Arsip Blog

Berpikir Cepat; Menguak Pujian Istri Kepada Suaminya

Ketika membaca kitab Sur’atul Badîhah, karya Syaikh Taqiyyuddin an Nabhani, kitab yang membahas tentang bagaimana berupaya meningkatkan kecepatan berpikir, dan cepat pula menarik kesimpulan dengan tepat, diceritakan bagaimana cepat, tepat dan tanggapnya seorang sahabat menghadapi kasus seorang wanita yang sekilas memuji suaminya padahal sebenarnya mengadukan suaminya.

Hanya saja disitu tidak dijelaskan siapa sahabat tersebut, dan bagaimana kelanjutan kisahnya, maka untuk mengobati rasa ingin tahu, setelah mencari, walau tidak terlalu susah karena ada maktabah syamilah, yang agak susah nerjemahin sya’irnya, akhirnya dapatlah salah satu sumber kisah tersebut. Berikut ringkasan cerita tersebut dalam Bughyatut Thalab karya Ibnul Adim (w. 660 H).

Read the rest of this entry

Iklan

Nikah Muhallil (Menikahi Istri yg Ditalak 3 Lalu Diceraikan Agar Kembali Ke Suami Sebelumnya)

Bagaimana hukumnya menikah dengan niat untuk membantu pasangan suami istri yang talaq tiga, setelah itu dicerai dan dikembalikan lagi ke suami yang pertama?

Read the rest of this entry

Bagaimana Tata Cara Ruju’ (Istri Masih Dalam Masa Iddah)?

Rujuk menurut bahasa artinya kembali (mengembalikan). Sedangkan dalam istilah fikih pernikahan artinya ruju’ adalah kembalinya seorang suami kepada istrinya yang di talak raj’i, tanpa melalui perkawinan yang baru dalam masa ‘iddah.

Read the rest of this entry

Istri Tidak Wajib Mengurus Rumah?

Setelah sibuk bekerja, menjelang petang, Ahmad[1] pun sampai di rumah. Ada suasana yang berbeda sore itu, tidak biasanya sang istri menyambut dengan mesra, pakaiannya rapi, baunya harum, sambil tersenyum manja lalu menggandeng tangan suaminya memasuki rumah. Akan tetapi Ahmad terkejut ketika melihat isi rumah, Hamid dan Mahmud, anak mereka, masih belepotan lumpur habis bermain, lantai rumah juga penuh dengan kotoran, ketika ke dapur tidak didapati secuilpun makanan yang siap mengganjal perut, tidak juga minuman. Ketika membuka kulkas, semua bahan makanan yang dia beli tadi pagi masih utuh tertata dengan rapi.

Sang istri yang melihat keheranan suaminya, dengan tersenyum manis mengatakan: “sayangku, tidak usah heran, aku sudah makan, tadi menelepon teman untuk membelikan nasi bungkus, sebelumnya aku membaca ada tulisan ustadz yang cukup terkenal, bahwa istri tidak wajib mengurus rumah, kewajiban istri dalam rumah tangga hanyalah ‘melayani’ suami. Aku sudah mandi, bersolek dan beristirahat seharian, sekarang aku siap menjalankan kewajibanku sebagai istri”. Demikianlah sang istri memberikan ‘tausiyah petang’ sambil menyodorkan artikel disebuah web yang  diantara isinya:

Read the rest of this entry

Kita dan Selingkuh

Oleh: M. Taufik N.T

Lafal selingkuh berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya. Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong. Dengan makna bahasa ini, kalau mau jujur, sebenarnya dalam diri kita ada bibit-bibit ‘selingkuh’, atau mungkin kita justru sudah terbiasa ber’selingkuh’ tanpa kita menyadarinya. Kita terbiasa tidak ‘jujur’, lidah kita mengatakan A namun hati dan pikiran kita mengatakan yang lain. Kita bilang ‘I Love You’ padahal hati kita bilang ‘I don’t know’ atau yang lain. Per’selingkuh’an seperti ini kalau tidak diatasi, dengan berusaha maksimal dan memohon karunia Allah SWT, niscaya bisa menjadi perselingkuhan yang sebenarnya. Ada kisah ‘selingkuh’ yang kita mungkin berat untuk mengobatinya:

Berkata Abu ‘Ali ad Daqqaq: aku mengunjungi orang shalih saat ia sakit, dan beliau termasuk masyâyikh al kibâr (diantara syaikh yang besar), beliau dikelilingi oleh para muridnya, beliau dalam kondisi sedang menangis, beliau telah sampai dalam usia udzur. Maka aku bertanya kepadanya: wahai syaikh, apa yang membuat engkau menangis, apakah karena urusan dunia? Jawab beliau: sekali-kali tidak (karena urusan dunia, tetapi aku menangis karena luput dari sholatku. Maka aku bertanya lagi : bagaimana itu terjadi padahal engkau senantiasa sholat? jawab beliau : Karena aku tinggal mempunyai hari-hari ini (dalam udzur), namun aku tidaklah sujud (dalam shalat) kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), dan tidaklah aku mengangkat kepalaku kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), dengan demikian aku (khawatir) akan mati dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah)… (Al Ghazali –Mukâsyafat al Qulûb, hal 18).

Read the rest of this entry

Pernikahan Putri Sa’id bin al Musayyib

Pintu perzinaan terbuka lebar, bahkan di beberapa daaerah (semisal Batam), berzina di lokalisasi bisa meningkatkan devisa negara (dengan rencana ada kenaikan pajak pelacuran) (http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/batam-akan-legalkan-pelacuran.-perda-pelacur-akan-dikenai-pajak-sedang-diajukan-dprd, http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/09/24/lokalisasi-dolly-meriah-lagi). Akibatnya data stastistik dari Direktorat Jendral Pembinaan Peradilan Agama menguaknya. Selingkuh telah menjadi virus keluarga no 4. Tahun 2005 lalu, misalnya,ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. Persentasenya mencapai 9,16 % dari 150.395 kasus perceraian tahun 2005 atau 13.779 kasus!  Rata-rata , setiap 2 jam ada tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh. (http://awan965.wordpress.com/2007/03/20/data-selingkuh-di-indonesia/)

Pintu menikah semakin tertutup (dg RUU nikah sirri), setidaknya harus punya cukup uang untuk biaya pernikahan, harus cukup uang untuk biaya administrasi, …, seandainya toh harus dipaksa bahwa pernikahan harus didata, alangkah bagusnya jika pendataannya dibuat sesimpel mungkin dan gratis, misalnya tinggal ketik reg (spasi) nikah (spasi) nama suami (spasi) nama istri kirim ke 9090 … dan ikuti perintah selanjutnya,… trus di setiap kelurahan disediakan hp untuk me sms gratis ….

***

Sebagai gambaran bagaimana Islam memberikan kemudahan untuk menikah, berikut riwayat tentang Sa’id b. Musayyib seorang tabi’in terkemuka di Madinah yang menolak lamaran putra khalifah Abdul Malik ibn Marwan (65 – 86 H), lalu justru menikahkannya dengan seorang duda miskin bernama Abu Wada’ah.

Read the rest of this entry

Persamaan Pria dan Wanita

Haruskah pria dn wanita hak dn kewajibannya sama persis? sebagian pejuang gender sampai ada yg menyatakan kalau pria boleh beristri 4 kenapa wanita tidak?…Padahal faktanya wanita sendiri yg sering membedakan diri dg pria, contohnya:- banyak wanita yg pakaiannya lebih ‘mini’ dr pd pria.- saat di bus ketika tidak dpt tempat duduk mereka ada yg berkata pd pria yg dpt tempat duduk, “yg merasa lelaki berdiri dong, kasihan wanita gak dapat tempat duduk”. Disisi lain mrk jg tdk konsisten dg persamaan hak perempuan,tdk ada yg menuntut bhw tiap wanita berhak untuk bersuami, walau hrs jd istri ke 2

Hak Istri dalam Poligami

Islam mewajibkan kita untuk berlaku adil dalam bermuamalah, termasuk adil terhadap istri (kalau berpoligami), yaitu dengan memberikan kepada masing-masing istri hak-haknya.

Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut: Read the rest of this entry