Zakat Fitrah: Siapa Menanggung Siapa?

Jika seorang mukallaf memenuhi syarat-syarat wajibnya mengeluarkan zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri.

Dia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah atas siapa saja yang menjadi kewajiban atasnya memberi nafkah, baik sebab wajibnya nafkah tersebut karena nikah, kerabat, atau karena khidmat (pelayan yang tidak digaji).

Urutan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah adalah: 1) dirinya sendiri, 2) Istrinya, 3) anaknya yang kecil, 4) bapak kandungnya, 5) ibu kandungnya,[1] 6) anaknya yang besar yang tidak mampu bekerja.

Perbedaan Infaq, Shadaqah, Zakat, Hibah, Hadiah dan ‘Ariyah

Baik infâq, shadaqah, zakât, hibah, hadiah dan ‘âriyah secara umum semuanya bermakna mengeluarkan harta, namun pemakaian istilah tersebut berbeda-beda.

Read the rest of this entry

Zakat Fitrah: Definisi, Waktu, dan Syarat Wajib

Definisi

Zakat fitrah adalah kadar tertentu dari harta, yang wajib mengeluarkannya saat tenggelam matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan, dengan syarat-syarat tertentu, bagi setiap mukallaf dan yang menjadi tanggungannya. Read the rest of this entry

Download Ringkasan Ilmu Tajwid

Wanita Haidl Memegang dan atau Membaca al Qur’an

Berbeda hukumnya bagi wanita haidl antara membaca al Qur’an dengan menyentuh al Qur’an.

Wanita Haidl Membaca Al Qur’an

Menurut mayoritas ahli fikih: Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, wanita haidl termasuk nifas dan orang junub diharamkan membaca al Qur’an. Alasannya Sabda Nabi SAW:

لَا تَقْرَأِ الحَائِضُ، وَلَا الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ

“Tidak boleh orang yang sedang haidl atau junub membaca sesuatu dari al-Quran” (HR. at-Tirmidzi).

Read the rest of this entry

Shalat Bagi Musafir: Jama’ dan Qoshor

Matan Taqrib:

(فصل) ويجوز للمسافر قصر الصلاة الرباعية بخمس شرائط: أن يكون سفره في غير معصية. وأن تكون مسافته ستة عشر فرسخا. وأن يكون مؤديا للصلاة الرباعية. وأن ينوي القصر مع الإحرام. وأن لا يأتم بمقيم.

Syarat Shalat Qoshor

(Pasal) Boleh bagi musafir (orang yang melakukan perjalanan) untuk mengqoshor[1] shalat yang empat raka’at (menjadi 2 (dua) raka’at) dengan 5 (lima) syarat:

  1. Bukan perjalanan maksiat.
  2. Jarak yang ditempuh mencapai 16 farsakh.
  3. Shalat empat raka’at. (shalat maghrib dan subuh tidak bisa di qashar)
  4. Niat qashar saat takbiratul ihram (takbir pertama).
  5. Tidak bermakmum pada orang mukim.

Read the rest of this entry

Bersuci (Thaharah)

Bersuci menduduki peran sangat penting dalam ibadah, karena berbagai Ibadah tidak  sah tanpa bersuci. Tulisan ini merujuk kepada kitab at Taqrib atau Ghayatul Ikhtishor (puncak ringkasan) karya Imam Abu Syuja’ (434H-593 H), (kun-yahnya Abu Thayyib). ditambah berbagai penjelasan dari kitab-kitab fiqh lain dalam Madzhab Syafi’i.

Read the rest of this entry

Pentingnya Belajar Fiqh

Fiqh secara bahasa bermakna al fahmu (pemahaman), sedangkan secara istilah, fiqh didefinisikan sebagai

الفقه هو العلم بالأحكام الشرعية العملية المستنبطة من الأدلّة التفصيلية

Fiqh adalah ilmu tentang hukum-hukum syara’ praktis yang digali dari dalil-dalil yang terperinci[1].

Tidak ada yang memungkiri bahwa belajar fiqh adalah sangat penting, karena fiqh lah yang menjelaskan kepada kita hukum-hukum terkait ibadah dan mu’amalah. Aktivitas apapun yang kita lakukan, agar menjadi amal terbaik, yang kita harapkan diterima disisi Allah swt, harus memenuhi dua syarat; ikhlas dan benar. Ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima, sebaliknya benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima.[2]

Read the rest of this entry

Madzhab Sahabat Lebih Benar Daripada Madzhab Empat?

Pengertian

Madzhab Sahabat, biasa disebut juga Qaul (perkataan) Sahabat adalah pendapat-pendapat Shahabat secara perorangan dalam masalah-masalah Ijtihad.

Madzhab sahabat berbeda dengan ijma’ sahabat yakni kesepakatan sahabat atas hukum suatu peristiwa (dan) bahwa hukum tersebut merupakan hukum syara.

Kehujjahan

Madzhab sahabat bukanlah dalil syara’ yang menjadi hujjah/dasar dalam menghukumi sesuatu, inilah pendapat jumhur Asyariyah, Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam madzhabnya (Syafi’iyah) juga Abul Hasan Al-Kharha dari kalangan Hanafiyah, ini pula yang ditabanni dalam Hizbut Tahrir[1], alasannya:

Read the rest of this entry

Jika Allah Menghendaki Sesuatu, Dia Akan Mengatur Sebab-Sebabnya

Pernahkah terbayang bagaimana caranya 38 kerajaan/kesultanan yang ada di Indonesia ini bisa bersatu menjadi satu negara, Indonesia? Padahal mereka, secara total telah hidup selama 443 tahun? Pernahkah terbayang, bagaimana bisa Majapahit yang telah hidup selama 207 tahun akhirnya menjadi bagian Indonesia?

Kalau sekarang orang berfikir, “dimana NKRI kalau negeri ini mau jadi kekhilafahan?” tidakkah mereka juga berfikir, dulu sebelum merdeka apakah kesultanan-kesultanan tersebut memikirkan hal yang sama: “dimana kesultanan kami jika kalian memproklamasikan Indonesia?”.

Read the rest of this entry

Kebenaran itu Berat , Namun Lezat

Imam Abdullah bin Mubarak (w. 181 H) meriwayatkan bahwa sahabat Hudzaifah bin al Yaman r.a berkata:

إِنَّ الْحَقَّ ثَقِيلٌ، وَهُوَ مَعَ ثِقَلِهِ مَرِيءٌ، وَإِنَّ الْبَاطِلَ خَفِيفٌ، وَهُوَ مَعَ خِفَّتِهِ وَبِيءٌ، وَتَرْكَ الْخَطِيئَةِ أَيْسَرُ – أَوْ قَالَ خَيْرٌ مِنْ طَلَبِ التَّوْبَةِ – وَرُبَّ شَهْوَةِ سَاعَةٍ أَوْرَثَتْ حُزْنًا طَوِيلًا

Sesungguhnya kebenaran itu berat, (namun) bersama dengan beratnya itu ada kelezatan, sedangkan kebatilan itu ringan, (namun) bersama ringannya itu ada penyakit. Meninggalkan kesalahan lebih mudah – atau dia katakan lebih baik – dari pada meminta taubat, betapa banyak syahwat sesaat yang menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan” [Az Zuhdu war Raqâ-iq, hal 291. Maktabah Syâmilah].[1]

Read the rest of this entry

Benarkah HTI Anti Pancasila?

Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika berbicara dalam stadium general di depan ratusan mahasiswa, diantara yang saya sampaikan dan jelaskan adalah bahwa kehidupan kita ini akan rusak jika tidak kita jalani sesuai dengan petunjuk Sang Pencipta, yakni Syari’ah Islam, dan menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki kehidupan ini dengan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa bertanya: “bukankah Indonesia ini negara Pancasila? Tidakkah kalau kita memperjuangkan diterapkannya Islam berarti kita menentang Pancasila?”.

Read the rest of this entry

Ki Bagus Hadikusumo & Pancasila

Sudah 67 tahun berlalu, apa yang kita namakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun sejalan dengan proklamasi tersebut, masih juga mengganjal dihati –bagi sebagian umat yang menyadari-sebuah kesepakatan yang tidak tertunaikan. Sebuah perjuangan yang digugurkan sebelum dilahirkan. Gentlemant’s Agreement bernama Piagam Jakarta.

Read the rest of this entry

Jima’ di Siang Hari Bulan Ramadhan

Jima’ (bersetubuh) di siang hari dengan sengaja membatalkan puasa. Namun jika terpenuhi delapan syarat[1], disamping membatalkan puasa juga menjadikan suami wajib membayar kaffârat. Delapan syarat tersebut adalah:

Read the rest of this entry

Andai Dakwah Itu Wajib Idzin

Andai dakwah itu wajib idzin, mungkin Islam tidak akan sampai ke negeri kita, karena Rasulullah saw bukan saja tidak diidzinkan dakwahnya, bukan hanya dihalang-halangi, namun juga dianiaya bahkan mau dibunuh.

Andai meyakini sesuatu itu wajib idzin, tentu tukang sihir yang melawan Nabi Musa juga tidak akan bisa beriman, setelah sebelumnya melihat mu’jizat Nabi Musa a.s.

Read the rest of this entry