Utbah bin Rabi’ah, Ksatria Salah Jalan

Jangan kita berfikir bahwa semua penentang dakwah Rasulullah saw masa lalunya dipenuhi dengan kelicikan, kedunguan dan kebejatan. Bahkan di barisan para penentang itu, ada orang-orang cerdik, baik, bermoral, bijak dan punya track record yang cemerlang. Diantaranya ada Utbah bin Rabi’ah (567 – 624 M), yang disifati oleh Imam Adz-Dzahabi sebagai Syaikhul Jâhiliyyah[1].

Namun, tak peduli bagaimanapun kejeniusan seseorang, bagaimanapun kebijaksanaannya, sifat ksatrianya, gelar, pangkat dan kedudukannya, jika dia memposisikan dirinya menghadang jalan dakwah, maka kehinaanlah yang akan menjadi akhir ceritanya, jika tidak segera bertaubat.

Utbah, walaupun dia bukan orang kaya, namun sikap, kelembutan dan kebijaksanaannya mampu menjadikan dia sebagai pemimpin orang-orang Arab, kepemimpinan yang murni karena integritas, bukan karena pencitraan, apalagi money politic.

Abu az-Zinad berkata,

ما نعلم أحداً ساد في الجاهلية بغير مال إلأ عُتُبة بن ربيعة بغير مال

“Kami tidak mengetahui seorang pun yang memimpin di masa Jahiliyah tanpa memakai harta selain Utbah bin Rabi’ah.”[2]

Diantara bukti kepemimpinan Utbah adalah dia berhasil mendamaikan manusia ketika mereka berperang. Sikap bijaksananya menjadikan dia tidak rela terjadi peperangan antar kabilah Arab, sambil menunggangi untanya dia berteriak di tengah medan pertempuran:

يا معشر مُضَر على ما تفانون بينكم، هلم إلى الصلح

“Wahai suku Mudhar, atas dasar apa kalian saling membunuh? marilah kita berdamai.”

Kabilah Hawâzin menjawab,

وماذا تَعْرض

Apa yang engkau tawarkan?”

Utbah berkata,

أعرضُ على أن أعطي ديةَ مَن أصيب منكم ونعفو عن من أصيب منا

aku menawarkan untuk memberikan diyat bagi siapa yang terbunuh dari kalangan kalian, dan kami memaafkan kalian atas siapa yang terbunuh dari kalangan kami.”

Mereka berkata,

وكيف لنا بذلك

bagaimana (cara) kita melakukan itu?!”.

قال نعطيكم بها رهنا منا وفينا وإلا أخذتم قَوَدَكم

“Kami berikan kepada kalian jaminan dari kami dan dari orang dalam kami, jika tidak begitu kalian ambillah qishos kalian”

لما لنا بذلك

Apa (siapa) jaminan kami atas hal yang demikian?

Dia (Utbah) menjawab, Ana (Saya).

Mereka bertanya

ومن أنت

Siapa anda?

Utbah menjawab

أنا عتبة بن ربيعة بن عبد شمس

Saya Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams

Maka mereka menjawab

قد فعلنا

Sungguh kami mau melakukan (perdamaian tersebut)

Lantas mereka rela dengan perkataan Utbah dan berakhirlah perang tersebut. (Tarikh Damsyiq, 38/240. Maktabah Syâmilah.)

Saat Islam datang, ‘Utbah menjadi andalan kaum kaum kafir Quraisy untuk mendebat Nabi Muhammad. Dengan piawai dia mengarahkan pembicaraan. Setelah memuji-muji garis keturunan Nabi, dia melontarkan pertanyaan yang ‘sulit’ dijawab:

يَا مُحَمَّدُ، أَنْتَ خَيْرٌ أَمْ عَبْدُ اللَّهِ؟

“Wahai, Muhammad. Kamu yang lebih baik, ataukah ‘Abdullah?”

Rasulullah diam tidak menjawab. ‘Utbah berkata lagi :

أَنْتَ خَيْرٌ أَمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ؟

“Engkau yang lebih baik, ataukah Abdul Mutthalib?”

Rasulullah (tetap) diam, tidak memberikan jawaban.

Kemudian ‘Utbah berkata:

فَإِنْ كُنْتَ تَزْعُمُ أَنَّ هَؤُلَاءِ خَيرٌ مِنْكَ فَقَدْ عَبَدُوا الْآلِهَةَ الَّتِي عِبْتَ

“Jika engkau meyakini bahwa mereka lebih baik darimu, maka (ketahuilah), mereka itu telah menyembah tuhan-tuhan yang engkau cela!”.

وَإِنْ كُنْتَ تَزْعَمُ أَنَّكَ خَيْرٌ مِنْهُمْ فَتَكَلَّمَ حَتَّى نَسْمَعَ قَوْلَكَ،

“Jika engkau yakin, engkau lebih baik dari mereka, maka jawablah agar kami bisa mendengar ucapanmu…”(Musnad ‘Abd bin Humaid, hal 337)

‘Utbah dengan piawainya berbicara, dan Rasulullah hanya mendengar, karena bagaimanapun jawabannya, akan dengan mudah di’framing’ untuk menjelekkan Rasulullah, sama seperti ‘framing’ yang dilakukan kepada orang yang ingin diterapkannya hukum-hukum syari’ah, bisa dituduh “merasa lebih baik dari ulama dulu yang memperjuangkan negara ini”, bahkan ada tokoh nasional yang berkata: “mereka telah ‘mengencingi’ para ‘ulama dulu”.

Setelah selesai, Rasulullah hanya membacakan surat Fushshilat ayat 1 sd 13, dan ‘Utbah pun ketakutan meminta agar dihentikan. Hanya saja kedudukan dan kemuliaan yang diberikan kaumnya menghalangi dia untuk memeluk agama Islam.

Ketika perang Badar, sebelum pecah pertempuran, Rasulullah berkata:

إن يكن في القوم خير فعلى صاحب الجمل الأحمر

“jika ada kebaikan pada kaum tersebut (yakni musuh), maka kebaikan itu ada pada penunggang onta merah (yakni ‘Utbah)”

Yakni jika mereka menaati ‘Utbah, niscaya mereka bisa selamat (dari pertempuran). Dan benar saja, ‘Utbah menasehati kaumnya agar tidak usah berperang, dia berkata:

“Wahai kaum Quraisy, demi Allah kalian tidak pantas berperang dengan Muhammad dan para sahabatnya sedikit pun, demi Allah seandainya kalian menang, niscaya seorang laki-laki akan melihat kepada yang lain dengan pandangan kebencian. Anak pamannya terbunuh (dari ayah atau ibunya) atau seseorang dari keluarganya. Maka pulanglah! Dan biarkanlah urusan antara Muhammad dengan seluruh orang Arab. Jika mereka membunuhnya maka kemauan kalian tercapai, jika tidak, dia telah melalaikan kalian, walaupun kalian tidak mendapatkan apa yang kalian inginkan”

Hanya saja, Abu Jahal memprovokasi dan mengatakan bahwa ‘Utbah berkata begitu lantaran takut karena dipihak Nabi ada anaknya –yaitu Abu Hudzaifah bin Utbah.

Utbah menjawab, “Dia akan mengetahui siapa yang dijangkiti rasa takut, aku ataukah dia.”

Ketika dua pasukan berhadapan, ‘Utbah keluar untuk menantang duel sebelum pertempuran belum terjadi, seolah dia ingin menunjukkan dan membantah celaan Abu Jahal yang menuduhnya bersifat pengecut dan takut. Dan di sinilah akhir kehidupan ‘Utbah, dia terbunuh dalam adu tanding tersebut.

Cukuplah ini jadi pelajaran bagi siapa saja yang menghalangi dakwah, sifat-sifat baik, ksatria, kedermawanan, dan integritas tidak akan memberikan apapun di sisi Allah SWT. Allaahu A’lam.[MTaufikNT]


Baca Juga:

 

 

[1] Siyaru A’lâm an Nubalâ,3/107. Maktabah Syâmilah.

[2] Tarikh Damsyiq, juz 38, hal 241. Maktabah Syâmilah.

Iklan

Posted on 15 Februari 2018, in Dakwah, Perang/Jihad, Tarikh and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s