Kepandaian yang Membahayakan

Suatu ketika Khalifah ‘Umar bin al Khattab r.a berkata dari atas mimbar:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْمُنَافِقَ الْعَلِيمَ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah orang munafik yang ‘alim”.

Hadirin bertanya:

وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمًا؟

“bagaimana bisa seorang munafik (kok) ‘alim ?”

Beliau menjawab:

يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ وَيَعْمَلُ بِالْجَوْرِ أَوْ قَالَ الْمُنْكَرِ

“dia berkata-kata dengan hikmah, namun berbuat aniaya atau mungkar” (Al Marwazi (w. 294H), Ta’dzîmu Qadris Shalât,2/633)

Munafiq, satu kata yang mudah diucapkan, namun jarang diri sendiri merasakannya, seolah itu adalah sifat orang lain, kamu, dia, mereka,jarang terlintas dalam benak, jangan-jangan ada sifat itu dalam diri saya, diri kita. Padahal semakin kita merasa diri bersih dari kemunafikan, bisa jadi itu pertanda bahwa ada sebagian sifat-sifat kemunafikan dalam diri kita.

Ibnu Abi Mulaikah r.a berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ كُلَّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Aku mendapati 30 orang sahabat Nabi saw, seluruhnya merasa takut terhadap nifaq atas dirinya sendiri.” (Shahih Al-Bukhari).

Bahkan sahabat selevel Umar bin Al-Khaththab r.a saja takut sikap nifak itu melekat padanya. Saat Nabi saw menyebutkan secara rahasia nama-nama orang munafik kepada Hudzaifah ibnul Yaman r.a, timbul pada diri Umar r.a rasa khawatir namanya termasuk dalam deretan orang-orang munafik yang disebutkan Rasulullah saw. Maka, beliau menanyakan langsung kepada Hudzaifah ibnul Yaman r.a. Kata Umar r.a:

أنشدك الله هل سماني لك رسول الله مع من سماهم من المنافقين؟

Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah Rasulullah saw menyebutkan namaku kepadamu bersama dengan orang-orang munafik yang disebut beliau?.” Jawab Hudzaifah:

لا، ولا أزكى بعدك أحداً

“Tida, dan tidak ada (nama) seorang pun yang terbersihkan setelah (nama)mu.” maksudnya Hudzaifah tidak mau lagi membuka catatan untuk orang lain yang bertanya, bukan berarti tidak ada orang yang terbebas dari nifaq setelah ‘Umar r.a. [1] (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/472)

Apa yang diperbuat Umar r.a menunjukkan bahwa beliau masih khawatir kalau-kalau ada kemunafikan dalam dirinya, walau itu munafik ‘amaly. Padahal sungguh Nabi saw telah mempersaksikan bahwa dia termasuk sahabat yang mendapatkan jannah (surga). Lalu bagaimana dengan kita?

Tidakkah kita lebih pantas untuk mengkhawatirkan diri kita terjatuh dalam kemunafikan, bukan hanya ‘amaly namun juga i’tiqadi?. Celakalah diri yang menyikapi ayat-ayat yang bicara kemunafikan seolah ayat itu hanya untuk orang lain sementara dirinya pasti terjamin bersih darinya. Cermatilah diri kita ketika membaca ayat-ayat Allah SWT, apakah kita menerima ketentuan hukum-hukum-Nya, atau terbersit perasaan tidak suka dengan hukum-hukum-Nya?

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nisa: 61)

Seorang munafik yang pandai bersilat lidah, dia bukan hanya merusak dirinya, namun juga membahayakan orang lain. Tidak hanya dirinya yang tidak percaya dengan hukum Allah, namun dengan kepandaiannya berbicara dia bisa ‘meyakinkan’ banyak orang bahwa hukum Allah bukanlah pilihan terbaik, dengan lidahnya pula dia bisa ‘meyakinkan’ bahwa sekularisme lebih baik daripada penerapan hukum-hukum Allah Ta’ala, dengan lidahnya pula dia bisa ‘meyakinkan’ bahwa sikap dia itulah yang dikehendaki oleh Islam, sementara yang menginginkan tegaknya hukum-hukum Allah dianggap menentang ruh Islam itu sendiri.

Allah jelaskan bagaimana mereka bersumpah dengan nama Allah untuk meyakinkan pandangannya tersebut:

فَكَيْفَ إِذَآ أَصٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَآءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَآ إِلَّآ إِحْسٰنًا وَتَوْفِيقًا

Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. (Qs. An Nisa 62)

Inilah  daya rusaknya munafiq yang alim, sehingga tidak aneh jika Imam al Ghazali dalam Ihya’ nya menyatakan:

إنما فساد الرعية بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقل فساد الملوك خوفاً من إنكارهم
“hanyalah rusaknya rakyat itu adalah karena rusaknya para penguasanya, dan rusaknya para penguasa itu tidak lain adalah karena rusaknya para ‘ulamanya. Kalaulah bukan karena para hakim dan para ulama yang jahat, niscaya akan sedikit kerusakan pada para penguasa, lantaran mereka takut akan mendapatkan penentangan dari mereka.”Allaahu A’lam. [MTaufikNT]

Baca Juga:

 


[1] يعنى لا أفتح على هذا الباب فى سؤال الناس لى، وليس مراده أنه لم يخلص من النفاق غيرك

Posted on 22 Februari 2018, in Akhlaq, Khutbah Jum'at and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s