Buktikan Dulu!

EPISODE 1

Suami: “Sayang, kau sudah tahu kalau aku sayang padamu dan anak-anak kita, dan kau sendiri kemarin ikut berempati, kasihan juga prihatin terhadap temanmu yang belum ‘menemukan’jodohnya. Tidakkah terlintas dibenakmu untuk berbagi suami dengannya? Ini memang berat dan perlu pengorbanan, bukan hanya bagimu, namun juga bagiku untuk bertanggung jawab atas dua orang istri.”

Istri : “Suamiku, aku tahu engkau sayang padaku dan anak-anak kita, dan aku tahu engkau lelaki yang bertanggungjawab, namun mohon ma’af suamiku, aku tidak mau berbagi suami SEBELUM ENGKAU BISA MEMBUKTIKAN LEBIH DULU BAHWA ENGKAU ADIL TERHADAP ISTRI-ISTRIMU!.”

Read the rest of this entry

Tenggelamnya Sebuah Kapal

Sistem yang membiarkan, bahkan melindungi terjadinya kemaksiyatan dan terabaikannya hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla, apapun alasannya; baik beralasan karena menjunjung tinggi hak azasi manusia (HAM), menjaga kebhinekaan, ataupun alasan lainnya, pada hakikatnya pembiaran itu telah merusak eksistensi masyarakat itu sendiri. Rasulullah saw bersabda:

Read the rest of this entry

Kriteria Mampu yang Wajib Berhaji

Haji dan umroh[1] adalah kewajiban (sekali dalam seumur hidup) bagi yang memenuhi syaratnya yakni 1) beragama Islam, 2) baligh , 3) berakal (tidak gila), 4) merdeka (bukan budak), dan 5) mampu.[2]

Jika kelima syaratnya terpenuhi pada diri seseorang, namun dia tidak berhaji, maka dia berdosa.

Read the rest of this entry

Rahmat Itu Terasa Menakutkan Bagi Kaum Munafik

Sebagaimana makanan yang lezat terasa pahit bagi orang yang sakit, begitu juga syari’at Islam yang merupakan rahmat bagi semesta alam akan terasa menakutkan bagi orang yang dalam hatinya bersarang penyakit nifaq. Allah membuat perumpamaan tentang mereka:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati[1]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.[2] (QS. Al Baqarah 19)

Read the rest of this entry

Di Bawah Panji Rasulullah

Diantara do’a yang biasa dipanjatkan kaum muslimin dalam do’a setelah shalat tarawih adalah

وَتَحْتَ لَوَاءِ سيدنا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ

(Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang) yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat.

“Di bawah bendera apa” kita hidup di dunia saat ini, turut menentukan “di bawah bendera apa” nantinya kita hidup di akhirat.

Read the rest of this entry

Batasan Ketaatan Kepada Penguasa (Ulil Amri)

Kewajiban untuk taat kepada penguasa (ulil amri) adalah hal yang sudah umum diketahui umat Islam, kewajiban ini tetap berlaku baik mereka senang dengan penguasa ataupun tidak, baik penguasanya adil maupun dzalim. Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, misalnya dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلّاَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat sesuatu yang dibenci (tidak disukai) dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sebab, barang siapa memisahkan diri dari jamaah[1] satu jengkal lantas mati, itu adalah kematian jahiliah.”

Read the rest of this entry

Menata Rasa, Menjauhi Jerat Harta

Sebenarnya sangat manusiawi jika seseorang merasa kagum kepada kekayaan orang-orang kaya. Namun rasa kagum ini jika tidak ditata, akan merusak kehidupan dan menghancurkan kebahagiaan orang yang bersangkutan.

Rasa kagum terhadap banyaknya harta akan mendorong manusia beraktivitas mengumpulkan harta, jika ini menjadi prioritas utama dalam hidup maka jangankan yang halal, yang harampun akan dikejar. Rasulullah bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. al Bukhari)

Read the rest of this entry

Antara Riba Individu dan Riba Negara

Oleh: M. Hatta., S.E., MSI

Alhamdulillah kesadaran masyarakat perihal keharaman dan betapa merusaknya Riba semakin meningkat. Ini terjadi tidak lepas dari buah dakwah Islam kaffah yang begitu masif. Penulis sendiri ikut menjadi anggota dari komunitas Bebas Riba Bebas Utang (BRBU) yang telah begitu masif mengkampanyekan keharaman dan betapa merusaknya riba. Satu persatu alhamdulillah rekan – rekan kami yang tergabung dalam komunitas mampu melepaskan dari jeratan riba dan utang. Selain komunitas BRBU, juga banyak komunitas lain yang mengkampanyekan keharaman riba seperti komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR).

Namun, kampanye haramnya riba ini masih banyak tantangan. Betapa tidak, saat ini jumlah aset bank syariah (sebagai indikasi awal perlawanan terhadap riba) dibandingkan dengan bank konvensional sangatlah jauh. Sampai dengan bulan Desember tahun 2016 aset bank syariah (BUS & UUS) hanya mencapai Rp 356,504 triliun. Sementara itu aset bank umum konvensional di bulan agustus 2015 mencapai Rp 6,010 triliun.
<!–more–>

Fakta tersebut tentunya membuat kita merasa sedih. Mengapa di negeri yang mayoritas penduduknya muslim keberadaan atau eksistensi bank ribawi begitu dominan dan kokoh? Dan Akankah gerakan anti riba yang dilakukan oleh komunitas akan mampu menjadikan Indonesia bebas dari riba sepenuhnya?

RIBA NEGARA & RIBA INDIVIDU

Berbicara tentang pelaku riba, sesungguhnya tidaklah hanya dimonopoli oleh individu – individu yang ada dalam masyarakat. Melainkan juga bisa dilakukan oleh sebuah entitas seperti halnya negara atau pemerintah (government). Guna memahami bagaimana riba yang dilakukan oleh pemerintah, maka dapat diketahui dari kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan.

Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang ditujukan untuk mempengaruhi kinerja perekonomian melalui mekanisme penerimaan (revenue) dan pengeluaran (expenditure) pemerintah. Seperti surat utang (domestik maupun global) yang diterbitkan, subsidi, dan pengaturan tingkat pajak.

Adapun kebijakan moneter adalah kebijakan yang ditujukan untuk mempengaruhi jumlah uang beredar (JUB) yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian yang dikehendaki dengan mekanisme menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga acuan, besaran cadangan wajib perbankan (reserve requirement atau giro wajib minimum), operasi pasar terbuka, dan moral suassion (himbauan moral)

KEBIJAKAN FISKAL

Dari sisi besaran jumlahnya, perbuatan riba yang dilakukan oleh negara sangatlah besar jumlahya. Sangat Jauh melebihi jumlah utang yang dilakukan dalam skala individu. Sebagai contoh adalah perbuatan riba yang dilakukan oleh Republik Indonesia, Republik Turki, dan Kerajaan Saudi Arabia.

Tahun 2017 ini saja, Indonesia bakal menghabiskan uang rakyat sebesar Rp 221,2 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Bagaimana di tahun – tahun sebelumnya? Jika dijumlahkan pembayaran bunga utang dari tahun 2000 – 2015 mencapai Rp 1,499 triliun.

Seperti halnya Indonesia, Republik Turki, juga telah menghabiskan uang sebesar TRY 49,5 billion (milyar) guna membayar bunga uang di tahun 2015. Bagaimana di tahun sebelumnya? Jika dijumlahkan pembayaran bunga utang (outstanding domestic debt) dari tahun 2000 – 2013 mencapai TRY 289,806 milyar (Turkish Lira). Jika dikonversi dalam rupiah saat ini bisa mencapai Rp 1,059 Kuadriliun lebih dan dalam USD mencapai $ 79,525 milyar. Jumlah sebesar ini belum termasuk kewajiban pembayaran bunga untuk pinjaman luar negeri.

Besarnya pembayaran bunga utang tentunya adalah sebagai konsekuensi langsung dari besaran pokok utang yang dipinjam oleh dua negara tersebut. Di Tahun 2016, Indonesia membukukan utang sebesar Rp 3,875.2 triliun. Adapun hutang Turki di tahun 2015 telah mencapai TRY 643,238 billion.

Bagaimana dengan Saudi Arabia?

Di tahun 2016 Saudi Arabia memiliki utang sebesar SAR 316 billion. Jumlah total pengeluaran (expenditure) sebagai biaya (bunga atau riba) atas utang di tahun 2016 mencapai SAR 5,4 billion atau Rp 19,2 triliun. Di tahun 2017 diperkirakan akan meningkat menjadi SAR 9,3 billion atau RP 34,2 triliun. Tingkat utang Saudi Arabia di tahun 2020 diperkirakan akan meningkat menjadi SAR 737 billion.

Di tahun 1992, pembayaran bunga utang mencapai 7% dari total keseluruhan belanja pemerintah (government spending). Adapun di tahun 2005 2,2% (USD 6,9 billion) dari GDP, 2006 2,1% (USD 7,4 billion), 2007 1,5% (USD 5,7 billion), dan 2008 – 2009 masing – masing sebesar 1% (USD 4,7 dan USD 3,7 billion) dari GDP.

Itu dari sisi Kebijakan Fiskal, bagaimana dengan Kebijakan Moneter ketiga negara tersebut?

KEBIJAKAN MONETER

Cadangan Sebagian (Reserve Requirement atau Giro Wajib Minimun)

Menurut BI, GWM adalah Jumlah dana minimum yang wajib dipelihara oleh bank yang besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari DPK. Dengan kata lain, Instrumen (alat) moneter ini bekerja dengan mekanisme mewajibkan perbankan untuk mencadangkan dari setiap simpanan nasabah yang diterimanya. Dengan meningkatkan persentase cadangan maka berarti bank sentral ingin membatasi kemampuan (likuiditas) bank, yang berarti pula mengurangi jumlah uang beredar, dan berlaku sebaliknya.

Melalui konsep cadangan sebagian ini pula, bank dapat melipatgandakan uang. Semakin kecil persentase cadangan sebagian, maka semakin besar kemampuan bank melipatgandakan uang. Dan sebaliknya. Konsep pelipatgandaan uang ala perbankan ini dapat berjalan karena ditopang oleh transaksi pinjam meminjam yang ribawi.

Saat ini, tingkat cadangan sebagian yang ditetapkan oleh bank sentral Indonesia (BI) sebesar 6,5% (GWM Primer), Bank Sentral Turkey (CBRT) sebesar 12% (forex required reserves), dan Bank Sentral Saudi Arabia (SAMA) sebesar 7% untuk Demand Deposits dan 4% untuk Time & Saving Deposits.

Suku Bunga Acuan

Guna menjaga nilai mata uang dan tingkat inflasi sesuai dengan kondisi perekonomian yang ingin dicapai, setiap negara memiliki instrument atau alat yang disebut suku bunga acuan. Antara satu negara dengan negara lainnya ada yang memiliki suku bunga acuan yang sama dan ada yang berbeda.

Mekanisme suku bunga acuan mempengaruhi perekonomian dengan jalan mempengaruhi suku bunga pinjaman. Semakin kecil suku bunga acuan, maka semakin kecil pula suku bunga pinjaman. Efek selanjutnya diharapkan menstimulan meningkatnya permohonan kredit masyarakat dan meringankan pembayaran bunga kredit bagi pelaku usaha.

Melalui suku bunga acuan pula, bank sentral sebuah negara berupaya untuk menjaga nilai mata uangnya. Semakin tinggi suku bunga acuan dibandingkan dengan suku bunga luar negeri, maka akan semakin meningkatkan nilai mata uang negara tersebut.

Bank Indonesia baru saja (19 Agustus 2016) mengganti BI Rate bertenor 1 tahun menjadi BI 7-Day Repo Rate. BI 7-Day menggunakan SBN (surat berharga negara), SPN (surat perbendaharaan negara), dan SBI (sertifikat bank Indonesia). Berbeda dengan BI Rate yang hanya menggunakan SBI. Di tahun ini, 2017, Tingkat suku bunga BI 7-Day RR berada pada 4,75%.

Bank Sentral Turkey (CBRT) menetapkan suku bunga acuan 1 Week Reponya sebesar 8%. Adapun Bank Sentral Saudi Arabia (SAMA) menetapkan sebesar 1%.

Open Market Operation (Operasi Pasar Terbuka)

Operasi pasar terbuka (OPT) dilakukan dengan tujuan mempangaruhi besaran likuiditas perbankan. Hal ini dijalankan dengan mekanisme menjual dan atau membeli surat berharga yang dimiliki perbankan. Tujuan akhir dari OPT ini adalah mengatur besaran jumlah uang beredar yang ada di masyarakat.

Di tahun 2015, Bank Indonesia, sebagai konsekuensi dari kebijakan moneter (termasuk di dalamnya operasi pasar terbuka) memiliki beban bunga yang harus dibayar sebesar Rp 20,424 triliun. Sedikit menurun dibandingkan di tahun 2014 yang mencapai Rp 21,691 triliun.

Dari sisi besaran surat berharga yang diterbitkan (menggunakan mata uang Rp) dalam rangka OPT di tahun 2015 mencapai Rp 31,108 triliun untuk SBI, dan Rp 41,126 triliun untuk SDBI. Adapun penerbitan surat berharga dengan menggunakan valas mencapai Rp 6,866 triliun untuk surat berharga bank Indonesia.

Bagaimana dengan OPT di Turkey dan Saudi Arabia?
Di tahun 2016, bank sentral Saudi Arabia (SAMA) telah menjalankan kebijakan moneter senilai SAR 182,947 miliar berupa surat berharga SAMA Bills dan Repurchase Agreements (repo). Nilai ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, 2013, yang mencapai SAR 459,932 miliar. Semua instrumen moneter ini dijalankan dengan mekanisme bunga (riba).

Adapun Bank sentral Turkey (CBRT) di tanggal 20 Maret 2017 ini saja, telah melakukan OPT melalui instrumen REPO Transaction Through Quotation sebesar TRY 5 miliar dengan maximum compound rate sebesar 9.69%. Adapun di tanggal 10 Oktober 2014 TRY 307 million dengan maximum compound rate sebesar 7.79%.

Demikian telaah singkat bagaimana perbuatan riba yang dilakukan oleh sebuah Negara. Harapan kami dari tulisan ini agar umat Islam mampu melihat lebih jelas bahwa praktik ribawi tidak hanya terjadi dikalangan individu masyarakat saja, melainkan juga dilakukan secara masif oleh Negara, bahkan Negara yang katanya dipimpin oleh seorang muslim.

Wallahu’alam bi ash-Shawab

Umur Umat Islam Maksimal 1500 Tahun?

Beberapa kali masuk BC (Broadcasting) ke WA saya[1] menyatakan bahwa umur umat Islam tidak lebih dari 1500 tahun, artinya tidak sampai 49 tahun lagi umat Islam akan ‘punah’ dari muka bumi.

Mengingat isi BC tersebut menyandarkan hitungannya ke para ‘ulama besar, yang kepakarannya tidak diragukan lagi; Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Jalaluddin As-Suyûthi, dan Imam Ibnu Hajar al Hambali(?), tergelitik juga hati untuk ‘meneliti’ benarkah mereka rahimahumullaah mengatakan seperti yang disimpulkan dalam BC tersebut?, kalau benar, apa pula landasan ‘perhitungan’ tersebut?. Dengan menelusuri beberapa kitab dalam Maktabah Syamilah, saya dapati hal-hal berikut:

Read the rest of this entry

Beda Pendapat Bisa Celaka!

clip_image002Ketika mas X sedang asik naik motor, didepannya ada mbak y yang menghidupkan sein ke arah kanan, dengan santai mas X melaju di kiri jalan, namun tanpa diduga, si mbak Y ternyata belok kiri, kecelakaan tidak dapat dihindari, namun untunglah tidak parah. Setelah menegakkan kendaraan yang jatuh, terjadilah pembicaraan antara mas X dengan mbak Y:

X: mbak, kalau mau belok tolong kasih tanda yang benar dong!

Y : heh, mas jangan nyalahkan saya, kan sudah saya kasih tanda, situ yang salah!

X : ya memang sudah ngasih tanda, tapi tandanya salah, mau belok kiri kok ngasih tanda lampu sein kanan!

Y : mas, mas, bodoh kok dipelihara!, justru saya kasih lampu sein ke kanan itu sebagai tanda agar situ lewat kanan, eeh, masih saja lewat kiri.

Read the rest of this entry

Benarkah Tidak Boleh Minta Diruqyah?

Sebagian kalangan melarang seseorang meminta diruqyah dengan beralasan hadits tentang tujuh puluh ribu dari umat Islam yang lebih dahulu masuk surga tanpa hisab, dimana Jibril menjelaskan sifat mereka;

كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

‘Karena mereka tidak minta di obati (dengan cara) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal.” (HR. al Bukhary)

Hadits tersebut bukan melarang orang minta ruqyah[1], hanya menjelaskan keutamaan orang yang sempurna tawakkalnya kepada Allah hingga tidak minta ruqyah dan hanya menyerahkan urusan penyakitnya kepada Allah swt dengan tanpa berobat.

Read the rest of this entry

Lalai Yang Tercela

Abu ‘Ali Ad-Daqqâq (w. 405 H) berkata: “Suatu ketika aku datang mengunjungi orang saleh yang sedang sakit. Beliau termasuk salah seorang masyayikh besar. Ketika itu beliau dikelilingi oleh murid-muridnya, dan sedang menangis, beliau adalah seorang syaikh yang sudah lanjut usia. Aku bertanya kepadanya:

ايها الشيخ مم بكاؤك أعلى الدنيا ؟

“Wahai syaikh, apa yang membuat engkau menangis, apakah mengenai persoalan dunia?”

Dia menjawab :

كلا بل أبكى على فَوْت صلاتى

“Bukan, akan tetapi aku menangis karena ‘kehilangan’ shalatku.”

Aku kembali bertanya:

وكيف ذلك وقد كنتَ مصليا ؟

”Bagaimana hal itu bisa terjadi, padahal Engkau adalah orang yang rajin mendirikan shalat?”

Dia menjawab:

لانى قد بقيتْ يومى هذا وما سجدت الا فى غفلة، ولا رفعت رأسى الا فى غفلة، وما أنا أموت على الغفلة

”Karena sungguh (sekarang) inilah sisa hariku, sementara tidak lah aku bersujud kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), tidaklah aku mengangkat kepala kecuali dalam keadaan lalai, dan tidaklah aku (suka) mati dalam keadaan lalai. [Imam al Ghazali (w. 505 H), Mukâsyafatul Qulûb, hal 17[1]].

Read the rest of this entry

Jenazah Para Pendukung Ahok Memang Tidak Perlu Disholati Karena Mereka Mati Syahid?

Beberapa teman meng-inbox ke wa saya  bahwa tulisan saya dijadikan pembenaran oleh pak Ade Armando untuk membela Ahok. Awalnya saya hanya menanggapi dg senyum saja, karena saya anggap orang-orang yang cerdas tidak akan terpengaruh (krn pasti akan tahu bahwa status pak Ade tsb kesimpulannya keliru tidak ada pembenaran sedikitpun dari postingan saya, atau status tsb sekedar guyon, atau akan melihat status tsb sbg satire walau kurang pas, karena berawal dari hal yang tidak pas),  namun karena ada yang minta klarifikasi, dan bisa jadi ada netizen yang hanya membaca judul lalu menyimpulkan sendiri, maka perlu saya jelaskan bahwa:

Read the rest of this entry

Melawan Propaganda Hitam

Propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu[1].

Jika propaganda dilakukan secara apik oleh pemegang kekuasaan, dibantu kekuatan media, ‘penelitian’ ilmuwan dan lembaga survey, apalagi jika ditambah permainan ‘dalil’ syara’, sementara kalangan yang mengerti memilih berdiam diri dengan alasan menghindari fitnah, maka terjungkirbaliklah nilai-nilai kebenaran, kesalahan akan dianggap masyarakat sebagai kebenaran, sebaliknya kebenaran akan dianggap kejahatan.

Read the rest of this entry

Rasulullah Melarang ‘Ali Berpoligami?

Kisah tersebut memang shahih, diriwayatkan oleh Imam al Bukhary dan Muslim. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkhutbah di atas mimbar:

Read the rest of this entry