Jangan Jadi Bebek

Suatu ketika, anda memberikan sebuah saran kepada kawan anda. Kemudian dia mengikuti saran yang anda berikan. Belakangan hari, dia datang kembali kepada anda, protes! Saran anda malah bikin dia semakin susah, katanya seraya mengumpat anda dan saran anda.
Apa pendapat anda?

“Lho, apa salah saya? Bukankah saya hanya memberikan saran? Apakah saya pernah memaksa anda untuk melakukannya?” Jawab anda seraya masih kebingungan dengan kelakuan kawan anda itu.

Yap, mudah-mudahan anda dan saya sepakat, bahwa sikap kawan anda itulah justru yang aneh. Lebih tepatnya, kelakuan kawan anda itu menunjukkan bahwa dia sesungguhnya tidak memiliki sikap.

Pernah melihat sekawanan bebek yang berjalan berombongan. Ada anekdot yang menarik dari sahabat saya,
“coba kau tanya kepada bebek yang paling belakang, sebenarnya mau kemana dia?
Maka jawab dia ”maaf, mas, saya nggak tau, coba tanya bebek yang di depan”.
Tanya lagi yang di depan,”waduh, saya orang baru, saya sekedar ikut-ikutan saja. Tanya yang depan lagi aja, mas”
begitu terus, sampai yang paling depan.
Begitu ditanya kepada bebek paling depan, “Nggak tahu juga, saya sekedar mengikuti contoh dari yang dulu… dari dulu kami memang lewat jalan ini…”
nah, tahukah kau sebenarnya mau kemana kawanan bebek itu? Saya kemudian melihat ujung akhir dari jalan itu. Terpampang jelas di papan: tempat pemotongan bebek!”
Hahahaha….

Nah, karena kita bukan bebek, bukan pula beo yang sekedar meniru kata orang, bukan monyet yang mau-maunya jadi topeng monyet… kita manusia.. dan manusia harus bersikap!

Ketika anda mendapat masukan, kritik, saran dari orang lain.. maka itu hanyalah sekedar masukan. Anda berhak memilih untuk menjalankannya atau tidak. Toh orang-orang tidak punya hak memaksa anda. Anda adalah penentu kehidupan anda.

Ketika anda melakukan sesuatu, maka pastikan itu adalah sikap anda. Artinya anda melakukan itu karena keyakinan anda, bukan karena orang lain. Kalau anda tidak yakin mending tak usah kerjakan. Ketika anda telah yakin, maka lakukan dengan sepenuh hati. Dan apapun hasilnya, maka anda harus bertanggungjawab, karena ini adalah pilihan anda sendiri.

“hmm.. loe tahu nggak, padahal sejak awal aku nggak setuju dengan saran dari dia itu.. seharusnya yang benar itu ini… tapi ya sudahlah, aku saat itu ikut aja.. dan sekarang terbukti kan? Bahwa yang dia katakan itu malah bikin bencana bagi kita… Apa kata gue terbukti kan? Coba kita saat itu gak ikutin saran dia….”

Perhatikan kalimat di atas, anda dan saya sudah bisa menilai, bahwa dia tak lebih sebagai robot.

***

Rasulullah saw bersabda:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

"Janganlah kalian menjadi orang yang suka mengekor orang lain. Kalian mengatakan Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim." (HR Tirmidzi, no 1930) Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tidak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [diambil dari doktermudaliar.wordpress.com, kecuali haditsnya]

Posted on 17 Juni 2010, in Kisah & Motivasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s