Belajar Hingga Akhir Hayat

Abdullah bin Mubarak (wafat tahun 181 H), seorang ahli fikih, ahli hadits yang wara’ dan terpercaya pernah ditanya:

إلى متى تطلب العلم؟

Sampai kapan engkau menuntut ilmu?

Beliau menjawab:

حتى الممات، إن شاء الله

Sampai mati, insya Allah” (‘Uluwwul Himmah, hal 202).

Disamping waktunya ‘dihabiskan’ untuk menuntut ilmu, beliau tidak ketinggalan juga berjihad, berniaga, menafkahkan hartanya dan senantiasa pergi haji.

Imam Abu Ja’far At Thabari (w. 310 H), ahli tafsir dan sejarah, saat dalam kondisi payah sesaat sebelum meninggal, beliau meminta tinta dan kertas. Ditanyakan pada beliau:

أفي هذه الحال؟

“Apakah dalam kondisi seperti ini (engkau masih mau menulis)?”

Beliau menjawab:

ينبغي للإنسان أن لا يدع اقتباس العلم حتى الممات

“Hendaknya setiap manusia tidak meninggalkan mengambil faedah ilmu hingga dia mati”. (‘Uluwwul Himmah, hal 207)

Sungguh kebiasaan seperti inilah yang bisa menjadikan masyarakat cerdas, maju dan berperadaban tinggi, belajar, belajar dan senantiasa belajar tak kenal usia. Abu Abdillah berkata:

وَقَدْ تَعَلَّمَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كِبَرِ سِنِّهِمْ

Sesungguhnya para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tetap) belajar dalam usia lanjut mereka”. (Shahih Bukhari, 1/25)

Jika budaya ini hilang di masyarakat, mereka merasa sudah cukup ilmunya, tidak mau lagi belajar ketika sudah sarjana, bekerja, dan beranak pinak, maka kemerosotanlah yang akan terjadi. Kebohongan dan hoax mudah memperngaruhi dan menggerakkan opini dan pola pikir masyarakat, kedustaan akan dipuji, sementara kebenaran bisa jadi akan dikriminalisasi, semua berasal dari satu hal: berhenti dan tidak mau mengkaji!.

Di samping mengkaji, hal yang tidak boleh dilupakan adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Muhammad Ibnu al-Samak berkata:

كم من شيء إذا لم ينفع لم يضر، لكن العلم إذا لم ينفع ضر

“Banyak hal tidak membahayakan saat tidak bermanfaat, Namun, ilmu ketika tidak bermanfaat, maka itu membahayakan.” (Tarikh Baghdad, 3/347).

Imam Sufyan Ats Tsauri ditanya: “menuntut ilmukah yang lebih engkau sukai atau mengamalkan ilmu?”

Beliau menjawab:

إنَّما يُرَادُ العِلْمُ للعمل، لا تَدَعْ طَلَبَ العِلم للعمل، ولا تَدَعِ العَمَلَ لطَلَبِ العِلْم

“sesungguhnya maksud dari mengkaji ilmu adalah untuk beramal. Jangan engkau tinggalkan ilmu karena alasan beramal, jangan engkau tinggalkan beramal dengan alasan sibuk nuntut ilmu”.[M. Taufik NT]

Posted on 12 April 2018, in Akhlaq, Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s