Sosialisme/Komunisme dan Pertentangannya dengan Islam

Sosialisme termasuk komunisme memang telah ‘mati’ dan hilang dominasinya dalam kehidupan, namun sebagai pemikiran ideologi, selama masih ada orang-orang yang mengemban dan memperjuangkannya, dia masih memiliki potensi untuk ‘hidup’ kembali. Oleh karena itu, kajian terhadap sosialisme termasuk komunisme tetaplah penting untuk mematikan sisa-sisa ‘nyawa’ yang masih menggeliat mencari celah-celah dan kesempatan untuk bangkit kembali.

Ideologi

Ideologi (mabda`) adalah

الفكر الأساسي الذي تبنى عليه أفكار

“pemikiran mendasar yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran lain”.[1]

Pemikiran yang mendasar adalah pemikiran yang sama sekali tidak didahului oleh pemikiran lainnya. Hanya terbatas pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Sedang pemikiran-pemikiran cabang yang dibangun di atas dasar aqidah tadi, merupakan peraturan bagi kehidupan manusia dalam segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Pemikiran paling mendasar adalah pemikiran yang menjawab atas 3 hal: 1) darimana manusia, kehidupan dan alam semesta ini berasal? 2) dalam rangka apa semua ini ada? dan 3) kemana akhirnya kehidupan ini?

Asas Sosialisme

Asas dari sosialisme, termasuk komunisme, adalah materialisme, yaitu pandangan bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan materi belaka, dan bahwasanya materi menjadi asal dari segala sesuatu. Dari perkembangan dan evolusi materi inilah benda-benda lainnya menjadi ada. Tidak ada satu zat pun yang terwujud sebelum alam materi ini.[2]

Oleh karena itu, penganut ideologi ini mengingkari kalau alam ini diciptakan oleh Allah Yang Maha Pencipta. Akibatnya, dalam pandangan ideologi ini, hidup hanyalah untuk mencari kebahagiaan jasmaniah yang sebesar-besarnya, karena tidak ada kehidupan dan pertanggung jawaban setelah mati.

Dari sisi asas, jelas sosialisme termasuk komunisme bertentangan dengan Islam yang tegak atas dasar Aqidah Islamiyah, yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat, serta Qadha dan Qadar baik dan buruknya dari Allah SWT. Aqidah ini menerangkan bahwa di balik alam semesta, manusia, dan kehidupan, terdapat Al-Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, yaitu Allah SWT.

Ekonomi Sosialisme

Diantara konsep sosialisme yang sering ‘menipu’ umat Islam, apalagi jika ditambah dengan pemelintiran dalil syara’, adalah pemikiran sosialisme terkait dengan ekonomi. Tidak heran jika tanpa memperhatikan asas ideologi ini lagi, sebagian orang Islam dulu mendukung komunisme karena hanya melihat semangat perlawanan mereka kepada kedzaliman kapitalisme, lalu mendukung konsep Nasakom (nasionalisme, agama dan komunisme).

Sosialisme memiliki tiga prinsip dalam ekonomi, yakni:

Pertama, mewujudkan kesamaan (equality) secara riil.

Kedua, menghapus pemilikan individu (private property) secara keseluruhan atau sebagian.

Ketiga, mengatur produksi dan distribusi secara kolektif.

Meskipun dalam ketiga hal ini ekonom sosialis sepakat, namun ada perbedaan yang tajam antara satu dengan yang lain dalam beberapa hal, diantaranya:

Pertama, mereka berbeda pendapat terkait bentuk kesamaan secara riil yang ingin mereka realisasikan. Ada satu kelompok yang menyebut dengan “Kesamaan Hisabiyah”, yakni kesamaan dalam segala hal yang boleh dimanfaatkan. Di mana, setiap orang akan diberi sesuatu yang sama seperti yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan kelompok lain menyebut dengan “Kesamaan Syuyu’iyah (komunisme), yakni pembagian kerja harus dilakukan menurut kemampuan tiap orang, sementara pembagian hasilnya harus dilakukan menurut keperluan masing-masing. Sebagian yang lain menyatakan kesamaan dalam masalah faktor-faktor produksi, tiap orang dibekali dengan faktor-faktor produksi yang sama dengan orang lain.

Kedua, mereka beda pendapat tentang standar penghapusan pemilikan individu (private property). Ada yang menyatakan bahwa pemilikan individu harus dihapus sama sekali aliran ini disebut dengan aliran Komunis. Sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa pemilikan individu yang berhubungan dengan barang-barang produksi atau yang disebut dengan sebutan capital itulah yang harus dihapus seperti tanah, industri, rel, jalan, pertambangan dan sebagainya, yakni dilarang memiliki setiap barang yang bisa menghasilkan sesuatu yang lain (faktor-faktor produksi) sehingga tidak boleh mempunyai rumah untuk disewakan termasuk tidak boleh mempunyai pabrik, tanah dan sebagainya, ini yang disebut aliran Sosialis Kapitalis. Sementara aliran lain tidak mengatakan tentang penghapusan pemilikan khusus, kecuali yang berhubungan dengan tanah pertanian bukan yang lain aliran tersebut dinamakan Sosialis Pertanian ada juga yang mengatakan: Harus dikaji setiap keadaan yang di dalamnya terdapat kemaslahatan umum yang menganjurkan perubahan status milik pribadi menjadi milik umum, termasuk membatasi aktivitas para pemilik pribadi dalam banyak hal, caranya: penguasa membuat batasan yang tertinggi untuk sewa dan keuntungan dan batas terendah untuk upah, lalu para pekerja dibiarkan memperoleh modal dan sebagainya.” Inilah yang kemudian disebut dengan aliran Sosialisme Negara (State Socialism).

Ketiga, aliran-aliran Sosialis berbeda-beda dalam menentukan sarana yang dikatakan sebagai alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan mereka. Aliran Naqabiyah Tsauriyah (sindikasi revolusioner?) bertolak pada pemberian kebebasan para pekerja dan usaha yang bersifat dengan kerja langsung yaitu tenaga para pekerja itu sendiri, seperti mogok kerja, merusak alat-alat, serta persiapan untuk merealisasikannya sampai pada suatu saat yang memungkinkan mereka untuk mewujudkan tuntutan-tuntutan mereka. Pada akhirnya gerakan ekonomi berhenti sehingga sistem ekonomi (Kapitalisme) runtuh.

Sedangkan aliran Marxisme, meyakini hukum evolusi sosial, termasuk meyakini bahwa hukum evolusi sosial itu saja sudah cukup untuk menghancurkan sistem (kapitalis) yang ada, serta mengganti sistem tersebut dengan sistem lain yang dibangun dengan asas Sosialisme.

Adapun penganut aliran Sosialis Negara (State Sosialism) dalam menerapkan pemikiran-pemikiran mereka adalah lewat pembuatan undang-undang, karena dengan adanya undang-undang tersebut, akan ada sesuatu yang menjaga terpeliharanya kemaslahatan umum serta perbaikan keadaan para pekerja, sebagaimana kewajiban pajak, khususnya yang dikenakan pada pendapatan, modal dan harta waris itu dapat menekan tingkat kesenjangan kekayaan.

Keempat, aliran-aliran Sosialis juga berbeda-beda dalam memandang lembaga yang akan mengendalikan projek-projek dalam sistem Sosialis, sebagai contoh para penganut Sosialisme Kapitalis menghendaki agar pengaturan produk dan distribusi diserahkan kepada negara. Sementara pada saat yang sama penganut Naqabiyah menghendaki agar pengaturan tersebut diserahkan kepada sekelompok pekerja yang terorganisasi di bawah komando pimpinan-pimpinan mereka.

Bertentangan dengan Islam

Disamping asasnya sudah bertentangan dengan Islam, dari sisi sistem ekonominya, disamping tidak selaras dengan fitrah manusia, juga bertentangan dengan Islam.

Pertama, kesamaan ekonomi antar manusia itu tidak sesuai dengan fithrah, andai dipaksakan diberikan harta yang sama sekalipun, tetap mereka tidak sama dalam mempergunakan harta tersebut, tidakkah kita lihat dua orang yang gaji dan penghasilannya sama namun tingkat ekonominya berbeda? Yang satu gajinya selalu habis, bahkan kurang, yang satu cukup bahkan bisa menabung? Bahkan menyamaratakan antar manusia, padahal Allah ciptakan mereka dengan potensi berbeda berarti telah melanggar prinsip keadilan.

Kedua, penghapusan kepemilikan individu secara total, maupun secara parsial dengan membatasi jumlah hartanya, yang terdapat dalam konsep sosialisme jelas bertentangan dengan fitrah manusia, yang Islam menjaga kepemilikan individu ini.

Ketiga, mengatur produksi dan distribusi secara kolektif tidak bisa dilakukan dengan cara menciptakan gejolak dan goncangan di tengah-tengah manusia serta menciptakan dendam dan permusuhan di antara mereka antara sebagian orang dengan sebagian yang lain, karena, cara semacam itu sebenarnya merupakan cara mewujudkan gejolak (goncangan) bukan cara untuk mengatur. Untuk mengaturnya (produksi dan konsumsi) harus dilakukan dengan undang-undang dan pemecahan-pemecahan (solving) yang benar, yang asasnya benar, serta sesuai dengan realitas masalahnya. Sementara Sosialis dalam mengatur produksi dan distribusi ada kalanya bersandar kepada gejolak dan goncangan-goncangan yang diciptakan di kalangan pekerja dan adakalanya bersandar kepada dialektika masyarakat dan kadang kala dengan membuat peraturan-peraturan dan undang-undang yang tidak didasari dengan pijakan yang kukuh karena itu, cara pengaturannya adalah salah sejak dari asasnya. Allâhu A’lam. [MTaufikNT]

Rujukan:

  • An Nabhani, Nizhamul Islam
  • An Nabhani, Nizhamul Iqtishody fil Islam
  • Isma’il, al Fikru al Islamy

Baca Juga:

[1] Muhammad Muhammad. Ismail, Al Fikru Al Islami, hal 4 (file pdf)

Dalam ensiklopedi britannica: “An ideology is a form of social or political philosophy in which practical elements are as prominent as theoretical ones; it is a system of ideas that aspires both to explain the world and to change it.” (Encyclopedia Britannica, 2008)

[2] Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, dalam Nidzomul Islam menyatakan:

وأما الاشتراكية ومنها الشيوعية فهي ترى أن الكون والإنسان والحياة مادة فقط، وأن المادة هي أصل الأشياء، ومن تطورها صار وجود الأشياء، ولا يوجد وراء هذه المادة شيء مطلقاً

Posted on 23 September 2017, in Afkar, Aqidah, Ekonomi, Kritik Pemikiran, Politik and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s