Motif Hijrah Nabi

Hijrah pertama dan kedua ke Habasyah dilakukan dalam rangka menjaga diri dan agama mereka saat  tekanan, siksaan dan persekusi terhadap para sahabat kian menjadi-jadi. Berangkatlah 16 orang sahabat  pada periode pertama dan  101 sahabat pada periode kedua.

Adapun hijrahnya Nabi saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, bukanlah sekedar untuk menyelamatkan diri dari siksaan, namun bertujuan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh (kâffah), dengan tegaknya Daulah Islam di Madinah. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa hal:

Pertama, dakwah Rasulullah tidak sebatas mengajak masyarakat untuk beriman dan berprilaku baik saja, namun Beliau saw juga meminta nushroh dan kekuasaan untuk melindungi dakwah, sehingga dengan itu Islam bisa ditegakkan dengan sempurna dan menyeluruh.

Pasca wafatnya Khadijah r.a dan Abu Thalib, Allah memerintahkan Beliau untuk menawarkan dirinya pada kabilah-kabilah Arab, maka Beliau  keluar bersama Ali dan Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhumâ  untuk melobi majelis-majelis orang Arab, mengajak mereka masuk Islam dan menjadikan kekuatan mereka untuk melindungi dakwah. Sebagian besar mereka langsung menolak tawaran Rasulullah, ada pula yang mencari keuntungan seperti Bani ‘Amr bin Sha’sha’ah yang menginginkan agar merekalah yang berkuasa setelah Nabi. Dengan  tegas Nabi menjawab keinginan mereka:

الأَمْرُ إلَى اللّٰهِ، يَضَعُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Perkara (kekuasaan) itu (urusannya) kembali kepada Allah, Dia meletakkannya kepada siapa yang Dia kehendaki.”(Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, 1/424).

Dan akhirnya merekapun menolak tawaran Nabi saw. Meski mendapat penolakan yang buruk, namun Beliau tetap mencari dan tidak berhenti untuk mencari kabilah yang mau menjadikan kekuasaan mereka untuk melindungi dakwah. Tak kurang dari 15 kabilah/marga yang Beliau lobi, dan semua berakhir dengan penolakan. (Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqât Al-Kubrâ (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 1/168)

Jika saja yang Beliau inginkan hanya sekedar mereka masuk Islam, tidak terkait dengan kekuasaan dan pemerintahan, tentunya tidak masalah Beliau menerima keinginan Bani Amir tersebut.

Kedua, hijrah terjadi setelah masyarakat tujuan menerima kepemimpinan Rasulullah, tanpa syarat yang bertentangan dengan Islam.  As’ad bin Zurarah, yang bertindak sebagai pemimpin suku Khazraj menjawab seruan Rasul:

ودعوتنا ونحن جماعة في دار عز ومنعة، لا يطمع فيها أحد أن يرأس علينا رجل من غيرنا قد أفرده قومه وأسلمه أعمامه، وتلك رتبة صعبة فأجبناك إلى ذلك

“…Engkau telah meminta kepada kami (untuk menyerahkan kekuasaan  kami dalam rangka melindungi dan menegakkan Islam). Sedangkan kami adalah suatu kelompok masyarakat yang hidup di negeri yang mulia dan kuat, yang  tidak ada seorangpun dari mereka rela dipimpin oleh orang dari luar suku kami, yang telah diasingkan kaumnya dan paman-pamannya tidak memberikan perlindungan kepadanya, (terus terang) permintaan tersebut adalah suatu hal yang sukar sekali, (namun)  kami  (telah bersepakat untuk) memenuhi permintaanmu itu…“. (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Dalâil Al-Nubuwwah, 1/264).

Jawaban  ini menunjukkan bahwa mereka faham apa yang diminta Rasulullah, yakni  bukan sekedar agar mereka masuk Islam, namun menuntut agar kepemimpinan dan kekuasaan mereka diberikan untuk Islam, ini bisa difahami dari ungkapan:

لا يطمع فيها أحد أن يرأس علينا رجل من غيرنا

 “tidak ada seorangpun dari mereka rela dipimpin oleh orang dari luar suku kami

yang menggambarkan bahwa tradisi mereka memang tidak ingin dipimpin oleh orang lain suku, akan tetapi, jika dipimpin Nabi saw mereka mau, sehingga mereka siap memberikan kepemimpinan dan kekuasaannya kepada Nabi saw.

Ketiga, ikrar (bai’at) Aqabah II tidak terjadi kecuali setelah mereka siap dengan segala konsekuensi yang akan mereka hadapi jika menjadikan kekuasaan dan kekuatan mereka untuk melindungi dan menjaga Islam.

Sebelum Bai’at terjadi,  ‘Abbas bin ‘Ubâdah bin Nadhlah r.a memastikan kesiapan orang-orang Anshar dengan berkata: “… Jika kalian merasa bahwa jika harta benda kalian habis binasa dan pemuka masyarakat kalian terbunuh, akan menyebabkan kalian menyerahkan dia/Muhammad (kepada musuh), maka (lebih baik) dari sekarang tinggalkan saja dia. Karena jika itu yang kalian lakukan, ini adalah suatu kehinaan  dunia akhirat. Sebaliknya, bila kalian merasa dapat menepati janji seperti yang kalian berikan kepadanya itu, sekalipun harta-benda kalian akan habis dan pemuka masyarakat kalian akan terbunuh, maka silakan saja kalian  terima dia, demi Allah itulah sebaik-baik  dunia dan akhirat.”

Mereka menjawab sekaligus bertanya:

فَإِنَّا نَأْخُذُهُ عَلَى مُصِيبَةِ الْأَمْوَالِ، وَقَتْلِ الْأَشْرَافِ، فَمَا لَنَا بِذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنْ نَحْنُ وَفَّيْنَا (بِذَلِكَ)؟

 “Akan kami lakukan Ikrar tersebut, sekalipun konsekuensinya adalah musibah harta dan terbunuhnya para pemuka masyarakat, lalu apakah balasan bagi kami wahai Rasulullah jika  kami tepati semua ini?

Beliau saw menjawab:  “Surga”. Lalu Beliau diminta mengulurkan tangannya dan mereka membaiatnya.

Keempat, orang-orang Quraisy sendiri sebenarnya mentolerir banyaknya agama dan kebebasan berkeyakinan asalkan tidak mengarah kepada kekuasaan (negara) yang akan menggerogoti rezim saat itu. Waraqah bin Naufal bisa hidup tenang di tengah Quraisy sebagai ahlul kitab. Muhammad saw, walaupun mereka tahu bahwa Beliau saw tidak pernah mau bersujud kepada berhala, selama empat puluh tahun masih bisa hidup dengan tenang, mereka posisikan sebagai orang terpercaya (al-Amîn), bahkan mereka jadikan hakim untuk memutus perkara yang mereka perselisihkan. Bahkan mereka bisa mentolerir ibadah kaum muslimin jika dilakukan diam-diam, sebagaimana kasus Abu Bakar r.a dan Ibnu Daghannah r.a. Mereka secara keras menghalangi dakwah Rasulullah ketika mereka faham bahwa Beliau akan membentuk kekuasaan dalm rangka menerapkan Islam.

Dr. Imaduddin Khalil menyatakan bahwa sesungguhnya Islam datang untuk diwujudkan dalam tiga cakupan yang saling terkait: cakupan sebagai manusia, negara, dan peradaban (hadhârah). Cakupan sebagai manusia (individual) telah tersampaikan di Makkah, hanya saja terkait siyasah (politik), sosial kemasyarakatan dan perekonomian tidak bisa terwujudkan tanpa negara (daulah), karena itulah Rasulullah berjuang dalam rangka hijrah setelah memahami bahwasanya Makkah tidak layak untuk tegaknya Daulah. (Imaduddin Khalil, Dirâsah Fi Al-Sîrah, h.106-107).

Setelah Rasul saw mendapat nushrah (pertolongan) dari penduduk Madinah, yakni setelah Baiat Aqabah II—yang dikenal sebagai bai’at atas pemerintahan–, dan Madinah menjadi dâr al-Islam secara de jure, barulah hijrah ke Madinah dilakukan.

Saat menyuruh sahabat hijrah ke Habasyah Beliau berkata:

فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ

 “Sesungguhnya di sana (Habasyah) ada seorang raja yang tidak menzalimi seorangpun” [i]

namun saat menyuruh sahabat berhijrah ke Madinah, Beliau menyatakan:

إنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ جَعَلَ لَكُمْ إخْوَانًا وَدَارًا تَأْمَنُونَ بِهَا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan untuk kalian para saudara dan tempat kediaman (negara) yang kalian akan aman dengannya”[ii]

Ini semua menunjukkan bahwa hijrah ke Madinah ini adalah hijrah menuju negara Islam yang telah diperjuangkan Rasulullah sebelumnya. Oleh karena itu, terkait hijrah ke Madinah ini, Imam Ibnul Arabi mendefinisikan:

 الهجرة وهي الخروج من دَارِ الْحَرْبِ إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ

“Hijrah adalah keluar atau berpindah dari Negara yang diperangi/negara kufur ke negara Islam.”[iii]

Para ulama dan sejarawan Islam telah sepakat bahwa Madinah setelah Hijrahnya Nabi saw telah berubah dari sekedar sebuah kota menjadi sebuah negara Islam. Jika hanya dikatakan sebuah kampung, adakah kepala kampung yang memiliki pasukan, mengangkat petugas zakat, mengikat perjanjian dengan negara lain, mengangkat penguasa daerah, menegakkan hukum hudud dan jinayat, serta aktivitas lain yang terkait dengan kenegaraan? Tentu orang yang berfikiran jernih tidak akan mengatakan yang demikian. Allâhu A’lam.  [MTaufikNT]

(Selengkapnya insya Allah bisa di baca di jurnal al-wa’ie edisi oktober 2018)

Baca Juga:

 

[i] Ibnu Hisyam, Al-Sîrah Al-Nabawiyyah (Mesir: Musthafa Al Bâbi, 1955), 1/321.

[ii] Ibid., 1/468.

[iii] Al Qurthuby, Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, 1964), 5/349.

Posted on 10 September 2018, in Afkar, Tarikh and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s