Ahkamul Khamsah (Lima Hukum Syara’)

Hukum syar’i adalah khithaabus- Syaari’(seruan dari Sang Pembuat Hukum — Allah dan Rasul-Nya) yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Hukum syara ditetapkan berdasarkan adanya khithab (seruan) tersebut, sedang kejelasannya tergantung pada jelasnya makna dari suatu khithab. Khithab syar’i adalah segala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berupa perintah dan larangan –kisah, riwayat dan sejenisnya tidak termasuk dalam pengertian hukum Syar’i–. Oleh karena itu pemahaman terhadap hukum syara’ sangat bertumpu pada pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab keduanya merupakan sumber tasyri’.

Read the rest of this entry

Iklan

Hizbut Tahrir Mengingkari Adzab Kubur?

Ini adalah tuduhan keliru, hasil kesimpulan mentah pihak penuduh, lalu kesimpulan keliru itu disematkan kepada Hizbut Tahrir.

Yang benar, Hizbut Tahrir mewajibkan pembenaran (tashdîq) atau percaya (îmân) terhadap keberadaan adzab kubur, tanpa mengadopsi pendapat apakah yang mengingkarinya dihukumi kafir ataukah dihukumi berdosa saja, sebagaimana para ‘ulama juga berbeda pendapat tentang itu.

Tuduhan ini mungkin  bermula dari konsep dalil yang diadopsi Hizbut Tahrir dalam perkara akidah, yakni:

Read the rest of this entry

Inti Pandangan Hizbut Tahrir Terkait Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

Secara ringkas, dalam masalah aqidah, Hizbut Tahrir memberikan ketentuan-ketentuan mendasar berkenaan dengan karakter akidah, kriteria dalil yang mendasarinya, sikap terhadap hadits ahad, dan konsekwensi bagi orang yang mengingkarinya, ringkasnya sebagai berikut:

1. Dalil akidah haruslah dalil yang bersifat pasti.

2. Dalil yang memenuhi hal tersebut (no 1) adalah al-Qur`an dan hadits mutawatir, dengan syarat masing-masing dari keduanya memiliki penunjukan arti yang pasti (qath’îy dalâlah).

3. Orang yang mengingkari dalil no 2, atau mengingkari apa yang ditunjukkannya dihukumi kafir, baik itu terkait akidah maupun hukum syara’.

Sedangkan untuk dalil yang tidak memenuhi kriteria sebagai dasar akidah, yakni khabar ahad, maka Hizbut Tahrir mensikapinya:

Read the rest of this entry

Prof. Hasan Hitou, Akidah dan Hadits Ahad

Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou adalah seorang ulama ahli Ushul bermadzhab Syafi’i, beliau juga salah satu tim ahli dalam penyusunan Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyah yang seluruhnya berjumlah 45 jilid tebal, juga salah satu pembimbing dan penguji Prof. Dr. Ali Musthafa Ya’qub (alm). Berikut kutipan dari kitab beliau al-Wajîz fî Ushûl al-Tasyrî’ al-Islâmî, tentang Akidah dan Hadits Ahad.

Read the rest of this entry

Murabahah

Ibn Manzhur di dalam Lisân al-’Arab (II/442-443, Dar Shadir) menyatakan: ar-ribhu wa ar-rabhu wa ar-rabâh artinya pertumbuhan dalam perdagangan;arbahtuhu ‘alâ sil’atihi artinya aku memberi dia keuntungan; arbahahu bi mutâ’ihi (ia mendapat keuntungan dengan dagangannya). Aku memberi dia harta secara murabahah artinya berdasarkan keuntungan di antara keduanya. Dikatakan: Aku menjual barang itu secara murabahah setiap sepuluh dirham labanya satu dirham.

Read the rest of this entry

Isi Fatwa MUI Tentang Murabahah *)

Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.

2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.

3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.

4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.

5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.

6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.

7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.

9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

Read the rest of this entry

Asuransi; Fakta dan Hukumnya

Secara bahasa at-ta’mîn berasal dari akar kata amuna–ya’munu–amn[an], yang berarti aman/merasa tenang. Kata itu lalu ditransitif (muta’adi)-kan menjadi ammana–yu’amminu–ta’mîn[an], yang bermakna menjadikan aman. Ista’mana berarti thalab al-amân (mencari keamanan). Ammana ‘alâ mâlihi ‘inda fulân ta’mîn[an] berarti menjadikan harta itu berada dalam dhamân (tanggungan/jaminan)-nya.

Di dalam kamus Al-Munawir disebutkan at-ta’mîn adalah mashdar (gerund) dari ammana. At-Ta’mîn artinya adalah adh-dhamân (jaminan) dan isti’hâd (asuransi).

Al Walid, Sirnanya Kemuliaan Ketika Menghadang Dakwah

Al Walid bin al Mughirah adalah salah seorang tokoh utama, hakim dan salah satu pemimpin kaum Quraisy di Makkah. Dia juga seorang yang cerdas, sebelum Islam datang, akalnya telah membuatnya sadar bahwa khamr itu tidak pantas diminum oleh pria terhormat. Karena itu, dia mengharamkan khamr untuk dirinya, dan bahkan dia memukul anaknya yang bernama Hisyam karena anaknya itu meminum khamr.

Al Walid bin al Mughirah pula yang berkata kepada kaum Quraisy yang sedang membangun kembali Ka’bah yang sempat rusak karena banjir, dengan perkataan yang baik:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَا تُدْخِلُوا فِي بُنْيَانِهَا مِنْ كَسْبِكُمْ إِلَّا طَيِّبًا. لَا يَدْخُلُ فِيهَا مَهْرُ بَغِيٍّ وَلَا بَيْعُ رِبًا، ولا مظلمة أحد من النَّاس

Hai kaum Quraisy, janganlah menyertakan ke dalam pembangunan Ka’bah ini (harta) dari hasil kerja kalian kecuali (harta) yang baik. Janganlah memasukkan dana dari hasil prostitusi, riba, dan (harta hasil) kezaliman kepada orang lain.” (Al-Bidâyah wan-Nihâyah, 2/386).[1]

Read the rest of this entry

Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

Hukumnya

Menurut jumhur (mayoritas) ahli fiqh kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan ulama’ muta-akhhirin kalangan Hanafiyyah, puasa enam hari di bulan syawwal (selain tanggal 1) hukumnya adalah sunnah. Dalilnya adalah sabda Nabi saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia ikuti (dengan berpuasa) enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Read the rest of this entry

Memperbaiki Masa Lalu, Menyongsong Masa Depan *)

Tidak sedikit para ‘ulama terdahulu bersedih, bahkan menangis meninggalkan Ramadhan. Imam Ibnu Rajab (w. 795 H), menceritakan bahwa Sayyidina Ali berkata di penghujung Ramadhan :

يا ليت شعري مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ فَنُهَنِّيه وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ فَنُعَزِّيهِ

“Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ikut berbela sungkawa.”[1]

Sebagian ulama menampakkan kesedihan di hari raya Idul Fitri, Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria, kenapa engkau malah bermuram durja?” Dia menjawab:

صدقتم ولكني عبد أَمَرَنِي مولايَ أن أعملَ له عملا فلا أدري أيَقْبَلَه مني أم لا ؟

“engkau benar, tetapi, aku ini hanyalah sorang hamba yang diperintah oleh Tuanku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”[2]

Read the rest of this entry

Kriteria Gharim yang Berhak Mendapat Zakat

Tidak semua orang yang berhutang terkategori Gharim yang berhak menerima zakat.

Read the rest of this entry

Menta’ati Allah Lebih Penting daripada Melawan Opini Negatif

Salah satu hal yang membahayakan ketaqwaan seseorang adalah jika dia lebih perhatian terhadap bagaimana pandangan manusia terhadap dirinya daripada pandangan Allah atas dirinya: begitu ingin tampil perfect, sempurna, dihadapan manusia, namun jarang merenungi posisi dirinya dihadapan Allah swt.

Padahal bagaimanapun kita berupaya mencitrakan diri sebaik mungkin dihadapan manusia, tetap saja ada manusia yang senang, ada yang tidak peduli, termasuk ada yang benci, apalagi jika pencitraan diri tersebut dilakukan dengan kebohongan dan propaganda negatif, maka itu justru akan menjadikan urusannya tidak akan ditolong Allah swt.

Read the rest of this entry

Pentingnya Khalifah dan Tanggungjawabnya (Penjelasan Imam al Mawardi (w. 450H))

Sebagian orang, entah sengaja atau tidak, berupaya mendistorsi ajaran Islam tentang khilafah dengan mengatakan “khilafah bukan ajaran Islam”, menurut mereka, khilafah itu intinya adalah kepemimpinan, hingga ada guru besar sebuah universitas Islam mengatakan “khilafah hari ini ya Amerika”.

Sebagian lagi ketika tidak menemukan jalan untuk menolak kewajiban khilafah, akhirnya mengatakan, “kami setuju saja khilafah, namun khilafah aswaja, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir”, anehnya ketika dikejar untuk menjelaskan apa saja bedanya, akhirnya dijawab dengan muter-muter, tidak memberikan gambaran bagaimana khilafah aswaja, apalagi gambaran khilafah versi Hizbut Tahrir. Sepertinya dia berbicara begitu asal saja, yang penting memberikan persepsi negatif kepada orang seolah-olah Hizbut Tahrir bukan golongan aswaja, itu saja.

Sebagian lagi mengemukakan bahwa yang penting itu bukan “ismun” (nama), namun “musamma” (apa yang dikandung oleh nama tersebut), menggunakan kaidah “al ibrotu bil musamma, laa bil ismi”, lalu disimpulkan secara ‘akrobatik’ bahwa sekarang ini sudah era khilafah.

Read the rest of this entry

Zakat Fitrah: Siapa Menanggung Siapa?

Jika seorang mukallaf memenuhi syarat-syarat wajibnya mengeluarkan zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri.

Dia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah atas siapa saja yang menjadi kewajiban atasnya memberi nafkah, baik sebab wajibnya nafkah tersebut karena nikah, kerabat, atau karena khidmat (pelayan yang tidak digaji).

Urutan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah adalah: 1) dirinya sendiri, 2) Istrinya, 3) anaknya yang kecil, 4) bapak kandungnya, 5) ibu kandungnya,[1] 6) anaknya yang besar yang tidak mampu bekerja.

Perbedaan Infaq, Shadaqah, Zakat, Hibah, Hadiah dan ‘Ariyah

Baik infâq, shadaqah, zakât, hibah, hadiah dan ‘âriyah secara umum semuanya bermakna mengeluarkan harta, namun pemakaian istilah tersebut berbeda-beda.

Read the rest of this entry