Sederhana

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar yang kasar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Melihat hal itu, berkatalah Ibnu Mas’ud:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَمَرْتَنَا أَنْ نَبْسُطَ لَكَ وَنَعْمَلَ[1]

“Wahai Rasulullah, kalau engkau izinkan, kami akan bentangkan untukmu tempat tidur yang empuk, dan baju yang bagus”

Beliau menjawab:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا[2]، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Tidak ada urusan kecintaanku dengan dunia, Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara bernaung di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidur hanya beralas selembar tikar kasar hingga membekas di tubuh beliau, keadaan itu membuat Umar menangis, hingga Rasulullah bertanya:

مَا يُبْكِيْكَ؟

“Apa yang membuatmu menangis?”

Maka Umar menjawab,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ

“Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (penguasa Persia) dan Kaisar (penguasa Romawi) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah (yang jauh lebih mulia daripada mereka, dan lebih layak untuk mendapatkan yang terbaik di dunia ini).”

Mendengar itu, Rasulullah menjawab,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟

“Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berbagai jalur riwayat tersebut menunjukkan bahwa kesederhanaan Rasulullah tersebut memang alami, bukan hanya sesekali untuk keperluan akting saja.

Kehidupan dan teladan Rasulullah inilah yang membekas dan menjadikan kehidupan khalifah setelahnya mengikuti pola beliau.

Abu Bakar r.a, hanya mengambil harta negara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari – dengan sangat sederhana. Ketika menjelang wafat, beliau berwasiat agar mengembalikan jika ada sisa harta negara yang beliau pakai dalam menjalankan tugas.

Ketika diperiksa, ternyata tidak ada yang bertambah dari hartanya kecuali unta yang biasa dipergunakan untuk menyirami kebun, seorang hamba sahaya dan selembar selimut beludru seharga lima dirham. Tambahan harta inilah yang kemudian diserahkan kepada ‘Umar, mengetahui ini Umar menangis sambil berkata:

يرحم الله أبا بكر لقد أتعب من بعده

“Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh Beliau telah menyusahkan orang-orang setelahnya.” (Ibnu Hamdûn (w. 562 H), at Tadzkirah al Hamduniyyah, 1/139)

Maksud “menyusahkan orang-orang setelahnya” adalah membuat khalifah sesudahnya sulit untuk menyamainya, apalagi mengungguli Abu Bakar.

Ini pula yang dilakukan Khalifah Umar, beliau hidup sederhana, beliau pernah minta masukan kepada Salman al Farisi, apa kira-kira kekurangan beliau dalam pandangan masyarakat. Salman menolak, tetapi Umar mendesak. Akhirnya Salman berkata,

بلغني أنك جمعت بين إدامين على مائدة وأن لك حلتين حلة بالنهار وحلة بالليل

“Aku mendengar engkau mengumpulkan dua macam lauk dalam satu hidangan, dan engkau memakai satu pakaian di waktu malam dan satu lagi di waktu siang.”

Umar bertanya,

وهل بلغك غير هذا

“Apakah engkau mendengar selain itu?”

Salman menjawab, “Tidak.”

Umar berkata,

أما هذان فقد كفيتهما

“Kedua hal ini telah cukup bagiku (untuk memperbaiki diri).” (al Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, 3/64. Maktabah Syamilah)

Sejak saat itu, Umar tidak pernah makan dengan dua macam lauk, beliau tidak protes atau membela diri dengan mengatakan “ahh itu kan cuma secuil dari APBN” atau “aah, sebelum menjadi khalifah aku sudah biasa makan lebih dari itu”, tidak, beliau benar-benar menjadikan dirinya teladan, bahkan lebih sederhana daripada keadaan beliau sebelum menjadi khalifah. [MTaufikNT]

Baca Juga:

[1] مرقاة المفاتيح: وَالتَّقْدِيرُ: لَوْ أَذِنْتَ لَنَا أَنْ نَبْسُطَ لَكَ) : فِرَاشًا لَيِّنًا (وَنَعْمَلَ) أَيْ: لَكَ ثَوْبًا حَسَنًا. أَيْ: لَكَانَ أَحْسَنَ مِنِ اضْطِجَاعِكَ عَلَى هَذَا الْحَصِيرِ الْخَشِنِ،

[2] فيض القدير : (ما لي وللدنيا) أي ليس لي ألفة ومحبة معها ولا أنها معي حتى أرغب فيها أو ألفة وصحبة لي مع الدنيا؟

Iklan

Posted on 31 Mei 2018, in Akhlaq and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s