Solusi Islam atas Kenaikan Harga

Meningkatnya harga telur bulan ini cukup tinggi, efeknya juga cukup terasa, misalnya keu bolu[1] yang sebelumnya harganya Rp. 32 ribu naik 25% menjadi Rp. 40 ribu per biji.

Tidak heran jika kemudian Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ‘menganalisis’ dan memberitahu kepada masyarakat bahwa naiknya harga tersebut dipicu oleh sejumlah momentum seperti hari raya, masa libur yang panjang hingga perhelatan pesta sepak sepak bola Piala Dunia[2], namun demikian pihak kepolisian tetap menyelidiki penyebab kenaikan harga telur tersebut.[3]

Setidaknya ada dua sebab kenaikan harga; pertama, faktor kelangkaan alami yang terjadi karena gagal produksi, kemarau berkepanjangan dll, sehingga ketika barang berkurang sementara yang membutuhkan barang tersebut banyak, maka otomatis harga akan naik. Sebab kedua, karena penyimpangan ekonomi dari hukum-hukum syari’ah Islam, terjadinya ihtikâr (penimbunan), permainan harga (ghabn al fâkhisy), hingga liberalisasi yang menghantarkan kepada ‘penjajahan’ ekonomi.

Secara individual, ketika harga-harga melambung, apapun penyebabnya, seorang muslim tidak boleh terguncang jiwanya, keyakinannya bahwa Allahlah yang memberi rizki dan menentukan segala sesuatu tidak boleh luntur, juga tidak layak mengeluhkan hal ini kepada manusia.

Salamah bin Dinar pernah ditanya: “wahai Abu Hâzim, tidakkah engkau perhatikan bahwa harga-harga melambung tinggi?”

Maka beliau menjawab:

وما يُغِمُّكم من ذلك؟ إن الذي يرزقُنا في الرُخْصِ هو الذي يرزقنا في الغَلاء

“Lalu apa yang membuat engkau galau dengan hal tersebut? Sesungguhnya Yang Memberi Rizki kepada kita saat harga turun, Dia pula yang memberi rizki kepada kita saat harga-harga naik”

Itu dari sisi i’tiqad tentang rizki, namun dari sisi hukum syari’at, manusia diwajibkan untuk berusaha mengatasinya, bukan diam berpangku tangan melihat kenaikan harga yang menyulitkan masyarakat, apalagi menjadikan agama hanya sebagai ‘obat penenang’ yang menina-bobokan umat dari melakukan perubahan.

Islam telah memberikan solusi bagaimana mengatasi kenaikan harga tersebut. Jika melambungnya harga karena faktor “alami” yang menyebabkan kelangkaan barang, maka disamping umat dituntut bersabar, Islam juga mewajibkan negara untuk mengatasi kelangkaan tersebut dengan mencari suplay dari daerah lain.

Pada akhir tahun 17 H, di Madinah terjadi musim paceklik parah yang dikenal dengan sebutan ‘âm ramâdah, Khalifah Umar r.a mengirim surat kepada Amru bin Al Ash, gubernur beliau di Mesir yang isinya:

من عبد الله عمر أمير المؤمنين إلى عمرو بن العاص: سلام عليك؛ أما بعد؛ فلعمري[4] يا عمرو ما تبالي إذا شبعت أنت ومن معك، أن أهلك أنا ومن معي؛ فياغوثاه، ثم ياغوثاه!

“Dari hamba Allah, Umar, Amîrul Mukminin, kepada Amru bin al Ash: salaamun ‘alaik, ‘amma ba’du, demi umurku wahai Amru, tidakkah engkau peduli jika engkau dan orang yang bersamamu kenyang, sementara aku dan orang yang bersamaku binasa (karena kelaparan), (kirimkanlah) bantuan!”

Kemudian Amru membalas surat tersebut:

لعبد الله عمر أمير المؤمنين، من عبد الله عمرو بن العاص؛ أما بعد فيا لبيك ثم يا لبيك! قد بعثت إليك بعيرٍ أولها عندك وآخرها عندي. والسلام عليك ورحمة الله.

“Kepada hamba Allah, Umar, Amîrul Mukminin, dari hamba Allah, Amru bin al Ash, amma ba’du, aku penuhi seruan engkau, aku penuhi, sungguh telah ku kirim kepadamu unta-unta (dengan muatan makanan diatasnya), yang awal rombongannya akan sampai kepada engkau, sementara ujung rombongannya masih ada di tempatku, wassalaamu ‘alaika wa rahmatullaah” (Imam As Suyuthi (w.911 H), Husnul Muhadharah fi Tarikh Mishr wal Qahirah, 1/156. Maktabah Syamilah)

Jika seluruh wilayah dalam negeri keadaannya sama, maka bisa diselesaikan dengan kebijakan impor dengan masih memperhatikan produk dalam negeri.

Akan tetapi jika melambungnya harga disebabkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’ah, maka Penguasa harus mengatasi agar hal tersebut tidak terjadi. Rasulullah saw sampai turun sendiri ke pasar untuk melakukan ‘inspeksi’ agar tidak terjadi ghabn (penipuan harga) maupun tadlis (penipuan barang/alat tukar), beliau juga melarang penimbunan (ihtikar). Khalifah Umar bahkan melarang orang yang tidak mengerti hukum fikih (terkait bisnis) dari melakukan bisnis. Para pebisnis secara berkala juga pernah diuji apakah mengerti hukum syara’ terkait bisnis ataukah tidak, jika tidak faham maka mereka dilarang berbisnis. Hal ini karena setiap kemaksiyatan, apalagi kemaksiyatan terkait ekonomi, itulah yang akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan ekonomi.

Jika pelaku kemaksiyatan itu justru penguasa, mereka mengabaikan hukum syara’, maka masyarakatlah yang harus mengambil peran untuk meluruskan hal tersebut. Ketika khalifah Mu’awiyah berkhutbah pasca pencabutan pemberian (subsdi) kepada masyarakat, dan beliau berkata dalam dari atas mimbarnya isma’û wa athî’û (dengarlah oleh kalian dan taatilah), mendengar itu maka berdirilah Abu Muslim seraya berkata: Lâ sam’a wa lâ thô’ata yâ Mu’âwiyah (tidak (wajib) mendengar dan ta’at hai Mu’awiyah). Muawiyah bertanya: “mengapa wahai Abu Muslim?”, maka Abu Muslim menjawab:

كَيْفَ تَمْنَعُ الْعَطَا وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ كَدِّكَ وَلا كَدِّ أَبِيكَ وَلا مِنْ كَدِّ أُمِّك؟

“bagaimana engkau bisa menyetop subsidi, padahal dia bukan hasil kerja engkau, bukan hasil kerja bapakmu, bukan pula hasil kerja ibumu?” …. akhirnya Muawiyah sadar dan tidak jadi menghentikan subsidi tersebut. (Mawâridudh Dham’ân Li Durûsiz Zamân, 4/117)[5]

Beginilah Islam mengatasi kenaikan harga, yang tentunya hal tersebut akan bisa terlaksana dengan baik jika ditopang oleh penerapan hukum syari’at dalam seluruh aspek kehidupan. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Download versi khutbah Jum’atnya di sini (pdf)

Baca Juga:

[1] Pengalaman penulis sendiri ketika membeli kue bolu Hj. Enong di Banjarbaru.

[2] https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1054683-harga-telur-melonjak-gara-gara-piala-dunia

[3] https://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-selidiki-penyebab-harga-telur-melambung-tinggi.html

[4] قال ابن منظور في معجمه : “والعرب تقول في القسَم لَعَمْرِي ولَعَمْرُك يرفعونه بالابتداء ويضمرون الخبر كأَنه قال لَعَمْرُك قَسَمِي أَو يميني

[5] Bisa juga dibaca dengan redaksi yang mirip pada Hilyatul Awliya, 2/130, juga Syarh Ushulu I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, 8/1525. Maktabah syamilah

Iklan

Posted on 19 Juli 2018, in Ekonomi, Khutbah Jum'at and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s