Khutbah Jum’at – Menghilangkan Fanatisme Kesukuan

Salah satu pemahaman yang menyatu dalam diri orang-orang Arab jahiliyyah adalah fanatisme kesukuan. Mereka akan mempertaruhkan hidupnya untuk membela suku mereka, tanpa melihat pokok permasalahan, tanpa melihat benar atau salah.

Salah satu petikan sya’ir yang cukup terkenal dikalangan mereka, sebagaimana pernah didendangkan oleh Duroid bin Shimmah:

وَهَلْ أَنَا إِلَّا مِنْ غَزِيَّةَ إِنْ غَوَتْ*** غَوَيْتُ وَإِنْ تَرْشُدْ غَزِيَّةُ أَرْشُدِ

“Aku ini tiada lain adalah warga suku Ghaziyyah, apabila mereka sesat, aku (ikut) sesat. Kalau suku Ghaziyyah benar, aku pun turut benar.” (Nasywatut Tharbi fy Târîkhi Jâhiliyyatil ‘Arab, hal. 510)

Tidak heran jika peperangan bisa terjadi hanya karena hal yang sepele. Perang Basus (Harb al-Basus), antara Bani Taghlib dan Bani Bakr yang berlangsung sekitar 40 tahun (dari 494-534 M) hanya dipicu terbunuhnya unta milik seorang Bani Bakr. Suku Aus dan Khazraj di Yastrib (Madinah) juga terlibat dalam peperangan turun-temurun selama 120 tahun karena fanatisme kesukuan, begitu juga Suku Quraisy dan sekutunya, Bani Kinanah, berperang selama empat tahun dengan Suku Hawazin dalam perang Fijar[1].

Ketika Islam datang, suku-suku tersebut tetap ada, hanya saja fanatisme (ashobiyyah) kesukuan/kebangsaan berupaya dibuang jauh-jauh dari diri mereka. Berkaitan dengan ini, Rasulullah bersabda:

دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“tinggalkanlah fanatisme kesukuan itu, karena fanatisme kesukuan itu busuk” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist lain Rasulullah bersabda:

وَمَنْ قَاتَل تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِل فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ [2]

Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau menyeru kepada kefanatikan atau menolong (berperang) karena kefanatikan kemudian dia terbunuh, maka matinya seperti mati jahiliyah. (HR. Muslim).

Bintu Watsilah Ibnul Asqa’ pernah mendengar Bapaknya bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْعَصَبِيَّةُ؟ قَالَ: أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

“Wahai Rasulullah, Ashabiyah (fanatik kesukuan) itu apa?” beliau menjawab: “Engkau tolong kaummu dalam kezhaliman.” (HR. Abu Dawud)

Loyalitas (al Wala’): Hanya Untuk Kebenaran

Dalam pandangan Islam, wala’ (loyalitas) hanya diberikan untuk kebenaran, bukan untuk suku, keluarga, madzhab, kelompok, kebangsaan maupun yang lainnya. Jika anggota keluarga kita, anggota suku kita, bangsa kita, atau bahkan semua manusia berbuat dzalim, maka kita dituntut untuk meluruskannya dan mengingkari kedzaliman tersebut siapapun pelakunya dan atas nama apapun kedzaliman itu dilakukan. Rasulullah saw bersabda:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً[3] تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

“Janganlah kalian menjadi ‘imma’ah, (yakni) kalian mengatakan jika manusia berbuat baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian (hendaknya) juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim.” (HR. at Tirmidzi)

Syari’at Islam Menyelesaikan Sengketa

Syari’at Islam, telah menjamin keberlangsungan hidup manusia dengan mensyari’atkan hukum qishos, yakni luka dibalas luka, dan nyawa dibalas nyawa untuk pembunuhan yang disengaja, atau jika pihak korban bersedia bisa diganti dengan diyat (tebusan), atau dima’afkan sama sekali. Hukum ini berfungsi sebagai pencegahan sekaligus penghapusan dosa. Allah swt berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (Al Baqarah 179)

Imam as Suyuthi, dalam Tafsir Jalalain menjelaskan maksud ayat ini:

لِأَنَّ الْقَاتِل إذَا عَلِمَ أَنَّهُ يُقْتَل ارْتَدَعَ، فَأَحْيَا نَفْسه وَمَنْ أَرَادَ قَتْله

“karena jika seseorang yang akan membunuh itu mengetahui bahwa ia akan dibunuh pula, maka ia akan merasa takut lalu mengurungkan rencananya sehingga berarti ia telah memelihara nyawanya dan nyawa orang yang akan dibunuhnya tadi.”

Begitu juga jika dia nekat membunuh, lalu dia dikenai hukum bunuh, atau dimaafkan ahli warisnya maka juga akan menghindarkan terjadinya balas dendam berupa pembunuhan semisal, atau bahkan melibatkan banyak korban dari kedua belah pihak.

Lebih dari itu, hukuman yang dijatuhkan ini akan menggugurkan siksaan di akhirat terhadap pelaku kejahatan, jika dia bertaubat dan menerima dengan ikhlas.

Diriwayatkan Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Kalian berbai’at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak membuat-buat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, dan tidak bermaksiat dalam kebaikan. Siapa saja yang menepatinya maka Allah akan menyediakan pahala; dan siapa saja yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia, maka hukuman itu akan menjadi penebus baginya. Dan siapa saja yang melangggarnya kemudian Allah menutupinya (tidak sempat dihukum di dunia), maka urusan itu diserahkan kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah berkehendak, maka Dia akan memaafkannya.”

Oleh karena itu, tidak aneh jika kita jumpai dalam sejarah, kaum muslimin yang berbondong-bondong meminta hukuman dunia, walaupun hanya dia dan Allah sajalah yang mengetahui perbuatan dosa yang dilakukannya. Mereka rela menahan sakitnya cambuk, bahkan hukuman mati, demi mendapatkan keridloan Allah di akhirat.

Sebaliknya, manusia dengan kekurangan akalnya kadang menganggap hukuman qishos (mati) itu kejam, namun fakta menunjukkan justru tanpa diberlakukannya hukum Islam kekejaman dan pertumpahan darah terjadi tiap hari. Di Jawa Timur saja, dalam kurun waktu satu tahun bisa terjadi 1357 kasus pembunuhan (hampir 4 orang per hari)[4]. Belum termasuk yang bunuh diri dan over dosis obat terlarang yang jumlahnya jauh lebih besar. Sungguh, tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang berakal. Allaahu A’lam.[ M. Taufik NT]

download versi pdf selengkapnya di sini: Khutbah Jum’at – Menghilangkan Fanatisme Kesukuan

Baca Juga:

[1] Lihat Akar Nasionalisme di Dunia Islam, hlm. 14, dengan sedikit koreksi.

[2] شرح محمد فؤاد عبد الباقي : (عمية) هي بضم العين وكسرها لغتان مشهورتان والميم مكسورة والياء مشددة أيضا قالوا هي الأمر الأعمى لا يستبين وجهه كذا قاله أحمد بن حنبل والجمهور قال إسحاق بن رهويه هذا كتقاتل القوم للعصبية

(لعصبة) عصبة الرجل أقاربه من جهة الأب سموا بذلك لأنهم يعصبونه ويعتصب بهم أي يحيطون به ويشتد بهم والمعنى يغضب ويقاتل ويدعو غيره كذلك لا لنصرة الدين والحق بل لمحض التعصب لقومه ولهواه كما يقاتل أهل الجاهلية فإنهم إنما كانوا يقاتلون لمحض العصبية (فقتلة) خبر لمبتدأ محذف أي فقتلته كقتلة أهل الجاهلية

[3] والإمعة كما قال أهل اللغة: هو الرجل الذي يكون لضعف رأيه مع كل أحد، المهم ألا يستقل برأي وألا يخالف من فوقه وإن اعتقد بطلان مذهبه

[4] TribunNews.com, 31 Des 2012.

Posted on 3 Maret 2016, in Khutbah Jum'at and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s