Seekor Sapi Untuk Qurban Sekaligus Aqiqah

Tanya ustadz mohon pencerahan apakah di bolehkan 1 ekor sapi sebagian ada yang niat korban dan sebagian niat akikah? Mohon penjelasan terimakasih

Read the rest of this entry

Iklan

Nusyuzkah Istri Mengaji Saat Suaminya Melarang?

Nusyûz adalah pembangkangan istri terhadap perintah dan larangan suami (dalam perkara yang tidak dilarang syara’). Hanya saja syariat telah menetapkan hak seorang wanita untuk melakukan transaksi bisnis, memberdayakan hartanya wanita sendiri, mengajar, melakukan silaturahmi, pergi ke masjid, menghadiri ceramah, ataupun kajian. Oleh karena itu nusyûz, yang jika itu terjadi maka menggugurkan kewajiban suami untuk menafkahi, adalah pembangkangan istri terhadap perintah dan larangan suami yang berkaitan dengan kehidupan khusus (al-hayâh al-khâshah), dan kehidupan suami-istri (al-hayâh az-zawjiyyah).

Read the rest of this entry

Merdeka dari Selubung Depresi

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, merdeka diartikan sebagai bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb), juga tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu, juga berarti leluasa.

“Merdeka” yang hakiki tidak akan diraih jika kita tidak berhasil ‘mengosongkan’ diri dari ketergantungan kepada selain Allah swt, baik itu penampilan, harta, maupun ketergantungan kepada manusia yang lain.

Read the rest of this entry

Sabar Hingga Akhir

Usianya sudah senja, rambutnya ‘menyala’, putih semua. Saya mengenalnya sekitar 13 tahun lalu, ketika saya menyampaikan pengajian di sebuah masjid di Banjarmasin.

Ada satu hal yang menarik dari beliau, yakni keseriusan beliau dalam menghadiri setiap kajian, mendengarkan, mencatat, bertanya, hingga menyampaikan pandangan diantara para hadirin, sepertinya itu yang tidak berubah dari beliau, sejak 13-an tahun lalu.

Read the rest of this entry

Mengambil Upah Mengajari Al Qur’an

Dalam masalah mengajar, seseorang dibenarkan untuk mengontrak seorang guru yang mengajar anak-anaknya atau mengajarnya atau mengajar siapa saja yang dia inginkan.

Mengajar adalah manfaat yang mubah (boleh) dan mendapat upah dari manfaat tersebut adalah mubah. Ijarah (kontrak kerja) dalam masalah ini hukumnya juga mubah.

Read the rest of this entry

Status Kepemilikan Harta Istri

1) Bagaimana status harta penghasilan istri yang bekerja?

2) Jika harta istri dan suami bercampur untuk modal usaha, bagaimana pengaturannya?

3) Jika bercerai, padahal hartanya tercampur, bagaimana membaginya?

Read the rest of this entry

Berdosakah Seorang Istri Mencintai Lelaki Lain?

Berdosakah seorang wanita yang telah bersuami bersimpati atau menyukai laki2 lain yg dikaguminya. Seperti halnya zulaikha yg terpikat dg yusuf as, namun ia tetap menjaga adab…masih mencintai dan taat pada suaminya dan berkhidmat pd keluarganya [08152094****]

Read the rest of this entry

‘Amr bin Hisyâm, Sang Bapak Kebodohan (Abu Jahal) *)

Sebelum Islam datang, ‘Amr bin Hisyâm (570 – 624 M) adalah orang yang dikenal kebijaksanaan dan kecerdasannya. Dalam usia yang masih muda, para tetua Quraisy sudah sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah, oleh karena itu ia dikenal dengan sebutan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan).

Hanya saja, semua itu berubah ketika Islam datang, kecerdasan otaknya tidak digunakan untuk membela Islam, bahkan sebaliknya, digunakan untuk memutarbalikkan fakta dalam rangka menentang kebenaran Islam. Kedudukan dan reputasinya yang sudah tinggi menghalangi dia untuk menerima Islam, ajaran yang bakalan memposisikan manusia sederajat, hanya dibedakan oleh ketaqwaannya.

Read the rest of this entry

Askes dan Dana Pensiun

Pertanyaan,

Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh pegawai negeri baik sipil maupun militer secara otomatis—mau tidak mau, suka atau tidak suka, menjadi anggota (Asuransi Kesehatan) ASKES dan mendapatkan dana jaminan hari tua yang lebih sering dikenal dengan dana pensiun,

(1) Bagaimana hukumnya menjadi anggota ASKES? Dan bagaimana kalau kita sakit lalu memanfaatkan dana ASKES untuk keperluan berobat?

(2) Bolehkah kita menerima dana pensiun?

Read the rest of this entry

Dakwah di Persimpangan Jalan

Suatu ketika, pemuka-pemuka bangsawan Quraisy – dengan diketahui oleh Abu Sufyan b. Harb – pergi menemui Abu Talib, paman Nabi dan sekaligus pelindung dakwah Nabi.

“Abu Talib,” kata mereka, “kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat nenek-moyang kita. Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau tidak, biarlah kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi dia.”

Read the rest of this entry

Ayat-ayat Penghilang Duka dan Kesedihan

Diriwayatkan dari Imam al Hasan al-Bashri (w. 110 H), bahwa beliau berkata:

عجبا لـمَكْرُوب غَفَلَ عَن خمس، وَقد عَرَفَ مَا جعل الله لمن قالهن

Mengherankan orang yang bersedih (namun) melupakan lima hal, sementara ia tahu apa yang Allah jadikan pada orang yang mengatakan lima hal tersebut.

Read the rest of this entry

Riya (Pamer)

Melakukan perbuatan-perbuatan hanya semata karena riya, ingin dilihat orang, tidak terkesan pada jiwa dan tidak meresapi rahasia dan hikmahnya adalah salah satu sifat pendusta agama. Allah berfirman:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma’un: 6)

Read the rest of this entry

Ahkamul Khamsah (Lima Hukum Syara’)

Hukum syar’i adalah khithaabus- Syaari’(seruan dari Sang Pembuat Hukum — Allah dan Rasul-Nya) yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Hukum syara ditetapkan berdasarkan adanya khithab (seruan) tersebut, sedang kejelasannya tergantung pada jelasnya makna dari suatu khithab. Khithab syar’i adalah segala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berupa perintah dan larangan –kisah, riwayat dan sejenisnya tidak termasuk dalam pengertian hukum Syar’i–. Oleh karena itu pemahaman terhadap hukum syara’ sangat bertumpu pada pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab keduanya merupakan sumber tasyri’.

Read the rest of this entry

Hizbut Tahrir Mengingkari Adzab Kubur?

Ini adalah tuduhan keliru, hasil kesimpulan mentah pihak penuduh, lalu kesimpulan keliru itu disematkan kepada Hizbut Tahrir.

Yang benar, Hizbut Tahrir mewajibkan pembenaran (tashdîq) atau percaya (îmân) terhadap keberadaan adzab kubur, tanpa mengadopsi pendapat apakah yang mengingkarinya dihukumi kafir ataukah dihukumi berdosa saja, sebagaimana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang itu.

Tuduhan ini mungkin  bermula dari konsep dalil yang diadopsi Hizbut Tahrir dalam perkara akidah, yakni:

Read the rest of this entry

Inti Pandangan Hizbut Tahrir Terkait Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

Secara ringkas, dalam masalah aqidah, Hizbut Tahrir memberikan ketentuan-ketentuan mendasar berkenaan dengan karakter akidah, kriteria dalil yang mendasarinya, sikap terhadap hadits ahad, dan konsekwensi bagi orang yang mengingkarinya, ringkasnya sebagai berikut:

1. Dalil akidah haruslah dalil yang bersifat pasti.

2. Dalil yang memenuhi hal tersebut (no 1) adalah al-Qur`an dan hadits mutawatir, dengan syarat masing-masing dari keduanya memiliki penunjukan arti yang pasti (qath’îy dalâlah).

3. Orang yang mengingkari dalil no 2, atau mengingkari apa yang ditunjukkannya dihukumi kafir, baik itu terkait akidah maupun hukum syara’.

Sedangkan untuk dalil yang tidak memenuhi kriteria sebagai dasar akidah, yakni khabar ahad, maka Hizbut Tahrir mensikapinya:

Read the rest of this entry