Hukum Uang Tanda Jadi Dalam Jual Beli Pesanan (Persekot)

Bagaimana hukum uang tanda jadi dalam jual beli pesanan?

Jawaban:

Dalam istilah fiqh dikenal istilah jual beli ‘arabun[1] (بَيْعُ الْعَرَبُونِ) yang didefinisikan sebagai:

أَنْ يَشْتَرِيَ السِّلْعَةَ، وَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ دِرْهَمًا أَوْ أَكْثَرَ، عَلَى أَنَّهُ إِنْ أَخَذَ السِّلْعَةَ، احْتَسَبَ بِهِ مِنَ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَأْخُذْهَا فَهُوَ لِلْبَائِعِ[2]

Seseorang membeli sesuatu dengan membayar satu dirham atau lebih (persekot) kepada penjual. Jika calon pembeli jadi mengambil barang maka uang tersebut dihitung termasuk harga pembayaran, namun jika calon pembeli tidak jadi maka uang tersebut menjadi milik penjual.

Hukum Jual Beli ‘Arabûn

Para ulama ahli fiqh berbeda pendapat dalam menghukumi jual beli ‘Arabûn.

Mayoritas ‘ulama madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, juga Abu al Khattâb dari madzhab Hambali, menyatakan jual beli seperti ini tidak sah, alasannya sabda Rasulullah saw:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ

Nabi saw telah melarang jual beli ‘ûrbân (HR. Abu Dawud, namun didha’ifkan al Hafidz Ibnu Hajar dalam at Talkhîs, 3/17, namun Imam as Syaukani merajihkan pendapat jumhur ini, dan menyatakan riwayat ini diriwayatkan dari berbagai jalur yang saling menguatkan[3]).

Alasan lainnya, karena memakan harta orang lain tanpa adanya ’iwadh (pengganti/kompensasi) yang sepadan dalam pandangan syariah, juga adanya unsur gharar dalam jual beli ‘urbân, yaitu karena masing-masing pihak, baik penjual ataupun pembeli-tidak mengetahui apakah trasaksi jual beli (yang telah disepakati) dapat berlangsung secara sempurna atau tidak.

Sedangkan madzhab Hambali menyatakan jual beli ini sah, alasannya antara lain riwayat bahwa Nâfi’ bin Hârits membelikan Umar ra rumah tahanan dari Sofyan bin Umayyah, kalau nanti ‘Umar tidak ridha sehingga tidak jadi beli, maka Sofyan mendapatkan uang sekian dan sekian, Jika nanti Umar ridha, maka jual beli diteruskan (dan harga disempurnakan). [4]

Jika calon pembeli menyatakan: “jangan kau jual barang ini kepada orang selain aku, ini uang satu dirham untuk engkau” jika kemudian terjadi jual beli dengan akad baru, dan uang satu dirham tersebut dihitung termasuk harga pembelian, maka hukumnya sah. Namun demikian jika tidak jadi, maka penjual tidak berhak mengambil satu dirham tersebut.[5]

Hanya saja pembahasan di atas itu untuk jual beli yang barangnya sudah ada. Untuk jual beli yang barangnya belum ada, masuk dalam kategori istishna’ di mana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang sah atau tidaknya akad istishna’. Allâhu A’lam. [M.Taufik NT]

 
Baca Juga:

[1] Disebut juga jual beli ‘urbûn, atau ‘urbân, atau ‘arabân, hanya saja penyebutan ‘arabân tidak digunakan oleh orang arab. (حاشية القليوبي على شرح المحلي 2 / 186)

[2] الشرح الكبير في ذيل المغني 4 / 58، وانظر كشاف القناع 3 / 195، وقارن بالشرح الكبير للدردير 3 / 63، وشرح المحلي على المنهاج 2 / 186، وتحفة المحتاج 4 / 322 وبالتعريف الذي في المصباح المنير في المادة المذكورة نفسها

[3] نيل الأوطار 5 / 153 و 154

[4] وَمَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ جَوَازُ هَذِهِ الصُّورَةِ مِنَ الْبُيُوعِ.

وَصَرَّحُوا بِأَنَّ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الأَْئِمَّةُ مِنْ عَدَمِ الْجَوَازِ، هُوَ الْقِيَاسُ، لَكِنْ قَالُوا: وَإِنَّمَا صَارَ أَحْمَدُ فِيهِ إِلَى مَا رُوِيَ عَنْ نَافِعِ بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّهُ اشْتَرَى لِعُمَرَ دَارَ السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ، فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ، وَإِلاَّ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا، قَال الأَْثْرَمُ: قُلْتُ لأَِحْمَدَ: تَذْهَبُ إِلَيْهِ؟ قَال: أَيَّ شَيْءٍ أَقُول؟ هَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.

[5] إِنْ دَفَعَ الْمُشْتَرِي إِلَى الْبَائِعِ دِرْهَمًا، وَقَال: لاَ تَبِعْ هَذِهِ السِّلْعَةَ لِغَيْرِي، وَإِنْ لَمْ أَشْتَرِهَا مِنْكَ فَهَذَا الدِّرْهَمُ لَكَ:

أفَإِنِ اشْتَرَاهَا بَعْدَ ذَلِكَ بِعَقْدٍ مُبْتَدَأٍ، وَاحْتَسَبَ الدِّرْهَمَ مِنَ الثَّمَنِ صَحَّ؛ لأَِنَّ الْبَيْعَ خَلاَ عَنِ الشَّرْطِ الْمُفْسِدِ.

وَيَحْتَمِل أَنَّ شِرَاءَ دَارِ السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ الَّذِي وَقَعَ لِعُمَرَ، كَانَ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ، فَيُحْمَل عَلَيْهِ، جَمْعًا بَيْنَ فِعْلِهِ وَبَيْنَ الْخَبَرِ وَمُوَافَقَةِ الْقِيَاسِ وَالأَْئِمَّةِ الْقَائِلِينَ بِفَسَادِ بَيْعِ الْعُرْبُونِ.

ب – وَإِنْ لَمْ يَشْتَرِ السِّلْعَةَ، لَمْ يَسْتَحِقَّ الْبَائِعُ الدِّرْهَمَ، لأَِنَّهُ يَأْخُذُهُ بِغَيْرِ عِوَضٍ، وَلِصَاحِبِهِ الرُّجُوعُ فِيهِ.

وَلاَ يَصِحُّ جَعْلُهُ عِوَضًا عَنِ انْتِظَارِهِ، وَتَأَخُّرِ بَيْعِهِ مِنْ أَجْلِهِ، لأَِنَّهُ لَوْ كَانَ عِوَضًا عَنْ ذَلِكَ، لَمَا جَازَ جَعْلُهُ مِنَ الثَّمَنِ فِي حَال الشِّرَاءِ، وَلأَِنَّ الاِنْتِظَارَ بِالْبَيْعِ لاَ تَجُوزُ الْمُعَاوَضَةُ عَنْهُ، وَلَوْ جَازَتْ لَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَعْلُومَ الْمِقْدَارِ، كَمَا فِي الإِْجَارَةِ – (الشرح الكبير في ذيل المغني 4 / 59)

Posted on 22 Mei 2015, in Ekonomi, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s