Apa Hukumnya Jual Beli Lelang?

Jual beli lelang dikenal dalam kitab-kitab fiqh disebut dengan istilah bai’ al muzâyadah (بيع المزايدة). Yang didefinisikan sebagai:

أَنْ يُنَادَى عَلَى السِّلْعَةِ وَيَزِيدُ النَّاسُ فِيهَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ حَتَّى تَقِفَ عَلَى آخِرِ زَائِدٍ فِيهَا فَيَأْخُذَهَا

Menyeru (manusia) untuk membeli suatu barang, dimana orang-orang saling menambahi (harga barang), hingga berhenti pada penawar terakhir, hingga penawar terakhir itulah yang (berhak) mengambil (membeli)nya.[1]

Hukum Jual Beli Lelang

Jumhur (mayoritas ulama) membolehkan jual beli lelang[2]. Sedangkan an Nakha’i memakruhkannya secara mutlak, al Hasan al Bashri, al Awzâ’i dan Ishaq bin Rahuwayh membolehkan lelang untuk barang rampasan perang dan harta warisan, selain itu mereka (al Hasan al Bashri, al Awzâ’i dan Ishaq bin Rahuwayh) memakruhkannya.

Alasan yang membolehkan adalah perbuatan Rasulullah saw yang pernah melelang kain dan cangkir milik seorang lelaki Anshar yang sebelumnya meminta-minta kepada beliau. Beliau menyatakan:

مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ فَقَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ قَالَ مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا الْأَنْصَارِيَّ

”Siapa yang mau membeli barang ini?” Salah seorang sahabat beliau menjawab,”Saya mau membelinya dengan harga satu dirham.” Nabi saw bertanya lagi,”Ada yang mau membelinya dengan harga lebih mahal?” Nabi saw menawarkannya hingga dua atau tiga kali. Seorang lelaki berkata,”Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.” Maka Nabi saw memberikan dua barang itu kepadanya dan beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut… (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa`i, dan at-Tirmidzi).

Adapun yang memakruhkan jual beli lelang, berdalil dengan hadits dari Sufyan bin Wahb al Khaulâny bahwa dia berkata,

سَمِعْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ بَيْعِ الْمُزَايَدَةِ

Aku mendengar Rasulullah saw melarang jual beli lelang. (HR Al-Bazzar).

Namun hadits tersebut di dha’ifkan oleh Ibnu Hajar al Asqalany dalam Fathul Bâry (4/354)

Sedangkan yang membolehkan lelang untuk rampasan perang atau harta warisan, tanpa kemakruhan, berdalil dengan:

عن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : نَهَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ أَحَدُكُمْ عَلَى بَيْعِ أَحَدٍ حَتَّى يَذَرَ إِلاَّ الْغَنَائِمَ وَالْمَوَارِيثَ

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAw melarang seseorang di antara kalian membeli sesuatu yang sedang dibeli oleh saudaranya hingga dia meninggalkannya, kecuali rampasan perang dan waris. (HR. Ad Dâruquthni, dan Ibnu Jârud).

Jadi, jual beli lelang tidaklah haram, asalkan terpenuhi rukun dan syarat-syarat lain dalam jual beli. Allaahu A’lam. [M. Taufik NT]


Baca Juga:

[1] القوانين الفقهية ص 175، 262، وانظر فتح القدير 6 / 108 ط. دار إحياء التراث، والفتاوى الهندية 3 / 210، والدسوقي على شرح الدردير لمختصر خليل 3 / 159، ومغني المحتاج 2 / 37 (dalam mausuah al fiqhiyyah)

[2] بدائع الصنائع 5 / 222، وحاشية ابن عابدين 5 / 102، والبحر الرائق 6 / 108، وفتح القدير 6 / 108 ط. دار إحياء التراث، والمقدمات الممهدات لابن رشد 2 / 138، ومواهب الجليل 4 / 239، وميارة على التحفة 2 / 69، وشرح العمليات ص 319، وتحفة المحتاج 4 / 313، ونهاية المحتاج 3 / 468، ومغني المحتاج 2 / 37، وكشاف القناع 2 / 183، والمغني 4 / 236

Posted on 23 Mei 2015, in Ekonomi, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s