيَّةَ، وَإِنْ كَانَ لَا يُؤَثِّرُ مَعَ تَقْدِيرِ الْمُخَالِفَةِ، لَمْ يَسْلُبْ. وَالثَّانِي: إِنْ كَانَ الْمَائِعُ أَقَلَّ مِنَ الْمَاءِ، لَمْ يَسْلُبْ. وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْهُ أَوْ مِثْلَهُ، سَلَبَ. وَحَيْثُ لَمْ يَسْلُبْ، فَالصَّحِيحُ أَنَّهُ يَسْتَعْمِلُ الْجَمِيعَ. (روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 12))

[3] diandaikan air yang nyiprat itu misalnya berbau atau berwarna atau berasa, jika air di ember setelah kecipratan akan terjadi perubahan bau atau warna atau rasanya sesuai dg air yang menciprati, maka dihitung musta’mal, sehingga tidak bisa dipakai bersuci dalam madzhab Syafi’i.

Posted on 7 Maret 2016, in Ibadah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s