Cukupkah dengan Salat Saja?

Dari Abu Hurairah, Nabi saw  bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ.

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah salatnya. Apabila salatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila salatnya rusak, dia akan gagal  dan merugi….” (HR. Abu Daud)

Sebagian orang menjadikan hadits ini untuk menghindari berbagai kewajiban lain, terlebih kewajiban yang terkait dengan ‘politik’ seperti mengoreksi kebijakan penguasa, dia merasa bahwa yang penting salatnya full dan baik, dengan begitu dia merasa yakin kelak akan  selamat di akhirat.

Ada beberapa hal yang perlu diluruskan:

Pertama, hadits tersebut tidak berarti bahwa setelah salatnya ‘baik’, maka tidak ada lagi yang akan dipertanggungjawabkan. Dalam riwayat lain, setelah menjelaskan bahwa kekurangan salat akan dilengkapi dengan salat sunnah, Beliau saw lalu menyebutkan:

 

ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ

Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.”

Juga dalam riwayat Imam an Nasa-i disebutkan:

وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“dan pertama kali yang akan diputuskan dalam persoalan antar manusia adalah dalam urusan darah (pembunuhan/penganiayaan)”

Kedua, salat yang baik, jika tidak dibarengi dengan amal lain yang baik, maka bisa terjerumus kepada kebangkrutan di hari kiamat.  Rasulullah  saw bersabda:

“Orang yang bangkrut  dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan salat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim) [1]

Ketiga, terdapat hal-hal lain yang jika tidak terpenuhi bakalan menghalangi seseorang dari masuk surga, seperti hutang yang tidak dibayar, termasuk dalam hal ini adalah ridha dan mengikuti kemungkaran. Rasulullah saw  bersabda: 

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ

Akan ada  para pemimpin, mereka melakukan kebajikan dan juga kemungkaran. Siapa yang mengetahui kemungkarannya (lalu berupaya mengubahnya)  maka ia  bebas dari dosa dan hukuman. Barangsiapa mengingkari kemungkarannya, maka dia selamat. Sedangkan (dosa dan hukuman adalah) bagi yang ridha dan mengikutinya.” (HR. Muslim)

Keempat, hadits tersebut seharusnya difahami bahwa baik dan diterimanya salat seseorang merupakan sebab diberinya dia taufik dari Allah untuk melaksanakan amal-amal shalih yang lain. Sebaliknya, jika ternyata salatnya seseorang justru menjadikannya meremehkan hukum-hukum Allah yang lain, itu justru pertanda bahwa ada yang tidak beres dengan salatnya.

ثواب الحسنةِ الحسنةُ بعدَها فمن عمل حسنةً ثم اتَّبَعَها بعد بِحَسَنَةٍ كان ذلك علامةً على قبول الحسنة الأولى

Ganjaran perbuatan baik adalah (mendapatkan taufik untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama.” (Ibn Rajab, Lathâ-iful Ma’arif, hal. 221). 

Kelima, nilai salat seseorang tidak hanya terletak pada rutin tidaknya, namun tergantung dengan kesadaran, penghayatan dan kekhusyu’an dalam melaksanakannya. Rasulullah menyatakan, 

وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

 ”Berapa banyak orang yang salat (malam), dia tidak memperoleh dari salatnya selain  letih belaka.” (HR. Ahmad).  

Imam Sufyan at Tsauri (w. 161 H) berkata:

يُكْتَبُ لِلرَّجُلِ مِنْ صَلَاتِهِ مَا عَقِلَ مِنْهَا

“ditulis bagi seseorang pahala salatnya (berdasarkan) apa yang dia fahami dari salatnya (berdasarkan kehadiran hatinya)”  (Abu Nu’aim, Hilyatul Awliya, 7/61[2])

Jika seseorang salat dengan penuh kesadaran dan penghayatan, maka kemungkinan kecil dia akan meremehkan hukum-hukum Allah yang lain. Allahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:


[1] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

[2] Versi maktabah syamilah

Posted on 13 September 2018, in Ibadah, Kritik Pemikiran and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Ustaz, barakallahu, tulisan ustaz bagus. Saya suka menulis, tapi belum bisa sebagus ustaz

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s