Penegakan Syari’ah: Madzhab Mana?

Dalam berbagai kesempatan, sering penulis ditanya, “kalau khilafah tegak dan mau menerapkan syari’ah Islam, madzhab mana yang dipakai?”

Memang ada sebagian kaum muslimin yang ‘terkesan’ ngotot mau memaksakan madzhabnya kepada yang berbeda pendapat dengannya. Hanya saja, khalifah yang bijak tentunya tidak akan mengadopsi salah satu madzhab di antara madzhab-madzhab fiqh yang ada untuk diterapkan kepada seluruh rakyatnya yang memiliki pemahaman berbeda-beda.

Urusan kebermadzhaban diserahkan kepada masing-masing individu, atau diserahkan kepada para qadhi (hakim) di wilayah masing-masing. Wilayah yang dihuni mayoritas bermadzhab Syafi’iy akan diangkat qadhi dari madzhab Syafi’i untuk mereka, demikian pula wilayah-wilayah yang lain. Namun jika ada wilayah yang tidak didominasi suatu madzhab tertentu, maka diwajibkan tunduk kepada qadhi yang dipilih oleh khalifah untuk mereka. Berdasarkan kaidah:

حكم الحاكم في مسائل الاجتهاد يرفع الخلاف

Ketetapan Al Hâkim dalam masalah ijtihad mengangkat perselisihan[1]

**

Usulan menyamakan madzhab juga pernah dilontarkan di masa khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dikatakan pada beliau:

لو جمعتَ الناسَ على شيء

“andai saja engkau menyatukan manusia atas sesuatu (madzhab)”

Maka beliau mengatakan

مَا يَسُرُّنِي أَنَّهُمْ لَمْ يَخْتَلِفُوا، قَالَ: ثُمَّ كَتَبَ إِلَى الْآفَاقِ وَإِلَى الْأَمْصَارِ: لِيَقْضِ كُلُّ قَوْمٍ، بِمَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ فُقَهَاؤُهُمْ

Tidaklah menggembirakan hatiku (kalau) mereka tidak berbeda pendapat, (perowi) berkata: kemudian dia (‘Umar bin Abdul Aziz) menulis ke berbagai wilayah dan kota: “hendaklah setiap kaum memutuskan dengan apa-apa yang disepakati oleh ahli fiqh mereka” (Sunan Ad Darimi, sanadnya shahih menurut tahqiq Husain Salim Asad ad Dârâny, Maktabah Syamilah)

Khalifah Abu Ja’far al Manshur bahkan pernah meminta izin kepada Imam Malik bin Anas untuk menyeragamkan kaum muslimin dengan kitab muwaththa’nya, beliau (Imam Malik) menolaknya, dan menasehati khalifah agar jangan melakukannya:

عن محمد بن عمر قال : سمعت مالك بن أنس يقول : لما حج أبو جعفر المنصور دعاني فدخلتُ عليه فحدَّثـتُه وسألني فأجبتُه ، فقال : إني قد عزمتُ أن آمر بكتبك هذه التي وضعتَها – يعني الموطأ – فينسخ نسخا ثم أبعث إلى كل مصر من أمصار المسلمين منها نسخة وآمرهم أن يعملوا بما فيها لا يتعدون إلى غيره ، ويدعون ما سوى ذلك من هذا العلم المحدث ؛ فإني رأيت أصل العلم رواية أهل المدينة وعلمهم قال : فقلت : يا أمير المؤمنين ، لا تفعل فإن الناس قد سبقت إليهم أقاويل وسمعوا أحاديث ورووا روايات وأخذ كل قوم بما سبق إليهم وعملوا به ودانوا به من اختلاف الناس أصحاب رسول الله وغيرهم ، وإن ردهم عما اعتقدوه شديد ، فدع الناس وما هم عليه وما اختار كل أهل بلد لأنفسهم ، فقال : لعمري لو طَاوَعْتَنِيْ على ذلك لأَمَرْتُ به وهذا غاية في الإنصاف لمن فهم[2] .

Baca Juga:

[1] أنوار البروق في أنواع الفروق , 3/334, المنثور في القواعد

[2] جامع بيان العلم وفضله لابن عبد البر – ج 2 / ص 158

Posted on 9 Januari 2015, in Ikhtilaf, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s