Taklid dalam Masalah Akidah

Definisi Taklid

Taklid menurut bahasa adalah

اتباع الغير دون تأمل

mengikuti orang lain tanpa berpikir lagi.”

Sedangkan taklid menurut syara’, dalam al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah  juz 1 didefinisikan sebagai :

العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة

melakukan suatu perbuatan berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah yang mengharuskan perbuatan tersebut” [1]

Taklid bisa terjadi pada orang awam yang mengambil perkataan (pendapat) seorang mujtahid, bisa juga terjadi pada seorang mujtahid yang mengambil perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia.

Taklid dalam Masalah Akidah

Berbeda dengan masalah hukum syara’ yang boleh bertaklid, taklid dalam masalah akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang taklid dalam masalah akidah, misalnya firman Allah Swt:

]وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ[

Dan apabila dikatakan kepada mereka: ’Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’, ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?’ (QS. al-Baqarah [2]: 170)

Jika tidak boleh taklid dalam masalah akidah, berdosakah orang yang melakukannya? Dalam hal ini perlu dilihat, jika perkara yang ditaklidi tersebut bertentangan dengan akidah Islam, misalnya taklid kepada orang yang menyatakan surga itu tidak ada, maka dia tergolong kafir.

Adapun jika perkara yang ditaklidinya sesuai dengan akidah Islam, maka para Ulama Madzhab Syafi’i berbeda pendapat, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al Asqalani:

وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا  فِيمَا إِذَا كَانَ الِاعْتِقَادُ مُوَافِقًا لَكِنْ عَنْ غَيْرِ دَلِيلٍ  فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ إِنَّ صَاحِبَهُ مُؤْمِنٌ عَاصٍ بِتَرْكِ النَّظَرِ  الْوَاجِبِ وَمِنْهُمْ مَنِ اكْتَفَى بِمُجَرَّدِ الِاعْتِقَادِ  الْمُوَافِقِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَنْ دَلِيلٍ

 “Mereka berbeda pendapat apabila i’tiqad yang ditaklidi  tersebut sesuai dengan akidah yang benar tetapi tanpa dengan berdalil, sebagian  dari mereka mengatakan bahwa orang seperti ini dihukumi sebagai mukmin yang telah melakukan kemaksiatan,  karena telah meninggalkan berpikir yang wajib dalam  masalah akidah,  dan sebagian yang lain menganggap cukup sekedar mengi’tikadkan  yang sesuai dengan akidah yang benar meskipun tanpa adanya  dalil” [2]

Syaikh Taqiyuddin an Nabhani berpandangan seperti pandangan yang pertama, yakni wajib seorang muslim untuk berpikir dan mencari dalil dalam akidah, dan mereka berdosa jika meninggalkan berpikir dan merenung untuk mencari dalil/hujjah akan kebenaran akidahnya. Hanya saja, berpikir yang beliau katakan sebagai wajib tersebut adalah berpikir tentang makhluk, dan tidak njlimet sebagaimana mutakallimin yang sampai memikirkan apa yang diluar jangkauan indra, hal ini sebagaimana juga pendapat sebagian Syafi’iyyah, yang dinyatakan dalam Fath al-Bari:

وَقَالَ غَيْرُهُ مَنْ مَنَعَ التَّقْلِيدَ وَأَوْجَبَ الِاسْتِدْلَالَ لَمْ يُرِدِ التَّعَمُّقَ فِي طرق الْمُتَكَلِّمِينَ بَلِ اكْتَفَى بِمَا لَا يَخْلُو عَنْهُ مَنْ نَشَأَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الِاسْتِدْلَالِ بِالْمَصْنُوعِ عَلَى الصَّانِعِ

“dan berkata yang lain, yakni yang melarang taklid dalam masalah akidah dan mewajibkan berdalil, tidaklah harus berpikir mendalam sebagaimana metode mutakallimin, namun cukup harus ada berdalil sebagaimana kaum muslimin berdalil dengan adanya barang yang dibuat untuk menunjukkan keberadaan pembuatnya”[3]

Oleh karena itu, saya mengambil pendapat bahwa berdalil dalam masalah akidah itu wajib, namun bukanlah berarti harus njlimet. Cukuplah sebagaimana jawaban seorang badwi ketika ditanya oleh al-Ashma’i

كيف عرفت الله ؟

“Bagaimana engkau mengenal (mengetahui keberadaan) Allah?”

Badui tadi menjawab sederhana, namun logis:

البعرة تدل على البعير، والروث يدل على الحمير، وآثار الأقدام على المسير، فسماء ذات أبراج، وأرض ذات فجاج، وأبحر ذات أمواج ألا يدل ذلك على اللطيف الخبير.

 “Tahi onta itu menunjukkan adanya onta, kotoran keledai menunjukkan adanya keledai, bekas tapak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan, maka langit yang punya gugusan bintang, dan bumi yang memiliki jalan-jalan yang lebar, dan laut-laut yang bergelombang, tidakkah itu menunjukkan adanya (Allah) Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui?” (Syarh al-Bukhari li al-Safiry, 1/461).

Lalu bagaimana dengan seseorang yang dia tidak pernah berpikir sederhana sekalipun untuk mencari dalil yang menguatkan akidahnya, berdosakah dia? Jika dia tidak pernah berpikir karena tidak punya pikiran (safîh) maka dia tidak berdosa, dan secara umum tak terbebani hukum. Allâhu A’lam. [MTaufikNT]

 

Baca Juga:


[1] Lihat pula Rhaudhotun Nadzir, 2/450, juga Irsyadul Fuhul, hal 265, terkait taklid dalam masalah agama. Memang ada tiga makna lain dari taklid, namun diluar pembahasan ini.

[2] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath Al-Bari (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379), 13/351.

[3] Ibid.

Posted on 14 September 2018, in Aqidah, Ikhtilaf and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s