Mengoptimalkan Waktu Tidur

Jika rata-rata seseorang tidur 6 jam sehari, maka dalam 70 tahun berarti dia telah menghabiskan 17,5 tahun usianya untuk tidur. Jika tidurnya hanya sekedar tidur, tidak diberi nilai pahala kebaikan di sisi Allah Ta’ala, maka 25% usianya tidak bermakna apapun, sia-sia belaka. Jika yang dihitung hanya shalat, dan sekali shalat dia menghabiskan waktu 6 menit, maka shalatnya hanya 2% saja dari waktu hidup dia, alangkah ruginya.

Tidur merupakan satu bentuk dari rahmat Allah sebagaimana firman-Nya:

وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan supaya kamu bersyukur”. [Al Qashahs: 73].

وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُم بِالَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah tidurmu diwaktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karuniaNya”. [Ar Rum: 23]

Dan tidur bisa ‘dioptimalkan’ sehingga bukan hanya sekedar tidur, namun menjadi bernilai ibadah yang bisa diharapkan pahalanya di sisi Allah Ta’ala. Bagaimana caranya? Secara ringkas adalah sebagai berikut:

1. Menata Niat

Ketika sahabat Muadz bin Jabal r.a ditanya bagaimana cara beliau membaca al Quran, beliau menjawab:

أَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ فَأَقُومُ وَقَدْ قَضَيْتُ جُزْئِي مِنْ النَّوْمِ فَأَقْرَأُ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

aku tidur diawal malam kemudian bangun, kulaksanakan hak tidurku, dan aku baca apa yang Allah tetapkan bagiku, Aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana berharap pahala dari ibadah malamku. (HR. Al Bukhary)

Tentang riwayat ini, Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan:

وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يَطْلُبُ الثَّوَابَ فِي الرَّاحَةِ كَمَا يَطْلُبُهُ فِي التَّعَبِ لِأَنَّ الرَّاحَةَ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْإِعَانَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ حَصَّلَتِ الثَّوَابَ

“Maknanya adalah ia mencari ganjaran pahala dalam istirahat sebagaimana ia mencarinya dalam kelelahan (ibadah), karena istirahat jika dimaksudkan untuk membantu dalam beribadah maka akan mendatangkan pahala”[1].

Agar tidur tidak sia-sia, bisa dengan meniatkan dalam hati bahwa kita tidur bukan sekedar untuk melampiaskan rasa kantuk, namun dalam rangka menguatkan tubuh untuk beribadah, memenuhi hak tubuh, juga meniatkan untuk bangun malam melaksanakan tahajjud, karena dengan niat ini, walaupun misalnya dia tetap tertidur, maka fadhilah sholat malam sudahlah didapatnya, insya Allah. Jabir r.a berkata: “kami bersama Nabi dalam sebuah peperangan (yakni perang Tabuk), maka Nabi berkata:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ

“Sesungguhnya di Madinah ada orang- orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, namun mereka bersama kalian (dalam hal memperoleh pahala[2]), (mereka tidak berangkat karena) terhalang oleh (uzur) sakit.” (HR. Muslim).

2. Menjalankan Tuntunan Rasulullah Terkait Tidur

Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila kamu ingin ke tempat tidur, berwudlu’lah terlebih dahulu sebagaimana kamu berwuduk untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas lambung kanan. Kemudian bacalah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

(Ya Allah, aku pasrahkan wajahku(diriku) kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan perasaan senang dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus)

Jika kamu meninggal pada malammu itu, maka kamu dalam keadaan fitrah dan jadikanlah do’a ini sebagai akhir kalimat yang kamu ucapkan.”

Al Bara’ bin ‘Azib berkata, “Maka aku ulang-ulang do’a tersebut di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga sampai pada kalimat: âmantu birasûlikalladzî arsalta (aku beriman kepada rasul-Mu yang telah Engkau utus), beliau bersabda: “(Jangan), tetapi katakanlah “âmantu binabiyyikalladzî arsalta”[3] (aku beriman kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus).” (HR. Muslim)

Rasulullah juga tidak biasa tidur sebelum membaca dua surah, surat as Sajadah dan al Mulk (Tabarak). Dari Jabir r.a, dia menyatakan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ، وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Rasulullah saw tidaklah beliau tidur hingga beliau membaca alif laam miim tanzil (as sajadah) dan tabaarakalladzii biyadihil mulk” (HR. Ahmad).

Dan masih banyak riwayat-riwayat bahwa beliau menghabiskan waktu sebelum tidur dengan berbagai dzikir.

3. Tidur Seperlunya

Point pertama dan kedua di atas janganlah menjadikan seseorang kemudian kerjaannya hanya tidur, karena walaupun tidurnya sudah diseting sedemikian rupa, tetap ada aktivitas lain yang lebih mulia daripada tidur, melalaikan kewajiban dengan sengaja tidur tetaplah dosa. Lagi pula banyak tidur bukanlah tabiat orang-orang shalih.

Abdullah bin Mas’ud r.a berkata:

ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه، نقص فيه أجلي، ولم يزد فيه عملي

“tidak ada penyesalanku atas sesuatu melebihi penyesalan ku atas suatu hari dimana matahari tenggelam, umurku berkurang dan tidak bertambah amalku” (Qîmatuz Zamân, hal 27).

Muhammad bin Hasan as Syaibani (w. 189 H), beliau tidaklah tidur malam kecuali hanya sebentar, beliau meletakkan kitab-kitab di sampingnya, jika beliau bosan membaca suatu kitab, maka beliau akan membaca kitab yang lainnya,beliau menghilangkan kantuknya dengan air, sembari mengatakan:

إن النوم من الحرارة

“Sesungguhnya tidur itu muncul dari nafsu” (Qîmatuz Zamân, hal 31).

Tidak heran jika mereka bisa berkarya sedemikian rupa, mereka mengurangi tidur untuk beramal, mereka tidur juga dalam rangka beramal shalih, bukan untuk sia-sia. Bisakah kita berupaya mencontohnya?. Semoga. [MTaufikNT]


Baca Juga:

[1] Fathul Bâry, 8/62

[2] Dalam lafazh lain disebutkan, إِلاَّ شَرِكُوكُمْ فِى الأَجْرِ

[3] Imam an Nawawi menjelaskan mengapa Rasul mengingkari pelafalan yang berbeda:

اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي سَبَبِ إِنْكَارِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَدِّهِ اللَّفْظَ فَقِيلَ إِنَّمَا رَدَّهُ لِأَنَّ قَوْلَهُ آمَنْتُ بِرَسُولِكَ يَحْتَمِلُ غَيْرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَيْثُ اللَّفْظِ وَاخْتَارَ الْمَازِرِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّ سَبَبَ الْإِنْكَارِ أَنَّ هَذَا ذِكْرٌ وَدُعَاءٌ فَيَنْبَغِي فِيهِ الِاقْتِصَارُ عَلَى اللَّفْظِ الْوَارِدِ بِحُرُوفِهِ وَقَدْ يَتَعَلَّقُ الْجَزَاءُ بِتِلْكَ الْحُرُوفِ وَلَعَلَّهُ أُوحِي إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ فَيَتَعَيَّنُ أَدَاؤُهَا بِحُرُوفِهَا وَهَذَا الْقَوْلُ حَسَنٌ وَقِيلَ لِأَنَّ قَوْلَهُ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فِيهِ جَزَالَةٌ مِنْ حَيْثُ صَنْعَةِ الْكَلَامِ وَفِيهِ جَمْعُ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ فَإِذَا قال رسولك الذى أرسلت فان هذان الأمران مَعَ مَا فِيهِ مِنْ تَكْرِيرِ لَفْظِ رَسُولٍ وأرسلت وأهل البلاغة يعيبو

Posted on 24 Maret 2018, in Akhlaq, Ibadah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s