Arsip Blog

Ikut Pendapat Imam Madzhab atau Ikut Hadits Shahih?

 

Saat pendapat Imam Madzhab bertentangan dengan hadits shahih?, manakah yang harus diamalkan?.

Mungkin bagi sebagian kalangan hal ini akan dijawab dengan sangat gampang, “ya pasti ikut hadist shahih lah, kan para imam madzhab sendiri menyuruh begitu, Imam as Syafi’i misalnya menyatakan:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ماقلت

Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, maka katakanlah (beramalah) dengan sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkanlah apa yang telah kukatakan.”[1]

Read the rest of this entry

Iklan

Dialog: Haramkah Bermadzhab? Haramkah Taqlid (dlm Masalah Hukum Syara)?

Mr. X bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Mr. Y menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Read the rest of this entry

Taqlid

Taqlid menurut bahasa adalah mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi. Orang mengatakan qalladahu fi kadza, artinya mengikutinya tanpa perenungan dan tanpa berpikir lagi.

Sedangkan taqlid menurut syara’ adalah melakukan suatu perbuatan atau tindakan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah mulzimah (dalil yang mengikat). Misalnya orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, atau seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid lain yang sederajat dengan dia.

Read the rest of this entry