Ketika Setan Memfitnah Setan

Imam al Qurthubi (w. 671 H), dalam tafsirnya menceritakan bagaimana kegigihan Setan dalam mengoda keluarga Nabi Ibrahim supaya tidak menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Isma’il.

Setan menyerupai seorang lelaki, lalu mendatangi Hajar, ibunya Isma’il, dan berkata:

أَتَدْرِينَ أَيْنَ يَذْهَبُ إِبْرَاهِيمُ بِابْنِكِ

Apakah kau tahu kemana Ibrahim pergi bersama putramu?’

Jawab Hajar: La (‘Tidak!’),

Setan berkata:

إِنَّهُ يَذْهَبُ بِهِ لِيَذْبَحَهُ

‘Dia pergi hendak menyembelih putramu’.

Hajar menjawab:

كَلَّا هُوَ أَرْأَفُ بِهِ مِنْ ذَلِكَ

tidak mungkin, dia sangat sayang dengan putranya’.

Setan berkata:

إِنَّهُ يَزْعُمُ أَنَّ رَبَّهُ أَمَرَهُ بِذَلِكَ

‘Dia menyangka Tuhan-nya memerintahkan hal tersebut’.

Hajar menjawab:

فَإِنْ كَانَ رَبُّهُ قَدْ أَمَرَهُ بِذٰلِكَ، فَقَدْ أَحْسَن أَنْ يُطِيْعَ رَبَّهُ

‘Jika memang Tuhan-nya memerintahkan demikian, maka yang paling baik bagi Ibrahim adalah mentaatinya’.

Kemudian Setan mendatangi Ismail dan berkata:

أَتَدْرِي أَيْنَ يَذْهَبُ بِكَ أَبُوكَ؟

’Apakah kau tahu kemana bapakmu membawamu pergi?’

Ismail menjawab: La (‘Tidak!’).

Setan berkata:

فَإِنَّهُ يَذْهَبُ بِكَ لِيَذْبَحَكَ

‘Dia pergi bersamamu untuk menyembelih dirimu’.

Ismail: wa lima? (‘Kenapa?’)

Setan berkata:

زَعَمَ أَنَّ رَبَّهُ أَمَرَهُ بِذَلِكَ.

‘Dia menyangka Tuhan-nya memerintahkan demikian’.

Ismail menjawab:

فَلْيَفْعَلْ مَا أَمَرَهُ اللّٰهُ بِهِ، سَمْعًا وَطَاعَةً لِأَمْرِ اللّٰهِ

‘(kalau benar itu perintah Tuhan) maka hendaklah dia mengerjakan apa yang diperintahkan Allâh, mendengar dan taat kepada perintah Allâh’.

Setelah gagal dua kali, akhirnya Setan mendatangi Ibrahim dan berkata:

أَيْنَ تُرِيدُ؟ وَاللّٰهِ إِنِّي لَأَظُنُّ أَنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ جَاءَكَ فِي مَنَامِكَ، فَأَمَرَكَ بِذَبْحِ ابْنِكَ.

‘Kemana kau hendak pergi? Demi Allâh aku yakin bahwa Setan datang dalam mimpimu kemudian memerintahmu untuk menyembelih putramu.”

Namun Nabi Ibrahim tahu bahwa lelaki tersebut adalah Setan kemudian beliau mengusirnya’. (Al Jâmi’ li Ahkâmil Qur’an, 15/105-106)

Keluarga Nabi Ibrahim a.s. memberi teladan kepada kita bahwa ketika perintah dan hukum Allâh datang, kapanpun dan dimanapun, maka apapun harus sanggup dikorbankan untuk menjalankannya, sekalipun itu nyawa taruhannya.

Kisah tersebut juga memberikan pelajaran, bahwa Setan, baik dari kalangan jin maupun manusia, akan senantiasa berupaya menghalang-halangi manusia dari ketaatan kepada Allah. Untuk meraih tujuannya, Setan tidak segan-segan menggunakan akun palsu (yakni menyerupai manusia), tidak segan-segan bersumpah atas nama Allah, sebagaimana dia katakan “wallaahi” (demi Allah),  juga tidak segan-segan menebar fitnah, bahkan fitnah kepada dirinya sendiri, sebagaimana perkataan setan: “inni la-adzunnu annas-syaithaana qad jaa-aka fii manaamika fa-amara bidzab-hi ibnika” (aku yakin bahwa Setan datang dalam mimpimu kemudian memerintahmu untuk menyembelih putramu).

***

Dalam era kekinian, agaknya Setan dari jenis Jin sudah bisa ‘beristirahat sejenak’[1], tidak perlu lagi dia merubah rupa menjadi manusia, karena tidak sedikit manusia yang secara sukarela menggantikan perannya setan dengan sangat baik.

Andai perintah kepada Nabi Ibrahim itu datang sekarang, kemungkinan besar akan banyak para tokoh, pembela HAM, pegiat sosmed maupun TV yang akan menggantikan posisi Setan tersebut untuk menghalangi Ibrahim dari menyembelih Isma’il.

Tak ketinggalan sebagian “‘ulama” pun akan melakukan hal yang sama, mencarikan dalil, dalih dan kaidah agar Ibrahim tidak melaksanakan perintah Tuhannya.

Kaidah “dar-ul mafâsid muqaddamun ‘ala jalbil mashâlih” (menolak bahaya (tersembelihnya Isma’il) harus didahulukan daripada meraih kemaslahatan), apalagi dengan disembelihnya Ismail, tidak ada kemashlahatan yang diperoleh, tidak akan menurunkan harga barang, juga tidak akan menguatkan nilai tukar mata uang, kaidah ini tentu akan populer di televisi.

Jika semuanya gagal, mereka masih bisa menawarkan banyak kebaikan, “perintah Allah kan banyak, tidak perlu dilaksanakan semuanya, ambil yang mudah-mudah saja”, atau “iya, perintah Allah itu bagus, namun, perintah yang ini tidak boleh dilaksanakan karena bertentangan dengan adat di sini”, proposal kebaikanpun akan berjejer menunggu persetujuan, semua hanya punya tujuan yang satu, agar Ibrohim tidak melaksanakan perintah Tuhannya.

Al Hasan bin Shalih rahimahullah berkata:

إن الشَّيْطَان ليفتح للعبد تسعة وتسعين بابا من الخير يريد به بابا من الشر

“Sesungguhnya setan bisa membukakan 99 pintu kebajikan untuk menuju 1 pintu keburukan yang dia inginkan’” (al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis, hal 63)

Jika semuanya gagal, maka bisa jadi Ibrohim akan dipersekusi, atau bahkan dijebloskan kepenjara sebelum sempat dia mengajak Ismail pergi.Allaahu A’lam. [MTaufikNT]


[1] ‘Hebatnya’, Setan itu walau sudah ‘sukses’, dia tidak pernah puas, tidak pernah beristirahat menggoda manusia, bahkan berupaya agar teman-temannya dari kalangan manusia tetap teguh meniti jalan setan tersebut.

Baca Juga:

Posted on 10 Mei 2018, in Khutbah Jum'at, Syari'ah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s