Sekulerisme ‘Memberhalakan’ Allah

Orang-orang Arab Jahiliyyah, mereka membuat berhala (patung), menyembahnya, memuji-mujinya, dan berkorban untuk berhala tersebut. Mereka akan marah jika ada yang berani menghina berhala mereka, namun disisi lain aturan berhala tidak pernah diperhatikan dalam mengatur kehidupan mereka.

Dalam negara sekuler, Allah swt. dianggap tak lebih dari sekedar berhala (patung) sebagaimana berhala di masa jahiliyyah: silahkan dipuji, disembah, dikagumi, disanjung, kalau Allah dihina boleh marah, namun dalam mengatur kehidupan Allah ‘tidak boleh ikut campur’, aturan-Nya tidak boleh diterapkan. Al Qur’an boleh dibaca, dikaji, dihafal bahkan dilombakan, namun tidak dijadikan rujukan dalam mengatur negara. Inilah sebenarnya bentuk ‘penghinaan’ tak langsung kepada Islam, kepada Allah dan kitab-Nya.

Jika berhala (patung) tidak dijadikan rujukan dalam kehidupan masyarakat jahiliyyah memang wajar, karena patung-patung mereka tidak pernah membuat aturan. Akan tetapi kalau Allah swt. diperlakukan seperti perlakuan kepada patung, bukankah ini ‘penghinaan’ yang besar? Yang bahkan al Qur’an pun turut melaknatnya? Sebagaimana pernyataan Anas bin Malik r.a:

رُب تال للقرآن والقرآن يلعنه

“Banyak orang yang membaca al Qur’an sedangkan al Qur’an melaknatnya.” (Ihya’ ‘Ulûmiddîn, 1/674).

Ayat-ayat riba dibaca, namun ekonomi yang diterapkan berbasis riba. Ayat-ayat yang melarang kedzaliman (memutuskan perkara selain dengan hukum Allah) dilantunkan, namun kedzaliman (pengabaian hukum-hukum Allah) tetap dilanjutkan, padahal ketika membaca al Qur’an dibaca pula ayat:

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dzalim. (QS. Hûd :18).

Bukankah itu berarti Al Qur’an telah melaknat orang dzalim yang sedang membacanya?. Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

Posted on 8 April 2018, in Kritik Pemikiran and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Judul tulisan ini tak etis dan tak relevan, maksudnya dapat saya mengerti tapi judul dan ada baris kalimat yang amat sensitif

    Judul mohon diganti, dan ulasan pada pragraf ke dua tidak terlalu tepat dqn ada kalimat yang sensitif

    NB : Meneruskan pesan teman

    Suka

    • Terima kasih atas komentarnya, sengaja saya buat judul begitu karena sekulerisme memang kenyataannya begitu, itupun sudah saya kasih tanda ‘…’, namun agar lebih soft, saya ubah judulnya dengan menambahkan subyeknya, yakni “Sekulerisme ‘Memberhalakan’ Allah’.
      Termasuk paragraph kedua, saya tulis untuk menggugah pemikiran dan perasaan pembaca. Kalau ingin direvisi, tolong disampaikan kalimat revisiannya seperti apa untuk saya pertimbangkan…. yg perlu diperhatikan, yang saya tulis ini membicarakan sistem, yakni sekulerisme, bukan orang/person.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s